Anda di halaman 1dari 16

2.

2 Valve
2.2.1 Pengertian
Valve (Katup) adalah sebuah perangkat yang mengatur, mengarahkan atau mengontrol
aliran dari suatu cairan (gas, cairan, padatan terfluidisasi) dengan membuka, menutup, atau
menutup sebagian dari jalan alirannya.
Valve (Katup) dapat dioperasikan secara manual, baik oleh pegangan , tuas pedal dan
lain-lain. Selain dapat dioperasikan secara manual katup juga dapat dioperasikan secara otomatis
dengan menggunakan prinsip perubahan aliran tekanan, suhu dll. Perubahan-perubahan ini dapat
mempengaruhi diafragma, pegas atau piston yang pada gilirannya mengaktifkan katup secara
otomatis.
2.2.2 Jenis-Jenis Valve
Karena kebutuhan penggunaan valve berbeda dalam berbagai kondisi, valve memiliki
beberapa jenis bentuk dan kegunaannya. Jenis-jenis valve antara lain:
1. Gate Valve
Gate valve adalah jenis katup yang digunakan untuk membuka aliran dengan cara
mengangkat gerbang penutup nya yang berbentuk bulat atau persegi panjang.
Gate valve tidak untuk mengatur besar kecil laju suatu aliran fluida dengan cara
membuka setengah atau seperempat posisinya, Jadi posisi gate pada valve ini harus benar benar
terbuka (fully open) atau benar-benar tertutup (fully close). Jika posisi gate setengah terbuka
maka akan terjadi turbulensi pada aliran tersebut dan turbulensi ini akan menyebabkan :
a) Akan terjadi pengikisan sudut-sudut gate.
Laju aliran fluida yg turbulensi ini dapat mengikis sudut-sudut gate yang dapat
menyebabkan erosi dan pada akhirnya valve tidak dapat bekerja secara sempurna.
b) Terjadi perubahan pada posisi dudukan gerbang penutupnya.
Gerbang penutup akan terjadi pengayunan terhadap posisi dudukan (seat), sehingga lama
kelamaan posisi nya akan berubah terhadap dudukan (seat) sehingga apabila valve menutup
maka gerbang penutupnya tidak akan berada pada posisi yang tepat, sehingga bisa
menyebabkan passing.

Gambar ?.? Gate valve

Ada 3 jenis gate valve:
1. Rising Stem Gate Valve
Jika dioperasikan handwheel naik dan stem juga naik
2. Non-Rising Stem Gate Valve
Jika dioperasikan handwheel tetap dan stem juga tetap
3. Outside Screw & Yoke Gate Valve;
Jika di operasikan handwheel tetap tapi stemnya naik.

Rising Stem & Non Rising Stem digunakan untuk tekanan yang tidak terlalu tinggi, dan
tidak cocok untuk getaran. Outside Screw & Yoke Gate Valve amat cocok digunakan untuk high
preassure. Biasanya OS & Y banyak di gunakan di lapangan minyak, medan yang tinggi,
temperature tinggi. Karena pada OS & Y stem naik atau turun bisa dijadikan sebagai penanda.
Contoh, apabila stem tinggi itu menandakan posisi valve sedang buka penuh. Pada dasarnya
body & bonet pada gate terbuat dari bahan yang sama.
Keuntungan menggunakan Gate Valve :
1. Low pressure drop waktu buka penuh
2. Amat ketat dan cukup bagus waktu penutupan penuh
3. Bebas kontaminasi
4. Sebagai Gerbang penutupan penuh, sehingga tidak ada tekanan lagi. Cocok apabila akan
melakukan maintenance / perbaikan pada pipa
Kerugian menggunakan Gate Valve :
1. Tidak cocok di pakai untuk separuh buka, karena akan menimbulkan turbulensi sehingga bisa
mengakibatkan erosi dan perubahan posisi gate pada dudukan
2. Untuk membuka dan menutup valve perlu waktu yang panjang dan memerlukan torsi / torque
yang tinggi
3. Untuk ukuran 10 keatas tidak cocok dipakai untuk steam

