Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang
Corpus alienum atau benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal
dari luar tubuh atau dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada.
Bahan- bahan asing yang sering ditemukan biasanya makanan, mainan, dan
peralatan rumah tangga yang kecil. Diagnosis pada pasien sering terlambat karena
penyebab biasanya tidak terlihat dan gejalanya tidak spesifik dan sering terjadi
kesalahan diagnosis pada awalnya.

Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah
utama anak usia 6 bulan sampai 6 tahun, dan dapat terjadi pada semua umur pada
tiap lokasi di esophagus, baik ditempat penyempitan fisiologis maupun patologis
dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.
Sebagian besar benda asing di esophagus dapat dikeluarkan dengan
esofagoskopi, baik dengan esofagoskopI kaku maupun fleksibel. Pada beberapa
kasus tindakan esofagoskopi tidak dapat dilakukan atau benda asing gagal
dikeluarkan, sehingga diperlukan tindakan bedah berupa esofagotomi.

1.2. Rumusan Masalah
Laporan kasus ini membahas berbagai masalah tentang anastesi dan
penatalaksanaan periopertatif anastesi pasien dengan corpus alienum esofagus
yang dilakukan esofagoskopi .

1.3. Tujuan Penulisan
1. Memahami penanganan perioperatif anestesi pada pasien corpus alienum di
esophagus yang dilakukan esofagoskopi.
2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran.
3. Memenuhi salah satu persyaratan kelulusan Kepaniteraan Klinik Senior
(KKS) di Departemen Anastesi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara RSUP Haji Adam Malik Medan.




























BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi esophagus
Esophagus merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan
makanan dari rongga mulut kelambung. Dalam perjalanannya dari faring menuju
gaster, esophagus melalui tiga kompertemen, yaitu leher, toraks, dan abdomen.
Esophagus yang berada dileher adalah sepanjang lima sentimeter dan berjalan
diantara trakea dan kolumna vertebralis, serta selanjutnya memasuki rongga
toraks setinggi manubrium sterni.
Didalam rongga dada, esophagus berada dimediastinum posterior mulai
dibelakang aorta dan bronkus cabang utama kiri, kemudian akan membelok
kekanan berada disamping kanan depan aorta torakalis bawah dan masuk kedalam
rongga perut melalui hiatus esophagus dari diafragama dan berakhir dikardia
lambung. Panjang esophagus yang berada dirongga perut berkisar dua sampai
empat sentimeter. Otot esophagus sepertiga bagian atas adalah otot serat lintang
yang berhubungan erat dengan otot-otot faring, sedangkan dua pertiga bagian
bawah adalah otot polos yang terdiri atas otot sirkular dan otot longitudinal seperti
ditemukan pada saluran cerna lainnya. esofagus menyempit pada tiga tempat,
penyempitan pertama yang bersifat sfingter, terletak setinggi tulang rawan krikoid
pada batas antara faring dan esophagus. Yaitu tempat peralihan otot serat lintang
menjadi otot polos.
Penyempitan kedua terletak dirongga dada dibagian tengah , akibat
tertekan lengkung aorta dan bronkus utama kiri. Penyempitan ini tidak bersifat
sfingter.Penyempitan terakhir terletak pada hiatus esophagus difragama, yaitu
tempat esophagus berakhir dikardia lambung, otot polos pada bagian ini murni
bersifat sfingter. Esophagus mendapat darahnya dari banyak ateri kecil. Bagian
atas esophagus yang berada dileher dan rongga dada mendapat darah dari a.
tiroidea inferior. Beberapa cabang arteri bronkialis dan beberapa arteri kecil dari
aorta. Esophagus dihiatus esophagus dan rongga perut mendapat darah dari arteri
frenika inferior kiri dan cabang arteri gastrika kiri.
2.2. Fisiologi esophagus
Fungsi utama esophagus adalah menyalurkan makanan dan minuman dari
mulut ke lambung. Proses ini mulai dengan pendorongan makanan oleh lidah
kebelakang, penutupan glottis dan nasofaring, serta relaksasi sfingter faring
esophagus. Proses ini diatur oleh serat lintang didaerah faring didalam esophagus,
makanan turun oleh peristaltic primer dan gaya berat terutama utama makanan
padat dan setengah padat, serta peristaltic ringan, makanan dari esophagus masuk
ke dalam lambung karena relaksasi sfingter esophagus kardia. Setelah makanan
masuk ke dalam lambung, tonus sfingter ini kembali ke keadaan semula sehingga
mencegah makanan masuk kembali ke esophagus.
Proses muntah terjadi karena tekanan didalam rongga perut dan lambung
meningkat serta terjadi relaksasi sementara sfingter esofagokardia sehingga secara
reflex, makanan dan cairan dari dalam lambung dan esophagus naik ke faring dan
dikeluarkan melalui mulut.




