Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Delirium adalah kondisi yang sering dijumpai pada pasien di rumah sakit. Sindrom ini
sering tidak terdiagnosis dengan baik saat pasien berada di rumah (akibat kurangnya
kewaspadaan keluarga) maupun saat pasien berada di unit gawat darurat atau unit rawat jalan.
Gejala dan tanda yang tidak khas merupakan salah satu penyebabnya. Setidaknya 32%-67%
dari sindrom ini tidak dapat terdiagnosis oleh dokter, padahal kondisi ini dapat dicegah.
Literature lain menyebutkan bahwa 70% dari kasus sindrom delirium tidak terdiagnosis atau
salah terapi oleh dokter. Sindrom delirium sering muncul dalam keluhan utama atau tak
jarang justru terjadi pada hari pertama pasien dirawat dan menunjukkan gejala yang
berfluktuasi. Keadaan yang terakhir ini tentu jika tidak ada keterangan yang memadai dari
dokter-dapat disalahartikan keluarga pasien sebagai kesalahan pengelola di rumah sakit.
Gejala penanda delirium yang utama adalah hendaya kesadaran, biasanya terjadi pada
hendaya fungsi kognitif secara menyeluruh. Abnormalitas mood, persepsi dan perilaku
merupakan gejala psikiatri yang lazim dijumpai, tremor, asteriksis, nistagmus, inkoordinasi
dan inkotinensia urin adalah gejala neurologis yang umumnya ditemui. Secara klasik,
delirium memiliki awitan mendadak (dalam hitungan jam atau hari), perjalanan yang singkat
dan berfluktuasi, serta perbakan cepat bila faktor kausatif diidentifikasi serta dieliminasi,
namun tiap gambaran khas ini dapat bervariasi secara individual.

1.2.Batasan Masalah
Batasan penulisan ini membahas mengenai definisi, epidemiologi, etiologi,
klasifikasi, gambaran klinis, penatalaksanaan dan prognosis dari delirium.

1.3.Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang definisi, epidemiologi,
etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan,
dan prognosis delirium.

1.4.Metode Penulisan
Penulisan ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan merujuk pada
berbagai literatur.
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI
Kata delirium berasal dari bahasa latin yang artinya lepas jalur. Sindrom ini
pernah dilaporkan pada masa Hippocrates dan pada tahun 1813 Sutton
mendeskripsikan sebagai delirium tremens, kemudian Wernicke menyebutnya sebagai
Encephalopathy Wernicke.
Delirium merupakan suatu sindrom, bukan suatu penyakit. Delirium adalah suatu
gangguan kesadaran, biasanya terlihat bersamaan dengan gangguan fungsi kognitif
secara global. Biasanya delirium mempunyai onset yang mendadak (beberapa jam
atau hari), perjalanan singkat dan berfluktuasi dan perbaikan yang cepat jika factor
penyebab diidentifikasi dan dihilangkan.
Delirium adalah suatu kondisi yang dikarakterisasi dengan adanya perubahan
kognitif akut (defisit memori,disorientasi,gangguan berbahasa) dan gangguaan pada
sistem kesadaran manusia. Delirium bukanlah suatu penyakit melainkan suatu
sindrom dengan penyebab multipel yang terdiri atas berbagai macam pasangan gejala
akibat dari suatu penyakit dasar. Delirium didefinisikan sebagai disfungsi cerebral
yang reversible,akut dan bermanifestasi klinis pada abnormalitas neuropsikiatri.
1

2.2.EPIDEMIOLOGI
Menurut DSM-IV-TR, prevalensi delirium pada satu titik waktu pada populasi
umum adalah 0,4% untuk orang berusia 18 tahun ke atas dan 1,1 % pada usia 55
tahun ke atas. Sekitar 10-30% pasien yang sakit secara medis dan dirawat di Rumah
Sakit mengalami delirium. Hampir 30 % pasien di unit perawatan intensif bedah dan
unit perawatan intensif jantung serta 40-50% pasien dalam penyembuhan dari bedah
fraktur panggul mengalami satu episode delirium.
Angka delirium tertinggi dijumpai pada pasien pascacardiotomi pada beberapa
penelitian mencapai > 90 %. Sebanyak 20 % pasien luka bakar berat dan 30-40%
pasien AID mengalami episode delirium saat dirawat. Delirium timbul pada 80%
pasien yang mengalami stadium penyakit terminal.
Usia lanjut adalah faktor resiko utama timbulnya delirium. Sekitar 30-40%
pasien rawat inap yang berusia di atas 65 tahun mengalami satu episode delirium dan
3

