Anda di halaman 1dari 19

1

TEORI UTAMA ISOMORFISMA RUANG VEKTOR DAN APLIKASINYA


Frederik Yohanes
Ariyanto
Rapmaida M. Pangaribuan

Jurusan Matematika
Fakultas Sains dan Teknik
Universitas Nusa Cendana

ABSTRAK
Diberikan dua buah ruang vektor dan atas lapangan yang sama dan subruang dari .
Apabila kedua ruang vektor tersebut dikaitkan dengan transformasi linear , yaitu , maka
dapat dibentuk konsep tentang () dan (). Selanjutnya jika dibentuk koset dari yakni

yang merupakan ruang vektor atas , transformasi linear

dan

maka
dapat dikonstruksi teori utama isomorfisma ruang vektor yakni

()

() yang masih
dapat dikembangkan lagi dengan mengaplikasikan teori tersebut sehingga diperoleh teori yang lain
yakni

.
Kata kunci: Ruang Vektor, Transformasi Linear dan Isomorfisma Ruang Vektor.


THE MAIN THEORY OF VECTOR SPACE ISOMORPHISM AND THE APPLICATION

Frederik Yohanes
Ariyanto
Rapmaida M. Pangaribuan

Department of Mathematic
Science and Enginering Faculty
University of Nusa Cendana

ABSTRACT
Given two vector spaces and over the same field and a subspace of the vector space V.
If both are associated with a linear transformation , it can be established the concept of
() and (). Furthermore, if formed coset of that

is a vector space over , linear


transformation

and

, it can be constructed the main theory of vector space


isomorphism that is

()

() which can be developed by applying the theory in order to


obtain another theory that is

.
Keyword: Vector Space, Linear Transformation and Vektor Space Isomorphism
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Aljabar merupakan salah satu bidang ilmu
matematika yang dalam penyajiannya memuat
huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang
belum diketahui. Aljabar sendiri dibagi kedalam
beberapa konsentrasi, salah satunya adalah
aljabar linear yang lebih membahas tentang
ruang vektor dan matriks.
Konsep tentang ruang vektor dibangun dari
suatu grup abelian dengan operasi penjumlahan
(adisi) yang setiap anggotanya jika dioperasikan
dengan setiap anggota pada suatu lapangan
(operasi pergandaan skalar), maka hasil operasi
pergandaan skalar tersebut masih merupakan
anggota dari grup abelian dan memenuhi
aksioma-aksioma tertentu pada operasi
pergandaan skalar tersebut. Selanjutnya dari
struktur ruang vektor dapat dibangun konsep
atau pengertian himpunan bebas linear, tak
bebas linear, pembangun dan basis. Dari
konsep-konsep di atas, kemudian dapat
dibangun konsep tentang Transformasi Linear
yang merupakan pemetaan dari suatu ruang
vektor ke ruang vektor lainnya yang juga
memenuhi aksioma-aksioma tertentu. Adapun
konsep yang dapat diturunkan dari konsep
transformasi linear yakni kernel dari (())
dan image dari (()). Dari konsep tersebut,
selanjutnya akan dikonstruksi teori utama
isomorfisma ruang vektor. Teori utama
isomorfisma ruang vektor sendiri masih dapat
dikembangkan lebih lanjut dengan
mengaplikasikan teori tersebut yang akan
menghasilkan teori yang lain.
Berdasarkan latar belakang diatas, akan
dikonstruksi struktur aljabar tentang teori utama
isomorfisma ruang vektor dan akan diteliti lebih
lanjut mengenai aplikasi teori isomorfisma
ruang vektor. Oleh karena itu, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul
Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor
dan Aplikasinya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
ditemukan beberapa masalah yakni:
1. Bagaimana mengkonstruksi teori utama
isomorfisma ruang vektor?
2. Bagaimana aplikasi dari teori isomorfisma
ruang vektor?

1.3 Tujuan
Menanggapi permasalahan di atas, maka
penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengkonstruksi teori utama
isomorfismaruang vektor.
2. Membangun teori lain dengan
mengaplikasikan teori utama isomorfisma
ruang vektor.








