Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN SGPT

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian pemeriksaan Serum Glutamat Piruvate
Transaminase (SGPT). Praktikum ini bertujuan untuk memeriksa fungsi hati dan
menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Berbagai penyakit dan infeksi dapat
menyebabkan kerusakan akut maupun kronis pada hati, menyebabkan peradangan, luka, sum-
batan saluran empedu, kelainan pembekuan darah, dan disfungsi hati. Jika besarnya kerusakan
cukup bermakna, maka akan menimbulkan gejala-gejala seperti jaundice, urine gelap, tinja ber-
warna keabuan terang, pruritus, mual, kelelahan, diare, dan berat badan yang bisa berkurang atau
bertambah secara tiba-tiba. Deteksi dini penting dengan diagnosis lebih awal guna meminimalisir
kerusakan dan menyelamatkan fungsi hati.
Salah satu cara untuk mendeteksi adanya kerusakan hati adalah dengan memeriksa aktivitas
enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) atau Alanin Aminotransferase (ALT) dalam serum.
Enzim ini terdapat dalam sitoplasma dan mitokondria sel hati. Bila terjadi kerusakan hati akan
terjadi peningkatan permeabilitas membran sel sehingga komponen-komponen sitoplasma akan
keluar dari sel dan apabila membran intraseluler seperti mitokondria rusak maka enzim-enzim
yang terdapat di dalamnya akan mengalami peningkatan aktivitas dalam serum. Berdasarkan hal
tersebut, maka peningkatan aktivitas enzim GPT atau ALT dalam serum dapat diukur dan
dijadikan salah satu parameter kerusakan fungsi hati. Enzim Glutamat Piruvat Transaminase
(GPT) atau Alanin Aminotransferase (ALT) hanya terdapat dalam sitoplasma sel hati sehingga
enzim ini lebih sensitif untuk pemeriksaan kerusakan fungsi hati
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan kali ini adalah metode spektrofotometri
dengan sample start. Sample start disini maksudnya adalah penghitungan waktu inkubasi atau
reaksi antara sampel dan reagen dimulai pertama kali saat sampel mulai ditambahkan ke dalam
reagen, maka dari itu reagen yag digunakan pada praktikum kali ini adalah monoreagen.
Monoreagen yang digunakan merupakan campuran dari 2 buah reagen yaitu Reagen I dan
Reagen II. Reagen I yang digunakan berisi Tris pH 7,15 140 mmol/liter, L-Alanin 700
mmol/liter, LDH (Laktat Dehidrogenase) 2300 U/liter. Tris pH 7,15 dalam reagen I berfungsi
sebagai dapar yang menjaga pH serum selama reaksi pemeriksaan ini supaya menjaga kestabilan
aktivitas GPT karena enzim sangat sensitif terhadap perubahan pH. L-Alanin berfungsi sebagai
asam amino yang akan diubah menjadi L-glutamat dengan dikatalisis oleh enzim Glutamat
Piruvate Transaminase (GPT). LDH (Laktat Dehidrogenase) juga merupakan enzim yang akan
mengkatalisis reaksi dari produk perubahan L-Alanin yang dikatalis oleh GPT, yaitu piruvat,
yang akan diubah menjadi laktat. Sedangkan Reagen II yang digunakan ini berisi 2-oxoglutarat
85 mmol/liter dan NADH 1 mmol/liter. 2-oxoglutarat akan bereaksi dengan L-Alanin
membentuk L-glutamat dan piruvat dengan dikatalisis oleh enzim GPT. Enzim GPT ini akan
mengkatalisis pemindahan gugus amino pada L-Alanin ke gugus keto dari alfa-ketoglutarat
membentuk glutamat dan piruvat. Selanjutnya piruvat direduksi menjadi laktat.
Prinsip dari reaksi yang terjadi adalah Reaksi tersebut dikatalisis oleh Laktat
Dehidrogenase (LDH) yang membutuhkan NADH dan H
+
. NADH akan mengalami oksidasi
menjadi NAD
+
. Banyaknya NADH yang dioksidasi menjadi NAD
+
sebanding dengan banyaknya
enzim GPT. Hal itulah yang akan diukur secara fotometri.
Tahap pertama dalam melakukan pemeriksaan SGPT ini adalah memipet monoreagen
sebanyak kemudian sampel serum sebanyak 100 l, kedua campuran ini direaksikan di
dalam tabung teaksi menggunakan mikropipet dengan skala yang sudah diatur sebelumnya.
Pemipetan menggunakan mikropipet bertujuan supaya diperoleh volume yang lebih akurat
karena akurasi mikropipete ini sangat tinggi. Tip yang digunakan pun harus diperhatikan
kebersihannya unuk meminimalisir kontaminasi yang mempengaruhi absorbansi sampel. Begitu
pula penggunaan tabung reaksi untuk mereaksikan sampel dan reagen juga harus diperhatikan
kebersihannya, penggunaan tabung reaksi untuk mereaksikan, bukannya langsung direaksikan di
dalam kuvet bertujuan agar di kuvet tidak terbentuk gelembung udara misalnya saat
homogenisasi sampel dan reagen yang susah untuk dihilangkan jika mereaksikan sampel dan
reagen di dalam kuvet secara langsung, dimana gelembung udara tersebut sangat susah
dihilangkan sehingga lebih baik untuk mereaksikan sampel dan reagen di tabung reaksi terlebih
dahulu baru kemudian dipindahkan ke dalam kuvet
Setelah dicampurkan antara reagen dan sampel, kemudian dilakukan inkubasi selama 1
menit, penghitungan waktu dimulai saat pertama kali sampel dimasukkan ke dalam reagen di
tabung reaksi. Inkubasi ini dilakukan agar serum dan reagen bereaksi membentuk senyawa
kompleks yang dapat dibaca pada spectrum panjang gelombang di spektrofotometer.
Setelah 1 menit inkubasi diharapkan reagen sudah bereaksi sempurna dengan sampel.
Pada setiap menitnya diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV/Vis pada
panjang gelombang .nm karena pada panjang gelombang tersebut, sampel akan memberikan
serapan maksimum. Dilakukan pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer UV/Vis
karena mempunyai sensitivitas yang relatif tinggi, pengerjaanya mudah sehingga pengukuran
yang dilakukan cepat, dan mempunyai spesifisitas yang baik.
Kuvet dimasukkan ke dalam Spektrofotometer UV/Vis untuk diukur absorbansinya.
Namun sebelumnya dilakukan pengukuran blanko terlebih dahulu. Pembuatan larutan blanko
sama dengan pembuatan larutan sampel yang akan diuji, tetapi hanya berisi monoreagen dan
tanpa adanya sampel namun ditambahkan aquadest sebagai pengganti sampel. Blanko ini
berfungsi supaya alat spektrofotometer UV/Vis mengenal matriks selain sampel sebagai
pengotor. Kemudian setting blank sehingga ketika pengukuran hanya sampel yang diukur
absorbansinya. Setelah itu, kuvet yang berisi sampel dimasukkan ke tempat kuvet dan dilihat
absorbansinya pada layar readout. Seharusnya Kuvet diambil dan diukur lagi setelah interval
waktu 1 menit selama 3 menit, akan tetapi karena spektrofotometer yang kami gunakan kurang
stabil makan larutan di dalam kuvet tidak diangkat dari spektrofotometer melainkan dibiarkan di
dalam spektrofotometer selama pengukurandalam rentang 1 menit selama 3 menit tersebut, untuk
menjaga kestabilan pembacaan oleh alat.
Selama proses pemeriksaan ini, bagian bawah (bening) kuvet tidak boleh disentuh oleh
tangan karena sumber sinar akan diteruskan melalui bagian bening kuvet. Jika bagian bening
kuvet terkontaminasi oleh tangan, maka akan mempengaruhi nilai absorbansi karena protein-
protein yang terdapat pada tangan akan ikut menempel pada permukaan kuvet. Hal ini akan
memungkinkan kesalahan dalam menginterpretasikan data yang diperoleh. Pada prinsipnya,
suatu molekul yang dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai akan
menyerap energy dan energi molekul tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, sehingga
terjadi peristiwa penyerapan (absorpsi) energi oleh molekul. Banyaknya sinar yang diabsorpsi
pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi,
dan jumlah cahaya yang diabsorpsi berbanding lurus dengan konsentrasinya sesuai hukum
lambert-beer. Setelah dilakukan pengukuan aborbansi, data dicatat untuk dihitung dan
diinterpretasikan.
SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara
semi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :
Laki-laki : 0 - 40 U/L (suhu inkubasi 37
o
C) dan 0-22 U/L (suhu inkubasi 25
o
C)
Perempuan : 0 - 31 U/L (suhu inkubasi 37
o
C) dan 0-17 U/L (suhu inkubasi 25
o
C)
Bila sampel yang didapat dari pasien wanita ataupun pria, angka aktivitas GPT yang didapat > 20
kali nilai rujukan normal. Hal tersebut menunjukan bahwa ada kemungkinan pasien mengalami
hepatitis viral akut atau nekrosis hati (akibat toksisitas obat atau kimia).Kemudian, dilihat dari
hasil data yang didapat, menunjukan bahwa aktivitas SGPT yang didapat adalah .. U/L.
Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa nilai SGPT pasien dalam keadaan.. hasil ii
belum dapat digunakan secara langsung untuk menegakkka prognosis terhadap suatu kerusakan
fungsi hati yang dicurigai, perlu dilakukan pemeriksaan lain yang terkait, salah satu yang
biasanya selalu bergandengan dengan pemeriksaan SGPT adalah pemeriksaan SGOT, karena
perbandingan antara nilai SGOT dan SGPT dapat memberikan suatu petunjuk dalam diagnosis,
namun dalam praktikum kali ini tidak dilakukan pemeriksaan SGOT.. Pada umumnya nilai tes
SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan
pada proses kronis didapat sebaliknya.