2. Globe Valve
Globe Valve adalah jenis Valve yang digunakan untuk mengatur laju aliran fluida dalam
pipa.
Prinsip dasar dari operasi Globe Valve adalah gerakan tegak lurus disk dari dudukannya.
Hal ini memastikan bahwa ruang berbentuk cincin antara disk dan cincin kursi bertahap sedekat
Valve ditutup.
Ada tiga jenis desain utama bentuk tubuh Globe Valve, yaitu: Z-body, Y-body dan
Angle- body :
Z-Body desain adalah tipe yang paling umum yang sering dipakai, dengan diafragma
berbentuk Z. Posisi dudukan disk horizontal dan pergerakan batang disk tegak lurus
terhadap sumbu pipa atau dudukan disk. Bentuknya yang simetris memudahkan dalam
pembuatan, instalasi maupun perbaikannya.
Y-Body desain adalah sebuah alternatif untuk high pressure drop. Posisi dudukan
disk dan batang (stem) ber sudut 45 dari arah aliran fluidanya. Jenis ini sangat cocok
untuk tekanan tinggi
Angle-Body desain adalah modifikasi dasar dari Z-Valve. Jenis ini digunakan untuk
mentransfer aliran dari vertikal ke horizontal.


Keuntungan menggunakan Globe valve adalah :
Kemampuan dalam menutup baik.
Kemampuan throtting (mengatur laju aliran) Cukup baik.
Kelemahan utama penggunaan Globe Valve adalah:
Penurunan tekanan lebih tinggi dibandingkan dengan Gate Valve
Valve ukuran besar membutuhkan daya yang cukup atau aktuator yang lebih besar untuk
beroperasi

3. Ball Valve
Ball Valve adalah sebuah Valve atau katup dengan pengontrol aliran berbentuk disc bulat
(seperti bola/belahan). Bola itu memiliki lubang, yang berada di tengah sehingga ketika lubang
tersebut segaris lurus atau sejalan dengan kedua ujung Valve / katup, maka aliran akan terjadi.
Tetapi ketika katup tertutup, posisi lubang berada tegak lurus terhadap ujung katup, maka
aliran akan terhalang atau tertutup.

Ball valve banyak digunakan karena kemudahannya dalam perbaikan dan kemampuan
untuk menahan tekanan dan suhu tinggi. Tergantung dari material apa mereka terbuat, Bal Valve
dapat menahan tekanan hingga 10.000 Psi dan dengan temperatur sekitar 200 derajat Celcius.
Ball Valve digunakan secara luas dalam aplikasi industri karena mereka sangat
serbaguna, dapat menahan tekanan hingga 1000 barr dan suhu hingga 482 F (250 C).
Ukurannya biasanya berkisar 0,2-11,81 inci (0,5 cm sampai 30 cm).
Ball Valve dapat terbuat dari logam , plastik atau pun dari bahan keramik. Bolanya sering
dilapisi chrome untuk membuatnya lebih tahan lama.
Ada 2 tipe Ball Valve yaitu :
a. Full bore ball valves
Full bore ball valve adalah tipe ball valve dengan diameter lubang bolanya sama dengan
diameter pipa. Jenis full bore ball valves biasanya digunakan pada blow down, piggable line,
production manifold, pipeline dll.
b. Reduced bore ball valves
Reduced bore ball valves adalah jenis ball valve yang diameter lubang bolanya tidak
seukuran dengan ukuran pipa. Minimum diameter bola katup yang berkurang adalah satu ukuran
lebih rendah dari ukuran diameter pipa sebenarnya.

4. Butterfly Valve
Butterfly Valve adalah valve yang dapat digunakan untuk mengisolasi atau mengatur
aliran. Mekanisme penutupan mengambil bentuk sebuah disk. sistem pengoperasiannya mirip
dengan ball valve, yang memungkinkan cepat untuk menutup. Butterfly Valve umumnya disukai
karena harganya lebih murah di banding valve jenis lainnya. desain valvenya lebih ringan dalam
berat dibanding jenis-jenis valve yang lain. Biaya pemeliharaan biasanya pun lebih rendah
karena jumlah bagian yang bergerak minim.
Sebuah butterfly valve, diilustrasikan pada Gambar di bawah ini, adalah gerakan berputar
valve yang digunakan untuk berhenti, mengatur, dan mulai aliran fluida. Butterfly Valve mudah
dan cepat untuk dioperasikan karena rotasi 90o yang digerakkan oleh handwheel dengan
menggerakkan disk dari tertutup penuh ke posisi terbuka penuh.