2

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai tambahan informasi bagi
mahasiswa mengenai teori isomorfisma di
ruang vektor sehingga dapat membantu
mahasiswa dalam mempelajari aljabar
linear khususnya tentang aplikasi
isomorfisma di ruang vektor.
2. Sebagai tambahan ilmu dan materi aljabar
linear mengenai teori isomorfisma di ruang
vektor di Jurusan Matematika Fakultas
Sains dan Teknik Universitas Nusa
Cendana Kupang.














BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Grup dan Lapangan
Definisi 2.1 (Setiadji, 1983) : Diketahui suatu
himpunan yang tak kosong. Apabila pada
dikenakan operasi biner , maka merupakan
suatu grup jika memenuhi aksioma-aksioma
berikut.
1. Bersifat tertutup.
(


2. Memiliki elemen identitas.
( )( )
3. Setiap elemen grup memiliki invers.
( )(



4. Asosiatif.
(

)
(


Jika pada operasi biner dalam grup
juga berlaku sifat komutatif yaitu (

, maka grup disebut


grup Abelian.

Definisi 2.2 (Lang, 1996) : Diketahui suatu
grup . himpunan bagian yang tak kosong
dari grup disebut subgrup dari grup jika
sendiri merupakan grup terhadap operasi biner
yang sama dengan grup .

Teorema 2.3 (Setiadji, 1983) : Diketahui suatu
grup , disebut subgrup dari grup
jika dan hanya jika (

.

3

Definisi 2.4 (Setiadji, 1983) : Diketahui sebuah
himpunan merupakan suatu grup Abelian
terhadap operasi penjumlahan dan memenuhi
aksioma-aksioma berikut.
1. Terhadap pergandaan
i. Bersifat tertutup.
ii. Memiliki elemen satuan.
iii. Setiap elemen bukan 0 dari memiliki
invers.
iv. Asosiatif.
v. Komutatif
2. Bersifat distributif
Jika diambil sebarang

anggota
pada grup abelian F, maka
(

)
(

)
(

) (

)
Maka grup Abelian disebut lapangan
terhadap operasi penjumlahan dan
pergandaan, dan dinotasikan dengan ( )
atau cukup saja.

Definisi 2.5 (Lang, 1996) : Diketahui
merupakan suatu lapangan. Himpunan
disebut sublapangan dari jika terhadap
operasi yang sama dengan , juga
merupakan suatu lapangan.

Contoh 2.6 : Himpunan bilangan kompleks
merupakan lapangan terhadap operasi
penjumlahan dan pergandaan bilangan real
karena memenuhi aksioma-aksioma di atas
yaitu merupakan grup Abelian terhadap operasi
penjumlahan dan pergandaan, dan bersifat
distributif.
Himpunan bilangan real juga merupakan
suatu lapangan karena memenuhi semua
aksioma dalam lapangan. Karena , maka
himpunan bilangan real merupakan
sublapangan dari himpunan bilangan kompleks
.
2.2 Ruang Vektor
Definisi 2.7 (Lang, 1996) : Diketahui suatu
grup Abelian terhadap operasi penjumlahan.
disebut ruang vektor atas lapangan jika
untuk setiap dan untuk setiap

berlaku

dan memenuhi aksioma-


aksioma berikut.
i. (


ii.

( )


iii. (

)
iv.

Berikut akan ditampilkan visualisasi dari
pengabstraksian operasi pergandaan skalar pada
ruang vektor.
( )grup Abelian
( )lapangan

Gambar2.1PengabstraksianRuangVektor

F V

v
v +
4

Contoh 2.8 : Misal diberikan

{(

+|

}
Himpunan

di atas merupakan suatu grup


Abelian terhadap operasi penjumlahan karena
memenuhi aksioma-aksioma sebagai berikut.
i. Bersifat tertutup.