10-15% lansia lainnya mengalami delirium saat masuk rumah sakit. 60% penghuni
panti jompo yang berusia di atas 75 tahun mengalami episode delirium berulang.
Munculnya delirium merupakan suatu faktor prognostik buruk. Angka
institusionalisasi meningkat 3 kali lipat pada pasien berusia 65 tahun ke atas yang
mengalami delirium saat dirawat di Rumah Sakit. Angka kematian 3 bulan pasien
yang mengalami 1 episode delirium diperkirakan sekitar 23-33%. Angka kematian 1
tahun pada pasien yang mengalami satu episode delirium dapat setinggi 50 %. Pasien
lansia yang mengalami delirium saat dirawat di Rumah Sakit memiliki angka
kematian 20-75% selama rawat inap. Setelah keluar dari Rumah Sakit, sampai 15 %
dari orang tersebut meninggal dalam periode 1 bulan dan 25 % meninggal dalam
waktu 6 bulan.
1,2


2.3.TINGKAT KESADARAN
Seperti yang telah disebutkan dalam definisi, delirum merupakan suatu
gangguan kesadaran atau dapat disebut juga sebagai suatu penurunan tingkat
kesadaran. Tingkat kesadaran dapat dinilai dengan dua cara yaitu pertama dengan cara
kuantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale dan yang kedua dengan cara
kualitatif yang terdiri atas:
a. Compos Mentis, yaitu sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun
terhadap lingkungannya. pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa
dengan baik.
b. Apatis, yaitu keadaan di mana pasien tampak segan dan acuk tak acuh
terhadap lingkungannya.
c. Delirium, yaitu penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus
tidur bangun yang terganggu. Pasien tampak gaduh gelisah, kacau,
disorientasi dan meronta-ronta.
d. Somnolen (letergia, obtundasi, hipersomnia), yaitu keadaan mengantuk
yang masih dapat pulih bila dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti, pasien
akan tertidur kembali.
e. Sopor (stupor), yaitu keadaan mengantuk yang dalam, Pasien masih dapat
dibangunkan dengan rangsang yang kuat, misalnya rangsang nyeri, tetapi
pasien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban verbal
yang baik.
4

f. Sopor-koma (coma ringan), yaitu penurunan kesadaran yang tidak
memberikan respons terhadap rangsang verbal, dan tidak dapat dibangunkan
sama sekali, tetapi refleks (kornea, pupil) masih baik. Respons terhadap
rangsang nyeri tidak adekuat.
g. Coma, yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan
spontan dan tidak ada respons terhadap rangsang nyeri.
3


2.4 GANGGUAN KOGNITIF
Delirium dapat disertai dengan gangguan kognitif, maka gangguan kognitif
dapat diartikan sebagai gangguan kemampuan berpikir dan memberikan rasional,
termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan.
Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien
untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak. Fungsi otak berdasarkan tiap
lobusnya adalah sebagai berikut:
1. Lobus Frontalis
Pada bagian lobus ini berfungsi untuk :
- Proses belajar
- Abstraksi
- Alasan
2. Lobus Temporal
Secara umum berfungsi untuk :
- Diskriminasi bunyi
- Prilaku verbal
- Bicara
3. Lobus Parietal
Berfungsi untuk :
- Diskriminasi waktu
- Fungsi somatik
- Fungsi motorik
4. Lobus Oksipitalis
Berfungsi untuk :
- Diskriminasi visual
- Diskriminasi beberapa aspek memori
5

5. Sisitim Limbik
Hal ini akan berpengaruh pada
fungsi :
- Perhatian
- Flight of idea
- Memori
- Daya ingat

Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan
mengalami gejala yang berbeda, sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu :
1. Gangguan pada lobus frontalis , akan ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
- Kemampuan memecahkan masalah berkurang
- Hilang rasa sosial dan moral
- Impulsif
- Regresi
2. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sebagai berikut:
- Amnesia
- Demensia
3. Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala
gejalayang hampir sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi
4. Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi antara
lain :
- Gangguan daya ingat
- Memori
- Disorientasi
2

