Anda di halaman 1dari 20

BUDIDAYA IKAN NILA

Submitted by rijal on Tue, 06/03/2008 - 07:34


• AGRIBISNIS PERIKANAN

1. SEJARAH SINGKAT
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan
pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-
danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang
beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak
dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal
seperti daging ikan kakap merah. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian
dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila
adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal
Perikanan.
2. SENTRA PERIKANAN
Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.
3. JENIS
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut: Kelas : Osteichthyes Sub-kelas :
Acanthoptherigii Crdo : Percomorphi Sub-ordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus :
Oreochromis Spesies : Oreochromis niloticus. Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu:
nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak
bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan
air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan.
Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya
plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak
mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk
pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan
yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di
kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
5. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan
bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus
deras.
6. Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan
keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
7. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
8. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Kolam
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila
tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb). Adapun
jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain:
 Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan
Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam
induk hanya 2 ekor/m 2 . Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air
berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam
sebaiknya berpasir.
 Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada
saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
 Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
 Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas
dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah
dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I
ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini
memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil
maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual
kepada pera petani.
 Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih
gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.
Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/meter persegi.
 Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan
kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
 Kolam/tempat pemberokan, pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di
jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan
kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman
kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula
untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan
petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60
cm, dibuat parit selebar 1 - 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.
2. Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya
adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung
sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran,
timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring
secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain
yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah
warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan
penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba
kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat
penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan
telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib
(untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap
ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk
menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya=
scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk
menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3. Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam
menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan
kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama
dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa
pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700
gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan
TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
4. Pembibitan
 Pemilihan Bibit dan Induk
Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:
 Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan
kwalitas yang tinggi.
 Pertumbuhannya sangat cepat.
 Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
 Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
 Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang
relatif buruk.
 Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram
lebih per ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
 Betina
 Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur,
lubang pengeluaran telur dan lubang urine.
 Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
 Warna perut lebih putih.
 Warna dagu putih.
 Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
 Jantan
 Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus
dan lubang sperma merangkap lubang urine.
 Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
 Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
 Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
 Jika perut distriping mengeluarkan cairan.
 Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara
liar.
Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang
sedang beranak lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang
lebih lama agar dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan. Untuk
mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode kultur
tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang
dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila
betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:
1. Secara manual (dipilih)
2. Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
3. Merangsang perubahan seks dengan hormon
4. Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.
 Perendaman
 Perlakuan hormon melalui pakan
Pembenihan dan Pemeliharaan Benih Pada usaha pembenihan,
kegiatan yang dilakukan adalah :
 Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk
menghasilkan burayak (anak ikan).
 Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih
ikan yang lebih besar. Usaha pembenihan biasanya
menghasilkan benih yang berbeda-beda ukurannya. Hal ini
berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih ikan
nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut "benih
kebul". Benih yang berumur 2-3 minggu setelah menetas
disebut benih kecil, yang disebut juga putihan (Jawa Barat).
Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil dipelihara di
kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1
minggu akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat
8-10 gram/ekor. Benih ini disebut gelondongan kecil.
Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu, ukurannya ± 5 cm.
Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-
1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-
12 cm dengan berat 15-20 gram. Benih ini disebut
gelondongan besar.
Pemeliharaan Pembesaran Dua minggu sebelum dan dipergunakan
kolam harus dipersiapkan. Dasar kolam dikeringkan, dijemur
beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan dicangkul sambil
diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai teriadi
kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang
saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah
dasar dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas
hamanya. Untuk mi dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300
kg/ha (bila dipakai kapur panas, Ca 0). Kalau dipakai kapur
pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk kandang ditabur dan
diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk kandang
dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat
tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah
semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan
dibiarkan 2-3 hari agar teriadi mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu
tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-100 cm. Kini kolam siap
untuk ditebari induk ikan. Pemupukan Pemupukan dengan jenis
pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta kapur. Cara
pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar yang
ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan
tingkat kesuburan di tiap daerah. Beberapa hari sebelum penebaran
benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu
air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam dicangkul dan
diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-
150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam
menjadi 7,0-8,0 dan juga dapat mencegah serangan penyakit.
Selanjutnya kolam diberi pupuk organik sebanyak 300-1.000
kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha.
Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih dahulu dan
ditebarkan merata di dasar kolam. Selesai pemupukan kalam diairi
sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara
berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han kelima air
kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari
semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu
fitoplankton mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna
air kolam menjadi kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai
banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik
serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya. Selama
pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75- 100 cm.
Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada
saat makanan alami sudah mulai habis. Pupuk susulan ini
menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk itu dibagi
menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam
keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam,
dua bush di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk.
Sedangkan yang dua keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut
kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha
diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang
kecil agar pupuk sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut
digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam.
Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam. Selain
pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan katul.
pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau
atau sawah yang diberakan. Pemberian Pakan Pemupukan kolam
telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun
binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik
nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan
ikan nila. Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan
tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan
kandungan lemak tidak lebih dan 3%. Pembentukan telur pada ikan
memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya. Perlu
pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan
daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan
tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet
sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar
diketahui berat bio massa maka diambil sampel 10 ekor ikan,
ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang
diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam kolam.
Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka
berat biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x
19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari.
Bahan pakan yang banyak mengandung lemak seperti bungkil
kacang dan bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan. Apalagi
kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak halus dan bekatul
boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu juga
berfungsi untuk menambah kesuburan kolam. Pemeliharaan
Kolam/Tambak Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila
tergantung pada tempat pemeliharaan dan input yang
tersedia.Target produksi harus disesuaikan dengan permintaan
pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan ukuran ikan
yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,
yaitu :
 Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)
Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang
belum berkembang. Input produksinya sangat sederhana.
Biasanya dilakukan di kolam air tawar. Dapat pula
dilakukan di sawah. Pengairan tergantung kepada musim
hujan. Kolam yang digunakan biasanya kolam pekarangan
yang sempit. Hasil ikannya hanya untuk konsumsi keluarga
sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem
ini telah dipopulerkan di wilayah desa miskin. Pemupukan
tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa
bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur
limbah pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.). Perkiraan
pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat
dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem
ekstensif sebenar cukup lumayan, karena pemanenannya
bertahap. Untuk kolam herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan
benih ikan nila sebanyak 20 ruang berukuran 30 ekor.
Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan
kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem
ini dapat mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian
air kolam menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan
seminggu sekali.
 Sistem semi-Intensif (teknologi madya)
Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di
tambak, di sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini
biasanya digunakan untuk pendederan. Dalam sistem ini
sudah dilakukan pemupukan dan pemberian pakan
tambahan yang teratur. Prasarana berupa saluran irigasi
cukup baik sehingga kolam dapat berproduksi 2-3 kali per
tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat dilakukan
secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya
membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan
tanaman padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil
ikan dan sawah ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun
kalau benih yang dipelihara sudah berupa benih
gelondongan besar. Budi daya ikan nila secara semi-
intensif di kolam dapat dilakukan secara monokultur
maupun secara polikultur. Pada monokultur sebaiknya
dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan
lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina. Sistem semi-
intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),
artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain
maupun dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak
kambing, itik dan sebagainya. Kandang dibuat di atas
kolam agar kotoran ternak menjadi pupuk untuk kolam.
Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga
dapat dipelihara bersama ikan nila. Limbah sayuran
menjadi pupuk dan pakan tambahan bagi ikan. Sedangkan
lumpur yang kotor dan kolam ikan dapat menjadi pupuk
bagi kebun sayuran. Usaha huler/penggilingan padi
mempunyai hasil sampingan berupa dedak dan katul. Oleh
karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan didekat
penggilingan tersebut. Hasil penelitian Balai Penelitian
Perikanan sistem integrated dapat menghasilkan ikan
sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.
 Sistem intensif (teknologi maju)
Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan
ikan paling modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat
tinggi disesuaikan dengankebutuhan pasar. Pemeliharaan
dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan
pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan
sesering mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan.
Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau
bahkan lebih. Pada usaha intensif, benih ikan nita yang
dipelihara harus tunggal dain jantan saja. Pakan yang
diberikan juga harus bermutu. Ransum hariannya 3% dan
berat biomassa ikan per hari. makanan sebaiknya berupa
pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.
Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya
sendiri dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan
yang diberikan knya habis dalam waktu 5 menit. Jika pakan
tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat
gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit,
perubahan kualitas air, udara panas, terlalu sering diberi
pakan.
2. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama
 Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
 Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
 Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
 Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
 Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
 Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam;
diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
2. Penyakit
 Penyakit pada kulit
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh
berlendir. Pengendalian: direndam dalam larutan PK (kalium
permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air,
pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian direndam dalam Negovon
(kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
 Penyakit pada insang
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.
 Penyakit pada organ dalam
Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit. Pengendalian:
sama dengan di atas. Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat
mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:
 Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
 Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
 Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
 Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi
satu pintu pemasukan air.
 Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
 Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya
dilakukan secara hati-hati dan benar.
 Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus
peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal
perkolaman.
2. PANEN
Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen sebagian.
1. Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air
tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di
depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan
ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan secepatnya
dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
2. Panen sebagian atau panen selektif
3. Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen
dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan
waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih
(biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya
dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1
jam.
3. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup
maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
 Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
 Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
 Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2. Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu
diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
 Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
 Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
 Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
 Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
 Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
sebagai berikut:
 Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
 plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
 Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
 air sumur yang telah diaerasi semalam.
 Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.
 Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
 Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
 Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume
media
 pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik:
 Masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
 hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan
air;
 Alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak
2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);
 kantong plastik lalu diikat.
 kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur
atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m,
dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat
tujuan adalah sebagai berikut:
 Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul
tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
 Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari
kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam
kantong plastik terjadi perlahan-lahan.
 Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin
selama 1- 2 menit.
 Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak
pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu,
dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari
berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain
seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4%
selama 3-5 menit.
 Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
4. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisa Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di
daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:
 Biaya produksi
 Sewa kolam Rp. 120.000,-
 Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,-
 Pakan
 Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
 Obat dan pupuk
 Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
 Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-
 Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
 Peralatan Rp. 100.000,-
 Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,-
 Biaya tak terduga 10% Rp. 133.340,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,-
 Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,-
 Keuntungan Rp. 913.260,-
 Parameter kelayakan usaha : B/C ratio 1,62
2. Gambaran Peluang Agribisnis
 Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai,
rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha
merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha
perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya
yang dilaksanakan oleh
 pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam
hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca
panen,
 penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan
import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan
ikan air tawar
 lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat
grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan
hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi
pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal,
maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang
cerah.
5. DAFTAR PUSTAKA
1. Sugiarto Ir, 1988, Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV.
Simplex (Anggota IKAPI)”.
2. Rahardi, F. 1993. Kristiawati, Regina. Nazaruddin. Agribisnis Perikanan, Penerbit
Swadaya, Jakarta.
Selasa, 17 Februari 2009
BUDIDAYA IKAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus bleeker)
BUDIDAYA IKAN NILA GIFT
(Oreochromis niloticus bleeker)

