Anda di halaman 1dari 6

Toxoplasma gondii

I. Hospes dan Nama Penyakit


Manusia, mammalia lain, dan burung merupakan hospes perantara T.gondii,
sedangkan kucing serta hewan yang termasuk famili felidae lainnya merupakan
hospes definitifnya.T.gondii merupakan parasit yang dapat menyebabkan penyakit
toxoplasmosis baik toxoplasmosis kongenital maupun toxoplasmosis akuisita.

II. Morfologi
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler. Pada
umumnya Toxoplasma gondii ditemukan intraseluler namun bisa juga ditemukan
ektraseluler. Di dalam sel bisa tunggal, berpasangan atau berkelompok. Secara
morfologiT.gondii memiliki 2 stadium utama, yang dapat ditemukan pada hospes
perantara dan hospes definitif , yaitu tropozoit dan kista serta 1 stadium yang hanya
ditemukan pada hospes definitif saja, yaitu ookista
Toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk, yaitu:
a. Takizoit (bentuk poriferatif)
Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dengan ujung
yang lain agak membulat. bentuk ini berukuran 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron,
mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah dibagian tengah bulan
sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi (Levine,
1990). tidak mempunyai kinetoplas dan sentrosom serta tidak berpigmen. bentuk
ini terdapat di dalam tubuh hospes intermediet dan hospes definitif. takizoit
ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh. takizoit dapat masuk
ke setiap sel berinti pada tubuh hospesnya.

b. Kista (berisi bradizoit)
Kista dibentuk di dalam sel hospes apabila takizoit yang membelah telah
membentuk dinding. ukuran kista yang dibentuk bisa berbeda-beda. ada kista
yang berukuran kecil dan berukuran besar. kista dapat berisi sekitar 3000
bradizoit. Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama di
otak, otot jantung dan otot lurik. Kista di bagian otak berbentuk lonjong atau bulat,
tetapi bentuk kista mengikuti bentuk sel otot. kista merupakan stadium istirahat
pada Toxoplasma gondii.Ookista berbentuk lonjong, berukuran 11-14 x 9-11
mikron (Levine, 1990).
c. Ookista (berisi sporozoit)
Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua
sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya kedua sporoblas membentuk dinding
dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit
yang berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah benda residu (Frenkel, 1989 ; Levine,
1990).
III. Daur Hidup
Dalam daur hidup T.gondii memerlukan dua jenis hospes yang berbeda, yaitu
manusia , mamalia lain dan burung sebagai hospes perantara sedangkan kucing
serta hewan famili felidae sebagai hospes definitif.

Pada tubuh kucing terjadi kedua macam reproduksi yaitu reproduksi aseksual
(skizogoni/endodeogeni) dan seksual (gametogoni) yang kesemuanya terjadi pada
epitel usus muda.Reproduksi aseksual dilakukan oleh takizoit dan bradizoit di dalam
sel/intraseluler sedangkan reproduksi seksual menghasilkan makrogamet/zigot yang
akan ditemukan pada tinja kucing dalam bentuk ookista sehingga pada tubuh
kucing akan ditemukan semua stadium (takizoit, bradizoit, pseudokista, kista dan
ookista) sedangkan pada tubuh hospes perantara hanya mengalami reproduksi
aseksual saja sehingga tidak akan ditemukan bentuk ookista.
Tropozoit membentuk kelompok menempati berbagai jaringan hospes perantara dan
mengadakan pembelahan secara aktif maka terbentuklah pseudokista yang banyak
mengandung takizoit (bentuk yang membelah cepat), kecepatan takizoit membelah
berkurang secara berangsur maka terbentuklah kista yang
mengandung bradizoit (bentuk yang membelah perlahan). Pseudokista dapat
dibedakan dengan kista, pseudokista merupakan sel tuan rumah yang
menggembung karena adanya multiplikasi parasit yang cepat (berisi takizoit), dan
terbatas pada infeksi akut sedangkan kista terjadi pada infeksi kronis terutama dalam
otak dan paru-paru, dinding kista dibentuk sebagai hasil sekresi dari parasit sehingga
kista memiliki dinding yang lebih kuat, liat dan tidak mudah pecah dibanding
pseudokista yang memiliki dinding tipis dan mudah pecah karena berasal dari sel
hospes, jika pseudokista pecah parasit dapat keluar menyerang sel yang lain.
Ookista dikeluarkan bersama tinja kucing dan belum mengalami sporulasi sehingga
masih bersifat tidak infektif, sporulasi terjadi pada suhu kamar dalam waktu 3-4 hari
membentuk 2 sporoblast dan dari tiap sporoblast membentuk 4 sporozoit
(Krahenbuhl dan Remington, 1982). Ookista ini relatif toleran terhadap perubahan
lingkungan dan dapat bertahan di tanah kurang lebih satu tahun. Infeksi terjadi jika
ookista infektif tertelan maka terjadi infeksi akut sampai kronik.Kadang-kadang
infeksi akut tidak menimbulkan gejala.Selama stadium akut bentuk tropozoit (takizoit)
dapat ditemukan pada berbagai jaringan akan tetapi jika infeksi berubah menjadi
kronik maka bentuk kista yang berisi bradizoit dapat ditemukan pada otot, otak atau
dalam berbagai jaringan.