2.5. ETIOLOGI
Hampir semua penyakit medis,intoksikasi atau medikasi dapat menyebabkan
delirium. Seringkali delirium merupakan multifaktorial dalam etiologinya. Dibawah
ini merupakan multifaktorial etiologi :
Penyebab reversible antara lain :
1. Hipoksia
2. Hipoglikemia
6

3. Hipertermia
4. Antikolinergik delirium
5. Putus alcohol atau sedative
Perubahan structural :
1. Trauma tertutup kepala atau perdarahan cerebral
2. Kecelakaan cerebrovaskular antara lain : infark cerebri,perdarahan
subarachnoid,hipertensif encephalopathy
3. Tumor kepala primer maupun metastase
4. Abses otak
Akibat metabolic
1. Gangguan air dan elektrolit, gangguan asam basa,hipoksia
2. Hipoglikemia
3. Gagal ginjal atau gagal hati
4. Defisiensi vitamin terutama Thiamine dan cyanocobalamin
5. Endokrinopati terutama berhubungan dengan tiroid dan paratiroid
Keadaan hipoperfusi :
1. Shock
2. CHF (Congestif heart failure)
3. Cardiac aritmia
4. Anemia
Infeksi :
1. Infeksi susunan saraf pusat seperti meningitis
2. Ensephalitis
3. Infeksi otak yang berhubungan dengan HIV
4. Septicemia
5. Pneumonia
6. URTI (urinaria tractus infection )
Toksik :
1. Intoksikasi substansi illegal : alkohol,heroin,ganja,LSD
2. Delirium yang dipicu oleh obat antara lain :
- Antikolinergik(Benadryl,tricyclic antidepressant)
- Narkotik (meperidine)
- Hipnotik sedative (benzodiazepine)
7

- Histamine-2 bloker (cimetidine)
- Kortikosteroid
- Antihipertensif ( methyldopa,reserpine)
- Antiparkinson (levodopa)
Penyebab lainnya :
1. Lingkungan yang tidak nyaman bagi pasien demensia menjadi pencetus delirium
2. Retensio urin, gangguan tidur, perubahan lingkungan
1

2.6. PATOFISIOLOGI
Berdasarkan aktivitas psikomotor (tingkat/ kondisi kesadaran, aktivitas perilaku)
delirium diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:

1. Hiperaktif: didapatkan pada pasien dengan gejala putus substansi antara lain;
alkohol, amfetamin, lysergic acid diethylamide atau LSD. Pasien bisa nampak
gaduh gelisah, berteriak-teriak, jalan mondar-mandir, atau mengomel sepanjang
hari.
2. Hipoaktif: didapatkan pada pasien pada keadaan hepatic encephalopathy dan
hipercapnia.
3. Campuran: pada pasien dengan gangguan tidur, pada siang hari mengantuk tapi
pada malam hari terjadi agitasi dan gangguan sikap.
Mekanisme penyebab delirium masih belum dipahami secara seutuhnya.
Beberapa peneliti mengatakan bahwa delirium terjadi karena terdapat kerusakan
metabolisme oksidatif serebral dan abnormalitas pada beberapa neurotransmitter.
Berikut terdapat beberapa hipotesis mengenai delirium:

a. Asetilkolin
Data studi mendukung hipotesis bahwa asetilkolin adalah salah satu dari
neurotransmiter yang penting dari pathogenesis terjadinya delirium. Hal yang
mendukung teori ini adalah bahwa obat antikolinergik diketahui sebagai penyebab
keadaan bingung. Pada pasien dengan transmisi kolinergik yang terganggu juga
muncul gejala ini dan pada pasien post operatif delirium serum antikolinergik juga
meningkat.
b. Dopamine
Pada otak, hubungan timbal balik muncul antara aktivitas kolinergik dan
dopaminergik. Pada delirium muncul aktivitas berlebih dari dopaminergik. Gejala
8

