Anda di halaman 1dari 5

reaksi substitusi elektrofilik terjadi pada senyawa aromatis termasuk

heteroaromatis. Substitusi elektrofilik adalah penggantian H


+
dengan
suatu elektrofil (E
+
) /spesi yang kekurangan elektron. Elektrofil berasal
dari perkataan elektron dan philia (suka), dengan demikian elektrofilik
berarti spesi yang suka elektron ( spesi yang bermuatan positif atau
suatu orbital kosong ).
[1]



http://splashurl.com/lnk5pe8
Kearomatisan[sunting | sunting sumber]
Ciri senyawa aromatis adalah mempunyai ikatan rangkap yang
terkonjugasi, namun sifatnya tidak sama dengan alkana khususnya sifat
kimianya, dimana senyawa aromatis tidak mengalami reaksi adisi. Sifat
kearomatisan (aromatisitas) suatu senyawa harus memenuhi tiga kriteria
sebagai berikut :
Senyawa tersebut harus siklik
Molekul tersebut harus datar (hampir datar), dengan hybrid yang
memenuhi adalah sp
3

Memenuhi kaedah Huckel dengan sistem (4n+2)e, dengan n = 0, 1,
2, 3 . . ., dengan elektron yang terkonyugasi. Elektron adalah
elektron pada ikatan atau orbital p (non bonding electron = n.
Senyawa aromatis yang paling banyak adalah benzene dan derivatnya
(benzene tersubtitusi). Benzene jauh lebih stabil bila dibandingkan
dengan sikloheksatriena.
[2]

Subtitusi Elektrofilik Aromatik[sunting | sunting sumber]
Reaksi yang paling umum pada senyawa aromatik adalah substitusi
atom atau gugus lain terhadap hidrogen pada cincin. Berikut ini adalah
beberapa reaksi subtitusi pada benzena :
Klorinasi
C
6
H
6
+ Cl
2
(FeCl
3
) C
6
H
6
Cl + HCl


http://splashurl.com/lmt9vme
Brominasi
C
6
H
6
+ Br
2
(FeBr
2
) C
6
H
6
Br + HBr
Nitrasi
C
6
H
6
+ HNO
3
(H
2
SO
4
) C
6
H
6
NO
2
+ H
2
O
Sulfonasi
C
6
H
6
+ H
2
SO
4
C
6
H
6
SO
3
H + H
2
O
[3][4]

Substitusi Elektrofilik Terhadap Benzena[sunting | sunting sumber]
Elektrofilik berarti satu elektron (spesi yang bermuatan positif atau
mempunyai orbital kosong) dengan notasi umum E
+
. Cincin benzena
kaya elektron sehingga sangat reaktif terhadap elektrofil (mengalami
reaksi subtitusi elektrofilik) dengan mekanisme sebagai berikut :
Tahap 1 : Pembentukan elektrofil E
+
(cepat)
Tahap 2 : Serangan E
+
terhadap cincin benzene (lambat sebagai
langkah penentu laju reaksi/RDS)
Pengambilan H
+
dari cincin benzene oleh suatu elektrofil (cepat)
[5]
Dari mekanisme diatas kita dapat mengambil contoh Klorinasi. Reaksi
benzena dengan klorin berjalan sangat lambat tanpa katalis, tetapi
menjadi sangat cepat bila ada katalis. Apa yang dilakukan oleh katalis?
Ia bertindak sebagai asam lewis dan mengonversi klorin menjadi
elektrofili kuat dengan membentuk suatu kompleks dan
mempolarisasikan ikatan CC. Alasan mengapa diperlukan elektrofili
kuat akan menjadi jelas sebentar lagi. Elektrofili mengikat salah satu
atom karbon pada cincin benzena, menggunakan dua elektron pi dari
awan pi untuk membentuk ikatan sigma dengan atom karbon cincin.
Atom karbon ini menjadi terhibridisasi sp
3
. Cincin benzene bertindak
sebagai donor elektron pi, atau nukleofili,terhadap reagen elektrofilik.
Karbokation yang dihasilkan ialah i'on benzenonium', dengan muatan
positif terdelokalisasi oleh resonansi pada atom
karbon orto dan paraterhadap atom karbon yang dilekati oleh atom
klorin; artinya orto dan para terhadap atom karbon sp
3
'. Ion
benzenonium mirip seperti karbokation alilik, tetapi muatan positifnya
terdelokalisasi pada tiga atom karbon, bukan hany dua. Meskipun
distabilkan oleh resonansi dibandingkan dengan karbokation lain, energi
resonansinya jauh lebih rendah daripada cincin benzene awalnya.
Sunstitusi diselesaikan dengan melepaskan satu proton dari atom
karbon sp
3
, yaitu atom yang sama yang telah dilekati oleh elektrofilik.
Alasan mengapa elektrofili harus kuat, dan mengapa yang terjadi ialah
substitusi dan bukan adisi, sekarang menjadi jelas. Pada langkah 1,
energi stabilisasi (energi resonansi) dari cincin aromatik telah hilang,
karena perusakan sistem pi aromatik. Perusakan ini, yang disebabkan
oleh adisi elektrofili pada salah satu karbon cincin, memerlukan energi
dan elektrofili kuat. Pada langkah 2, energi resonansi aromatik tercapai
kembali dengan melepaskan satu proton. Hal ini tidak akan terjadi
karbokation intermedietnya mengadisi nukleofili.
[6]

