Anda di halaman 1dari 9

Alfredo Matheus

240210120076
V. PEMBAHASAN
Vitamin adalah senyawa organik yang esensial untuk pertumbuhan dan
fungsi biologis yang lain bagi makhluk hidup, oleh karena itu penting
dilakukannya analisis itamin dalam bahan pangan! "raktikum analisis pangan
kali ini adalah mengenai penentuan kadar itamin # dengan menggunakan metode
iodimetri dan penentuan kadar itamin $ kompleks dengan metode %"&#!
5.1 Penentuan Kadar Vitamin C
Vitamin # atau asam askorbat merupakan 'enis itamin yang mempunyai
berat dengan rumus molekul #
6
%
(
)
6
! *alam bentuk kristal tidak berwarna, titik
+air 1,0-1,2
0
#! Vitamin # bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau
alkohol yang mempunyai berat molekul rendah dan sukar larut dalam khloroform,
ether, dan ben.en! /elain itu, sifat asam dari itamin # ditentukan oleh ionisasi
enolgroup pada atom # nomor tiga! "ada p% rendah itamin # lebih stabil dari
pada p% tinggi! Vitamin # mudah teroksidasi, terutama apabila terdapat
katalisator 0e, #u, en.im askorbat oksidase, sinar, dan temperatur yang tinggi!
&arutan en+er itamin # pada p% kurang dari 7,1 masih stabil apabila tidak ada
reaksi dari katalisator! 2/udarmad'i dkk,1,(,3
4itrasi iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada
reaksi oksidasi reduksi! 5odimetri merupakan titrasi terhadap .at-.at reduktor yang
dilakukan se+ara langsung! 4itrasi iodimetri ini dapat dilakukan untuk
menentukan kadar .at-.at oksidator se+ara langsung, seperti kadar yang terdapat
dalam serbuk itamin #! *alam bidang farmasi metode ini dapat 'uga digunakan
untuk menentukan kadar .at-.at yang mengandung oksidator lainnya, misalnya
#l
2
, 0e 25553, #u 2553 dan sebagainya! *engan mengetahui kadar suatu .at, berarti
dapat diketahui pula mutu dan kualitasnya 2/ugiarti, 200(3!
Vitamin # memiliki fungsi sebagai oksidator, sehingga dapat dianalisis
dengan menggunakan titrasi iodimetri! 4itrasi iodimetri adalah titrasi redoks yang
menggunakan larutan iodium sebagai titran dalam suasana sedikit asam atau
netral! *alam titrasi, indikator yang digunakan adalah amilum!
4erdapat beberapa metode yang digunakan untuk menentukan kadar
itamin # dalam sampel, akan tetapi dalam praktikum kali ini metode yang kita
Alfredo Matheus
240210120076
gunakan adalah metode iodimetri, dengan keuntungan yaitu lebih murah dan alat
yang digunakan lebih praktis dibandingkan dengan metode yang lain!
4ahapan proses dalam penentuan kadar itamin # ini adalah sebanyak 1
gram sampel ditimbang dan dimasukkan dalam labu ukur, kemudian dilarutkan
dalam a6uades sampai dengan batas tera! "enambahan a6uades ini bertu'uan
untuk melarutkan dan mengekstraksi sampel yang digunakan! &arutan sampel
yang telah dibuat ini kemudian diko+ok agar larutannya men'adi homogen!
/elan'utnya adalah menyaring larutan sampel dengan menggunakan kertas
saring dan filtrat yang dihasilkan digunakan untuk analisis, yaitu sebanyak 10 ml!
"roses penyaringan ini bertu'uan untuk memisahkan dan membebaskan sampel
dari .at pengotor yang terdapat didalamnya!
0iltrat dari sampel sebanyak 10 ml yang kita gunakan dititrasi dengan
menggunakan larutan iodine 25
2
3 0,01 7 dengan tambahan indikator amilum 18
sebanyak 2 m& untuk memudahkan kita menentukan titik akhir titrasinya! &alu
titrasi sampai terbentuk larutan berwarna biru!
"rinsip yang digunakan dalam penentuan kadar itamin # dengan
menggunakan metode iodimetri ini adalah itamin # yang berupa asam askorbat
akan mengalami reaksi redoks dengan penambahan larutan iodine 25
2
3 dalam
keadaan suasana asam yang akan menghasilkan asam dehidroksiaskorbat dan ion
5
-
! 9eaksi redoks yang ter'adi ini dihasilkan dari proses titrasi iodimetri, dimana
larutan iodine sebagai penitratnya! "roses titrasi ini akan selesai bila sudah ter'adi
perubahan warna men'adi biru dengan bantuan indikator amilum! $erikut ini
adalah hasil pengamatan dari penentuan kadar itamin #!