simptomatis membaik dengan pemberian obat antipsikosis seperti haloperidol dan
obat penghambat dopamine.
c. Neurotransmitter lainnya
Serotonin ; terdapat peningkatan serotonin pada pasien dengan encephalopati
hepatikum. Peningkatan inhibitor GABA (Gamma-Aminobutyric acid); pada
pasien dengan hepatic encephalopati, peningkatan inhibitor GABA juga
ditemukan. Peningkatan level ammonia terjadi pada pasien hepatic encephalopati,
yang menyebabkan peningkatan pada asam amino glutamat dan glutamine (kedua
asam amino ini merupakan precursor GABA). Penurunan level GABA pada
susunan saraf pusat juga ditemukan pada pasien yang mengalami gejala putus
benzodiazepine dan alkohol.
d. Mekanisme peradangan/inflamasi
Studi terkini menyatakan bahwa peran sitokin, seperti interleukin-1 dan
interleukin-6, dapat menyebabkan delirium. Saat terjadi proses infeksi, inflamasi
dan paparan toksik dalam tubuh, bahan pirogen endogen seperti interleukin-1
dilepaskan dari sel. Trauma kepala dan iskemia, yang sering dihubungkan dengan
delirium, dihubungkan dengan hubungan respon otak yang dimediasi oleh
interleukin-1 dan interleukin 6.
e. Mekanisme reaksi stress
Stress psikososial dan gangguan tidur mempermudah terjadinya delirium.
f. Mekanisme struktural
Formatio reticularis dan jalurnya memainkan peranan penting dari bangkitan
delirium. Jalur tegmentum dorsal diproyeksikan dari formation retikularis
mesensephalon ke tectum dan thalamus adalah struktur yang terlibat pada delirium.
Kerusakan pada sawar darah otak juga dapat menyebabkan delirium,
mekanismenya karena dapat menyebabkan agen neuro toksik dan sel-sel
peradangan (sitokin) untuk menembus otak.
1,4

Tabel 1. Beberapa Kondisi yang Lazim Mencetuskan Kondisi Delirium
1


Iatrogenik Pembedahan, kateterisasi, urin, psysical restraints
Obat-obatan Psikotropika
Gangguan metabolic/
cairan
Insufisiensi ginjal, dehidrasi, hipoksia, azotemia,
hiperglikemia, hipernatremia, hipokalemia
9

Penyakit psikis/
psikiatrik
Demam, infeksi, stres, alcohol, putus obat (tidur), fraktur,
malnutrisi, gangguan pola tidur
Overstimulation Perawatan di ICU, atau perpindahan ruang rawat

2.7. MANIFESTASI KLINIS
Delirium ditandai dari perubahan mental akut dari pasien,perubahan fluktuatif
pada kognitif termasuk memori,berbahasa dan organisasi.
1. Gangguan atensi
Pasien dengan delirium mengalami kesulitan untuk memperhatikan. Mereka
mudah melupakan instruksi dan mungkin dapat menanyakan instruksi dan
pertanyaan untuk diulang berkali-kali. Metode untuk mengidentifikasi gangguan
atensi yaitu dengan menyuruh pasien menghitung angka terbalik dari 100 dengan
kelipatan 7.
2. Gangguan memori dan disorientasi
Defisit memori, hal yang sering jelas terlihat pada pasien delirium.
Disorientasi waktu,tempat dan situasi juga sering didapatkan pada delirium.
3. Agitasi
Pasien dengan delirium dapat menjadi agitasi sebagai akibat dari disorientasi
dan kebingungan yang mereka alami. Sebagai contoh; pasien yang disorientasi
menggangap mereka dirumah meskipun ada dirumah sakit sehingga staff rumah
sakit dianggap sebagai orang asing yang menerobos kerumahnya.
4. Apatis dan menarik diri terhadap sekitar/withdrawal
Pasien dengan delirium dapat menampilkan apatis dan withdrawal. Mereka
dapat terlihat seperti depresi, penurunan nafsu makan, penurunan motivasi dan
gangguan pola tidur.
5. Gangguan tidur
Pada pasien delirium sering tidur pada waktu siang hari tapi bangun pada
waktu malam hari. Pola ini digabungkan dengan disorientasi dan kebingungan
yang dapat menimbulkan situasi berbahaya pada pasien, yaitu resiko jatuh dari
tempat tidur, menarik kateter atau IV dan pipa nasogastric.
6. Emosi yang labil
10

