Anda di halaman 1dari 17

1

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA


PENENTUAN KADAR PROTEIN DENGAN MENGGUNAKAN METODE
LOWRY
I. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kadar protein dalam campuran
albumin telur (putih telur) dan kuning telur.

II. Dasar Teori
Metode Lowry
Reagen pendeteksi gugus-gugus fenolik, seperti reagen Folin-Ciocalteu telah
digunakan dalam penentuan konsentrasi protein oleh Lowry (1951), yang kemudian
dikenal dengan metode Lowry. Dalam bentuk yang paling sederhana reagen Folin-
Ciocalteu dapat mendeteksi residu tirosin dalam protein karena kandungan fenolik
dalam residu tirosin yang mampu mereduksi reagen fosfotungstat dan fosfomolibdat
menjadi tungstat dan molibdenum yang berwarna biru. Adapun reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut:













Gambar 01. Reaksi residu tirosin dengan reagen fosfotungstat dan fosfomolibdat
[ ]
Mo
O
O
O
12
[ ] P
HO OH
OH
O
-3
+ H
2
N C C
H
O
OH
CH
2
OH
Fosfomolibdat
Gugus fenolik pada residu tirosin
[MoO
2
] + H
2
N C C
H
O
OH
CH
2
O HO
Molibdenum
H
3
PW
12
O
40
[PW
12
O
40
]
-3
+ H
2
N C C
H
O
OH
CH
2
OH
Gugus fenolik pada residu tirosin
WO
4
-2
+ H
2
N C C
H
O
OH
CH
2
OH
+ H
3
PO
4
Ion fosfotungstat
Asam fosfotungstat
Tungstat
2


Reagen fosfotungstat dan fosfomolibdat ini merupakan konstituen utama reagen Folin-
Ciocalteu. Hasil reduksi ini menunjukkan puncak absorpsi yang lebar pada daerah
merah dari spektrum sinar tampak (600-800 nm).
Sensitifitas reagen Folin-Ciocalteu mengalami perubahan yang cukup signifikan
apabila digabung dengan ion-ion Cu
2+
(metode Biuret). Kompleks Cu-protein yang
dihasilkan oleh reagen Biuret akan menyebabkan reduksi pula pada fosfotungstat dan
fosfomolibdat dalam reagen Folin-Ciocalteu. Adapun kompleks yang terbentuk adalah
sebagai berikut:













Kira-kira 75% dari reduksi yang terjadi diakibatkan oleh adanya kompleks Cu-protein
tersebut. Sedangkan residu-residu tirosin dan triptofan akan mereduksi 25% sisanya.
Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan salah satu metode analisis instrumentasi yang
didasarkan pada interaksi energi (radiasi elektromagnetik/cahaya) dan materi
(atom/molekul). Spektrofotometri mempunyai aplikasi yang cukup luas pada analisis
secara kuantitatif. Hasil pengukuran secara kuantitatif dengan metode ini mempunyai
akurasi yang tinggi, walaupun tidak seakurat metode instrumentasi serapan atom.
Dalam mempelajari sifat kuantitatif dari adsorpsi radiasi, berkas radiasi
dikenakan pada sampel, yang kemudian intensitas radiasi yang diteruskan dan diukur
Gambar 02. Kompleks Cu-protein
NH
2
CH
2
C O
NH
CH
R
2
NH
C
OH
O
C
O
R
1
H R
3
C
NH
2
C O
R
2
C
OH
O
C
O
R
1
H R
3
C
H
2
C
HN
HC
HN
Cu
+2
3