+ (

+ (


ii. Memiliki elemen identitas.
(

) (

+ (

+ (

+
(



iii. Setiap elemen grup memiliki invers.
(

)(

) (


Misalkan

), maka

) (

+ (

) (

+
(

+ (

+ (

) (

+
iv. Asosiatif.
(

),
(

((

+ (

+) (

+
(

+ (

+
(

+
(

+ (

+
(

+ ((

+ (

+)

)
v. Komutatif
(

),

+ (

+ (


Jadi,

merupakan grup Abelian terhadap


operasi penjumlahan.
Didefinisikan operasi pergandaan scalar
dalam

sebagai berikut.
(

+
( )


Untuk setiap

dan


maka operasi pergandaan skalar di atas
memenuhi aksioma-aksioma sebagai berikut.
i. (


ii.


iii. (

)
iv.



Teorema 2.9 (Lang,1996) : Jika diketahui
merupakan lapangan dan sub lapangan dari
, maka merupakan ruang vektor atas .
5

Teorema 2.10 (Lang, 1996) : Diketahui
ruang vektor atas lapangan .

adalah
elemen netral lapangan ,

adalah suatu
vektor nol dalam ruang vektor , dan
adalah invers grup untuk . Maka untuk
setiap dan diperoleh:
i.


ii. ()
iii.



Contoh 2.11 : Telah diketahui bahwa

{(

+|

} merupakan
suatu ruang vektor atas lapangan bilangan real
.
Diambil himpunan bagian dari


sebagai berikut.
{(

)|

}
Diketahui bahwa merupakan suatu
lapangan, dan jelas bahwa merupakan suatu
grup Abelian terhadap operasi penjumlahan.
Juga memenuhi operasi pergandaan
skalar sebagai berikut.
( (

) )
( ) (

)
Keempat aksioma dalam definisi 2.6 jelas
dipenuhi. Jadi, merupakan ruang vektor atas
lapangan yang sama dengan ruang vektor

.


Definisi 2.12 (Lang, 1996) : Diketahui ruang
vektor atas lapangan . Himpunan
disebut subruang dari ruang vector jika
terhadap operasi yang sama dengan , juga
merupakan ruang vektor atas lapangan .

Contoh 2.13 : Berikut contoh-contoh subruang.
Diketahui himpunan

{(

+|

}
merupakan suatu ruang vektor atas lapangan
bilangan real .
a) Himpunan {(

+|


merupakan subruang dari

karena
merupakan ruang vektor terhadap lapangan
bilangan real dengan operasi yang sama
dengan

.
b) Himpunan {(

+}

merupakan
subruang dari

karena merupakan ruang


vektor terhadap lapangan bilangan real
dengan operasi yang sama dengan

.
c) Himpunan {(

+ (

+}

bukan
merupakan subruang dari

karena jika
diambil (

+ diperoleh (

+ (

+
(

+ .



6

Teorema 2.14 (Lang, 1996) : Diketahui
adalah ruang vektor atas lapangan .
Himpunan merupakan subruang dari
ruang vector jika dan hanya jika dalam
berlaku.
i. (


ii. ( )( )

Teorema 2.15 (Lang, 1996) : Diketahui
adalah ruang vektor atas lapangan .

dan


masing-masing subruang di . Diperoleh:
i.

subruang di .
ii.

* |

+ subruang
di .
iii.

belum tentu subruang di .



2.3 Kombinasi Linear dan Himpunan
Pembangun
Definisi 2.16 (Setiadji, 1983) : Diketahui
ruang vektor atas lapangan , dan
*

+ . Himpunan semua kombinasi


linear dari

dinotasikan dengan ,-
dan didefinisikan sebagai
,- *

+











Ilustrasinya sebagai berikut.

Gambar 2.2 Himpunan Semua Kombinasi Linear

Teorema 2.16 (Setiadji,1983) : Himpunan
,- *

+
merupakan subruang dari .

Definisi 2.17 (Lang, 1996) : Diketahui
adalah ruang vektor atas lapangan .
Himpunan *

+ disebut
generator (pembangun) ruang vektor jika
( )(



Contoh 2.18 : Diketahui

adalah ruang
vektor atas lapangan , dan himpunan
{

)} .
Karena semua anggota dapat dituliskan
sebagai kombinasi linear dari atau ,- ,
maka dikatakan himpunan merupakan
himpunan pembangun (generator) ruang vektor
.

