Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA BANK INDONESIA (BI) TERHADAP KINERJA

REKSADANA SAHAM PERIODE 2002-2012


Disusun oleh:
Nurul Ilmi
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Dosen Pembimbing:
Tony S. Cendrawan,.SE,.ST,.M.Si

ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah tingkat suku bunga BI berpengaruh terhadap kinerja
reksadana saham di Indonesia periode 2002-2012. Metode yang digunakan adalah regresi linier
sederhana. Sumber data berasal dari BPS dan BI yang diolah. Nilai koefisien adjust

adalah
0,713 hal ini berarti sebesar 71% hubungan dari Kinerja Reksadana dapat dijelaskan melalui
variabel independen tingkat Suku Bunga (Variabel X
1
), sedangkan 29% dijelaskan oleh variabel
lainnya. Selain itu

sebesar 74,2% yang menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan Tingkat


Suku Bunga BI (Variabel X
1
) mempengaruhi Kinerja Reksadana (Variabel Y), sisanya sebesar
25,8% dipengaruhi oleh faktor lain.
kata kunci: Tingkat suku bunga BI, reksadana






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reksa dana di Indonesia sudah ada sejak tahun 1977 melalui PT. Danareksa. Produk
yang ditawarkan masih belum bervariasi seperti sekarang dan penyebarannya masih terbatas
pada kalangan tertentu. Walau produknya sudah lama ada, kegiatan investasi-nya tergolong
masih baru. Untuk instrumen investsi seperti Reksa Dana itu sendiri baru muncul di Indonesia
pada tahun 1995 ketika muncul BDNI Reksa Dana Tertutup dari PT. BDNI. Saat itu PT.
BDNI menawarkan 600 juta lembar saham pada harga Rp. 500 dengan nilai nominalnya
sebesar Rp. 500 per lembar saham.
Dalam penerbitan Reksa Dana Tertutup, setelah Reksa dana tersebut menawarkan
unit kepemilikan, yang disebut dengan saham, dimana jumlahnya tetap, Reksa Dana ini
menutup pintu bagi investor baru yang ingin membeli saham tersebut. Bila terdapat sisa
saham yang tidak terbeli oleh investor, saham tersebut dapat dibeli oleh pengelola Reksa Dana
atau oleh pihak lain yang terkait dalam penawaran umum tersebut. Setelah proses penawaran
umum, tidak ada lagi saham yang diterbitkan oleh Reksa Dana. Selanjutnya, saham Reksa
Dana tersebut dicatatkan di Bursa Efek Jakarta.
Kemudian, investor yang ingin memiliki saham tersebut diharuskan membeli dari
pihak lain yang memiliki saham tersebut, bukan dari penerbit reksa dana. Harga dari Reksa
Dana Tertutup ditentukan oleh penawaran dan permintaan yang terjadi melalui mekanisme
pasar, bukan oleh Nilai Aktiva Bersih-nya. Sehingga perdagangan Reksa dana tertutup tidak
ubahnya seperti mekanisme Penawaran Umum Perdana suatu saham setelah Penawaran
Umum.
Seiring dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pasar Modal tahun 1996, Reksa
Dana mulai terlihat tumbuh secara aktif. Hal ini terlihat dari terdapatnya 4 (empat) Reksa
Danabaru yang mendapat izin dari Bapepam untuk ditawarkan kepada masyarakat. Tiga
Reksa Dana diterbitkan oleh PT. Danareksa, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara, dan
2
satu Reksa Dana dengan jenis Reksa Dana Pasar Uang yang diterbitkan oleh PT. BDNI
Securities.
Memasuki awal tahun 2000, perkembangan Reksa Dana ditunjukkan dengan
pertumbuhan total NAB yang dari Rp. 2,7 triliun mencapai Rp. 5,5 triliun dalam kurun waktu
4 tahun. Selain itu, jumlah pemodal yang melakukan investasi terus bertambah hingga
mencapai 2 kali lipatnya dalam kurun waktu 4 tahun hingga mencapai 39.487 pemodal dari
2.441 pemodal (baik lembaga maupun perorangan).
Dalam kurun waktu 2 tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2002, Laporan
Bapepam melaporkan, terjadi peningkatan signifikan terhadap jumlah dana kelolaan Reksa
Dana yang meningkat sebesar 8,37% mencapai Rp. 46,06 triliun. Berlanjut sampai dengan
tahun 2004, nilai dana kelolaan telah lebih dari Rp. 116 triliun. Selama itu pula, jumlah Reksa
