Anda di halaman 1dari 24

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
1
GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM ( GAKY )
Azuma Kamada*, Zuhriah Hidajati**

ABSTRACT : Iodine is a micronutrient found in nature that is necessary for the growth
and development of living things. Iodine Deficiency Disorders (IDD) is a set of symptoms
or disorders arising from iodine deficiency in a person's body in a continuous long periods
of time. IDD is one of the serious public health problem given the very large impact on
survival and quality of human resources. Efforts to control and prevention of IDD have
been executed long ago, and have been able to suppress significantly the incidence of IDD.
Cooperation and good communication are neccesary between planners, program
implementers and residents in the response to and prevention of IDD.
Keywords : Iodine, Micronutrient, Iodine Deficiency Disorders

ABSTRAK : Yodium adalah zat gizi mikro yang terdapat di alam yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
(GAKY) adalah sekumpulan gejala atau kelainan yang timbul akibat tubuh seseorang
kekurangan yodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. GAKY
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius mengingat dampaknya
sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. Upaya
penanggulangan dan pencegahan GAKY telah dijalankan sejak dahulu, dan telah dapat
menekan angka kejadian GAKY secara signifikan. Diperlukan kerjasama dan komunikasi
yang baik antara perencana, pelaksana program dan penduduk dalam upaya
penanggulangan dan pencegahan GAKY.
Kata Kunci : Yodium, Mikronutrien, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium


* Co-assistant FK Universitas Tarumanagara periode 17 Februari - 26 April 2014
** Dokter Spesialis Anak di RSUD Kota Semarang

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
2
BAB I. PENDAHULUAN

Masalah kekurangan konsumsi pangan bukanlah hal yang baru terdengar, namun tetap
merupakan masalah yang aktual terutama di negara-negara berkembang seperti juga halnya
di Indonesia. Kehidupan manusia tak dapat dipisahkan dari perihal pangan sedangkan
masalah kekurangan konsumsi pangan masih tetap terjadi, yang umumnya diakibatkan
ketidak mampuan masyarakat dalam hal pengelolaan dan pengaturan makanan yang baik
sesuai dengan standar gizi kesehatan yang berakibat status gizi yang buruk.
Dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), salah satu komponen
yang mempunyai dampak penting adalah peningkatan status gizi. Selain itu status gizi juga
merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kualitas hidup dan produktivitas
kerja. Gizi meliputi makronutrien dan mikronutrien, salah satunya adalah Yodium.
Yodium adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di air. Yodium
merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk
hidup. Yodium diperlukan tubuh dalam pembentukan hormon tiroksin untuk
mengatur pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin sampai dewasa.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang timbul
karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus menerus dalam jangka
waktu cukup lama. GAKY dapat timbul pada siapa saja baik perempuan, pria, anak-anak,
dewasa maupun orangtua terutama yang tinggal di daerah kekurangan yodium. GAKY
mempunyai dampak serius terhadap kesehatan manusia, di antaranya keguguran pada ibu
hamil, lahir mati dan cacat bawaan pada janin, gondok, kretin (cebol), keterbelakangan
mental pada anak dan remaja.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) khususnya Gondok telah sejak lama
dikenal di Indonesia. Hal ini terlihat dari adanya patung-patung tokoh pewayangan yang
ditampilkan dengan leher yang membesar karena Gondok. Tidak hanya dalam pewayangan,
dalam kehidupan nyata pun di beberapa daerah masih dengan mudah dapat dijumpai
penderita Gondok.



Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
3
BAB II. KAJIAN PUSTAKA

YODIUM
Yodium ditemukan pada tahun 1811 oleh Courtois. Yodium merupakan sebuah anion
monovalen, keadaannya dalam tubuh mamalia hanya sebagai hormon tiroid. Hormon tiroid
sangat penting selama pembentukan embrio dan untuk mengatur kecepatan metabolisme
dan produksi kalori atau energi di semua kehidupan. Jumlah yodium yang terdapat dalam
makanan sebanyak jumlah ioda dan untuk sebagian kecil secara kovalen mengikat asam
amino. Yodium diserap sangat cepat oleh usus dan oleh kelenjar tiroid digunakan untuk
memproduksi hormon tiroid. Saluran ekskresi utama yodium adalah melalui saluran
kencing (urin) dan cara ini merupakan indikator utama pengukuran jumlah pemasukan dan
status iodium. Tingkat ekskresi (status yodium) yang rendah (25 20 mg I/g creatin)
menunjukan risiko kekurangan yodium dan bahkan tingkatan yang lebih rendah
menunjukan risiko yang lebih berbahaya (Brody, 1999).
Dalam saluran pencernaan, yodium dalam bahan makanan dikonversikan menjadi Iodida
yang mudah diserap dan ikut bergabung dengan pool-iodida intra/ekstraseluler. Yodium
tersebut kemudian memasuki kelenjar tiroid untuk disimpan. Setelah mengalami
peroksidasi akan melekat dengan residu tirosin dari tiroglobulin. Struktur cincin
hidrofenil dari residu tirosin adalah iodinate ortho pada grup hidroksil dan berbentuk
hormon dari kelenjar tiroid yang dapat dibebaskan (T
3
dan T
4
) (Linder, 1992). Yodium
adalah suatu bagian integral dari hormon tridothyronine tiroid (T
3
) dan thyroxin (T
4
).
Hormon tiroid kebanyakan menggunakan, jika tidak semua, efeknya melalui pengendalian
sintesis protein. Efek-efek tersebut adalah efek kalorigenik, kardiovaskular,
metabolisme dan efek inhibitor pada pengeluaran thyrotropin oleh hipofisis (Sauberlich,
1999).
Kebanyakan Thyroxine (T
4
) dan Triidothyronine (T
3
) diangkut dalam bentuk terikat-plasma
dengan protein pembawa. Thyroxine-terikat protein merupakan pembawa hormon tiroid
utama yang beberapa di antaranya juga terikat dengan thyroxin-terikat prealbumin
(Sauberlich, 1999).
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
4
Tingkat bebasnya hormon-hormon tersebut dalam plasma dimonitor oleh hipotalamus yang
kemudian mengontrol tingkat pemecahan proteolitis T
3
dan T
4
dari tiroglobulin dan
membebaskannya ke dalam plasma darah, melalui tiroid stimulating hormon (TSH). Kadar
T
4
plasma jauh lebih besar dari pada T
3
, tetapi T
3
lebih potensial dan turn overnya lebih
cepat. Beberapa T
3
plasma dibuat dari T
4
dengan jalan deiodinasi dalam jaringan non-
tiroid. Sebagian besar dari kedua bentuk terikat pada protein plasma, terutama thyroid-
binding-globulin (TBG), tetapi hormon yang bebas aktivitasnya pada sel-sel target. Dalam
sel-sel target dalam hati, banyak dari hormon tersebut
didegradasi dan iodidat dikonversikan untuk digunakan kembali kalau memang dibutuhkan
(Linder, 1992).
Menurut Ganong (1989) apabila mengkonsumsi yodium 500 mg/hari, hanya sebagian
iodium (120 mg) yang masuk ke dalam kelenjar tiroid, dan dari kelenjar tiroid disekresikan
sekitar 80 mg yang terdapat dalam T
3
dan T
4
, yang merupakan hormon tiroid. Selanjutya
T
3
dan T
4
mengalami metabolisme dalam hepar dan dalam jaringan lainnya. Sehingga dari
hepar dikeluarkan sekitar 60 mg ke dalam cairan empedu, kemudian dikeluarkan ke dalam
lumen usus dan sebagian mengalami sirkulasi yang lepas dari reabsorbsi akan diekskresikan
bersama feses dan urin.