F
V
[A]
A
7

2.4 Himpunan Bebas Linear dan Tak Bebas
Linear
Definisi 2.19 (Setiadji, 1983) : Diketahui
ruang vektor atas lapangan . Himpunan
*

+ disebut bebas linear apabila


dipenuhi implikasi



Contoh 2.20 : Vektor-vektor *

+ bebas
linear dalam

* +. Sebagai bukti,
diambil sebarang kombinasi linear

()
Untuk maka


Untuk maka


Diperoleh (


Karena

maka


Sehingga

.
Jadi, vektor-vektor *

+ bebas linear dalam

.

Definisi 2.21 (Setiadji, 1983) : Diketahui
ruang vektor atas lapangan . Himpunan
*

+ disebut tak bebas linear


apabila

( )

( )


Atau ada skalar-skalar


yang tidak semuanya nol sehingga

.
Jadi, definisi bebas linear merupakan suatu
ingkaran dari definisi tak bebas linear.
Contoh 2.22 Diketahui ruang vektor atas
lapangan , dan *

+ ,
pernyataan berikut selalu bernilai benar.


Atau ekivalen dengan pernyataan berikut.


Konvers dari pernyataan di atas, yaitu


tidak selalu bernilai benar, sebagai contoh
vektor-vektor (

+ (

maka
(

+ (

+ (


Akan tetapi, apabila pernyataan tersebut
selalu bernilai benar, maka memenuhi
pengertian baru, yaitu dikatakan bahwa
*

+ bebas linear.

2.5 Basis dan Dimensi Ruang Vektor
Definisi 2.23 (Lang, 1996) : Diketahui ruang
vektor atas lapangan , dan *

+
. Himpunan disebut basis dari ruang vektor
jika merupakan pembangun (generator)
yang bebas linear untuk .

Contoh 2.24 : Diketahui vektor-vektor {

/} dalam

. Akan dibuktikan
bahwa *

+ merupakan basis untuk

.
Diambil sebarang .

dengan
, maka diperoleh

/ .


8

.

/ .

dan

dan


Jadi ada

dan

sedemikian
sehingga

.
Jadi, {

/} membangun

.
Dibentuk kombinasi linear

/ .

/
.

/ .

/
Diperoleh

sehingga

. Jadi,
*

+ bebas linear.
Terbukti bahwa {

/}
merupakan generator yang bebas linear di


atau *

+ merupakan basis untuk

.
Jika ruang vektor memiliki basis
berhingga, disebut berdimensi hingga. Jika
tidak, disebut berdimensi tak hingga.

Teorema 2.25 (Beachy, 2006) :Ruang vector
atas lapangan memiliki basis yang tidak
tunggal.

Teorema 2.26 (Setiadji, 1983) : Setiap anggota
ruang vector atas lapangan merupakan
kombinasi linear yang tunggal dari vektor-
vektor basis untuk .

Definisi 2.27 (Beachy, 2006) : Dimensi dari
ruang vector atas lapangan adalah jumlah
vektor-vektor dalam basis untuk .

Contoh 2.28 : Sebarang ruang vektor


berdimensi atas lapangan , di mana buah
vektor {(

, (

, (

,} membentuk
basis dari ruang vektor

atas lapangan .
Diambil sebarang (

, maka v
dapat ditulis sebagai kombinasi linear dari
{(

, (

, (

,} yaitu
(

,
Jadi, vektor-vektor di atas membangun

.
Karena vektor-vektor tersebut juga bebas
linear, maka buah vektor tersebut merupakan
basis untuk ruang vektor

atas lapangan .
Jadi, ruang vektor

berdimensi atas
lapangan .

2.6 Pemetaan dan Relasi Ekuivalensi
Definisi 2.29 : Diketahui pemetaan
dan . Pemetaan dikatakan
sama, ditulis bila () () .

