Anda di halaman 1dari 17

FUNGSI MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI

ALLAH SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi


dari setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi,
udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air,
tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil
masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Pertanyaan kita adalah
apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah
sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai
fungsi yang lebih istimewa ?
Bagi seorang atheis, manusia tak lebih dari fenomena alam seperti
makhluk yang lain. Oleh karena itu, manusia menurut mereka hadir di
muka bumi secara alamiah dan akan hilang secara alamiah. Apa yang
dialami manusia, seperti peperangan dan bencana alam yang
menyebabkan banyak orang mati, adalah tak lebih sebagai peristiwa alam
yang tidak perlu diambil pelajaran atau dihubungkan dengan kejahatan dan
dosa, karena dibalik kehidupan ini tidak ada apa-apa, tidak ada Tuhan
yang mengatur, tidak ada sorga atau neraka, seluruh kehidupan adalah
peristiwa alam. Bagi orang atheis fungsi manusia tak berbeda dengan
fungsi hewan atau tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai bagian dari alam.
Bagi orang yang menganut faham sekuler, manusia adalah pemilik alam
yang boleh mengunakannya sesuai dengan keperluan. Manusia berhak
mengatur tata kehidupan di dunia ini sesuai dengan apa yang dipandang
perlu, dipandang baik dan masuk akal karena manusia memiliki akal yang
bisa mengatur diri sendiri dan memutuskan apa yang dipandang perlu.
Mungkin dunia dan manusia diciptakan oleh Tuhan, tetapi kehidupan dunia
adalah urusan manusia, yang tidak perlu dicampuri oleh agama. Agama
adalah urusan individu setiap orang yang tidak perlu dicampuri oleh orang
lain apa lagi oleh negara.

Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu
sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di
muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki
kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan
berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi
fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai
wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat
besar.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam
semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta
memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia
juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan
kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi
otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah
kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat
besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh
karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang
sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya
sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat
terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus
hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.
Fungsi Khalifah
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Alquran terhadap lingkungan
bersumber dari fungi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut
adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia
terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman,
pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan
penciptaannya. Dalam pandangan akhlak Islam, seseorang tidak
dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga
sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada
makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses
yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi.
Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia
tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, Setiap perusakan
terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia
sendiri. Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya
diciptakan oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki
ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim
untuk menyadari bahwa semuanya adalah umat Tuhan yang harus
diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Alquran ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga)
seperti manusia... (QS. Al-Anam [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada
kesadaran bahwa apapun yang berada di dalam genggaman
tangannya, tidak lain kecuali amanat yang harus
dipertanggungjawabkan. Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi,
setiap angin yang berhembus di udara, dan setiap tetes hujan yang
tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia
menyangkut pemeliharaan dan pemanfaatannya, demikian kandungan
penjelasan Nabi Saw. tentang firman-Nya dalam Alquran
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan
(yang kamu peroleh). (At-Takatsur, [102]: 8)
Dengan demikian manusia bukan saja dituntut agar tidak alpa dan
angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut
untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik
(Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara
keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang
ditentukan (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya
memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, atau bangsa, dan
jenisnya saja, melainkan juga harus berpikir dan bersikap demi
kemaslahatan semua pihak. Ia tidak boleh bersikap sebagai penakluk
alam atau berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang, istilah
penaklukan alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari
pandangan mitos Yunani yang beranggapan bahwa benda-benda alam
merupakan dewa-dewa yang memusuhi manusia sehingga harus
ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah Allah. Manusia tidak
sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami,
sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu. (QS. Az-
Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan
dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus
dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi
Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala
sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan
memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-
benda itu tak bernyawa. Nama memberikan kesan adanya kepribadian,
sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat
dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-
baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak boleh tunduk dan
merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah
untuknya, berapa pun harga benda-benda itu. Ia tidak boleh diperbudak
oleh benda-benda itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda
sehingga mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini
dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun
asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan
kepentingannya di akhirat kelak.
Memanfaatkan Segala Potensi
Manusia merupakan khalifah di bumi ini, diciptakan oleh Allah dengan
berbagai kelebihan dan kesempurnaan yang menyertainya. Kita diberi akal
pikiran dan juga hawa nafsu sebagai pelengkapnya. Manusia telah
diberikan berbagai fasilitas di muka bumi sebagai alat pemenuhan
kebutuhan manusia. Semua yang kita perlukan telah terhampar di alam
semesta, manusia hanya perlu mengelolanya saja.
Dalam kelangsungan hidup manusia terjadi berbagai perkembangan di
dunia, semakin kompleksnya kebutuhan manusia, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, dengan terciptanya berbagai mesin-mesin dan
berbagai alat komunikasi yang membantu meringankan kehidupan dan
pekerjaan manusia. Didorong dengan nafsu keserakahannya, manusia
hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, negara hanya berpikir
untuk memajukan perekonomian dan pembangunan besar-besaran
diberbagai sektor, tanpa memikirkan dampak lingkungan yang diakibatkan
dari apa yang dilakukan manusia. Termasuk penduduk Indonesia
perilakunya juga seperti itu, bisa dikatakan kepeduliannya sangat kecil
terhadap lingkungan, ini tidak lepas dari tingkat kesadaran masyarakat dan
juga desakan ekonomi yang juga menuntut masyarakat berusaha untuk
memenuhi kebutuhannya tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang
diakibatkan.
Kegiatan manusia di dunia ini banyak menimbulkan masalah bagi
lingkungan, erosi tanah, polusi udara, banjir, tanah longsor, tanah yang
hilang kesuburannya, hilangnya spesies-spesies dalam ekosistem,
kekeringan, hilangnya biota-biota laut dan yang paling memprihatinkan
adalah pemanasan suhu global, yaitu peristiwa pemanasan bumi yang
disebabkan oleh peningkatan ERK (Efek Rumah Kaca) yang disebabkan
oleh gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, Sulfur dan lain-lain yang
menyerap sinar panas atau menyebabkan terperangkapnya panas
matahari (sinar infra merah). ERK (greenhouse effect) bukan berarti
disebabkan oleh bangunan-bangunan yang berdinding kaca, tapi hanya
merupakan istilah yang berasal dari para petani di daerah iklim sedang
yang menanam tanaman di rumah kaca.
Global Warming sangat perlu diperhatikan oleh seluruh penduduk dunia,
dan termasuk didalamnya penduduk Indonesia, dengan bersinergi
menurunkan dan memperlambat peningkatan greenhouse effect. Langkah-
langkah nyata harus dilakukan oleh masyarakat, karena sangat besarnya
dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global bagi kelangsungan hidup
manusia dan makhluk lain yang hidup di bumi.
Kita ketahui Indonesia merupakan negara maritim. Pemanasan global yang
saat ini terjadi akan memicu naiknya suhu atmosfer bumi, dan akan
menaikkan permukaaan air laut, yang juga didukung oleh pencairan es di
kutub bumi. Hal ini dapat memicu tenggelamnya negara kita, didahului
dengan tenggelamnya ribuan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
Kalau pemanasan global tidak cepat ditanggulangi dan membiarkan
kegiatan-kegiatan manusia yang tidak ramah dengan lingkungan, mungkin
beberapa abad lagi negara kita akan tenggelam dan berakhirlah peradaban
manusia di dunia.
Seiring pertumbuhan penduduk yang cenderung tidak dapat dikendalikan
dan selalu menunjukkan peningkatan. Hal ini juga terjadi di Indonesia, akan
memicu naiknya kebutuhan-kebutuhan manusia seperti pangan, tempat
tinggal, listrik, BBM dan banyak kebutuhan lainnya. Kesemuanya itu akan
meningkatkan kebutuhan manusia akan lahan-lahan yang digunakan untuk
produksi pertanian, perkebunan, pertambangan, tempat tinggal, jalan-jalan
dan fasilitas umum. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dan akhirnya terjadilah
penebangan pohon-pohon dan hutan untuk memenuhi kebutuhan untuk
bahan baku industri tanpa menghiraukan dampak lingkungan yang akan
diderita.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses
yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi.
Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia
tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, Setiap perusakan
terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia
sendiri. Binatang, tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya
diciptakan oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki
ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim
untuk menyadari bahwa semuanya adalah umat Tuhan yang harus
diperlakukan secara wajar dan baik.
Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam
semesta untuk kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta
memang diciptakan Allah untuk manusia. Sebagai hamba manusia adalah
kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat
besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh
karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang
sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya
sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat
terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus
hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang. ***