Delirium dapat menyebabkan emosi pasien yang labil seperti gelisah, sedih,
menangis dan kadang kadang gembira yang berlebih. Emosi ini dapat muncul
bersamaan ketika seseorang mengalami delirium.
7. Gangguan persepsi
Terjadi halusinasi visual dan auditori.
8. Tanda tanda neurologis
Pada delirium dapat muncul tanda neurologis antara lain: tremor gait, asterixis
mioklonus, paratonia dari otot terutama leher, sulit untuk menulis dan membaca,
dan gangguan visual.
4

2.8. DIAGNOSA
Secara klinis penegakkan diagnosis delirium dapat menggunakan DSM IV-
TR. Di bawah ini adalah criteria diagnostik delirium berdasarkan DSM IV TR:

Kriteria diagnostik delirium yang berhubungan dengan kondisi medik umum:
1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan
dalam bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian).
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek
namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi
terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa
waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi
waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya
singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium
untuk menemukan penyebab delirium ini.

Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan intoksikasi zat:
1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadap lingkungan
dalam bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek
namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi
terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa
11

waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi
waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya
singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium
untuk menemukan delirium ini (1) atau (2):
(1) Gejala pada kriteria A dan B berkembang selama
intoksikasi zat.
(2) Penggunaan intoksikasi disini untuk mengatasi
penyebab yang ada hubungan dengan gangguannya.

Kriteria diagnostik delirium yang disebabkan putus zat:
1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan
dalam bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek
namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi
terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa
waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi
waktu, tempat dan orang).
3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya
singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
4. Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau laboratorium
untuk menemukan penyakit delirium ini dalam kriteria A dan B. Keadaan ini
berkembang selama atau dalam waktu singkat sesudah sindroma putus zat.

Kriteria diagnostik delirium yang berkaitan dengan berbagai penyebab:
1. Gangguan kesadaran (berkurangnya kejernihan kesadaran terhadaplingkungan
dalam bentuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian)
2. Hambatan dalam fungsi kognitif (hendaya daya ingat segera dari jangka pendek
namun daya ingat jangka panjang tetap utuh, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi
terutama visual, hendaya daya pikir dan pengertian abstrak dengan atau tanpa
waham sementara, tetapi yang khas terdapat sedikit inkoherensi, disorientasi
waktu, tempat dan orang).
12

3. Awitannya tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari), perjalanan penyakitnya
singkat dan ada kecenderungan berfluktuasi sepanjang hari.
Berdasarkan bukti dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau
laboratorium untuk menemukan etiologi delirium ini yang disebabkan oleh lebih
dari satu penyebab kondisi medik umum, disertai intoksikasi zat atau efek
samping medikasi.
5

2.9. DIAGNOSA BANDING
Banyak gejala yang menyerupai delirium. Demensia dan depresi sering
menunjukkan gejala yang mirip delirium; bahkan kedua penyakit/ kondisi tersebut
acap kali terdapat bersamaan dengan sindrom delirium. Pada keadaan tersebut
informasi dari keluarga dan pelaku rawat menjadi sangat berarti pada anamnesis.
3
a. Delirium versus demensia
Yang paling nyata perbedaannya adalah mengenai awitannya, yaitu delirium
awitannya tiba-tiba, sedangkan pada demensia berjalan perlahan. Meskipun kedua
kondisi tersebut mengalami gangguan kognitif, tetapi pada demensia lebih stabil,
sedangkan pada delirium berfluktuasi.
Tabel 2. Perbandingan Delirium dan Demensia
4
Gambaran Klinis Delirium Demensia
Gangguan daya ingat +++ +++
Gangguan proses berpikir +++ +++
Gangguan daya nilai +++ +++
Kesadaran berkabut +++ -
Major attention deficits +++ +
Fluktuasi perjalanan
penyakit (1 hari)
+++ +
Disorientasi +++ ++
Gangguan persepsi jelas ++ -
Inkoherensi ++ +
Gangguan siklus tidur-
bangun
++ +
Eksaserbasi nocturnal ++ +
13