2.3. Jenis- jenis
Benda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen,
biasanya masuk melalui hidung atau mulut. Sedangkan yang berasal dari
dalam tubuh disebut disebut benda asing endogen. Benda asing eksogen
terdiri dari benda padat, cair dan gas. Benda asing eksogen terdiri dari benda
padat, cair dan gas. Benda asing eksogen padat terdiri dari zat organic seperti
kacang-kacangan, daging, tulang yang berasal dari kerangka binatang dan zat
organic seperti paku, jarum, peniti, batu, uang logam, baterai, gigi palsu, dan
lain- lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat
iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair non iritatif, yaitu cairan dengan pH
7,4. Benda asing endogen dapat berupa secret kental,darah atau bekuan darah,
nanah, krusta, dan lain- lain.


2.4. Gambaran Klinis dan Diagnosis
Gejala sumbatan akibat benda asing esophagus tergantung pada ukuran
dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya benda asing, komplikasi yang timbul
akibat benda asing tersebut dan lama benda asing tertelan. Gejala permulaan
benda asing adalah rasa nyeri di daerah leher bila benda asing tersangkut di
daerah servikal. Benda asing tersangkut di esophagus bagian distal timbul rasa
tidak enak didaerah servikal. Bila benda asing tersangkut di esophagus bagian
distal timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri di punggung.
Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing. Disfagia
lebih berat bila telah terjadi edem mukosa yang memperberat sumbatan,
sehingga timbul rasa sumbatan esophagus yang persisten, gejala lain adalah
odinofagia yaitu rasa nyeri ketika menelan makanan atau ludah, hipersalivasi,
regurgitasi, dan muntah. Kadang- kadang ludah berdarah. Nyeri dipunggung
menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Gangguan napas dengan gejala
dispnea, stridor dan sianosis terjadi akibat penekanan trakea oleh benda asing.
2.5. Diagnosis
Diagnosis benda asing di esophagus ditegakkan berdasarkan anamnesis,
gambaran klinis, dengan gejala dan tanda, pemeriksaan radiologi, dan
endoskopi.
2.6. Penatalaksanaan
Pertolongan pertama pada tahap awal gejala-gejala sebaiknya mendorong
untuk melakukan sesuatu. Memukul punggung pasien, menggantungkan anak
dengan memegang tumitnya, meletakkan jari telunjuk dibawah tenggorokan
pasien, atau mengusahakan pengeluaran secara buta dapat mengubah benda
asing tidak terkomplikasi sederhana kedalam sumbatan terkomplikasi. Benda
asing diesofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi dengan
menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut. Bila benda asing
telah berhasil dikeluarkan harus dilakukan esofagoskopi ulung untuk menilai
adanya kelainan-kelainan esophagus yang telah ada sebelumnya. Bila dicurigai
adanya perforasi yang kecil segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak
menelan, baik makanan maupun ludah dan diberikan antibiotic berspektrum luas
selama 7-10 hari untuk mencegah timbulnya sepsis.
Benda asing tajam yang telah masuk kedalam lambung dapat
menyebabkan perforasi dipylorus. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi
dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan tanda perforasi sedini mingkin
dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi dan
perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam
maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan (laparotomi).
Benda asing diesofagus bukan keadaan gawat darurat, namun uang logam tersebut
harus dikeluarkan sesegera mungkin dengan persiapan tindakan esofaguskopi
yang optimal untuk mencegah komplikasi. Benda asing di esophagus merupakan
benda yang harus dikeluarkan karena resiko perforasi esophagus yang terjadi
dengan cepat dalam waktu 4 jam setelah tertelan akibat nekrosis esophagus.
2.7. Esofagoskopi
Esofagoskopi merupakan suatu tindakan pemeriksaan esofagus dengan
menggunakan alat esofagoskop.Tujuan dari tindakan ini ialah untuk melihat
secara langsung isi lumen esofagus, keadaan dinding atau mukosa esofagus serta
bentuk lumen esofagus.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan esofagoskopi yaitu:
(1) dinding esofagus tipis dan licin sehingga mudah terjadi perforasi, (2) daerah
anterior esofagus berbatasan dengan trakea, dinding ini disebut trachea-esofageal
party wall , (3) Panjang rata-rata esofagus dari gigi incisivus tergantung usia,
(4) Terdapat beberapa penyempitan di daerah esofagus. Penyempitan pertama
terletak pada bagian proksimal disebabkan oleh otot krikofaring (sphincter atas
esofagus /upper esophageal sphincter) dan kartilago krikoid memiliki diameter
transversal 23 mm dan anteroposterior 17 mm. Pada penyempitan kedua setinggi
arkus aorta yang menyilang ke esofagus, diameter transversal esofagus 23 mm
dan anteroposteriornya 19 mm. Penyempitan ketiga yaitu pada daerah dinding
anterior kiri akibat penekanan bronkus kiri dengan diameter transversal 23 mm
dan anteroposterior 17 mm. Peyempitan keempat pada waktu esofagus menembus
diaphragma.