Definisi 2.30 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut
refleksif jika dan hanya jika untuk setiap
anggota dari semestanya berlaku , atau
( )



9

Definisi 2.31 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut
simetris jika dan hanya jika untuk setiap
dari semestanya berlaku: apabila maka
.

Definisi 2.32 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut
transitif jika dan hanya jika untuk setiap
dari semestanya berlaku: apabila dan
maka .

Definisi 2.33 (Setiadji, 1983) : Relasi
dikatakan suatu relasi ekuifalensi jika
merupakan relasi yang refleksif, simetris dan
transitif.

Teorema 2.34 (Setiadji, 1983) : Suatu relasi
ekuivalensi antara anggotanya suatu semesta
mengakibatkan adanya penggolengan
(partitioning) di dalam .

2.7 Transformasi linear
Definisi 2.35 (Miller, 1997) : Diketahui dan
ruang vektor atas lapangan yang sama.
Transformasi linear adalah suatu
pemetaan dari ke sedemikian sehingga
untuk setiap dan berlaku.
i. ( ) () ()
ii. () ()

Definisi 2.36 (Miller, 1997) : Diketahui dan
ruang vektor atas lapangan yang sama.
Transformasi linear adalah suatu
pemetaan dari ke sedemikian sehingga
untuk setiap dan berlaku.
( ) () ()
Definisi 2.27 dan definisi 2.28 adalah ekivalen.
(Setiadji, 1983).

Definisi 2.37 (Miller, 1997) : Transformasi
linear

dan

dari ruang vektor ke


dikatakan sama jika

()

()

Definisi 2.38 (Lang, 1996) : Diketahui

dan

transformasi linear dari ruang vektor ke


. Untuk setiap dan didefinisikan
jumlahan

dan pergandaan skalar


yaitu
(

)()

()

()
(

)()

()

Contoh 2.39 : Misalkan suatu pemetaan

didefinisikan sebagai
(

+ .

/, di mana


Diambil sebarang (

+ (


maka
( ) (

+
(

*
.

/ .

/
(

+ (

+
() ()
untuk setiap dan . Jadi,
merupakan suatu transformasi linear.

10

Transformasi-transformasi Linear Khusus
(Lang, 1996)
Diketahui dan sebarang ruang vektor
atas lapangan . Untuk setiap berlaku.
i. Transformasi Linear Identitas
didefinisikan dengan
()
ii. Transformasi Linear Nol
didefinisikan dengan
()
iii. Transformasi Linear Negatif
didefinisikan dengan
()() ()

2.8 Kernel dan Daerah Hasil Transformasi
linear
Diberikan

{(

,|

}
Diketahui

() merupakan himpunan
matriks-matriks yang berukuran dengan
elemen bilangan real.

()
Diambil sebarang

,
diperoleh
(

)(


Atau,


Dapat dibentuk suatu pemetaan

sebagai
berikut

()
Pemetaan di atas memenuhi sifat-sifat
sebagai berikut.
1. (

)(

( )

()

()
2. (

)(

) (

()

()
Berdasarkan model 1 dan 2dapat dibentuk
pengertian pemetaan linear lewat abstraksi yang
diilustrasikan lewat gambar 2.3 dengan
ruang vektor atas lapangan yang sama dan
pemetaan dari ruang vektor ke (William,
2010).

Gambar 2.3 Transformasi Linear pada Ruang
Vektor

Definisi 2.40 (Miller, 1997) : Diketahui dan
ruang vektor atas lapangan . Misalkan
adalah transformasi linear dari ke
.
i. Daerah hasil dari adalah himpunan
semua bayangan (images) ()
dengan dan didefinisikan sebagai
() * |() +
T
F
V W
Ow
Ov

11

ii. Kernel dari adalah himpunan semua
vektor sedemikian sehingga ()
dan didefinisikan sebagai
() * |()

+

Teorema 2.41 (Wiliam, 2010) : Daerah hasil
dari suatu transformasi linear merupakan
subruang dari .