Insight/tilikan ++ +
Awitan akut/subakut ++ -

Tabel 3. Perbandingan Delirium dan Demensia
4
Delirium Demensia
Onset Biasanya tiba-tiba Biasanya perlahan
Lama Biasanya singkat/ < 1 bulan biasanya lama dan
progressif.
Paling banyak dijumpai
pada usia > 65 th.
Stressor Racun, infeksi, trauma,
Hipertermia
Hipertensi, hipotensi,
anemia. Racun, defisit
vitamin, tumor atropi
jaringan otak
Perilaku Fluktuasi tingkat kesadaran
- Disorientasi
- Gelisah
- Agitasi
- Ilusi
- Halusinasi
- Pikiran tidak teratur
-Gangguan penilaian dan
pengambilan keputusan
- Afek labil
Hilang daya ingat
- Kerusakan penilaian
- Perhatian menurun
- Perilaku sosial tidak sesuai
- Afek labil
- Gelisah
- Agitasi

b. Delirium versus skizofrenia dan depresi
Sindrom delirium dengan gejala yang hiperaktif sering keliru dianggap
sebagai pasien yang cemas (anxietas), sedangkan hipoaktif keliru dianggap sebagai
depresi. Keduanya dapat dibedakan dengan pengamatan yang cermat. Pada depresi
terdapat perubahan yang bertahap dalam beberapa hari atau minggu sedangkan pada
delirium biasanya gejala berkembang dalam beberapa jam.
3
Beberapa pasien dengan skizofrenia atau episode manik mungkin pada satu
keadaan menunjukkan perilaku yang sangat kacau yang sulit dibedakan dengan
delirium. Secara umum, halusinasi dan waham pada pasien skizofrenia lebih konstan
dan lebih terorganisasi dibandingkan dengan kondisi pasien delirium.
4

14

DELIRIUM MNEMONICS (suatu rangkaian kata yang dapat dipakai untuk
membedakan diagnosis delirium):
I WATCH DEATH
Infection : HIV, sepsis, pneumonia
Withdrawal : alcohol, barbiturate, hipnotik-sedatif
Acute metabolic :asidosis, alkalosis, gangguan elektrolit, gagal hepar, gagal
ginjal
Trauma :luka kepala tertutup, heat stroke, postoperative, subdural
hematoma,abses et causa terbakar
CNS patologis :infeksi, stroke, tumor, metastasis, vaskulitis, encephalitis,
meningitis, sifilis
Hipoksia :anemia, keracunan gas CO, hipotensi, gagal pulmoner atau
gagal jantung.
Defisiensi :vitamin B12, folat, niacin, thiamine
Endorinopati :hiper/hipoadenokortism, hiper/hipoglikemi, mixoedem,
hiperparatiroidism.
Acute vaskuler :hipertensif encephalopati, stroke, arrhythmia, shock
Toxin atau obat :obat yang diresepkan, pestisida, pelarut berbahaya
Heavy metals : mangaan, air raksa, timah hitam
4

2.10. FAKTOR RESIKO DELIRIUM
Faktor resiko delirium dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
5)

Pasien dengan karakteristik
Pasien dengan kondisi medis

Pasien dengan kharakteristik antara lain :
- Orang tua yang masuk rumah sakit
- Sakit stadium terminal
- Anak kecil
- Gangguan tidur
- Pasien dengan pengobatan multi drugs
- Gangguan sensori (pendengaran atau visual)

15

Pasien dengan kondisi medis antara lain :
- Demensia
- Status postoperasi (jantung,transplantasi,panggul)
- Luka bakar
- Gejala putus terhadap alcohol maupun obat
- Malnutrisi
- Penyakit hati kronis
- Pasien dengan hemodialisis
- Penyakit Parkinson
- Infeksi HIV
- Status post stroke
6