INDIKASI ESOFAGOSKOPI
1. Indikasi Diagnostik
Indikasi diagnostic dilakukannya esofagoskopi antara lain:
a. Menyelediki penyebab terjadinya disfagia atau odinofagi ketika gambaran dari
barium yang tertelan tidak menunjukkan kelainan.
b. Pemeriksaan pada faring dan sfingter atas esofagus dilakukan bila dipikirkan
adanya kemungkinan neoplasma, ulserasi, cedera, divertikulum, dan kelainan
radiologis yang tidak dapat dijelaskan
c. Pemeriksaan pada esofagus torakal dilakukan apabila terdapat kemungkinan
adanya striktur akibat inflamasi, ulserasi mukosa, tumor benign dan maligna,
kelainan perkembangan, benda asing, infeksi, retensi makanan, kelainan
radiologis dan disfagia yang tidak dapat dijelaskan
d. Pemeriksaan pada esofagus bagian distal dilakukan untuk membuktikan adanya
refluks atau esofagitis, striktur benigna atau maligna, divertikulum, varises.
2. INDIKASI TERAPI
Indikasi esofagoskopi sebagai salah satu alat terapi adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan benda asing
2. Dilatasi akibat striktur benigna atau maligna
3. Injeksi dengan menggunakan larutan sklerosing pada varises esofagus
4. Pemasangan pipa pada karsinoma esofagus.
5. Penggunaan obat-obatan atau agen fisik untuk lesi tertentu (laser atau
krikoterapi)
KONTRAINDIKASI ESOFAGOSKOPI
a. Perforasi esofagus
b. Varises esofagus
c. Sindroma Mallory-Weiss
d. Ankilosis atau trauma servikal
Ankilosis merupakan kontraindikasi pada penggunaan esofagoskopi kaku
tetapi bukan merupakan kontraindikasi pada penggunaan esofagoskopi lentur.
e. Trismus
f. Aneurisma aorta
g. Kantong faring
INSTRUMEN UNTUK ESOFAGOSKOPI
Terdapat dua kategori alat esofagoskopi yaitu esofagoskopi kaku atau
esofagoskopi serat optic (lentur). Kebanyakan pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan esofagoskopi lentur, karena penggunaan alat ini mengurangi
rasa tidak nyaman, memberikan gambaran yang lebih baik, dan bisa
memeriksa sampai ke pylorus dan duodenum.
Esofagoskopi lentur memiliki panjang yang bervariasi mulai dari 100-110
cm dan diameter mulai dari 7,8 sampai 12 mm. Masing-masing alat tersebut
juga dilengkapi dengan suction, air insufflation, dan forsep biopsi.
Esofagoskopi kaku memiliki dua ukuran. Ukuran 50 cm untuk memeriksa
esofagus torakal dan sfingter bagian bawah, dan ukuran 20-30 cm untuk
memeriksa faring dan esofagus servikal.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN ESOFAGOSKOP KAKU
1. Pemeriksaan faring bagian bawah, sfingter bagian atas dan esofagus
servikal dapat dilakukan dibawah control dan penglihatan yang lebih baik
2. Tekanan atmosfir yang menetap selama pemeriksaan memungkinkan
untuk melihat fungsi sfingter bawah secara lebih akurat.
3. Lebih mungkin untuk mendapatkan spesimen biopsi yang lebih besar,
dalam dan lebih informatif.
4. Memungkinkan untuk melihat gambaran dilatasi striktur esofagus dengan
lebih baik.
5. Pengambilan benda asing lebih mudah dilakukan karena ukuran forsep
yang lebih besar.
6. Penggunaan protesa endoluminal pada striktur malignansi dan pipa
esofagus lebih mudah dilakukan.
7. Injeksi larutan skrelosing pada varises esofagus yang aktif berdarah dapat
dilakukan dengan bantuan suction yang membuat lingkungan sekitar
perdarahan tetap bersih.
8. Instrumen yang digunakan relatif lebih murah, mudah dijaga dan
disterilisasikan.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN ESOFAGOSKOP LENTUR
1. Penggunaan esofagoskopi lentur dilakukan pada kebanyakan kasus dimana
tidak terdapat faktor-faktor pertimbangan diatas.
2. Memungkinkan pemeriksaan pylorus dan duodenum
3. Pemeriksaan yang lebih akurat terhadap lesi di mukosa
4. Pengambilan gambaran secara endoskopik dapat dilakukan secara rutin
sebagai tambahan informasi pada catatan medis perjalanan penyakit.
5. Memungkinkan para mahasiswa untuk belajar dengan lebih baik karena
tersedianya fasilitas eyepiece yang dapat disambungkan ke video.
6. Prosedur hampir selalu dapat dilakukan tanpa anestesi umum.

