Anda di halaman 1dari 12

Bumi Panas Membara

Pemanasan Global, siapakah orang yang di dunia yang tidak merasakanya. Menaiknya suhu
permukaan bumi akibat naiknya intensitas dari Efek Rumah Kaca. Matahari memancarkan radiasinya
ke bumi dengan menembus atmosfer bumi kemudian di pantulkan kembali ke ruang angkasa,
namun sebagian gelombang tersebut di serap oleh gas rumah yang kaca apabila hal ini terjadi terus
menerus maka akan menyebabkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Itulah hal yang
menyebabkan kita merasakan bahwa semakin lama suhu bumi semakin panas.
Bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan teknologi dan industri serta kurangnya kesadaran/
perhatian masyarakat terhadap lingkungan merupakan penyebab terjadinya pemanasan global.
Selain itu banyaknya konsumsi penggunaan bahan bakar fosil yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari untuk kendaraan, pembangkit listrik dan aktivitas lain sehingga menghasilkan emisi
karbon dioksida menjadi meningkat semua itu berkontribusi dalam pemanasan global.
Hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbondioksida pun berkurang akibat penebangan hutan
secara liar dan di alih fungsikan menjadi lahan perkebunan seperti kelapa sawit sehingga
menyebabkan kerusakan-kerusakan oleh pihak pembuka lahan perkebunan. Selain dialih fungsikan
menjadi perkebunan, hutan kecil yang berada di kota pun menghilang akibat pembangunan-
pembangunan gedung-gedung dan fasilitas lainya yang semakin lama semakin meningkat.
Banyak hal hal kecil yang secara tidak sadar kita lakukan juga berkontribusi dalam pemanasan
global contohnya menggunakan kertas/ tissu secara berlebihan, penggunaan AC ,dan menggunakan
energi listrik yang tidak terkontrol serta pemakaian pupuk kimia secara berlebihan juga ikut serta
dalam peningkatan pemanasan global.
Meningkatnya suhu permukaan bumi menyebabkan es di kutub utara dan selatan mencair sehingga
massa air laut menjadi bertambah yang menyebabkan kenaikan air permukaan laut di bumi.Selain
itu akibat pemanasan global terumbu karang mengalami pemutihan sehingga menyebabkan
punahnya berbagai jenis ikan. Perubahan cuaca yang tidak tentu membuat membuat curah hujan
tinggi di berbagai daerah dan kemarau panjang di daerah lain sehingga memicu terjadinya banjir dan
kemarau panjang.
Dalam pertanian petani pun harus mengatur sistem pertanian akibat cuaca dan pola hujan yang
tidak teratur, tentunya ini akan men yebabkan keterlambatan musim tanam dan musim panen.
Banyak tumbuhan yang mati dan punah akibat perubahan cuaca yang tidak tentu serta
menyebarnya berbagai jenis penyakit tropis seperti malaria, penyakit kuning, demam dengue ke
daerah yang sebelumnya belum pernah terkena penyakit tersebut.
Banyak dampak yang diakibatkan dari pemanasan global yang membuat lingkungan dan tempat
hidup kita mulai terancam. Oleh karena itu harus ada tindakan dari kita dalam memerangi
pamanasan global, dengan menghemat energi dari bahan fosil, memperbanyak mengkonsumsi
sayuran karena hewan ternak juga berkontribusi dalam pemanasan global, selain itu membangun
kesadaran diri akan lingkungan dengan menanam pohon di lingkungan hidup kita dan menjaganya.
Selain itu kurangi penggunaan produk yang tidak bisa terurai dan ganti dengan produk yang bisa di
daur ulang.
Penggunaan energi alternatif juga merupakan salah satu cara mengurangi efek pemanasan global.
