Anda di halaman 1dari 16

Bedah Preprostetik 1

I. Alveoplasti
Mempertahankan pembentukan lingir kembali yang tersisa (secara pembedahan) agar
permukaannya dapat dibebani protesa dengan baik, dilakukan untuk mempersiapkan linger berkisar
1 gigi sampai setelah gigi dalam rahang.Bila satu atau lebih gigi permanen yang hilang akibat
ekstraksi, cedera atau kecelakaan, setiap ada gigi meninggalkan lubang di tulang rahang. Meskipun
akan menyembuhkan gusi di atas lubang, tulang rahang yang mendasari pasti akan memiliki tinggi
dan rendah pengembalian points.causing seperti menggosok gigi palsu terhadap poin tinggi,
membuat sakit bintik-bintik, dan cocok buruk. Lebih lanjut, seiring dengan waktu, edentulous
(ompong) daerah rahang juga akan kehilangan sejumlah besar tulang, menyebabkan penipisan
bagian atas punggung bukit dan lagi membuat gigi tiruan yang tepat sesuai dengan mimpi buruk.
Akhirnya, beberapa orang hanya memiliki sedikit tambahan tulang menonjol keluar dari tulang
rahang utama, mencegah gigi tiruan benar cocok juga.

Dalam situasi seperti itu, kita gunakan untuk kelancaran keluar alveoplasty daerah-daerah
yang tidak rata, meratakan dan lancip terlalu tipis pegunungan yang menawan, dan mempersiapkan
untuk menerima gigi palsu rahang berhasil. Alveoplasty tidak hanya memastikan yang lebih baik
yang cocok untuk gigi palsu, tetapi membantu mengontrol perdarahan dan meningkatkan waktu
penyembuhan berikut beberapa ekstraksi, karena kita sebenarnya jahitan soket gigi tertutup daripada
membiarkan mereka terbuka untuk mengisi dengan gumpalan darah seperti dengan ekstraksi satu
gigi umum. Cepat penyembuhan sangat membantu untuk pasien kanker bersiap-siap untuk
menerima radiasi kepala atau leher. Untuk pasien seperti itu, gigi membusuk harus dibuang dan alas
sembuh sepenuhnya sebelum memulai terapi.
Kita sering melakukan alveoplasty selama janji yang sama dengan satu atau beberapa
ekstraksi. Dalam kasus tersebut, kami akan melakukan ekstraksi pertama.. Kemudian, untuk
memulai alveoplasty prosedur, dokter bedah Anda akan hanya membuat sayatan hati-hati dalam
jaringan karet, kupas kembali untuk mengekspos tulang, menghilangkan kelebihan daerah kurus
dengan gunting dan sebuah rotari bor, kemudian halus bagian dengan sebuah file. Setelah
merapikan tulang, dokter bedah Anda akan menghapus partikel tulang melalui irigasi, kemudian
jahitan seluruh sayatan tertutup. Biasanya, kita akan menggunakan teknik penguncian-jahit untuk
meminimalkan perdarahan dan menutup jaringan secara efisien.
Kadang-kadang dokter gigi Anda akan mengambil kesan rahang Anda dan memberikan kami
dengan model ini (atau stent) sebagai sarana untuk menunjukkan dengan tepat di mana tulang harus
dihilangkan. Dalam kasus tersebut, ahli bedah akan mengganti jaringan gusi atas merapikan tulang,
tempatkan stent di atas, dan membentuk kembali tulang yang diperlukan untuk mengakomodasi.

II.I INDIKASI
a.Bumbungan alveolus tidak rata, tajam atau ad undercut yang menyilitkanpemasanganprotesa.
b.Penderita yang bibir atasnya pendek, sehingga tidak dapat menutupi gigi tiruan.
II.II TUJUAN
1.Memperbaiki kelainan dan kista ridge alveolar yang menganggu adaptasiprotesa
2.Meratakan tekanan kunyah yang besar pada permukaan jaringan yang mendukung gigi tiruan.
II.IV Persiapan Prosedur Anda
Ada banyak kemungkinan skenario yang memerlukan alveoplasty, masing-masing tingkat
berbeda memerlukan anestesi. Jika kita tidak mengeluarkan gigi, tetapi hanya melakukan sebuah
alveoplasty, kita biasanya menggunakan anestesi lokal. Kalau kita mengeluarkan beberapa gigi
sebelum alveoplasty, kita dapat menggunakan IV anestesi. Atau, kalau kita mengeluarkan sejumlah
besar gigi, kita dapat memilih anestesi umum. Kita akan membicarakan pilihan ini dengan Anda
selama konsultasi Anda janji.
. Sebelum prosedur Anda, kami akan sering menyediakan Anda dengan obat kumur
antimikroba yang dapat digunakan untuk bilasan mulut Anda, di samping antibiotik oral dan / atau
sakit obat.
II.V Pemulihan
Setelah alveoplasty Anda, Anda mungkin akan menemukan bahwa daerah operasi sakit,
bengkak, dan mungkin sedikit memar. Rasa sakit hanya akan bertahan sekitar satu minggu, dan
dapat dikontrol melalui rasa sakit resep obat untuk satu atau dua hari, diikuti oleh beberapa hari over-
the-counter analgesik seperti acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin dan lain-lain).
Sebagian besar pembengkakan akan puncak pada 24 jam, kemudian taper off; menerapkan
kompres es ke wajah Anda atas wilayah tersebut akan meminimalkan hal ini.. Pendarahan akan juga
lancip mati setelah 24 jam pertama.
Untuk mendorong pemulihan cepat, kita akan sering meresepkan antibiotik dan / atau dan
bilas antibakteri untuk mencegah infeksi di daerah, terutama jika Anda sudah berusia lanjut atau
memiliki banyak gigi dihapus.. Anda juga dapat bilas dengan larutan garam.. Untuk meminimalkan
perdarahan dan melindungi jahitan terus, kami merekomendasikan diet yang lembut, banyak cairan
bening, dan menghindari penggunaan sedotan jerami karena dapat menyebabkan perdarahan.
. Sesekali, bibir dan dagu saraf mungkin sedikit memar ketika alveoplasty dilakukan pada
rahang bawah Dalam kasus tersebut, Anda akan melihat baal bahkan setelah obat bius telah
memudar.. Karena menyembuhkan saraf perlahan-lahan, kondisi ini dapat bertahan selama tiga
sampai enam bulan, meskipun tidak akan menimbulkan terkulai atau kentara bagi orang luar.
. Tujuh hingga 10 hari setelah operasi, dokter bedah Anda akan mengevaluasi kemajuan
penyembuhan Anda.

