Anda di halaman 1dari 17

Third Angle Projection Proyeksi Amerika

03.28 Yohanor Saputera No comments


Proyeksi Kuadran III atau sering disebut sebagai Proyeksi Amerika, merupakan suatu proyeksi
yang mengasumsikan suatu obyek benda, berada didepan bidang proyeksi. Bisa diasumsikan
bahwa bidang proyeksi, terletak diantara orang yang melihat obyek benda dengan obyek benda
itu sendiri. Sedangkan cara untuk memproyeksikan benda tersebut adalah dengan
menggambarkan seolah kita menarik benda kearah bidang proyeksi.

Langkah proyeksi Amerika

Pada proyeksi Amerika ini, merupakan counter terhadap proyeksi Eropa, semuanya merupakan
kebalikan dari proyeksi eropa, pembacaan proyeksi ini seperti memasukan suatu obyek benda
kerja didalam suatu kubus kaca, sehingga apa yang kita lihat dari arah manapun, itulah
proyeksi sebenarnya. Perhatikan tampilan gambar dibawah ini :

Langkah penerapan Proyeksi Amerika

Pemutaran Proyeksi Amerika

Akhirnya bentuk proyeksi Amerika dapat ditampilkan dengan bentuk seperti huruf L,
tampilannya berupa : pandangan atas, pandangan depan dan pandangan sampingkanan,
sedangkan 1 sisi kosong difungsikan sebagai tempat garis bantu pengubahan proyeksi.
Perhatikanlah tampilan Proyeksi Amerika dibawah ini :

Proyeksi Amerika dari suatu obyek benda kerja




First Angle Projection Proyeksi Eropa
03.26 Yohanor Saputera No comments
Proyeksi Kuadran I atau sering disebut sebagai Proyeksi Eropa, merupakan suatu proyeksi yang
mengasumsikan suatu obyek benda, berada diantara diantara bidang proyeksi dan orang yang
melihat benda tersebut. Sedangkan cara untuk memproyeksikan benda tersebut adalah dengan
menggambarkan seolah kita mendorong benda kearah bidang proyeksi.

Langkah Proyeksi Eropa

Dasar dari proyeksi eropa ini adalah bidang proyeksi dari benda kerja (biru) diletakkan pada
bagian belakang, sedangkan posisi orang yang melihatnya berada didepan benda kerja,
sehingga dapat kita simpulkan bahwa proyeksi pandangan atas berada dibawah benda kerja,
proyeksi pandangan depan berada dibelakang benda kerja dan proyeksi pandangan samping
kanan terletak di kiri benda kerja. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini :

Langkah penerapan Proyeksi Eropa

Sajian pada peletakan gambar proyeksi menurut sistem proyeksi eropa adalah dengan memutar
hasil proyeksi kebawah dan kekiri, sedangkan pandangan depan difungsikan sebagai pusat
proyeksinyanya.

Pemutaran Proyeksi Eropa

Akhirnya bentuk proyeksi Eropa dapat ditampilkan dengan bentuk seperti huruf L terbalik, bila
dilihat searah jarum jam tampilannya berupa : pandangan samping kanan, depan dan atas,
sedangkan 1 sisi kosong difungsikan sebagai tempat garis bantu pengubahan proyeksi.
Perhatikanlah tampilan Proyeksi Eropa dibawah ini :

Proyeksi Eropa dari suatu obyek benda kerja




PROYEKSI ISOMETRI
03.25 Yohanor Saputera No comments
Pengertian Proyeksi
Tampilan dalam bentuk 3 dimensi, memungkinkan kita dapat melihat secara detail ukuran dan
bagian-bagian dari suatu susunan ataupun rangkaian dari suatu obyek kerja. Namun pemahaman
suatu gambar tidak selamanya harus ditampilkan dalam bentuk 3D, namun didalam standarisasi
ISO, lebih diutamakan suatu gambar berbentuk 2D yang disebut sebagai pandangan.
Proyeksi yang akan dibahas disini antara lain : proyeksi piktorial (proyeksi isometri, dimetri,
miring dan perspektif) serta proyeksi Amerika dan Eropa.