1. PENDAHULUAN
Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus bleeker) merupakan jenis ikan air tawar yang

mudah dikembangbi akan dan toleransinya yang tinggi


terhadap perubahan lingkungan maupun kemudahan pemeliharaannya. Rasanya
cukup gurih dan d i gemari masvarakat Indonesia.

jenis Ikan Nila diantaranya Citralada, tralada, lokal dan Nila GIFT yang masuk ke
Indonesia pada tahun 1984 dan 1996 dari ICLARAM Philipina melalui Balai Penelitian
Perikanan Air Tawar (Balitkanwar).

Teknik pembesaran Ikan Nila terapannya sangat mudah dilakukan sekali, baik
dilakukan. skala rumah tangga atau skala besar (perusahaan). Tempatnya pun
dapat dilaksanakan pada kolam tanah, kolam tembok dan Keramba jaring Apung
(KJA).

Untuk pemasarannya sangat luas baik dalam negeri maupun luar negeri (ekspor)
seperti masyarakat Jepang dan Singapura, terutama ukuran yang berat badannya di
atas 500 gram. Bagi konsumsi dalam negeri akan banyak menunjang usaha
perbaikan gizi keluarga.

Dilihat dari prospeknya, baik dalam maupun luar negeri sangat menjanjikan,
sehingga perlu langkah yang pasti untuk meningkatkan produksi agar kebutuhan
dalam negeri maupun luar negeri dapat terpenuhi.

PEMBESARAN IKAN NILA GIFT

Teknik pembesaran Ikan Nila GIFT terapannya ada. 3 (tiga) macam, yaitu :
A. Monoculture (Pemeliharaan Tunggal).

Luas lahan kolam pembesaran bervariasi, tergantung lahan yang tersedia. Dapat
berupa kolam tanah, kolam. berdinding tembok, Kolam Air Deras (KAD) dan
Keramba Jaring, Apung (KJA).

Air yang digunakan untuk pemeliharaan harus bebas polusi baik yang berasal dari
limbah industri, pertanian maupun Limbah rumah tinggal. Debit air 1- 5 It/ detik
untuk luas selahan 100 m2.