Banyak hal hal kecil yang bisa kita lakukan untuk memerangi pemanasan global seperti mengurangi
peggunaan kendaraan bermotor dll. Dari hal-hal kecil yang kita lakukan semakin lama maka akan
menghasilkan sebuah perubahan besar, untuk itu lakukanlah hal-hal kecil yang berpengaruh terlebih
dahulu dan ajak orang lain untuk bekerjasama untuk memerangi pemanasan global agar kelestarian
bumi kita bisa di rasakn oleh generasi- generasi kita nanti.

Sumber:
http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1582--penyebab-pemanasan-global-
pada-bumi.html
http://pranaindonesia.wordpress.com/pemanasan-global/akibat-pemanasan-global/
http://www.carakomplit.com/umum/cara-mengatasi-pemanasan-global
http://informasitips.com/pemanasan-global-penyebab-proses-terjadinya-dampak-dan-
penanggulangannya
http://drwox.com/mengatasi-pemanasan-global-mulai-dari-hal-hal-kecil/














Studi kasus
Terjadinya Pencemaran Logam Berat di Teluk Minamata Akibat Pembuangan Merkuri (Hg)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Logam Berat
didefinisikan secara sederhana saja yaitu logam yang berat (dalam artian ditimbang) seperti besi, baja,
aluminium dan tembaga. Terlepas dari definisi di atas, biasanya dalam literatur kimia istilah logam berat
digunakan untuk memerikan logam-logam yang memiliki sifat toksisitas (racun) pada makhluk hidup.
Logam merupakan bahan pertama yang dikenal oleh manusia dan digunakan sebagai alat-alat yang
berperan penting dalam sejarah peradaban manusia (Darmono, 1995). Logam berat masih termasuk golongan
logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang
dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam organisme hidup
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan
bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22
sampai 92 dari perioda 4 sampai 7 (Miettinen, 1977). Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd),
dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya.
Dampak negatif logam berat bagi manusia
Masing-masing logam berat memiliki dampak negatif terhadap manusia jika dikonsumsi dalam jumlah
yang besar dan waktu yang lama. Dampak tersebut antar lain :
1. Timbal (Pb)
Dalam peredaran darah dan otak dapat menyebabkan gangguan sintesis hemoglobin darah, gangguan
neurologi (susunan syaraf), gangguan pada ginjal, sistem reproduksi, penyakit akut atau kronik sistem syaraf,
dan gangguan fungsi paru-paru
2. Kadmium (Cd)
Kadmium dalam jangka waktu lama dpt menghambat kerja paru-paru, bahkan mengakibatkan kanker
paru-paru, mual, muntah, diare, kram, anemia, dermatitis, keruskan tulang, kerusakan ginjal dan hati, dan
gangguan kardiovaskuler.
3. Merkuri (Hg)
Dapat berakumulasi dan terbawa ke organ-organ tubuh lainnya, menyebabkan bronchitis, sampai
rusaknya paru-paru. Gejala keracunan Merkuri tingkat awal, pasien merasa mulutnya kebal sehingga tidak
peka terhadap rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah, gangguan psikologi (rasa cemas dan sifat
agresif), dan sering sakit kepala.
4. Arsenik (As)
Dalam tubuh dapat mengganggu daya pandang mata, hiperpigmentasi (kulit menjadi berwarna
gelap), hiperkeratosis (penebalan kulit), pencetus kanker, infeksi kulit (dermatitis) serta gangguan fungsi hati
dan ginjal.
5. Chromium (Cr)
Dalam tubuh dapat berakibat buruk terhadap sistem saluran pernafasan, kulit, pembuluh darah, dan
ginjal. Dampak kandungan logam berat memang sangat berbahaya bagi kesehatan. Salah satu cara sederhana
untuk menjaga kesehatan adalah dengan mendeteksi kondisi air yang kita gunakan sehari-hari, terutama
kebutuhan untuk minum. Jika kondisi air Anda sudah terdeteksi, maka akumulasi logam berat dalam tubuh
dapat kita cegah.
