Anda di halaman 1dari 11

1

ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF INFLATION TO THE PERFORMANCE


OF MUTUAL FUNDS PERIOD 2002-2012

Rizky Zakiah Santoso
Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Pembimbing :
Tony S. Chendrawan,ST.,SE.,M.Si
Dr. H. M. Kuswantoro M.Si


ABSTRACK
Analysis aims to describe the effect of inflation on the performance mutual funds and how much
influence in floating by inflation to performance mutual funds in Indonesia. Object research is
investment with focusing on inflation and performance mutual funds. method of collecting data by
using secondary data. the source of the data used in this study was from BPS and BI. data analysis
techniques using simple regression analysis. results of research demonstrating that inflation is not
a significant effect on the performance of mutual funds.
Keyword : investment, mutual funds, inflation.


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dewasa ini semakin banyak intrumen investasi yang ada di masyarakat, demikian pula
semakin banak orang yang tertarik untuk melakukan kegiatan investasi, maka adengan tersedianya
banyak pilihan instrument investasi maka para investor akan lebih bisa menetukan instrument
mana yang akan lebih menguntungkan bagi mereka.
Dari banyaknya instrument investasi yang ada di Indonesia, salah satunya adalah reksadana
dimanna reksadana merupakan sebuah wadah dimana masyarakat dapat menginventasikan
dananya dan oleh pengurusnya (manajer investasi) dana itu diinvestaikan ke portofolio efek.
Reksadana merupakan .jalan keluar bagi para pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar
modal dengan modal minimal yang relative kecil dan kemampuan menanggung risiko yang
sedikit.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): Reksadana
adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk
selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi
Dari definisi di atas, dapat disimpulan bahwa terdapat tiga unsur penting dalam pengertian
Reksadana yaitu:
1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
Dengan melakukan pengumpulan dana dari para pemodalnya memungkinkan pemodal-
pemodal yang memiliki dana yang minim dapat ikut andil berinvestasi dalam bentuk efek.
2. investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi
Yang dimaksud dengan efek adalah surat berharga, seperti suratpengakuan utang, surat
berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan, kontrak investasi
kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap turunan dari Efek, baik Efek yang bersifat
utang maupun yang bersifat ekuitas, seperti opsi dan waran. Portofolio efek yang dikelola oleh
reksa danadapat berupa kumpulan dari beberapa jenis efek (tidak hanya sejenis).
3. Manager Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor
Manager investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek untuk para
nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, tidak
termasuk perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yangmelakukan sendiri kegiatan
usahanya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Inflasi mempunyai pengertian sebagai sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat
umum dan terus-menerus. Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga secara terus-menerus yang
2

bersumber dari terganggunya keseimbangan antara arus uang dan barang. Dari pengertian ini,
inflasi mempunyai penjelasan bahwa inflasi merupakan suatu gejala dimana banyak terjadi
kenaikan harga barang yang terjadi secara sengaja ataupun secara alami yang terjadi tidak hanya di
suatu tempat, melainkan diseluruh penjuru suatu negara bahkan dunia. Kenaikan harga ini
berlangsung secara berkesinambungan dan bisa makin meninggi lagi harga barang tersebut jika
tidak ditemukannya solusi pemecahan penyimpangan penyimpangan yang menyebabkan
terjadinya inflasi tersebut.

Tabel 1.1 Tingkat Inflasi dan Kinerja Reksadana periode tahun 2002-2012
Tahun Inflasi Kinerja Reksadana
2008 11,1 60.837.749.435,64
2009 2,8 69.708.202.522,26
2010 7.00 81.464.548.528,77
2011 3,8 98.545.955.655,54
2012 4,3 113.263.337.849,98
Sumber : BPS dan Bank Indonesia
Pada table 1.1 di atas yang merupakan table datat ingkat inflasi dan kinerja reksadana pada periode
2002-2012 dapat diketahui walaupaun tingkat inflasi di Indonesia terus mengalami fluktuasi tetapi
kinerja reksadana terus mengalami peningkatan. Pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2008 tingkat
inflasi memuncak dengan menembus 11,1% lebih besar dari tahun 10,43% tetapi tidak berdampak
negative terhadap kinej reksadana pada tahun 2008 kinerja reksadananya adalah 60,83 miliar unit.
Pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2009, 2010, 2011, dan 2012 kinerja reksadana terus mengalami
kenaikan walaupun tingkat inflasi terus mengalami fluktuasi.