Butterfly Valve sangat cocok untuk penanganan arus besar cairan atau gas pada tekanan
yang relatif rendah dan untuk penanganan slurries atau cairan padatan tersuspensi dengan jumlah
besar.

5. Check Valve
Check valve adalah alat yang digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir ke
satu arah saja atau agar tidak terjadi reversed flow/back flow.
Ketika laju aliran fluida sesuai dengan arahnya, laju aliran tersebut akanmembuat plug
atau disk membuka. Jika ada tekanan yang datang dari arahberlawanan, maka plug atau disk
tersebut akan menutup.




Jenis-jenis check valve :
a. Swing Check Valve

Check valve tipe ini terdiri atas sebuah disk seukuran dengan pipa yang digunakan, dan
dirancang menggantung pada poros (hinge pin) di bagian atasnya. Apabila terjadi aliran maju
atau foward flow, maka disk akan terdorog oleh tekanan sehingga terbuka dan fluda dapat
mengalir menuju saluran outlet. Sedangkan apabila terjadi aliran balik atau reverse flow, tekanan
fluida akan mendorong disk menutup rapat sehingga tidak ada fluida yang mengalir. Semakin
tinggi tekanan balik semakin rapat disk terpasang pada dudukannya.
b. Lift Check Valve

Penggunaan untuk fluida steam, gas, maupun liquid yang mempunyai flow yang tinggi. Port inlet
dan outlet dipisahkan oleh sebuah plug berbentuk kerucut yang terletak pada sebuah dudukan,
umumnya berbahan logam. Ketika terjadi foward flow, plug akan terdorong oleh tekanan cairan
sehingga lepas dari dudukannya dan fluida akan mengalir ke saluran outlet. Sedangkan apabila
terjadi reverse flow, tekanan fluda justru akan menempatkan plug pada dudukannya, semakin
besar tekanan semakin rapat pula posisi plug pada dudukannya, sehingga fluida tidak dapat
mengalir.
Bahan dari dudukan plug adalah logam, hal ini mempertimbangkan tingkat kebocoran
yang sangat sedikit dari check valve tersebut. Umumnya lift check valve digunakan untuk
aplikasi fluida gas karena tingkat kebocoran yang kecil. Penggunaan check valve tipe lift ini di
industri adalah untuk mencegah aliran balik condensate ke steam trap yang dapat menyebabkan
terjadinya korosi pada turbin uap. Keuntungan menggunakan lift check valve adalah terletak
pada kesederhanaan desain dan membutuhkan sedikit pemeliharaan. Kelemahannya adalah
instalasi dari check valve jenis lift hanya cocok untuk pipa horisontal dengan diameter yang
besar.
c. Back water check valve
Back water valve, banyak digunakan pada sistem pembuangan air bawah tanah yang
mencegah terjadinya aliran balik dari saluran pembuangan saat terjadi banjir. Saat banjir saluran
pembuangan akan penuh dan bertekanan tinggi sehingga memungkinkan terjadinya aliran balik,
dengan menggunakan back water valve, hal ini dapat diatasi dengan baik.
d. Swing Type Wafer Check Valve

Dalam penggunaan swing check valve dan lift check valve terbatasi hanya untuk pipa
ukuran besar (diameter DN80 atau lebih). jadi sebagai solusinya adalah dengan menggunakan
wafer check valve. Dengan menggunakan wafer ceck valve dapat digunakan tubing dengan
ukuran yang mengerucut pada satu sisinya sehingga dapat diaplikasikan pada pipa yang lebih
kecil ukurannya.