Dana yang beredar pun bertambah. Hingga penghujung akhir 2004, jumlah Reksa Dana yang
beredar mencapai angka Rp. 246 triliun. Jumlah pemodal yang melakukan investasi pun terus
bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Bila dibandingkan dengan periode awal tahun
1996 yang hanya 2.441 pemodal, pada penghujung akhir 2004 sudah mencapai 299.063
pemodal. Hal tersebut berarti jumlah pemodal yang berinvestasi di Reksa Dana telah
bertambah sebanyak 296.622 pemodal atau meningkat sebesar 12,152% yang dicapai hanya
dalam kurun waktu 8 (delapan) tahun.
Total aset Reksa Dana bahkan pernah mencapai Rp. 110 triliun, yaitu pada periode
awal tahun 2005. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Bapepam menyatakan pada
akhir desember 2005 dana kelola Reksa dana menurun tajam menjadi Rp. 27 triliun.
Penurunan ini dikarenakan berbagai faktor yaitu keadaan ekonomi yang diindikasikan dengan
perubahan inflasi yang berakibat pada perubahan tingkat bunga yang mengalami kenaikan
terus sampai level 12,75%, perubahan nilai tukar mata uang negara kita terhadap negara
lainnya terutama pada US Dollar, dan pemahaman investor atas Reksa Dana yang belum
sebaik investasi pada saham maupun deposito.
Setelah mengalami penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang demikian besar pada
pertengahan tahun 2005, industri Reksa Dana di pasar modal Indonesia kembali membaik.
Dari data Bapepam, NAB Reksa Dana pada akhir tahun 2007 mendekati nilai Rp. 90 triliun
setelah sebelumnya hanya bergerak pada kisaran Rp. 30 triliun pada kuartal ketiga tahun
2005.
Sayangnya pemulihan pasar Reksa Dana tidak berlangsung lama. Memasuki tahun
2008, pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana ikut terhenti ketika krisis finansial
global melanda pasar modal dalam negeri. Bapepam melaporkan NAB Reksa Dana pada akhir
Desember 2008 turun 18,74% dibanding akhir Desember 2007. Jika pada tahun 2007 NAB
Reksa Dana sebesar Rp. 92,19 triliun, maka pada akhir 2008 menjadi Rp. 74,35 triliun.
Namun, jumlah unit penyertaan Reksa Dana selama tahun 2008 tetap mengalami pertumbuhan
sebesar 14,78%. Jumlah unit penyertaan pada tahun 2007 yang sebesar 53,59 miliar
meningkat menjadi 61,51 miliar unit penyertaan pada tahun 2008.
Meski NAB menurun, jumlah Reksa Dana di Indonesia tahun 2008 mengalami
peningkatan yang cukup signifikan, dari 473 Reksa Dana pada akhir tahun 2007 menjadi 567
Reksa Dana di akhir 2008 atau naik 19,8%. Bapepam telah memberikan pernyataan efektif di
tahun 2008 kepada 213 Reksa Dana yang meliputi 83 Reksa Dana Konvensional dan 130
Reksa Dana Terproteksi diikuti persetujuan atas 34 Reksa Dana penyertaan terbatas, dan
persetujuan untuk pembubaran 118 Reksa Dana. Begitu juga manajer investasi berkembang
dari 30 manajemen pada tahun 1996 menjadi 94 manajemen pada Desember 2008.
Industri Reksa Dana Indonesia belum dapat dikatakan stabil. Berdasarkan
pengamatan dari tahun ke tahun, fluktuasi Nilai Aktiva Bersih per unit cenderung dipengaruhi
oleh faktor eksternal dan kebijakan pemerintah, seperti nilai suku bunga dan kondisi
perekonomian nasional maupun global. Tidak hanya itu, agen penjual yang salah dalam
memasarkan Reksa Dana, dan kurangnya pemahaman investor mengenai produk Reksa Dana
turut menjadi faktor menurunnya NAB Reksa Dana.
Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Tingkat Suku
Bunga (BI) Bank Indonesia Terhadap Kinerja Reksadana Saham Periode 2002-2012.

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan pokok
dalam penelitian ini adalah :
a. Seberapa besar pengaruh Tingkat Suku Bunga BI terhadap Kinerja Reksadana Saham di
Indonesia periode 2002-2012 ?

1.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Tingkat Suku Bunga BI terhadap Kinerja
Reksadana Saham di Indonesia periode 2002-2012.