Jenis Proyeksi Proyeksi Piktorial :
Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri ialah suatu proyeksi yang mempunyai perbandingan panjang antara ketiga
sumbunya, yaitu x : y : z adalah 1 : 1 : 1, sedangkan jarak antar sumbu membentuk sudut sebesar
120 derajat. Pada proyeksi ini ciri yang paling mendasar adalah besar sudut antara sumbu x dan y
terhadap garis mendatar adalah 30 derajat.
Didalam proyeksi ini cara menampilkan penggambarannya meliputi 3 sajian tampilan yaitu
proyeksi isometri normal, terbalik dan horisontal.
Berikut kedudukan persumbuan dari proyeksi isometri :

kedudukan sumbu isometri normal


kedudukan sumbu isometri terbalik


kedudukan sumbu isometri horisontal

Kedudukan proyeksi isometri normal adalah kedudukan dimana besar sudut sumbu x dan y
terhadap garis horisontal adalah 30 derajat, sedangkan sumbu z, tegak lurus membentuk sudut 90
derajat terhadap garis horisontal dengan nilai negatif.

Obyek dengan kedudukan isometri normal

Kedudukan proyeksi isometri terbalik adalah kedudukan dimana bentuk gambar dari proyeksi
isometri normal diputar 180 derajat kearah kanan, sehingga kedudukan sumbu z, tegak lurus
membentuk sudut 90 derajat terhadap garis horisontal dengan nilai positif.

Obyek dengan kedudukan isometri terbalik

Kedudukan proyeksi isometri horisontal adalah kedudukan dimana bentuk gambar dari proyeksi
isometri normal diputar 270 derajat kearah kanan, sehingga kedudukan sumbu x dan y terhadap
garis vertikal membentuk sudut 30 derajat, sedangkan kedudukan sumbu z, sejajar dengan garis
horisontal kearah positif.

Obyek dengan kedudukan isometri horisontal

Ukuran Huruf dan Angka Gambar Teknik
03.21 Yohanor Saputera No comments
Ukuran huruf dan angka untuk gambar sketsa dan gambar teknik mempunyai ketentuan yang
sama, yaitu standarisasi ISO menurut type A dan type B

Ukuran huruf dan Angka standar

Dicontohkan, apabila suatu huruf dan angka mempunyai tinggi huruf besar 7 mm maka
didapatkan data sebagai berikut :

Ukuran huruf dan Angka dengan tinggi huruf besar 7 mm

1. Model huruf & angka tegak jenis huruf Arial

2. Model huruf & angka miring 15 derajat jenis huruf Arial
3. Model huruf &
angka tegak jenis huruf ISOCPEUR
4. Model huruf &
angka Miring 15 derajat jenis huruf ISOCPEUR

Proyeksi Dimetri
03.20 Yohanor Saputera No comments
Proyeksi Dimetri I
Dibandingkan dengan proyeksi isometri, proyeksi dimetri mempunyai perbedaan mendasar,
yaitu : besar sudut sumbu x dan y, terhadap garis horisontal dan perbandingan sumbu x, y dan z.
Pada proyeksi dimetri ini, besar sudut sumbu x terhadap garis horisontal adalah 7 derajat,
sedangkan besar sudut sumbu y terhadap garis horisontalnya adalah 40 derajat. Tinjauan lain
dalam proyeksi dimetri ini adalah, perbandingan antar ketiga sumbu adalah x : y : z = 1 : : 1.
Kesimpulannya adalah : dimisalkan, panjang ketiga garis adalah 50 mm, maka pada proyeksi ini,
panjang sumbu x = 50 mm, sumbu y = 25 mm dan sumbu z = 50 mm. Tetapi pada angka
penunjukan pengukurannya tetap ditulis 50 mm.
Berikut gambar skema perbandingan sumbu

Skema sudut proyeksi dimetri

Berikut contoh perubahan pandangan dari proyeksi isometri dengan sudut = 30 derajat dan =
30 derajat dengan perbandingan x : y : z adalah 1 : 1 : 1 menjadi proyeksi dimetri dengan sudut
= 7 derajat dan = 40 derajat dengan perbandingan x : y: z adalah 1 : : 1

Proyeksi Isometri menjadi Proyeksi Dimetri

Bila kita perhatikan, proyeksi dimetri sisi sumbu Y-nya mempunyai panjang lebih pendek
dibandingkan dengan sisi sumbu Y dari proyeksi isometri, perbandingannya adalah x panjang
proyeksi isometri. Namun pengukuran angkanya tetap dituliskan ukuran sebenarnya sebelum
dibuat proyeksi.

