Anda di halaman 1dari 78
PENGETAHUAN, SIKAP, D AN PRAKTEK GIZI SERTA TINGKAT KONSUMSI IBU HAMIL DI KELURAHAN KRAMAT JATI

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTEK GIZI SERTA TINGKAT KONSUMSI IBU HAMIL DI KELURAHAN KRAMAT JATI DAN KELURAHAN RAGUNAN PROPINSI DKI JAKARTA

NADIYA MAWADDAH

DAN KELURAH AN RAGUNAN PROPINSI DKI JAKARTA NADIYA MAWADDAH PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

RINGKASAN

Nadiya Mawaddah. Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Gizi serta Tingkat Konsumsi Ibu Hamil di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan Propinsi DKI Jakarta. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktek gizi, serta tingkat konsumsi (energi, protein, zat besi, dan vitamin A) pada ibu hamil. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah (1) mengetahui karakteristik sosial ekonomi ibu hamil (2) mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktek gizi ibu hamil (3) menganalisis hubungan pendidikan dengan pengetahuan gizi ibu hamil (4) menganalisis hubungan pengetahuan gizi dengan sikap dan praktek gizi ibu hamil (5) menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dengan konsumsi gizi ibu hamil (6) menganalisis pengaruh pendidikan ibu, pendapatan, besar keluarga, serta pengetahuan, sikap, dan praktek gizi ibu hamil terhadap tingkat konsumsi energi, protein, zat besi, dan vitamin A. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan. Pemilihan lokasi disesuaikan dengan program bubuk tabur multivitamin untuk ibu hamil. Contoh penelitian ini diambil secara purposive dengan kriteria bukan kehamilan pertama, usia kehamilan antara 8-28 minggu, serta bersedia diwawancarai. Jumlah contoh yang terpilih adalah semua ibu hamil yang memenuhi kriteria yang ditentukan. Jumlah yang terpilih adalah 100 ibu hamil yang terdiri dari Kelurahan Kramat Jati 50 contoh dan Ragunan 50 contoh. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik contoh, karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan gizi ibu hamil, sikap gizi ibu hamil, dan praktek gizi ibu hamil, serta konsumsi pangan. Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan adalah data tentang gambaran umum lokasi penelitian. Pengumpulan data primer melalui wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari puskesmas dan kelurahan. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dan statistik. Pengolahan data meliputi editing, coding, entri, dan cleaning. Analisis data diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 13 for windows. Sebagian besar ibu hamil (91%) tersebar antara usia 20-35 tahun. Tingkat pendidikan ibu hamil antara tidak tamat SD hingga S2, sedangkan tingkat pendidikan suami antara SD hingga S1. Lebih dari separuh ibu hamil dan suami memiliki jenjang pendidikan hingga SMP dan SMA. Sebagian besar (90%) ibu hamil bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan sebagian besar (87%) suami berprofesi sebagai pegawai swasta dan wiraswasta. Pendapatan perkapita per bulan antara Rp 50.000,00 sampai Rp 1.666.667,00 dengan rata-rata Rp 385.925,00. Lebih dari separuh (68%) ibu hamil tergolong tidak miskin dengan pendapatan perkapita lebih dari Rp 214.817,00. Lebih dari separuh (55%) usia kehamilan ibu termasuk trimester dua. Lebih dari separuh (58%) ibu memiliki IMT sebelum hamil yang normal dengan rata-rata 21.67±4.39. Kurang dari separuh (26%) ibu hamil memiliki pengetahuan gizi kurang. Hanya sebagian kecil (8%) ibu hamil memiliki sikap gizi kurang. Separuh (50%) ibu hamil memiliki praktek gizi baik sedangkan sebagian kecil (16%) ibu hamil memiliki praktek gizi kurang.