transmisinya. Radiasi yang diabsorpsi oleh sampel ditentukan dengan membandingkan
intensitas dari berkas radiasi yang diteruskan.
Langkah-langkah umum dalam analisis spektrofotometri, terutama pada daerah
tampak adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan molekul yang dapat menyerap cahaya pada daerah UV atau tampak.
Apabila senyawa tersebut sudah menyerap pada daerah kerja dengan intensitas yang
cukup, maka langkah ini tidak diperlukan.
2. Pembuatan spektrum dan pemilihan panjang gelombang.
3. Pembuatan kurva kalibrasi.
4. Pengukuran absorbansi cuplikan.
Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV atau tampak harus dilakukan
pada senyawa awal (yang dianalisis) yang tidak meyerap di daerah tersebut. Oleh
karena itu, senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa lain, yang menyerap di
daerah UV atau tampak menjadi senyawa berwarna. Dalam hal ini, pembentukan
senyawa kompleks sering dilakukan.
Hubungan antara kadar zat penyerap dan dasar adsorpsi radiasi dirumuskan
dalam hukum Lambert-Beer (1989). Hukum Lambert-Beer menjabarkan pengurangan
eksponensial intensitas radiasi yang diteruskan karena peningkatan aritmatik dari kadar
zat sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:
log I
t
/I
o
= - . b . C
dimana, C adalah konsentrasi larutan dalam molar, adalah absorptivitas molar yang
nilainya tergantung pada panjang gelombang serta jenis zat, dan b adalah tebal medium
penyerap, yang biasanya dinyatakan dalam centimeter. Jika konsentrasi larutan dalam
bentuk gram/liter maka rumus diatas akan menjadi:
log I
t
/I
o
= -a . b . C
dimana I
t
/I
o
disebut transmitan (T), maka:
log T = -a. b. C atau log T = a.b.C.
Harga log T = adsorben (A), sehingga:
A = a. b. C
Keterangan:
I
o
= intensitas cahaya datang C = konsentrasi
A = Absorbansi b = tebal kuvet
4

a = absorptivitas
= absorptivitas molar
Pada saat penentuan konsentrasi protein pada sampel, harus dilakukan pula
pengukuran terhadap beberapa larutan protein standar yang memiliki rentang
konsentrasi tertentu, dimana konsentrasi sampel protein berada di dalam rentang
tersebut. Protein dimasukkan pertama kali ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan air. Seluruh tabung harus mempunyai volume akhir yang sama dan
dilakukan pengadukan atau pencampuran yang baik setelah penambahan zat atau
reagen. Reagen penghasil warna selalu ditambahkan terakhir dan biasanya diperlukan
selang waktu tertentu untuk terjadinya reaksi yang sempurna. Selanjutnya larutan
sampel diukur absorbansinya dengan spektrofotometri. Hasil yang diperoleh diplot ke
dalam kurva kalibrasi/kurva standar, sehingga diperoleh konsentrasi sampel.









Berdasarkan kurva kalibrasi, konsentrasi larutan sampel dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan regresi, yaitu sebagai berikut:
b ax y
dimana, nilai b dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
n
x
x
n
y x
xy
b
2
) ( 2
.





Keterangan:
y = absorbansi sampel
(Sumber: Khopkar, 2003)
C
Gambar 03. Kurva Hukum Lambert-Beer (kurva kalibrasi)

A
5

a = tan
x = konsentrasi sampel
b = titik potong terhadap sumbu y (intersep)
III. Alat dan Bahan
ALAT JUMLAH BAHAN JUMLAH
Spektronik 20
+
1 buah Na
2
CO
3
2%
Gelas kimia 3 buah NaOH 0,1 N
Batang pengaduk 1 buah CuSO
4
.5H
2
O 0,5 %
Gelas ukur 5 mL 2 buah Na-tartarat
Pipet tetes 2 buah Reagen folin-cioceltelu
Pipet volume 5 mL 1 buah Larutan albumin telur
Tabung reaksi 1 rak
Labu ukur 100 mL 1 buah

IV. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan
No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1 Reagen biuret dibuat dengan
mencampurkan reagen A sebanyak 50 mL
dan reagen B sebanyak 1 mL
Reagen A dibuat dengan
menambahkan 2% Na
2
CO
3

dalam 0,1 N larutan NaOH
Reagen B dibuat dengan
menambahkan 5% CuSO
4
.5H
2
O
dalam 1 % larutan Na-tartarat
Reagen biuret dibuat dengan
menambahkan 50 mL reagen A
dalam 1 mL reagen B. reagen
biuret berwarna bening tak
berwarna.
2 Larutan albumin telur dibuat dengan
melarutkan 10 mL albumin telur ke dalam
90 mL aquades. Kemudian 10 mL dari
campuran ini diencerkan lagi sebanyak 10
kali (pengenceran menjadi 100 kali)
Larutan albumin telur dibuat dengan
melarutkan 10 mL putih telur ke
dalam 90 mL aquades. Kemudian
dilakukan pengenceran kembali
sebanyak 10 kali hingga menjadi 100
kali. Larutan albumin telur berwarna
putih kekuingan.
6


