Anda di halaman 1dari 17

1

Impetigo Krustosa
A. Muh. Irsyadat

A. DEFINISI
Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis)

atau
infeksi piogenik superfisialis yang mudah menular yang terdapat di
permukaan kulit dan disebabkan oleh Staphylococcus dan/atau Streptococcus.
Nama impetigo berasal dari bahasa latin yaitu impetere (menyerang).
(1,2)

Walaupun impetigo dapat merupakan pioderma primer, tapi dapat juga
timbul sebagai infeksi sekunder yang mengikuti penyakit kulit atau trauma
kulit yang telah ada (secondary infection) dan itu dikenal sebagai dermatitis
impetigenisata. Penyakit kulit yang biasa menyertai adalah pedikulosis,
skabies, infeksi jamur, dan pada insect bites
. (1,2)
Impetigo krustosa juga dikenal sebagai impetigo kontagiosa, impetigo
vulgaris, atau impetigo Tillbury Fox. Impetigo krustosa merupakan bentuk
pioderma yang paling sederhana. Menyerang epidermis, dimana gambaran
yang dominan ialah krusta yang khas, berwarna kuning kecoklatan seperti
madu yang berlapis-lapis. Impetigo krustosa terkadang terdapat berbagai
ukuran (inch) diameter, tapi biasanya kecil dan dalam beberapa kasus hanya
beberapa bagian tubuh yang terkena (wajah, telinga, leher, dan kadang
tangan). Impetigo krustosa biasanya tanpa gelembung cairan dengan krusta.

(1,2)

B. EPIDEMIOLOGI
Impetigo terjadi di seluruh negara di dunia dan angka kejadiannya selalu
meningkat dari tahun ke tahun. Di Amerika Serikat impetigo merupakan 10%
dari masalah kulit yang dijumpai pada klinik anak dan terbanyak pada daerah
yang jauh lebih hangat, yaitu pada daerah Amerika Tenggara. Di Inggris
kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan
1,6% pada anak usia 5-15 tahun. Sekitar 70% merupakan impetigo krustosa.
2

Impetigo krustosa adalah infeksi kulit yang mudah menular dan terutama
mengenai anak-anak yang belum sekolah (antara umur 2-5 tahun). Penyakit
ini mengenai kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, sama banyak.
Selain itu dapat mengenai semua bangsa. Lebih sering pada daerah tropis.
Biasanya Streptokokus tumbuh dalam suasana yang hangat dan lembab, maka
paling sering ditemukan saat musim panas. Impetigo merupakan penyakit
yang sangat menular. Penyakit ini bisa tertular secara kontak langsung dengan
kulit yang terinfeksi atau kontak dengan benda-benda yang sudah terinfeksi.
Selain itu juga, dapat ditularkan melalui nafas penderita. Masa inkubasi 1-3
hari. Streptokokus kering yang terdapat di udara tidak menginfeksi kulit yang
normal. Tetapi dengan gesekan dapat memperberat lesi.
(2,3)
Pada orang dewasa, impetigo ini sering terdapat pada mereka yang tinggal
bersama-sama dalam satu kelompok, seperti asrama dan penjara. Faktor
predisposisi terjadinya ialah kebersihan yang kurang, higiene yang jelek
(anemia dan malnutrisi), tempat tinggal yang padat penduduk, panas dan
terdapatnya penyakit kulit (terutama yang disebabkan oleh parasit). Bakteri
Stafilokokus dan Streptokokus dapat melalui pertahanan kulit yang utuh jika
kulit rusak, seperti robek (terpotong), gigitan, atau penyakit cacar air
(chickenpox). Selain itu, dapat juga terjadi melalui kontak tidak langsung
melalui handuk, selimut, atau pakaian pasien impetigo; cuaca panas maupun
kondisi lingkungan yang lembab; kegiatan/olahraga dengan kontak langsung
antar kulit seperti rugby, gulat.
(2,3)


C. ETIOLOGI
Impetigo krustosa umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan
jarang disebabkan oleh grup A streptococcus tapi untuk negara berkembang,
impetigo krustosa umumnya disebabkan oleh Streptococcus hemolyticus
grup A (Streptococcus pyogenes) Staphylococcus grup II dalam jumlah yang
banyak lebih sering menyebabkan impetigo bulosa dibandingkan dengan
impetigo non-bulosa.
(3,4)
3

Pada dasarnya keberadaan impetigo streptokokal (pioderma streptokokal)
tidak diragukan. Organisme grup A biasanya merupakan penyebabnya, tapi
Streptococcus grup C dan grup G kadang ikut terlibat.
(3,4)

Streptococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat, yang
mempunyai karakteristik dapat berbentuk pasangan atau rantai selama
pertumbuhannya. Lebih dari 20 produk ekstraseluler yang antigenik termasuk
dalam grup A (Streptococcus pyogenes) diantaranya adalah Streptokinase,
streptodornase, hyaluronidase, eksotoksin pirogenik, disphosphopyridine
nucleotidase, dan hemolisin.
(3,4)

D. PATOGENESIS
Impetigo non-bulosa merupakan jenis impetigo yang paling sering dan
timbul hampir 70% pada anak-anak di bawah usia 15 tahun dengan infeksi.
Streptococcus hemolyticus grup A (GABHS) dan Staphylococcus aureus
timbul dengan frekuensi yang sama sebagai agen kausatif pada impetigo non-
bulosa, sekarang ini S.aureus merupakan patogen utama untuk impetigo non-
bulosa, telah dilaporkan sebanyak 50-60% kasus. Pada kenyataannya, hampir
20-45% kasus terdapat kombinasi S.aureus dan S.pyogenes. Pada negara yang
sedang berkembang, GABHS (hidup Bersih dan sehat) tetap merupakan
penyebab utama. S.aureus memproduksi racun bakteriotoksin pada
streptococcus. Bakteriotoksin inilah yang menjadi alasan mengapa hanya
S.aureus yang terisolasi pada lesi tersebut walaupun disebabkan oleh bakteri
Streptococcus.
(2,3)

Jika seorang individu mengadakan kontak dekat dengan yang lainnya
(anggota keluarga, teman satu kelas, teman sekelompok) yang mempunyai
infeksi kulit karena GABHS atau yang membawa organisme ini, maka
individu yang mempunyai kulit utuh dapat terkontaminasi oleh bakteri ini.
Jika pada kulit yang terkolonisasi oleh bakteri ini, maka pada luka yang kecil,
seperti luka lecet atau tergigit serangga akan timbul lesi impetigo antara 1-2
minggu.
(2,3)

4

GABHS dapat ditemukan pada hidung dan tenggorokan pada beberapa
individu 2-3 minggu setelah timbul lesi, meskipun mereka tidak terdapat
gejala-gejala dari faringitis streptococcal. Hal ini disebabkan karena perbedaan
rantai pada bakterinya. Impetigo biasanya merupakan rantai D, sedangkan
faringitis disebabkan rantai A,B, dan C.
(2,3)

E. DIAGNOSIS
Terdapat 2 bentuk klinik yang dapat dikenali, yaitu impetigo non-bulosa
(impetigo krustosa) dan impetigo bulosa. Impetigo bulosa disebabkan oleh
Staphylococcus. Sedangkan impetigo non-bulosa mungkin disebabkan oleh
Staphylococcus aureus, Streptococcus, atau kedua organisme tersebut
bersama-sama. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan timbul
saat bakteri tersebut digaruk dan gigitan serangga. Impetigo sering muncul
pada musim panas.
(2,3)

Kelainan kulit didahului warna kemerahan pada kulit (makula) atau papul
(penonjolan padat dengan diameter < 0.5 cm) yang berukuran 2-5 mm.
Kemudian segera terbentuk vesikel atau pustul (papul yang berwarna
keruh/mengandung nanah/pus) berdinding tipis yang mudah pecah dan
menjadi papul dengan krusta berwarna kuning madu, lembut tetapi tebal dan
lengket yang berukuran < 2 cm (honey colored) dengan kulit di sekitar dan di
bawah krusta berwarna kemerahan dan basah, biasanya disertai lesi satelit.
Jika krusta dilepas tampak erosi di bawahnya. Sering krusta menyebar ke
perifer dan sembuh di bagian tengah. Walaupun tidak jarang terlihat, lesi
paling dini ditandai vesikel dengan eritema melingkar. Lesi tersebut akan
bergabung membentuk daerah krustasi yang lebar. Eksudat dengan mudah
menyebar ke daerah sekitarnya dengan sendirinya secara autoinokulasi.
(2,3)