PERSIAPAN ESOFAGOSKOPI
Persiapan esofagoskopi meliputi persiapan operator dan persiapan pasien.
Persiapan operator meliputi pengetahuan operator tentang indikasi, metoda
dan jenis anestesi yang akan dilakukan dan anatomi serta gambaran radioopak
pada esofagus pada bagian servikal harus dilakukan sebelum dilakukannya
esofagoskop. Esofagoskop yang dilakukan tanpa adanya gambaran mengenai
obstruksi meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi.
Pasien dipuasakan 4-6 jam sebelum esofagoskopi dilakukan. Khusus untuk
pasien dengan riwayat sumbatan esofagus seperti akalasia, maka 5 hari
sebelum tindakan, pasien hanya diberikan makanan cair.
Pemeriksaan darah dan urin terutama untuk hal-hal yang berhubungan
dengan faktor pembekuan dan perdarahan. Pemeriksaan fisik ditujukan khusus
untuk jantung, paru, dan ginjal.

ANESTESI UNTUK ESOFAGOSKOPI
1. Anestesi topical
Orofaring disemprot dengan Benzocain 20% atau cetacain 20%. Pasien
diminta untuk berkumur-kumur dengan menggunakan 10 ml lidokain 2%.
Apabila efek anestesi yang dihasilkan tidak adekuat, pasien dapat menelan
beberapa SIPS lidokain. Tehnik ini biasanya cukup adekuat untuk endoskopi
lentur. Bila pasien merasa gelisah, maka dapat ditambahkan dengan 5 mg
diazepam dan 50 mg meperidine IV.
2. Anestesi Lokal
Pemakaian esofagoskopi kaku dengan anestesi lokal, dapat dengan
menggunakan 1 ml lidokain 1% yang disuntikkan ke dinding orofaring lateral
pada titik dibelakang pertengahan pillar tonsil posterior. Bungkus carotid
terbentang di dekat daerah tersebut, sehingga perlu dilakukan aspirasi sebelum
dilakukan injeksi.
3. Anestesi Umum
Indikasi penggunaan anestesi umum adalah:
a. Untuk bayi dan anak-anak atau untuk orang dewasa yang gelisah dan tidak
kooperatif setelah pemberian premedikasi dan sedasi.
b. Penggunaan esofagus kaku pada keadaan striktur esofagus.

TEHNIK MELAKUKAN ESOFAGOSKOPI
Posisi pasien pada esofagoskopi kaku sama dengan posisi pada saat dilakukan
bronkoskop dengan bronkoskop kaku. Pasien terlentang dengan leher fleksi ke
arah dada dan kepala ekstensi terhadap leher. Verteks pasien kira-kira terletak 15
cm dari bagian teratas meja, sehingga esofagoskop memasuki daerah esofagus
servikal dan 2 cm dari bagian teratas meja sehingga esofagoskopi dapat melewati
daerah esofagus abdominal. Posisi ini menyebabkan kepala tidak terletak di atas
meja, tetapi harus dipegang oleh seorang asisten dan seorang asisten lagi
memegang bagian bawah bahu.