Namun, hasil yang didapat tidak begitu baik karena hasil pengukuran sampel yang
dilakukan malah meningkat setiap menitnya. Hal ini dapat disebabkan pengukuran absorbansi
yang tidak benar karena kuvet yang seharusnya terisi hingga volumenya hanya terisi sekitar
nya dan itu menyebabkan pengukuran menjadi lebih sulit, kurang akurat, dan kurang
merata/sama.
Dalam pemeriksaan fungsi hati, pada dasarnya tidak ada tes tunggal untuk menegakkan
diagnosis, setiap pemeriksaan akan saling mengonfirmasi dan menegakkan satu sama lainnya
mengingat fungsi hati yang jumlahnya begitu bayak. Terkadang beberapa kali tes berselang
diperlukan untuk menentukan penyebab kerusakan hati. Ketika penyakit hati sudah dideteksi, tes
fungsi hati biasanya tetap berlanjut secara berkala untuk memantau tingkat keberhasilan terapi
atau perjalanan penyakit. Ada beberapa tes tambahan yang mungkin diperlukan untuk meleng-
kapi sepertiGGT, LDH dan PT.






IX. Kesimpulan
1. Pemeriksaanfungsi hati dapat dilakukan dengan Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) dimana
sampel direaksikan dengan reagen dari kit, lalu diukur absorbansi hasil reaksi menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang . nm
2. Dari hasil pemeriksaan diperoleh nilai SGPT .