Lesi dapat muncul pada kulit yang normal atau kulit yang kena trauma
sebelumnya atau mengikuti kelainan kulit sebelumnya (skabies, varisela,
dermatitis atopi) dan dapat menyebar dengan cepat. Jika dibiarkan tidak
diobati maka lesi dapat menyebar terus karena tindakan diri sendiri (digaruk
lalu tangan memegang tempat lain sehingga menegenai tempat lain). Lalu
5

dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu tanpa jaringan parut.
Kadang kelenjar getah bening dapat membesar dan dapat nyeri pada wajah
atau leher. Pembesaran kelenjar limfe regional lebih sering disebabkan oleh
Streptococcus.
(3,4)
Tempat predileksi tersering pada impetigo krustosa adalah di muka, yakni
di sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari
daerah tersebut. Tempat lain yang mungkin terkena, yaitu daerah tubuh yang
sering terbuka (tungkai dan lengan, kecuali telapak tangan dan kaki), daerah
belakang telinga, leher dan badan (dada bagian atas).
(3,4)

Gambar 1: Eritema dan pengerasan kulit pada daerah hidung dan kumis yang dapat
menyebar ke seluruh daerah sentrofasial. (Dikutip dari kepustakaan nomor 3)

Gambar 2 :Nonbullous (Crusted) impetigo akibat gigitan chigger yang terinfeksi oleh
streptokokus grup A beta-hemolitik. (dikutip dari kepustakaan nomor 5)





6


Gambar 3 :Nonbullous impetigo akibat infeksi sekunder dari kelompok A streptokokus beta
hemolitik. (dikutip dari kepustakaan nomor 5)

F. DIAGNOSIS BANDING
Ektima : predileksi di tungkai bawah, dasarnya ialah ulkus. Lesi lebih besar,
lebih dalam dan peradangan lebih hebat ditutupi krusta yang keras (luka
dengan dasar dan dinding), jika diangkat akan berdarah secara difus, dapat
menetap selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila
infeksi sampai jaringan kulit dalam (dermis). Lebih sering menimbulkan
limfadenitis dan kadang merupakan komplikasi dari impetigo


Gambar 4 :Ektima pada daerah tungkai bawah (dikutip dari kepustakaan nomor 2)

Folikulitis : pustular superfisial bermanifestasi dengan papul folikel yang
dengan cepat berkembang menjadi pustul. Umumnya gejala bersifat
asimtomatik, namun pada beberapa kasus dapat timbul gatal ringan yang dapat
timbul akibat peradangan folikel rambut
7


Gambar 5 : Folikulitis superfisial. Beberapa pustula terbatas pada daerah jenggot.(Dikutip
dari kepustakaan nomor 3)

Diskoid lupus eritematosa : lesi datar (plak) berbatas tegas yang mengenai
sampai folikel rambut.

Gambar 6 : Lesi datar (plak) berbatas tegas yang mengenai sampai folikel rambut pada
diskoid lupus eritemaso di daerah fasial. (dikutip dari kepustakaan nomor 5)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gram-stain
(2,3)

Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan
gram untuk menyingkirkan diagnosa banding dengan gangguan
infeksi gram negatif. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan
koagulase untuk membedakan antara Staphylococcus dan
Streptokokus. Pada pewarnaan gram akan memperlihatkan neutrofil
dengan kuman gram-positif di dalam rantai atau kelompok.


8

Kultur bakteri
(2,3)

Kultur akan memperlihatkan S.aureus, kebanyakan merupakan
kombinasi dengan S.pyogenes atau GABHS yang lain, tetapi kadang
timbul sendiri. Kultur bakteri juga dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi methicillin-resistant Staphylococcus aureus
(MRSA), jika lesi imeptigo pecah, jika ada glomerulonefritis
poststreptokokus. Eksudat diambil dari bawah krusta untuk dilakukan
kultur. Kultur bakteri pada lubang hidung terkadang dibutuhkan untuk
menentukkan seseorang S.aureus karier atau bukan. Jika pada kultur
tersebut negatif dan penderita persisten terhadap timbulnya impetigo,
maka kultur bakteri harus dilakukan pada aksila, faring dan perineum.
Pada penderita dengan status S.aureus karier yang negatif dan tidak
mempunyai faktor predisiposisi dapat dilakukan pemeriksaan level
serum IgM. Pemeriksaan level serum IgA, IgM, dan IgG juga dapat
dilakukan untuk mengetahui imunodefisiensi yang lain.
Pemeriksaan Laboratorium
(2,3)

Pada darah tepi terdapat leukositosis pada hampir 50% kasus
impetigo, terutama pada infeksi yang disebabkan streptokok. Level
Anti DNAase (Antideoksiribonuklease) B meningkat cukup signifikan
pada pasien impetigo streptokok. Urinalisis perlu dilakukan untuk
mengevaluasi glomerulonefritis poststreptokokus jika pada pasien
timbul edema dan hipertensi. Hematuria, proteinuria, cylindruria
merupakan indikator terlibatnya ginjal.
Gambaran Histopatologi
(2,3)

Berupa peradangan superfisial folikel pilosebasea bagian atas.
Terbentuk bula atau vesikopustula subkornea yang berisi kokus serta
debris berupa leukosit dan sel epidermis. Pada lapisan dermis
didapatkan reaksi peradangan ringan berupa dilatasi pembuluh darah,
edema, dan infiltrasi PMN.