BAB III
METODE PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini, metode yang digunakan adalah metode
kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data-data yang di dapat dari pencarian
informasi-informasi dari internet.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Studi Kasus
Pada tanggal 21 April 1956, seorang anak perempuan berumur 5 tahun 11 bulan
diperiksa pada Bagian Anak Rumah Sakit Perusahaan Chisso. Gejala utamanya bersifat
neurologik, termasuk adanya kesulitan berjalan dan berbicara, serta kejang-kejang.
Pasien ini dikirim ke rumah sakit 2 hari kemudian, pada tanggal 23. Di hari yang sama
ketika ia dikirim ke rumah sakit, adik perempuannya, 2 tahun 11 bulan, mulai mengalami
kesulitan berjalan dan menggerakkan kakinya, serta mengeluhkan nyeri pada lutut dan
jari-jarinya. Ia kemudian dibawa ke Bagian Anak pada tanggal 29, untuk pemeriksaan
dengan gejala yang serupa dengan kakaknya.Daerah di mana pasien ditemukan
pertama kali berada di ujung sebuah teluk kecil, di mana beberapa rumah berdiri
berhimpit satu dengan yang lain. Diperoleh fakta ternyata tidak hanya kedua anak
perempuan di atas yang mengalami gejala tersebut, tetapi tetangga mereka juga
mengalaminya. Yang selanjutnya anggota keluarga yang lain jatuh sakit satu demi satu,
sehingga pada akhirnya semua anggota keluarga terjangkit Penyakit Minamata. (Affan
Enviro, 2005, Kasus Pencemaran Merkuri di Teluk Minamata Jepang.)
ASAL NAMA
Penyakit ini mendapat namanya dari kota Minamata,
PrefekturKumamoto di Jepang, yang merupakan daerah di mana penyakit ini mewabah
mulai tahun 1958. Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di
kota Mintamana Jepang. Ratusan orang mati akitbat penyakit yang aneh dengan gejala
kelumpuhan syaraf.
Mengetahui hal tersebut, para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus
segera di amati dan di cari penyebabnya.
Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan
fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini
seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang
dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran. Pada tingkatan akut, gejala ini
biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan
akhirnya mati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_Minamata, diakses tanggal 16
Februari 2010)
Penyakit pada manusia akibat polusi lingkungan tak pernah mengalami
penjangkitan bersama secara tiba-tiba. Hal ini terjadi setelah mengalami perubahan-
perubahan berjangka waktu lama pada lingkungan. Hal ini bisa dikatakan terjadi pula
pada kasus Minamata. Di tempat ini, sekitar awal tahun 1925-1926, dampak pada
industri perikanan telah muncul. Saat ini sudah dapat dipastikan bahwa Chisso (dulunya
bernama Nitchitsu) merupakan sumber pencemarannya. Minamata disebut sebagai
kota istana dari Chisso (Shin Nihon Chisso Hiryo Kabushiki Kaisha atau New Japan
Nitrogenous Fertilizer, Inc.). Pada tahun 1908, Nihon Carbide Company didirikan. Pada
tahun yang sama, perusahaan itu mengadakan merger dengan Sogi Electricdan nama
perusahaan itu berubah menjadi Nihon Chisso Hiryo Kabushiki Kaisha (Japan
Nitrogenous Fertilizer, Inc.).
Fenomena Abnormal
Akibat pencemaran yang terjadi, timbul gejala-gejala aneh dan abnormal pada
hewan yang hidup di sekitar Teluk Minamata.