Hasil uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang nyata (r=0.345, p<0.05) antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi ibu hamil, terdapat hubungan yang nyata (r=0.341, p<0.05) antara pengetahuan gizi dengan sikap gizi ibu hamil dan terdapat hubungan yang nyata (r=0.266, p<0.05) antara pengetahuan gizi dengan praktek gizi ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsumsi protein dan zat besi belum mencukupi kebutuhan ibu hamil. Sebagian ibu hamil sudah dapat mencukupi kebutuhan energi (60%) dan protein (39%). Sebagian besar (86%) ibu hamil kebutuhan zat besinya belum tercukupi. Rata-rata konsumsi energi, protein, vitamin A, dan zat besi ibu hamil di Kramat Jati lebih rendah daripada di Ragunan. Hasil uji Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata (p>0.05) antara tingkat pengetahuan gizi ibu hamil dengan tingkat konsumsi energi, protein, dan zat besi. Namun, terdapat hubungan yang nyata (p<0.05) antara tingkat pengetahuan gizi ibu hamil dengan tingkat konsumsi vitamin A. Tingkat konsumsi energi dipengaruhi oleh praktek gizi. Ibu hamil dengan praktek gizi baik mempunyai peluang 16.7 kali lebih tinggi tingkat konsumsi energinya daripada ibu hamil dengan praktek gizi kurang. Tingkat konsumsi protein dipengaruhi oleh besar keluarga dan praktek gizi. Ibu hamil dengan besar keluarga kurang dari atau sama dengan empat orang memiliki peluang 4.3 kali lebih tinggi tingkat konsumsinya dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki besar keluarga lebih dari empat orang. Ibu hamil dengan praktek gizi baik mempunyai peluang 11 kali lebih tinggi tingkat konsumsi protein dibandingkan dengan ibu hamil dengan praktek gizi kurang. Pendapatan perkapita, besar keluarga, dan praktek gizi tidak mempengaruhi tingkat konsumsi zat besi ibu hamil. Praktek gizi memberikan pengaruh terhadap tingkat konsumsi vitamin A. Ibu hamil dengan praktek gizi baik mempunyai peluang 12.7 kali lebih tinggi tingkat konsumsi vitamin A daripada ibu hamil dengan praktek gizi kurang.

ABSTRACT

NADIYA MAWADDAH. Knowledge, Attitude, and Practice of Nutrition, and Nutrient Adequacy Level of Pregnant Women at Kramat Jati and Ragunan, DKI Jakarta. Supervised by HARDINSYAH.

The aim of this research is to understand the knowledge, attitude, and practice of nutrition and nutrient adequacy level (energy, protein, vitamin A, and Iron) of pregnant women. This research uses a cross sectional study design. Research location is according to sprinkle programme. The sample was taken purposively with criteria not the first pregnancy, the age of pregnancy is between 8-28 weeks, and they are willing to be interviewed. The number of samples that were chosen are 100 pregnant women. Data that were collected were analyzed descriptively and statistically. In general, part (26%) of pregnant women had low nutrition knowledge. More than a half (71%) of pregnant women had moderate nutrition attitude. A half (50%) of pregnant women had good nutrition practice. Based on Spearman analysis, there are significant correlation between education level and nutrition knowledge (r=0.35, p<0.05), between nutrition knowledge and nutrition attitude (r=0.34, p<0.05), between nutrition knowledge and nutrition practice (r=0.266, p<0.05). This research showed adequacy level of protein and iron are inadequate. Adequacy level of energy, protein, vitamin A, and iron pregnant women in Kramat Jati is lower than Ragunan. Based on Spearman analysis there is no correlation between nutrition knowledge and consumption rate of energy, protein, and iron. While there is significant correlation between nutrition knowledge of pregnant women and consumption rate of vitamin A. Adequacy level of energy is affected by nutrition practice. Pregnant women with good nutrition practice had 16.7 times higher adequacy level of energy. Adequacy level of protein is affected by family size and nutrition practice. Income, family size, and nutrition practice didn’t affect the adequacy level of iron pregnant women. Adequacy level of vitamin A is affected by nutrition practice.

PENGETAHUAN, SIKAP, D AN PRAKTEK GIZI SERTA TINGKAT KONSUMSI IBU HAMIL DI KELURAHAN KRAMAT JATI

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTEK GIZI SERTA TINGKAT KONSUMSI IBU HAMIL DI KELURAHAN KRAMAT JATI DAN KELURAHAN RAGUNAN PROPINSI DKI JAKARTA

NADIYA MAWADDAH

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul

“Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Gizi serta Tingkat Konsumsi Ibu Hamil di Kelurahan Krama Jati dan Kelurahan Ragunan Propinsi DKI Jakarta” dengan lancar. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Adapun dalam penyelesaian skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, dan saran selama pelaksanaan penelitian hingga skripsi ini terselesaikan.