PREPARASI JARINGAN KERAS

I Pengambilan Torus
Torus pada rahang atas dan bawah (eksostosis) akan menyebabkan gangguan pada
pembuatan dan pemakaian protesa. Torus biasanya diambil melalui prosedur tersendiri, terpisah dari
pencabutan atau alveoplasti.

III.I.I Torus palatinus
Torus palatinus mempunyai ukuran dan bentuk sangat bervariasi, bisa berupa tonjolan
kecil tunggal atau berupa tonjolan multilobuler yang luas. Pembedahan untuk menghilangkan torus
ini pada dasarnya sama tanpa memperhatikan bentuknya. Dibuat insisi sagital tunggal pada
pertengahan palatal dimulai 1cm di depan garis vibrasi dan dilanjutkan ke depan tepat di belakang
papila insisiva, dilanjutkan ke anterior sebagai dua insisi yang serong, sehingga keduanya
membentuk huruf V
Apabila diperlukan jalan masuk tambahan, insisi pembebas yang serupa dibuat pada
bagian posterior, perlu diperhatikan jangan sampai memotong a. palatina mayor. Kemudian flap
mukoperiosteal tersebut disingkapkan ke arah bukal (lateral). Untuk memungkinkan retraksi dan jalan
masuk yang aman, flap ini dijahit sememtara pada puncak lingir residual. Tulang kemudian diukur
ketingggiannya dengan menggunakan bur fisur disertai irigasi salin steril. Kemudian potongan-
potongan torus diambil dengan osteotom, dengan menggunakan mallet atau ditekan dengan tangan
Penghalusan akhir dilakukan dengan bur besar bulat atau bur akrilik yang berbentuk buah pir dan
kikir tulang. Pertimbangan utama dalam pengambilan torus palatum adalah menghindari terjadinya
lubang pada dasar rongga hidung.
Sesudah irigasi dan inspeksi, dilakukan penjajagan penutupan flap. Apabila ada
jaringan lunak yang berlebihan maka dilakukan pemotongan seperlunya. Penutupan dimulai dari
posterior dan dengan beberapa jahitan matres horizontal terputus. Penempatan jahitan
dimungkinkan jika jahitan tidak disimpul (namun hanya ditahan dengan hemostat) sampai semua
jahitan sudah terpasang. Hematom yang terjadi dibawah flap palatal merupakan hal yang biasa
terjadi. Kejadian ini bisa dihindari atau diperkecil dengan menggunakan stent bedah akrilik atau
dengan pengikatan sponge pada palatum sehingga membantu menekan flap ke arah palatum

II Torus mandibula
Torus mandibula terlatak di atas perlekatan otot milohioid, dan biasanya bilateral.
Pengambilan dilakukan dengan membuat flap envelope yang relatif panjang di lingual tanpa insisi
tambahan . Suatu insisi dengan ketebalan penuh (menyertakan mukosa dan periosteum) dibuat di
atas puncak lingir residual atau pada kreviks gingival bagian lingual, apabila giginya masih ada. Flap
mukoperiosteal tersebut kemudian disingkapkan dari permukaan superior dan permukaan lingual dari
lingir dan torus dengan hati-hati untuk menghindari sobeknya flap. Dengan menggunakan bur bulat
atau fisur dilakukan pengeburan dengan kedalaman 3-4 mm sepanjang garis pertemuan antara torus
dengan permukaan kortikal mandibula dari posterior ke anterior. Pengeboran ini dibuat sejajar atau
sedikit miring terhadap permukaan medial mandibula. Sekali lagi pengambilan torus bisa dilakukan
dengan menggunakan osteotom.

Karena biasanya terdapat celah alami di antara torus dengan lamina mandibularis
lingual, maka untuk melepas torus hanya memerlukan kekuatan tarikan yang sedikit saja. Sesudah
dilakukan penghalusan akhir dengan menggunakan bur dan kikir tulang, bagian tersebut diirigasi
dengan salin steril dan diinspeksi. Penutupan dilakukan dengan jahitan kontinyu dari posterior ke
anterior. Pembentukan hematom lebih jarang terjadi dibanding dengan pengambilan torus palatinus.



III Prosedur yang lainnya
Eksostosis atau Gangguan Penulangan
Prosedur korektif yang lain meliputi pengambilan eksostosis dan reduksi atau
pengambilan puncak milohioid atau tuberkulum genial. Eksostosis mudah diambil apabila jalan
masuk sudah didapatkan. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan flap envelope atau semilunar
asalkan ukurannya memadai. Baik tuberkulum genial maupun puncak milohioid mempunyai bagian
tertentu yang merupakan tempat perlekatan otot, yang cenderung membentuk tonjolan dan
mempengaruhi proses atropi pada mandibula. Melalui insisi lingual berbentuk lengkungan maka m.
genioglossus dan tuberkulum superior dengan mudah bisa dilihat. Ototnya dipisahkan dengan pisau
atau gunting dan tuberkulum dipotong dengan bur. Apabila reduksi yang telah dilakukan itu tidak
menghilangkan gangguan yang ada, bisa dilakukan penataan kembali melalui insisi yang serupa,
yang dapat mempertahankan perlakatan otot atau tulang, tetapi memisahkan dan mereposisi
tuberkulum genial superior dan inferior lebih ke inferior.

Lingir Milohioid
Pendekatan terhadap lingir milohioid serupa dengan pengambilan torus mandibula
yaitu dengan pembuatan flap envelope lingual yang luas dan disingkapkan dari puncak lingir
residual. M. mylohyoideus dipisahkan dari origonya dengan menggunakan skalpel (#5) dan
kemudian lingir dibentuk kembali atau diambil dengan menggunakan bur tulang. Tidak dilakukan
usaha untuk mencekatkan kembali m. mylohyoideus. Pengambilan tuberkulum genial bersamaan
dengan milohioid harus dihindarkan, karena kontrol lingual secara nyata mengalami gangguan
apabila hal tersebut dilakukan.

Spina Nasalis
Apabila resorpsi lingir maxila sangat ekstrem, spina nasalis anterior bisa menjadi
sangat menonjol sehingga mengganggu pinggiran protesa gigi. Spina nasalis bisa dengan mudah
diambil dengan menggunakan rongeur atau bur tulang melalui flap semilunar yang ditempatkan di
sebelah bawahnya.

PREPARASI JARINGAN LUNAK
Koreksi jaringan lunak yang berupa bermacam-macam frenektomi dan tuberoplasti dapat
meningkatkan kenyamanan dan kestabilan protesa, hanya dengan usaha pembedahan yang relatif
sederhana dan tidak menyakitkan.