Tabel 1. Hasil Pengamatan Kadar Vitamin C
:elompok /ampel "elarut $erat
$ahan 2g3
Volume
4itrasi 2ml3
Vitamin
# 2mg3
1 ;ou # 1000 Asam )ksalat 1,0067 0,6 101,4<
2 =as =us Asam )ksalat 1,0270 0,1 17,101
< =us A$# Asam )ksalat 1,21<1 0,01 (,44
4 Apel Asam )ksalat 1,00(, 0,01 (,7(4
1 =eruk Asam )ksalat 1,0,20 0,01 (,641
6 %emaiton #
1000
A6uades 1,02,1 0,60 104,,,
7 =as =us A6uades 1,0112 0,11 26,<41
( =us A$# A6uades 1,0(10 0,1 17,<
, Apel A6uades 1,0112 0,1 26,<1
Alfredo Matheus
240210120076
10 =eruk A6uades 1,172< 0,01 (,107
2/umber > *okumentasi "ribadi, 20143
"erhitungan terhadap kadar itamin # dapat dilakukan dengan rumus >
:adar itamin # ?
sampel gram
gram
fp V
titrasi
100
(( , 0
#ontoh perhitungan sampel =as =us kelompok 2>
:adar itamin # ? 0,1 @ 0,(( @ 10 @
? 17,101mg it #
$erdasarkan tabel hasil pengamatan, tidak ada kadar itamin # yang
sesuai dengan literatur yang ada pada kemasan produk tersebut! %al ini bisa
disebabkan karena itamin # mudah untuk teroksidasi selama proses pengolahan
ataupun selama praktikum dilakukan sehingga kadar itamin # yang didapat saat
praktikum bisa kurang dari kadar itamin # yang berada pada literatur! :adar
itamin # yang lebih dari informasi nilai gi.i dari labelnya dapat disebabkan
karena terlewatnya titik akhir titrasi sehingga olum titrasi yang digunakan lebih
banyak dan memperbesar perhitungan kadar itamin #! /elain itu, perbedaan hasil
pengamatan itamin # dengan literatur dapat pula disebabkan karena iod
merupakan oksidator lemah sehingga tidak dapat bereaksi terlalu sempurna!
Antuk menghindari hal tersebut, maka sering dibuat kondisi yang menggeser
kesetimbangan ke arah hasil reaksi antara lain dengan mengatur p%!
5.2 Penentuan Kadar Vitamin B ( HPC !
%"&# se+ara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari
kromatografi kolom! /elain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah
grafitasi, didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm! 5ni
membuatnya lebih +epat!
%"&# memperbolehkan penggunaan partikel yang berukuran sangat ke+il
untuk material terpadatkan dalam kolom yang mana akan memberi luas
permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase diam dan molekul-molekul
yang melintasinya! %al ini memungkinkan pemisahan yang lebih baik dari
komponen-komponen dalam +ampuran! "erkembangan yang lebih luas melalui
Alfredo Matheus
240210120076
kromatografi kolom mempertimbangkan metode pendeteksian yang dapat
digunakan! Metode ini sangat otomatis dan sangat peka!
1!2!1 0ase 7ormal %"&#
/e+ara esensial, fase ini sama dengan prinsip kromatografi lapis tipis atau
kromatografi kolom! :olom diisi dengan partikel silika yang sangat ke+il dan
pelarut non polar seperti heksan! /ebuah kolom sederhana memiliki diameter
internal 4!6 mm 2dan mungkin kurang dari nilai ini3 dengan pan'ang 110 sampai
210 mm! /enyawa-senyawa polar dalam +ampuran melalui kolom akan melekat
lebih lama pada silika yang polar dibanding degan senyawa-senyawa non polar!
)leh karena itu, senyawa yang non polar kemudian akan lebih +epat melewati
kolom!
1!2!2 0ase $alik %"&#
"ada fase ini ukuran kolom sama! "erbedaanya adalah silika dimodifikasi
men'adi non polar melalui pelekatan rantai-rantai hidrokarbon pan'ang pada
permukaannya se+ara sederhana baik berupa atom karbon ( atau 1(! /ebagai
+ontoh, pelarut polar digunakan berupa +ampuran air dan alkohol seperti metanol!