B. Polyculture (Pemeliharaan Campuran dengan Ikan lain).

Pemeliharaan Ikan Nila dapat juga dilakukan secara polyculture (campuran) dengan
jenis ikan lain, syaratnya ikan yang dimasukkan tidak merupakan pesaing
(kompetitor) atau pemangsa (predator) bagi ikan Nila. jenis serta prosentase
masing-masing ikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

C. Terpadu Longyam(BalongAyam) dan Unggas lainnya.

Untuk meningkatkan produksi, pemeliharaan Ikan Nila dapat dilakukan bersama


dengan pemeliharaan unggas. Berdasarkan dari pengalaman yang sudah banyak
dilakukan, pemeliharaan Ikan Nila yang menguntungkan bila dipadukan dengan
ayam petelur.

3. PERSIAPAN KOLAM

Persiapan Kolam pemeliharaan Ikan Nila meliputi :


a. Pengeringan kolam;
b. Perbaikan pematang, saluran pemasukkan dan pengeluaran;
c. Pengapuran dengan ukuran 25-1000 gram/m2;
d. Pemupukan dengan pupuk kandang 500 gram/ M2, urea 15 gram/ m2 dan TSP
gram/ m2.;
e. Pengisian air kolam;
f. Dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida;
g. Untuk mencegah h.ewan/ ikan lain masuk, maka dapat dipasang saringan pada
pintu masuk air;
h. Masukkan air sampai kedalaman 80 - 150 cm, kemudian tutup pintu pemasukkan
dan pengeluarannya, biarkan air tergenang;
i. Penebaran Ikan Nila dilakukan setelah 5 - 7 hari pengisian air kolam.

4. PENEBARAN BENIN IKAN NILA

Ukuran benih Ikan Nila yang disebarkan berukuran 8 - 12 cm atau ukuran berat 30
gram/ ekor dengan padat tebar 5 - 10 ekor/ m2 serta lama pemeliharaan, 6 bulan
hingga ukuran berat Ikan Nila mencapai 400 - 600 gram/ekor. Atau juga, untuk
padat penebaran benih Ikan Nila dapat dilihat di bawah ini :

5. PEMBERIAN MAKANAN
Komposisi makanan yang diberikan untuk Ikan Nila selain makanan alami dapat
diberikan makanan tambahan. yang diusahakan secara intensif, yaitu berupa
dedak, ampas kelapa, pellet atau sisa-sisa makanan dapur.

• Pada dasarnya pemberian pakan terdiri dari:


• Protein 20-30%;
• Lemak 70% (maksimal.);
• Karbohidrat 63 - 73%.
• Pakanyaberupa hijau-hijauan diantaranya adalah :
• Kaliandra;
• Kalikina atau kecubung;
• Kipat,
• Kihujan.

6. PENYAKIT

Penyakit Ikan Nila yang, paling serius adalah yang disebabkan oleh lingkungan dan
keadaan yang tidak menyenangkan, seperti terlalu padat, kekurangan makanan,
penanganan yang kurang baik dsb. Penanggulangan yang paling baik dan efektif
dengan cara memberikan kondisi yang lebih baik pada kolam ikan tersebut.

Sekali kolam ikan terlanda penyakit yang, serius biasanya terlambat untuk
melakukan tindakan apapun. Penyembuhan dengan memberikan antibiotic atau
fungisida ke seluruh kolam memerlukan biaya yang cukup mahal.

Oleh karma itu melakukan pencegahan akan lebih murah dibandingkan dengan
melakukan pengobatan, yaitu dengan jalan lain melakukan pengeringan pada
kolam dan melakukan penyiapan dari permulaan.

7. PEMANENAN

Setelah masa pemeliharaan 4 - 6 bulan, Ikan Nila dapat dipanen. Pada saat panen
total ukuran ikan bervariasi di atas 50 gram/ ekor.

Sistem pemanenan dapat juga dilakukan secara bertahap, dimana hanya dipilih
ukuran konsumsi (pasar). Pada tahap pertama dengan menggunakan jaring dan
setiap bulan berikutnya secara bertahap.

Teknik memanen yang paling mudah dan murah dengan cara mengeringkan kolam
secara total atau sebagian. Bila ikan dipanen secara keseluruhan, maka kolam
dikeringkan sama sekali. Akan tetapi apabila akan memanen sekaligus maka hanya
sebagian air yang dibuang.

Selama panen air segar perlu dialirkan ke dalam kolam untuk mencegah agar ikan
tidak banyak yang mati. Ikan akan berkumpul di bak-bak (kubangan) penangkapan
atau dalam saluran, kemudian diserok/ditangkap.

Setelah panen selesai, kolam pemeliharaan dikeringkan dan dilakukan persiapan


kembali untuk pemeliharaan berikutnya.
sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.