Gambar 1. Metabolisme Yodium
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
5
Ekologi Defisiensi Yodium
Sebagian besar yodium berada di samudera / lautan, karena yodium pada permukaan tanah
terbawa melalui pencairan salju dan hujan, kemudian dibawa oleh angin, aliran sungai dan
banjir ke laut. Kondisi ini terjadi terutama di daerah yang bergunung-gunung di seluruh
dunia, walau dapat juga terjadi di lembah sungai.
Yodium berada di tanah dan lautan dalam bentuk yodida. Ion yodida dioksidasi oleh sinar
matahari menjadi elemen yodium yang sangat mudah menguap, sehingga setiap tahun kira-
kira 400.000 ton yodium hilang dari permukaan laut. Kadar yodium dalam air laut kira-kira
50 mikrogram/liter, di udara kira-kira 0,7 mikrogram/meter kubik. Yodium yang berada
dalam atmosfer akan kembali ke tanah melalui hujan, dengan kadar dalam rentang 1,8 - 8,5
mikrogram/liter. Siklus yodium tersebut terus berlangsung selama ini.
Kembalinya yodium ke tanah sangat lambat dan dalam jumlah sedikit dibandingkan saat
lepasnya. Proses ini akan berulang terus menerus sehingga tanah yang kekurangan yodium
tersebut akan terus berkurang kadar yodiumnya.
Di sini tidak ada koreksi alamiah, dan defisiensi yodium akan menetap. Akibatnya, populasi
manusia dan hewan di daerah tersebut yang sepenuhnya tergantung pada makanan yang
tumbuh di daerah tersebut akan menjadi kekurangan yodium.


Gambar 2. Siklus Ekologi Yodium
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
6
GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM ( GAKY )
Gangguan Akibat Kekurang Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala atau kelainan
yang timbul akibat tubuh seseorang kekurangan yodium secara terus menerus dalam jangka
waktu yang lama. GAKY merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius
mengingat dampaknya sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya
manusia.
Pada ibu hamil penderita GAKY berat untuk kurun waktu lama (kronik), dampak buruk
GAKY mulai terjadi pada kehamilan trimester kedua tetapi masih dapat diperbaiki apabila
segera mendapat suplemen zat yodium. Apabila GAKY terjadi pada kehamilan tua (lebih
dari trimester kedua), dampak buruknya tidak dapat diperbaiki, artinya kelainan fisik dan
mental yang terjadi pada janin akan cenderung menjadi permanen hingga anak menjadi
dewasa. Dampak buruk pada janin dan bayi dapat berupa keguguran, lahir mati, lahir cacat,
kretin/cebol, kelainan psikomotor dan kematian bayi. Pada anak usia sekolah dan orang
dewasa, GAKY dapat berakibat pembesaran kelenjar tiroid (gondok), cacat mental dan
fisik.
Selama ini perhatian para pakar terpusat pada GAKY tingkat berat dan tingkat sedang,
namun dalam sepuluh tahun ini para pakar tertarik mengamati pengaruh yang akan terjadi
pada GAKY tingkat ringan yang jumlahnya lebih besar. Hasilnya, dampak buruk GAKY
tingkat ringan ternyata lebih signifikan. Pada tingkat ringan, sudah akan terjadi kelainan
perkembangan sel-sel syaraf yang mempengaruhi kemampuan belajar anak yang
ditunjukkan dengan rendahnya IQ anak penderita GAKY. Perkembangan sel otak terjadi
dengan pesat pada janin dan anak sampai usia dua tahun, karena itu ibu hamil penderita
GAKY tingkat ringan dapat memberikan dampak buruk pada perkembangan syaraf motorik
dan kognitif janin yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan anak.
Kebutuhan yodium setiap hari di dalam makanan yang dianjurkan saat ini adalah
(Djokomoeldjanto, 1993 dan WHO, 1994) :
1. 50 mikrogram untuk bayi ( 12 bulan pertama )
2. 90 mikrogram untuk anak ( usia 2-6 tahun )
3. 120 mikrogram untuk anak usia sekolah ( usia 7-12 tahun )
4. 150 mikrogram untuk dewasa ( diatas usia 12 tahun )
5. 200 mikrogram untuk ibu hamil dan menyusui
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
7
EPIDEMIOLOGI
Untuk mengetahui masalah kurang yodium, pemantauan besaran masalah dilakukan survei
nasional. Pada tahun 1980 prevalensi GAKY pada anak usia sekolah adalah 27,7%,
prevalensi ini menurun menjadi 9,8% pada tahun 1988. Walaupun terjadi perubahan yang
berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum
prevalensi masih di atas 5%. Tahun 2003 dilakukan lagi survei nasional, yang dibiayai
melalui Proyek Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY), untuk mengetahui
dampak dari intervensi program penanggulangan GAKY. Dari hasil survei ini diketahui
secara umum bahwa Total Goitre Rate (TGR) angka prevalensi gondok yang dihitung
berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar gondok, baik yang teraba maupun yang
terlihat pada anak sekolah berkisar 11,1%.

