Anda di halaman 1dari 21

DISTRIBUSI SOLUT ANTARA DUA SOLVEN YANG

TIDAK BERCAMPUR
Makalah Presentasi Laboratorium Kimia Fisika


Disusun oleh :
1. Agung Dwi Utomo 114102002
2. Meita Utari 114102008


Program Studi Teknik Kimia
Institut Teknologi Indonesia
Serpong
2011

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... i
ABSTRAK... ii
BAB I PENDAHULUAN........................... 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan.. 1
1.3 Teori ......... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Latar Belakang........................................................................................ 5
2.2 Tujuan ..
2.3 Hipotesa
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN. 4
3.1 Alat & Bahan....... 4
3.2 Cara Kerja 5
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN....... ... 5
4.1 Hasil Percobaan
4.2 Pembahasan. . 6
BAB VI KESIMPULAN. 7
DAFTAR PUSTAKA.. 8
DAFTAR LAMPIRAN....... 9
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3....
Lampiran 4
ABSTRAK
Percobaan yang kita bahas kali ini adalah distribusi solute antara 2 solven yang tidak
saling bercampur sehingga timbulah masalah dalam memisahkan zat tersebut karena larutan
tersebut telah terhomogenisasi akibat senyawa atom atom kimia yang saling berikatan perlu
dilakukan pemisahan campuran.Pemisahan tersebut melalui proses ekstraksi senyawa
senyawa berdasarkan perbedaan 2 fasa yang tidak bercampur seperti asam asetat dan pelarut
organic lainnya.Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk memahami fenomena
perpindahan massa di antara dua cairan yang tidak saling campur dan memahami sifat-sifat
kelarutan senyawa-senyawa organik. Asam Asetat ,asam etanoat atau asam cuka adalah
senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam
makanan.Asam cuka memiliki rumus empiris . Toluena dikenal juga sebagai metil benzena
ataupun penyl metana, adalah cairan bening tak berwarna yang terlarut dalam air dengan
aroma seperti pengencer cat dan berbau harum seperti benzene yang merupakan salah satu
pelarut organic yang memiliki rumus molekul (C
7
H
8
). Senyawa polar memiliki perbedaan
keelektronegatifan yang besar, perbedaan harga ini mendorong timbulnya kutub kutub
listrik yang permanen (dipole permanen). Senyawa non polar memliki perbadaan
keelektronegatifan yang kecil , bahkan untuk senyawa biner dwiaton (seperti ) perbedaan
keelektronegatifanya = 0.Jadi,jika dalam suatu campuran memiliki fasa yang berbeda beda
tentulah kita bisa Menentukan nilai koefisien distribusi dengan perbandingan konsentrasi
solut serta ingin menentukan nilai koefisien distribusi dengan menggunakan metode least
square.dari percobaan tersebut didapat Koefisien distribusi (Kd) pada pelarut organik adalah
sebesar 0,191 dan koefisien distribusi pada Air (H2O) adalah sebesar 5,490.Kesimpulannya
Teknik pemisahan dua campuran yang tidak saling campur didasarkan pada metode ekstraksi
cair-cair tidak kontinyu, dimana kelarutan spesi zat terlarut dalam sistem organik-air
tergantung pada kedua jenis pelarut(Pelarut organic dan Air) Jadi, semakin kecil Kd yang
dihasilkan akan diperoleh massa zat sisa terlarut pada pelarut air yang semakin besar.