I FRENEKTOMI LABIAL
Frenulum labial bukanlah tali muscular tetapi terdiri dari mukosa dan jaringan ikat fibrosa.
Keduanya tidak memberikan peranan fungsional kecuali pasif untuk membatasi gerak bibir. Frenulum
labial superior adalah yang paling sering menimbulkan masalah. Ini dengan mudah di eksisi dengan
insisi elips di sekitarnya. Setelah mukosa diambil, dilakukan penyesetan dari lateral paa bidang
supraperiosteal utuk membebaskan tali=tali fibrosa dari tempat perlekatan. Penempatan
jaringanpertama sangat penting karena cenderung menentukan kedalaman vestibular. Jahitan ini
melalui tiga lapisan, periostreum kemudian mukosa lagi. Penutupan disempurnakan dengan jaringan
terputus tambahan atau dengan teknik kontinu. Edema labial bisa dikontrol dengan baik dengan
aplikasi es, pembalut eksternal dengan penekanan, atau keduanya. Eksisi spinanasalis anterior yang
menonjol dan frenulum labialis di dekatnya, kadang dilakukan bersamaan.

II FRENEKTOMI LINGUAL
Frenektomi/frenetomi lingual kadang-kadang dilakukan pada anak-anak atas anjuran
ortodontis, dokter gigi anak, atau orang tua. Baik pada anak-anak atau pada orang dewasa yang tak
bergigi bisa digunakan teknik yang sama, walaupun untuk bayi kadang-kadang frenotomi sederhana
sudah mencukupi. Lidah diimobilisi dengan jahitan pada bagian ujungnya. Garis besar ditentukan
dengan insisi mucosal. Kemudian frenulum dieksisi dengan menggunakan gunting atau tang fiksasi
jaringan dimana tempat diksesi lebih dekat kea rah lidah, bukan kedasar mulut. Penutupan bisa
dilakukan dengan baik dngan menggunakan gut/bahan yang bisa diabsorbsi yang lain karena
pembukaan jahitan sering sulit dan menyakitkan.mungkin terjadi edema lingual sesudah dilakukan
frenektomi, maka dianjurkan pada pasien untuk menempelkan atau menggulum es sesering
mungkin. Eksisi yang berbentuk elips dapat digunakan pada sebagian besar kasus penganmbilan
flenulum. Prosedur yang lama misalnya Z-plasti relatif sulit untuk mukosa mulut dan ileh karena itu
jarang diindikasikan.

III REDUKSI TUBEROSITAS
Reduksi tuberositas terutama melibatkan eksisi jaringan lunak, tetapi apabila terjadi hipertrofi
yang ekstrem dan celah antar linger kurang memadai, maka diperlukan pemotongan tulang.
Tuberositas direduksi melalui dua arah, yaitu vertikal untuk mendapatkan celah antar-lingir, dan
horizontal untuk mereduksi/menghilangkan undercut bagian bukal. Umumnya diperlukan reduksi
pada kedua arah tersebut. Inisiasi awal awal biasanya berupa elips, mulai dari distal
tuberositasmenuju arah premolar. Eksisi pada bagian bukal dan platinal serong, dan bertemu pada
supraperiosteal (diatas lingir), sehingga eksisinya berbentuk huruf V. sesudah dieksisi berbentuk
elips V, tepi-tepi insisi segitiga dibagian bukaldan lingual, segitiga sagital dieksisi. Flap kemudian
dijahit sementara untuk mendapatkan celah antar-lingir. Apabila diperlukan celah yang lebih lebar
lagi, maka tulang dieksisi dengan menggunakan Rongeur, dan harus diperhatikan jangan sampai
masuk kedalam antrum. Hal yang sangat perlu dipertimbangkan adalah bahwa reduksi yang
berlebihan dari tuberositas dalam arah vertikal akan sangat mengurangi atau menghilangkan notch
hamular tuberositas posterior. Kelebihan mukosa dieksisi, dan penutupan dilakukan dengan jahitan
terputus atau kontinu. Apabila protesa telah tersedia, lapisilah dengan bahan kondisioner jaringan
sehingga bisa berfungsi seperti biasa dan memacu/mempercepat proses penyembuhan.

IV PROSEDUR LAIN
Hyperplasia papilla
Hyperplasia papilla merupakan suatu kondisi yang terjadi pada daerah palatal yang tertutup
oleh protesa. Daerah ini biasanya tampak merah misalnya eritemaus/mengalami keradangan.
Dengan tonjolan-tonjolan pada mukosa yang berupa papilla kecil multipel. Perawatannya meliputi
reduksi pada daerah yang mengalami keradangan; pelapisan (relining)protesa dengan
menggunakan bahan kondisioner jaringan atau mengistirahatkan mukosa dengan jalan melepaskan
protesa tersebut. Organisma kandida biasanya terlibat pada kondisi ini, karena itu perawatan dengan
antijamur misalnya salep nistatin (Mycostatin) seringkali cocok. Merendam protesa didalam larutan
nistatin juga membantu mengontrol infeksi. Komponen papilla kemudian diambil sampai
supraperiosteal, dengan menggunakan bedah elektro, dengan memotong memakai pisau, atau
dengan teknik muko atau dermabrasi.

Hiperplasia fibrosa
`Hiperplasia vestibular yang mengalami keradangan dan linger yang kendur merupakan akibat
dari cedera oleh karena pemakaian protesa ditambah resorpsi tulang, baik patologis atau fisiologis.
Lesi hiperplastik berkembang di dekat pinggiran protesa dan berbentuk sebagai mukosa yang
panjang, mengandung jaringan fibrosa atau sikatrik atau jaringan parut dan kadang-kadang
mengalami ulserasi. Perawatan dilakukan dengan eksisi sederhana tetapi ini tidak akan berarti
apabila tidak dilakukan tebasing pada protesa atau dibuatkan protesa yang baru yang baru, paling
tidak sayap yang mengiritasi diperbaiki. Tidak melakukan pemeriksaan histopatologi terhadap
jaringan yang dieksisi tersebut, bisa merupakan kesalahan yang serius karena karsinoma papila,
kadang memberikan tanda-tanda klinis yang serupa.