Kucing mengalami infeksi jika memakan hospes perantara yang terinfeksi atau
melalui ookista yang tertelan maka terbentuk lagi berbagai stadium seksual pada
epitel usus mudanya.
kemungkinan terbentuknya ookista dalam tinja kucing, yaitu:
a. Jika kucing menelan ookista yang sudah mengalami sporulasi, maka dalam 21-24
hari akan dapat mengeluarkan ookista
b. Jika kucing memakan tikus (hospes perantara) yang dalam jaringannya terdapat
takizoit maka dalam 9-11 hari akan muncul ookista dalam tinjanya
c. Jika tikus yang mengandung bradizoit/kista dalam jaringannya termakan oleh
kucing maka dalam waktu 3-5 hari akan terbentuk ookista dalam tinjanya.
Secara sederhana, daur hidup Toxoplasma gondii adalah


























IV. Epidemiologi
Kucing sering dianggap menjadi penyebab keguguran pada wanita hamil, karena
ibu/calon ibu secara tidak sadar terinfeksi toxoplasmosis . Namun kucing bukan
satu-satunya sumber penularan toxoplasmosis pada manusia, disamping itu
penularannya bukanlah melalui sentuhan atau berdekatan dengan hewan
penderita.
Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta ookista sehari selama 2
minggu. Di dalam tanah yang lembab dan teduh, ookista dapat hidup lama sampai
lebih dari satu tahun. sedangkan tempat yang terkena sinar matahari langsung
dan tanah kering dapat memperpendek hidupnya. Bila di sekitar rumah tidak ada
tanah,kucing akan berdefekasi di lantai atau tempat lain, di mana ookista bisa
hidup cukup lama bila tempat tersebut lembab. Cacing tanah mencampur ookista
dengan tanah, kecoa dan lalat dapat menjadi vektor mekanik yang dapat
memindahkan ookista dari tanah atau lantai ke makanan. Di Indonesia tanah yang
mengandung ookista Toxoplasma belum diselidiki (Gandahusada, 1988).

Dari hasil survey di berbagai negara di dunia yang didasarkan atas pemeriksaan
serologi positif sangat bervariasi. Prevalensi zat anti T.gondii pada binatang di
Indonesia adalah sebagai berikut: 35-73% pada kucing, 11-36% pada babi, 11-
61% pada kambing, 75% pada anjing, dan kurang dari 10% pada ternak lain.
(Gandahusada, 1995).
Prevalensi toksoplasmosis konginetal di berbagai Negara diperkirakan sebagai
berikut : Nederland 6,5% dari 1000 kelahiran hidup, New York 1,3%, Paris 3%,
dan vietnam 6-7%.
Krista T. gondii dalam daging dapat bertahan hidup pada suhu -4C sampai tiga
minggu. Kista tersebut akan mati jika daging dalam keadaan beku pada suhu -
15
O
C selama tiga hari dan pada suhu -20
O
C selama dua hari. Daging dapat
menjadi hangat pada semua bagian dengan suhu 65
O
C selama empat sampai
lima menit atau lebih maka secara keseluruhan daging tidak mengandung kista
aktif, demikian juga hasil daging siap konsumsi yang diolah dengan garam dan
nitrat (WHO, 1979).
Keadaan toksoplasmosis di suatu daerah ditentukan oleh banyak faktor, seperti :
kebiasaan makan daging kurang matang, adanya kucing yang terutama dipelihara
sebagai hewan kesayangan, adanya tikus dan burung yang sebagai hospes
perantara, adanya lipas atau lalat yang vector untuk memindahkan ookista dari
tinja kucing.
Yang paling rentan terhadap infeksi toxoplasmosis adalah:
a. Bayi yang dikandung oleh ibu yang tertular untuk pertama kalinya oleh infeksi
toxoplasma beberapa bulan sebelum kehamilan atau selama kehamilan
b. Seseorang yang mengalami penurunan system kekebalan yang hebat,
misalnya penderita HIV / AIDS, sedang menjalani khemoterapi terhadap tumor,
atau baru saja mendapat transplantasi organ.