Ujung dan badan esofagus dilumasi dengan minyak mineral steril sebelum
digunakan. Bibir atas diangkat dengan jari ketiga dan keempat tangan kiri
operator (operator tidak kidal). Esofagoskopi ditahan dengan jari telunjuk dan
telunjuk tangan kiri. Ujung proksimal esofagoskopi dipegang seperti memegang
pensil dengan jari-jari tangan kanan. Digunakan mata kanan untuk melihat ke
dalam esofagoskopi.
Jika esofagoskopi telah masuk sampai pada batas hipofaring dan esofagus,
dapat dilakukan tekanan ringan ke sisi posterior dari bagian cincin kartilago
krikoid, dengan menggunakan ibu jari tangan kiri melalui ujung esofagoskop.
Pada waktu melihat introitus esofagus pada posisi ini, otot krikofaring tampak
membuka dan menutup secara periodic pada pasien dengan anestesi lokal. Pada
saat otot krikofaring relaksasi, lumen esofagus dapat terlihat. Esofagoskopi
didorong masuk perlahan-lahan hanya pada saat otot krikofaring relaksasi, dan
tidak boleh dipaksakan pada saat otot krikofaring sedang kontraksi. Esofagoskopi
tidak boleh diteruskan bila tidak terlihat lumen dengan jelas. Daerah ini paling
sering terjadi perforasi.
Pada saat esofagus servikal dilalui dan masuk ke bagian atas esofagus torakal,
esofagoskop dipertahankan pada posisi hampir vertikal. Jika esofagoskopi
dimajukan lagi, akan mengenai dinding posterior dari esofagus. Kepala
diturunkan sedikit demi sedikit, sehingga esofagoskopi dapat dimasukkan ke
bagian tengah esofagus torakal. Pada saat ini kepala, leher dan dada berada pada
satu bidang yang sama pada meja operasi.
Pada sepertiga bawah esofagus, esofagoskopi mulai mengenai dinding
posterior esofagus lagi, dan kepala harus diturunkan sehingga esofagoskopi dapat
dimasukkan. Kepala perlu diturunkankan karena jalannya esofagus agak ke
anterior pada 1/3 bawah. Pada posisi ini kepala reltif lebih randah daripada toraks
dan kepala perlu digeser ke kanan, karena esofagus membelok ke kiri pada 1/3
bawah. Jalannya esofagus sampai melalui diaphragma dan pertemuan esofagos-
gaster harus dilalui dengan perlahan-lahan dan hanya diteruskan bila terlihat
lumen di muka esofagoskop.
Lumen esofagus tampak sebagai celah atau roset pada saat menembus
diaphragma. Pada beberapa pasien terutama bila terdapat dilatasi esofagus torakal
mungkin tedapat kesukaran menemukan hiatus esofagus. Biasanya tampak
sebagai celah oblik antara pukul 10 ke pukul 4. Dalam keadaan normal, bila hiatus
ditemukan, esofagus abdominal dan kardia akan mudah dilalui.