1.2 Identifikasi Masalah
1. Berapa besar hubungan Inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia
2. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui Berapa besar hubungan Inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia
2. Mengetahui Bagaimana pengaruh inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Dunia Investasi
Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menjalankan strategi yang
tepat dalam menanamkan investasi di reksadana
2. Dunia Akandemis
Memberi kontribusi pada pengembangan teori terutama yang berkaitan dengan Investasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis
2.1.1 Teori Investasi
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang membutuhkan pembentukan modal (investasi)
yang besar untuk pembangunan disegala bidang kehidupan karena pembentukan modal merupakan
faktor paling penting dan strategis di dalam proses pembangunan ekonomi, bahkan pembentukan
modal disebut sebagai kunci utama menuju pembangunan ekonomi ( Jhinghan, ML,1996).
Investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Investasi dalam bentuk aset riil (real assets)
yaitu investasi dalam bentuk aktiva berwujud fisik, seperti emas, batu mulia dan sebagainya.
Investasi dalam bentuk surat berharga/sekuritas (marketable securities financial assets) yaitu
investasi dalam bentuk surat-surat berharga yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva riil
yang diawasi oleh suatu lembaga/perorangan tertentu (Marcus,1995).
2.1.2 Pengertian Reksadana
Secara umum Reksa dana adalah wadah dan pola pengelolaan dana bagi sekumpulan investor
untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara
3

membeli unit penyertaan Reksa dana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke
dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek atau sekuriti
lainnya.
Reksa dana berasal dari kata Reksa yang berarti jaga atau pelihara dan kata Dana berarti
uang. Sehingga Reksa dana pada umumnya diartikan sebagai kumpulan uang yang dipelihara.
Reksa dana yang dalam bahasa asalnya disebut mutual fund adalah salah satu investasi dimana
investor secara bersama-sama melakukan investasi dalam suatu himpunan dana untuk
diinvestasikan dalam berbagai bentuk investasi seperti saham, obligasi, ataupun melalui tabungan
atau sertifikat deposito di bank-bank. Dengan demikian reksa dana adalah diversifikasi dalam
portofolio yang dikelola oleh manajer investasi di perusahaan reksa dana (Sitompul, 2002:2).
2.1.2.1 Pengelolaan Reksa dana
Terdapat dua pihak yang terlibat langsung dalam pengelolaan reksa dana (Pratomo dan
Nugraha, 2009:51). Pertama adalah Manajer Investasi. Manajer Investasi merupakan pihak yang
berperan penting dalam kegiatan investasi reksa dana. Manajer Investasi yang dimaksud adalah
sebuah perusahaan yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek milik investor.
2.1.2.2 Jenis dan Karakteristik Reksa dana
Pada umumnya semua reksa dana mempunyai kesamaan didalam struktur, tetapi berbeda
dalam tujuan. Membedakan reksa dana dapat dilakukan dengan melihat beberapa sudut pandang
(Darmadji dan Fakhruddin, 2001:148).
2.1.2.2.1 Reksa dana Dilihat dari Segi Bentuknya
Sebagaimana diatur pada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada
pasal 18 ayat (1), reksa dana dapat diklasifikasikan dalam dua bentuk yaitu, Reksa Dana Perseroan
dan Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif. Kedua bentuk Reksa dana ini sama-sama
menghimpun dana dan menginvestasikan dananya pada berbagai instrumen investasi baik yang
diperdagangkan di pasar modal maupun di pasar uang.
1. Reksa dana Berbentuk Perseroan (corporate type)
2. Reksa Dana berbentuk Kontak Investasi Kolektif (contractual type).
2.1.2.2.2 Reksa dana Dilihat dari Sifatnya
Dilihat dari sifatnya, reksa dana dapat dibedakan menjadi:
1. Reksa dana bersifat Tertutup(close-end fund)
2. Reksa dana bersifat Terbuka (open-end fund)
2.1.2.2.3 Reksa dana Dilihat dari Tujuan Investasi
Reksa dana dilihat dari tujuan investasinya dapat dibedakan atas (Darmadji dan
Fakhruddin,2001:151).
1. Growth Fund adalah Reksa dana yang menekankan pada upaya mengejar pertumbuhan nilai
dana. Reksa dana jenis ini biasanya mengalokasikan dananya pada saham.
2. Income Fund adalah Reksa dana yang mengutamakan pendapatan konstan. Reksa dana jenis
ini mengalokasikan dananya pada surat hutang dan obligasi.
3. Safety Fund adalah Reksa dana yang mengutamakan keamanan daripada pertumbuhan.
Reksa dana jenis ini umumnya mengalokasikan danannya di pasar uang, seperti deposito
berjangka, sertifikat deposito dan surat hutang jangka pendek.
2.1.2.2.4 Reksa dana Dilihat dari Portofolio Investasinya
Pembagian reksa dana ini didasarkan pada komposisi asset yang membentuk reksa dana
tersebut, tingkat pengembalian yang dihasilkan, dan tingkat risiko yang dimiliki oleh masing-
masing reksa dana (Pratomo dan Nugraha, 2009:55).
Jenis-jenis reksa dana berdasarkan Peraturan Bapepam Nomor IV.C.3 tentang Pedoman
Pengumuman Harian Nilai Aktiva Bersih Reksa dana Terbuka diklasifikasikan dalam empat
kategori berdasarkan portofolio investasinya:
1. Reksa Dana Pendapatan Tetap
Merupakan reksa dana yang menginvestasikan dananya minimal 80% dari aktivanya dalam
bentuk efek bersifat utang (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:151). Universitas Sumatera Utara
Bersifat lebih stabil, yaitu reksa dana yang berinvestasi pada instrumen fixed income yang
berkualitas baik seperti sertifikat deposito, Commercial Paper (CP), dan sertifikat obligasi
yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta, BUMN, pemerintah, dll. Instrumen-instrumen
tersebut memberikan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan bank
namun tetap bersifat konservatif. Reksa dana berpendapatan tetap cocok untuk orang yang
ingin berinvestasi jangka pendek atau yang tidak ingin mengambil resiko akan kehilangan
4

