Anda di halaman 1dari 5

BUDIDAYA CABE

Capsicum Annum L

Budidaya Cabe Keriting yang berhasil memang menjanjikan keuntungan
yang menarik, tetapi tidak jarang petani cabai juga menemui kegagalan
dan kerugian besar. Untuk menghindari hal tersebut kami mempunyai
teknologi yang tepat guna, yaitu Teknologi Enzymatis dimana teknologi
baru ini sangat tepat untuk menghadapi permasalahan yang ada pada
budidaya cabai

2012
CV. Sentani Gemilang
alamat: Desa Kranggan RT.02/06 Desa Banyurojo
Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanaman Cabe (Capsicum annuum L) adalah tumbuh-tumbuhan perdu yang berkayu,
dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan Kapsaisin. Saat ini cabe menjadi
salah satu komoditas sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal
maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabe, semakin bertambah seiring
dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara. Sehingga budidaya sayur ini
menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja
namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor.
Jenis cabe juga cukup bervariasi, beberapa jenis dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk,
rasa pedasnya dan warna buahnya. Di Indonesia sendiri jenis cabe yang banyak dibudidayakan
antara lain cabe keriting, cabe besar, cabe rawit, dan cabe paprika. Sebab menyesuaikan
permintaan konsumen, yang banyak menggunakan jenis cabe tersebut sebagai penyedap
masakan.
Dalam budidaya cabai juga masih perlu memperhatikan beberapa hal, pertama,
sebaiknya kita memilih jenis cabai yang relatif tahan terhadap kelembapan udara. Jenis cabai
keriting misalnya, relatif lebih tahan kelembapan dibanding dengan cabai merah besar. Cabai
Keriting juga memiliki beberapa manfaat selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan,
cabe keriting juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan seperti saos
cabai, sambel cabai, pasta cabai, bubuk cabe, cabai kering, dan bumbu instant. Bahkan
produk-produk tersebut sudah berhasil di ekspor ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia,
Brunei Darussalam dan India.
Budidaya Cabe Keriting yang berhasil memang menjanjikan keuntungan yang menarik,
tetapi tidak jarang petani cabai juga menemui kegagalan dan kerugian besar. Untuk
menghindari hal tersebut kami mempunyai teknologi yang tepat guna, yaitu Teknologi
Enzymatis dimana teknologi baru ini sangat tepat untuk menghadapi permasalahan yang ada
pada budidaya cabai,

B. Potensi Lahan Untuk Budidaya Cabai Keriting di Magelang
Selain menyimpan kekayaan dan warisan budaya bernilai tinggi, Magelang juga
memiliki potensi pertanian yang besar, khususnya dari subsektor hortikultura yaitu cabai
keriting. Tanaman cabai keriting mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini
dapat diusahakan di dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m di atas permukaan laut.
Selanjutnya dikatakan oleh Samadi, 2007 bahwa dilihat dari keadaan tanah, ternyata tanah
yang cocok untuk budidaya pertanian umumnya cocok pula untuk tanaman cabai. Namun
yang ideal adalah jenis tanah Andosol, Latosol dan Regusol yang subur, gembur, kaya bahan
organik, tidak mudah becek, bebas cacing/ nematoda dan penyakit tular tanah. Kisaran pH
tanah yang ideal adalah antara 5,5 6,8 karena dibawah atau diatasnya akan menghasilkan
produksi yang kurang baik.
Di Kabupaten Magelang cabai keriting merupakan komoditi unggulan dan harganya
mengalami naik turun. Walaupun harganya mengalami perubahan tetapi permintaan akan
cabai semakin meningkat terutama untuk perusahaan-perusahaan makanan. Perkembangan
komoditas cabai merah dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 1. Perkembangan Komoditas Cabai Merah
Uraian 2002 2003 2004 2005 2006 Rata-rata
Luas panen
(Ha)
32.221 23.796 18.385 16.461 19.724 22.117

Produktivitas
(Kw/ Ha)
49.27 40.87 60.71 60.10 61.17 54.42
Produksi
(Kw/ Ha)
1.587.420 972.426 1.116.229 989.300 1.206.464 1.174.368