Jaringan Lunak yang berlebihan
Keadaan jaringan lunak yang berlebihan (flabby) terutama diagnose dengan palpasi yang
dapat menunjukkan jaringan lunak yang bergerak tanpa dukungan tulang yang memadai. Ada
beberapa alternatif penatalaksanaan jaringan lunak yang berlebihan, yaitu eksisi yang sederhana,
vestibuloplasti, penambahan lingir. Besarnya kerusakan lingir menentukan jenis terapinya. Apabila
hilangnya tulang hanya sedikit, maka eksisi yang sederhana sudah dianggap cukup. Pada
kehilangan tulang tingkat sedang, testibuloplasti memberikan hasil yang memuaskan, sedangkanc
apabila tulang yang hilang sangat luas, mungkin memerlukan penambahan linggir.keadaan ini yang
paling sering terjadi pada seorang pemakai gigi tiruan penuh pada rahang atas sedangkan gigi
anterior bawah masih baik. Apabila tidak menggunakan gigi tiruan sebagian untuk gigi posterior
bawah, biasanya akan terjadi kehancuran yang sangat ekstrim pada linggir rahang atas.
Penatalaksanaan kasus semacam ini tanpa mengubah atau menghilangkan etiologinya, yaitu
dibuatkan geligi tiruan sebagian yang baik atau mencabut gigi-gigi bawah antagonisnya, akan
memberikan hasil kurang baik.
Bedah Preprostetik 2
PEMBEDAHAN UNTUK PROTESA IMMEDIAT
Kelemahan utama dalam pembuatan protesa imediat adalah kesalahan mempersiapkan
model dan kegagalan untuk mendapatkan petunjuk pembedahan yang memadai. Hanya dengan
menghilangkan gigi pada model tidak banyak membantu apabila dikaitkan dengan alveoplasti yang
dilakukan di klinik. Minimal, alveoplasti untuk persiapan lingir pada pembuatan protesa imediat,
khususnya pada daerah anterior atas, paling tidak memerlukan eksisi dari papilla interdental,
pembuatan flap bukal secukupnya dan penghalusan tulang. Apabila penyakit periodontal
mengakibatkan kerusakan tulang yang luas, maka pengambilan jaringan granulasi dan prosedur
pembentukan tulang kembali(recontouring) sering merupakan tindakan bedah yang melibatkan
daerah yang luas. Suatu pedoman yang terbuat dari akrilik bening, mampu mencakup seluruh
lengkung rahang, akan memperlancar tindakan bedah tersebut.


I Alveolektomi anterior atas
Kebanyakan tindakan preparasi lingir untuk protesa imediat tidaklah rumit, tetapi pasien
maloklusi klas II atau protrusi bimaksilar yang disertai protrusif insisivus atas yang ekstrem
memerlukan pembedahan yang lebih banyak karena adanya undercut labial yang luas. Oleh karena
itu diperlukan kombinasi pemeriksaan klinis, radiografis, dan pemeriksaan pada model. Undercut
apabila hanya sedikit mungkin bisa dihilangkan hanya dengan pengasahan tulang sebelah fasial.
Apabila besar, maka perlu dilakukan tindakan alveolotomi. Sesudah dilakukan insisi alveoplasti dan
pembuatan flap, tulang intraseptal dieksisi dengan menggunakan bur/ tang Rongeur, dan tulang
sebelah labial di dorong kearah palatal untuk menghilangkan/mengurangi undercut fasial. Seringkali
puncak fasial pada lingir yang menonjol dibentuk kembali untuk menghindari bentuk lengkung rahang
seperti huruf V. Suatu template yang dibuat dari akrilik bening mencakup seluruh rahang akan
memperlancar prosedur ini dengan mengungkapkan adanya daerah yang pucat karena tertekan,
yang menunjukan bahwa daerah itu perlu diasah. Penjahitan dilakukan dengan teknik terputus/
kontinue.

II Tindak Lanjut
Tanpa memperhatikan sifat dari tindakan bedah yaitu alveoplasti sederhana atau alveolotomi,
protesa imediat tidak boleh dilepas selama 24 jam pertama setelah pemasangan. Aplikasi dingin
untuk mengurangi edema dan pemberian analgesic yang sesuai (misalnya kombinasi narkotik/non-
narkotik). Pada control pertama, protesa dilepas dan daerah yang mengalami iritasi diperbaiki.
Apabila waktu protesa dipasang kembali tetap terasa sakit, maka kadang-kadang bisa dibantu
dengan anestesi topical.

VESTIBULOPLASTY
Vestibuloplasti adalah prosedur penambahan lingir yang relatif. Tujuannya adalah membuat
permukaan lingir yang ada meningkat sehingga permukaan yang digunakan untuk menahan protesa
menjadi lebih besar. Hal ini sering dilakukan dengan jalan migrasi apikal dari mukosa bukal (split
thickness flap). Cacat pada permukaan periosteum yang terjadi diharapkan sembuh dengan
membentuk jaringan granulasi atau re-epitelisasi, atau ditutup dengan flap mukosa yang digeser,
atau cangkokan mukosa atau kulit. Prosedur vestibuloplasti dikelompokkan berdasarkan luasnya
total atau sebagian.

I Vestibuloplasti total rahang bawah
Pendekatan standar vestibuloplasti total mandibula biasanya mencangkup merendahkan
sulkus lingual dan memerlukan rawat inap. Pemilihan pasien sangatlah penting karena atropi yang
berlebihan tidak memberikan ketinggian dan lebar lingir yang memadai, sehingga prosedur untuk
peninggian absolut seperti penambahan lingir merupakan indikasi. Sebelum dilakukan pembedahan,
dibuat sendok cetak akrilik yang digunakan untuk mendapatkan cetakan dari daerah yang sudah
dipersiapkan yang juga bertindak sebagai stent untuk membawa cangkokan kulit. Pada mulanya
insisi dibuat tepat di lingual dari puncak lingir residual. Dengan diseksi supraperiosteal, mukosa
disingkapkan ke lingual untuk memaparkan m.mylohyoideus, yang dipisahkan pada bagian di dekat
origonya pada linea milohioidea. M. genioglossus direseksi sebagian pada origonya, biasanya
kurang lebih sepertiga sampai setengah ketinggiannya. Periosteum bukal dibedah dengan jalan
mendiseksi mukosa dengan membuat insisi kedua yang terletak di bukal dari puncak lingir.
Keberadaan n. mentalis juga harus diperhatikan.

II Reposisi flap ke apikal
Dengan menggunakan penusuk, jahitan dimasukkan lewat tepi anferior mandibula untuk
menekan flap lingual ke bukal dan dengan efektif mereposisi kedua flap kearah apikal. Cangkokan
kulit yang tipis didapatkan dari daerah yang relatif tidak berambut (biasanya kulit paha) dan
diadaptasikan pada cetakan kompound dari daerah operasi yang dilapisi gutta percha (protaform).
Stent tersebut di jahit dengan jahitan atau kawat yang mengelilingi mandibula (sirkum-mandibula).
Sesudah 7-8 hari stent dilepas dan cangkokan dievaluasi. Biasanya terdapat 80-90% dari cangkokan
kulit mengelupas. Protesa pasien direlining dan segera dipasang. Cangkokan kulit secara efektif
menghalangi migrasi ulang dari mukosa dan perlekatan otot yang telah direposisi kearah oklusal.

