Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM DASAR-DASAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN IKAN


PEMINDANGAN



Oleh
Dedi Irawan
05061181320022
Kelompok VIII















PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hampir semua jenis ikan dapat pindang. Pada umumnya jenis-jenis ikan yang
dapat di pindang antara lain ikan kembung, ikan layang, tongkol dan
lemuru. Untuk bahan baku pengolahan ikan pindang diusahakan ikan yang masih
dalam keadaan segar sehingga ikan pindang yang dihasilkan padat, utuh dan bagus
penampakannya ( Bahar, 2006 ).
Karakteristik konsumsi ikan menurut Food and Agriculture
Organization (FAO) tahun 1999 mencapai 16,3 kg per kapita per tahun yang
merupakan peningkatan sekitar 70 % dari tahun 19611963. Tingkat konsumsi ini
tentu saja akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan
perekonomian dunia. Dengan mengkonsumsi ikan dapat mengurangi resiko dari
berbagai penyakit terutama penyumbatan pembuluh darah (arteriosclerosis),
meningkatkan kecerdasan otak, karena produk perikanan merupakan sumber asam
lemak tak jenuh omega-3, taurin, dan lain sebagainya khususnya untuk jenis ikan
seperti lemuru, tuna, dan tongkol (Adi, 2003). Menurut Adnan (2001), potensi hasil
laut Indonesia, khususnya perikanan cukup besar, diperkirakan mencapai 6,7 juta ton
per tahun terdiri dari 4,4 juta ton di perairan Nusantara dan 2,3 juta ton di Zona
Ekonomi Ekskusif Indonesia (ZEEI). Untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil
perikanan, mengingat ikan mudah busuk, perlu dibuat alternatif pengolahan atau
pengawetan guna memperpanjang masa simpan dan distribusinya. Hal tersebut dapat
dilakukan melalui proses pembekuan, pengalengan, pengasinan, pemindangan, atau
pengasapan. Industri Kecil Menengah umumnya melakukan pengolahan dan
pengawetan secara tradisional yakni dengan pembuatan ikan asin/ikan kering, ikan
pindang produk fermentasi (terasi dan peda) dan ikan asap. Disamping cara
pembuatannya mudah peralatannya pun sederhana.
Ikan sebagai bahan pangan mempunyai nilai gizi yang tinggi dengan
kandungan mineral, vitamin, lemak tak jenuh dan protein yang tersusun dalam asam-
asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh dan kecerdasan
manusia. Ikan termasuk jenis makanan yang rentan terhadap kerusakan
(pembusukan), apabila dibiarkan cukup lama akan mengalami perubahan akibat
pengaruh fisik, kimiawi dan mikrobiologi. Oleh karena itu, ikan yang sudah
ditangkap harus segera mendapat proses pengolahan, di antaranya melalui
pengawetan. Salah satu proses pengawetan terhadap ikan ini adalah melalui
pemindangan (Adi, 2003).
Semakin meningkatnya produksi ikan, maka diperlukan suatu penanganan
pasca panen yang cepat yakni melalui pengawetan yang memadai agar nilai kenaikan
produksi tidak sia-sia. Pengawetan ini diperlukan untuk memperpanjang masa
simpan ikan terutama di saat-saat musim ikan melimpah. Penyusunan pola
pembiayaan pemindangan ikan ini didasarkan pada informasi yang didapatkan dari
survey lapangan terhadap pengusaha pemindangan ikan di beberapa daerah di
Indonesia. Daerah yang disurvey adalah Kabupaten Pati, khususnya di daerah
Juwana. Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, dapat disimpulkan
bahwa pola usaha pemindangan ikan ini terbagi menjadi 2 (dua). Pertama, pengusaha
pemindangan ikan yang melakukan seluruh kegiatan produksi termasuk penangkapan
ikan. Kedua adalah pengusaha pemindangan ikan yang tidak melakukan
penangkapan ikan, namun bahan baku atau ikan yang akan dipindang dibeli dari
pedagang pengumpul. Dalam penyusunan pola pembiayaan pemindangan ikan ini,
pola usaha yang dijadikan sampel adalah pola usaha kedua (Adnan, 2001).

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan kuntuk menelaah pengaruh penggunaan berbagai
konsentrasi garam terhadap mutu organoleptik (penampakan, bau, konsistensi dan
rasa) ikan pindang yang dihasilkan.





II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika Ikan
Adapun sistematika ikan-ikan yang digunakan dalam praktikum ini antara
lain sebagai berikut :

1. Ikan Kembung Jantan (Rastrelliger kanagurta)

Sistematika ikan kembung jantan (Rastrelliger kanagurta) menurut
Khairuman (2002), adalah sebagai berikut :
kingdom : Animalia
fillum : Chordata
kelas : Actiopterygii
ordo : Percomorphi
family : Scombridae
genus : Rastrelliger
spesies : Rastrelliger kanagurta
Morfologi ikan kembung, tubuhnya ditutupi oleh sisik yang berukuran kecil
dan tudak mudah lepas, dengan sisik garis rusuk 120-150. Ciri khas ikan ini
mempunyai saringan insang panjang dan banyak yang tampak bila mulutnya dibuka.
Deretan saringan insang ini menjadikan mulut ikan kembung seperti penuh dengan
bulubulu. Sirip punggung pertama berjari-jari keras 10, sedang sirip punggung
kedua berjari-jari lemah 11-12. Sirip dubur berjari-jari lemah 11-12. Di belakang
sirip punggung terdapat 5-6 jari-jari sirip lepas (finlet). Panjang umumnya 20-25 cm
tapi maksimal dapat mencapai 35 cm. Warna biru kehijauan bagian atas, putih
kekuningan bagian bawah. Dua baris totol-totol hitam pada punggung, dan satu totol
hitam dekat sirip dada. Suatu ban warna gelap memanjang di bagian atas garis rusuk,
dan 2 ban warna keemasan di bawah garis rusuk. Sirip punggung abu-abu
kekuningan, sedang sirip ekor dan dada agak kekuningan, yang lainnya bening
kekuningan. Ikan kembung jantan yang baik untuk di pindang adalah ikan kembung
jantan yang masih segar dan jangan ikan yang sudah busuk agar rasanya enak,
penampakan utuh dan menarik, bau segar dan spesifik jenis, serta konsistensi padat
dan kompak (Direktorat Jendral Perikanan, 1999).

2. Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Sistematika ikan bandeng (Chanos chanos) menurut Khairuman (2002),
adalah sebagai berikut :
kingdom : Animalia
filum : Chordata
kelas : Actinopterygii
ordo : Gonorynchiformes
family : Chanidae
genus : Chanos
spesies : Chanos chanos
Bandeng merupakan seekor ikan yang merupakan makanan penting di Asia
Tenggara. Ikan ini merupakan ikan satu-satunya spesies yang masih ada dalam famili
Chanidae (kurang lebih tujuh species punah dalam lima jenis tambahan dilaporkan
pernah ada). Ikan bandeng hidup di Samudera Hindia dan menyeberangi sampai
Samudera Pasifik, mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir di pulau-pulau
dengan koral. Benih-benih yang mudah hidup di laut antara dua sampai tiga minggu,
lalu berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah muara, dan kadang kala di danau-danau.
Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak
(Khairuman, 2002).
3. Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
Menurut Nursyam (2008), sistematika ikan tongkol (Euthynnus affinis)
adalah sebagai berikut :
kerajaan : Animalia
filum : Chordata
kelas : Actinopterygii
ordo : Perciformes
famili : Scombridae
genus : Euthynnus
spesies : Euthynnus affinis
Bentuk tubuh ikan tongkol seperti betuto, dengan kulit yang licin .Sirip dada
melengkung, ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan
perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip
punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh,
sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat
memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan
dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-
kecil yang disebut finlet. Ikan tongkol dapat mencapai ukuran panjang 60 65 cm
dengan berat 1.720 gr pada umur 5 tahun. Panjang pertama kali matang gonad ialah
29 30 cm (Khairuman, 2002).
4. Ikan Nila (Oerochromis niloticus)
Menurut Bahar (2006), sistematika ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah
sebagai berikut :
kingdom : Animalia
filum : Chordata
kelas : Pisces
ordo : Percomorphi
famili : Chiclidae
genus : Oreochromis
spesies : Oreochromis niloticus
Secara umum morfologi ikan nila badannya pipih berbentuk lonjong, badan,
sirip ekor, sirip punggung dan sirip perut terdapat garisgaris tegak lurus dengan
siripsiripnya, matanya menonjol dan bagian tepinya berwarna putih;dagingnya
cukup tebal dan tidak ada duri halus di dalamnya; kepalanya besar;mulutnya lebar;
bibirnya tebal; sisik besarbesar dan kasar;sirip punggung dan sirip dubur memiliki
beberapa jarijari yang tajam seperti duri. Nilai pH air tempat hidup ikan nila
berkisar antara 68,5 (Bahar, 2006).
5. Ikan Selar Kuning (Caranx leptolepis)
Sistematika pada ikan selar kuning (Caranx leptolepis) menurut
Khairuman(2002), adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
phylum : Chordata
class : Pisces
ordo : Percomorphy
family : Carangidae
genus : Caranx
spesies : Caranx leptolepis
Ikan ini memiliki bentuk yang memanjang, memiliki mata yang besar. Terdapat dua
duri di muka sirip dubur. Terdapat scute di bagian ekor. Sirip dada berbentuk runcing
ke ujungnya seperti bulan sabit. Memiliki warna yang kehijau-hijauan di punggung
dan putih keperak-perakan di bagian bawah. Ikan ini hidup di perairan Pasifik. Ikan
ini memiliki kemampuan renang yang cepat. Ikan ini dipasarkan dalam bentuk segar,
yang dimiliki harga ekonomi yang bagus. Ikan selar kuning selain mempunyai sirip
tambahan dari sirip dubur dan sirip punggung bagian belakangnya, juga mempunyai
tanda khas yang merupakan sisik besar,dan berduri pada gurat sisinya, melebar ke
atas dan ke bawah badan. Ikan ini didapat jauh ketengah-tengah lautan, tetapi anak-
anaknya sering terdapat di muara-muara sungai yang besar. Panjang tubuh ikan ini
mencapai 40 cm lebih. Ikan seperti ini terdapat di seluruh daerah Indo-pasifik
(Khairuman, 2002).

B. Prinsip Pemindangan

Pemindangan merupakan penggaraman yang disertai dengan perebusan.
Prinsip pemindangan menurut Khairuman (2002), adalah sebagai berikut :
1. Pemanasan yaitu dengan suhu tinggi,sebagaian besar bakteri akan mati begitu juga
dengan kegiatan enzim yang berhanti.
2. Penggaraman yaitu pemberian garam akan mematikan bakteri atau menghambat
kegiatan bakteri karena garam merupakan racun bagi bakteri.
3. Pengurangan kadar air yaitu pada proses perebusan akan terjadi pengurangan
kadar air dari tubuh ikan. Di samping itu, pengurangan kadar air juga terjadi
akibat adanya garam, karena garam bersifat menarik air dari jaringan tubuh ikan.


C. Cara Pemindangan
Adapun cara pemindangan menurut Mandala (2005), adalah sebagai berikut :
1. Pindang garam : adalah suatu cara pemindangan dimana ikan
dilumuri garam atau disusun berlapis lapis diselingi garam dalam wadah
yang kedap air (dapat menampung air), seperti paso / pendil, wajan, panci
dll.kemudian.direbus. Pindang air garam: adalah suatu cara pemindangan dimana
ikan
yang telah digarami disusun dalam wadah yang tidak kedap air, seperti
besek / naya, kemudian direbus dalam larutan garam pekat / jenuh.
2. Pindang duri lunak (presto) : adalah suatu cara pemindangan
dimana ikan yang telah digarami dimasak dengan menggunkan wadah / panci
bertekanan.

D. Cara Pengolahan

Jenis ikan yang dapat di pindang banyak sekali macamnya, tergantung dari
kondisi perikanan setempat dan kebanyakan terdiri dari ikan pelaja seperti laying,
selar, japu, kembung, kemuru, tembang, tuna cakalang bahkan kadang-kadang organ
tubuh dari ikan pun dipindang. Untuk ikan kecil dipindang dalam keadaan utuh
sedangkan ikan besar dipindang dalam bentuk potongan. Beberapa yang sering
dilakukan oleh daerah yang membuatnya dikenal dengan cara bawean, cara muncar
dan pemindangan gaya baru ( Nursyam, 2002 ).

a. Cara Bawaan
Alat dan bahan yang harus disediakan adalah pendil atau paso, daun pisang
kering dan garam sebanyak 20 30% dari berat ikan. Gunakan garam yang
kemurniannya tinggi kemudian ikan dicuci bersih setelah dibuang isi perut dan
insangnya.lalu.ditaburi.garam.secukupnya. Perlakuan untuk cara ini, ikan
dimasukkan kedalam pendil diatur berlapis-lapis serapat mungkin. Di antara lapisan
diberikan garam,setelah pendil/paso penuh ikan ditambahkan air sampai ikan
terendam. Pendil/paso dipanaskan diatas api sampai ikannya masak, yaitu apabila
daging dekat ekor dan kepala susah retak-retak, air yang tersisa dikeluarkan. Setelah
selesai pendil dibingkus dengan daun jati kemudian diikat supaya tidak pecah selama
penyimpanan dan pengangkutan. Pindang bisa tahan sampai 3 bulan dan biasanya
pemindangan dilakukan terhadap ikan layang (Decapterus sp) dan ikan Bandeng
(Chanos-chanos) (Adnan, 2001).

b. Cara Muncar
Menurut Nursyam (2002) caranya beda dengan bawean adalah dalam acara
pemasakan yaitu tidak direbus tetapi dikukus diatas tungku khusus, sedangkan
tempat yang dipakai bukan pendil/paso tanah, tetapi loko yaitu semacam ayakan dari
bambu. Pada pemindangan cara ini harus disediakan loko, peti pemasakan, tungku
khusus serta belanga.atau.wajan.besar.
1. Ikan dicuci bersih, di mana isi perut dan insangnya tidak dibuang, kemudian ikan
yang sudah bersih direndam dalam air garam jernih (lk. 25%) selama 15 30
menit.
2. Kemudian ikan diatur/dijajar di atas loko sampai penuh dan ditiriskan ditempat
teduh sampai kering. Loko/ayakan bambu dimasukkkan ke dalam peti pemasakan
sampai penuh,air dimasak dalam belanga sampai mendidih kemudian peti yang
berisi loko/ikan diletakkan diatas belanga sehingga uap air menghembus ikan
diatasnya.
3. Setiap 15 menit loko/ayakan bambu yang berisi ikan dibagian teratas
dipindahkan ke bagian terbawah dan loko lainnya digeser ke rak atasnya. Ikan
sekali-kali dibalik supaya masak merata. Ikan akan masak bila dikukus selam + 1
jam, setelah masak ikan bersama lokonya disimpan dalam rak-rak bambu di
tempat yang teduh, dibiarkan semalam sehingga kulit ikan menjadi kering dan
mengkilap dan pindang ini bertahan selama 7 15 hari.

c. Pemindangan Gaya Baru
Alat dan bahan yang harus disediakan adalah besek bambu, merang atau daun
pisang kering dan garam sebanyak 20 50% dari berat ikan. Ikan yang telah dicuci
bersih, kemudian dilumuri dengan garam dan diatur berlapis-lapis dalam besek yang
alasanya yaitu sudah diberi merang atau daun pisang kering. Di atas lapisan merang
dan di antara lapisan-lapisan ikan diberi garam, ikan dalam besek dibiarkan selama
13 jam supaya garam meresap ke dalam daging ikan. Kemudian besek dimasukkan
ke dalam belanga yang berisi larutan garam yang mendidih. Setelah + 45 menit besek
diangkat dan ditiriskan lalu disimpan. Cara dibandingkan dengan cara Bawea dan
Muncar lebih bersih, lebih sedap dan dagingnya lebih padat. Pindang ikan bias tahan
sampai 3 bulan. Dilihat dari daya awet ikan pindang masih memungkinkan
dipasarkan lebih luas dengan jangkuan yang lebih jauh dibandingkan dengan ikan
segar. Untuk distribusi ikan segar diperlukan cara-cara penanganan khusus dan
tersedianya fasilitas pendinginan yang sekarang ini dirasakan masih kurang dan sulit
didapat. Pada pemindangan cara pengolahannya maupun fasilitas yang digunakan
cukup sederhana, sehingga para nelayan/petani ataupun pihak lain yang berminat
dapat melakukannya. Hal ini pun akan dapat lebih memperluas kesempatan kerja
(Nursyam, 2002).


















III. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat

Praktikum pengamatan kemunduran mutu ikan ini dilaksanakan pada hari
Rabu, 26 Maret 2014 dari jam 10.00 wib sampai dengan selesai. Tempat yang
digunakan adalah Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sriwijaya, Indralaya.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum pengamatan mutu ikan, antara lain
baskom, pisau, plastik, autoclave. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah
ikan bandeng, ikan sarden, ikan selar kuninng, ikan nila dan ikan kembung jantan.

C. Cara Kerja

Adapun cara kerja pemindangan secara modern adalah sebagai berikut :

Ikan disiangi (dibuang jerohan dan insang), dicuci bersih

Ikan direndam dengan air the (10 menit)

Ikan dilumuri dengan garam dan bumbu pindang
(konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan 25%)

Ikan dimasak dengan menggunakan autoclave (2 jam)

Pemindangan

Uji Organoleptik
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil dari praktikum pemindangan ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Konsetrasi garam pada ikan
Ikan Berat Ikan (gr) Konsentrasi Garam Berat Garam (gr)
I 50 10% 5
II 60 15% 9
III 20 20% 8
IV 70 25% 17,5

Tabel 2. Data hasil kelompok III
Ikan Panelis Keterangan
I
A) a:7; b:8; c:9; d:5.
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, padat, kompak, cukup
lembab, tidak enak, tidak gurih.
B) a:8; b:8; c:9; d:8.
Utuh, bersih, rapi, menarik, sangat enak,
harum segar, padat, kompak, cukup lembab,
sangat enak, gurih.
C) a:7; b:8; c:9; d:5.
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, padat, kompak, cukup
lembab, tidak enak, tidak gurih.
D) a:8; b:9; c:9; d:7.
Utuh, bersih, rapi, menarik, harum, segar,
spesifik jenis, padat, kompak, cukup lembab,
enak, gurih.
E) a:7; b:8; c:9; d:8
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, padat, kompak, cukup
lembab, sangat enak, gurih.
F) a:7; b:8; c:7; d:8
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, padat, kompak, cukup
lembab, sangat enak, gurih.
II
A) a:7; b:8; c:9; d:7.
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, padat, kompak, cukup
lembab, enak, gurih.
B) a:8; b:7; c:7; d:7.
Utuh, bersih, rapi, menarik, hampir netral,
enak, gurih padat, kompak, enak, gurih.
C) a:7; b:8; c:6; d:7.
Utuh, kurang rapi, bersih, menarik, sangat
enak, harum segar, kurang kompak, lembab,
enak, gurih.
D) a:8; b:8; c:8; d:7.
Utuh, bersih, rapi, menarik, sangat enak,
harum segar, padat, kompak, agak lembab,
enak, gurih.
Keterangan Panelis :
A : Yona Liastri
B : Rani Kesuma
C : Miftahul Jannah
D : Jura Istrech
E : Idwin Gunawan
F : Reki Pratama

Parameter :
a : Penampakan
b : Bau
c : Konsistensi
d : Rasa


B. Pembahasan
Pada praktikum mengenai pemindangan ini digunakan lima jenis ikan yaitu ikan
bandeng, ikan sarden, ikan selar kuninng, ikan nila dan ikan kembung jantan. Kami
menggunakan empat sampel ikan kembung jantan. Pada praktikum kali ini semua
ikan akan di pindang dan setelah masak di cicipi satu per satu lalu setiap praktikan
dalam kelompok akan memberi penilaian terhadap ikan tersebut.
Kammenggunakan empat sampel ikan kembung jantan dengan berat 50 gram,
60 gram, 20 gram dan 70 gram dengan konsentrasi garam masing-masing 10%, 15%,
20% dan 25% serta berat garam yang digunakan masing-masing yaitu 5 gram, 9
gram, 8 gram, dan 17,5 gram. Hal yang dilakukan terlebih dahulu yaitu mencuci ikan
yang telah disiangi, lalu ikan dilum,uri dengan garam dan bumbu pindang dengan
konsentrasi yang telah ditentukan. Setelah itu bungkus ikan menggunakan
alluminium foil, kemudian beri loabel dan masukkan kedalam autoclave.
Setelah dua jam, ikan diangkat dan lakukan uji Organolepti. Ikan dicicipi oleh
setiap anggota dalam kelompok lalu beri penilaian pada masing-masing ikan. Dari
data hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa pada ikan kembung yang pertama
dinilai dari penampakan utuh, kurang rapi, bersih dan menarik, bau nya sangat enak,
harum dan segar, konsistensi padat, kompak, cukup lembab serta rasa sangat enak
dan gurih. Pada ikan yang kedua diperoleh hasil yaitu penampakan utuh, bersih, rapi,
menarik, bau sangat enak dan harum segar, konsistensi padat dan kompak serta rasa
enak dan gurih. Pada ikan yang ketiga diperoleh hasil yaitu penampakan utuh, bersih,
rapi dan sangat menarik, baunya harum dan segar, konsistensi spesifik jenis, padat,
kompak dan cukup lembab, serta rasa sangat enak sekali, gurih dan spesifik jenis.
Pada ikan yang terakhir diperoleh hasil yaitu penampakan utuh, bersih, rapi dan
menarik, baunya sangat enak, harum dan segar, konsistensi padat dan kompak, serta
rasa enak namun kurang gurih. Semua hasil penampakan dan konsistensi ikan
tersebut ditentukan oleh kualitas ikan apakah masih segar atau sudah tidak segar lagi,
pada bau dapat dipengaruhi oleh kondisi pada ikan dan bumbu yang digunakan dan
pada rasa dipengaruhi oleh kualitas ikan, pemberian garam dan pemberian bumbu.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pratikum yang telah
dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Ikan yang masih segar akan memberikan hasil pemindangan yang enak dan gurih.
2. Hasil pemindangan dapat dipengaruhi oleh kondisi ikan, pemberian garam dan
pemberian bumbu.
3. Pemindangan dapat dilakukan menggunakan autoclave.
4. Hampir seluruh jenis ikan dapat di pindang.
5. Pemindangan merupakan slah satu hasil pengolahan ikan.

B. Saran

Sebaiknya praktikan menggunakan ikan yang segar agar hasil pemindangan sesuai
dengan yang diharapkan terutama pada ikan laut karena jika menggunakan ikan yang
sudah tidak segar akan diperoleh hasil pemindangan yang kurang gurih dan baunya
tidak harum segar sesuai spesifik jenis.




















DAFTAR PUSTAKA
Bahar, H. 2006. Sumberdaya Perikanan Indonesia. Galia Indonesia : Jakarta.
Cipto, Adi. 2003. Daftar komposisi bahan makanan. Bhratara Karya Aksara :
Jakarta.
Direktorat Jenderal Perikanan. 2005. "Statistik Impor Hasil Perikanan 1996".
Direktorat jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Khairuman, M. 2002. Morfologi Ikan. Gramedia : Jakarta.
Mandala, J. 2005. Budidaya Perairan. Penebar Swadaya : Jakarta.
Nursyam, M. Noer Ir. 2008. Pengolahan Ikan Tawar. Erlangga. Bandung.
Said, Adnan. 2001. Pengantar Ilmu Pangan. Penebar Swadaya : Jakarta
iman,1998).