Teorema 2.42(Wiliam, 2010) : Kernel dari
suatu transformasi linear merupakan
subruang dari .

Teorema 2.43 (Anonymous, 2009) : Diketahui
adalah transformasi linear dari
ruang vektor ke . Maka diperoleh
(



2.9 Transformasi Linear Non-Singular dan
Isomorfisma Ruang Vektor
Definisi 2.44 (Setiadji, 1983) : Suatu
transformasi linear merupakan transformasi
non-singular jika terdapat invers transformasi
linear

sehingga

. Jika tidak
terdapat invers transformasi demikian maka
disebut transformasi singular.

Teorema 2.45 (Wiliam, 2010) : Diketahui
transformasi linear dari ruang vektor ke .
Maka injektif jika dan hanya jika ()
*

+.

Teorema 2.46 (Setiadji, 1983) : Jika


pada ruang vektor , maka

pada
() .
Definisi 2.47 (Setiadji, 1983) : Misalkan dan
adalah ruang vektor atas lapangan .
Transformasi linear dari ruang vektor ke
disebut isomorfisma jika bijektif, ditulis
.


12

BAB III
METODE KAJIAN

3.1 Desain Kajian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah studi literatur, yaitu menghimpun
beberapa sumber referensi dan dibuat suatu
kajian khusus mengenai Teori Utama
Isomorfisma Ruang Vektor dan Aplikasinya.
Sumber kajian dan penulisan diperoleh dari
buku-buku referensi, jurnal-jurnal ilmiah, dan
artikel web lainnya.
Kajian tentang Teori Utama Isomorfisma
Ruang Vektor ini merupakan penelitian yang
bersifat murni atau penelitian dasar.

3.2 Prosedur Kajian
Langkah-langkah kajian Teori Utama
Isomorfisma Ruang Vektor dan Aplikasinya
adalah sebagai berikut:
1. Mengkonstruksi struktur aljabar tentang
teori utama isomorfisma ruang vektor.
2. Membentuk teori baru berdasarkan aplikasi
dari teori utama isomorfisma ruang vektor.

3.3 Hasil yang diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan dari
penelitian ini, antara lain:
1. Dapat merumuskan struktur aljabar tentang
teori utama isomorfisma ruang vektor.
Dapat membentuk teori baru berdasarkan
aplikasi dari teori utama isomorfisma ruang
vektor.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Relasi Ekuivalensi
Diketahui ruang vektor atas lapangan ,
subruang dari ruang vektor . Bila

maka kemungkinan yang terjadi


antara lain:

, atau


Jika yang terjadi adalah kemungkinan

, maka dapat dibangun definisi


sebagai berikut:

Definisi 4.1 : Diketahui ruang vektor dan
merupakan subruang dari .


dikatakan berelasi jika dan hanya jika

.

Teorema 4.2 : Diketahui ruang vektor dan
merupakan subruang dari .

.
Relasi dimana


merupakan relasi ekuivalensi.

4.2 Partisi (kelas-kelas) pada Ruang Vektor
Berdasarkan teorema 4.1 maka ruang
vektor terbagi atas keluarga kelas-kelas yang
saling asing. Jadi , kelas yang diwakili
, dinotasikan dengan .
* + * +
* +
* +
* +



13

Kemudian dapat dibentuk keluarga kelas-
kelas sebagai berikut:

* +
Keluarga kelas-kelas pada ruang vektor dapat
divisualisasikan lewat gambar berikut ini.

Gambar 4.1 Keluarga Partisi Ruang Vektor
Jadi keluarga kelas

didefinisikan operasi-
operasi penjumlahan dan perkalian skalar
sebagai berikut.
i.


ii.


Teorema 4.3 : operasi penjumlahan dan
operasi perkalian yang di definisikan pada

adalah well definited (terdefinisi dengan


baik).

Teorema 4.4 : Diketahui ruang vektor atas
lapangan dan himpunan subruang dari
.

adalah ruang vektor atas lapangan F.