Kata kunci :Distribusi solute antara 2 solven ,Asam Asetat,Toluena,senyawa polar & non
polar,menentukan Koefisien Distribusi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Percobaan yang kita bahas kali ini adalah distribusi solute antara 2 solven yang tidak
saling bercampur sehingga timbulah masalah dalam memisahkan zat tersebut karena larutan
tersebut telah terhomogenisasi akibat senyawa atom atom kimia yang saling berikatan perlu
dilakukan pemisahan campuran.
Ekstraksi pelarut digunakan untuk mempelajari prinsip dasar dalam metode ekstraksi
yaitu sama halnya dengan ekstraksi cair-cair didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Pada percobaan ini
mengekstraksi asam asetat 0,5 N;1 N& 1,5 N dengan menggunakan pelarut NaOH sebagai
titranya maka akan dihasilkan Natrium Asetat dan H2O yang terdistribusi toloena kemudian
menghasilkan asam asetat dalam toluena yang telah terpisah oleh H2O.
1.2. Tujuan
1. Menentukan konstanta kesetimbanagan suatu solut terhadap dua buah solven yang tidak
bercampur.
2. Menentukan disosiasi solut dalam solven tersebut
1.3. Teori
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya
terhadap dua caian yang tidak saling larut yang berbeda , biasanya air dan yang lainnya
pelarut oarganik.
Jika kedua fasa tersebut adalah zat cair yang tidak saling bercampur, disebut ekstraksi
cair-cair.dasar metode ekstraksi cair-cair adalah distribusi senyawa diantara dua fasa cair
yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi di kedua fasa terseut,
disebut koefisien distribusi , K , yaitu K = ca/cb. Perpindahan senyawa terlarut dari satu fasa
ke fasa lain akhirnya mencapai keadaan setimbang pada jumlah ekstraksi dilakukan, bukan
volume pelarut. Hal ini dinyatakan dengan perhitungan konsentrasi zat terlarut.

Cn = Co [ KV1 / (KV1 + KV2) ] n




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Latar belakang
Pembagian solut antara dua cairan tak saling campur memberikan banyak
kemungkinan yang menarik bagi pemisahan-pemisahan sacara analitik, juga untuk keadaan
yang tujuan utamanya bukanlah analitik melainkan preparatif maka ekstraksi solven
merupakan suatu langkah penting dalam urutan yang memberikan hasil murni di dalam
laboratorium organik, anorganik, dan biokimia. Meskipun kadang-kadang digunakan alat-alat
yang sukar, sering kali diperlukan hanya sebuah corong pemisah. Selang waktu pemisahan
secara ekstraksi solven dapat dilakukan beberapa menit.
Tekniknya dapat ditetapkan untuk suatu batas batas konsentrasi yang luas, dan telah
dipakai secara ekstensif untuk isolasi isotop isotop bebas pembawa dalam jumlah jumlah
yang sangat sedikit yang diperoleh baik dari transmutasi nuklir maupun dari material
material industri yang dihasilkan dalam ton. Pemisahan ekstraksi solven biasanya bersih
dalam arti bahwa tiada analogi kopresipitasi dengan sistem sejenis itu.

2.2 Tujuan
1. Menentukan konstanta kesetimbangan suatu solut terhadap dua buah solven yang tidak
tercampur.
2. Menentukan disosiasi solut dan solven tersebut.

2.3 Hipotesa
1. Nilai koefisien distribusi asam asetat didalm pelarut air dan pelarut organik untuk setiap
variasi konsentrasi asam asetat adalah tetap.
2. Kelarutan asam asetat di dalam pelarut air akan lebih banyak di bandingkan kelarutan asam
asetat di dalam pelarut organik (toluena).
3. Perbandingan banyaknya konsentrasi solut dalam solven 1 dan solven 2 pada keadaan
setimbang disebut koefisien distribusi
K
Keterangan :
K :Koefisien distribusi


:Koefisien solut dalam solven 1


:Koefisien solut dalam solven 2
Harga k akan tetap jika berat molekul solut dalam solven 1 sama berat dengan molekul dalam
solven 2. Jika berat molekul tidak sama maka terjadi disosiasi solut atau asosiasi solut dalam
salah satu solven, misalnya :





Dalam solven 1 Dalam solven 2
Harga konstanta kesetimbangan
K =
K =
Log k = n log - log