2.11.TATALAKSANA
Pengobatan terutama pada pasien delirium adalah untuk mengkoreksi kondisi
medis yang menyebabkan gangguan-gangguan utama. Langkah pertama pada tata
laksana pasien dengan delirium adalah melakukan pemeriksaan yang hati hati
terhadap riwayat penderita,pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium. Informasi
dari pasien tentang riwayat pasien terdahulu maupun status penderita sekarang sangat
membantu para praktisi medis untuk melakukan tata laksana yang baik untuk
mengobati delirium.
Anamnesa terbaik dari pasien delirium dapat menyingkirkan differensial
diagnose lain terutama hasil laboratorium juga dapat memperjelas etiologi dari
delirium.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain :
1. Darah rutin ; untuk mendiagnosa infeksi dan anemia
2. Elektrolit ; untuk mendiagnosa low atau high elektrolit level
3. Glukosa ; untuk mendiagnosa hipoglikemi,ketoasidosis diabetikum, atau
keadaan hiperosmolar non ketotic
4. Test hati dan ginjal ; untuk mendiagnosa gagal ginjal atau hati
5. Analisis urine ; untuk mendiagnosa URTI
6. Test penggunaan pada urin dan darah
7. HIV test
8. Thiamine dan vit B12 level
16

9. Sedimentasi urine
10. Test fungsi tiroid

Test neuroimaging:
1. CT Scan kepala
2. MRI berfungsi untuk mendiagnosa dari stroke,perdarahan, dan lesi structural
Pemeriksaan elektrofisiologi:
1. Pada delirium,umumnya perlambatan pada ritme dominan posterior dan
peningkatan aktifitas gelombang lambat pada hasil pencatatan EEG.
2. Pada delirium akibat putus obat/alcohol, didapatkan peningkatan aktifitas
gelombang cepat pada pencatatan.
3. Pada pasien dengan hepatic encephalopati, didapatkan peningkatan gelombang
difuse.
4. Pada toksisitas atau gangguan metabolik didapatkan pola gelombang triphasic,
pada epilepsy didapatkan gelombang continuous discharge, pada lesi fokal
didapatkan gelombang delta.
Foto radiologi dada :
Digunakan untuk melihat apakah terdapat pneumonia atau CHF
(congestive heart failure).
Test lainnya antara lain :
1. Pungsi lumbal, dilakukan apabila curiga terdapat infeksi susunan saraf pusat
2. Pulse oximetry, dilakukan untuk mendiagnosa hipoksia sebagai penyebab
delirium
3. ECG (elektrokardiogram) dilakukan untuk mendiagnosa iskemia dan
arrhythmia sebagai penyebab delirium.
Terapi Medikamentosa
Dua gejala utama delirium yang mungkin memerlukan pengobatan
farmakologis adalah psikosis dan insomnia. Terapi farmakologis antara lain:
1. Neuroleptik (haloperidol,risperidone,olanzapine)
a. Haloperidol (haldol)
Suatu antipsikosis dengan potensi tinggi. Salah satu antipsikosis efektif
untuk delirium.
17

DOSIS :
Dewasa : gejala ringan ; 0,5-2 mg per oral
Gejala berat ; 3-5 mg per oral
Geriatric ; 0,5- 2 mg per oral
Anak : 3-12 tahun ; 0,05mg/kg bb/hari
6-12 tahun ; 0,15mg/kg bb/hari
b. Risperidone (risperdal)
Antipsikotik golongan terbaru dengan efek ekstrapiramidal lebih sedikit
dibandingkan dengan haldol. Mengikat reseptor dopamineD2 dengan
afinitas 20 kali lebih rendah daripada 5-ht2-reseptor.
DOSIS :
Dewasa : 0,5-2 mg per oral
Geriatric ; 0,5 mg per oral
2. Short acting sedative ( lorazepam )
Digunakan untuk delirium yang diakibatkan oleh gejala putus obat atau
alcohol. Tidak digunakan benzodiazepine karena dapat mendepresi nafas,
terutama pada pasien dengan usia tua,pasien dengan masalah paru.
DOSIS :
Dewasa : 0,5-2 mg per oral/iv/im
3. Vitamin ,thiamine(thiamilate) dan cyanocobalamine
(nascobal,cyomin,crystamine).
Seperti telah diungkapkan diatas bahwa defisiensi vitamin b6 dan vitamin b12
dapat menyebabkan delirium maka untuk mencegahnya maka diberikan
preparat vitamin b per oral.
DOSIS :
Dewasa : 100 mg per iv (thiamilate)
100 mcg per oral/hari (nascobal,cyomin,crystamine)
Anak : 50 mg per iv (thiamilate)
10-50 mcg per im/hari (nascobal,cyomin,crystamine)
4. Terapi cairan dan nutrisi.