2. Katrin Roosita SP, MSi, sebagai dosen pemandu dalam seminar dan dosen penguji hasil penelitian ini

3. Papa, Mama, Gaek, Umi, serta adik-adikku (Nadra, Rifa, Bila), yang telah memberikan dukungan, semangat, dan doanya.

4. Venny, Rizka, Ratna, Any, Ira, Fitri, Angel, Devi P, Dewi K, Mei, Yesa, Ahma, Handaru, dan Galih, terima kasih atas doa dan semangatnya.

5. Seluruh rekan-rekan GMSK 40, 41, 42 dan 43 yang telah memberikan dukungan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

6. Semua pihak yang telah memberikan bantuan selama penulis melakukan penelitian hingga skripsi ini selesai. Penulis menyadari skripsi ini masih terdapat beberapa kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga hasil skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor,

Mei 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR GAMBAR

iii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR LAMPIRAN

v

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan

3

Hipotesa

4

Kegunaan

4

TINJAUAN PUSTAKA

5

Kehamilan

5

Masalah Gizi dan Kesehatan Ibu Hamil

7

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keadaan Ibu hamil

9

Usia Ibu

9

Paritas dan Jarak Kelahiran

9

Pemeriksaan Kehamilan

10

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil serta Pangan Sumber Zat Gizi

10

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan

14

Pendidikan

14

Pendapatan

15

Pengukuran dan Penilaian Konsumsi Pangan

15

Metode Recall

15

Metode Frekuensi Makan

16

Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Gizi

17

Status Gizi

19

KERANGKA PEMIKIRAN

21

METODE

24

Desain, Tempat dan Waktu Penelitian

24

Cara Penarikan Contoh

24

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

25

Pengolahan dan Analisis Data

26

Definisi Operasional

32

HASIL DAN PEMBAHASAN

33

Keadaan Umum Daerah Penelitian

33

Karakteristik Ibu Hamil

35

Usia Ibu Hamil dan Suami

35

Pendidikan Ibu Hamil dan Suami

36

Pekerjaan Ibu Hamil dan Suami

37

Pendapatan

38

Besar Keluarga

39

Usia Kehamilan

39

Indeks Massa Tubuh

40

Pengetahuan Gizi Ibu Hamil

40

Sikap Gizi Ibu Hamil

44

Praktek Gizi Ibu Hamil

47

Konsumsi dan Tingkat Konsumsi

50

Energi

51

Protein

52

Zat Besi

53

Vitamin A

53

Hubungan Pendidikan dengan Pengetahuan Gizi

54

Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Sikap dan Praktek Gizi

55

Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Tingkat Konsumsi

56

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Gizi

57

Energi

57

Protein

58

Zat Besi

59

Vitamin A

59

KESIMPULAN DAN SARAN

61

Kesimpulan

61

Saran

63

DAFTAR PUSTAKA

64

LAMPIRAN

68

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka pemikiran pengetahuan, sikap, serta praktek gizi ibu hamil serta tingkat konsumsi ibu hamil di Kelurahan Kramat Jati

dan Kelurahan Ragunan Propinsi DKI Jakarta

23

2. Cara penarikan contoh

24

3. Persentase ibu hamil yang menjawab benar mengenai pengetahuan gizi

44

4. Persentase ibu hamil yang menjawab benar mengenai sikap gizi

47

5. Persentase ibu hamil yang menjawab benar mengenai praktek gizi

50

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Estimasi angka kecukupan energi dan protein

11

2.

Angka kecukupan vitamin dan mineral per hari

12

3.

Rekomendasi kenaikan berat badan selama kehamilan berdasarkan pada IMT sebelum kehamilan

20

4.

Cara pengumpulan data primer

25

5.

Cara pengkategorian dan analisis variabel penelitian

30

6.

Keadaan wilayah Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan

33

7.

Keadaan tenaga kesehatan di Puskesmas Kramat Jati dan Ragunan

34

8.

Sarana bidang kesehatan di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan

Ragunan

34

9.

Sarana bidang pendidikan di Kelurahan Kramat Jati dan Ragunan………………………………………………………………

35

10.

Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan usia

36

11.

Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan pendidikan

37

12.

Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan pekerjaan

38

13.

Sebaran ibu hamil berdasarkan pendapatan per kapita

38

14.

Sebaran ibu hamil berdasarkan besar keluarga

39

15.