ETIO-PATOGENESIS
1. Faktor Defisiensi Yodium dan Iodium Excess
Defisiensi yodium merupakan sebab pokok terjadinya GAKI. Hal ini disebabkan karena
kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur yodium
dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya (Djokomoeldjanto, 1994).
Hal ini dibuktikan oleh Marine dan Kimbell (1921) dengan pemberian yodium pada anak
usia sekolah di Akron (Ohio) dapat menurunkan gradasi pembesaran kelenjar
tiroid. Temuan lain oleh Dunn dan Van der Haal (1990) di Desa Jixian, Propinsi
Heilongjian (China) dimana pemberian yodium antara tahun 1978 dan 1986 dapat
menurunkan prevalensi gondok secara drastis dari 80 % (1978) menjadi 4,5 % (1986).
Yodium Excess terjadi apabila yodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus,
seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokkaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang
laut dalam jumlah yang besar. Bila yodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi
hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling
(Djokomoeldjanto, 1994).

2. Faktor Geografis
Menurut Djokomoeldjanto (1994) bahwa GAKI sangat erat hubungannya dengan letak
geografis suatu daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
8
pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andres dan di Indonesia gondok sering
dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur
Selatan.
Daerah yang mendapat suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan,
seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar yodium
dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun pasti daerah tersebut akan
mengalami defisiensi yodium atau daerah endemik iodium (Soegianto, 1996).

3. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan yodium merupakan penyebab utama terjadinya gondok, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang
bersifat goiterogenik (Djokomoeldjanto, 1994). Williams (1974) dari hasil risetnya
mengatakan bahwa zat goiterogenik dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan
menyebabkan zat yodium dalam tubuh tidak berguna, karena zat goiterogenik tersebut
merintangi absorbsi dan metabolisme mineral yodium yang telah masuk ke dalam tubuh.
Giterogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan zat yodium oleh kelenjar
tiroid, sehingga konsentrasi yodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain itu, zat
goiterogenik dapat menghambat perubahan yodium dari bentuk anorganik ke bentuk
organik sehingga pembentukan hormon tiroksin terhambat (Linder, 1992).

Menurut Chapman (1982) goiterogen alami ada dalam beberapa jenis pangan yaitu:
Kelompok Tiosianat atau senyawa mirip tiosianat
contoh : ubi kayu, jagung, rebung, ubi jalar, buncis besar
Kelompok tiourea, tionamide, tioglikoside, vioflavanoid dan disulfida alifatik
contoh : berbagai makanan pokok di daerah tropis seperti sorgum, kacang-
kacangan, bawang merah dan bawang putih
Kelompok Sianida
Contoh: daun + umbi singkong , gaplek, gadung, rebung, daun ketela, kecipir,
dan terung
Kelompok Mimosin
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
9
contoh: pete cina dan lamtoro
Kelompok Isothiosianat
contoh: daun pepaya
Kelompok Asam
contoh: jeruk nipis, belimbing wuluh dan cuka

4. Faktor Zat Gizi Lain
Defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap pembentukan hormon dari
kelenjar tiroid terutama tahap transportasi hormon. Baik T
3
maupun T
4
terikat oleh protein
dalam serum, hanya 0,3 % T
4
dan 0,25 % T
3
dalam keadaan bebas. Sehingga defisiensi
protein akan menyebabkan tingginya T
3
dan T
4
bebas, dengan adanya mekanisme umpan
balik pada TSH maka hormon dari kelenjar thyroid akhirnya menurun.