18

Terapi Non Medikamentosa
Intervensi personal dan lingkungan terhadap pasien delirium juga sangat
berguna untuk membina hubungan yang erat terhadap pasien dengan lingkungan
sekitar untuk dapat berinteraksi serta dapat mempermudah pasien untuk
melakukan ADL (activity of daily living) sendirinya tanpa tergantung orang lain.
7
Intervensi personal yang dapat dilakukan antara lain:
Tabel 4. Intervensi Personal dan Lingkungan Pasien Delirium
7
Panduan
intervensi
Tindakan Tujuan
Reorientasi Pasang jam dinding
Kalender
Ruangan yang terang
Kunjungan sesering mungkin
Beri nama/petunjuk/tanda pada
ruangan, kamar, barang pribadi
Memulihkan
orientasi
Memulihkan
siklus tidur
Padamkan lampu
Minum susu hangat atau the herbal
Musik yang tenang
Pemijatan (massage) punggung
Hindari tidur diluar jam tidur
Tidur tanpa
obat
Mobilisasi Latihan lingkup gerak sendi
Mobilisasi bertahap
Batasi penggunaan restrain
Pulihnya
mobilisasi
Penglihatan Kenakan kacamata
Menyediakan bacaan dengan huruf
berukuran besar
Meningkatkan
kemampuan
penglihatan
Pendengaran Bersihkan serumen prop
Alat Bantu dengar
Meningkatkan
kemampuan
pendengaran
Rehidrasi Diagnosis dini rehidrasi
Tingkatkan asupan cairan oral
kalau perlu per infuse
BUN/Cr < 18
Halusinasi Jauhkan dari benda-benda yang
berbahaya
Barang-barang seminimal mungkin
Tidak melukai
diri sendiri dan
orang lain


19

2.12. PROGNOSIS
Awitan delirium yang akut, gejala prodromalnya seperti gelisah dan
perasaan takut mungkin muncul pada awal awitan. Bila penyebabnya telah
diketahui dan dapat dihilangkan maka gejala-gejalanya akan hilang dalamwaktu
3-7 hari dan akan hilang seluruhnya dalam waktu dua minggu.
6
























20

BAB III
KESIMPULAN

Sindrom delirium sering tidak terdiagnosis dengan baik karena berbagai sebab.
Keterlambatan diagnosis memperpanjang masa rawat dan meningkatkan mortalitas.
Defisiensi asetilkolin yang berhubungan dengan beberapa factor predisposisi dan factor
pencetus merupakan mekanisme dasar yang harus selalu diingat. Pencetus tersering adalah
pneumonia dan infeksi saluran kemih.
Gangguan kognitif global, perubahan aktivitas psikomotor, perubahan siklus tidur,
serta perubahan kesadaran yang terjadi akut dan berfluktuatif merupakan gejala yang sering
ditemukan. Beberapa peneliti menggolongkan delirium ke dalam beberapa tipe. Kriteria
diagnosis baku menggunakan DSM-IV instrument baku yang digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosis.
Beberapa penyakit mempunyai gejala dan tanda mirip sehingga diperlukan
kewaspadaan serta pemikiran kemungkinan diferensial diagnosis. Pengelolaan pasien
terutama ditujukan untuk mengidentifikasi serta menatalaksana factor predisposisi dan
pencetus. Penatalaksanaan non-farmakologik dan farmakologik sama pentignnya dan
diperlukan kerjasama dengan psikiater geriatric terutama dalam pengelolaan pasien yang
gelisah.












21

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo, Aru W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: Interna
Publishing;2009
2. Stuart, Gw. and Sundeen S.J (1995). Perbandingan Delirium, Depresi dan
Demensia.St.louis : Mosby year book
3. Lumantobing SM. Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI;2011
4. Sadock BJ, Kaplan. Kaplan dan Sadock buku ajar psikiatri klinis. 2nd ed. Jakarta :
EGC;2010.
5. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders (DSM-IV-TR). 4
th
ed. Washington, DC: American Psychiatric
Association; 2000.
6. Alagiakrishnan K. Delirium. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/288890-overview . Accessed on October 22,
2013.
7. American Psychiatric Association. Practice guideline for the treatment of patients with
delirium. Am J Psychiatry. May 1999;156(5 Suppl):1-20.