sebagian nilai investasinya. Namun anda tidak dapat berharap akan mendapatkan keuntungan
yang besar apabila anda mempertimbangkan tingkat inflasi pertahun.
2. Reksa Dana Saham
Merupakan reksa dana yang menginvestasikan dananya minimal 80% dari aktivanya dalam
bentuk efek bersifat ekuitas (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:152). Bersifat lebih jangka
panjang Reksa dana saham biasanya menginvestasikan dananya pada saham-saham yang
dicatatkan dibursa, yang mewakili kepemilikan didalam perusahaan. Reksa dana saham
paling cocok untuk orang yang ingin berinvestasi jangka panjang, untuk beberapa tahun
bahkan mungkin beberapa dekade. Ide dibelakang reksa dana saham adalah harga-harga
saham mengalami kecenderungan naik dan turun di dalam jangka pendek, namun sejarah
menunjukkan bahwa reksa dana saham menghasilkan keuntungan yang lebih besar dalam
jangka panjang dibandingkan dengan investasi pada Fixed income. Jadi, sementara investasi
pada reksa dana saham mengalami penurunan ataupun kenaikan nilai setiap harinya, dalam
jangka panjang hasilnya akan lebih besar dari pada menginvestasikannya dalam reksa dana
pasar uang atau reksa Universitas Sumatera Utara dana campuran, khususnya jika
diperbandingkan dengan tingkat inflasi tiap-tiap tahun.
3. Reksa Dana Pasar Uang Reksa dana
jenis ini merupakan reksa dana yang hanya melakukan investasi pada efek bersifat utang
dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas
dan pemeliharaan modal (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:150)
4. Reksa Dana Campuran
Merupakan reksa dana yang melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas dan efek bersifat
utang yang perbandingannya tidak termasuk dalam definisi reksa dana di atas. Reksa dana
campuran berinvestasi baik pada instrumen fixed income jangka pendek maupun pada
saham-saham perusahaan yang dicatatkan di bursa. Reksa dana jenis ini mengoptimalkan
keuntungannya melalui saham-saham dipasar modal disisi lain sebagai penyangganya adalah
melalui instrumen fixed income.
2.1.2.3 Biaya-biaya Dalam Reksa dana
Dalam melakukan investasi, investor juga memperhatikan biaya yang dikenankan pada reksa
dana. Biaya-biaya dalam reksa dana memiliki tiga komponen utama (Pratomo dan Nugraha,
2009:60), yaitu biaya yang menjadi beban Manajer Investasi, biaya yang menjadi beban reksa dana
dan biaya yang dibebankan pada investor. Universitas Sumatera Utara Beberapa jenis biaya yang
timbul dalam mengelola reksa dana dibagi dalam beberapa kelompok:
1. Biaya yang menjadi beban reksa dana
Biaya yang dibebankan pada reksa dana itu sendiri terdiri dari:
a. Imbalan jasa manajer investasi, misalnya sebesar 2% per tahun dihitung dari jumlah NAB
reksa dana
b. Imbalan jasa Bank Kustodian, misalnya sebesar 0,20% per tahun dihitung dari jumlah
NAB reksa dana
c. Imbalan jasa untuk profesi akuntan publik, notaris, dan konsultan hukum setelah
pernyataan pendaftaran reksa dana tersebut dianggap efektif oleh Bapepam.
d. Biaya operasional yaitu biaya transaksi efek (saham atau obligasi) dan juga registrasi efek
dan biaya administrasi pembuatan dan pengiriman prospektus serta biaya pajak yang
disebabkan oleh biaya-biaya yang disebutkan di atas.
2. Biaya yang menjadi beban manajer investasi
Tujuan pengelompokan biaya ini adalah supaya lebih jelas karena beban biaya manajer
investasi juga cukup besar yang terdiri dari:
a. Biaya administrasi pendirian reksa dana (biaya konsultasi jasa profesi dan pembuatan
dokumen dan kontrak hukum).
b. Biaya pemasaran dan biaya percetakan berbagai formulir administrasi.
3. Biaya yang menjadi beban pemilik unit penyertaan
a. Biaya pembelian (subscription fee) untuk membeli unit penyertaan reksa dana tersebut
ada yang berkisar sebesar 0,5%. Universitas Sumatera Utara
b. Biaya penjualan kembali (redemption fee) unit penyertaan reksa dana tersebut, misalnya
apabila kurang dari 1 tahun, ada yang berkisar sebesar 1,5% atau maksimum Rp 25 Juta;
antara 1 sampai 2 tahun berkisar sebesar 1% atau maksimum Rp 15 Juta; apabila lebih
dari 2 tahun, tidak dikenakan biaya redemption fee.
5