Gambar 3. Homeostasis Hormon Tiroid
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
10

Gambar 4. Perbandingan keadaan cukup dan kurang yodium

FAKTOR RISIKO
1. Faktor konsumsi makanan zat goiterogenik
Kartono ( 2004 ), goiterogen adalah bahan kimia yang bersifat toksik terhadap tiroid atau
dipecah untuk menghasilkan bahan kimia toksik. Goiterogenik yaitu zat yang dapat
menghambat produksi ataupun penggunaan hormon tiroid. Dahro ( 2004 ), zat goiterogenik
tiosianat dapat menyebabkan kejadian GAKY menjadi lebih parah. Tiosianat terdapat di
berbagai makanan, seperti singkong, kubis/kol, lobak cina dan rebung. Thaha dkk ( 2000 )
menyatakan bahwa tiosianat atau senyawa mirip tiosianat terutama bekerja dengan
menghambat mekanisme transpor aktif yodium ke dalam kelenjar tiroid. Konsumsi tiosianat
lebih tinggi secara bermakna pada daerah endemik dan konsumsi tiosianat lebih tinggi pada
kelompok kasus dibanding kelompok kontrol, rata-rata konsumsi zat goiterogen pada
daerah endemik tiga kali sehari, hal ini menunjukan bahwa ada faktor risiko konsumsi
makanan yang mengandung tiosianat dengan kejadian GAKY. Wuryastuti ( 1993 ), pada
masyarakat dengan kebiasaan konsumsi singkong (sumber tiosianat) dalam jumlah banyak,
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
11
dapat mengganggu pengambilan yodium oleh kelenjar tiroid. Aktivitas goiterogenik dari
tiosianat atau senyawa serupa dapat diatasi dengan penambahan yodium.
Gaitan E & Cooksey ( 1989 ) menyatakan bahwa pengaruh zat goiterogenik dapat terjadi
pada berbagai tingkatan dari metabolisme yodium :
a. Menghambat uptake iodida anorganik oleh kelenjar tiroid, contohnya tiosianat dan
isotiosianat yang menghambat proses ini karena berkompetisi dengan yodium.
b. Menghambat oksidasi iodida anorganik dan inkorporasi yodium yang sudah teroksidasi
dengan asam amino tyrosin untuk membentuk monoiodotyrosine ( MIT )
dan diiodotyrosine ( DIT ) serta menghambat proses coupling yang dimediasi oleh
enzym tiroid peroxidase ( TPO ), contohnya recorsinol dan senyawa fenolik lainnya,
flavonoids, aliphatic disulfides dan goitrin.
c. Menghambat pelepasan hormon tiroid (T3 dan T4) ke dalam sirkulasi darah, contohnya
kelebihan yodium dan garam lithium.

2. Konsumsi makanan kaya yodium
Fatimah ( 1999 ) menyatakan rata-rata konsumsi bahan makanan kaya yodium pada
penduduk di sa-desa lereng gunung daerah endemis GAKY 1-2 kali dalam seminggu,
sedangkan pada daerah dataran rendah konsumsi ikan laut 2-4 kali dalam seminggu. Hal ini
dipengaruhi oleh faktor kesediaan pangan, sosial ekonomi dan kebiasaan penduduk serta
tingkat pengetahuan tentang GAKY yang rendah.

3. Pengetahuan orang tua, terutama ibu
Fatimah ( 1999 ) menyatakan ada 13 - 19 % dari ibu di daerah endemik GAKY yang belum
pernah mendengar tentang yodium. Sedangkan yang tidak mengetahui tentang garam
beryodium ada 11-14 %. Kapsul yodiol pun hanya dikenal 36,7 %, terutama di daerah
endemik gondok.

4. Kandungan yodium dalam garam dapur
Program yodisasi garam adalah salah satu upaya yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia
untuk menanggulangi GAKY. Sejak awal dicetuskannya, program iodisasi garam dititik
beratkan pada pengadaan konsumsi garam beriodium, sehingga seluruh garam konsumsi
yang beredar di masyarakat mengandung yodium dengan kadar 40 ppm (Departemen
Perindustrian RI).

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
12
5. Kandungan yodium dalam air
Thaha dkk ( 2000 ) menyatakan bahwa kandungan yodium dalam tanah pertanian pada
daerah endemik gondok berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian gondok,
ditunjukan dengan hasil pengukuran kadar yodium dalam tanah di daerah endemik ( rata-
rata 0,13 g/L ) lebih rendah dari pada kandungan yodium tanah daerah non endemik (rata-
rata 0,21 g/L). Djokomoeljanto ( 1997 ) menyatakan penyebab GAKY di daerah endemik
adalah rendahnya asupan sehari-hari yang disebabkan oleh rendahnya kadar yodium di
dalam bahan makanan dan air minum.

6. Faktor genetik
Djokomoeljanto ( 1997 ), terdapatnya prevalensi yang tinggi kejadian gondok pada
beberapa anggota keluarga disebabkan rendahnya efisiensi biologi tiroid. David ( 1990 ),
ditemukannya antibodi imunoglubolin ( Ig ) dalam serum penderita, antibodi ini mungkin
diakibatkan karena suatu kelainan imunitas yang bersifat herediter yang memungkinkan
kelompok limfosit tertentu dapat bertahan, berkembang biak dan mengekskresi
imunoglobulin stimulator, sebagai respon terhadap beberapa faktor perangsang.

7. Gangguan fungsi metabolisme tiroid
Fungsi tiroid merupakan salah satu komponen sistem yang sangat kompleks. Bila terjadi
defek pada salah satu fase akan mempengaruhi status tiroid, misalnya pada pasien dengan
sindrom resistensi hormon tiroid sebenarnya memiliki fungsi tiroid yang normal tetapi
statusnya bisa berkisar dari hipotiroid sampai hipertiroid. Dengan kata lain baik kekurangan
maupun kelebihan asupan yodium akan memberikan dampak terhadap fungsi maupun
morfologi kelenjar tiroid ( Masjhur, 2001).