1.4 Kegunaan Penelitian
a. Sebagai pengalaman yang cukup berharga bagi peneliti untuk mengimplementasikan
berbagai teori yang berkaitan dengan penelitian.
b. Menambah pustaka atau wawasan khasanah tentang tingkat suku bunga
BI terhadap kinerja reksadana saham di Indonesia.



4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Reksadana Saham
Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan
investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar
dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer
Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun
efek/sekuriti lainnya.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27):
Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:
1. Reksadana merupakan kumpulan dana dan pemilik (investor).
2. Diinvestasikan pada efek yang dikenal dengan instrumen investasi.
3. Reksadana tersebut dikelola oleh manajer investasi.
4. Reksadana tersebut merupakan instrumen jangka menengah dan pajang
Teori Reksa Dana Saham menurut Darmadhi dan Fakhrudin (2001) reksa dana
adalah sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai
keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang
terbatas.
Neneung Ratna Hayati (2005), melakukan penelitian berjudul Perbandingan
Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap (Konvensional dan Syariah) sebagai suatu Evaluasi
Portofolio Investor di Pasar Modal dengan menggunakan sampel 6 perusahaan reksadana
pendapatan tetap yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2004 sampai tahun
2006. Berdasarkan hasil uji-T atas penelitiannya menunjukkan bahwa dipandang dari aspek
variabel return maupun risk Reksadana Pendapatan Tetap menunjukkan kinerja yang
berbanding lurus antara tingkat return dan risk akibat pengaruh redemption. Sedangkan
Reksadana Pendapatan Syariah, tingkat resiko lebih rendah dibandingkan dengan risk market,
walaupun adanya penurunan return.
Tinur Fajar Gumilang dan Heru Subiyantoro (2008), melakukan penelitian berjudul
Reksadana Pendapatan Tetap di Indonesia: Analisis Market Timing dan Stock Selection
periode 2006-2008 dengan menggunakan sampel 9 perusahaan reksadana pendapatan tetap
yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2006 sampai tahun 2008. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah tingkat pengembalian (return), suku bunga
bebas resiko, standar deviasi, varian, dan beta portofolio. Uji asumsi yang dipakai dalam
penelitian antara lain uji stationeritas, uji autokorelasi, uji normalitas, uji heterodastisitas (7
signifikan). Berdasarkan hasil uji atas penelitiannya menunjukkan bahwa kinerja reksadana
yang dikelola oleh kelompok Manajemen Investasi 2 lebih unggul, yang kemudian diikuti
oleh kelompok 1 dan kelompok 3.

2.1.2 Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga menurut Keyness adalah harga yang dikeluarkan debitur untuk
mendorong seorang kreditur memindahkan sumber daya langka (uang) mereka, akan tetapi,
uang yang dikeluarkan debitur mempunyai kemungkinan adanya kerugian berupa risiko tidak
diterimanya tingkat bunga tertentu.
5
Menurut Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan
dari suatu pinjaman, dalam bentuk presentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah
bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
Teori Suku bunga menurut Samuelson dan Nordhaus (1998) suku bunga adalah
pembayaran yang dilakukan atas penggunaan sejumlah uang.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman.
Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan
suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada
kreditur.
Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat bunga dalam perekonomian yaitu alokasi
faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian
hari.
Menurut Ramirez dan Khan (1999) ada dua jenis faktor yang menentukan nilai suku
bunga, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional,
jumlah uang beredar, dan inflasi. Sedang faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri
dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga.
Menurut Prasetiantono (2000) mengenai suku bunga adalah : jika suku bunga tinggi,
otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan
pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk
memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke
dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya
jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum
akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga
rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank.
Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya suku bunga di Indonesia adalah
tingginya suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai
lembaga intermediasi (perantara), kebiasaan masyarakat untuk bergaul dan memanfaatkan
berbagai jasa bank secara relatif masih belum cukup tinggi, dan sulit untuk menurunkan suku
bunga perbankan bila laju inflasi selau tinggi ( Prasetiantono, 2000 : 99-101)
Menurut penelitian terdahulu oleh (Blanchard, 2006) banyak faktor yang dapat
mempengaruhi indeks saham, antara lain perubahan tingkat suku bunga bank sentral, keadaan
ekonomi global, tingkat harga energi dunia, kestabilan politik suatu negara, dan lain lain.
Selain faktor tersebut, perilaku investor sendiri juga akan memberi pengaruh terhadap
pergerakan indeks saham. Berikut adalah data lengkap tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
(BI Rate) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun
2005 2012 penelitian terdahulu oleh (Tandelilin, 2010 dan Blanchard, 2006) yang
mengatakan bahwa suku bunga dan harga saham berpengaruh negatif.


