Larutan albumin telur
3 Larutan protein standar (digunakan
larutan albumin telur) dengan air hingga
volumenya menjadi 1,0 mL. melakukan
hal yang sama pada larutan sampel
larutan albumin telur dimasukan ke
dalam tabung reaksi dan
ditambhakan air hingga volumrnya 1
mL
4 Sebanyak 5 mL reagen buret dimasukan
ke dalam masing-masing tabung yang
berisi larutan standar dan sampel.
Kemudian campuran diinkubasi selama
10 menit pada suhu kamar
Kedalam masing-masing tabung
reaksi yang berisi larutan abumin
dan larutan sampel ditambahkan
reagen biuret sebanyak 5 mL warna
larutan tetap bening kekuningan.
Kemudian dilakukan inkubasi
selama 10 menit pada suhu kamar
tidak terjadi perubahan warna pada
larutan yaitu tetap bening
kenuningan.
5 Sebanyak 0,5 mL reagen fenol (fenolik-
ciocelteu) ditambahkan ke dalam
masing-masing tabung reaksi
kemudian dikocok
Masing-masing tabung reaksi dinkubasi
selama 30 menit pada suhu kamar
(waktu inkubasi dimulai setelah
penambahan reagen fenolik ciocelteu
ke dalam tabung terakhir
Kedalam masing-masing tabung
reaksi titambahkan larutan fenol
dan dikocok, terjadi perubahan
warna pada larutan dari larutan
berwarna bening kekuningan
menjadi berwarna biru tua.
Kemudian dilakukan inkubasi
pada larutan selama 30 menit
warna larutan tidak berubah tetap
berwarna biru
7


Larutan ketika diinkubasi
6 Absorbansi dari masing-masing larutan
dengan spektronik 20
+
dengan panjang
gelombang 700 nm (langkah pelaksanaan
praktikum dapat disederhanakan seperti
pada tabel)
*

Dilakukan pengukuran absorbansi
pada masing-masing tabung
sehingga didapatkan hasil sesuai
dengan tabel dibawah.

Spektronik 20+


Tabel. Langkah-langkah Penentuan Kadar Protein secara Lowry

PENAMBAHAN (mL) NOMOR TABUNG
1 2 3 4 5 6 7 8
Larutan albumin telur - 0,1 0.2 0,4 0,6 0,8 1,0 -
Sampel protein - - - - - - - X
H
2
O 1 0,9 0,8 0,6 0,4 0,2 - 1-X
Reagen biuret 5 5 5 5 5 5 5 5
Aduk hingga tercampur merata. Inkubasi selama 10 menit pada suhu kamar
Reagen fenol 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Aduk segera hingga tercampur merata. Inkubasi selama 30 menit pada suhu kama. Baca
dengan menggunakan spektrofotometri pada 700 nm dengan menggunakan tabung 1
sebagai blanko
8

% T
700 nm
88 55,5 18,5 16 8 6 4 30,5
A
700 nm
0,05 0,255 0,74 0,8 1,1 1,25 1,4 0,52
g/aliquot (g/ tabung)


V. Pembahasan
Dalam percobaan ini dilakukan analisis kadar protein dalam sampel larutan putih
telur dengan menggunakan metode Lowry. Pada metode ini digunakan spektronik 20
+

untuk menganalisis absorbansi larutan sampel dan larutan standar. Agar dapat
diabsorbansi radiasinya, larutan yang dianalisis harus menunjukkan warna tertentu
sehingga dapat menyerap cahaya pada daerah UV-tampak (visible). Untuk keperluan ini
digunakan reagen Folin-Ciocalteu yang dapat mendeteksi gugus fenolik yang terdapat
pada residu protein. Salah satu residu dari asam amino yang memiliki gugus fenolik
adalah asam amino tirosin dan triptopan. Gugus fenolik yang terdapat pada asam amino
ini dapat mereduksi fosfotungstat dan fosfomolibdat yang terkandung dalam reagen
Folin-Ciocalteu menjadi tungstat dan molibdenum yang berwarna biru sehingga
konsentrasi protein dapat diketahui. Adapun reaksi yang terjadi dalam asam amino
terhadap reagen Folin-Ciocalteu adalah sebagai berikut.
C
O
OH
C H
2
N
CH
2
H
OH
Mo
O O
O
12
P
O
HO OH
OH
3-
+
MoO
2
+
C
O
OH
C H
2
N
CH
2
H
HO O
+ H
3
PO
4
molibdenum
(ion berwarna biru)
kuning pucat
(fosfomolibdat)