Proyeksi Dimetri II
Sebenarnya proyeksi dimetri sendiri mempunyai jenis yang beragam, namun yang biasa
digunakan adalah yang bersudut = 7 derajat dan = 40 derajat. Berikut bentuk-bentuk proyeksi
dimetri tipe yang lain, dengan besar sudut dan terhadap garis horisontal dengan skala
perbandingan sumbu x, y dan z.

Tabel Proyeksi Dimetri II

Proyeksi Dimetri II

Proyeksi Miring & Aksonometri
03.18 Yohanor Saputera No comments
Proyeksi Miring I
Pada proyeksi miring, pada dasarnya perbandingan antar sumbunya baik x, y maupun z,
mempunyai perbandingan yang sama dengan proyeksi dimetri, hanya saja yang berbeda adalah
besar sudut = 0 derajat dan besar sudut = 45 derajat.
Perhatikan contoh dibawah ini, perubahan proyeksi dimetri dengan sudut = 7 derajat dan sudut
= 40 derajat menjadi proyeksi miring dengan sudut = 0 derajat dan sudut = 45 derajat.

Proyeksi Dimetri menjadi Proyeksi Miring I
Proyeksi Miring II
Pada prinsipnya, proyeksi miring merupakan suatu proyeksi yang sejajar, akan tetapi garis
proyeksinya berkedudukan miring terhadap bidang proyeksinya. Untuk proyeksi miring lain,
berikut ini adalah besar sudut dan tetadap garis horisontal dan perbandingan panjang garis
tiap-tiap sumbu x, y dan z.

Tabel Proyeksi Miring II

Proyeksi Miring II
Proyeksi Aksonometri
Proyeksi aksonometri merupakan sebuah pandangan pencerminan dari garis proyeksi benda.
Kedudukan garis proyeksi terhadap bidang proyeksinya adalah tegak lurus. Proyeksi ini lebih
cocok digunakan untuk menggambarkan suatu bentuk bangunan baik sebagian, detail maupun
keseluruhan. Proyeksi aksonometri merupakan proyeksi sejajar, ini karena garis sejajar objek
tetap diproyeksikan sejajar. Proyeksi ini disebut juga proyeksi miring dimana bentuk dan
ukurannnya sebanding dengan benda aslinya. Sedangkan kelemahan dari proyeksi ini adalah
bagian depan obyek lebih kecil dari bagian belakangnya atau sering disebut sebagai distorsi.


Tabel Proyeksi Aksonometri

Proyeksi Aksonometri

Konfigurasi Permukaan
03.14 Yohanor Saputera No comments
Untuk mengetahui mutu tiap-tiap bagian dari suatu komponen, kekasaran permukaan dan
pengerjaan permukaan merupakan suatu ketentuan mutlak didalam teknik penggambaran sketsa.
Pada penunjukkan kekasaran permukaan diperlukan suatu lambang, yang dapat mewakili
tingkat kekasaran dari hasil proses suatu benda kerja.

Konfigurasi permukaan
Gambar nomor 1 :
Menunjukkan suatu lambang dasar. Lambang ini dapat dipergunakan apabila dijelaskan
dengan penambahan suatu catatan.
Gambar nomor 2 :
Menunjukkan suatu permukaan yang diproses dengan pemesinan tanpa keterangan ataupun
detail yang lain.
Gambar nomor 3 :
Menunjukkan suatu permukaan yang permukaannya tidak diproses (tidak diijinkan untuk
dibuang bahannya) Lambang ini dapat dipergunakan pada gambar mengenai proses produksi,
yang menjelaskan bahwa sebuah permukaan harus tetap berada pada kondisi awal dari proses
sebelumnya, meski keadaan ini diperoleh dari hasil pembuangan bahan maupun cara lain.
Penunjukkan kualitas tingkat kekasaran, dapat dilihat pd tabel dibawah ini :

Tabel harga dan kelas angka kekasaran
Keterangan lambang konfigurasi permukaan secara lengkap dapat dijabarkan sebagai berikut :