4.2 Teori Penyebab Pencemaran
Sebelum ditemukan bahwa merkuri merupakan penyebab dari penyakit
minamata, banyak teori yang muncul dari berbagai peneliti mengenai penyebab dari
penyakit minamata ini. Adapun teori-teori tersebut antara lain:
Teori Mangan
September 1956, beredar sebuah isu di Minamata bahwa kemungkinan mangan
merupakan penyebab utamanya. Sumber dari berita ini adalah Kelompok Peneliti
Kumamoto. Mangan wajar dicurigai sebagai substansi penyebab, karena kelainan pada
sistem ekstrapiramidal ditetapkan sebagai salah satu gejala klinis yang khas, ditambah
lagi bila ada alterasi pada gangguan basalis. Mangan juga merupakan suatu
kemungkinan yang logis karena kandungannya ditemukan pada air laut, air limbah, ikan,
kerang, dan juga dalam organ-organ dalam penderita dalam jumlah besar. Secara
resmi, mangan diumumkan sebagai penyebab yang dicurigai pada tanggal 4 November
1956, pada konferensi pertama yang diadakan Kelompok Peneliti Penyakit Minamata
untuk melaporkan temuan mereka.
Teori Thallium
Pada Mei 1958, diperkenalkan sebuah teori baru, yang mengajukan thallium
sebagai penyebab. Hal ini terjadi karena thallium ditemukan dalam jumlah besar (300
ppm) pada limbah dan pembuangan pabrik di Teluk Minamata. Thallium yang secara
eksperimental sangat beracun, ditemukan terkandung dalam debu yang dihasilkan
oleh Cottreli precipitator yang digunakan dalam produksi asam sulfur di pabrik.Namun
setelah diadakan penelitian lebih lanjut ternyata gejala penyakit akibat thallium, cukup
berbeda dengan penyakit Minamata. Sehingga teori thallium tidak dapat dibuktikan
kebenarannya.
Teori Selenium
Bulan April 1957, teori selenium sebagai penyebab utama diperkenalkan oleh
Profesor Kitamura, mengingat sejumlah besar selenium ditemukan pada cairan limbah
yang dibuang oleh pabrik di teluk minamata. Secara klinis, gangguan penglihatan dan
ginjal akibat keracunan selenium terlihat lebih signifikan jika dibandingkan dengan
penyakit Minamata. Namun, pada keracunan selenium, lesi pada sel korteks otak jarang
ditemukan dan perwujudan klinisnya terbatas pada bergugurannya rambut dan
memberatnya gejala-gejala umum. Dengan demikian, teori selenium akhirnya
ditolak. Kecurigaan Pada Merkuri
Douglas McAlpine, seorang neurolog asal Inggris, mengunjungi Minamata
selama dua hari pada tanggal 13 dan 14Maret 1958. Saat itu, ia sedang melakukan
penelitian tentang sklerosis multipel pada departemen neuropsikiatri di Universitas
Kumamoto. Di Minamata, ia memeriksa 15 orang penderita penyakit Minamata dan
memberikan pendapat yang sangat bernilai. Menurutnya, gejala-gejala seperti
penyempitan rentangan pandang, penurunan fungsi pendengaran dan ataksia sangat
mirip dengan gejala-gejala akibat keracunan merkuri di Inggris yang dilaporkan oleh
Hunter dan Russel. McAlpine melaporkan hasil temuannya dalm jurnal Lancet pada
bulan September 1958. Ini pertama kalinya merkuri organik dicurigai sebagai substansi
penyebab penyakit Minamata. Anjuran McAlpine ini sangat penting artinya. Namun,
sebelum ia dapat melaporkan hasil temuannya pada sebuah konfrensi Komunitas
Neurolog Jepang, niatnya dihentikan oleh beberapa orang profesor dengan dalih bahwa
semakin banyak teori akan semakin membingungkan.
Tahun 1959 merupakan tahun yang penting, baik bagi para penderita penyakit
Minamata maupun terhadap riwayat penelitian dari penyakit tersebut. Merkuri, yang
telah dicurigai sebagai penyebab sejak sekitar September 1958, mengundang lebih
banyak perhatian lagi. Tanggal 19 Februari 1959, Tim Survei Penyakit
Minamata/Keracunan Makanan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan
mengumumkan pentingnya penelitian terhadap distribusi merkuri pada Teluk Minamata.