c. Biaya pertukaran. Biaya ini timbul apabila pemegang unit penyertaan reksa dana X milik
manajer investasi Y, ingin menukarkan unit penyertaan reksa dana X tersebut sebelum
dilakukan penjualan ke jenis reksa dana lain yang masih satu produk reksa dana milik
manajer investasi Y. Dalam hal ini bisa dikenakan biaya pertukaran, misalnya sebesar
0,2%.
2.1.2.4 Jenis pajak yang terdapat pada reksa dana
a. Deviden, akan dikenai pajak berdasarkan PPh Tarif Umum [Pasal 4 (1) UU PPh.
b. Bunga obligasi, masih dianggap sebagai bukan objek pajak (selama 5 tahun pertama sejak
reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif/KIK menjadi efektif), dasar hukumnya adalah
Pasal 4 (3) huruf j-UU PPh jo. PP 139 tahun 2000.
c. Bunga deposito, akan dikenakan pajak sebesar 20% (PPh Final), dasar hukumnya PP 131 tahun
2000.
d. Capital gain saham di Bursa, akan dikenakan pajak 0,1% atas dasar PPh Final (PP41 tahun
1994 jo. PP 14 tahun 1997).
e. Surat utang (commercial paper), akan dikenakan PPh Tarif Umum. Universitas Sumatera Utara
f. Bagian laba, termasuk pelunasan kembali (redemption), dianggap bukan objek pajak PPh
[Pasal 4 (3) huruf h UU PPh]. Penentuan besaran pajak di atas berlaku standar pada setiap
produk reksa dana yang ada di pasar modal Indonesia.
2.1.2.5 Kinerja Reksa Dana Saham
Pengukuran kinerja dilakukan untuk melakukan evaluasi portofolio secara kualitatif dan
kuantitatif. Hasil pengukuran akan menunjukkan keberhasilan manajer dalam mencapai tujuan
investasi yang telah ditetapkan dan dapat pula dipakai untuk melakukan komparasi dengan suatu
benchmark maupun portofolio lainnya.
Penilaian kinerja reksa dana tidak semata-mata didasarkan pada tingkat pengembalian (return)
yang diperoleh, karena posisi atau peringkat kinerja suatu reksa dana lebih tergantung pada target
tingkat risiko yang terkandung dalam portofolio reksa dana tersebut, perbandingannya dengan
kinerja pasar saat ini, dan tingkat keahlian Manajer Investasi.
Dalam melakukan penilaian kinerja portofolio terdapat dua cara, yaitu: pertama, melakukan
perbandingan langsung (direct comparison/ raw performance). Cara ini dilakukan dengan
membandingkan kinerja suatu portofolio yang biasanya diwakili oleh reksa dana (mutual fund)
terhadap portofolio lain yang mempunyai risiko yang kurang lebih sama. Biasanya menggunakan
tolok ukur (brenchmark) tertentu. Misalnya: reksa dana saham menggunakan tolok ukur IHSG.
Kedua, menggunakan parameter tertentu, misalnya: Sharpe measure, Treynor measure dan Jensen
measure.
2.1.2.6 Manfaat Reksadana
Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif
investasi yang menarik antara lain:
1. Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang
mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat
penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu,
sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta
mengakses informasi ke pasar modal.
2. Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi
risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana
diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata
lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek
secara individu.
3. Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya
secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya,
dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih
(NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan
tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan
investasinya secara rutin.