Sebaran ibu hamil berdasarkan usia kehamilan

39

16.

Sebaran ibu hamil berdasarkan IMT sebelum hamil

40

17.

Sebaran ibu hamil berdasarkan tingkat pengetahuan gizi

41

18.

Sebaran ibu hamil berdasarkan sikap gizi

45

19.

Sebaran ibu hamil berdasarkan praktek gizi

48

20.

Sebaran ibu hamil berdasarkan kategori tingkat konsumsi zat gizi

51

21.

Rata-rata konsumsi dan tingkat konsumsi zat gizi

51

22.

Distribusi ibu hamil menurut tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan gizi

54

23.

Distribusi ibu hamil menurut tingkat pengetahuan gizi dan sikap gizi 55

24.

Distribusi ibu hamil menurut tingkat pengetahuan gizi dan praktek gizi 56

25.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi gizi

57

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Kuesioner

69

2. Rata-rata konsumsi, AKG, dan tingkat konsumsi zat gizi

73

3. Hasil uji t

73

4. Hasil uji korelasi Spearman…………………………………………

74

5. Hasil uji regresi logistik……………………………………………

75

PENDAHULUAN

Latar Belakang Pembangunan suatu bangsa pada hakekatnya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah peningkatan kualitas manusia. Indikator pengukur tinggi rendahnya kualitas SDM antara lain Human Development Index (HDI). Indeks kualitas hidup ini ditentukan berdasarkan umur harapan hidup (life expectancy), pendidikan (adult literacy), dan pendapatan per kapita (Anonim 2000). Gizi yang baik merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Upaya meningkatkan kualitas SDM seharusnya dimulai sedini mungkin sejak janin dalam kandungan. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan sejak masa janin dalam kandungan. Bila keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil baik, maka besar peluang janin yang dikandungnya akan baik dan keselamatan ibu sewaktu melahirkan akan terjamin. Ibu hamil adalah salah satu kelompok yang paling rawan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang dialami ibu hamil sebelum atau selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Terhambatnya pertumbuhan janin salah satunya disebabkan oleh gizi ibu yang buruk, ditandai oleh rendahnya pertambahan berat badan ibu hamil atau berat badan ibu sebelum hamil. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang baik sehingga kualitas bayi yang dilahirkan juga baik (Khomsan 2002). Selain pertambahan berat badan ibu dan janin yang tidak optimal juga bisa terjadi perdarahan dan komplikasi obstetrik lain (Hardinsyah & Dodik Briawan 2000). Masalah gizi yang dialami ibu hamil seperti Kurang Energi Kronis (KEK), anemia, dan kurang yodium. Menurut Jalal dan Sumali (1998), sekitar 41 persen ibu hamil mengalami KEK, 51 persen mengalami anemia gizi, dan 25 persen mengalami kekurangan yodium. Pada tahun 2002 prevalensi KEK pada wanita usia subur (WUS) sebesar 17.6 persen dan prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil sebesar 40.1 persen (Azwar 2004). Masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan zat gizi lainnya selama kehamilan (Krummel & Etherthon 1998 diacu dalam Hardinsyah & Dodik Briawan 2000). Konsumsi makanan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh langsung terhadap keadaan gizi seseorang.