III Vestibuloplasti subtotal
Vestibuloplasti bisa dimodifikasi sesuai dengan luas dan sifat dari cangkokan. Vestibuloplasti
segmental terbatas pada regio anterior bawah yang menggunakan flap bukal yang ditransposisikan,
atau cangkokan mukosal yang diambil dari palatum. Kadang-kadang pada lengkung rahang atas
vestibuloplasti dilakukan tanpa cangkokan, dan penyembuhan terjadi dengan granulasi dan re-
epitelisasi. Prosedur ini memerlukan diseksi apikal supraperiosteal yang luas, karena setengah dari
ketinggian lingir yang didapat biasanya akan hilang pada akhir tahun pertama.

PENAMBAHAN LINGGIR
I Tulang untuk penambahan linggir
Apabila daerah yang mendukung protesa dari lingir yang atropi besar tidak bisa diperbaiki
dengan vestibuloplasty, mungkin bisa dilakukan rekonstruksi lingir dengan penambahan.
Penambahan dilakukan menggunakan tulang pasien sendiri (autologus), bahan aloplastik (misalnya
hidroksiapatit), atau gabungan dari keduanya. Tulang yang dicangkokkan diambil dari crista illiaca
atau tulang iga. Baik lingir maksila maupun mandibula bisa menerima teknik ini. Crista illiaca
memberikan fasilitas tulang kanselus yang lebih banyak dengan kemampuan osteogeniklebih baik
dibandingkan tulang iga. Cangkokan crista illiaca biasanya unikortikal dan lebih cocok untuk rahang
atas dimana adaptasi dan konturing tidak begitu ditekankan. Cangkokan tulang iga biasanya diambil
secara longitudinal dan diukurkan melintang sebelum diadaptasikan pada mandibula. Cangkokan
tulang distabilisasi dengan pengawetan langsung (transoseus) pada linggir residual rahang atas atau
rahang bawah. Penutupan mokuperiosteum sangat menentukan keberhasilan teknik ini, karena insisi
yang benar-benar terpisah akan mengurangi terjadinya kemungkinan infeksi pasca bedah.
Penambahan dengan tulang pesien sendiri memerlukan rawat inap dibanding tindakan lain misalnya
preparasi lingir dengan pembedahan yang ekstensif, prosedur pembedahan yang kedua, misalnya
pengambilan cangkokan dan kadang-kadang vestibuloplasti yang dilakukan sesudahnya, dan waktu
yang lama sampai protesanya bisa dipakai. Linggir yang ditambah dengan cangkokan tulang
merupakan subjek resorpsi selama 2 tahun pertama sesudah pembedahan.

II Aloplas untuk penambahan lingir
Penambahan linggir dengan aloplas (unsur hidroksiapatit) sering dilakukan
dibagian bedah selain dengan pencakokan tulang autologus. HA merupakan bahan
yang relatif biokompatibel, non-biodegradasi, osteokonduktif, dan osteofilik, tetapi
non-osteogenik. Berbentuk bahan yang mempunyai partikel granular yang halus,
tersusun secara teratur ataupun tidak. Secara kimiawi, mirip dengan kalsium fosfat
yang menyusun email atau tulang. HA terdapat di dalam syringe berdiameter kecil
(6mm) yang berisi 0,75mg bahan steril dan siap digunakan, HA dibasahi dengan
salin atau darah vena untuk membantu pengeluarannya dari dalam syringe. HA
bersifat radiopak, dan tempat pertemuan antara tulang dan aloplas dengan mudah
terlihat pada film.

III Diseksi untuk penambahan lingir
Penambahan linggir regional maupun total dilakukan dengan cara yang serupa yaitu diseksi
subperiosteal dan deposisi, penutupan (agar tidak bocor), dan pencetakan terhadap HA. Ada
berbagai pendekatan untuk membentuk saluran subperiosteal, yang diperlukan untuk membentuk
ruang atau kantung tempat deposisi bahan. Diseksi mandibula dilakukan dengan insisi melintang
bilateralpada regio gigi kaninus atau insisivus di garis tengah dikombinasi dengan insisi bilateral
disebelah posterior foramen mentale. Cabang-cabang dari n. Mentalis dengan hati-hati
dipertahankan. Lingir rahang atas bisa dicapai dengan insisi melintang tunggal pada garis tengah,
untuk penambahan lingir yang terbatas ke arah anterior atau insisi pada regio kaninus bilateral untuk
mendapat jalan masuk ke seluruh lingir. Diseksi subperiosteal dilakukan dengan menggunakan
elevator periosteal. Faktor pertama pada preparasi kedua lingir tersebut adalah menghindari
perluasan yang berlebihan (overdiseksi), yang memungkinkan keluarnya bahan menuju keruang
jaringan lunak di sekitarnya. Jahitan yang erat biasanya digunakan untuk menarik dan memfiksasi
insisi melintang, agar insersi syringe yang memuat HA akan lebih mudah. Bahan tersebut
diseposisikan dari posterior ke anterior. Apabila terdapat atropi yang luas (pasien klas III/IV),
makabisa dilakukan kombinasi cangkokan autologus-aloplas dengan perbandingan 1:1. Apabila
pengisian sudah selesai, insisi ditutup dengan jahitan yang dapat diabsorbsi. Untuk menutup dan
mencetak cangkokan digunakan basis protesa akrilik atau templete yang dibuat sesuai dengan
konfigurasi lingir yang diharapkan. Basis protesa tersebut distabilisasi dengan pengawatan
sirkummandibular (pada mandibula) atau sekerup tulang pada maksila. Basis protesa atau templete
tersebut tetap dipertahankan pada tempatnya selama 3-4 minggu. Hal ini dimaksudkan bukan hanya
untuk menunggu mengerasnya HA saja, tetapi juga untuk mempertahankan kedalaman sulkus.

IV Pengembang jaringan (tissue expenders)
Pengerasan HA memerlukan waktu 4-6 minggu. Pada praktek biasanya ditunggu sampai 4
minggu sesudah pembedahan untuk konstruksi protesa sementara dan paling tidak 2 bulan apabila
ingin dilakukan vestibuloplasti. Setelah 4 tahun pada sebagian besar kasus menunjukkan tetap
terpeliharanya lingir (hasilpenambahan)dengan 90% tetap bertahan dengan baik. Komplikasi utama
pada penambahan lingir mandibula adalah trauma pada n. Mentalis dan mengakibatkan
anestesia/disestesia, yang manifestasinya berupa semutan pada bibir. Kembalinya sensasi
merupakanhal yang memang harus terjadi dan bukan merupakan perkecualian. Terapi profilaksis
antibiotik dianjurkan oleh beberapa ahli bedah, walaupun infeksi pasca bedah kemungkinannya kecil.