9

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan impetigo adalah menghilangkan rasa tidak nyaman dan
memperbaiki kosmetik dari lesi impetigo, mencegah penyebaran infeksi ke orang
lain dan mencegah kekambuhan. Pengobatan harus efektif, tidak mahal dan
memilki sedikit efek samping. Antibiotik topikal (lokal) menguntungkan karena
hanya diberikan pada kulit yang terinfeksi sehingga meminimalkan efek samping.
Kadangkala antibiotik topikal dapat menyebabkan reaksi sensitifitas pada kulit
orang-orang tertentu. Maka dari itu, antibiotik oral disimpan untuk kasus dimana
pasien sensitif terhadap antibiotik topikal, lesi lebih luas atau dengan penyakit
penyerta yang berat. Penggunaan desinfektan topikal tidak direkomendasikan
dalam pengobatan impetigo.
(3,4)

1) Terapi non Medikamentosa
(4,5)

Dapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan Sodium
kloride 0,9%.
Menghilangkan krusta dengan cara mandikan anak selama 20-30
menit, disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah
Jika krusta banyak, dilepas dengan mencuci dengan H2O2 dalam air,
lalu diberi salep antibiotik
Mencegah anak untuk menggaruk daerah lecet. Dapat dengan menutup
daerah yang lecet dengan perban tahan air (kasa) dan memotong kuku
anak.
Lanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh
Tindakan yang bisa dilakukan guna pencegahan impetigo diantaranya
o Cuci tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila
habis kontak dengan pasien, terutama apabila terkena luka
o Mandi teratur dengan sabun dan air ( sabun antiseptik dapat
digunakan, namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang
yang sensitif)
10

o Higiene yang baik, mencakup cuci tangan teratur, menjaga
kuku jari tetap pendek dan bersiJangan menggunakan pakaian
yang sama dengan penderita.

2) Terapi medikamentosa
(4,5)

Pengobatan yang diberikan pada impetigo krustosa terdiri dari
pengobatan topikal dan pengobatan secara sistemik

Terapi Topikal
(4,5)

Mupirocin (Bactroban)
Mupirocin (dalam bentuk salap) merupakan salah satu antibiotik yang
sudah mulai digunakan sejak tahun 1980an. Mupirocin ini bekerja dengan
menghambat sintesis RNA dan protein dari bakteri.
Dewasa
Mupirocin 2% cream/salap 5/10 g Oleskan tipis pada daerah yang
terkena 3-5 kali /hari, selama 1 minggu, sebelumnya di bersihkan lukanya.
Jika penyakit timbul kembali atau recurens maka oleskan pada lubang atau
cuping hidung 2x/hari untuk 5 hari selama sebulan

Anak -Anak
Pengobatannya di gunakan sama seperti orang dewasa
Retamapulin (Altabax)
Retamapulin ini sudah terbukti pada US Food and Drug Administration
(FDA) tahun 2007 untuk digunakan sebagai pengobatan impetigo secara
topikal pada orang dewasa dan anak-anak (>9 bulan) yang disebabkan
oleh S.aureus dan methicillin-susceptible S aureus. Retamapulin
mempunyai spektrum aktifitas yang luas, jauh melebihi mupirocin. Obat
11