2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon
the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding
plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature,
CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond
bottom and watershed.
5. Fertlity of water can be increased by adding inorganic fertilizers.
6. After adding all essential minerals and all available nitrogen, the next limiting
factor is CO2. This compound can be increased by adding organic matter followed
by liming (Ca, Mg).
7. The next limiting factor in fish production, after mineral and CO2 are provided, is
oxygen demand of all living and dead organisms in the water. This can be supplied
by running water rich in oxygen or pumping water from the bottom and aerate it. If
oxygen in the water falls below 1.0 ppm, fish die. One ppm oxygen is enough for
fish in resting condition, but for active fish, 3.0 ppm is needed.
8. Microscopic plants (planktonic algae) are the principal food producing plants for
fishes.
9. Microscopic plants are the most desirable, because : (a) short life cycle, (b)
mobility, (c) more nutritious, and (d) small size.
10. Rooted plants are less desirable, because: (a) long life, (b) immobility, (c) less
nutritious, (d) large size, and (e) shading effect.
11. a. The more fertile the water the heavier the plankton concetration becomes,
the more shallow becomes light penetration and photosynthesis. b. Heavy plankton
concetration in top water causes shallow stratification and low oxygen or none in
deeper water. Strong wind, or heavy cold rain causes overtum, causing trouble to
the fish. Water with no oxygen spread too fast and could kill the fish. Heavy
plankton can be killed by the use of CuSO4. Light can penetrate deeper, so does the
production of oxygen. c. the deeper the fertile lake or pond (heavy plankton) the
higher the precentage of the total volume of water deficient of oxygen during period
of stratification.
12. Rooted plants are desitable, in part, in waters of low fertility, because : (1)
Oxygenate deep water as far down and light penetrates, (2) draw nutrients from
pond bottom soil, (3) prevent marginal erosion, (4) provide surface for food
organisms, and (5) provide food for fish derectly or indirectly.
13. The longer the food chain from plant to fish the lower the production of fish
obtained. The conversion rate from: Plant to fish = 5 – 10 Plant to insect = 5 – 10
Insect to fish = 3 – 10 fish to fish = 2 – 5
14. At a given level of fertility the fish production is constant for a particular species
and a certain rate of stocking. The total pound/acre is dependent upon the number
of fish present and the size harvested. Small fish produce high number of lbs/acre,
and large ones produce small number of lbs/acre.
15. For short period of time we can regulate number ( and final size) by the number
stocked. This can be done by frequent draining before the fish are old enough to
spawn. For non spawner there would be no difficulity. Mortality rate can be up to 20
percent a year.
16. For long period of time the number of fish and sizes must be controlled by
biological methods such as: 1. Repression - prevents reproduction, e.g. carp. 2.
Predation - method of controlling the number of young fish. 3. Starvation - this could
lead to weakning of fish, thus vulnerable to disease and parasites. 4. Limited
spawing area
17. The greatest total weight to any one forage species (for short periode of time for
piscivorous fish) can be produced in waters containing only that species.
18. The greatest total weight of fish can be produced by combination of forage fish
differing in feeding habits.
19. The presence of piscivorous species decreases the total weight or fish,
decreases the number of fish, but increases the average size.
20. The rate of feeding required to maintain a fish is less than the rate required for
growth.
21. The amount of food required to maintain one-pound fish for one year is equal to
the feed required to raise the fish to one pound.
22. A population of fish at a given level of food abundance will tend to expand until
harvestable food equals the amount required for maintenance.
23. Feeding at maintenance is uneconomical for extended periods. Feeding to
satiety is uneconomical too. Econimical feeding rate varies with the size of fish.
24. Economical feeding rate per acre is limited by the eficiency of the ecological
system in waste disposal and reoxygenation.
25. High quality feeds must contain in proper proportion; protein for building fish
flesh carbohydrate and fat for energy, minerals for contruction and regulation, and
vitamins for regulation of life processes.
26. Quality of feed influences (a) the amount of waste, (b) health of fish, and (c)
rate of growth.
27. By increasing feeding rate the stocking rate of fish can be increased. This could
increase the incidence of parasites and diseases.
28. Within limits regulation of feeding rates can replace predation in obtaining a
high percentage of harvestable fish.
29. Rates of growth of fish vary widely and are dependent upon : (a) their ability to
grow, (b) the quality of feed, (c) space – waste disposal system, (d) temperature, (e)
the amount of feed per individual.
30. Minimum age at spawning is dependent upon rate of growth.
H.S. SWINGLE Auburn University