6

4. Likuiditas yang tinggi
Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat
likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit
Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga
memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit
Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.
5. Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola
secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi
tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi. Biaya transaksi akan menjadi lebih
rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.
2.1.2.7 Risiko Investasi Reksa Dana
Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi
timbul apabila membeli Reksadana.
1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan
Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam
portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian
awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh
banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja
emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak
penyebab fundamental lainnya.
2. Risiko Likuiditas
Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana
pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah
yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami
rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat
terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga memengaruhi investor reksadana
untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa
tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya
penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi
portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai
pengelola Reksadana tersebut.
3. Risiko Pasar
Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang
disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah
lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau
instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar
yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada
pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila
ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa memperhatikan tren pasar dari
instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.
4. Risiko Default
Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten
yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan
tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar
kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang
menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.
2.1.3 Inflasi
Salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan yang dijumpai di hampir seluruh
negara di dunia adalah inflasi, merupakan kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara
umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak bisa disebut inflasi,
kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari
harga barang-barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus-menerus juga perlu
diingat. Kenaikan harga-harga karena, misalnya menjelang hari-hari besar atau yang terjadi sekali
saja (tidak mempunyai kelanjutan) tidak disebut sebagai inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak
dianggap sebagai masalah ekonomi dan tidak memerlukan kebijakan khusus untuk
menanggulanginya.(Boediono, 1992). Ada berbagai cara untuk menggolongkan macam inflasi,
7

penggolongan pertama didasarkan atas parah tidaknya inflasi tersebut. Ada beberapa macam
inflasi :
1. Inflasi ringan (di bawah 10% setahun)
2. Inflasi sedang (antara 10% - 30% setahun)
3. Inflasi berat (antara 30% - 100% setahun)
4. Hyperinflasi (di atas 100% setahun)
Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab terjadinya inflasi. Atas dasar ini inflasi
dapat dibedakan menjadi :
1. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakan akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi
semacam ini disebut demand inflation.
2. Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi. Ini disebut cost inflation.
Akibat dari kedua macam inflasi tersebut, dari segi kenaikan harga output tidak berbeda, tapi
dari segi volume output (PDB riil) ada perbedaan. Dalam kasus demand inflation, biasanya ada
kecenderungan untuk PDB riil menaik bersama-sama dengan kenaikan harga umum. Besar
kecilnya kenaikan ini tergantung kepada elastisitas kurva penawaran, semakin mendekati output
maksimum semakin tidak elastis kurva ini. Sebaliknya, dalam kasus cost inflation biasanya
kenaikan harga-harga disertai dengan penurunan omset penjualan barang. Secara garis besar 3
kelompok teori mengenai inflasi, masing-masing menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses
inflasi, yaitu:
2.1.3.1 Teori Kuantitas
Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari:
1. Jumlah uang yang beredar
Jumlah uang yang berlebihan di dalam masyarakat akan menyebabkan kenaikan dalam
tingkat harga umum, sedangkan laju inflasi adalah tingkat perubahan tingkat harga umum
dari barang-barang dan jasajasa dalam perekonomian.
2. Psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga (expectation), inti dari teori
ini adalah :
a. Inflasi hanya terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (berupa
penambahan uang cartal atau penambahan uang giral).
b. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh
psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.
2.1.3.2 Teori Keynes
Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas
kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini tidak lain adalah proses tidak
meratanya tingkat pendapatan di antara kelompok-kelompok social yang menginginkan bagian
yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses ketidak merataan
ini akhirnya diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang-barang
selelu melebihijumlah barangbarang yang tersedia (menimbulkan inflation gap).
2.1.3.2.1 Teori Strukturalis
Merupakan inflasi yang didasarkan atas pengalaman di Negara-negara Amerika Latin.Teori
ini memberi tekanan pada ketegaran dari struktur perekonomian negera-negara sedang
berkembang.Karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian (menurut
definisi, faktor-faktor ini hanya bisa berubah secara bertingkat dan dalam jangka waktu yang
lama), maka teori ini bisa disebut teori inflasi jangka panjang. Ada 3 kemungkinan keadaan inflasi
menurut Imamudin (2008):
1. Keadaan pertama, apabila masyarakat tidak (atau belum) mengharapkan harga-harga untuk
naik pada bulan bulan mendatang.
2. Keadaan kedua adalah di mana masyarakat atas dasar pengalaman dibulan-bulan sebelumnya
mulai sadar adanya inflasi. Keadaan ketiga adalah tahap Hyper inflation, yakni orang-orang
sudah kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Keadaan ini ditandai oleh makin
cepatnya peredaraan uang (velocity of circulation yang menaik). Uang yang beredar sebesar
misalnya 20% akan mengakibatkan kenaikan harga lebih besar dari 20%.
2.3.1 Hubungan Inflasi Terhadap Kinerja Reksadana
Salah satu indikator ekonomi yang penting dalam mendukung kondisi perekonomian suatu
negara adalah perkembangan tingkat harga, dimana dalam suatu perekonomian diasumsikan
senantiasa terjadi inflasi. Inflasi adalah suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu
perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu. Inflasi dianggap
8