KLASIFIKASI
GAKI ringan:
Prevalensi goiter : 5 - 19,9% (anak usia sekolah)
Iodium urine : 50 99mg/l

GAKI sedang :
Prevalensi goiter : 20 29,9% dan beberapa hypothyroidism.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
13
Iodium urine : 20 49 mg/hr

GAKI berat :
Prevalensi goiter : 30%, endemic cretinism
Iodium urine : < 20 mg/l

MANIFESTASI KLINIS
GAKY dapat berakibat pada janin, bayi baru lahir, anak-anak dan dewasa.
1. Kekurangan yodium pada janin
Kekurangan yodium pada janin terjadi akibat ibunya kekurangan yodium selama masa
kehamilan. Keadaan ini akan menyebabkan peningkatan angka kejadian lahir mati, abortus
dan cacat bawaan. Akibat lain yang lebih berat pada janin yang kekurangan yodium adalah
kretin endemik. Terdapat dua tipe kretin endemik, nervosa dan hipotiroidisme. Lebih
banyak didapatkan adalah tipe nervosa, ditandai dengan retardasi mental, bisu tuli dan
kelumpuhan spastik pada kedua tungkai. Sedangkan pada tipe hipotiroidisme, ditandai
dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.
Penelitian terbaru menunjukkan, transfer hormon tiroid dari ibu ke janin pada awal
kehamilan sangat penting untuk perkembangan otak janin. Bila ibu mengalami kekurangan
yodium sejak awal kehamilannya, maka transfer hormon tiroid ke janin akan berkurang
sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi. Sehingga perkembangan otak janin sangat
tergantung pada hormon tiroid ibu pada trimester pertama kehamilan, bila ibu kekurangan
yodium maka akan berakibat pada rendahnya kadar hormon tiroid pada ibu dan janin.
Dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah dapat membuat hormon tiroid
sendiri, namun karena kekurangan yodium dalam masa ini maka juga akan berakibat pada
kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga berakibat hipotiroidisme pada janin.

2. Kekurangan yodium pada saat bayi baru lahir
Fungsi tiroid pada bayi baru lahir berhubungan erat dengan keadaan otaknya pada saat bayi
tersebut lahir. Pada bayi baru lahir, perkembangan otak baru mencapai sepertiga, kemudian
terus berkembang dengan cepat sampai usia dua tahun. Pembentukan hormon tiroid sangat
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
14
tergantung pada kecukupan yodium, dan hormon ini sangat penting untuk perkembangan
otak. Di Negara-negara berkembang dengan kekurangan yodium berat, penemuan kasus
dapat dilakukan dengan pengambilan darah dari pembuluh darah balik tali pusat segera
setelah bayi lahir untuk pemeriksaan kadar hormon tiroid dan TSH. Disebut hipotiroidisme
neonatal, bila didapatkan kadar tiroid kurang dari 3 mg/dl dan TSH lebih dari 50 mU/mL.
Pada daerah dengan kekurangan yodium yang sangat berat, lebih dari 50 % penduduk
mempunyai kadar yodium urin kurang dari 25 mg per gram kreatinin, kejadian
hipotiroidisme neonatal sekitar 75-115 per 1000 kelahiran. Yang mencolok, pada daerah
dengan kekurangan yodium ringan, kejadian gondok sangat rendah dan tidak ada kretin,
angka kejadian hipotiroidisme neonatal turun menjadi 6 per 1000 kelahiran. Dari
pengamatan ini disimpulkan, bila kekurangan yodium tidak dikoreksi maka hipotiroidisme
akan menetap sejak bayi sampai masa anak. Ini berakibat pada retardasi perkembangan
fisik dan mental, serta risiko kelainan mental sangat tinggi. Pada populasi di daerah
kekurangan yodium berat ditandai dengan adanya penderita kretin yang sangat mencolok.

3. Kekurangan yodium pada masa anak-anak dan dewasa
Penelitian pada anak sekolah di daerah endemis kekurangan yodium menunjukkan prestasi
sekolah dan IQ kurang dibandingkan dengan kelompok umur yang sama yang berasal dari
daerah yang berkecukupan yodium. Dapat disimpulkan kekurangan yodium mengakibatkan
penurunan keterampilan kognitif. Semua penelitian di daerah kekurangan yodium
memperkuat bukti kekurangan yodium dapat menyebabkan kelainan otak yang berdimensi
luas. Keadaan ini disebut sebagai hipotiroidisme otak, yang akan menyebabkan bodoh dan
lesu, hal ini merupakan tanda hipotiroidisme pada anak dan dewasa. Keadaan lesu ini dapat
kembali normal bila diberikan koreksi yodium, namun lain halnya bila keadaan yang terjadi
di otak. Ini terjadi pada janin dan bayi yang otaknya masih dalam masa perkembangan,
walaupun diberikan koreksi yodium otak tetap tidak dapat kembali normal.

Secara terperinci, dampak kekurangan yodium :
1. Kemampuan mental dan psikomotor berkurang.
2. Angka kematian perinatal meningkat, demikian gangguan perkembangan fetal dan
pasca lahir.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
15
3. Hipotiroidisme neonatal banyak ditemukan di daerah dengan endemik berat.
4. Pada penduduk anak dan dewasa ditemukan hipotiroidisme klinis dan biokimiawi.
5. Di daerah endemik gondok, kadar yodium pada air susu ibu lebih rendah
dibandingkan dengan daerah non endemik ( 0,44 vs 10,02 ug/dl ).
6. Pada otak terlihat kalsifikasi ganglion basal, hipofisis membesar, tetapi arti klinik
yang jelas belum diketahui.
7. Terdapat minimal brain damage di daerah yang terkesan sudah iodine replete,
dengan IQ point yang terlambat 10-15 point meskipun status tiroid sudah kembali
normal.
8. Ada keterlambatan per-kembangan fisik anak misalnya lambatnya mengangkat
kepala, tengkurap, berjalan, hiporefleksi, strabismus konvergen dan hipotoni otot

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengukuran GAKY dalam populasi menggambarkankan tingkat keparahan masalah dan
juga menggambarkan kemajuan dalam berkurangnya penderita GAKY. Pengukuran GAKY
dipakai sebagai informasi penting dalam memutuskan apakah suatu program
pemberantasan GAKY masih diperlukan dan untuk menunjukkan keefektifannya dalam
mengurangi jumlah penderita GAKY.