Konfigurasi permukaan secara lengkap
Huruf a menunjukkan : Nilai kekasaran Ra (m)
Huruf b menunjukkan : cara proses produksi, pengerjaan, pelapisan.
Huruf c menunjukkan : panjang contoh
Huruf d menunjukkan : arah bekas pengerjaan
Huruf e menunjukkan : Kelonggaran pemesinan
Huruf f menunjukkan : Nilai kekasaran lain (dalam kurung)

Contoh Konfigurasi permukaan secara lengkap
N6 : Nilai kekasaran 0,8 m
Milling : Proses produksi dengan milling machine.
2 : kelonggaran pemesinan 2 mm
2,5 : panjang contoh 2,5 mm
R1 : persyaratan kekasaran lain yang dipakai misal R1= 0,4 m
Lambang tegaklurus adalah arah bekas pengerjaan : tegak lurus pada bidang proyeksi dari
pandangan.
Arah bekas pengerjaan dapat diskemakan sebagai berikut :

Tabel Arah bekas pengerjaan
Toleransi bentuk dan posisi
Toleransi bentuk adalah batasan suatu penyimpangan yang diijinkan dari bentuk benda kerja
yang ideal, sedangakn toleransi posisi adalah batasan penyimpangan posisi yang diijinkan dari
suatu benda kerja terhadap sisi suatu pasangan dari dua atau lebih benda kerja yang
berpasangan, salah satu benda kerja harus dijadikan suatu bidang patokan atau datum, untuk
menentukan jenis posisi terhadap benda pasangannya.
Toleransi bentuk dan posisi menurut ISO distandarisasi dengan kode ISO R 1101. Toleransi ini
digunakan pada panjang keseluruhan dari bidang yang berpasangan.

Datum feature (I)

Datum feature (II)
Pada penempatan datum beserta data lainnya, haruslah dibedakan antara penunjukkan
terhadap garis sumbu dan terhadap dindingnya.

Jenis penunjukkan
Didalam penunjukkan toleransi bentuk dan posisi, diperlukan suatu simbol yang menjelaskan
sifat-sifat dari toleransi tersebut, berikut jenis dari sifat toleransi bentuk dan posisi :



Batas Area Gambar & Etiket
03.13 Yohanor Saputera No comments
Batas Area Penggambaran :
Pada gambar sketsa yang mengacu kepada standarisasi gambar teknik, ketika kita akan
melakukan penggambaran pada sebuah kertas, kita harus mempunyai batas wilayah kerja
gambar, yang dibatasi dengan garis tepi. Batas garis tepi yang dibuat adalah sisi kiri, kanan, atas
dan bawah. Ukuran batas garis tepi sisi kiri biasanya lebih lebar, ini dimaksudkan agar ketika
gambar kerja tersebut berjumlah banyak, maka diperlukan suatu penjepitan gambar, sehingga
ketika gambar tersebut dibundel atau dijilid, gambar yang dibuat tidak tertutup oleh jilidan tepi
kertasnya.
Berikut batas margin dari wilayah penggambaran :

Batas Margin kertas gambar
Pada penggunaan posisi kertas gambar, dikenal dengan 2 posisi kertas yaitu landscape dan
portrait. Sedangkan batas dari tepi gambar berubah, yang terpenting batas kiri kertas lebih lebar
dibandingkan batas atas, kanan dan bawah kertas. Untuk ukuran kertas A4, posisi yang
diperbolehkan hanyalah posisi tegak/portrait, sedang untuk ukuran A3, A2, A1 dan A0,
diperbolehkan menggunakan kedua posisi kertas.
Berikut tabel data batas margin yang sesuai dengan standar ISO

Batas Margin kertas gambar type A
Kepala gambar/Etiket
Kepala gambar atau etiket adalah suatu identitas yang dapat menjelaskan berbagai keterangan
pendukung sebagai pelengkap gambar. Didalam etiket biasanya tercantum : nama penggambar,
nama pemeriksa gambar, nama instansi yang mengeluarkan/menerbitkan rancangan gambar
tersebut, nomor gambar kerja, tahun pembuatan gambar, skala dari gambar kerja, ukuran dari
kertas gambar, satuan ukuran yang digunakan, lambang proyeksi yang digunakan, Judul gambar,
kebutuhan material beserta jumlah, jenis dan ukurannya dan berbagai data yang diperlukan
sebagai pelengkap. Berikut contoh jenis etiket yang sering kita jumpai :


jumpai :