ini digunakan untuk mencegah kembalinya aktifitas bakteri dimana sudah
resisten terhadap banyak obat antibiotik, seperti metisilin, eritromisin,
fusidic acid, mupirocin, azithromycin, and levofloxacin. Pada penelitian
yang dilakukan terhadap 1900 pasien, retamapulin terbukti sama
efektifnya dengan fusidic acid dan cephalexin oral, dengan sedikit efek
samping. Penelitian yang lain, retamapulin 1% (salap) ternyata lebih
efektif dibandingkan fusidic acid 2% (salap) untuk pengobatan impetigo.
Dewasa
Oleskan tipis pada daerah yang terkena 5 hari untuk total area < 100
cm
2
; daerah yang terkena harus ditutup dengan penutup yang steril
setelah pemakaian.
Anak
Digunakan pada anak umur > 9 bulan; gunakan sama seperti orang
dewasa; total area untuk pengobatan harus < 2% dari total BSA pada
pasien usia 9 bulan sampai 18 tahun.
Fusidic acid
Fusidic acid sekarang ini tidak tersedia di United States, tapi diakui
sebagai terapi first-line di Eropa dan negara bagian lainnya. Fusidic acid
telah dilaporkan dapat mengakibatkan resisten yang tinggi dengan
persentase 32,5-50%.
Dewasa
Fusidic acid 2% cream/salap 5 g 2-3 x sehari selama 7 hari.
Anak- Anak
Sama seperti orang dewasa

12

Dicloxacillin (Peridex)
Penggunaan dicloxacillin merupakan First line untuk pengobatan
impetigo, namun akhir-akhir ini penggunaan dicloxacillin mulai tergeser
oleh penggunaan retamapulin topikal karena diketahui retamapulin
memiliki lebih sedikit efek samping bila dibandingkan dengan
dicloxacillin.
Clindamycin 1% cream, lotion, foam dan gel 10 g 2-3 kali sehari. Obat
ini digunakan pada beberapa infeksi MRSA.
Gentamisin 0,1% salap atau krim10 g 2-3 kali sehari selama 4 minggu.
Obat ini telah banyak digunakan di beberapa negara untuk infeksi gram-
positif oleh spesies Staphylococcus, termasuk impetigo dan pioderma
Hidrogen peroksida 1% krim, tersedia di banyak negara, dan telah
dibandingkan mempunyai sifat bekterisidal tetapi masa kerjanya lebih
panjang daripada hydrogen peroksida 1% larutan encer in vitro. Obat ini
digunakan 2-3 x sehari selama 3 minggu. Meskipun potensi sensitisasinya
rendah, tapi reaksi hipersensitifitas telah dilaporkan pada beberapa produk
dengan campuran yang lainnya.
Tetrasiklin 3% salep 15 g 1 kali atau lebih per hari. Obat ini telah
digunakan untuk lokal impetigo, tetapi jarang dianjurkan karena
mempunyai potensi risiko terjadinya reaksi fotosensitifitas pada kulit.
Basitrasin atau Neosporin 250 iu salep 5 g beberapa kali sehari.
Sekarang obat ini tidak begitu efektif. Meskipun kelihatannya obat ini
bekerja, disebabkan kondisi yang tidak infeksi pada awalnya.
Neomisin 0,5% krim 5 g 2-3 kali sehari. Obat ini berkhasiat untuk kuman
negatif-Gram.


13


Terapi Sistemik
(4,5)

Pengobatan antibiotik sistemik diindikasikan untuk penyakit-
peyakit kulit. Sefalosporin, penisilin semisintetik, atau kombinasi inhibitor
laktamase umumnya merupakan digunakan sebagai terapi First line.

1) Penisilin
Penisilin V (fenoksimetil penisilin)
Dewasa : 250-500 mg 3-4 x sehari a.c. selama 10 hari
Anak : 7,5-12,5 mg/dosis 4 kali/hari a.c.
Penisilin G
Dewasa : 600.000-1,2 juta U IM 1-2 x hari selama 7 hari
Anak : 25.000-50.000 U IM 1-2 x sehari
Benzathine penisilin G
Anak-anak < 6 tahun : 600.000 U IM
Anak-anak > 7 tahun : 1,2 juta U

2) Penisilin semisintetik (untuk Staphlococci yang kebal Penisilin)
Cloxacillin
Dewasa : 250-500 mg 4 kali sehari a.c. selama 10 hari
Anak : 10-25 mg/kgBB/dosis 4 x sehari a.c.
Dicloxacillin (Dycill, Dynapen)
Dewasa : 250-500 mg 3-4 kali sehari a.c. selama 10 hari
Anak : 4-8 mg/kg/dosis (neonatus).
o <40 kg : 12,5-50 mg/kg/hari
o >40 kg : 125-500 mg/hari.



14

3) Aminopenicililins
Amoksisilin
Dewasa : 250-500 mg 3 kali/hari selama 8 hari.
Anak : 20 mg/kgBB
Amoxicillin plus asam klavulanat (-laktamase inhibitor)
Dewasa : 875/125 mg 2 kali/hari selama 10 hari
Anak : 20 mg/kgBB/hari 3 kali/hari
Ampicillin
Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari (sejam sebelum makan) selama 7-10
hari
Anak : 125-250 mg (5-10 tahun); 125 mg (2-5 tahun) 4 kali/hari.