sebagai sesuatu yang tidak diinginkan karena memberi pengaruh yang tidak baik terhadap
distribusi pendapatan.
Dengan demikian, salah satu dampak inflasi terhadap perekonomian adalah bahwa inflasi
memperburuk distribusi pendapatan. Penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return
saham seperti yang dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) yang menyatakan bahwa makin
tinggi inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Turunnya profit
perusahaan adalah informasi yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat mengakibatkan
turunnya permintaan saham perusahaan tersebut. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Utami
dan Rahayu (2003) membuktikan secara empirik pengaruh inflasi terhadap harga saham, semakin
tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham.

2.2 Kerangka Pemikiran






























2.3 Paradigma penelitian




2.4 Hipotesis Penelitian
2.4.1 Hipotesis Statistik
H
0
=
0
=
1
= 0
H
1
=
0,

1,
0
H
0
= Tidak ada hubungan antara pengaruh Inflasi terhadap kinerja Reksadana
H
1
= Ada hubungan antara pengaruh Inflasi terhadap kinerja Reksadana
2.3.2 Hipotesis Umum
H
0
= Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel suku bunga SBI terhadap
inflasi.
H
1
= Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel suku bunga SBI terhadap
inflasi
1. Invetasi
2. Reksadana
3. Inflasi
Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Kinerja Reksadana
Periode 2002-2012

()

()
Fungsi : Reksadana = f(Inflasi)

Variabel variable
y : Kinerja Reksadana
x : Tingkat Inflasi
Literatur Penelitian
terdahulu
1. Khoirul Nawar 2010
2. Abdul Muthalib 2004
3. Annisa Solihah 2008
Middle Theory
1. Raharjda
2. Sukirno

Grand Theory
1. Teori Inflasi Keynes
2. Teori kuantitas
3. Teori sirkuitas
Identifikasi Masalah
1. Berapa besar hubungan Inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia
2. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap kinerja reksa dana di Indonesia