Sumber Data : Dispentan Jawa Tengah Tahun 2006

C. Pembiayaan dan kelayakan investasi
1. Deskripsi dan Asumsi
Dalam analisis finansial ini digunakan asumsi-asumsi sebagai berikut :
Usaha dilakukan pada lahan seluas 5000 m
2
. Komponen lahan diperhitungkan
sebagai sewa.
Usaha dilakukan dengan prioritas utama sebagai penghasil buah segar
Harga pepaya diperhitungkan Rp. 5.000,- per kg.
Pembiayaan usaha berasal dari modal sendiri dan pinjamaan bank. Struktur
pendanaan mengikuti struktur yang umum yakni 35% berasal dari modal sendiri dan
65% dari pinjaman bank. Bunga pinjaman diperhitungkan 18% (kredit investasi) dan
21% (kredit modal kerja)
2. Pembiayaan
Biaya investasi meliputi biaya bangunan, peralatan dan pengadaan (sewa) lahan.
Rincian biaya investasi disajikan selengkapnya pada Lampiran. Biaya investasi yang
diperlukan bagi usaha budidaya cabai keriting skala usaha 1000 m
2.
sebesar Rp................
Dengan modal kerja selama 3 bulan sebesar Rp. ................... maka kebutuhan modal awal
yang diperlukan sebesar Rp. ................. Dengan struktur pendanaan 35% : 65%, maka
modal sendiri yang harus disiapkan pada awal usaha sebesar Rp................. sedangkan
sisanya (Rp...................) diperoleh melalui pinjaman bank.

Rekapitulasi Biaya Produksi Budidaya Cabai Keriting Seluas 5000 m
2













3. Proyeksi keuntungan
Pada tahun pertama, usaha budidaya cabai belum dapat menghasilkan laba. Hal ini
dapat dimaklumi mengingat bahwa pada tahun pertama sebagian besar intensitas usaha
masih berada pada tahap pra produksi. Demikian pula pemanenan dan penjualan buah
cabai.
Laba bersih baru dapat dihasilkan secara signifikan mulai bulan keempat. Dengan
asumsi bahwa harga jual buah cabai konstan (tidak meningkat), maka laba bersih (setelah
dipotong pajak) yang dapat dihasilkan sebesar Rp. ................ (bulan keempat) dan masing-
masing sebesar Rp...................... (bulan kelima dan keenam).

4. Kelayakan Finansial
Tabel 4. Indikator kelayakan Finansial Usaha budidaya Cabai Skala Usaha 5000m
2
NO KRITERIA NILAI
1 Net Present Value (df 21 % pertahun)
2 Internal Rate of Return
3 BC Ratio
4 Return on Invesment
5 Payback Period

5. Kelayakan Ekonomi
Realisasi usaha ini akan memberikan kontribusi berupa kesempatan kerja bagi 5 orang
tenaga kerja. Selain itu realisasi ini juga akan memberikan sumbangan kepada daerah

No

Komponen Biaya
Nilai
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4
A.
1.
2.
Biaya Tetap
Gaji Tenaga Kerja
Biaya Pemeliharaan

B.
1.

2.
Biaya Operasional
Gaji Tenaga Kerja
Langsung
Biaya Pertanaman

C. Biaya Produksi
secara langsung dalam bentuk pajak usaha. Pajak usaha kumulatif yang dapat diterima
daerah dari usaha budidaya cabai skala usaha 1000 m
2
sebesar Rp. ....................

BUDIDAYA TANAMAN CABE SELUAS 1000 m
2
(Jumlah Bibit = 1500 btng, Target Per Pohon = 1,5 kg)

1. Pengolahan lahan dan Penanaman
Pupuk kandang 120 @ kg Rp. 1000,-/kg = Rp 140.000,-
Mulsa plastik 1 rol @ Rp. 500.000,- = Rp 500.000,-
Bibit 1500 @ Rp 150,- = Rp 225.000,-
Ajir 1500 @ Rp 400,- = Rp 600.000,-
Urea 16,5 kg @ 1600,- = Rp 26.400,-
Naskuru 1 dirigen @ 85.000,- (Sampai Panen) = Rp 85.000,-
Sewa Traktor = Rp 60.000,-
Phonska 30 kg @ 2.500 = Rp 75.000,-
ZA 7,5 kg @ 1600,- = Rp 12.000,-
KCL 1,4kg @ 2.500 = Rp 3.500,-
SP36 1,4 kg @ 2.500 = Rp 3.500,-
Jumlah = Rp 1.730.400,-
2. Pemeliharaan
Naskuru 3 dirigen @ 85.000,- = Rp 255.000,-
KNO3 merah 2,75 kg @ 13.000 = Rp 35.750,-
KNO3 putih 3,3 kg @ 15.000 = Rp 49.500,-
Telor 4,25 butir @ 1.250 = Rp 5.350,-
Jumlah = Rp 345.600,-
3. Pengendalian Hama dan Penyakit
Matador zeon 250 ml = Rp. 60.000,-
Ridomil 500 gr = Rp 50.000,-
Agrimec 100 ml = Rp 100.000,-
Amistartop 250 ml = Rp 125.000,-
Curacron 3 lt @ Rp. 150.000,- = Rp 450.000,-
Actara 10 gr @ Rp. 20.000, = Rp 20.000,-
Jumlah = Rp 805.000,-
Jumlah Total Rp 2.881.000,-

Anggaran belum termasuk sewa lahan dan upah Tenaga Kerja