Tim ini dibentuk pada Januari 1959 sebagai tim penelitian di bawah Kementerian
Kesehatan Masyarakat, semua anggotanya berasal dari Kelompok Penelitian Fakultas
Kedokteran Universitas Kumamoto. Sebagai hasil survey tersebut, terungkap sebuah
fakta yang mengejutkan. Disebutkan, kadar merkuri yang sangat tinggi dideteksi pada
tubuh ikan, kerang-kerangan, dan lumpur dari Teluk Minamata yang dikumpulkan pada
saat terjadinya penjangkitan Penyakit Minamata. Secara geografi, merkuri ditemukan
dalam konsentrasi tertingginya di sekitar mulut kanal pembuangan pabrik Chisso dan
kadarnya menurun pada jarak yang jarak semakin jauh ke laut lepas. Data tersebut
dengan jelas menunjukkan bahwa merkuri berasal dari kanal pembuangan pabrik dalam
lumpur (masyarakat menyebutnya dobe) sekitar mulut saluran pembuangan di Hyakken,
dua kilogram merkuri per ton, seakan tempat tersebut merupakan tambang merkuri.
Wajar jika kemudian kelompok penelitian yang melakukan studi di tempat tersebut
dibuat terkejut. Kelak, sebuah cabang baru perusahaan Chisso Minamata
Chemicals dibuat khusus untuk mengklaim merkuri yang terdapat di dalam Teluk
Minamata, maka Pantai Minamata memang telah menjadi sebuah tambang
merkuri.Konsentrasi merkuri yang tinggi tidak hanya ditemukan di Teluk Minamata.
Kadar yang tinggi juga ditemukan pada rambut warga yang tinggal di sepanjang Laut
Shiranui, khususnya di distrik Minamata, setelah dibandingkan dengan penduduk di kota
Kumamoto. Level tertinggi dari merkuri yang dideteksi pada rambut penderita penyakit
Minamata adalah 705 ppm, jumlah tertinggi dari warga Minamata yang sehat adalah 191
ppm, dan mereka yang tinggal di luar areal Minamata adalah sekitar 4,42 ppm. Kadar
merkuri yang besar juga dideteksi pada air seni penderita Penyakit Minamata, berkisar
antar 30-120 gamma per hari.
Konsentrasi merkuri yang tinggi ditemukan pada ikan dan kerang-kerangan yang
berasal dari Teluk Minamata, dan menyebabkan Penyakit Minamata pada tikus dan
kucing percobaan. Mereka memiliki kandungan merkuri antara 20-40 ppm, yang
memperkuat dugaan bahwa merkuri telah menyebar luas pada area Laut Shiranui.
Standar nasional merkuri yang diperbolehkan di lingkungan saat ini adalah 1,0 ppm.
Tingkat merkuri yang tinggi juga ditemukan pada organ-organ mayat penderita
penyakit Minamata dan dalam organ kucing, baik yang secara alami, maupun yang
mengalaminya karena dalam percobaan diberi makan ikan dan kerang-kerangan dari
Teluk Minamata. Ditemukannya kadar merkuri yang tinggi pada rambut penduduk di
distrik ini menunjukkan mereka-orang dewasa, bayi, anak-anak dan ibu mereka-semua
terkontaminasi merkuri berat, dengan atau tanpa adanya gejala dengan mereka. Jika
masalah ini ditanggapi dengan baik, mungkin kita dapat meramalkan datangnya
perjangkitan Penyakit Minamata yang laten, sebelum kasus-kasus pasien dengan onset
yang lambat dan gejala-gejala laten menjadi masalah serius seperti sekarang ini. Meski
demikian, dalam kenyataannya, kandungan merkuri pada rambut tidak dianggap
sebagai faktor menentukan dalam menegakkan diagnosa Penyakit Minamata, dan
meletakkan garis batas bahwa kandungan merkuri pada rambut penduduk adalah tinggi,
baik pasien ataupun bukan. Jadi, di sini juga terjadi suatu kesalahan dalam
memanfaatkan data yang ada. Meski harus diakui, Kelompok Penelitian telah
mengumpulkan data-data yang berguna menyangkut Penyakit Minamata dan merkuri.