e. Disk Check valve

Valve jenis ini terdiri atas body, spring, spring retainer dan disc. Prinsip kerjanya adalah
saat terjadi foward flow, maka disk akan didorong oleh tekanan fluida dan mendorong spring
sehingga ada celah yang menyebabkan aliran fluida dari inlet menuju outlet. Sebaliknya apabila
terjadi reverse flow, tekanan fluida akan mendorong disk sehingga menutup aliran fluida
Perbedaan tekanan diperlukan untuk membuka dan menutup valve jenis ini dan ini
ditentukan oleh jenis spring yang digunakan. Selain spring standar, tersedia juga beberapa
pilihan spring yang tersedia:
No spring - Digunakan di mana perbedaan tekanan di valve kecil.
Nimonic spring - Digunakan dalam aplikasi suhu tinggi.
Heavy duty spring - Hal ini meningkatkan tekanan pembukaan yang diperlukan. Bila dipasang
pada line boiler water feed, dapat digunakan untuk mencegah uap boiler dari kebanjiran ketika
mereka unpressurised.

f. Split disc check valve

Check valve jenis ini adalah terdiri dari disk yang bagian tengahnya merupakan poros
yang memungkinkan disk bergerak seolah terbagi dua bila didorong dari arah yang benar
(foward flow) dan menutup rapat bila ditekan dari arah yang salah (reverse flow).




BONUS GAN!!
3.4 Control Valve
Elemen pengontrolan final di dalam sistem kontrol industri adalah control valve. Sebuah
kontrol valve bekerja dengan menghalangi aliran dari fluida yang melalui pipa dengan perintah
dari sinyal otomatisasi, seperti sinyal dari loop controller ataupun logic device (seperti PLC).
Beberapa kontrol valve didesain untuk kontrol diskrit (on/off) dari aliran fluida, sementara
beberapa didesain dapat dibuka di antara bukaan penuh maupun menutup sempurna.
Sebuah kontrol valve dipecah menjadi dua bagian utama : valve body, yang berisi semua
komponen mekanik yang dibutuhkan untuk mempengaruhi aliran fluida. Bagian yang kedua
adalah valve actuator, yang berfungsi untuk mendukung tenaga mekanis yang dibutuhkan untuk
menggerakan komponen di dalam valve body. Seringkali perbedaan utama dari duadesain control
valve adalah di jenis aktuatonya. Actuator on/off hanya memposisikan mekanisme valve pada
satu atau dua posisi ekstrim (membuka penuh penuh ataupun menutup penuh). Actuator tipe
throttle harus bisa dengan tepat memposisikan mekanisme dari valve dimanapun diantara dua
titik ekstrim tadi.
Control valve adalah suatu peralatan mekanis yang melaksanakan suatu aksi untuk
mengontrol atau memberikan efek terhadap suatu aliran fluida di dalam suatu sistem perpipaan
atau peralatan. Control valve umumnya dihubungkan dengan pipa, fiting, vessel, tangki dan lain-
lain, dimana ujung-ujung dari bodinya mempunyai sambungan berupa flensa, ulir (screwed), las
(butt socket welding).
Fungsi control valve dapat dibedakan menjadi :
1. Mengalirkan atau menghentikan aliran (on-off)
2. Mengatur variasi kecepatan aliran (regulating)
3. Mengatur aliran hanya pada suatu aliran saja (checking)
4. Merubah/memindahkan aliran pada line pipa yang berbeda (switching)
5. Melepas aliran dari sistem ke atmosfer (discharging)
Jenis control valve dapat bermacam-macam dan disesuaikan dengan kebutuhanya.
Ukuran suatu control valve biasanya mengikuti ukuran diameter pipa dimana control valve
tersebut akan dipasang. Untuk memilih jenis control valve yang tepat untuk suatu
service/keperluan tertentu, harus diperhatikan jenis operasi apa yang harus dilakukan oleh
control valve tersebut dan batasan kondisi dimana control valve tersebut beroperasi.
Control valve adalah jenis final control element yang paling umum dipakai untuk sistem
pengendalian proses, sehingga orang cenderung mengartikan final control element sebagai
control valve. Walaupun ada beberapa sistem pengendalian on-off yang menggunakan control
valve sebagai final control element, namun fungsi control valve di sistem pengendalian itu tidak
lebih dari kerja sebuah solenoid control valve. Control valve hanya akan bekerja pada 2 posisi,
yaitu terbuka penuh dan tertutup penuh. Pada pengendalian continous artinya pengendalian
dengan pengendali P, PI, dan PID control valve justru tidak diharapkan berada di posisi tertutup
penuh atau terbuka penuh. Control valve harus secara kontinue mengendalikan manipulated
variabel agar process variabel selalu tetap sama dengan set point.
Sebuah control valve terdiri atas dua bagian dasar yaitu actuator dan body valve. Bagian
actuator adalah bagian yang mengerjakan gerak buka tutup control valve, dan bagian control
valve adalah komponen mekanis yang menentukan besamya flow yang masuk ke proses. Dalam
kesatuannya sebagai unit control valve maka actuator dan body valve harus melakukan tugas
koreksi berdasarkan sinyal manipulated variabel yang keluar dari kontroler. Berikut gambar 3.3
bentuk umum dari sebuah control valve:

A. Diaphragm
B. Upper diaphragm case
C. Pegas
D. Yoke
E. Plug
F. Seal
Gambar 3.3 Control valve
3.4.1 Actuator
Contro l
aktuator
Actuator adalah bagian dari control valve sebagai sumber penggerak yang mengatur
travel dari control valve stem, dimana dihubungkan dengan plug yang akan mengatur aliran yang
melalui body valve. Gambar 3.4 merupakan contoh dari sebuah actuator control valve:


1. Upper Diaphragm Case
2. Lower Diaphragm Case
3. Diaphragm
4. Spring.
5. Yoke
6. Travel Indicator
7. Actuator Stem
8. Signal Air Pressure
Gambar 3.4 Bagian-Bagian Actuator Control Valve
Prinsip kerja actuator tekanan sinyal pneumatic yang terakumulasi didalam ruang
(diaphragm dan diaphragm case) menimbulkan gaya yang bekerja melawan pegas sehinga akan
menggerakkan bagian stem untuk bergerak membuka atau menutup body valve. Karena
konstruksinya, body valve akan menjadi terbuka dengan turunnya stem dan ada pula yang
menjadi tertutup dengan turunnya stem.


Pemilihan jenis control valve ini ditentukan oleh:
1. Kebutuhan mekanika fluida control valve, apakah harus terbuka pada saat stem
turun atau pada saat stem naik
2. Kebutuhan konstruksi control valve untuk kepentingan proses
Bagian Actuator ini juga mempunyai 2 pilihan kerja, yaitu:
1. Stem yang terdorong ke bawah dengan bertambahnya sinyal pneumatic
2. Stem yang terdorong ke atas dengan bertambahnya sinyal pneumatic

Gambar 3.5 Aksi Kontrol Control Valve
Kombinasi actuator dan control valve ini berfungsi untuk menciptakan action dari pada
control valve yaitu: FAIL CLOSE / FC dan FAIL OPEN / FO
Fail Close / FC: pegas harus menggerakkan stem untuk menutup control valve pada saat
sumber energi / sinyal pneumatic maupun elektronik mati (fail).
Fail Open / FO: pegas harus menggerakkan stem untuk membuka control valve pada
saat sumber energi / sinyal pneumatic maupun elektronik mati (fail).
Actuator umumnya dikalibrasi untuk bergerak pada sinyal pneumatic 3 sampai 15 psi
(atau 0.2 sampai 1 Kg/cm
2
).
STROKE / TRAVEL dari control valve adalah jarak gerak stem dari kondisi
tertutup penuh sampai terbuka penuh.
BENCH SET adalah sinyal yang diperlukan untuk menggerakkan stem dari
tertutup penuh ke terbuka penuh.
Pada saat kalibrasi control valve, ketepatan bench set perlu diperhatikan benar, karena:
1. Bila bench set terlalu rendah akan menyebabkan terangkatnya stem oleh tenaga
timbul karena tekanan fluida proses.
2. Bila bench set terlalu tinggi akan menyebabkan kacaunya sistem pengendalian
karena control valve akan terbuka jauh lebih rendah dan yang dikehendaki
kontroler.
Besarnya actuator harus diperhitungkan dengan tepat, karena bila terlalu kecil
tidak akan mampu menahan tekanan fluida proses. Dan sebaliknya bila terlalu besar
hanya akan menambah unsur kelambatan elemen control valve.
Perhitungan ukuran actuator biasanya diperoleh didalam brosur spesifikasi
control valve (dalam bentuk tabel) atau bisa juga didapat melalui manufacturer/
pembuat control valve tersebut.

3.4.2 Body Control Valve
Kata control valve sering disebut juga katup atau kerangan. Bentuk umum konstruksi
body control valve seperti ditunjukkan pada gambar 3.6.
Kerja control valve adalah bila plug terangkat maka fluida akan mengalir dari bagian
inlet menuju bagian outlet. Fluida itu dapat berupa fluida bersih, kotor, tidak korosif, korosif,
tekanan rendah, tekanan tinggi, temperatur rendah/tinggi dan sebagainya. Karena plug harus
bergerak naik turun sedangkan tekanan didalam control valve body cukup tinggi, maka
diperlukan suatu konstruksi penyekat yang tidak boleh menghambat gerak stem, namun mampu
menjga agar fluida didalam control valve tidak keluar dari bagian bonnet.

Gambar 3.6 Bentuk Umum Body Control Valve
Di dalam badan dari kontrol valve, komponen spesifik melakukan kinerja tertentu untuk
mendorong (atau secara penuh menutup) aliran fluida. Untuk setiap tipe dari kontrol valve ada
banyak variasi dari desainnya. Ini semua ditentukan oleh tipe fluida yang dikontrol.

Gambar 3.7 Control Vavle
Ada dua jenis Kontrol valve yang di gunakan di Pertamina RU IV Cilacap:
1. Air to Open / Fail to Close : Kontrol valve ini di cat berwarna merah. Ini berarti bila
Kontrol valve akan membuka apabila ada sinyal pneumatic maupun elektronik. Dan akan
menutup jika terjadi kegagalan (failure).
2. Air to Close / Fail to Open : Kontrol valve ini di cat berwarna hijau. Ini berarti bila
Kontrol valve akan menutup apabila ada sinyal pneumatic maupun elektronik. Dan akan
membuka jika terjadi kegagalan (failure).

3.4.3 Karakteristik Gain dan Kontrol Control Valve
Karakteristik control valve didefinisikan sebagai hubungan antara posisi plug control
valve dan aliran yang melalui control valve tersebut.

Gambar 3.8 Karakteristik Control Valve
Karakteristik control valve digolongkan menjadi :
1. Quick Opening ( bukaan cepat)
Karakteristik ini menunjukkan perubahan aliran yang maksimum terjadi pada bukaan
yang relatif kecil. Control valve dengan karakteristik seperti ini banyak digunakan
untuk pcngendalian ON-OFF.
2. Linier
Menunjukkan perubahan aliran yang proporsional dengan bukaan control valve.
Control valve ini banyak digunakan untuk pengendalian level atau pengendalian
dengan gain dan proses lambat.
3. Equal Percentage
Karakteristik ini menunjukkan perubahan bukaan control valve yang akan
mengakibatkan perubahan aliran dengan persentase yang sama dengan persentase
perubahan bukaan control valve. Control valve ini banyak digunakan untuk proses
yang cepat.
3.4.4 Control Valve Positioner
Fungsi dari positioner antara lain:
1. Untuk menanggulangi hysterisis dari control valve.
2. Sebagai amplifier/penguat control valve yaitu memberikan respon yang cepat dari
pada pergerakan plug stem.
3. Split range operation, yaitu untuk memisahkan satu signal dari sebuah kontroler
menjadi 2 signal dengan range yang berbeda, maka digunakan positioner yang
dapal dialur range signal inputnya sesuai kebutuhan.
4. Reverse control valve operation, dimana positioner tersebut akan memberikan
perubahan kenaikan output terhadap perubahan penurunan signal dari kontroler.
Hal ini biasa digunakan untuk mengoperasikan 2 control valve yang mempunyai
aksi yang berbeda dimana mendapat signal dari satu kontroler.