V Blok hidroksiapatit
Blok HA yang porus kadang-kadang digunakan untuk penambahan lingir. Insersi dilakukan
dengan pembuatan saluran subperiosteal atau dengan prosedur pembukaan flap, dengan jalan
masuk yang agak lebih luas, dibuat sepanjang insisi lingir dan pembuatan flap yang besar. Apabila
menggunakan blok HA, maka mukosa harus masih ada dan dapat dimobilisasi, karena tegangan
penutupan cenderung mengakibatkan dehisensi tepi insisi mukosal, sehingga mendedahkan
materialnya . Walaupun hasil awal dari blok HA nampak memuaskan misalnya85-90% dari
cangkokan bisa bertahan tanpa terjadi dehisensi selama tahun pertama, tetapi perkembangan
selanjutnya nampaknya kurang menggembirakan. Pada 2 tahun pertama, keberhasilan mungkin
menurun sampai 15-20%. Penyebab kegagalan umumnya adalah rusaknya mukosa pada daerah
premolar, pada bagian pertemuan dari blok. Usaha selanjutnya dalam mereduksi terbukanya bahan
blok mengungkapkan adanya kegagalan vaskularisasi pada implan.

VI Pemeliharaan lingir
Insersi HA dengan segera pada tempat bekas pencabutan menunjukkan hasil klinis dan
laboratoris yang baik dalam mempertahankan lingir alveolar. Pada suatu studi, pasien yang telah
dievalusi ulang setelah lebih dari 2 tahun menunjukkan bahwa lingir dari sisi yang dilakukan
perawatan ukurannya 2 kali lebih besar dibandingkan yang tidak dirawat (kontrol), walaupun dibebani
protesa pada waktu berfungsi.
Klasifikasi kekurangan lingir alveolar:
Klas I : Ketinggian lingir alveolar memadai tetapi kurang lebar, biasanya disertai defisiensi
lateral atau daerah undercut.
Klas II : Ketinggian dan lebar lingir kurang; dan terdapat lingir yang runcing seperti pisau.
Klas III : Lingir alveolar mengalami resorbsi sampai ke tulang basilar, sehingga menimbulkan
cekungan pada bagian posterior mandibula dan lingir yang konfigurasinya tajam. Jaringan lunak
yang berlebihan sering terdapat pada rahang atas.
Klas IV : Ada resorbsi pada tulang basilar sehingga menjadikan bentuk mandibula yang tipis
seperti pensil dan maksilanya datar.

IMPLANTOLOGI
Implan telah digunakan bertahun-tahun dengan hasil yang baik pada bagian ortopedik dan
pada penggantian tulang pinggul misalnya, penggantian tulang pinggul dewasa ini sudah sering
dilakukan, sesering tonsilektomi. Ortopedis cukup beruntung karena mereka tidak menghadapi hal
yang berkenaan dengan perlekatan mukosa, atau eppithelial cuff, peralatan protesa yang
menumpang diatas rahang, tekanan multi arah yang mengenai daerah kecil, kebutuhan akan higiene
yang cermat, dan bakteri yang selalu ada di dalam saliva.
Posisi Implantologi gigi pada masa sekarang ini terutama berkenaan dengan tiga aplikasi
dasar; Subperiosteal, endosteal, dan transosteal.

I IMPLAN SUBPERIOSTEAL
Indikasi; implan subperiosteal dipergunakan terutama pada posisi mandibula yang
mengalami atrofi yang hebat, terutama pasien yang mengalami kegagalan pemakaian protesa
berkali-kali, atau pada kasus dimana atrofi terbedahnya bundel neurovaskuler (terkena trauma)
sehingga menimbulkan rasa sakit pada mentalis. Karena protesa pada keseluruhannya tertanam,
maka penggunaan implan subperiosteal cenderung melindungi n.alveolaris inferior/mentalis dari
iritasi atau stimulasi dan mengurangi pengaruh pergeseran yang disebabkan oleh kerja otot. Sebagai
tambahan sesuatu yang bersifat implan akan meniadakan kompresi jaringan antar basis protesa
dengan kerangka implan
Seleksi dan desain; Penggunaan implan subperiosteal pada rahang atas telah
dibatasi dalam beberapa tahun terakhir ini karena berdasarkan laporan bahwa dalam lima tahun
terakhir ini mengalami kegagalan sebesar 75%. Penggunaan implan mandibula dibatasi pasien-
pasien yang mengalami kegagalan pada penggunaan protesa konvensional, dan tidak dianjurkan
untuk diletakkan padsa gigi yang antogonis giginya merupakan gigi asli. Dalam hal konfigurasi ridge
tidak mampu mendukung protesa konvensional misalnya lingir berbentuk runcing (knife ridge), maka
kondisi seperti ini harus diperbaiki terlebih dahulu. Surgiccal grade vitallium yaitu suatu aloi yang
terdiri dari chronium, cobalt, manganese, molybdenum, silicon, dan carbon digunakan untuk
membuat implan. Kerangka implan, yang terdiri adri topangan periferal dan sekunder, dengan
superstruktur intraoral yaitu tonggak atau bar abbutment terletak tepat diats sisa lingir alveolar.
Pasak atau bur abbutment menonjol diatas permukaan mukoperiosteum pada regio gigi kaninus dan
pada molar pertama. Superstruktur menjadi bagian integral dari protesa. Dukungan dan retensi
dicapai penggunaan precission attachment. Tekanan kearah lateral dikurangi dengan penggunaan
gigi akrilik posterior yang ada.
Tindakan bedah untuk implan subperiosteal; Persiapan tindakan bedah untuk
implan subperiosteal mandibula memerlukan pencetakan terlebih dahulu baru kemudian diikuti
dengan insersi, seminggu kemudian. Interval antara pencetakan dengan insersi, lebih cepat lebih
baik, karena perubahan atau resobsi tulang bisa dikurangi. Tindakan bedah bisa dilakukan di kamar
bedah atau kamar praktek dengan menggunakan anastesi lokal atau sedasi atau anastesi umum
yang sesuai. Untuk mendapatkan potongan lingir harus mendapatkan potongan yang luas, dan perlu
dilakukan tindakan hati-hati sehubungan dengan adanya n.mentalis, perlekatan m.genioglossus dan
m.milohioideus. Untuk pencetakan digunakan material rubber base. Pada waktu insersi, biasanya
beberapa hari kemudian lingir dibuka kembali dan kerangka implan ditempatkan kembali
ketempatnya, dengan superstruktur (diletakkan dibagian atas) terletak pada tempatnya untuk
mencegah kemungkinan terjadinya perubahan bentuk. Kerangka tidak sekrup. Peralatan transisi
digunakan 4-6 minggu, sesudah itu konstruksi dari protesa yang sebenarnya dimulai. Sistem implan
subperiosteal memerlakan higiene mulut yang cermat dari pasien, pemantauan jangkauan oklusi
dilakukan prostodonsi, karena hal tersebut sangat mempegaruhi implan.
Pemantauan implan; Pembuatan implan subperiosteal yang didasarkan atas model
yang didapat dari CT (Comuted Tomography Scan) tiga dimensi, sekarang bisa dilakukan. Teknik ini
memiliki keuntungan yaitu tidak perlu diadakan pencetakan sebelum dilakukan pembedahan dan
penundaan pembuatan implan. Pelapisan implan dengan HA bertujuan untuk menambah perlekatan
pada permukaan tulang dengan implan.