Pada 22 Juli 1959, Kelompok Penelitian Penyakit Minamata mengambil
kesimpulan di akhir penemuan: Penyakit Minamata merupakan suatu penyakit
neurologis yang disebabkan oleh konsumsi ikan dan kerang-kerangan lokal, dan merkuri
telah menarik perhatian besar sebagai racun yang telah mencemari ikan dan kerang-
kerangan. Teori Merkuri Organik
Tanggal 12 November 1959, anggota Komite Dewan Investigasi Makanan dan
Sanitasi Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan memaparkan laporan berikut ini
kepada menteri berdasarkan laporan oleh Tim Survei Keracunan Makanan/Penyakit
Minamata:Penyakit Minamata adalah suatu penyakit keracunan yang utamanya
mempengaruhi sistim saraf pusat akibat mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan dari
Teluk Minamata dan sekitarnya dalam jumlah besar, di mana agen penyebab utamanya
adalah semacam campuran merkuri organik. Jadi, dalam hal ini merkuri organik secara
resmi diumumkan sebagai substansi penyebab Penyakit Minamata. Walau begitu,
tanggal 13 November, di hari berikutnya, Tim Survei Penyakit Minamata/Keracunan
Makanan dari Dewan Investigasi Makanan dan Sanitasi dibubarkan secara resmi oleh
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.
Sementara itu, Dr. Leonard T. Kurland (NIH USA) mengunjungi Minamata pada
September 1958 dan memeriksa beberapa pasien. Ia mengambil beberapa contoh
makanan dari laut, air laut dan lumpur untuk dibawa ke Amerika dan dianalisa. Ia
menulis sebuah artikel pada sebuah surat kabar Asahi Shinbun dan Mainiji
Shinbun tanggal 8 Desember 1959, yang memperkuat kesimpulan yang dibuat oleh
Universitas Kumamoto bahwa substansi penyebab dari Penyakit Minamata adalah
merkuri organik.
(Affan Enviro, 2005, Kasus Pencemaran Merkuri di Teluk Minamata
Jepang, http://affanenviro.com/home/index.php?option=com_content&task=view&id=20
&Itemid=30, diakses tanggal 17 Februari 2010)
4.3 Solusi
a. Penutupan polutan dari sumber-sumber
Berkenaan dengan tanaman Chisso Minamata Co, Ltd, melalui penyelesaian
sistem sirkulasi yang sempurna pada tahun 1966, air limbah yang mengandung
senyawa methylmercury tidak pernah diberhentikan di luar pabrik pada prinsipnya, dan
sumber polutan itu dihilangkan melalui penghentian produksi asetaldehida pada tahun
1968. In the Agano River basin the process of producing acetaldehyde had already
closed before Minamata Disease was discovered. Di basin Sungai Agano proses
produksi asetaldehida sudah ditutup sebelum penyakit Minamata ditemukan.
b. Pengendalian limbah
Pada tahun 1969, drainase dari limbah pabrik yang mengandung methylmercury
ke Teluk Minamata regutated. Pada tahun 1970, Undang-Undang Pengendalian
Pencemaran Air diberlakukan, yang dipaksakan kontrol pembuangan limbah air di
semua daerah di Jepang, dalam hubungannya dengan zat-zat beracun, misalnya,
merkuri dan cadmium. Selanjutnya, konversi metode produksi soda menyarankan agar
tanaman yang mungkin pembuangan merkuri selain Showa Denko Chisso dan
tanaman.
c. Pemulihan lingkungan
Karena cukup methylmercury tetap konsentrasi di bawah endapan dari air yang
terkait dengan daerah-daerah bahkan setelah pelepasan dari senyawa methylmercury
dihentikan, dalam rangka untuk menghilangkan endapan dasar ini, 1974-1990, Prefektur
Kumamoto dilakukan untuk menangani proyek dengan sekitar 1.500.000 kubik meter
dari bawah sedimen dari Teluk Minamata yang mengandung merkuri lebih dari standar
penghapusan (25ppm dari total merkuri) dengan cara pengerukan dan TPA, dan untuk
membuat 58ha. TPA, dengan total biaya 48 miliar yen (dari jumlah total, perusahaan
yang bertanggung jawab menanggung 30.5 miliar yen). Pada tahun 1976, Prefektur
Niigata dilakukan pengerukan dasar sungai sedimen yang mengandung merkuri lebih
dari standar penghapusan drainase di sekitar outlet dari Showa Denko tanaman oleh
beban perusahaan yang bertanggung jawab.
Gambar 2. Pengerukan Teluk Minamata
(http://www.env.go.jp/en/chemi/hs/minamata2002/, diakses tanggal 18 Februari
2010)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pencemaran lingkungan oleh zat beracun mengakibatkan kerusakan serius seperti kerusakan
kesehatan dan kerusakan lingkungan hidup. In the case of Minamata Disease, the agreement
was concluded between patients groups and the companies, and as to the suits they were
concluded by compromise between plaintiffs and the companies, and by withdrawing of
plaintiffs between the nation and plaintiffs, so social troubles get fewer.Dalam kasus penyakit
Minamata, lebih dari 3.000 korban telah terjangkit wabah penyakit Minamata ini. Sorotan
langsung ditujukan ke pabrik kimia Chisso, yang berada di kawasan Teluk Minamata. Chisso
Company, adalah pabrik kimia yang menunjang ekonomi Jepang ketika itu. Di pabrik tersebut,
diproduksi asetal dehida, dengan cara reaksi gas asetilen dengan merkuri-sulfat. Asetal-dehida
diolah lagi untuk menghasilan asam asetat dan PVC. Semua sampah bahan kimia itu, tanpa
diolah terlebih dahulu, langsung dibuang ke laut di Teluk Minamata. Dampaknya, teluk
Minamata tercemar dan sistem aquatik di sana menimbun sampah kimia dalam rantai
makanannya.
Kasus pencemaran lingkungan ini mengakibatkan banyak kematian. Pada tahun
tanggal 1 Mei 1956, kota Minamata mengumumkan secara resmi bahwa 1.655 orang meninggal
dan sebanyak 613 lainnya menderita sakit karena tercemar logam berat. Di awal tahun 50an
Teluk Minamata tercemar oleh limbah logam berat Mercury yang berasal dari pabrik di kota
Minamata. Limbah mercury mencemari teluk Minamata, sehingga ikan dan kerang-kerangan
tercemar logam berat. Penduduk kota Minamata yang mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan
dari teluk Minamata menderita sakit sehingga korban berjatuhan.
Penderita penyakit Minamata ini secara umum mengalami kerusakan otak dan saraf.
Gejala penyakitnya muncul bertahap, berupa gangguan gerak motorik, nyeri hebat pada
persendian, kaburnya penglihatan, ganguan sensorik, gangguan bicara, mundurnya kemampuan
intelektual serta ketidakstabilan emosi.
5.2 Saran
Dengan pengalaman kerusakan akibat bencana dari kasus penyakit
Minamata ini menjadi awal sebagai titik balik untuk mengemban langkah-langkah dalam
melindungi lingkungan telah mengalami kemajuan yang signifikan.
Sisi baiknya, masyarakat Minamata dan kalangan industri di Jepang dapat
memetik hikmah dari pencemaran lingkungan tersebut. Secara bersama-sama
masyarakat Minamata, kalangan industri, pemerintah kota dan pemerintah Jepang
melakukan perbaikan lingkungan dengan upaya terpadu. Secara konsisten, seluruh
industri diharuskan mengolah limbah. Peraturan disusun dan dilaksanakan secara
konsisten. Pada saat bersamaan pemulihan lingkungan teluk Minamata dilakukan,
sehingga kualitas air di teluk Minamata kembali seperti sebelum pencemaran. Limbah
rumah tangga dari seluruh bangunan diolah secara sungguh-sungguh, sehingga tidak
ada lagi limbah industri dan limbah rumah tangga yang mencemari perairan kota
Minamata. Sejarah kemudian mencatat, bahwa Minamata yang semula tercemar berat,
kini menjadi kota kualitas lingungannya baik, kota yang nyaman dan aman untuk
ditinggali.
Kini masyarakat kota Minamata sangat terkenal dengan kepedulian terhadap
pengelolaan lingkungan. Para stakeholder kota Minamata, tidak mau mengulang sejarah
buruk yang pernah terjadi. Kota yang kini berpenduduk sekitar 28.400 orang itu, secara
terus menerus meningkatkan upaya pengelolaan lingkungan. Salah satu keberhasilan
kota Minamata adalah dalam pengelolaan sampah yang melibatkan ibu rumahtangga.
Yang luar biasa adalah bahwa saat ini masyarakat Minamata telah berhasil melakukan
pemilahan sampah menjadi 22 jenis dengan kualitas yang baik. Masing-masing jenis
sampah dikelola sesuai dengan pengolahan lanjutan mulai dari pengomposan, daur
ulang dan pengolahan lainnya. Pemilahan menjadi sejumlah itu, termasuk prestasi yang
luar biasa.
Selain itu, kota Minamata saat ini mengkampanyekan pengurangan
pemakaian kantong plastik dengan melibatkan ibu-ibu rumahtangga. Para ibu rumah
tangga mendatangi supermarket untuk melakukan kampanye pengurangan kantong
plastik. Para ibu rumah tangga membentuk kelompok-kelompok dan mereka melakukan
diskusi dan seminar untuk mengurangi kantong plastik. Bersamaan dengan itu mereka
juga melakukan pengurangan (reduksi) sampah. Masyarakat dilatih bagaimana
menghindari terjadinya sampah.
Untuk meningkatkan upaya penglolaan lingkungan di kota Minamata
berbagai upaya dilakukan. Masyarakat dan pemerintah memberikan penghargaan
kepada sejumlah orang yang secara nyata melakukan upaya pengelolaan lingkungan.
Sebanyak 28 orang (dari 28.400 total penduduk kota) diberi penghargaan sebagai
Environmental Master, mereka adalah pribadi-pribadi yang secara sungguh-sungguh
mendedikasikan dirinya untuk melakukan tindakan nyata meningkatkan kualitas
lingkungan dan mengajak masyarakat ikut bersama mereka menjadi kader lingkungan.
Kesungguhan para stakeholder di Minamata, dapat menjadi inspirasi bagi
siapa saja untuk ikut bersama masyarakat dunia menyelamatkan lingkungan. Belajar
dari kasus Minamata ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran yang tinggi untuk
menyadari lagi bagaimana pertimbangan kepada lingkungan adalah penting dan bahwa
upaya-upaya akan dilakukan untuk mencegah pencemaran lingkungan tanpa
pengalaman bencana polusi. Dari pengalaman yang terjadi di Jepang dapat dijadikan
sebagai pelajaran bagi negara-negara lain untuk lebih waspada dan peduli akan
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_Minamata, di akses tgl 16 februari 2010.
http://masdony.wordpress.com/2009/04/19/logam-berat-sebagai-penyumbang-pencemaran-air-
laut/, diakses tanggal 16 februari 2010.
Affan Enviro.2005.Kasus Pencemaran Merkuri di Teluk Minamata
Jepang.http://affanenviro.com/home/index.php?option=com_content&task=view&id=20&
Itemid=30, di akses tanggal 17 Februari 2010.
http://www.env.go.jp/en/chemi/hs/minamata2002/, diakses tanggal 18 Februari
2010.