2.8. Komplikasi
Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan, perforasi
lokal dengan abses leher atau mediastinitis. Perforasi esophagus dapat
menimbulkan selulitis local, fistel trakeoesofagus. Benda asing bulat atau tumpul
dapat juga menimbulkan perforasi, sebagai akibat nsekunder dari imflamasi
kronik dan erosi.
Jaringan granulasi disekitar benda asing timbul bila benda asing berada
diesofagus dalam waktu yang lama.








BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Anamnesis
Identitas Pribadi
Nama : FN
Jenis Kelamin : Laki- laki
Usia : 54 tahun
Suku Bangsa : Nias
Agama : Islam
Alamat : Desa Tuhemberua Kec. Lolomatua
Status : Menikah
Pekerjaan :
Tanggal Masuk : 1 Maret 2014 Pukul 18.50 WIB

3.2. Riwayat Perjalanan Penyakit
Keluhan Utama : tertelan biji durian
Telaah :
Hal ini dialami pasien 2 hari yang lalu. Saat ini pasien merasa sakit dan sulit
menelan, rasa perih d daerah dada, nyeri di tenggorokan dijumpai, sulit
menelan ludah dijumpai, sesak nafas tidak dijumpai, rasa terrcekik, teredak
dan batuk tidak dijumpai, makan dan minum terakhir sudah sejak 2 hari yang
lalu.
Riwayat Penyakit Terdahulu : sebelumnya pasien sudah di opname di rumah
sakit di nias. DM (-) HT(-)
Riwayat Penggunaan Obat : tidak jelas

3.3. Primary Survey
A (Airway) : Airway Clear, Gurgling / Snoring / Crowing : - /- /-
B (Breathing) : RR: 24x/menit, Suara Pernafasan : Vesikuler, Suara Tambahan
: -, Terpasang Nasal kanul dengan Oksigen 2 lpm,.
C (Circulation) : Terpasang IV line, dilakukan pemberian RL 20 gtt/i,
Frekuensi Nadi 80 x/i, t/v kuat dan cukup, TD : 130/80 mmHg,
Akral teraba hangat, merah, dan kering.
D (Disability) : GCS 15, Sens: CM, Pupil Isokor diameter 3/3mm, Refleks
Cahaya +/+
E (Exposure) : Abdomen teraba soepel, ttb, peristaltik (+) N. tampak benjolan
pada leher.
3.4 Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing) : Airway clear, gurgling/snoring/crowing : - /- /- ,
SP : vesikuler, ST : -, RR :18 x/i, SpO
2
99%,
Riwayat sesak/ asma/batuk/alergi (-), retraksi iga (-),
retraksi sternum (-), GL: bebas.


B2 (Blood) :Akral merah/hangat/kering, HR : 95 x/i,
t/v: cukup, TD : 100/70 mmHg. T: 37.3
o
C
B3 (Brain) : Sensorium : Compos Mentis, GCS : 15 (E3V5M6), Pupil
Isokor 3/3 mm, RC +/+
B4(Bladder) : kateter (+), UOP : (+) Volume: 150cc/2jam, warna kuning
pekat
B5 (Bowel) : abdomen: soepel, peristaltik (+) N.
B6 (Bone) :Fraktur (-), edema (-)

Hasil Lab tanggal (01/03/2014)
Pemeriksaan Hasil
Hb 14.70 g/dL
Ht 43.00 %
Leukosit 15.97. 10
3
/ mm3
Trombosit 355. 10
3
/ mm3
Natrium 140 mEq/L
Kalium 4,7 mEq/L
Klorida 105 mEq/L
Ureum 51,20
Kreatinin 0,98