II IMPLAN ENDOSTEAL
Definisi; implan endosteal diletakkan dalam tulang kanselus dari lingir. Implan ini
sudah digunakan selama 10 tahun dan meningkatnya popularitas terlihat pada desain yang
bermacam-macam yang bisa digunakan. Implan endosteal biasanya digunakan dikamar bedah.
Pada teknik satu tahap, implan hanya sepotong saja dan tonggak abbutment menonjol keluar
mukosa. Pada teknik dua tahap, mukosa yang menutupi osteal implan dibuka dengan pembedahan
sebagai prosedur sekunder 3-4 bulan setelah implan dipasang, dan kemudian tonggak intraoral
dipasang pada tempatnya. Kekurangan dari metode dua tahap ini terletak pada biaya yang harus
dikeluarkan, ukurannya relatif lebih besar, dan biasanya memerlukan alat individual
Desain; Ada tiga desain standar pada implan endosteal; Blade, silinder, sekrup dan
kombinasi dari tiga hal tersebut. Implan endosteal secara umum dibuat dari titanium/aloi titanium,
diberi lubang-lubang atau jendela, dan seringkali dilapisi semprotan plasma titanium.pirolitic carbon,
aluminium oksida, dan HA. Untuk membantu integrasi endosteal, yaitu penggabungan tulang dengan
implan atau penyatuan tanpa diperantarai jaringan lunak. Dalam satu sistem, implan mempunyai
diameter 3,75mm dan panjangnya bisa 7,10,13, dan 15 mm. Implan endosteal bisa dilakukan apabila
lingir mempunyai lingir yang cukup dan jarak antara implan dengan antrum atau bundel
neurovaskuler alveolaris inferior paling tidak 2mm
Insersi dua tahap; Dengan satu tahap, implan diinsersikan melalui flap sampul
(envelope) mukoperiosteal yang direfleksikan dari insisi memanjang, terletak setengahketinggian
lingir alveolar bukal. Untuk mencapai kesejajaran antar bagian, maka insisi mulai pada bagian garis
tengah, dan indikator arah diinsersikan pada bagian permulaan. Harus diperhatikan dengan baik
orientasi sumbu panjang lubang untuk mendapatkan dukungan tulang maksimal, dipertimbangkan
hubungan implan dengan lengkung rahang antagonisnya, serta penentuan jalan masuk (path of
insersion) untuk pemasangan protesa dimasa yang akan datang. Untuk meningkatkan diameter antar
lubang digunakan dril spiral. Implan yang partially self tapping itu, kemudian diulirkan pada
tempatnya (biasanya enam pada mandibula, dan empat sampai enam pada maksila). Penempatan
akhir dilakukan dengan menggunakanRatchet wrench. Saluran internal yang telah dibuat, dimasuki
sekrup, kemudian flap dikembalikan dan dijahit. Beberapa ahlibedah menganjurkan pemberian
profilaksis antibiotik sesudah pembedahan
Operasi abutment; Tiga atau empat bulan sesudah insersi implan, gingiva yang
menutupi implan dieksisi untuk mengeluarkan sekrup penutup dan insersi abutment. Abutment yang
biasanya menembus mukosa cekat, menonjol kira-kira 1mm. Kemudian mukosa dijahit melingkari
abutment. Penatalaksanaan prostetik yang terdiri dari pembuatan bar dari emas dengan gigi akrilik
ditunda 2minggu. Perlu ditekankan untuk menjaga higiene mulut dengan cermat.
Oseointegrasi; Apabila diharapkan terjadi oseointegrasi, maka terjadinya panas pada
tulang dan nekrosis tulang harus dihindarkan. Hal ini dilakukan dengan jalan mengebur dengan bur
kecepatan rendah, dengan dril internal dan diselingi dengan irigasi. Pada sistem dua tahap,
mukoperiosteum ditutup diatas implan pada saat diinsersikan. Tutup tersebut dibuka setelah 3-4
bulan, agar terjadi oseointegrasi, dan bisa diversikan sebelum implan dipasang. Oseointegrasi bisa
dilihat secara klinis maupun radiologis. Secara klinis implan tidak bergerak dan perkusi menunjukkan
adanya jaringan yang keras disekitar implan. Film periapikal, idealnya menunjukkan hubungan tulang
dengan implan yang baik tanpa disisipi jaringan lunak, misalnya tidak ada radiolusensi diantara
implan dan tulang
Hasil; Keberhasilan implan endosteal dilaporkan 84% pada rahang atas, dan 91%
pada rahang bawah dalam waktu 10 tahun pertama. Keberhasilan pada 5 tahun pertama 91% pada
rahang atas dan 96% pada rahang bawah. Suatu indikator kegagalan yang biasa terjadi adalah
adanya jaringan fibrous yang mencengkram implan, yang biasa dibuktikan dengan adanya mobilitas
dan radiolusensi dan oleh karenanya implan harus dilepas