*alam kasus ini, akan terdapat atraksi yang kuat antara pelarut polar dan molekul
polar dalam +ampuran yang melalui kolom! Atraksi yang ter'adi tidak akan sekuat
atraksi antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada silika 2fase diam3
dan molekul-molekul polar dalam larutan! )leh karena itu, molekul-molekul polar
dalam +ampuran akan menghabiskan waktunya untuk bergerak bersama dengan
pelarut! /enyawa-senyawa non polar dalam +ampuran akan +enderung
membentuk atraksi dengan gugus hidrokarbon karena adanya dispersi gaya an
der Baals! /enyawa-senyawa ini 'uga akan kurang larut dalam pelarut karena
membutuhkan pemutusan ikatan hydrogen sebagaimana halnya senyawa-senyawa
tersebut berada dalam molekul-molekul air atau metanol misalnya! )leh
karenanya, senyawa-senyawa ini akan menghabiskan waktu dalam larutan dan
akan bergerak lambat dalam kolom! 5ni berarti bahwa molekul-molekul polar akan
bergerak lebih +epat melalui kolom! 0ase balik %"&# adalah bentuk yang biasa
digunakan dalam %"&#!
1!2!< 5n'eksi /ampel
Alfredo Matheus
240210120076
Mekanisme dari 5n'eksi sample seluruhnya ber'alan se+ara otomatis!
:arena proses ini meliputi tekanan, hal ini berbeda dengan kromatografi gas!
1!2!4 Baktu 9etensi
Baktu retensi merupakan waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk
bergerak melalui kolom menu'u detektor! Baktu retensi diukur berdasarkan waktu
dimana sampel diin'eksikan sampai sampel menun'ukkan ketinggian pun+ak yang
maksimum dari senyawa itu! /enyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu
retensi yang berbeda! Antuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat
berariasi dan bergantung pada>
4ekanan yang digunakan 2karena itu akan berpengaruh pada la'u alir dari
pelarut3
:ondisi dari fase diam 2tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi 'uga
pada ukuran partikel3
:omposisi yang tepat dari pelarut
4emperatur pada kolom
%al ini menun'ukkan bahwa kondisi harus dikontrol se+ara hati-hati, 'ika akan
menggunakan waktu retensi sebagai sarana untuk mengidentifikasi senyawa-
senyawa!
1!2!1 *etektor
4erdapat beberapa +ara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati
kolom! 7amun metode umum yang mudah dipakai untuk men'elaskan yaitu
penggunaan serapan ultra-iolet! =umlah +ahaya yang diserap akan bergantung
pada 'umlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu!
"elarut menyerapnya! 4etapi berbeda, senyawa-senyawa akan menyerap dengan
sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari spektrum AV!
Misalnya, metanol menyerap pada pan'ang gelombang di bawah 201 nm
dan air pada gelombang dibawah 1,0 nm! =ika menggunakan +ampuran methanol
dan air sebagai pelarut, sehingga dibutuhkan penggunaan pan'ang gelombang
yang lebih besar dari 201 nm untuk men+egah pemba+aan yang salah dari pelarut!
1!2!6 5nterpretasi )utput dari *etektor
Alfredo Matheus
240210120076
Melalu bagian ini output akan direkam sebagai rangkaian pun+ak-pun+ak,
dimana masing-masing pun+ak mewakili satu senyawa dalam +ampuran yang
melalui detektor dan menyerap sinar AV!
"rosedur penentuan kadar itamin $ yang dilakukan pada saat praktikum
dibagi atas < tahap! "ertama C tama pembuatan larutan pengekstrak! 10 ml
asetonitril dimasukkan ke dalam labu ukur 1 &, lalu ditambah 10 ml asetat glasial
dan akuabides sampai tanda batas! /etelah itu pembuatan larutan buffer! 1,0( 1-
garam natrium sulfonat heptan dan 1,<6 kalium dihidrogen fosfat dilarutkan
dalam ,40 ml akuabides, lalu ditambahkan 1 ml trietilamin dan diatur sampai p%
< dengan asam orthofosfat! 4erakhir adalah preparasi sampel! /ampel yang berupa
padatan yaitu beras merah dan beras putih terlebih dahulu dihaluskan dengan
grinder! /ebanyak 2,1 gram sampel dimasukkan ke dalam beaker gelas, ditambah
21 ml larutan pengekstraksi, lalu diko+ok sampai homogeny! /ampel selan'utnya
dipanaskan pada suhu 70 # selama 40 menit, lalu didinginkan, disarung ke dalam
labu ukur 10 ml dan ditambah larutan pengekstrak sampai tanda batas! /ampel
yang telah disiapkan ini selan'utnya diu'i dengan %"&#! %asil pengamatan dapat
dilihat pada lampiran dan pada tabel berikut!