Manusia Sebagai Khalifah
1. Surat Al Baqarah : 30
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui.. (QS Al Baqarah : 30)
a. Kandungan ayat
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi
kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia
diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti
tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya,
perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang
ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu
semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-
benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman
kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

Kesimpulan kandungan Surat Al Baqarah : 30, diantaranya:
1. Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (wakil
Allah) di bumi
1. Allah memilih manusia menjadi khalifah di muka bumi
2. malaikat menyangsikan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai
manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia suka membuat kerusakan dan
menumpahkan darah
3. Malaikat beranggapan bahwa yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah
dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah
4. Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat
2. Surat Al Mukminun : 12-14
Bacalah Surat Al Mukminun ayat 12-14 berikut dengan fasih dan benar! Teks
lihat google Al-Quran onlines
Artinya: 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik. (QS Al Mukminun : 12-14)
a. Kandungan ayat
Dalam surat Al Mukminun ayat 12-14 Allah SWT menerangkan tentang proses
penciptaan manusia. Sebelum para ahli dalam bidang kedokteran modern mengetahui
proses asal usul kejadian penciptaan manusia dalam rahim ibunya, Allah SWT sudah
terlebih dahulu mejelaskan perihal kejadian tersebut dalam Al Quran seperti dalam
surat Al Mukminun ayat 12-14, dan diperkuat oleh ayat lainnya diantaranya Surat Al
Hasyr ayat 24 yang berbunyi: Teks lihat google Al-Quran onlines
Artinya : Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang
mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan
Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Al Hasyr : 24)
Pada surat Al Mukminun ayat 12 -14 Allah SWT menjelaskan bahwa proses
penciptaan manusia dalam rahim ibunya terbagi menjadi 3 fase yaitu:
1. Fase air mani
2. Fase segumpal darah
3. Fase segumpal daging
Yang masing-masing fasenya memakan waktu 40 hari, hal ini dijelaskan dalam sebuah
hadits yang di riwayatkan oleh bukhari:
Artinya :
Dari Abdullah bin Masud ra.,ia berkata : Rasululla saw bercerita kepada kami, beliaulah
yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnva penciptaan perseoranganmu terkumpul
dalam perut ibunva empat puluh hari dan empat puluh malam atau empat puluh malam,
kemudian menjadi segumpal darah, semisal itu (40 hari = pen) kemudian menjadi
segumpal daging, semisal itu (40 hari = pen), kemudian Allah mengutus Malaikat,
kemudian dipermaklumkan dengan empat kata, kemudian malaikat mencari rizkinya,
ajalnya (batas hidupnya), amalnya serta celaka dan bahagianya kemudian Malaikat
meniupkan ruh padanya. Sesungguhnya salah seorang di antaramu niscaya beramal
dengan amal ahli (penghuni) sorga, sehingga jarak antara sorga dengan dia hanya satu
hasta, namun catatan mendahuluinya, maka ia beramal dengan penghuni neraka, maka
ia masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang diantaramu, beramal dengan amal
ahli neraka, sehingga jarak antara neraka dengan dia hanya satu hasta, namun catatan
mendahuinya, maka ia beramal dengan amal penghuni sorga, maka ia masuk
sorga. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Sedangkan dalam surat Al Hasyr Allah menjelaskan bahwa janin sebelum menjadi
manusia sempurna juga mengalami tiga fase, yaitu:
1. Taswir, yaitu digambarkan dengan bentuk garis-garis, waktunya setelah 42 hari
2. Al Khalq, yaitu dibuat bagian-bagian tubuhnya
3. Al Baru, yaitu penyempurnaan terhadap bentuk janin
Kesimpulan kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14 ini antara lain:
1. Menjelaskan tentang proses kejadian manusia
2. Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia
3. Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT
4. Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak
sombong kepada Allah dan sesama manusia
3. Surat Adz Dzariyat ayat 56
Bacalah surat Az Zariyat berikut ini dengan fasih dan benar! Teks lihat google
Al-Quran onlines
Artinya: Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah
kepadaku. (QS Adz Zariyat : 56)
a. Kandungan ayat
Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah,
termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan
diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi
manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya
fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini
adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua
alam semesta ini.
Seperti diutarakan pada surat Al Mukminun ayat 12-14 bahwa Allah SWT yang
menciptakan manusia dari saripati tanah yang terkandung dalam tetesan air yang hina,
yaitu air mani, oleh karenanya merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk
menyembah penciptanya, yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia
diantara makhluk lainnya.
4. Surat Al Hajj ayat 5
Bacalah surat Al Hajj ayat 5 berikut ini dengan fasih, tartil, dan benar! Teks lihat
google Al-Quran onlines
Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan
Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada
yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah. (QS Al Hajj : 5)
B. PROSES KEJADIAN MANUSIA
Manusia dalam pandangan Islam tediri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani.
Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah.
Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya dia
alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah
dijelaskan dalam Al Quranul Karim dan Hadits Rasulullah SAW.