1. Teori Investasi
Keynes
1. BPS Badan Pusat
Statistik
2. Eko Priyo

X
1
= Inflasi Y = Kinerja Reksadana
9


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variable yaitu Inflasi dan Kinerja Reksadana. Dimana Kinerja
reksadana merupakan variable Y atau variable dependen (terikat) sedangkan Inflasi adalah variable
X atau variable independen (bebas). Dalam penelitian ini data yang digunakan adlah data sekunder
yang berupa data runtut waktu atau time series. Data sekunder merupakan data yang telah
disediakan atau dikumpulkan oleh lembaga atau instansi terkait atau lembaga pengolah data yang
kemudian dipublikasikan pada masyarakat pengguna data. Dalam penelitian ini data yang
digunakan berasal BPS atau badan pusat statistik dan BI atau Bank Indonesia. Jadi objek dalam
penelitian ini adalah Tingkat Inflasi dan Kinerja Reksadana periode tahun 2002 2012.
3.2 Jenis Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif , yaitu adalah data Suku
Bunga dan jumlah unit Reksadana. Sumber data dalam penelitian ini adalah Bank Indonesia dan
BPS (Badan Pusat Statistik).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif melakukan uji hipotesis yang menggunakan model ekonometrika berupa gabungan
antara analisa matematis,statistik dan teori ekonomi guna mengetahui dampak perubahan dari satu
variabel terhadap variabel lainnya.
3.3 Metode Analisi
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi sederhana (Simple
regresi). Analisis regresi pada dasarnya adalah studi atas ketergantungan suatu variabel bebas
dengan tujuan untuk mengestimasi dengan meramalkan nilai populasi berdasarkan nilai tertentu
dari variabel yang diketahui (Gujarati, 1996:13-14). Analisis regresi linier sederhana dipilih
dengan pertimbangan untuk mengetahui pengaruh antara satu buah variabel independen adalah
Suku Bunga terhadap satu variabel dependen yang adalah reksadana, dengan hasil uji pengaruh
serta hasil persamaan model . Untuk menguji hipotesis digunakan persamaan sebagai berikut :
Y =

+
Reksadana =

+
Keterangan :
Y= Nilai dari variabel dependen (Reksadana).

Nilai otonomus pada persamaan, atau sebagai nilai dasar, yang berupa konstanta.

= Koefisien dari

yang merupakan variabel independen (Tingkat Inflasi)

= Variabel independen (Tingkat Inflasi)


= Error Term

3.4 Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Skala


Y = REKSA DANA
SAHAM
reksa dana adalah sarana untuk menghimpun dana
dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai
keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya
memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas


Rasio



X
1
= TINGKAT
INFLASI
Inflasi merupakan kecenderungan dari harga-harga
untuk menaik secara umum dan terus-menerus.
Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak
bisa disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut
meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan)
sebagian besar dari harga barang-barang lain.




Rasio

3.5 Pengolahan Data
3.5.1 Uji t
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari tiap-tiap variabel independen (Nilai
Tukar Rupiah, Tingkat Suku Bunga SBI, Inflasi, dan Jumlah Uang Beredar) terhadap IHSG di BEI
untuk periode Januari 1999 hingga Juni 2010.
Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut;
Jika thitung < ttabel, maka maka Ho diterima dan H1 ditolak.
Jika thitung > ttabel, maka maka Ho ditolak dan H1 diterima.
10

3.5.2 Uji F
Uji F-statistik ini adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara seluruh
variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Untuk pengujian digunakan
hipotesa sebagai berikut:
- Ho : b1 = b2 = .= bk = 0, artinya secara bersama-sama tidak ada pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
- Ho : b1 b2 . bk = 0, artinya secara bersama-sama ada pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
3.5.3 Koefisien Determinasi (R
2
Square)
Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabelvariabel independen
secara bersama mampu memberikan penjelasan mengenai variabel dependen dimana nilai R2
berkisar antara 0 sampai 1 (0 R2 1). Semakin besar nilai R2, maka akan semakin besar variasi
variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Objek dan Pembahasan
Setelah mengetahui tingkat inflasi, dan kinerja Reksadana maka data-data tersebut dianalisis
dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Analisis regresi sederhana digunakan untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh variabel tingkat inflasi terhadap kinerja Reksadana.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka penulis mendapatkan hasil dengan bantuan program
Eviews7. Hasil analisis tersebut seperti terlihat pada tabel tabel sebagai berikut:

Table 4.1 Analisis hasil regresi dengan (Eviews7)

Dependent Variable: KINERJA_REKSADANA
Method: Least Squares
Date: 06/11/14 Time: 17:17
Sample: 2002 2012
Included observations: 11


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 11.33622 0.352315 32.17634 0.0000
INFLASI -0.102890 0.048377 -2.126851 0.0623


R-squared 0.334492 Mean dependent var 10.63825
Adjusted R-squared 0.260546 S.D. dependent var 0.494378
S.E. of regression 0.425123 Akaike info criterion 1.290090
Sum squared resid 1.626568 Schwarz criterion 1.362435
Log likelihood -5.095498 Hannan-Quinn criter. 1.244487
F-statistic 4.523497 Durbin-Watson stat 1.281408
Prob(F-statistic) 0.062340








Dari Tabel hasil regresi di atas maka dapat diketahui bahwa Melihat hasil besaran korelasi
antara variabel bebasterhadapa variable terikat tampak bahwa variabel inflasi mempunyai tidak
berpengaruh signifikan terhadap Kinerja reksadana, Nilai prob 0.0623 > t-statistic -2,126851.