9

PW
12
O
40
3-
+
C
O
OH
C H
2
N
CH
2
H
OH
WO
4
2-
+
C
O
OH
C H
2
N
CH
2
H
HO O
+ H
3
PO
4
tungstat
(ion berwarna biru)
kuning pucat
(ion fosfotungstat)

Gambar 2. Reaksi Fosfomolibdenum dan Fosfotungstat
Dalam reaksi di atas, diketahui bahwa fosfotungstat dan fosfomolibdat bertindak
sebagai agen pereduksi gugus fenolik yang terdapat pada larutan yang dianalisis,
dimana gugus fenolik itu sendiri bertindak sebagai oksidator yang mengoksidasi
fosfotungstat dan fosfomolibdat menjadi tungstat dan molibdenum yang merupakan
kompleks yang berwarna biru. Tungstat dan molibdenum yang dihasilkan dari reaksi
menunjukkan puncak absorpsi lebar pada daerah merah dan spektrum sinar tampak pada
panjang gelombang 600-800 nm.
Karena yang bertindak sebagai agen pengoksidasi dalam reaksi di atas adalah
residu tirosin yang jumlahnya relatif sedikit dalam larutan uji diperlukan penambahan
konstituen lain yang dapat meningkatkan sensitifitas reagen Folin-Ciocalteu. Dalam
praktikum ini dilakukan penambahan reagen biuret. Penambahan reagen biuret pada
tabung 1-7 (berisi larutan standar) menyebabkan larutan menjadi berwarna biru bening.
Penambahan reagen biuret ini ke dalam larutan bertujuan untuk meningkatkan
sensitifitas reagen Folin-Ciocalteu dimana dalam penambahan reagen biuret akan
terbentuk kompleks Cu
2+
dengan residu asam amino yang terdapat pada larutan uji
menghasilkan kompleks Cu-protein. Kompleks yang terbentuk adalah sebagai berikut.

C
HN
CHR
C
HN
CHR
O
O C
NH
RHC
C
NH
RHC
O
O
Cu
2+

10

Gambar 3. Kompleks Cu-protein
Kompleks Cu-protein yang yang dihasilkan oleh reagen biuret akan
menyebabkan juga reduksi pada fosfotungstat dan fosfomolibdat dimana kira-kira 75%
dari reduksi yang terjadi diakibatkan oleh adanya kompleks Cu-protein, sementara
residu-residu tirosin dan triptopan mereduksi 25% sisanya. Dengan adanya penambahan
reagen tersebut maka sensitifitas warna yang dihasilkan akan meningkat dan
pengukuran absorbansi dan transmitansi menjadi lebih akurat.
Sebelum melakukan pengukuran absorbansi sampel, perlu dilakukan pembuatan
kurva kalibrasi sampel atau standar. Larutan standar protein yang digunakan dalam
praktikum ini adalah Larutan albumin telur. Larutan induk yang dibuat dengan
konsentrasi 10 ppm. Larutan induk ini selanjutnya dibuat dengan konsentrasi yang
berbeda-beda melalui pengenceran.
Tujuan dari pembuatan larutan standar dengan konsentrasi yang berbeda-beda
bertujuan untuk mempermudah pembuatan kurva kalibrasi. Selanjutnya ke dalam
larutan standar tersebut ditambahkan reagen biuret yang berfungsi untuk membentuk
kompleks Cu-protein sehingga terjadi produksi tungstat dan molibdenum dari reagen
Folin-Ciocalteu. Hasil yang diperoleh setelah larutan standar 1-7 ditambahkan dengan
reagen Folin-Ciocalteu adalah larutan menjadi berwarna biru bening yang kepekatannya
meningkat dari tabung 1-7. Warna biru yang terbentuk mengindikasikan terbentuknya
tungstat dan molibdenum dalam pencampuran tersebut.
Untuk tabung 8 yang berisi larutan sampel (albumin telur dan kuning telur), oleh
karena warna yang dihasilkan sangat pekat (hijau jambrud), maka dilakukan
pengenceran sebanyak dua kali. Dimana larutan tersebut diambil sebanyak 5 mL dan
ditambahkan aquades hingga volumenya mencapai 10 mL.
Untuk memperoleh data yang lebih akurat dalam pembuatan kurva kalibrasi,
maka nilai %T yang diperoleh dari hasil pengukuran dikonversi menjadi absorbansi.
Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
A = - log T
Jadi nilai absorbansi (A) untuk masing-masing tabung reaksi dapat dihitung sebagai
berikut:
Tabung 1
%T = 88%; T = 0,88
11