Tabel 2. Tabel Hasil Analisis HPC
Sam"el
uas Area
B
#
K$nsentrasi
Sam"el
(mg%ml!
Berat
sam"el
(mg%ml!
Berat
Sam"el
(g!
&
Vitamin
B
/tandar mi@ 7112(11 20,0( - - -
%emaiton #-
1000
160,111 4,14<( 21,1( 1,21, 21,1(
"owerade <2(<406 ,,26, 44 2,200 21,066
2/umber > *okumen 20143
:onsentrasi sampel didapat dengan >
"erhitungan konsentrasi sampel 2a3 >
"erhitungan berat sampel 2+3 >
Alfredo Matheus
240210120076
"erhitungan 8 itamin $
6
>
$erdasarkan tabel hasil pengamatan hanya kadar itamin $6 yang dapat
dihitung sementara itamin $1 dan $2 tidak terdeteksi atau tidak terba+a dengan
%"&#! %al ini mungkin disebabkan standar yang dibuat sudah terlalu lama
ataupun terlalu banyaknya komponen C komponen lain selain itamin yang
terdeteksi seihngga detektor tidak dapat mendeteksi itamin $1 dan $2!
%asil yang terba+a di %"&# hanya kadar itamin $6 pada sampel
"owerade dan %emaiton #-1000! Menurut literatur sampel yang digunakan
mengandung kadar itamin $ yang +ukup tinggi! %al ini dapat ter'adi karena
beberapa faktor antara lain pengen+eran yang terlalu tinggi menyebabkan
turunnya kadar itamin $ sehingga sulit untuk diba+a dan dapat disebabkan oleh
perbandingan eluennya! "erbandingan buffer dengan methanol ? (0 > 20 mungkin
+o+ok untuk standar tetapi tidak +o+ok dengan sampel!
Alfredo Matheus
240210120076
V'. KES'MP(AN )AN SA*AN
#.1 Kesim"ulan
$erdasarkan pemaparan pen'elasan hasil pengamatan diatas dapat kita
ambil beberapa kesimpulan, yaitu>
1! Vitamin # mudah larut dalam air sehingga untuk mengekstraksinya dari
sampel lebih mudah yaitu dengan mengen+erkannya dalam a6uades!
2! Vitamin # mudah teroksidasi sehingga pada saat analisis kadar itamin #
pada sampel berbeda dengan kadarnya di dalam label kemasan!
<! :adar itamin # tertinggi yaitu 101,4< mg D 100 gr bahan pada sampel
;ou #-1000! /ampel dengan kadar itamin # terendah adalah 'us mangga
A$# yang diu'i dengan asam oksalat 18 yaitu (,44 mg D 100 gr bahan!
4! :adar itamin yang terba+a pada metode %"&# adalah kadar itamin $6
sampel %emaiton #-1000 yaitu 1(,0418 dan itamin $6 sampel
powerade yaitu 21,0618!
1! :adar itamin $1, $2 dan $6 lainnya tidak terba+a bisa disebabkan oleh
beberapa hal, misalnya pengen+eran yang terlalu tinggi, waktu retensi
yang tidak sesuai dan perbandingan eluen yang mungkin tidak +o+ok!
#.2 Saran
$erdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan terdapat beberapa saran
yang dapat diberikan antara lain>
1! &ebih teliti dalam melakukan pengen+eran karena pengen+eran yang
terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak terba+anya kadar itamin $ dalam
%"&#!
Alfredo Matheus
240210120076
2! /elalu bandingkan hasil pengamatan dengan literatur yang ada agar
kesalahan dapat diidentifikasi dengan +epat dan tepat!
)A+TA* P(STAKA
Apriyanto!A, dkk! 1,(,! Analisis "angan "etun'uk "raktikum! "AA "angan dan
gi.i 5"$! $ogor!
/udarmad'i, /lamet, dkk! 1,,6! Analisa $ahan Makanan dan "ertanian! &iberty >
;ogyakarta!
Binarno, 0! E! 1,,7! :imia "angan dan Ei.i! Eramedia "ustaka > =akarta!