3.5 Tatalaksana di IGD
Bed rest
Diet MB
IVFD RL 30 gtt/i makro
Inj. Ceftriaxon 1 gr/ 12 jam/ IV
Inj. Dexamethasone 5 mg/8 jam/ IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam/IV
Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
Pemasangan NGT


Hasil lab tanggal (04/03/2014)
Pemeriksaan Hasil
Glukosa darah (sewaktu) 192.00 mg/dL
Natrium (Na) 140 ng/mL
Kalium (K) 4.8 g/dL
Klorida (Cl) 109







Hasil Lab tgl 06-03-2014
Pemeriksaan Hasil
Ureum 144.70 mg/dL
Kreatinin 4.90 mg/dL
AGDA (NRM 5lpm, FiO2 60%)
pH 7.145
pCO
2
52.2 mmHg
pO
2
164.5 mmHg
HCO
3
17.6 mmHg
Total CO
2
19.2 mmol/L
Base Excess -11.2 mmol/L
SaO
2
98.7 %









Pre Operatif:
- Pasien : Fonaaro Ndruru / 53 thn/ 70 kg
- Diagnosa : Corpus Alienum (Biji Durian) Esofagus
- Tindakan : Esophagoscopy

B1 Airway : Clear RR:
SP : Vesikuler
ST : (-)
RR : 16x/i

- B2 Akral : H/M/K
TD : 150 / 80 mmHg
HR : 108 x/i
T/V : Cukup

- B3 Sensorium : Compos Mentis
Pupil : Isokor
RC : +/+
: 3 mm/ 3mm

- B4 kateter (+), UOP : (+) Volume: 150cc/2jam, warna kuning pekat
- B5:Abdomen: soepel, peristaltik (+) N.
- B6 Fraktur (-), edema (-)

Laboratorium
Hb / Ht/ L / Plt : 14,7 / 43 / 15, 97 / 355
PT / APTT/TT/INR : 15,5 / 36,5 /14,5 / 1,23
KGD Ad R : 116
Ur/ Cre : 51,2 / 0.98
Na/K/Cl : 140 / 4,7 / 105
S/G/C : -/-/-
MLP : 3





Penunjang
Thorax PA : Kardiomegali (CTR 54%)
EKG : SR

Rencana Anastesi
PS ASA : 2 (Sulit Intubasi)
Rencana : GA ETT
Posisi : Supine

Persiapan Obat
- Obat Emergency
SA : 0,7 2,1 mg
Efedrin : 7 21 mg
Epinefrin : -
- Obat General Anestesi
Midazolam : 3,5 7 mg
Fentanyl : 70 350 mcg
Propofol : 140 175 mg
Ketamine : 70 140 mg
Rocuronium: 42 84 mg

Rencana Kerja
- Ganti Cairan Puasa selama 8 jam : 2 (8) 70 = 1120 ml
- Pre/ Coloading Cairan 10 20 ml/ kgBB : 700 2400 ml
- Teknik Anestesi : GA ETT
- Maintenance + Penguapan : 280 ml/ jam
- Perdarahan : EBV : 70 x 70 = 49-0 ml
EBL 10 % = 490 ml
EBL 20 % = 980 ml
EBL 30 % = 1470 ml




FOLLOW UP
Tanggal
05/02/2014
19.00




























O : Distress napas
B1 : airway clear terintubasi, ett NO. 7, S, ventilator modus, CMV ( TV
500ml, PiO
2
60%,RR 14 x/I, PEEP 5) , SP : vesikuler, ST : -, S/C/G: -/-/-
B2 :akral : H/M/K, TD : 100/60 mmHg, HR : 95 x/i, t/v : kuat/cukup
B3 :sens : DPO, pupil isokor 3mm, RC +/+
B4 :kateter : (+) terpasang, UOP : 150 cc/ 2 jam
B5 : abdomen : soepel, peristaltic (+) normal
B6 :oedem (-), Fraktur (-)