Log C organik = n log + log
Log k = n log - log

+ log n
Log C organik = n log + log

Dengan membuat grafik log C organik versus log C air , maka akan didapat harga n
sebagai slope dan harga

sebagai intersop sehingga harga k dapat ditentukan .
Hukum Distribusi
Apabila suatu solut membagi diri diantara dua cairan yang tidak bercampur,maka ada
hubungan tertentu antara dua konsentrasi solut diantara dua fasa pada kesetimbangan. Nernst
mengemukakan pernyataan pertama yang jelas tentang hukum distribusi , ketika ia dalam
tahun 1891 menyatakan bahwa suatu solut b akan membagikan diri antara dua cairan yang
tidak bercampur,sedemikian rupa hingga pembagian konsentrasi pada kesetimbangan pada
suatu suhu tertentu adalah tetap :
= tetap
Dengan ketentuan menyatakan konsentrasi dari solut A di dalam fase cairan 1.
Meskipun hubungan ini berlaku cukup baik dalam beberapa hal,dalam kenyataan hubungan
tadi tidaklah eksak. Secara ketat,dalam istilah-istilah termodinamika,adalah perbandingan
aktifitaslah dan bukan perbandingan konsentrasi yang seharusnya tetap. Aktifitas suatu zat
kimia dalam suatu fasa mempertahankan suatu perbandingan yang tetap terhadap aktifitas zat
sama di dalam fasa cair yang lain
=
Disini menunjukan aktifitas solut A di dalam fasa 1.Tetapan yang sebenarnya di
sebut koefisien distribusi dari zat A. Didalam perhitungan-perhitungan pendekatan,yang
sesuai untuk banyak keperluan,maka lebih baik digunakan konsentrasi daripada aktifitas
dalam soal-soal harga .
2.3.1 Keseimbangan Ekstrasi Solven Partisi Asam Lemah
Perhatikan suatu asam lemah HB.Umpamakan untuk kesederhanaan ,bahwa asamnya
monomerik didalam kedua fasa solven,dan anion asam tidak menembus masuk kedalam fasa
organik .Maka pernyataan kesetimbangan yang tepat adalah :
D =

(1)
= (2)
(3)




Dan substitusi ke dalam persamaan (1) menghasilkan:
D =


Dengan mengingat persamaan (2), kita lihat bahwa:
D =
Jadi kita telah menjabarkan suatu pernyataan yang menunjukan dengan tegas
ketergantungan perbandingan distribusi pada koefisien distribusi dari asam lemah,tetapan
ionisasinya,dan pH dari fasa air . Mungkin saja kita dapat menekankan pada perbedaan-
perbedaan yang berhubungan erat dengan harga-harga tetapan yang sesuai untuk
mempengaruhi pemisahan campuran asam dengan mengatur pH dari fasa airnya.
2.3.2 Asam Asetat
Asam Asetat ,asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan.Asam cuka memiliki rumus
empiris . Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk

, atau Asam asetat murni(disebut asam
asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna,dan memilki titik beku 16.7

C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana,setelah asam
format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah,artinya hanya
terdisosiasi sebagian menjadi ion dan . Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan
baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti
polietilena tereftalat,selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan
kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah
tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam
setahun,kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1,5 juta ton per
tahun di peroleh dari hasil daur ulang ,sisanya diperoleh dari industry petrokimia maupun dari
sumber hayati.
2.3.2.1 Sifat Kimia Asam asetat
A. Keasaman
Atom hidrogen (H) pada gugus karboksil (-COOH) dalam asam karboksilat seperti
asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam
asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai p

= 4,8. Basa konjugasinya adalah asetat (

. Sebuah larutan 1,0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah)
memiliki pH sekitar 2,4.
Struktur Kristal asam asetat menunjukan bahwa molekul-molekul asam astetat
berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Dimer juga dapat
dideteksi pada uap bersuhu 120

C. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak
berikatan hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni. Dimer dirusak dengan
adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut
diperkirakan 65,0 -66,0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154 -157 J . Sifat dimerisasi ini juga
dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.
B. Sebagai Pelarut
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofik (polar),mirip seperti air dan etanol.
Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6,2 sehingga ia bisa melarutkan
baik senyawa polar seperti garam anorganik dan gula maupun senyawa non-polar seperti
minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodine. Asam asetat bercampur dengan mudah
dengan pelarut polar atau non-polar lainnya seperti air, kloroform, dan heksana. Sifat
kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas
dalam industri kimia.
2.3.2.2 Reaksi-reaksi kimia
Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan
seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Logam asetat
juga dapat diperoleh dengan reaksi asam asetat dengan suatu basa yang cocok. Contoh yang
terkenal adalah reaksi soda kue (Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hampir semua
garam asetat larut dengan baik dalam air. Salah satu pengecualian adalah kromium(II) asetat.
Contoh reaksi pembentukan garam asetat:
Mg (s) + 2 CH
3
COOH (aq) (CH
3
COO)
2
Mg (aq) + H
2
(g)
NaHCO
3
(s) + CH
3
COOH CH
3
COONa (aq) + CO
2
+ H
2
O
Aluminium merupakan logam yang tahan terhadap korosi karena dapat membentuk lapisan
aluminium oksida yang melindungi permukaannya. Karena itu, biasanya asam asetat diangkut
dengan tangki-tangki aluminium.
A. Dua reaksi organik tipikal dari asam asetat
Asam asetat mengalami reaksi-reaksi asam karboksilat ,misalnya menghasilkan garam
asetat bila bereaksi dengan alkali,menghasilkan logam etanoat bila bereaksi dengan logam,
dan menghasilkan logam etanoat, air dan karbondioksida bila bereaksi dengan garam
karbonat atau bikarbonat. Reaksi organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah
pembentukan etanol melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil
klorida atau anhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik. Anhidrida asetat dibentuk melalui
kondensasi dua molekul asam asetat. Ester dari asam asetat dapat di peroleh melalui reaksi
esterifikasi Fischer,dan juga pembentukan amida. Pada suhu 440

C, asam asetat terurai
menjadi metana dan karbon dioksida, atau ketena dan air.

B. Deteksi
Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu ,garam-garam dari
asam asetat bereaksi dengan larutan besi(III)klorida,yang menghasilkan warna merah pekat
yang hilang bila larutan diasamkan. Garam-garam asetat bila di panaskan dengan arsenic
trioksida (As

membentuk kakodil oksida ((CH
3
)
2
As-O-As(CH
3
)
2
), yang mudah dikenali
dengan baunya yang tidak menyenangkan.
2.3.2.3 Kegunaan Asam Asetat
Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa
kimia. Sebagian besar ( 40-45% ) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk
memproduksi monomer vinil asetat ( vinyl acetate monomer, VAM ). Selain itu asam asetat
juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya
termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil.
2.3.2.4 Keamanan Asam Asetat
Asam asetat pekat bersifat korosif, karena itu harus digunakan dengan penuh hati-hati.
Asam asetat dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi pada
membran mukosa. Luka bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam
setelah kontak. Sarung tangan latex tidak melindungi dari asam asetat, sehingga dalam
menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan berbahan karet nitril. Asam asetat
pekat juga dapat terbakar di laboratorium, namun hal ini sulit terjadi. Asam asetat pekat
menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 39
o
C (102
o
F), dan dapat membentuk
campuran yang mudah meledak di udara (ambang ledakan: 5,4% - 16%)
Larutan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 25% harus ditangani di
dalam ruang asam (fume hood) karena uapnya yang korosif dan berbau. Asam asetat encer,
seperti pada cuka, tidak berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat adalah
berbahaya bagi manusia maupun hewan. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada sistem
pencernaan dan perubahan yang mematikan pada keasaman darah.