4.3 Transformasi Linear Ruang Vektor
ruang vektor atas lapangan dan
himpunan subruang dari ruang vektor .
Dibentuk pemetaan sebagai berikut:


()
Teorema 4.5 :
i.) merupakan suatu Transformasi Linear dan
Surjektif
ii.) ()

Berikut akan ditampilkan visualisasi dari
transformasi linear ruang vektor, untuk
memperjelas penjelasan di atas.

Gambar 4.2 Transformasi Linear Ruang Vektor

4.4 TeoriUtamaIsomorfismaRuangVektor
Toerema4.6 :Diketahui masing-masing
ruang vektor atas lapangan , dan
subruang dari .

merupakan
transformasi linear yang surjektif. Diketahui
suatu transformasi linear atas
sedemikian hingga termuat dalam ()
maka ada dengan tunggal transformasi linear
atas ,

sedemikian hingga
.






14

Bukti:

Gambar 4.3 Pemetaan Linear

Diambil sebarang

dan .
Kemudian dibentuk

dengan syarat:
( ) ()


(i.) merupakan suatu pemetaan, sebab

dengan

maka:


menurut diketahui:

()
Sehingga diperoleh:
(

) (

) (

)
(

) (

) (

)
(ii.) (

) (

)
(

)
(

) (

)
(

) (

)
(

) (

)
(

)
(

)
(

)
Berdasarkan (i) dan (ii) terbukti bahwa
.
Selanjutnya diambil pemetaan sedemikian
hingga

.
Untuk sebarang

berlaku ( )
(()), sehingga diperoleh:

( ) (

)()
()
( )()
(())
( )
Karena diambil sebarang, dan

( ) ( )
maka

.
terbukti bahwa merupakan transformasi
linear yang tunggal dengan

Teorema 4.7 : Diketahui masing-masing
ruang vektor atas lapangan . Bila
adalah suatu transformasi linear, maka

()

().

Bukti :
Dibentuk suatu transformasi linear

()


dan pemetaan

(), dengan

() () .
Dari teorema 2.41 dan teorema 2.42 dapat
disimpulkan bahwa () merupakan subruang
atas dan () merupakan subruang dari .
Berdasarkan teorema 4.6 maka terdapat dengan
tunggal transformasi linear

()

()



W



15

Karena

masing-masing transformasi
linear yang surjektif, maka juga surjektif.
Akan ditunjukkan injektif.
Diambil sebarang ()
() ()dengan .
Karena () merupakan subruang dari


(teorema 2.32), maka () sehingga
diperoleh:
( )


(() ())


(( ))


( )( )


( )


() ()


() () () ()
( )() ( )()
(()) (())
( ) ()
karena diambil sebarang ()
() () dengan berlaku
( ) ().
Jadi terbukti bahwa injektif, dan karena
merupakan transformasi linear yang surjektif
dan injektif, maka merupakan suatu
isomorfisma atau dengan kata lain terbukti
bahwa

()

().

4.5 Aplikasi Teori Utama Isomorfisma
Ruang Vektor
Berdasarkan teorema 2.11, bila


masing-masing subruang atas ruang vektor ,
maka

dan

juga merupakan
subruang dari ruang vektor .
Selanjutnya dibentuk partisi pada ruang
vektor yakni

dan

. Akan
ditunjukkan bahwa kedua partisi tersebut adalah
isomorfik, yang akan disajikan dalam teorema
sebagai berikut.

Teorema 4.8 : Jika

masing-masing
subruang dari ruang vektor atas lapangan ,
maka



Bukti :
Dibentuk transformasi linear

yang surjektif dan pemetaan


transformasi linear yang


injektif, yaitu pemetaan()


sehingga diperoleh diagram sbb:

Gambar 4.4 Diagram Transformasi Linear
Karena juga merupakan suatu transformasi
linear, maka ( ) merupakan suatu
transformasi linear.