III IMPLAN TRANSOSTEAL
Mandibular staple; Untuk melakukan insersi pada mandibular staple perlu dilakukan
adanya rawat inap, Staple relatif lebih mahal dan memerlukan peralatan yang ekstentif dan
individual. Alat ini dibuat dari tivanium, yang merupakan aloi aluminium/vanadium yang mempunyai
kekuatan tarikan yang tinggi. Desainnya tersusun atas plat horizontal dibagian bawah, yang
merupakan basis, untuk penempatan tiga sampai lima pasak retentif yang berukuran 9mm dan dua
tonggak transoseus berulir., yang menembus mukosapada regio kaninus. Implan ini tersedia dalam
tiga ukuran dan diletakkan secara terpisah pada mandibula bagian anterior, regio simpisis. Paling
tidak harus ada tulang setinggi 10mm (dilihat secara sepalometri) pada tempat untuk insersi supaya
bisa menerima pasak retentif. Mandibular staple dipasang melalui kulit, dengan insisi submental.
Prosedur ini harus dilakukan dengan cermat karena kesejajaran antara lubang-lubang tempat
pemasangan pasak retentif dan tonggak transoseus harus diperoleh. Sesudah 6-8 minggu dimulai
rehabilitasi prostetik tahap akhir. Protesa direkatkan pada superstruktur melalui stressbroken
precission attachment (dalbo, ceka). Mandibular staple hanya merupakan alat stabilisasi saja, dan
protesa lepasan secara keseluruhan didukung oleh jaringan. Seperti pemakaian implan jenis lain,
disini juga perlu dilakukan pemeliharaan higiene mulut yang cermat, dan kontrol yang teraturkedokter
gigi
Implan transmandibular; Implan transmandibular (TMI)merupakan peralatan simfiel
dengan tingkat keberhasilan 97%. Merupakan implan funsional yang didesain untuk menahan
tekanan kunyah langsung. Implan ini tersusun atas suatu palt basis, lima sekrup kortikal, dan 4
tonggak yang semuanya terbuat dari aloi emas yang biokompatibel (18 karat aloi 5%). TMI
diinsersikan kamar bedah dengan anastesi umum melalui insisi submental. Pengarah drill didukung
oleh tiga sekrup kortikal dan digunakan untuk membuat lubang yang akan dipergunakan untuk
menempatkan tonggak berulir. Kemudian pengarah drill diambil dan keempat tonggak dipasang dan
dicekatkan terhadap plat basis dengan mengencangkan sekrupnya. Lima sekrup kortikal juga
diinsersikan, menahan plat basis dengan kuat terhadap tepi bawah simpisis. Setelah bagian yang
bedah ditutup mur dipasang pada tonggak sehingga sehingga menembus mukosa, kemudian
dilakukan pencetakan. Pada hari berikutnya Bur Dolder dipasang dan mur dikencangkan. Pembuatan
protesa ditunda selama 4minggu. Keuntungan dari sistem ini adalah apabila komponen gagal
misalnya tonggak berulir maka alat tersebut bisa dilepas dan diganti dengan tetap mempertahankan
integritas dari komponen-komponen implan yang lain

Apa itu Penyakit Jantung Koroner ?
Merupakan suatu kondisi jantung yang tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, karena otot jantung
mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen.

Apa penyebab Penyakit Jantung Koroner ?
Penyebab utama PJK adalah penyempitan pembuluh darah akibat menumpuknya lemak yang dikenal sebagai
aterosklerosis.

Bagaimana gejalanya ?
Nyeri dada
Sesak napas
Serangan Jantung
Apa itu Penyakit Jantung Koroner ?
Merupakan suatu kondisi jantung yang tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, karena otot jantung
mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen.

Apa penyebab Penyakit Jantung Koroner ?
Penyebab utama PJK adalah penyempitan pembuluh darah akibat menumpuknya lemak yang dikenal sebagai
aterosklerosis.

Bagaimana gejalanya ?
Nyeri dada
Sesak napas
Serangan Jantung
Penyakit & Kondisi|
Mata|
Penyakit Jantung|
Perut Bawah|
Anggota Tubuh Bawah|
Punggung|
Obstetri|
Perut Atas|
Transplants|
Apakah itu Penyakit Jantung Koroner (CHD)?
Penyakit Jantung Koroner adalah penyempitan pembuluh darah kecil yang memasok darah dan oksigen ke
jantung. Ini disebabkan oleh pembentukan plak di dinding arteri, dikenal pula sebagai pengerasan arteri.
Pembentukan plak ini dapat menyertai perpaduan pradisposisi genetik dan pilihan gaya hidup. Faktor risiko
mencakup usia, jenis kelamin, riwayat genetik dan ras. Faktor lain yang memengaruhi kemungkinan CCHD
mencakup kolesterol tinggi, merokok, penyalahgunaan substansi dan masalah berat badan.
Jika dibiarkan tidak diperiksa, CHD dapat menyebabkan serangan jantungk dan bahkan kematian.
Gejala Penyakit Jantung Koroner mencakup:
Nyeri dada (angina)
Napas terengah-engah
Keletihan setelah kegiatan fisik
Merasa berat
Jantung terasa seperti diremas
Pengobatan Penyakit Jantung Koroner
Obat-obatan
Pasien bisa diminta untuk mengonsumsi obat-obatan melawan kolesterol, tekanan darah tinggi dan diabetes.
Penyebab utama Penyakit Jantung Koroner ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Bergantung pada
keparahan CHD, dokter dapat merekomendasikan pejamu obat-obatan termasuk penghambat beta, penghambat
ACE, diuretika, penghambat saluran kalsium, aspirin, nitrat dan statin. Ini akan membantu penurunan tekanan
darah dan meningkatkan aliran darah ke jantung.
Bedah Arteri Koroner
Pencangkokan Pintasan Arteri Koroner (CABG) adalah prosedur yang digunakan untuk memintas arteri
koroner yang terhalang. Untuk meningkatkan aliran darah ke otot jantung dan menghilangkan nyeri dada
(angina), pembedahan ini merupakan prosedur "pembukaan jantung" serius bagi pasien dengan kegagalan
jantung. Dalam kebanyakan kasus, pencangkokan pintasan menggunakan perpaduan arteri toraks internal dan
vena safena dari kaki. Saat prosedur ini dilakukan, pasien tersambung dengan mesin jantung-paru-paru dan
jantung dihentikan.
Prosedur Kateter
Bergantung pada keparahan kondisi, bedah dengan invasi minimal juga tersedia. Prosedur ini mencakup
angioplasti atau pembidaian intrakoroner.
Angioplasti Balon adalah proses di mana sebuah balon dikembangkan di dalam arteri yang terhalang, sering
kali menghasilkan pembentukan kalsium dan lemak di dalam dinding arteri. Balon dikempiskan dalam waktu
singkat, sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi darah untuk mengalir. Dokter juga dapat meletakkan
sebuah bidai, mata jaring kawat lunak di dalam arteri untuk memastikan bahwa arteri tetap terbuka. Ini biasanya
merupakan pilihan pertama bagi para pasien yang menderita serangan jantung.
Untuk memahami lebih jauh tentang kondisi Anda dan apa yang dapat dilakukan Gleneagles bagi Anda, silakan
lihat daftar layanan kami atau jadwalkan sebuah janji temu dengan seorang dokter.