Tentang proses kejadian manusia, Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran
surat Al Mukminun ayat 12 14 Teks lihat google Al-Quran onlines
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari
tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan
dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling
baik. (QS Al Mukminun : 12-14).
Tentang proses kejadian manusia ini juga dapat dilihat dalam pada QS As
Sajadah ayat 7 9 yang berbunyi: Teks lihat google Al-Quran onlines
Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati
air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajadah : 7 9)
Dalam hadits Rasulullah SAW tentang kejadian manusia, beliau bersabda yang
artinya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya 40
hari sebagai nutfah, kemudain sebagai alaqah seperti itu pula (40 hari), lalu sebagai
mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan
ruh kedalam tubuhnya. (Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari r.a dan muslim)
Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum
mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan (4X30 hari).
Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu
sendiri sudah ada semenjak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri
mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yang disebut dengan akal yang berpusat diotak,
serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan
substansi dai roh manusia.
C. PERANAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua
peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat.
Pertama, memakmurkan bumi (al imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya
perusakan yang datang dari pihak manapun (ar riayah).
1. Memakmurkan Bumi
Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia
harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia.
Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan
tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat
melanjutkan eksplorasi itu.
2. Memelihara Bumi
Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak
manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan
jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena
sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena
itu, hal semacam itu perlu dihindari.
Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia
mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa
(pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan
kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama
(Islam).
Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara
bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang
membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan
cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi nabi
sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat
kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang
Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang berbunyi : Teks lihat
google Al-Quran onlines
Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: Sesungguhnya
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (QS Al Isra : 4)
Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan
fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap
Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat
77 yang berbunyi: Teks lihat google Al-Quran onlines
Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)
D. TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata
menyembah sebagai terjemahan dari lafal abida-yabudu-ibadatun. Beribadah berarti
menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk
mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
1. Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan
syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Quran maupun hadits yang tidak boleh
diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
2. Ibadah ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang
diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam
konteks mencari keridhaan Allah SWT
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT,
karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah k=jiwa yang berbahagia,
mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin.
Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam
kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT
yang artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah
ke dalam surgaku. (QS Al Fajr : 27-30)
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada
Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam
telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah.
Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus
disesuaikan dengan ajaran Islam.
Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di
muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki
oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain
Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik
dalam keadaan suka maupun duka.
Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh
kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan
dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul
berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan
keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu
Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Allah berfirman kepada para malaikat ketika akan menciptakan Adam, ''Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi''. (Al-Baqarah:30). Banyak kaum muslimin yang keliru
dalam memahami ayat ini, yakni sebagai wakil/pengganti Allah dalam mengurus bumi. Makna
khalifah yang benar adalah kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan
generasi demi generasi, demikian penjelasan dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsier
''Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi.'' Mereka berkata: ''Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?''. Tuhan berfirman:
''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui''(Al-Baqarah:30)

Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan
kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul Ala, sebelum mereka diadakan. Maka
Allah berfirman, ''Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat''. Maksudnya, Hai
Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu'', ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah
di bumi'', yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan
generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, ''Dialah yang menjadikan kamu
sebagai khalifah-khalifah di bumi'' (Fathir: 39). Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan
pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan
berdalihkan firman Allah, ''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.''

Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah, ''Mengapa
Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya'', Seolah-olah
malaikat memberitahukan kepada Allah bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan
membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai
bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk
yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Ibnu Juraij berkata bahwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah
diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, ''Mengapa
Engkau hendak menjadikan di bumi itu oranig yang akan membuat kerusakan padanya?''.

Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti
itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah dibentahukan kepada
mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak
menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud
mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu
bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban
atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni
Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan
kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan
menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-prang saleh, dan para wali.

Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i berkata dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsiernya :
Saya berpendapat bahwa konsep khalifah mengharuskan secara pasti tiadanya pihak yang
digantikan, baik tiadanya itu secara total atau hanya sebagian, baik tiadanya itu karena kematian,
perpindahan, dicopot, mengundurkan diri, atau karena sebab lain yang membuat pihak yang
digantikan tidak dapat melanjutkan aktivitasnya. Misalnya Anda berkata: ''Abu Bakar merupakan
khalifah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam'' yakni setelah Rasul meninggal. Atau Anda berkata:
''Rasulullah menjadikan Ali sebagai khalifah di Madinah,'' yaitu ketika Nabi shalallahu 'alaihi wa
sallam pergi dari Madinah untuk melakukan salah satu perang. Bila konsep ini telah jelas dan
melahirkan kepuasan, maka orang yang merasa puas tadi akan menemukan kekeliruan pendapat
orang yang mengatakan bahwa Adam dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi. Kekeliruan itu
disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

1. Adalah mustahil tiadanya Allah dari kerajaan-Nya, baik secara total maupun sebagian. Dia
senantiasa mengurus langit dan bumi dan tidak ada suatu perkara seberat Dzarrah pun yang ada di
langit dan di bumi yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Jadi, Dia tidak membutuhkan khalifah, wakil,
pengganti, dan tidak pula butuh kepada pihak yang ada di dekat-Nya. Dia Mahakaya dari semesta
alam.


2. Jika keberadaan Adam atau jenis manusia itu layak untuk menggantikan Allah, maka dia harus
memiliki sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah Ta'ala, dan Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang
dapat diserupai manusia. Jika manusia, sebagaimana seluruh makhluk lainnya, tidak menyandang
sifat-sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah, bahkan makhluk tidak memilikinya, sedangkan Allah
Maha Sempurna pada seluruh sifat-Nya, maka terjadilah ketidaksamaan secara total. Maka
bagaimana mungkin orang yang berkekurangan menggantikan pihak Yang Mahas Sempurna?
Maha Suci Allah dari adanya pihak yang menandingi dan menyerupai. ''Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (asy-Syuura: 11)


3. Adalah sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal
sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah sebagai khalifah dan wakil. Simaklah beberapa firman berikut
ini. ''Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung''(Ali
Imran: 173). ''Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.''(Hud: 12). ''Dan barangsiapa bertawakal
kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.''(At-Thalaq: 3). ''Dan cukuplah
Allah sebagai Wakil''(An-Nisa': 81) Dalam hadits mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, ''Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam
mengurus keluarga (yang ditinggalkan)''


4. Tidak ada satu dalil pun, baik yang eksplisit, implisit, maupun hasil inferensi, baik di dalam Al-
Qur'an maupun Sunnah yang menyatakan bahwa manusia merupakan khalifah Allah di burni,
karena Dia berfirman, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi''. Ayat ini
jangan dipahami bahwa Adam alaihis salam adalah khalifah Allah di bumi, sebab Dia bertirman,
''Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.'' Allah mengatakannya demikian, dan tidak
mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan, untuk-Ku, seorang khalifah di bumi'', atau Dia
mengatakan, ''Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah bagi-Ku di bumi'', atau
''menjadikan khalifah-Ku''. Dari mana kita menyimpulkan bahwa Adam atau spesies manusia
sebagai khalifah Allah di bumi? Ketahuilah, sesungguhnya urusan Allah itu lebih mulia dan lebih
agung daripada itu, dan Maha Tinggi Allah dari perbuatan itu. Namun, mayoritas mufasirin
mengatakan, ''Yakni, suatu kaum menggantikan kaum yang lain, kurun demi kurun, dan generasi
demi generasi.''

Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan ''menjadikan sebagai khalifah bagi makhluk
sebelumnya yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada
sebelum spesies manusia.

Penafsiran yang pertama adalah lebih jelas karena dikuatkan dengan AlQur'an dan Sunnah. Adapun
orang yang berpandangan bahwa yang dimaksud dengan khilafah ialah khilafah dalam penetapan
hukum semata, maka pandangan ini tidak dapat diterima. Karena hukum yang valid ialah yang
bersumber dari wahyu yang telah ditetapkan Allah, bukan hukum si khalifah, namun hukum Allah,
dan hukum itu merupakan sarana penghambaan kepada Allah. Alangkah jauhnya jarak antara
ibadah dengan perwakilan dan kekhilafahan. Jadi, jelaslah bahwa orang yang menghukumi itu tiada
lain hanyalah menetapkan hukum Allah, bukan inenggantikan-Nya.