4) Sefalosporin
Cephalexin (Keflex)
Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari selama 10 hari
Anak : 40-50 mg/kgBB selama 10 hari
Cephradine
Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari selama 7-14 hari; tidak lebih dari
4g/hari.
Anak : 25-50 mg/kgBB selama 7-14 hari; tidak lebih dari 3g/hari.
Sefadroksil ( dosis : 2 x 500 mg sehari per oral).

5) Eritromisin (EES, Erythrocin, Ery-Tab)
Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari p.c. selama 10 hari
Anak : 30-50 mg/kgBB 4 kali/hari p.c. selama 7-14 hari; dosis
ganda jika penyakit bertambah berat.

6) Klindamisin (Cleocin)
Dewasa : 150 mg/hari untuk 3 bulan (profilaksis)
150-300 mg/hari selama 7-10 hari (treatment)
15

Anak-anak lebih dari 1 bulan : 8-20 mg/kgBB/hari 3-4 kali/hari
selama 10 hari.

Antihistamin
Jika gatal / pruritus sangat dikeluhkan, maka antihistamin dapat
diberikan untuk meminimalkan terjadinya garukan. Menghindarkan
trauma pada kulit dapat mencegah atau membatasi penyebaran impetigo
secara autoinokulasi.

7) Loratadin (Claritin)
Nonsedatif dan secara selektif menghambat reseptor histamin H1.
Dewasa : 10 mg/hari po
Anak : <2 tahun : tidak dianjurkan
2-6 tahun : 5 mg/hari per oral
>6 tahun : gunakan sama seperti orang dewasa.

Desloratadin (Clarinex)
Obat ini merupakan antagonis selektif histamin trisiklik untuk reseptor
H1 yang long-acting.
Dewasa : 5 mg/hari po
Anak : <12 tahun : tidak dianjurkan
>12 tahun : gunakan sama seperti orang dewasa.

9) Cetrizine (Zyrtec)
Obat ini merupakan long acting selektif histamin H1 reseptor
antagonis.
Dewasa : 5-10 mg/hari per oral
Anak : 6 bln-2 tahun : 2,5 mg/hari per oral
2-5 tahun : 2,5-5 mg/hari per oral
6-11 tahun : 5-10 mg/hari per oral

16

Hidroksin (Atarax, Vistaril)
Merupakan reseptor H1 antagonis.
Dewasa : 25-100 mg po
Anak : <6 tahun : 2 mg/kgBB/hari po dibagi menjadi 3-4 dosis
6-12 tahun : 12,5-25 mg po dibagi menjadi 3-4 dosis.


I. PROGNOSIS
Impetigo biasanya sembuh tanpa penyulit dalam dua minggu walaupun
tidak diobati. Namun, dapat timbul komplikasi sistemik berupa glomerulonefritis
(radang ginjal) pasca infeksi streptokokus dengan sero tipe tertentu terjadi pada 2-
5% pasien terutama usia 2-6 tahun dan hal ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan
antibiotik. Gejala berupa bengkak pada kaki dan tekanan darah tinggi, pada
sepertiga terdapat urin seperti warna teh. Keadaan ini umumnya sembuh secara
spontan walaupun gejala-gejala tadi muncul.
(3,4,5)
Komplikasi lainnya yang jarang terjadi adalah infeksi tulang (osteomielitis),
radang paru-paru (pneumonia), selulitis, psoriasis, Staphylococcal scalded skin
syndrome (SSSS), radang pembuluh limfe atau kelenjar getah bening, scarlet
fever, urtikaria, dan eritema multiformis.
(3,4,5)













17








DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Pioderma. In: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Edisi kelima Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2007: Bab II.p. 57-60
2. Rook, Bacterial Infections In Textbook Of Dermatology Volume I, 7
th

Edition. Blackwell Publishing, 2008: Ch 27 P. 1235 37
3. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ et
al Pyodermas, Staphylococcus Aureus, Streptococcus, and Other Gram-
Positive Bacteria In Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 7th
ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2009 : Ch 194 P. 2069-70
4. Shimizu H. Bacterial Infections In: Shimizu Textbook Of Dermatology
Hokkaido Press 2008. P 452-54
5. Charles C, Gazewood J. Diagnosis And Treatment of Impetigo [online].
2012. [cited 2013, June 26]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17390597?dopt=Abstract