Masalah dan keadaan yang sering terjadi pada ibu hamil yaitu tidak menyadari adanya peningkatan kebutuhan gizi selama masa kehamilan, perilaku gizi yang salah sehingga terjadi ketidakseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan. Selain itu, sebagian ibu hamil takut mengalami kesulitan melahirkan karena bayi yang dikandung menjadi besar sehingga ibu hamil cenderung mengurangi konsumsi makanannya. Di beberapa daerah masih terdapat kebiasaan pantang/tabu makan sesuatu seperti ikan, padahal selama hamil makanan tersebut merupakan sumber zat gizi yang diperlukan (Depkes 2000). Konsumsi pangan sebelum dan selama kehamilan berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil. Ibu hamil yang cukup konsumsi gizi sebelum hamil pada umumnya kurang mengalami masalah yang berarti selama kehamilan. Konsumsi gizi yang mencukupi kebutuhan serta diiringi dengan latihan fisik ringan akan memberi dampak baik bagi ibu hamil (Hardinsyah & Martianto 1992). Hal ini sejalan dengan Nadesul (2005), makanan sangat penting selama kehamilan karena makanan dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Kualitas anak dalam kandungan ditentukan oleh makanan ibunya. Jika makanan ibu kurang, pertumbuhan anak juga kurang. Jika ibu terlampau banyak makan, anak juga akan tumbuh terlalu besar dan tidak sehat. Konsumsi ibu selama hamil sebaiknya lebih banyak dari sebelum hamil, karena bayi yang dikandungnya juga membutuhkan makanan, namun banyaknya makanan yang dikonsumsi harus tetap sesuai kebutuhan. Ibu hamil memerlukan makanan yang bermutu, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Makanan yang dikonsumsi ibu hamil sebaiknya tidak hanya mengikuti selera makan saja, karena selera makan belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Kekurangan gizi bisa terjadi akibat ketidaktahuan. Seseorang yang mudah akses pangannya memiliki kemungkinan memilih makanan yang kurang atau tidak bergizi karena faktor ketidaktahuan. Pemeriksaan kesehatan dan kehamilan juga perlu dilakukan oleh ibu hamil ke petugas kesehatan setidaknya empat kali selama hamil. Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami ibu hamil akan berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan.

Cakupan kunjungan ibu hamil propinsi DKI Jakarta pada tahun 2005 dalam Depkes (2007) adalah sebesar 227.316. Sebagian besar (90.12%) ibu hamil sudah mendapatkan layanan K1. K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan ibu hamil. Lebih dari separuh (74.63%) ibu hamil mendapatkan pelayanan K4. K4 adalah pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan (satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga). Berdasarkan SKRT 2001, sebagian besar (76%) ibu hamil mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan 5T (menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, menerima tablet besi, menerima imunisasi TT, dan memeriksa tinggi fundus uteri). Hanya sebagian kecil (2%) ibu hamil yang tidak mendapatkan pelayanan 5T. Menurut Riyadi (2006), peningkatan pendidikan ibu di suatu negara merupakan komponen penting dalam menurunkan prevalensi kurang gizi di negara tersebut. Tingkat pengetahuan gizi seseorang akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan ibu yang baik mengenai gizi dan kesehatan agar kebutuhan gizi dan kesehatan selama hamil dapat terpenuhi. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan praktek gizi serta tingkat konsumsi (energi, protein, zat besi, dan vitamin A) pada ibu hamil.

Tujuan Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan,

sikap, dan praktek gizi, serta tingkat konsumsi (energi, protein, vitamin A, dan zat besi) pada ibu hamil. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui karakteristik ibu hamil.

2. Mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktek gizi ibu hamil.

3. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi ibu hamil.

4. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi dengan sikap dan praktek gizi ibu hamil.

5. Menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dengan konsumsi gizi ibu hamil.

6. Menganalisis pengaruh pendidikan ibu, pendapatan perkapita, besar keluarga, serta pengetahuan, sikap, dan praktek gizi ibu hamil terhadap tingkat konsumsi energi, protein, zat besi, dan vitamin A. Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktek gizi, serta tidak ada pengaruh pendidikan ibu, pendapatan, besar keluarga, serta pengetahuan, sikap, dan praktek gizi terhadap tingkat konsumsi (energi, protein, zat besi, dan vitamin A) pada ibu hamil. Kegunaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk program peningkatan pengetahuan dan perbaikan perilaku gizi ibu hamil. Di samping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masukan untuk penelitian selanjutnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Kehamilan Kehamilan merupakan masa yang penting karena akan menentukan kualitas seorang anak. Selama masa kehamilan terjadi perubahan pada tubuh ibu, baik secara anatomis, fisiologis, maupun biokimia. Salah satu perubahan tersebut adalah terjadinya pembentukan jaringan-jaringan baru melalui beberapa tahapan. Jaringan-jaringan yang terbentuk meliputi plasenta, amnion, yolksac dan chorion. Jaringan tersebut berfungsi sebagai pendukung yang mampu menjaga kelangsungan hidup janin (Hardinsyah & Martianto 1992). Kehamilan yang normal terjadi selama 38-40 minggu. Jika dihitung dengan ukuran hari, maka kehamilan terjadi selama 266 hari atau 38 minggu setelah ovulasi atau kurang lebih 40 minggu dari akhir hari pertama haid terakhir atau 9.5 bulan dalam hitungan kalender (Arisman 2004). Menurut Hardinsyah dan Martianto (1992), selama kehamilan terjadi dua proses anabolik. Pertama adalah proses pertumbuhan serta pematangan plasenta dan janin. Kedua adalah proses penyesuaian fisiologik dan metabolik yang dialami ibu hamil. Hal tersebut mengakibatkan pembesaran ukuran uterus, payudara, volume darah ibu, cairan ketuban, dan massa jaringan lemak. Selama kehamilan terjadi perubahan pada janin dan ibu hamil. Bagi ibu perubahan yang terpenting adalah peningkatan berat badan ibu sesuai dengan peningkatan usia kehamilan. Pada saat hamil seorang wanita memerlukan zat gizi untuk pertumbuhan organ reproduksi ibu maupun untuk pertumbuhan janin. Jika kebutuhan gizi terpenuhi selama hamil maka akan terjadi peningkatan berat badan (Hardinsyah & Martianto 1992). Hal ini sesuai dengan Duhring (1984) diacu dalam Hardinsyah dan Martianto (1992), pada kehamilan normal, akan terjadi kenaikan berat badan antara 11-13 kg selama kehamilan. Sebanyak 62% dari pertambahan tersebut merupakan pertambahan berat badan ibu dan 38% adalah pertambahan berat badan janin. Ibu yang berat badannya bertambah 12 kg selama hamil, pertambahan tersebut terdiri dari 1.5 kg plasenta dan cairan membran, 1.0 kg pertambahan berat uterus, 0.4 kg pertambahan payudara, 1.2 kg pertambahan volume darah, 1.5 kg cairan ketuban, 2 kg pertambahan jaringan lemak, dan 3.4 kg adalah berat janin. Sebagian massa pertambahan berat badan merupakan jaringan lemak.

Menurut WHO (1995) diacu dalam Turhayati (2006). ibu yang sehat dan berstatus gizi baik pertambahan berat badan yang sarankan yaitu 10-14 kg. Angka ini berbeda dengan pernyataan Depkes (2000) yang menyatakan bahwa kenaikan berat badan ibu hamil yang normal selama kehamilan adalah 11-12 kg. Apabila kenaikan berat badan kurang dari 11-12 kg, maka bayi akan lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Ibu dengan nilai IMT sebelum hamil rendah (kurang dari 19.8) diharapkan pertambahan berat badan sebesar 12.7-21.8 kg. Sedangkan ibu hamil yang overweight (IMT 26.1-29.0) diharapkan pertambahan berat badan sebesar 6.8- 11.3 kg. Selain itu, apabila IMT ibu sebelum hamil lebih dari 29.0 (obesitas) maka dianjurkan pertambahan berat badan hanya 6.8 kg. Namun, secara keseluruhan pertambahan berat badan ibu hamil sekitar 8.8 kg-13.6 kg. Pada kehamilan kembar pertambahan berat badan dibatasi sekitar 15.4-20.4 kg. Pertambahan komponen dalam tubuh ibu terjadi sepanjang trimester kedua sedangkan pertumbuhan janin dan plasenta serta pertambahan jumlah cairan amnion berlangsung cepat selama trimester ketiga (Arisman 2004). Hal ini sejalan dengan Purdyastuti (1995) dalam Notobroto dan Wahyuni (2003), berat badan bayi dipengaruhi oleh status gizi ibu. Status gizi ibu selama hamil menjadi salah satu indikator kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandung. Pertambahan berat badan ibu hamil dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi berat badan lahir bayi. Pertambahan berat badan ibu hamil merupakan efek dari perubahan-perubahan yang terjadi selama kehamilan, diantaranya perubahan dalam sistem hemodinamika, perkembangan kandungan dan janin yang dikandung, serta perubahan status gizi ibu. Tidak jarang ibu hamil dengan pertambahan berat badan yang sedikit melahirkan bayi dengan berat normal namun ukuran lingkar lengan atas ibu mengalami penurunan. Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai dengan umur kehamilan. Pertambahan berat badan yang normal akan menghasilkan anak yang normal. Menurut Nadesul (2005), jika kenaikan berat badan ibu hamil kurang dari normal, kemungkinan ibu berisiko keguguran, anak lahir prematur, berat bayi lahir rendah, gangguan kekuatan rahim mengeluarkan anak, perdarahan setelah persalinan. Selain itu, anak yang dilahirkan juga berukuran lebih kecil dari rata-rata bayi seusianya.