A = - log T
= - log 0,88 = 0,055
Tabung 2
%T = 55,5%; T = 0,555
A = - log T
= - log 0,555 = 0,255
Tabung 3
%T = 18,5%; T = 0,185
A = - log T
= - log 0,185 = 0,732
Tabung 4
%T = 16%; T = 0,16
A = - log T
= - log 0,16 = 0,796
Tabung 5
%T = 8%; T = 0,08
A = - log T
= - log 0,08 = 1,097
Tabung 6
%T = 6%; T = 0,06
A = - log T
= - log 0,06 = 1,222
Tabung 7
%T = 4%; T = 0,04
A = - log T
= - log 0,04 = 1,398
Tabung 8
%T = 30,5%; T = 0,305
A = - log T
= - log 0,305 = 0,516


12

Tabel 4. Data hasil pengamatan
Tabung %T Konsentrasi (%) Absorbansi
1 88 0 0,055
2 55,5 10 0,255
3 18,5 20 0,732
4 16 40 0,796
5 8 60 1,097
6 6 80 1,222
7 4 100 1,398
8 30,5 X 0,516
Dengan demikian dapat dibuat kurva hubungan antara konsentrasi terhadap
absorbansinya pada larutan standar albumin, yaitu sebagai berikut:






Berdasarkan kurva di atas, dapat ditentukan konsentrasi sampel (albumin telur) dengan
menggunakan persamaan regresi, yaitu:
b ax y
dimana, y = absorbansi sampel
y = 0.0127x + 0.2307
R = 0.9136
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
a
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
A
)

konsentrasi (%)
Kurva Hubungan Konsentrasi dan Absorbansi
Gambar 4. Kurva Hubungan Antara Konsentrasi Terhadap Absorbansi pada Larutan Standar Albumin
13

a = tan
x = konsentrasi sampel (g/mL)
b = intersep (titik potong terhadap sumbu y)
x (Konsentrasi) y (Absorbansi)
2
x
y x.
0 0,055 0 0
10 0,255 100 2,55
20 0,732 400 14,64
40 0,796 1.600 31,84
60 1,097 3.600 65,82
80 1,222 6.400 97,76
100 1,398 10.000 139,8
x = 310 y = 5,555 x
2
= 22.100 xy = 352,41

Nilai a (kemiringan) ini diperoleh dengan rumus: a =


2
2

x x n
y x xy n

=


2
2

x x n
y x xy n

a =


2
310 100 . 22 7
555 , 5 310 41 , 352 7


a =
100 . 96 700 . 154
05 , 722 . 1 87 , 466 . 2


a =
600 . 58
82 , 744

a = 0,01271
Nilai b dapat dicari dengan rumus : b =


2
2
2

x x n
xy x x y
;
Perhitungan rumus tersebut dapat dibantu dengan tabel di atas yaitu sebagai berikut:
b =


2
2
2

x x n
xy x x y



2
310 22.100 7
352,41 310 22.100 5,555



100 . 96 700 . 154
1 , 247 . 109 5 , 765 . 122


600 . 58
4 , 518 . 13
= 0,2307
14

Jadi hasil perhitungan akan diperoleh nilai a adalah 0,01271 dan nilai b adalah 0,2307
sehingga persamaan regresinya adalah sebagai berikut:
b ax y
y = 0,01271x + 0,2307
Setelah dilakukan pengukuran larutan sampel (campuran albumin telur dan kuning
telur) dengan spektronik 20+, diperoleh nilai T = 30,5% atau 0,305. Jadi nilai
absorbansinya dapat dihitung sebagai berikut:
A = - log T
= - log 0,305 = 0,516
Dengan demikian dapat ditentukan konsentrasi larutan sampel (campuran albumin telur
dan kuning telur) sebagai berikut:
0,516 = 0,01271x + 0,2307
x =
01271 , 0
2307 , 0 516 , 0