, maka

dan berlaku:
( )() (()) ()

,
karena ( ) injektif (teorema2.45).
Sehingga diperoleh ( ), dan

( ).
Kemudian diambil sebarang ( ),
maka:

( )()



16

(())
()


Sehingga ( ) berlaku

.
Jadi ( )

, maka diperoleh

( ) ...................(1)
Selanjutnya diambil sebarang

, maka

. Jadi ada

() , dimana untuk suatu


dan menurut teorema 4.5


()

.
Berarti terdapat

()


sehingga berlaku:


()
( )
() ()

()
()
Jadi, terdapat

sedemikian hingga
() atau dengan kata lain ( )
sehingga diperoleh

( ).
Karena transformasi linear yang injektif maka

selalu berlaku
( )() (()) ()
sehingga jika diambil sebarang ( )
maka terdapat

sedemikian hingga
berlaku:
( )()
(())
()

()
() (), dimana


( ) (), untuk


Jadi diperoleh ( )

, dan karena

( ) maka:
( )

........................(2)
berdasarkan uraian (1) dan (2) , dan menurut
Teorema 4.7 terbukti bahwa



Contoh 4.9 :
Telah diketahui sebelumnya bahwa


merupakan ruang vektor atas lapangan .

*| (

*| (

merupakan subruang dari ruang vektor


maka diperoleh:

* |

+ subruang dari
ruang vektor

dan

*|

+ subruang dari ruang


vektor

.
Dibentuk:

+
Selanjutnya dikonstruksi transformasi linear

, sehingga diperoleh:
17

()


Misalkan diambil sebarang


dengan

.
Karena

merupakan ruang vektor, maka

, sehingga diperoleh:
(

) (

)

Menurut teorema 2.34:
(


Sehingga:
(

) (

) (

)
Karena

berakibat (

) (

) maka
injektif sehingga terbukti bahwa merupakan
isomorfisma, atau dengan kata lain terbukti
bahwa:










BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Diketahui ruang vektor atas lapangan
yang sama, subruang dari dan
transformasi linear . Jika dibentuk

suatu transformasi linear yang


surjektif maka terdapat dengan tunggal
transformasi linear

sedemikian
hingga berlaku , kemudian dapat
dibentuk teori utama isomorfisma yakni:

()

()
2. Dari teori utama isomorfisma diatas,
diperoleh teori lain dengan mengaplikasikan
teori tersebut yang dapat disajikan sebagai
berikut:


5.2 Saran
Melalui penelitian ini, penulis mengkaji
mengenai teori utama isomorfisma dan
aplikasinya. Sangat diharapkan bahwa skripsi
ini dapat digunakan sebagai sumbangan
pemikiran bagi Universitas Nusa Cendana,
khususnya bagi pembaca yang ingin
mengembangkan tulisan ini dengan
permasalahan yang lebih kompleks.
Pembahasan mengenai judul ini masih
dimungkinkan kajian yang lebih mendalam
lewat pengkajian lebih lanjut Dengan
mengaplikasikan teori utama isomorfisma ruang
vektor, masih banyak teori yang dapat
dikembangkan lebih lanjut.

18

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Linear Transformations. (Diunduh dari http://www.maths.
ox.ac.uk/system/files/coursematerial/2009/961/14/LA-web6.pdf pada 22 Feb. 2014).

Bretscher, Otto. 1997. Linear Algebra with Applications. Prentice Hall, New Jersey.

Budhi, WonoSetya. 1995. Aljabar Linear. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gultom B. 1985. Soal dan Penyelesaian Aljabar Linier. Penerbit Tarsito, Bandung.

Gultom B. 1985. Teori Aljabar Linier. Penerbit Tarsito, Bandung.

Lang, Serge. 1996. Linear Algebra. Addison-Wesley Publishing Company, California.

Lawson, Terry. 1996. Linear Algebra. John Wiley & Sons Inc, New York.

Pinter, Charles C. 1990. A Book of Abstract Algebra. McGraw-Hill Inc, New York.

Setiadji. 1983. Aljabar Linier 1. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

William, Andre. 2010. Analisis Matriks Representatif Transformasi Linear pada Ruang vektor.
Matematika-FST Universitas Nusa Cendana, Kupang.