2.3.3 Toluena
Toluena dikenal juga sebagai metil benzena ataupun penyl metana, adalah cairan
bening tak berwarna yang terlarut dalam air dengan aroma seperti pengencer cat dan berbau
harum seperti benzene yang merupakan salah satu pelarut organic yang memiliki rumus
molekul (C
7
H
8
). Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang digunakan secara luas dalam
stok umpan industri dan juga sebagai pelarut. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga
digunakan sebagai obat inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan.
toluena biasanya diproduksi bersama dengan benzena, xylena dan C9- aromatik denga
proses katalitik reforming dari C6-C9 nafta. Hasil yang terbentuk diekstrak, biasanya lebih
sering dengan sulfolane atau tetra etilen glikol dan suatu kos-solven, untuk menghasilkan
campuran antara benzena, toluena, xylena dan C9 aromatik, untuk selanjutnya dipisahkan
dengan fraksionisasi. Pada tahun 1997 sebuah teknologi baru untuk memproduksi BTX yaitu
dari pirolisis hidrokarbon ringan C2 C5, LPG dan nafta. Sekitar 85 -90 % dari toluena yang
diproduksi setiap tahunnya di Amerika Serikat tidaklah sebagai produk murni, tetapi
dicampur langsung ke dalam gasoline pool.
2.3.4 Analisa Titrimetri
Titrimetri adalah salah satu bagian utama dari analisis kimia. Perhitungannya
berdasarkan hubungan stoikiometri sederhana dari reaksi-reaksi kimia. Titrimetri merupakan
metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk
menentukan C dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam
titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Analisa titrimetri merupakan
satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan
stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisa cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia
seperti:
aA + tT hasil
dengan keterangan: (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul pereaksi T. Pereaksi T,
disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk
larutan dengan C yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan disebut larutan standar
dan Cnya ditentukan dengan suatu proses standarisasi.
Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah
ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila
penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut
indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna.
Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada
saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa
titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen.
Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi
untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah
titrasi menyangkut proses untuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik
ekivalen.
2.3.5 Indikator
Untuk menetapkan titik akhir titrasi (titk ekivalen) dgunakan indikator. Indikator
merupakan asam organik lemahatau basa organik lemah pada pH tertentu mempunyai warna
tertentu. Indikator merupakan asam basa lemah sehingga dalam air akan terionisasi sebagian.
Warna dalam asam akan terlihat apabila perbandingan konsentrasi asam dan basa 10:1.
Begitu pula pada larutan basa. Setiap indikator asam basa mempunyai trayek pH tersendiri,
demikian warn asam dan basa diantaranya indikator ada yang memiliki satu macamwarna
misalnya phenol ptalein (pp) yang berwarna merah pada keadaan basa dan tidak berwarna
pada keadaan asam.
2.3.6 Polar dan Non Polar
Senyawa polar memiliki perbedaan keelektronegatifan yang besar, perbedaan harga
ini mendorong timbulnya kutub kutub listrik yang permanen (dipole permanen). Senyawa
non polar memliki perbadaan keelektronegatifan yang kecil , bahkan untuk senyawa biner
dwiaton (seperti ) perbedaan keelektronegatifanya = 0.
Polarisasi ikatan kovalen
Suatu ikatan kovalen disebut polar,jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI) tertarik lebih
kuat ke salah satu atom.
Contoh1 : Molekul HCL
Meskipun atom H dan Cl sama sama menarik pasangan electron , tetapi keeletronegatifan
Cl lebih besar daripada atom H .Akibatnya atom Cl menarik pasangan electron ikatan (PEI)
lebih kuat daripada atom H sehingga letak PEI lebih dekat kearah Cl (akibatnya terjadi
semacam kutub dalam molekul HCl). Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom atom yang berikatan. Sebaliknya, suatu ikatan
kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama kuat ke semua atom.
Contoh 2 : dalam tiap molekul diatas , ke-2 atom yang berikatan menarik PEI sama kuat
karena atom atom dari unsur sejenis mempunyai harga keelektronegatifan yang
sama.Akibatnya muatan dari electron tersebar secara merata sehingga tidak terbentuk kutub.
Contoh 3 : Meskipun atom atom penyusun dan tidak sejenis, akan tetapi pasangan
electron tersebar secara simetris diantara atom atom penyusun senyawa, sehingga PEI
tertarik sama kuat ke semua atom (tidak berbentuk kutub).
2.3.7 Metode
Ekdtraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya
terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan pelarut organik.
Metode titrasi alkalimetri adalah suatu titrasi asam basa dengan menggunakan larutan
penitar yang bersifat basa dan larutan yang di titrasi bersifat asam.








BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dab Bahan
3.1.1 Alat-alat yang digunakan
1. Corong pemisah 250 mL
2. Erlenmeyer 100 mL
3. Buret 50 mL
4. Pipet ukur 10 mL
5. Gelas ukur 25 mL
6. Pipet tetes
7. Statif / penyangga buret dan corong pemisah
8. Labu takar 500 dan 50 mL
3.1.2 Bahan-bahan yang digunakan
1. Asam asetat 0,5, 1,0, dan 1,5 N
2. Toluena
3. NaOH 1N
4. Asam asetat glasial
5. Aquadest
6. Indikator PP







3.2 Cara Kerja
A. Preparasi Bahan Kimia
1. Pembuatan laruatan asam asetat 0,5; 1,0 dan 1,5 N

Aquadest
Asam Asetat Glasial 0,5 N
(50 mL)
Asam Asetat Glasial 1,0 N
(50 mL)
Asam Asetat Glasial 1,5 N
(50 mL)
Asam Asetat Glasial


1,43 mL 2,85 mL 4,29 mL




48,57 mL 47,15 mL 45,71 mL




2. Pembuatan larutan NaOH 1 N

Di timbang 20 gram NaOH Padat
Dilarutkan dalam labu takar 500 mL dengan Aquadest
NaOH 1 N 500 mL
5







B. Prosedur

1. Standardisasi Asam Asetat
Dipipet 10 mL Asam asetat 0,5 N
Dimasukan ke dalam erlenmeyer 100 mL
Tambahkan 2 tetes Indikator PP
5
Dititrasi dengan NaOH 1 N sampai TA: merah muda
Lakukan hal yang sama pada konsentrasi asam asetat 1,0 dan 1,5 N








2. Analisis distribusi solut antara dua solven yang tidak bercampur

Dipipet 10 mL asam asetat 0,5 N
Dimasukkan ke dalam corong pisah 250 mL
Ditambahkan 20 mL toluena
Diekstraksi selama 1 menit
Diamkan sampai terbentuk 2 lapisan
Diambil lapisan bawah larutan ke dalam erlenmeyer
Tambahkan 2 tetes indikator PP
Di titrasi dengan NaOH 1N s.d. TA: merah muda
Lakukan hal yang sama pada konsentrasi asam asetat 1,0 dan 1,5 N













BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Percobaan
A. Data Percobaan

NO
C Asam Asetat
(N)
Volume NaOH Standardisasi
(mL)
Volume NaOH
Distribusi (mL)
1 0,5 5,35 4,3
2 1,0 10,05 8,8
3 1,5 15,20 12,8


B. Hasil Pengamatan
1. Menentukan nilai koefisien distribusi dengan perbandingan konsentrasi solut
C Asam
Asetat
(N)
C
Standardisasi
(N)
C
Distribusi
(N)
C
Organik
(N)

0,5 0,54 0,43 0,11 4,095 0,244
1,0 1,01 0,88 0,13 7,040 0,142
1,5 1,52 1,28 0,24 5,333 0,188
Jumlah 16,469 0.574
Rata-rata 5,490 0,191

Dari hasil perhitngan diperoleh:
- Koefisien distribusi air : 5,490
- Koefisien distribusi pelarut organik : 0,191







2. Menentukan nilai koefisien distribusi dengan metode least square
C Asam
Asetat (N)
C
Distribusi
(N)
C
Organik
(N)
Log C
Distribusi
(x)
Log C
Organik
(y)
xy x
2