4.1.1 Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independent terhadap
variabel dependent.
Dari hasil estimasi data diketahui bahwa uji t untuk variabel Inflasi sebesar 0.0623 dengan
probabilitas -2,126851. Karena nilai t hitung lebih kecil dari t tabel maka H0 diterima, artinya
bahwa Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Reksadana.

11


4.1.2 Uji F
Hasil uji yang disajikan pada tabel 1.1 (uji F) dengan nilai F-test = 4.523497, pada Prob (F-
statistic) = 1.281408. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel INFLASI, tidak
berpengaruh signifikan terhadap variabel Y, dari nilai adjusted R2 sebesar 0.334492 hal ini berarti
bahwa perubahan variabel Y dijelaskan oleh perubahan-perubahan variabel INFLASI sebesar
33,4% dan sisanya sebesar 66.6 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dikaji pada penelitian
ini.
4.2 Pengujian Hipotesis
Kaidah penerimaan hipotesis adalah Ho ditolak apabila nilai t hit < t tabel dengan nilai P >
0.05 atau nilai probabilition value diatas 5 %..
Inflasi prob . 0.0623 < t-statistik 4.444, maka data tersebut signifikan artinya H
0
= Diterimz, yang
artinya variable X
1
Inflasi tidak berpengaruh terhadap variable Y Kinerja Rekasadana.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan maka penulis dapan menyimpulkan bahwa :
1 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variable Inflasi terhadap kinerja rekadana
hal ini di tunjukan oleh nilai t statistic variabel Inflasi sebesar 0.0623 dengan probabilitas
-2,12685, yang artinya Karena nilai t hitung lebih kecil dari t tabel maka H0 diterima,
artinya bahwa Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Reksadana
2 Pengaruh yang di timbulakan oleh tingkat inflasi terhadap kinerja reksadana adalah
sebesar 33,4% dan sisanya sebesar 66.6 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dikaji pada penelitian ini.
5.2 Saran
1 Investor sebaiknya memperhatikan factor tingkat inflasi, sebelum mengambil keputusan
berinvestasi. Sebaiknya investor juga menggunakan informasi-informasi lainnya yang
dapat digunakan untuk referensi dalam pengambilan keputusan berinvestasi karena tentu
banyak faktor lain yang mempengaruhi kinerja reksadana.
2 Pemerintah harus bijak dalam mengendalikan kondisi-kondisi makroekonomi (tingkat
inflasi) agar perekonomian tetap stabil dan sehat, sehingga dapat meningkatkan gairah
investasi di dalam negeri.
3 Dalam penelitian ini penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan maka
diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk dapat melengkapi penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sandono. 2006. Makro Ekonomi Teori PEngantar. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Nawar, Khoirul. 2010. Pengaruh Tingkat Inflasi, Suku Bunga SBI, Kurs, dan IHSG Terhadap
Kinerja Reksadana Saham jurna Penelitian
Muthalib, Abdul. 2004. Analisis pengaruh variabel makro ekonomi terhadap tingkat kinerja
reksadana saham periode 1998-2004.jurnal Penelitian
Solihah, Annisa. 2008 Analisis Pengaruh JII, SWBI dan Inflasi terhadap Kinerja Reksadana
Syariah. Skripsi
Widoatmodjo, Sawidji, Cara Sehat Investasi di Pasar Modal pengetahuan dasar, Jakarta: PT.
Jurnalindo Aksara Grafika, 1996.
Bodie Zvi, Kane Alex, Marcus Alan J., Investments, Jakarta: Salemba Empat, 2008.
http://karyagen-jar.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html.
http://just-for-duty.blogspot.com/2012/04/1.html.
http://www.bisnisinvestasisaham.com/investasi-reksadana/pengertian-reksadana/
http://rahman8194.blogspot.sg/2013/11/reksa-dana.html
Wikipedia : 1. http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana 2.http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana