Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ARRESTER
2.1.1 Definisi Arrester
Arrester petir atau disingkat arrester adalah suatu alat pelindung bagi peralatan
system tenaga listrik terhadap surya petir. Alat pelindung terhadap gangguan surya ini
berfungsi melindungi peralatan system tenaga listrik dengan cara membatasi surja
tegangan lebih yang datang dan mengalirkannya ke tanah.
Berhubung dengan fungsinya itu ia harus dapat menahan tegangan system 50
Hz untuk waktu yang terbatas dan harus dapat melewatkan surja arus ke tanah tanpa
mengalami kerusakan. Ia berlaku sebagai jalan pintas sekitar isolasi. Arrester
membentuk jalan yang mudah untuk dilalui oleh kilat atau petir, sehingga tidak timbul
tegangan lebih yang tinggi pada peralatan.
Selain melindungi peralatan dari tegangan lebih yang diakibatkan oleh tegangan
lebih external, arrester juga melindungi peralatan yang diakibatkan oleh tegangan lebih
internal seperti surja hubung, selain itu arrester juga merupakan kunci dalam koordinasi
isolasi suatu system tenagan listrik. Bila surja datang ke gardu induk arrester bekerja
melepaskan muatan listrik serta mengurangi tegangan abnormal yang akan mengenai
peralatan dalam gardu induk.


2.1.2 Fungsi Arrester
Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator, bila timbul
tegangan surja alat ini bersifat sebagai konduktor yang tahanannya relatif rendah,
sehingga dapat mengalirkan arus yang tinggi ke tanah. Setelah surja hilang,
arrester harus dapat dengan cepat kembali menjadi isolasi. Arrester melindungi
peralatan listrik pada sistem jaringan terhadap tegangan lebih yang disebabkan
petir atau surja hubung, maka pada umumnya arrester dipasang pada ujung
SUTT yang memasuki Gardu Induk. Di Gardu Induk besar ada kalanya pada trafo
dipasang arrester untuk menjamin terlindungnya trafo dan peralatan lainnya dari
tegangan lebih tersebut.

2.1.3 Macam-macam Arrester
Arrester prinsipnya terdiri dari dua jenis yaitu :
1. Arrester jenis ekspulsi (expulsion type) atau tabung pelindung (protector tube)
2. Arrester katup (valve type)
1. Arrester jenis ekspulsi atau tabung pelindung
Pada prinsipnya terdiri dari sela percik yang berada dalam tabung serat dan
sele percik yang berada di luar di udara atau disebut juga sela seri.
Bila ada tegangan surja yang tinggi sampai pada jepitan arrester kedua sela percik,
yang diluar dan yang berada di dalam tabung serat, tembus seketika dan membentuk
jalan penghantar dalam bentuk busur api. Jadi arrester menjadi konduktor dengan
impedansi rendah dan melakukan surja arus dan arus daya system bersama sama.
Panas yang timbul karena mengalirnya arus petir menguapkan sedikit bahan tabung
serat, sehingga gas yang ditimbulkannya menyembur pada api dan mematikannya pada
waktu arus susulan melewati titik nolnya.
Arus susulan dalam arrester jenis ini dapat mencapai harga yang lebih tinggi
sekali tetapi lamanya tidak lebih dari 1 (satu) atau 2 (dua) gelombang, dan biasanya
kurang dari setengah gelombang. Jadi tidak menimbulkan gangguan. Arrester jenis
ekspulsi ini mempunyai karakteristik volt waktu yang lebih baik dari sela batang dan
dapat memutuskan arus susulan.
Tetapi tegangan percik impulsnya lebih tinggi dari arrester jenis katup. Tambahan lagi
kemampuan untuk memutuskan arus susulan tergantung dari tingkat arus hubung
singkat dari system pada titik dimana arrester itu dipasang. Dengan demikian
perlindungan dengan arrester jenis ini dipandang tidak memadai untuk perlindungan
transformator daya, kecuali untuk system distribusi. Arrester jenis ini banyak juga
digunakan pada saluran transmisi untuk membatasi besar surja yang memasuki gardu
induk. Dalam penggunaan yang terakhir ini arrester jenis ini sering disebut sebagai
tabung pelindung.




Arrester jenis ekspulsi
Kelemahan dan kerugian lightning arrester type expulsi
Terbatas pada sistem yang mempunyai besar arus sistem kurang dari 1/3 dari
besarnya arus terpa. Karena arus yang sangat besar menyebabkan fiber habis
terbakar dan arus yang terlalu kecil tidak mampu menghasilkan cukup gas pada
tabung untuk mematikan busur api.
Karena setiap arrester bekerja, permukaan tabung akan rusak karena terbakar maka
arrester ini mempunyai batasan pada jumlah operasinya dimana arrester ini masih
dapat berfungsi dengan baik.
Walaupun termasuk pemotong terpa yang murah karena kemampuannya memotong
arus ikutan namun sama sekali tidak cocok untuk perlindungan peralatan-peralatan
gardu yang mahal karena V-T (Tegangan Waktu) karakteristiknya yang buruk.

2. Arrester jenis katup
Arrester jenis katup ini terdiri dari sela percik terbagi atau sela seri yang
terhubung dengan elemen tahanan yang mempunyai karakteristik tidak linier.
Tegangan frekuensi dasar tidak dapat menimbulkan tembus pada sela seri.
Apabila sela seri tembus pada saat tibanya suatu surja yang cukup tinggi, alat tersebut
menjadi penghantar. Sela seri itu tidak bias memutuskan arus susulan. Dalam hal ini
dibantu oleh tahanan tak linier yang mempunyai karakteristik tahanan kecil untuk arus
besar dan tahanan besar untuk arus susulan dari frekuensi dasar terlihat pada
karakteristik volt ampere.







Arrester jenis katup
Prinsip kerja Arrester jenis Katup
Sela seri yang berfungsi sebagai switch apabila terjadi tegangan tinggi
yangmenyebabkan sparkover maka tahanan elemen sela percik turun
denganteganagannya saja, maka sela seri akan membuka, tahanannya naik
kembalisehingga arus susulan dapat dibatasi. Untuk memadamkan busur api
yangtimbul, tahanan sela percik yang tidak linier tersebut berfungsi untuk
mematikannya.
Arrester jenis katup ini dibagi menjadi dalam empat jenis yaitu :
1. Arrester katup jenis gardu (station)
2. Arrester katup jenis saluran (intermediate)
3. Arrester katup jenis gardu untuk mesin mesin
4. Arrester katup jenis distribusi untuk mesin mesin (distribution)
2.1. Arrester katup jenis gardu
Arrester jenis gardu ini adalah jenis yang paling efisien dan juga paling mahal.
Perkataan gardu disini berhubungan dengan pemakaiannya secara umum pada gardu
induksi besar. Umumnya dipakai untuk melindungi alat alat yang mahal pada
rangkaian rangkaian mulai dari 2400 volt sampai 287 kV dan tlebih tinggi.
2.2. Arretsr katup jenis saluran
Arrester katup jenis saluran ini lebih murah dari arrester jenis gardu. Kata saluran
disini bukanlah berarti untuk saluran transmisi. Seperti arrester jenis gardu, arrester
jenis saluran ini dipakai untuk melindungi transformator dan pemutus daya serta dipakai
pada system tegangan 15 kV sampai 69 kV.






Arrester katup jenis gardu dan jenis katup saluran
2.3. Arrester katup jenis gardu untuk mesin mesin
Arrester jenis gardu ini khusus untuk melindungi mesin mesin berputar. Pemakaiannya
untuk tegangan 2,4 kV sampai 15 kV.
2.4. Arrester katup jenis distribusi untuk mesin mesin
Arrester jenis distribusi ini khusus melindungi mesin mesin berputar seperti diatas dan
juga melindungi transformator dengan pendingin udara tanpa minyak. Arrester jenis ini
dipakai pada peralatan dengan tegangan 120 volt sampai 750 volt.








Arrester katup jenis distribusi
2.1.4 karakteristik Arrester
Oleh karena arrester dpakai untuk melindungi peralatan system tenaga listrik
maka perlu diketahui karakteristiknya sehingga arrester dapat digunakan dengan baik
didalam pemakaiannya. Arrester mempunyai tiga karakteristik dasar yang penting dalam
pemakaiannya yaitu :
1. Tegangan rated 50 c/s yang tidak boleh dilampaui
2. Ia mempunyai karakteristik yang dibatasi oleh tegangan ( voltage limiting) bila
dilalui oleh berbagai macam arus petir.
3. Batas termis
Sebagaimana diketahui bahwa arrester adalah suatu peralatan tegangan yang
mempunyai tegangan ratingnya. Maka jelaslah bahwa ia tidak boleh dikenakan
tegangan yang melebihi rating ini, maka didalam keadaan normal maupun dalam
keadaan abnormal. Oleh karena itu menjalankan fungsinya ia menanggung tegangan
system normal dan tegangan lebih transiens c/s. karakteristik pembatasan tegangan
impuls dari arrester adalah harga yang dapat ditahan oleh terminal ketika melewatkan
arus arus tertentu dan harga ini berubah dengan singkat baik sebelum arus mengalir
maupum mulai bekerja. Untuk batas termis ialah kemampuan untuk mengalirkan arus
surja dalam waktu yang lama atau terjadi berulang ulang tanpa menaikkan suhunya.
Meskipun kemampuan arrester untuk menyalurkan arus sudah mencapai 65000
100.000 ampere, tetapi kemampuannya untuk melewatkan surja hunbung terutama bila
saluran menjadi panjang dan berisi tenaga besar yang masih rendah.
Maka agar supaya tekanan stress pada isolasi dapat dibuat serendah mungkin, suatu
system perlindungan tegangan lebih perlu memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Dapat melepas tegangan lebih ketanah tanpa menyebabkan hubung singkat ke tanah
(saturated ground fault)
b. Dapat memutuskan arus susulan
c. Mempunyai tingkat perlindungan (protection level) yang rendah, artinya tegangan
percikan sela dan tegangan pelepasannya rendah.
2.1.5 karakteristik Arrester ideal
A. Pada tegangan sistem yang normal, arrester tidak boleh bekerja. Tegangan
tembus arrester pada frekuensi jala-jala harus lebih tinggi dari tegangan lebih
maksimum yang mungkin terjadi pada sistem.
B. Setiap gelombang transien dengan tegangan puncak yang lebih besar
daritegangan tembus arrester harus mampu mengerjakan arrester untuk
mengalirkan arus ke tanah.
C. Arrester harus mampu mengalirkan arus surja ke tanah tanpa merusak arrester itu
sendiri dan tanpa menyebabkan tegangan pada terminal arrester lebih tinggi dari
tegangan sistemnya sendiri.
D. Arus tidak boleh mengalir ke tanah setelah gangguan teratasi. Arus ini harus
dipotong begitu gangguan teratasi dan tegangan kembali normal


2.1.6 Pemilihan arrester
Dalam memilih arrester yang sesuai untuk keperluan tertentu, beberapa factor harus
diperhatikan, yaitu :
1. Kebutuhan perlindungan : ini berhubungan dengan kekuatan isolasi dari alat
yang harus dilindungi dan karakteristik impuls dari arrester.
2. Tegangan system : ialah tegangan maksimum yang mungkin timbul pada jepitan
arrester
3. Arus hubung singkat system : ini hanya diperlukan pada arrester jenis ekspulsi.
4. Jenis arrester : apakah arrester jenis gardu, jenis saluran, atau jenis distribusi.
5. Factor kondisi luar : apakah normal atau tidak normal (2000 meter atau lebih di
atas permukaan laut), temperatur dan kelembaban yang tinggi serta pengotoran.
6. Faktor ekonomi : faktor ekonomi ialah perbandingan antara ongkos pemeliharaan
dan kerusakan bila tidak ada arrester, atau dipasang arrester yang lebih rendah
mutunya.
Untuk tegangan 69 kV dan lebih tinggi dipakai jenis gardu, sedangkan untuk tegangan
23 kV sampai 69 kV salah satu jenis di atas dapat dipakai, tergantung pada segi
ekonomisnya.
2.1.6 Persyaratan yang harus dipenuhi oleh Arrester
A. Tegangan percikan (sparkover voltage) dan tegangan pelepasannya(discharge
voltage), yaitu tegangan pada terminalnya pada waktu pelepasan,harus cukup
rendah, sehingga dapat mengamankan isolasi peralatan.Tegangan percikan
tersebut disebut juga tegangan gagal sela (gap breakdown voltage) sedangkan
pelepasan disebut juga tegangan sisa(residual voltage) atau tegangan jatuh
(voltage drop).Jatuh tegangan pada arrester = I x R
Dimana :
I = arus arrester maksimum (A)
R = tahanan arrester (Ohm)
B. Arrester harus mampu memutuskan arus dinamik dan dapat bekerja terusseperti
semula. Batas tegangan sistem dimana arus susulan ini masihmungkin, disebut
tegangan dasar (rated voltage)
2.1.6 Material dari Arrester
Metal Oxide Arrester. Komponen utama dari arrester ini terbuatdari bahanmZinc Oxide
(ZnO), kemudian lebih dikenal dengan sebutan metal oxidesurger arrester (MOA). Pada
dasarnya arrester ini sama dengan arrester pendahulunya, hanya saja arrester ini tidak
mempunyai komponen sel gap (GapLess).
Prinsip kerja metal oxide arrester adalah sebagai berikut :
Pada dasarnya metal oxide arrester ini mempunyai prinsip kerja yang
samadengan arrester jenis katup. Karena arrester MOA ini tidak memiliki tahanan
selaseri, maka arrester ini sangat bergantung psa tahanan yang ada dalam arrester
itusendiri. Apabila terkena petir, tahanan arrester akan langsung turun sehinggamenjadi
konduktor dan mengalirkan petir ke bumi. Namun, setelah petir lewat,tahan kembali naik
dan bersifat isolator.Keunggulan dari MOA adalahmemiliki reaksi yang cepat
dalammembumikan petir. Hal inidisebabkanarrester ini tidak memiliki sela
seri.Sedangkan kekeurangannya adalahakibat ketergantunnganya dengantahanan yang
ada di dalam isolator dan bekerja karena pengaruh termal,maka arrester ini harus betul
betulmemperhitungkan pengaruh termalnya.












metal oxide arrester




3.1 GANGGUAN YANG TERJADI DI LAPANGAN DAN CARA MENGATASINYA
Gangguan Induksi Sambaran Petir Akibat Sambaran
Petir Berulang Setelah Ditempatkan Arester.
Hasil simulasi pada gambar 14-16 di bawah ini akan menunjukkan kinerja Arester
MOV dalam menetr- alisir gangguan induksi sambaran petir pada fasa R dan fasa T
akibat sambaran petir berulang pada saluran distribusi di tiang By1-61-61E-84-
9I atau
16 pada fasa S.
1. Pengukuran di Fasa R
Hasil simulasi ditunjukkan pada gambar di bawah ini :

Gbr.14 Amplitudo tegangan di 16 di fasa R
setelah MOV bekerja
2. Pengukuran di Fasa T
Hasil simulasi ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Gbr.15 Amplitudo tegangan di 16 akibat sambaran petir berulang di fasa R
setelah MOV bekerja.

Tiang Sambaran Fasa Tegangan Setelah Gangguan dan
sebelum dipasang MOV
Tegangan Setelah Gangguan
dan Dipasang MOV





16

1
(0,1ms)
R 795,39 kV 11,375 kV
S 1.305,4 kV* 15,198 kV*
T 804,84 kV 13,616 kV
2
(50,1
ms)
R 729,89 kV 2,6434 kV
S 1.217,5 kV* 15,175 kV*
T 720,44 kV -6,7118 kV

3
(100,1ms)
R 497,82 kV 11,309 kV
S 812,14 kV* 15,052 kV*
T 507,27 kV 13,612 kV





17

1
(0,1ms)
R 795,35 kV 11,375 kV
S 1.305,3 kV* 15,198 kV*
T 804,8 kV 13,615 kV
2
(50,1
ms)
R 729,85 kV 2,6432 kV
S 1.217,4 kV* 15,174 kV*
T 720,4 kV -6,7119 kV

3
(100,1ms)
R 497,79 kV 11,308 kV
S 812,12 kV* 15,051 kV*
T 507,24 kV 13,611 kV





15

1
(0,1ms)
R 744,97 kV 10,670 kV
S 1.253,3 kV* 14,448 kV*
T 754,43 kV 12,933 kV
2
(50,1
ms)
R 683,58 kV 2,449 kV
S 1.169,7 kV* 14,975 kV*
T 674,13 kV -6,9062 kV

3
(100,1ms)
R 466,25 kV 10,609 kV
S 779,54 kV* 14,304 kV*
T 475,7 kV 12,933 kV

. 3. Pengukuran di Fasa S
Hasil simulasi ditunjukkan pada gambar di bawah ini :

Gbr.16 Amplitudo tegangan di 16 akibat sambaran petir berulang di fasa T
setelah MOV bekerja
Tabel.2 Perbandingan amplitudo tegangan sebelum dan setelah MOV bekerja



































* (Sambaran Langsung)

Table 2 menunjukkan pengaruh pemasangan arrester MOV pada saat terjadi
sambaran petir langsung dan sambaran induksi. Pada saat terjadi gangguan sam-
baran petir dan belum dipasang arrester MOV, tegangan yang terukur pada fasa R
tiang 16 pada sambaran pertama sebesar 795,39 kV. Namun setelah dipasang
arrester MOV, tegangan turun menjadi
11,375 kV. Dan ini terjadi disemua fasa, semua tiang dan semua sambaran.
Penurunan tegangan gangguan setelah dipasang arrester MOV ini menunjukkan
bahwa arrester MOV bekerja untuk memotong tegangan dan mengalirkan arus surja
petir ke tanah. Sehingga tegangan sisa setelah dipotong menjadi lebih kecil.

Kesimpulan
1. Induksi tegangan pada fasa R dan fasa T di tiang
By1-61-61E-84-9I terjadi akibat sambaran petir berulang yang menyambar
langsung pada fasa S.
2. Hasil simulasi sambaran petir pertama (20 kA)
pada siklus waktu 0,1 ms. Sambaran tersebut menyebabkan gangguan kenaikan
induksi tega- ngan pada fasa R sebesar 795,39 kV dan pada fasa T sebesar
804,84 kV di tiang 16. Gang- guan tersebut dapat dipotong oleh arester MOV
menjadi sebesar 11,375 kV dan 13,616 kV.
3. Hasil simulasi sambaran petir kedua ( 12 kA ) pada siklus waktu 50,1 ms.
Sambaran tersebut menyebabkan gangguan kenaikan induksi tega- ngan
pada fasa R sebesar 729,89 kV dan pada fasa T sebesar 720,44 kV
di tiang 16. Gangguan tersebut dapat dipotong oleh arester MOV menjadi
sebesar 2,6434 kV dan -6,7118 kV.
4. Hasil simulasi sambaran petir ketiga ( 9 kA ) pada siklus waktu 100,1 ms.
Sambaran tersebut menyebabkan gangguan kenaikan induksi tega-
ngan pada fasa R sebesar 497,82 kV dan pada
fasa T sebesar 507,27 kV di tiang 16. Gangguan tersebut dapat
dipotong oleh arester MOV menjadi sebesar 11,309 kV dan 13,612 kV.
5. Arester MOV yang dipasang diantara tiang By1-
61-61E-84-5 dan tiang By1-61-61E-84-9I mampu memotong kenaikan
induksi tegangan yang cukup besar dan mampu menetralisir
gangguan tersebut dengan cepat.

3.2 Lokasi Pemasangan Arrester
Umumnya alat-alat pelindungan harus diletakkan sedekat mungkin dengan
peralatan yang akan dilindungi, terutama pada ujung distribusi dimana terdapat gardu
atau trafo.
Karena biaya yang mahal maka tidak mungkin memasang arrester pada setiap
peralatan di gardu untuk melindungi peralatan tersebut. Hal ini tidak perlu dilakukan
karena ada faktor perlindungan dari alat pelindungan dari arrester, oleh karena itu
hanya peralatan yang penting saja yang dilengkapi dengan arrester. Transformator
merupakan peralatan yang paling mahal dan yang paling penting pada sebuah gardu.
Jika trafo rusak maka perbaikan / pergantiannya akan mahal, membutuhkan waktu yang
lama, dan juga kerugian akibat terputusnya daya cukup besar.
Selain itu trafo adalah ujung terminal dari suatu transmisi, tempat paling sering
terjadi pemantulan gelombang. Pada sistem diatas 220 kV TID dari transformator dapat
diperendah pada batas-batas yang diizinkan untuk memperkecil biaya isolasi. Karena
alasan-alasan tersebut diatas maka arrester pada peralatan umumnya dipasang pada
terminal trafo daya.
Arrester berfungsi sebagai by-pass di sekitar lokasi yang membentuk jalan dengan
mudah dilalui oleh tegangan lebih ke sistim pentanahan sehingga tidak menimbulkan
tegangan lebih yang tidak merusak peralatan isolasi listrik. By-pass ini sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu aliran frequensi 50 Hz.
Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator, bila timbul gangguan surja,
alat ini berfungsi sebagai konduktor yang tahanannya relative rendah agar dapat
mengalirkan arus yang tinggi ke tanah. Setelah surja hilang, arrester dengan cepat
kembali menjadi isolasi.

3.3 Fungsi arrester yang terpasang di jaringan distribusi
Pada jaringan distribusi, arrester yang biasanya digunakan adalah arrester jenis
katub (valve type). Arrester jenis katub terdiri dari sela percik dan sela seri yang
terhubung dengan elemen tahanan yang mempunyai karakteristik tidak linier. Tegangan
frekuensi dasar tidak dapat menimbulkan tembus pada sela seri. Apabila sela seri
tembus pada saat tibanya suatu surja yang cukup tinggi, sela tersebut berfungsi menjadi
penghantar. Sela seri tidak bisa memutuskan arus susulan. Dalam hal ini sela seri
dibantu oleh tahanan non linier yang mempunyai karakteristik tahanan kecil untuk arus
besar dan tahanan besar untuk arus susulan.
dari frekuensi dasar. Lightning arrester jenis katub ditunjukkan pada Gambar 2.6.








3.4 pengujian arrester di jaringan distribusi
Test pemeliharaan yang dapat di lakukanpada LA menggunakna tegangan DC adalah
pengukuran resistansi isolasi LA. Bentuk pengujian diperlihatkanpada gambar berikut.












Prosedur pengujian resistansi isolasi LA
Beri tegangan (biasanya 2500V) ke terminal line dengan base dibumikan melalui
resistansi isolasi tester seperti pada gambar 2.20 diatas. Hasil yang di baca sesuai
dengan karakteristik masing-masing arrester. Nilai yang terbaca berkisar dari nilai
yang tertinggi 10000 m hingga terendah 500 m. Hasil ini kemudian dibandingkan
dengan nilai pembacaan hasil test sebelumnya atau hasil test peralatan yang sama
LA juga dapat di test dengan menggunakan tegangantinggi DC (DC High Potential
Voltage) sebesar 1.7 kali rating tegangan LA.
Uji medan Arrester las station dapat dilakukan ketika operasi normal dengan
menggunakna arus bocor melalui arrester. Karena karakteristik impedansi
pembumian yang tinggi pada arrester, peningkatan arus bocor diatas kondisi normal
merupakan ciri_ciri arrester mengalami kerusakan. Evaluasi data test haruslah
berdasakan perbandingan dengan arus bocor dari hasil pengukuran. Sebelumnya
menggunakan peralatan yang sama atau sebanding. Misalnya dibandingkan dengan
nilai pengukuran tiga arrester single-pole pada instalasi single. Pengukuran
gelombang menggunakan osiloskop jugasangat disarankan karena lebih banyak
memberikan informasi yag dapat dibandingkan.

3.5 kondisi arrester yang terpasang di jaringan distribusi
Untuk menjamin keselamatan sistem dan terminalnya dari Overvoltage dan tegangan
surja,maka kondisi arrester harus diperiksa secara reguler. Pemeriksaan dapat
dilakukan ketika arrester beroperasi tanpa harus dilepaskan dari sistem. Apabila terjadi
kerusakan elemen arrester maka elemen tersebut harus di ganti atau bahkan dapat
dilakukan penggantioan arrester secara keseluruhan.
Hasil pemeriksaan dapat di tabulasikan untuk mengamati perkembangan kondisi
arrester seperti tabel berikut.







Pengukuran Arus bocor
Pengukuran arus bocor secara reguler dilakukan untuk menentukan kondisi arrester
yang sedang beroperasi. Jika arus bocor yang mengalir melalui arrester melebihi
standar seperti pada tabel 18.10, maka perlu diperikasa apakah elemen arrester atau
arrester sendiri mengalami kerusakaan dan ahrus diganti.
3.6 Penyebab arrester tidak berfungsi
Harmonisa tegangan sistem
Distribusi kapasitansi yang tidak seimbang pada arrester
Polusi yang disebabkan oleh debu disekitar arrester dan tingkat kelembaban
yang tinggi.
Efek korona yang timbul
A. Harmonisa tegangan sistem

analisis harmonisa hanya dilakukan terhadap komponen arus bocor total yang mengalir
pada kawat pentanahan, tanpa memperhatikan interferensi harmonisa yang timbul
akibat tegangan sistem.







Contoh Arus Bocor dengan Harmonisa
Besarnya harmonisa akibat sistem bervariasi tergantung tipe beban dan level
tegangan sistem. Untuk sebuah tipe arrester dengan arus bocor kapasitif sebesar 1
mApeak , timbulnya harmonisa orde ke-3 sebesar 1%, dapat membangkitkan arus
harmonisa kapasitif sebesar 30 Apeak. Belum lagi, harmonisa orde ke-3 dari tegangan
sistem, memiliki fasa yang sama dengan harmonisa orde ke-3 yang dibangkitkan oleh
komponen non linear arrester. Hal ini akan menyebabkan error yang semakin besar.
Maka, guna menyempurnakan metode ini, pengukuran perlu memperhatikan pengaruh
harmonisa yang timbul akibat level tegangan sistem.