6
2.2 Kerangka Pemikiran

Reksa dana di Indonesia sudah ada sejak tahun 1977 melalui PT. Danareksa. Produk yang
ditawarkan masih belum bervariasi seperti sekarang dan penyebarannya masih terbatas pada
kalangan tertentu. Walau produknya sudah lama ada, kegiatan investasi-nya tergolong masih baru.
Untuk instrumen investsi seperti Reksa Dana itu sendiri baru muncul di Indonesia pada tahun 1995
ketika muncul BDNI Reksa Dana Tertutup dari PT. BDNI. Saat itu PT. BDNI menawarkan 600
juta lembar saham pada harga Rp. 500 dengan nilai nominalnya sebesar Rp. 500 per lembar
saham.


Identifikasi :
Berapa besar pengaruh suku bunga Bank Indonesia terhadap
Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia Periode 2002-2012 ?



Fungsi:
Reksadana = f (r)
Model:
Reksadana =

Suku Bunga BI +


Judul:
Pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia
Terhadap Kinerja Reksadana Periode 2002-2012

Teori Variabel Jurnal
1. Teori Suku bunga menurut Samuelson
dan Nordhaus (1998) suku bunga adalah
pembayaran yang dilakukan atas
penggunaan sejumlah uang.
1. Suku Bunga 1. Jurnal Akbar Maulana . penelitian terdahulu
menurut Menurut Archania (2012) dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa variabel suku
bunga SBI berpengaruh signifikan negatif
terhadap kinerja reksa dana saham. Jumlah uang
yang beredar memiliki pengaruh signfikan positif
terhadap kinerja reksa dana saham.
2. Teori Reksa Dana Saham menurut
Darmadhi dan Fakhrudin (2001) reksa
dana adalah sarana untuk menghimpun
dana dari masyarakat yang memiliki
modal, mempunyai keinginan untuk
melakukan investasi, namun hanya
memiliki waktu dan pengetahuan yang
terbatas.
2. Reksa Dana
Saham
2. Jurnal Suyanto. Penelitian terdahulu menurut
Granger (dalam Mok, 1993) yang menyatakan
bahwa terdapat pengaruh negatif antara suku
bunga dan harga saham tetapi Mok (1993) sendiri
dengan menggunakan model analisis Arima tidak
menemukan hubungan yang signifikan antara
kedua variabel ini.
3. Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant
(1997 : 471) suku bunga adalah harga
yang dibayarkan untuk satuan mata uang
yang dipinjam pada periode waktu tertentu
3. Jurnal Entin Hartini, S.Sos., M.Si. penelitian
terdahulu menurut Makaryanawati (2009)
Hasil penelitian menunjukkan secara
simultan bahwa tingkat suku bunga dan tingkat
likuiditas perusahaan memperngaruhi risiko
investasi saham secara signifikan. Sedangkan
secara parsial terbukti bahwa tingkat suku bunga
mempunyai hubungan yang tidak signifikan
terhadap risiko investasi sedangkan tingkat
likuiditas berpengaruh secara signifikan terhadap
risiko investasi.
7
2.2.1 Paradigma Kerangka Pemikiran



X Y
Suku Bunga BI Reksadana
(Teori Keyness) (Teori Darmadhi dan Fakhrudin)





2.3 Hipotesis
Berdasarkan Kerangka Pemikiran diatas, Hipotesis statistik untuk masing-
masing hipotesis penelitian adalah sebagai berikut :

=0 maka, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat suku bunga BI terhadap
Kinerja Reksadana Saham.

0 maka, terdapat hubungan signifikan antara tingkat suku bunga terhadap


Kinerja Reksadana Saham.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian yang diteliti adalah Suku Bunga BI dan Reksadana periode tahun
2002-2012.

3.2 Jenis Penelitian dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif , yaitu adalah data
Suku Bunga dan jumlah unit Reksadana. Sumber data dalam penelitian ini adalah Bank
Indonesia dan BPS (Badan Pusat Statistik).

3.3 Metode Penelitian
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi sederhana
(Simple regresi). Analisis regresi pada dasarnya adalah studi atas ketergantungan suatu
variabel bebas dengan tujuan untuk mengestimasi dengan meramalkan nilai populasi
berdasarkan nilai tertentu dari variabel yang diketahui (Gujarati, 1996:13-14). Analisis
regresi linier sederhana dipilih dengan pertimbangan untuk mengetahui pengaruh antara satu
buah variabel independen adalah Suku Bunga terhadap satu variabel dependen yang adalah
reksadana, dengan hasil uji pengaruh serta hasil persamaan model . Untuk menguji hipotesis
digunakan persamaan sebagai berikut :

Y =

+; 5%
Keterangan :
Y= Nilai dari variabel dependen (Reksadana).

Nilai otonomus pada persamaan, atau sebagai nilai dasar, yang berupa konstanta.

= Koefisien dari

yang merupakan variabel independen (Suku Bunga BI)

= Variabel independen (Suku Bunga BI).


8
= Error Term

Dengan Y adalah variabel dependen dan X
1
adalah variabel independen. Koefisien

adalah
(intercept) yang merupakan titik potong antara garis regresi dengan sumbu Y.

3.4 Operasional Variabel

Tabel 3.4 Operasional Variabel

Variabel Konsep Skala
Reksadana Wadah yang digunakan untuk
menghimpun dana dari
masyarakat pemodal, untuk
selanjutnya diinvestasikan oleh
manajer dalam Portofolio efek
(www.bi.go.id)
Rasio
Suku Bunga Menurut Karl dan Farl
(2001:635) suku bunga adalah
pembayaran bunga tahunan
dari suatu pinjaman, dalam
bentuk presentase dari
pinjaman yang diperoleh dari
jumlah bunga yang diterima
tiap tahun dibagi dengan
jumlah pinjaman.
Rasio




Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Terikat (dependent) merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi oleh
variabel-variabel lainnya. Pada penelitian ini variabel terikatnya adalah Reksadana.
2. Variabel bebas (independent) adalah variabel yang nilainya mempengaruhi nilai variabel-
variabel lainnya. Dalam penelitian ini variabel bebas adalah Suku Bunga BI (Bank
Indonesia).



3.4 Pengolahan Data
Penulis mempergunakan program SPSS untuk mengolah data dalam
penelitian ini.


3.5 Uji Kesesuaian

3.5.1 Koefisien Determinasi (R-square)
Koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar
kemampuan variabel independen secara bersama mampu memberi penjelasan
terhadap variabel dependen.
3.5.2 Uji t-statistik
Uji t merupakan suatu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui
apakah masing-masing koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap variabel
dependen dengan menganggap variabel dependen lainnya konstan. Dalam uji ini
digunakan hipotesis sebagai berikut :



Dimana

adalah koefisien variabel independen ke-i nilai parameter


hipotesis, biasanya b dianggap = 0. Artinya tidak ada pengaruh variabel

terhadap
Y. Bila nilai t-hitung > t-tabel maka pada tingkat kepercayaan tertentu

ditolak.
Hal ini berarti bahwa variabel dependen yag diuji berpengaruh secara nyata
(signifikan) terhadap variabel dependen.

3.5.3 Uji F-statistik
Uji F-statistik ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh
variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Jika F-hitung
> F-tabel maka

ditolak, yang berarti variabel independen secara bersama-sama


mempengaruhi variabel dependen.


3.6 Model Fungsi dan Persamaan
Model fungsi dan persamaan yang digunakan untuk menganalisa faktor yang
dipengaruhi reksadana adalah sebagai berikut:
Reksadana = f (Suku Bunga BI)

Persamaan
Reksadana =

Suku Bunga BI +






BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

Metode Analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Linier. Model yang dianalisis adalah
hubungan antara Suku Bunga BI terhadap Kinerja Reksadana.

Berikut ini adalah data Tingkat Suku Bunga BI dan Kinerja Reksadana pada Periode
2002-2012 pada tabel 3.6


Tahun Suku Bunga BI (%) Jumlah Unit Reksadana per tahun
2002 12,84 1.905.697.135,70
2003 6,61 46.789.545.086,80
2004 6,17 71.992.786.819,93
2005 11,84 20.795.838.961,95
2006 8,71 38.242.502.919,82
2007 8 53.278.235.813,52
2008 9,25 60.837.794.453,64
2009 7,25 69.708.202.522,26
2010 6,5 81.464.548.528,77
2011 6,75 98.545.955.665,54
2012 5,75 113.263.337.849,98

Sumber : BPS dan Bank Indonesia ; data diolah dari berbagai edisi
10

4.1 Hasil Uji Adjust


Model Summary
Mod
el
R R
Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 ,861
a
,742 ,713 17455129095,38173
a. Predictors: (Constant), Natural Logaritma Suku Bunga BI
b. Dependent Variable: natural Logaritma Reksadana

Dari data tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa:
Nilai koefisien adjust

adalah 0,713 hal ini berarti sebesar 71% hubungan dari Kinerja
Reksadana dapat dijelaskan melalui variabel independen tingkat Suku Bunga (Variabel X
1
),
sedangkan 29% dijelaskan oleh variabel lainnya. Selain itu

sebesar 74,2% yang


menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan Tingkat Suku Bunga BI (Variabel X
1
)
mempengaruhi Kinerja Reksadana (Variabel Y), sisanya sebesar 25,8% dipengaruhi oleh
faktor lain.