1. Pengukuran kelenjar tiroid dengan palpasi
Arisman ( 2004 ), pengukuran dengan palpasi telah menjadi standar untuk mengukur
gondok. Pada anak usia sekolah, kelenjar tiroid masih amat mudah dan cepat bereaksi
terhadap perubahan masukan yodium dari bahan pangan.Karena itu kasus gondok pada
anak usia sekolah ( 6-12 tahun ) dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam perkiraan besaran
GAKY di masyarakat pada suatu daerah. Survei epidemiologis untuk gondok endemik dan
prevalensi gondok endemik diperoleh dari survei pada anak sekolah dasar didasarkan atas
klasifikasi sebagai berikut :

1. Grade 0 : Normal
Dengan inspeksi tidak terlihat, baik dalam posisi datar maupun tengadah maksimal,
dan dengan palpasi tidak teraba.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
16
2. Grade IA
Kelenjar Gondok tidak terlihat, baik dalam posisi datar maupun penderita tengadah
maksimal, dan palpasi teraba lebih besar dari ruas terakhir ibu jari penderita.
3. Grade IB
Kelenjar Gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, tetapi terlihat dengan
tengadah maksimal dan dengan palpasi teraba lebih besar dari Grade IA.
4. Grade II
Kelenjar Gondok dengan inspeksi terlihat dalam posisi datar dan dengan palpasi
teraba lebih besar dari Grade IB.
5. Grade III
Kelenjar Gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6 meter atau lebih.

Klasifikasi ini mampu memberikan tingkat perbandingan di antara survei di setiap wilayah.
Gondok yang lebih besar mungkin tidak membutuhkan palpasi untuk diagnosis. Prevalensi
gondok endemik dari grade 1 sampai dengan grade 3 dinamakan Total Goiter Rate ( TGR )
sedangkan grade 2 dan grade 3 dinamakan Visible Goiter Rate ( VGR ). Terdapat beberapa
kelebihan palpasi sebagai suatu metode pengukuran, yaitu palpasi adalah suatu teknik yang
tidak memerlukan instrumen, bisa mencapai jumlah yang besar dalam periode waktu yang
singkat, tidak bersifat invasif dan hanya menuntut sedikit ketrampilan. Palpasi juga
memiliki beberapa kelemahan, di antaranya dapat terjadi perbedaan antar pemeriksa dengan
kemampuan dan pengalaman yang berbeda-beda khususnya dalam gondok endemik grade
0 dan grade 1. Hal ini telah ditunjukkan oleh penelitian-penelitian para peneliti yang
berpengalaman di mana kesalahan klasifikasi bisa sebesar 40 %.

Gambar 5. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid dengan Palpasi
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
17
2. Pengukuran volume tiroid dengan ultrasonografi ( USG ) tiroid
Objektivitas bisa didapatkan dalam survei gondok dengan pengukuran-pengukuran
ultrasonografi seperti yang digunakan dalam penelitian medis terkini. Teknik ini mulai
lazim digunakan dan memberikan ukuran tiroid lebih luas dan bebas dari bias pengukuran.
Prosedurnya tidak invasif dan bisa digunakan untuk mengukur ratusan orang dalam sehari.
Tekniknya dapat dipelajari dengan baik dalam beberapa hari. Kelebihan dari pemeriksaan
ultrasonografi ( USG ) adalah memberikan suatu pengukuran objektif dari volume tiroid,
dalam beberapa kasus mungkin dapat menunjukkan pertimbangan terhadap GAKY dan
karenanya program pencegahan yang mahal bisa dihindarkan, ultrasonografi dengan cepat
menggantikan palpasi.
Pemeriksaan USG juga merupakan suatu pengukuran yang tepat untuk melihat pembesaran
volume tiroid dibandingkan dengan palpasi. Volume tiroid yang dihitung berdasarkan
panjang, jarak dan ketebalan dari kedua cuping, volume yang dihitung dibandingkan
dengan standar dari suatu populasi dengan masukan iodium yang cukup. Pengukuran
volume tiroid dengan menggunakan ultrasonografi untuk saat ini hanya bisa dilakukan oleh
dokter ahli yang sudah terlatih dalam teknik ini. Hasil pemeriksaan volume tiroid pada
sampel merupakan penjumlahan dari volume tiroid kanan dan kiri. Kelemahan dari
ultrasonografi di antaranya memerlukan pelatihan, biaya instrumen yang mahal dan
masalah transportasi dari pusat ke wilayah survei ( Untoro Y, 1999).




Gambar 6. Teknik Pengukuran Kelenjar Tiroid dengan USG 1
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
18

Gambar 7. Teknik Pengukuran Kelenjar Tiroid dengan USG 2

3. Kadar yodium dalam urin ( UIE / Urinary Iodine Excretion )
Penilaian jumlah asupan yodium dalam makanan sulit dilakukan, karena kandungan
yodium dalam makanan mempunyai variasi yang sangat luas dan sangat tergantung dari
kandungan yodium dalam tanah , oleh karena kadar yodium yang dibutuhkan amat sedikit
(dalam ukuran mikro ) dan kandungan yodium dalam makanan sukar diperiksa, maka
penilaian asupan yodium dapat diperiksa dengan cara yang lebih praktis dan mudah
dilaksanakan yaitu berdasarkan pengukuran ekskresi yodium dalam urin, sedangkan
ekskresi yodium di dalam feses dapat diabaikan (Syahbuddin, 2002).
Pengukuran yodium yang paling dapat dipercaya dan diandalkan adalah median kadar
yodium dalam urin sampel yang mewakili, karena sebagian besar (lebih dari 90 %) yodium
yang diabsorpsi dalam tubuh akhirnya akan diekskresi lewat urin. Dengan demikian UIE
jelas dapat menggambarkan intake yodium seseorang. Kadar UIE dianggap sebagai tanda
biokimia yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya defisiensi yodium dalam suatu
wilayah ( Dunn, 1993 dan Stanbury, 1996).
Sampel terbaik untuk pemeriksaan UIE adalah urin tampung selama 24 jam karena dapat
menggambarkan fluktuasi yodium dari hari ke hari. Tetapi, pengambilan sampel urin 24
jam ini tidak mudah dilakukan di lapangan. Beberapa peneliti kemudian menggunakan
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
19
sampel urin sewaktu dan mengukur kadar kreatinin dalam serum, lalu dihitung sebagai
rasio UIE per gram kreatinin. Hal ini dilakukan dengan asumsi ekskresi kreatinin relatif
stabil. Tetapi ternyata cara ini mempunyai kelemahan karena kadar kreatinin serum sangat
tergantung pada massa otot, jenis kelamin dan berat badan seseorang (Rachmawati, 1997).
Klasifikasi tingkat kelebihan dan kekurangan yodium dalam suatu wilayah, berdasarkan
median kadar yodium dalam urin ( UIE ) sebagai berikut ( WHO 2001) :
a. Defisiensi berat, kadar UIE <20 g/L.
b. Defisiensi sedang, kadar UIE 20-49 g/L.
c. Defisiensi ringan, kadar UIE 50-99 g/L.
d. Optimal, kadar UIE 100-200 g/L.
e. Lebih dari cukup, kadar UIE 201-300 g/L.
f. Kelebihan ( excess ), kadar UIE >300 g/L.

Klasifikasi endemisitas Gangguan Akibat Kekurangan Yodium berdasarkan median UIE
adalah sebagai berikut ( WHO 1994) :
a. Non endemis, kadar UIE 100 g/L.
b. Endemis ringan, kadar UIE 50-99 g/L.
c. Endemis sedang, kadar UIE 20-49 g/L.
d. Endemis berat, kadar UIE < 20 g/L.

PENATALAKSANAAN
Farmakologi

Menurut ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan RI 1986, kandungan KIO3 yang
dianjurkan adalah 40 ppm. Yodium diperlukan untuk biosintesis hormon thyroid dan
kebutuhan yodium meningkat pada kaum remaja dan pada ibu hamil. Banyaknya metode
suplementasi yodium tergantung pada beratnya GAKY pada populasi, grade iodium urine
dan prevalensi goiter dan kretinisme (Fahrarien, 2012).
1. GAKY ringan akan membaik dengan sendirinya jika status ekonomi penduduk
ditingkatkan.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
20
2. GAKY sedang dapat dikontrol dengan garam beryodium ( biasanya 20-40 mg/kg
pada tingkat rumah tangga ). Disamping itu minyak beryodium diberi secara oral
atau suntik yang dikoordinasi melalui puskesmas.
3. GAKY berat, penanganannya dengan pemberian minyak beryodium ( secara oral
pada 3, 6 dan 12 bulan maupun suntikan setiap 3-4 tahun sekali ) sampai sistem
garam beryodium efektif. Jika terdapat gangguan sistem saraf pusat, dicegah
dengan sempurna.
Kapsul yodium adalah preparat minyak beryodium dengan dosis tinggi dan tiap kapsul
berisi 200 mg yodium dalam larutan minyak. Kapsul yodium diberikan kepada penduduk
yang tinggal di daerah endemik sedang dan berat ( prevalensi TGR 20 %) setiap tahun
sekali dengan ketentuan ( Depkes, 2000 ) :
1. Bayi 0-1 kapsul/tahun.
2. Balita 1-5 1 kapsul/tahun.
3. Wanita 6-35 2 kapsul/tahun.
4. Pria 6-20 2 kapsul/tahun.
5. Wanita hamil dan menyusui 2 kapsul/tahun.

Non Farmakologi
Bahan makanan yang banyak mengandung Yodium adalah bahan makanan yang berasal
dari laut. Dalam ikan laut dapat mencapai 830 mg/kg, dibandingkan dengan daging dengan
kandungan yodium hanya 50 mg/kg, telur hanya 93 mg/kg. Selain ikan laut, cumi-cumi
juga mengandung yodium cukup tinggi, yaitu sekitar 800 mg/kg. Yang paling tinggi
kandungan yodiumnya adalah rumput laut (ganggang laut), khususnya yang berwarna
coklat. Jumlah yodium yang dibutuhkan tubuh per hari, minimal 100 mg. Maka bila
mengkonsumsi ikan laut sebanyak 100 g/hari sudah dapat mencukupi. Sumber yodium lain
yang mudah kita temui adalah garam. Terutama garam beryodium dengan kadar yodium
antara 30-80 ppm (part per million).
Pemberian yodium atau hormon tiroid jangka panjang akan mengecilkan ukuran kelenjar
tiroid. Namun pada kasus dengan gondok besar yang disertai dengan gejala penekanan,
perlu diadakan tindakan operasi. Tetapi tindakan perorangan ini sulit dijalankan secara luas,
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
21
apabila mepertimbangkan jumlah penduduk yang terkena di daerah gondok endemis.
Pencegahan dengan pemberian yodium dirasa lebih efektif dan efisien.