0,5 0,43 0,11 -0,3665 -0,9788 0,3588 0,1343
1,0 0,88 0,13 -0,0555 -0,9031 0,0501 0,0031
1,5 0,24 0,24 0,1072 -0,6198 -0,0664 0,0115
Jumlah -0,3148 -2,5017 0,3425 0,1489
Rata-rata -0,1049 -0,8339 0,1142 0,0496

Dari hasil perhitungan diperoleh:
a = 0,690
b = -0,762
log k = 0,600
k = 3,982
4.2. Pembahasan
Praktikum distribusi solut antara dua buah solven yang tidak saling bercampur,
bertujuan untuk menentukan konstanta kesetimbangan suatu solut terhadap dua buah soven
yang tidak bercampur dan menentukan disosiasi solut dalam solven tersebut. Percobaan
pertama menentukan konsentrasi asam asetat yang sebenarnya dengan cara standardisasi
asam asetat dengan larutan baku sekunder NaOH 1 N.
Percobaan kedua adalah menentukan distribusi solut dalam dua buah solven yang
tidak saling bercampur, yang menjadi solut adalah asam asetat sedangkan air dan toluena
adlah solven. Saat ekstaksi solven dan solut bercampur, tapi setelah didiamkan selama
beberapa saat akan terbentuk 2 lapisan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sifat antara dua
buah solven yang digunakan, air besrifat polar sedangkan toluena bersifat non polar sehingga
kedua larutan ini akan terpisah. Yang berada di lapisan bawah adalah air sedangkan lapisan
atas adalah toluena. Letak lapisan ini tergantung pada bobot jenis masing-masing larutan, air
yang berada di bawah memiliki bobot jenis yang lebih besar dari toluena yang berada di atas
(BJ air = 1 g/cm
3
> BJ toluena = 0,867 g/cm
3
). Asam asetat bersifat semi non polar sehingga
dapat bercampur ke dalam pelarut organik.
Digunakan indikator phenol ptalein (PP) dalam titrasi, dikarenakan titrasi ini
merupakan titrasi asm basa. Indikator PP yang digunakan dapat merubah warna larutan yang
tidak berwarna pada saat suasana asam menjadi berwarna merah pada suasana basa. Titik
akhir titrasi ditunjukan saat larutan berwarna merah muda atau pada pH larutan 8.
Untuk mementukan nilai konstanta n dan k dapat di hitung dengan menggunakan
metode least square. Dimana konstanta n adalah nilai a dan konstanta k adalah nilai antilog
dari konstanta n dikurangi nilai b. a adalah nilai slope sedangkan b adalah nilai intersep.
Seperti terlihat pada rumus berikut ini :
y = a . x + b
log C
org
= n . log C
air
+


Volume asam asetat pada saat standardisasi lebih banayk dibandingkan setelah
distribusi, hal ini dikarenakan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah , artinya
hanya terionisasi sebagian menjadi H
+
dan CH
3
COO
-
, sehingga pada konsentrasi yang sama
NaOH yang digunakan pada saat distribusi asam asetat lebih sedikit, hal ini disebabkan
karena asam asetat telah terdistribusi dari pelarut air ke pelarut organik yaitu toluena.
Banyaknya asam asetat yang terdistribusi ke toluena dapat kita ketahui dari selisih antara
volume NaOH standardisasi dengan volume NaOH distribusi (ekstraksi).
Berdasarkan praktikum Distribusi Solut Antara Dua Buah Solven Yang Tidak Saling
Bercampur, diperoleh hasil besarnya nilai koefisien distribusi yang berbeda-beda pada
masing-masing konsentrasi, sedangkan menurut Hukum Nerst besarnya koefisien distribusi
antara dua solven yang tidak saling bercampur adalah tetap atau tidak berubah-ubah jika
dipengaruhi konsentrasi solut.
Penggunaan asam asetat dalam berbagai konsentrasi bertujuan sebagai pembanding
masing-masing koefisien distribusi yang diperoleh. Koefisien distribusi air dapat ditentukan
dengan perbandingan antara konsentrasi solut dalam air dengan konsentrasi solut dalam
pelarut organik, sedangkan koefisien distribusi pelarut organik dapat ditentukan dengan
perbandingan konsentrasi solut dalam pelarut organik dengan konsentrasi solut dalam air.
Selain itu nilai koefisien distribusi dapat ditentukan dengan metode least square.
Dari perhitungan yang dilakukan, pelarut air mempunyai nilai koefisien distribusi >1
yaitu sebesar 5,490, sedangkan pada pelarut toluena nilai koefisien distribusinya < 1 atau
sebesar 0,191. Semakin besar nilai koefisien distribusi maka semakin baik pula pelarut
tersebut dalam melarutkan solut. Dan dari metode least square diperoleh nilai koefisien
distribusi sebesar 3,982.