x = 22,45 %
Pengenceran dilakukan beberapa kali terhadap sampel (campuran albumin telur dan
kuning telur), dengan tahapannya sebagai berikut:
1. Pengenceran sebanyak 2 kali pada saat sebelum dilakukan pengukuran dengan
spektronik 20
+
, dimana 5 mL larutan hijau jambrud ditambahkan aquades sehingga
volumenya menjadi 10 mL. Sehingga kadar protein dalam albumin telur adalah
sebagai berikut:
Kadar protein = 22,45 % x 2 = 44,9 %
2. Pengenceran sebanyak 10 kali pada saat 0,1 larutan albumin ditambahkan aquades
hingga volumenya mencapai 1,0 mL. Sehingga kadar protein dalam albumin telur
adalah sebagai berikut:
Kadar protein = 44,9 % x 10 = 449 %
3. Pengenceran 6 kali pada saat 1 mL albumin telur ditambahkan aquades sebanyak 5
mL. Jadi kadar protein dalam albumin telur akhir adalah sebagai berikut:
Kadar protein = 449 % x 6 = 2.694 %
Berdasarkan data hasil percobaan, diperoleh kurva yang tidak berupa garis lurus.
Adanya penyimpangan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
15

1. Kurang tepatnya konsentrasi dari larutan standar, sehingga mempengaruhi
konsentrasi pada masing-masing tabung reaksi.
2. Ketidaktelitian dalam pengukuran komposisi reagen pada masing-masing tabung
reaksi sehingga mempengaruhi hasil pengukuran.
3. Larutan standar tiap- tiap tabung dikerjakan oleh beberapa orang, sehingga
kemungkinan besar perlakuan yang diberikan pada masing- masing tabung tidak
sama.
4. Beberapa zat yang mengganggu penetapan kadar protein dengan metode Lowry ini
diantaranya yaitu buffer, asam nukleat, dan gula/karbohidrat, deterjen, gliserol,
Tricine, EDTA, Tris, senyawa-senyawa kalium, sulfhidril, disulfida, fenolat, asam
urat, guanin, xanthine, magnesium dan kalsium.

VI. Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa kadar protein dalam larutan sampel (albumin telur dan kuning telur)
dapat diketahui secara Lowry, dimana kadar protein pada albumin telur adalah 2.694 %.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Khopkar, S.M. 1990. Basic Concepts of Analytical Chemistry. Terj. Saptoraharjo, A.
Konsep Dasar Kimia Analitk. Jakarta: UI-Press.
Kirna, I Made. 2006. Buku Ajar Kimia Analisis Instrumen. Singaraja: Jurusan
Pendidikan Kimia, IKIP Negeri Singaraja.
Kirna, I Made. 2007. Dasar-Dasar Spektroskopi. Singaraja: UNDIKSHA.
Muderawan, I Wayan. 2007. Buku Ajar Analisis Instrumen. Singaraja : Undiksha
Poedjadi, Anna dan Titin Supriyanti. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Redhana, I Wayan. 2004. Penuntun Praktikum Biokimia. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta.
Sudarmadji, S, Haryono, B, Suhardi. 1996. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Tika, I Nyoman. 2007. Penuntun Praktikum Biokimia. Singaraja: Universitas
Pendidikan Ganesha.
16

Winarno, F. G., 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia: Jakarta.
VIII. JAWABAN PERTANYAAN
1. Kurva hubungan konsentrasi protein dalam larutan samel adalah


2. Kebaikan dan keburukan metode Lowry adalah
Kebaikan :
Teknik UV-visible merupakan teknik yang cepat dan sederhana, serta sensitive terhadap
protein dengan konsentrasi rendah.
Keburkan :
Sebagian besar teknik UV-visible memerlukan larutan yang encer dan jernih,serta tidak
mengandung senyawa kontaminan yang dapat mengabsorpsi atau memantulkan cahaya
pada panjang gelombang di mana protein akan dianalisis. Karena diperlukan larutan
jernih, maka makanan harus mengalami sejumlah tahap preparasi sampel sebelum
dianalisis, seperti homogenisasi, ekstraksi pelarut, sentrifugasi, filtrasi, dsb. yang dapat
menyita waktu dan tenaga. Selain itu, kadang-kadang sulit untuk secara kuantitatif
mengekstraksi protein dari jenis makanan tertentu, terutama bila makanan tersebut telah
mengalami proses dimana protein menjadi agregat atau terikat secara kovalen dengan
senyawa lain. Kelemahan lainadalah, serapan tergantung pada jenis protein (karena
protein yang berbeda mempunyaisekuens/urutan asam amino yang berbeda pula).
y = 0.0127x + 0.2307
R = 0.9136
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
a
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
A
)

konsentrasi (%)
Kurva Hubungan Konsentrasi dan Absorbansi
17

3. Metode lain yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi protein secara
spektrofotometri adalah metode Biuret, metode Bradford dan metode Kjeldahl