Perubahan berat badan ibu pada waktu hamil berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak. Bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram memiliki risiko kematian lima sampai sembilan kali lebih tinggi dibanding dengan bayi yang berat lahirnya 2500 sampai 2999 gram dan 7.13 kali lebih tinggi dibanding bayi dengan berat lahir 3000 sampai 3999 gram (Puffer 1983 dalam Notobroto & Wahyuni 2003). Masalah Gizi dan Kesehatan Ibu Hamil Peningkatan kebutuhan gizi ibu hamil tidak hanya pada energi dan protein saja tetapi juga zat gizi lainnya seperti vitamin dan mineral. Kurang gizi selama hamil dan waktu sebelum hamil berisiko melahirkan bayi dengan berat rendah (BBLR). Selain itu, kurang gizi dapat menyebabkan kematian bagi ibu maupun bayi serta gizi kurang pada balita. Proporsi bayi BBLR sekitar 7-14 persen pada tahun 1990-2000, dari 5 juta bayi lahir pertahun kira-kira 355.000-710.000 bayi dengan berat lahir rendah (Azwar 2004). Berdasarkan SDKI (2002-2003) dalam Depkes (2007), telah terjadi penurunan angka kematian bayi (AKB) yaitu dari 52 per 1000 kelahiran hidup menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2002. Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir yang rendah, yaitu sebesar 38.85%. Angka kematian ibu (AKI) juga mengalami penurunan menjadi 307 per 1000 kelahiran hidup tahun 2002-2003. Masalah Kurang Energi Kronis (KEK) pada Wanita Usia Subur (WUS) sekitar 17.6 persen pada tahun 2002 atau sekitar 11.7 juta WUS berisiko KEK (Azwar 2004). WUS dikatakan menderita KEK jika ukuran LILA <23.5 dan akan berisiko melahirkan bayi BBLR. Menurut Depkes (2000), WUS yang menderita KEK pada saat hamil akan menghambat pertumbuhan janin sehingga akan menimbulkan risiko BBLR. Masalah gizi lain yang cukup serius adalah kurang vitamin A dan Anemia Gizi Besi (AGB). Kebutuhan vitamin A pada saat hamil meningkat sebesar 60 persen. Menurut Almatsier (2003), vitamin A berperan dalam berbagai fungsi faali tubuh seperti penglihatan, differensiasi sel, fungsi kekebalan, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi serta pencegah kanker. Vitamin A dibutuhkan semua ibu hamil, namun tidak boleh berlebihan. Kelebihan vitamin A dapat menimbulkan cacat bawaan, seperti cacat pada tulang muka dan kepala, otak, jantung, serta kelenjar leher (Nadesul 2005).

Berdasarkan SKRT 1995 dalam Wirakusumah (1999), prevalensi AGB pada ibu hamil 50.9 persen. Kemudian prevalensi tersebut menurun menjadi 40.1 persen atau sekitar 2.5 juta ibu hamil (Azwar 2004). Kekurangan zat besi pada ibu hamil mengakibatkan kerawanan saat melahirkan, perdarahan, berat bayi rendah, bahkan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan anak. Anemia gizi besi dapat menyebabkan lesu, cepat lelah, dan tenaga berkurang (Wirakusumah 1999). Hal ini sejalan dengan Suharno, et al (1992), anemia berat selama hamil dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada ibu hamil dan janin, anemia ringan juga meningkatkan risiko kelahiran prematur maupun berat bayi lahir rendah. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam program suplementasi. Tablet tambah darah diperlukan bagi ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan zat besi. Pada saat hamil terjadi peningkatan kebutuhan zat besi. Dosis suplemen yang dianjurkan dalam satu hari adalah dua tablet (satu tablet mengandung 60 mg Fe dan 200μg asam folat). Program suplementasi ini tidak efektif pada awal kehamilan karena adanya ”morning sickness”. Selama hamil seharusnya ibu hamil mendapatkan tablet tambah darah 90 butir (Arisman 2004). Konsumsi tablet tambah darah dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu seperti rasa tidak enak di ulu hati, mual, muntah, diare (terkadang juga konstipasi), sehingga ibu hamil cenderung menolak tablet yang diberikan. Selain itu, kurangnya kesadaran akan pentingnya tablet tambah darah untuk mengatasi masalah anemia gizi besi juga menjadi kendala dalam suplementasi tablet tambah darah (Wirakusumah 1999). Imunisasi TT (Tetanus Toksoid) diperlukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat tetanus neonatorum. Berdasarkan hasil penelitian, kasus tetanus neonatorum sebagian besar terjadi pada ibu yang tidak mendapatkan imunisasi TT. Penyakit tetanus neonatorum disebabkan oleh Clostridium tetani pada luka puntung tali pusat bayi. Pemberian imunisasi TT dua kali dengan interval waktu 1-2 bulan pada ibu hamil dapat memberikan perlindungan pada bayi sewaktu dilahirkan (Syahrul F, Catur A, Zulkarnain E, Garianto E 2002).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syahrul F, et al. (2002), pengetahuan ibu berhubungan dengan status imunisasi TT ibu hamil. Sebagian responden (50%) dalam penelitian tersebut sudah mengetahui manfaat dari imunisasi TT yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keadaan Ibu Hamil