V. Patologi dan Gejala Klinik
a. Toxoplamosis akuisita
Kasus toksoplasmosis akuisita pada manusia didapat dari masuknya jaringan kista
pada daging yang terinfeksi karena daging tidak dimasak dengan sempurna atau
ookista pada makanan yang tercemar kotoran kucing, transfusi darah atau melalui
transplantasi organ. Bradizoit dari jaringan kista atau sporozoit yang terlepas dari
ookista masuk ke sel-sel epitel di usus dan bermultiplikasi di usus. Setelah invasi
yang terjadi di usus, parasit memasuki sel atau difagositosis. Sebagian mati setelah
difagositosis dan sebagian lain berkembangbiak dalam sel menyebabkan sel
hospes pecah dan menyerang sel baru.
Toxoplasma gondii dapat menyebar menyerang berbagai sel dan jaringan dalam
tubuh kecuali sel darah merah (karena tidak berinti), penyebaran itu cepat terjadi
karena parasit akan memasuki saluran limfe dan darah sehingga penyebaran
bersifat hematogen dan limfogen. Parasitemia berlangsung dalam beberapa
minggu.Gambaran klinis akan tampak setelah beberapa waktu dari rusaknya
jaringan yang terinfeksi, khususnya yang vital dan penting seperti mata, jantung,
dan kelenjar adrenal. Toxoplasma gondii tidak memproduksi toksin. Nekrosis pada
jaringan biasanya disebabkan oleh multiplikasi intraselular dari takizoit. Manifestasi
klinik yang paling sering dari toxoplasmosis akuisita adalah limfadenopati, rasa
lelah, disertai demam dan rasa sakit kepala.
b. Toxoplamosis kongenital .
Toksoplasmosis berpengaruh pada janin dalam kandungan. Bahkan bisa berakibat
fatal, jika daya tahan ibu yang terinfeksi lemah. Ibu dapat menularkan infeksi ini
pada janin melalui transplasenta dan merusak janin sehingga ibu pun mengalami
keguguran. Kalau pun kehamilan bisa berlanjut terus, janin bisa cacat. Ibu hamil
yang kena infeksi tokso pada trimester pertama, kehamilannya bisa mengalami
keguguran. Bila terjadi pada trimester kedua, janin dapat lahir dengan kondisi cacat,
misal kepala membesar (hidrosefalus) atau kepala mengecil (mikrosefalus). Atau,
bayi mengalami kebutaan (retinochoroid). Jika ibu terinfeksi pada trimester ketiga,
bayi akan lahir dengan kelainan seperti sulit konsentrasi, retardasi mental, atau
kejang-kejang. Bisa juga, lahir prematur dengan radang pada otak dan selaput otak
(meningo-ensefalitis). Bagaimana parasit tokso ini bisa menembus plasenta dan
sampai ke janin, hingga saat ini masih belum diketahui pasti, karena tak seperti
virus, parasit tak mudah menembus plasenta. Dan sayangnya, sulit sekali
mendeteksi terjadinya penularan toksoplasma ini, apalagi jika terjadi pada wanita
yang tidak hamil, kecuali melakukan pemeriksaan laboratorium. Si wanita tidak
akan merasakan gangguan berarti secara fisik. karena geiala-geiala terinfeksi
toksoplasmosis juga tidak jelas. Kadang muncul demam, sakit kepala, badan pegal-
pegal, mudah lelah, dan kurang nafsu makan.

Daftar Pustaka (gak tau udah sesuai belum penulisannya, cek yaa :*)
Soejoto dan Drs. Soebari, PARASITOLOGI MEDIK JILID 1 PROTOZOOLOGI dan
HELMINTOLOGI. 1996. Jakarta. UI
Levine. N.D. 1990. Buku Pelajaran Parasitoloqi veteriner. Universitas Gajah Mada
Press, Yogyakarta.

Blader, Ira J. , 2009 , Communication between Toxoplasma gondii and its host:
impact on parasite growth, development, immune evasion, and virulence :
Okhlahoma . University of Okhlahoma Health Sciences Center.
Gandahusada, S. 1988. Diagnosis Toksoplasmosis Kongenital pada Bayi. Seminar
Parasitologi Nasional V, Ciawi. Bogor.
Gandahusada. S. 1995. Penanggulangan Toksoplasmosis dalam Meningkatkan
Kualitas Sumber Daya Manusia. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap
Parasitologi. FK-UI, Jakarta.

Krahenbuhl. J.L and Remington J.S., 1982. The Immunology of Toxoplasma and
toxoplasmosis. 2nd Edition. Blackwell Scientific publications. Oxford. London.
Edinburgh. Boston. Melbourne.

Frenkel J.K. 1989. Toxoplasmosis. In: Tropical Medicine and Parasitology. Appleton
and Lange, California., 332.