BAB V
KESIMPULAN
Pada praktikum Distribusi solut antara dua buah solven yang tidak saling campur, dapat
disimpulkan:
1. Nilai koefisien distribusi (k) yang diperoleh dari distribusi asam asetat terhadap pelarut air
dan pelarut toluena adalah 5,490
2. Konsentrasi asam asetat tidak mempengaruhi nilai koefisien distribusi
3. Kelarutan asm asetat lebih baik dari kelarutannya dala toluena
4. Asam asetat merupakan senyawa yang bersifat semi non polar karena dapat larut dalam
pelarut non polar
5. Sifat polar asam asetat lebih dominan daripada sifat non polarnya.
6. Terjadi kesalahan acak sehingga hasil akhir koefisien distribusinya tidak tetap dan
menyimpang dari Hk. Nerst.










DAFTAR PUSTAKA

1.Compendium for basal practice in biochemistry, 2008 ed.. Aarhus University
2. Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia Untuk Universitas. Jilid 2. Edisi
Keenam.Erlangga. Jakarta.
3. Dickey, R. D. 1972. Identification and Correction of Copper Deficiency of Rhododendron Simsi
George Lindley Taber Cuttings. http://www.google.com.Diakses, 15 juli 2011.
4. Petrucci, Ralph H, 1987, alih bahasa Suminar Ahmadi, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan
Modern, Jilid 3, Penerbit Erlangga













LAMPIRAN 1
PERHITUNGAN
1. Menentukan konsentrasi asam asetat hasil standarisasi ( C standardisasi )
V asam asetat x N asam asetat = V NaOH x N NaOH

a. Asam asetat 0,5 N
b. Asam asetat 1,0 N

c. Asam asetat 1,5 N

2. Menentukan konsentrasi asam asetat hasil distribusi ( C distribusi )
V asam asetat x N asam asetat = V NaOH x N NaOH

a. Asam asetat 0,5 N
b. Asam asetat 1,0 N

c. Asam asetat 1,5 N

3. Menentukan konsentrasi asam asetat hasil distribusi ( C organik )
C organik = C standardisasi C distribusi
a. Asam asetat 0,5 N
b. Asam asetat 1,0 N
c. Asam asetat 1,5 N

4. Menentukan Nilai n dan K dengan menggunakan metode least square

C Asam
Asetat (N)
C
Distribusi
(N)
C
Organik
(N)
Log C
Distribusi
(x)
Log C
Organik
(y)
xy x
2

0,5 0,43 0,11 -0,3665 -0,9788 0,3588 0,1343
1,0 0,88 0,13 -0,0555 -0,9031 0,0501 0,0031
1,5 0,24 0,24 0,1072 -0,6198 -0,0664 0,0115
Jumlah -0,3148 -2,5017 0,3425 0,1489
Rata-rata -0,1049 -0,8339 0,1142 0,0496

Mencari nilai a dan b

Maka nilai b,

Jika : log C
org
= n . log C
air
+
, maka n = 0,690
b = log n log k
maka k = antilog (log n b)
k = antilog ( log(0,690) (-0,762) )
k = 3,982