ANOVA
a

Model Sum of
Squares
df Mean
Square
F Sig.
1
Regressi
on
788422938
601632000
0000,000
1
788422938
601632000
0000,000
25,877 ,001
b

Residual
274213378
562797600
0000,000
9
304681531
736441750
000,000

Total
106263631
716442950
00000,000
10

a. Dependent Variable: Reksadana
b. Predictors: (Constant), Suku Bunga BI

Pada hasil tersebut diperoleh nilai ANOVA , diperoleh nilai F hitung sebesar 25,877
dengan p value 0,001 (p = 0,001), sehingga signifikan data tersebut lebih kecil dari 0,005,
terdeteksi bahwa peningkatan atau penurunannya kinerja reksadana dapat dijelaskan dari
hubungan variabel independen, yaitu suku bunga BI. Sehingga variabel independen memiliki
hubungan yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu kinerja reksadana.

Coefficients
a

Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant)
157576781033,
552
19945453486,7
80

7,900 ,000
x
-
12005354584,7
12
2360034931,92
8
-,861 -5,087 ,001
a. Dependent Variable: Reksadana

Berdasarkan data tersebut dapat diperoleh hasil uji T sebagai berikut :
Variabel Suku Bunga BI memiliki signifikasi sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 dan t hitung
sebesar -5,087 memiliki hubungan negatif terhadap Kinerja Reksadana, sehingga

ditolak dan

diterima.
11

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan penelitian diatas, maka penulis mengambil kesimpulan :
1. Suku Bunga BI memiliki hubungan dengan Kinerja Reksadana, hal tersebut dibuktikan
dengan

sebesar 74,2% yang menunjukkan bahwa semakin kuat hubungan Tingkat


Suku Bunga BI (Variabel X
1
) mempengaruhi Kinerja Reksadana (Variabel Y), sisanya
sebesar 25,8% dipengaruhi oleh faktor lain.
2. Nilai F hitung sebesar 25,877 dengan p value 0,001 (p = 0,001), sehingga signifikan data
tersebut lebih kecil dari 0,005, terdeteksi bahwa peningkatan atau penurunannya kinerja
reksadana dapat dijelaskan dari hubungan variabel independen, yaitu suku bunga BI.
Sehingga dari hal tersebut

ditolak dan

diterima.

Berdasarkan dari penelitian diatas, maka penulis memberi saran :
1. Ada baiknya pemerintah lebih memperhatikan tingkat investasi reksadana dan
menyesuaikan pada tingkat suku bunga Bank Indonesia.
2. Adanya kekurangan data tahunan untuk membuat lebih signifikan, sehingga diharapkan
pada penelitian selanjutnya memiliki sumber data yang lebih akurat dan mengurangi
kesalahan duga (Standar error).




BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

http://aria/bapepam.go.id

http://bi.go.id

Gujarati, Damodar, 1995, Ekonometrika Dasar, Penerbit Erlangga, Jakarta

Elton, Edwin J. & Gruber, Martin J., Modern Portofolio Theory & Investment Analysis, 5 edition,
New York: John Wiley & Sons Inc., 1995.

http://google.com/repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/4769/HIIdsi.pdf

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/07/perkembangan-suku-bunga-di-indonesia.html

Gujarati, Damodar, 1995. Ekonometrika Dasar, Penerbit Erlangga, Jakarta

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/teori-suku-bunga-dan-inflasi.html

Karl E. Case, Ray C. Fair., Ekonomi Makro.2001, Jakarta:Frenhalindo

Mankiw;N.Gregory., Teori makroekonomi, 2000, edisi keempat. Jakarta : Erlangga

Nopirin., Ekonomi moneter, 1992, Cetakan Pertama, Yogyakarta : BPFE UGM

Pratomo, Eko Priyo & Nugraha, Ubaidilla. Reksadana Solusi Perencanaan Investasi di Era
Modern: Cetakan ketiga. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.2004.