A :
Diagnosa utama : Corpus alienum ( biji durian) o/t esophagus
Diagnosa sekunder :
Respiratory distress
Hipotensi
Demam
Tindakan :
Esofagoscopy
Intubasi

P :
Bed rest head up 30
Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein/ hari
IVFD RL 30 gtt/i
Fentanyl 200 ug + Midazolam 25 mg/ 50 cc NaCl 0,9% 4cc/jam
Ecron 80 mg./80cc NaCl 0,9% 4cc /jam
N-Epinefrin 4 mg/100 cc NaCl 0,9% 10cc/ jam (drips)
Ceftriaxone 1 gr/12 jam (iv)
Ranitidine 50 mg/ 12 jam (iv)









06/03/2014
06.00



















10.00


Ketorolac 30 mg/ 8 jam (iv0
Dexametasone 8 mg/8jam (iv)
R :
- Cek darah lengkap
- KGD ad R
- RFT
- Elektrolit
- AGDA

S: -
O :
B1 : airway clear; S/C/G : -/-/- ; ETT ; ventilator modus, CMV;
TV 500 ml; RR 14 x/I ; PEEP 5; SP: vesikuler, ST : (-)
B2 : Akral H/M/R; TD: 90/60 mmHg; HR 82 x/I , t/v ; kuat/cukup
B3 :sens : DPO, pupil isokor 3mm, RC +/+
B4 :kateter : (+) terpasang, UOP : 50 cc/ jam
B5 : abdomen : soepel, peristaltic (+)
B6 :oedem (-), Fraktur (-)
A:
Corpus alienum o/t esophagus
Diagnose sebelumnya : Post esofagoskopi
P:
Bed rest head up 30
Fentanyl 200 ug + 15 mg miloz / 50 cc NaCl 0,9% 4cc/jam
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
Inj. Ketorolac 30 mg/ 3jam
Inj,. Ranitidine 50 mg/ 12 jam
Inj. Paracetamol 1 grd
Cek AGDA

Pasien bradikardi cardiac arrest
Tindakan : RJPO 100x/I + ventilasi 1 x / S (15 menit)
Inj. Adrenalin 6 mg (15 menit)
Inj. SA 0,5 mg (15 menit)
Hasil:
Tidak berhasil ROSC

Pasien dinyatakan exitus dihadapan keluarga, perawat ICU, dan dokter
muda pada pukul 11.00 WIB.


























DAFTAR PUSTAKA

1. Adams G.L., Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah, Esofagus dan
Mediastinum: Buku Ajar Penyakit THT, edisi 6. EGC.

2. Efiaty A.S., Soepardi EA,Iskandar NH. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI ;
2007.

3. Hadjat, Fachri. Penyakit dan kelainan esophagus, In: Soepardi, Eflaty A,
Iskandar, N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher, edisi 6. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008.

4. Lorraine M.W.,Glenda NL. Gangguan Esofagus. Dalam : Sylvia AP, Lorraine
.M.W. Patofisiologi volume 1,edisi 6. Jakarta: EGC; 2005.

5. Rathore P.K., Prolonged Foreign Body Impaction in The Oesophagus :
Singapore Med ; 2005.

6. Santoso, Budi. 2009. Benda Asing di Esofagus.
avaliable at :
www.oncologychannel.com.

7. Shaligram A, Dugar N, Capper R., Perforation of cervical oesophagus. J
Laryngol Otol ; 2005.

8. Shivakumar AM, Naik AS, Prashanth KB, Hongal GF, Chaturvedy G.
Foreign body in upper digestive tract. Indian J Otolaryngol; 2006.

9. Soepardi EA. Esofagoskopi. In Iskandar N, Soepardi EA, editors. Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung Tenggorok, Kepala Leher . 5th ed. Jakarta.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003.

10. Yunizaf, M.,. Benda Asing Di esophagus. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. 6
th
ed . Jakarta : FK UI. 2007.


11. William W.S.,Subinoy D. Esophageal Disorders. Dalam : Bailey, Byron J.
Head and Neck Surgery-Otolaringology,edisi 4. Jakarta : EGC; 2006.