PENCEGAHAN

Upaya pencegahan dan penanggulangan GAKY, dilakukan dengan anjuran menggunakan
garam beryodium dalam hidangan sehari-hari. Agar yodium yang terkandung di dalam
garam tidak hilang saat proses masak, dianjurkan penambahan dilakukan saat masakan
sudah matang dan dalam keadaan dingin.
Upaya pencegahan dan penanggulangan dilakukan dengan : Monitoring garam setiap
Februari dan Agustus di tingkat masyarakat; Penyuluhan kesehatan terutama mengenai
GAKY, garam beryodium, bahan makanan yang banyak mengandung zat yodium yang
diperoleh dari makanan berasal dari laut dan bahan makanan goiterogenik (penghambat
penyerapan yodium) seperti kol, singkong, jagung, rebung dan ubi jalar; Pemberian kapsul
minyak yodium untuk setiap kasus yang ditemukan, ibu hamil dan wanita usia subur;
Pemetaan GAKY sebagai upaya pelacakan kasus GAKY di tingkat masyarakat.
Sebagai upaya dari kegiatan tindak lanjut penanggulangan dan pencegahan GAKY adalah
dengan meningkatkan kerja sama dari berbagai sektor terkait, dalam melakukan
pemantauan mutu garam beryodium. Setiap upaya yang ditujukan untuk kepentingan
masyarakat, akan lebih berhasil jika masyarakat secara aktif turut berperan serta. Oleh
karena itu, peran serta masyarakat sangat diperlukan terutama dalam rangka meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan.

KIE
Kegiatan pencegahan dan penaggulangan GAKY yang telah dilakukan oleh pemerintah
meliputi komunikasi , informasi dan edukasi (KIE ) terhadap 3 ( tiga ) kelompok sasaran
yaitu :
a. Para perencana, pengelola dan pelaksana program.
b. Masyasarakat didaerah gondok endemik.
c. Masyarakat di luar daerah gondok endemik.
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
22
Intervensi GAKY terus dilakukan dengan bantuan sejumlah badan dunia. Program
intensifikasi penanggulangan GAKY yang berlangsung tahun 1997 2003 bertujuan
menurunkan prevalensi GAKY lewat pemantauan status GAKY pada penduduk,
meningkatkan persediaan garam beriodium serta meningkatkan kerja sama lintas sektoral.
Upaya penanggulangan GAKY sudah dimulai sejak pemerintahan Belanda, melalui
distribusi garam beryodim ke daerah endemik berat. Penanggulangan GAKY dilakukan
dalam dua jangka waktu, yaitu :
Jangka Panjang : suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi
dengan iodium dimana program ini disebut garam iodium.
Jangka pendek : suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik secara oral
maupun suntikan. Upaya ini hanya ditunjukkan pada daerah endemik berat dan di
Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 1974.



















Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
23
BAB III. KESIMPULAN

1. Yodium merupakan salah satu unsur mineral mikro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Walaupun dalam jumlah yang relative kecil, namun apabila diabaikan dapat
menimbulkan efek atau dampak yang cukup berpengaruh dalam kehidupan semua
orang.
2. GAKY merupakan masalah gizi yang sangat serius, karena dapat menyebabkan berbagai
penyakit gangguan seperti Gondok, kreatinisme dan keterlambatan pertumbuhan dan
kecerdasan.
3. Dampak GAKY terhadap permasalahan di lingkungan masyarakat :
- Pengaruh GAKY terhadap Kelangsungan Hidup.
- Pengaruh GAKY terhadap Perkembangan Intelegensia.
- Pengaruh GAKY terhadap Perkembangan Sosial.
- Pengaruh GAKY terhadap Perkembangan Ekonomi.
4. Dosis pemberian yodium adalah sebagai berikut :
1. Bayi 0-1 kapsul/tahun.
2. Balita 1-5 1 kapsul/tahun.
3. Wanita 6-35 2 kapsul/tahun.
4. Pria 6-20 2 kapsul/tahun.
5. Wanita hamil dan menyusui 2 kapsul/tahun.
5. Penanggulangan yang paling baik untuk gangguan akibat kekurangan yodium adalah
dengan pencegahan, salah satunya dengan penyebaran informasi tentang pentingnya
mengkonsumsi garam beryodium, pemberian kapsul pertahun pada masyarakat yang
terkena penyakit Gondok




Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Azuma Kamada (406127083)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Periode 17 Februari - 26 April 2014
24
DAFTAR PUSTAKA

1. Annstas, George. Iodine Deficiency. 2012. Diunduh pada tanggal 15 April 2014. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/126004-overview.
2. Sommer, Alfred. Iodine deficiency and Its Consequences A Field Guide To Detection
and Control. 1995. WHO.
3. Gibney, J Michael, et al. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC; 2009: 51-5.
4. Behrman, R. dan, R. Kliegman. Nelson Textbook of Pediatics 17
th
edition. pp 242
5. Nutrition Information Centre University of Stellenbosch. Iodine. Diunduh pada tanggal 13
April 2014. Available at http://www.sun.ac.za/nicus.
6. Elzouki, Abdelaziz Y, et al. Textbook Of Clinical Pediatrics Second Edition. London:
Springer; 2012: 321-5.
7. Depkes RI. Buku Panduan Pemberian Suplemen Yodium. Depertemen Kesehatan
Republik Indonesia Riset Kesehatan Dasar Indonesia. 2000: 1-25.
8. Departemen Kesehatan (DepKes). 1996. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium dan
Garam Beriodium. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat: Jakarta.
9. Rusmiati, Y. 2006. Penaggulangan GAKI. Diunduh pada 14 April 2014.
10. Notoatmodjo S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta:1996.
11. Sherwood L, Pendit BU, et al. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC. Jakarta:
2001.