Diagram Energi Reaksi Substitusi Elektrofilik[sunting | sunting sumber]


http://splashurl.com/m34w54e
[7]

Jenis-Jenis Reaksi Substitusi Elektrifilik[sunting | sunting sumber]
a. Halogenisasi
Klorin atau bromin dimasukkan ke dalam cincin aromatik dengan
menggunakan halogen bersam-sama dengan besi halidanya yang
sesuai sebagai katalis (yaitu, Cl
2
+ FeCl
3
atau Br
2
+ FeBr
3
). Biasanya
reaksi dilaksanakan dengan menambahkan halogen perlahan-lahan
pada campuran senyawa aromatik dan serbuk besi. Besi bereaksi
dengan halogen membentuk besi halida, yang kemudian mengkatalisis
halogenisasi. Flourinasi dan iodinasi langsung pada cincin aromatik juga
dimungkinkan tetapi memerlukan metode khusus.
[8]

b. Nitrasi
pereaksi adalah asam nitrat (HNO
3
) dengan katalisator asam sulfat
(H
2
SO
4
) dan mekanisme pembentukan elektrofil adalah sebagai berikut:
(HNO
3
) + (H
2
SO
4
) NO
2
+
+ HSO
4
-
+ H
2
O
c. Alkilasi
Pereaksi adalah alikil halida (R-X) adalah katalisator AlX
3
atau FeX
3
dan
mekanisme pembentukan elektrofil adalah sebagai berikut : R-X +
AlX
3
/FeX
3
R
+
+ Al
+
X
4
/Fe
-
X
4

[9]

d. Asilasi
Friedel-Crafts berlangsung dengan cara yang sama dengan alkilasi.
Elektrofili berupa kation asil yang dihasilkan dari turunan asam,
biasanya suatu asil halida. Reaksi ini menjadi rute umum yang
bermanfaat untuk pembentukan keton aromatik.
[10]

e. Sulfonasi
Pereaksi adalah asam sulfat (H
2
SO
4
) berasap dengan mekanisme
pembentukan elektrofil adalah sebagai berikut : (H
2
SO
4
) SO
3
+ H
2
0
Pada reaksi asilasi dengan elektrofil R
+
dapat terjadi penataan ulang ion
karbonium untuk mencapai bentuk yang paling stabil. Sedangkan pada
sulfonasi H
+
yang dilepaskan oleh cincin digunakan kembali oleh
elketrofil yang dikenal sebagai back bonding.
[11][12]