Usia Ibu Usia seorang ibu berkaitan dengan perkembangan alat-alat reproduksinya. Usia reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun dapat menyebabkan anemia. Kehamilan pada usia kurang dari 20 tahun secara biologis belum optimal, emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan kehamilan pada usia lebih dari 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit (Wibowo & Basuki

2006).

Hasil penelitian Turhayati (2006) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun cenderung melahirkan bayi dengan berat yang lebih rendah dibandingkan ibu yang berusia 20-35 tahun. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun memiliki risiko 1.4 dan 1.8 kali lebih besar untuk melahirkan BBLR daripada ibu hamil dengan usia 20-34 tahun (Nguyen 2003 diacu dalam Turhayati 2006). Paritas dan Jarak Kelahiran Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup ataupun lahir mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan gizi karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya (Wibowo & Basuki 2006). Jarak kelahiran adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadi kelahiran berikutnya. Jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa menyebabkan anemia. Hal ini disebabkan belum pulihnya kondisi ibu dan pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal sudah harus memenuhi kebutuhan gizi janin yang dikandung. Jarak kelahiran kurang dari 2 tahun berisiko lebih besar untuk menderita anemia (Wibowo & Basuki 2006).

Menurut Suharno et al. (1992), jarak kelahiran yang dekat dan sering melahirkan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cadangan zat besi pada ibu hamil selain konsumsi dan absorpsi zat besi yang rendah. Apabila konsumsi gizi ibu hamil kurang dari yang dibutuhkan, maka cadangan zat gizi di dalam tubuh ibu akan digunakan untuk menutupi kekurangan tersebut. Jika kehamilan berikutnya berdekatan dengan kehamilan sebelumnya, maka ibu tidak mempunyai cukup waktu untuk mengembalikan cadangannya dan akan berpotensi menyebabkan terjadinya gizi kurang. Pemeriksaan Kehamilan Pemeriksaan kehamilan diperlukan untuk mengetahui faktor risiko selama kehamilan. Antenatal Care (ANC) adalah pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan janinnya oleh tenaga kesehatan profesional, meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar pelayanan yaitu minimal empat kali pemeriksaan selama kehamilan, satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga (Amirudin & Wahyudin 2004). Pelayanan kesehatan pada ibu hamil meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran tinggi fundus, imunisasi Tetanus Toksoid (TT), dan pemberian tablet besi. Menurut Forste (1994) dalam Wibowo dan Basuki (2006), perawatan kehamilan menurunkan risiko kematian bayi dalam dua tahun pertama. Perawatan kehamilan oleh dokter akan menurunkan 1.2 kali risiko kematian bayi dibanding dengan yang tidak pernah perawatan antenatal. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil serta Pangan Sumber Zat Gizi Peningkatan kebutuhan gizi terjadi selama kehamilan. Hal ini merupakan akibat dari proses anabolik di dalam tubuh ibu hamil. Peningkatan kebutuhan ini digunakan untuk pembentukan sel-sel dan jaringan-jaringan baru, serta untuk memenuhi energi pertumbuhan dan aktivitas bagi ibu maupun energi pertumbuhan untuk janin yang dikandungnya (Hardinsyah & Martianto 1992). Menurut Harper, Deaton, dan Driskel (1986), makanan yang mencukupi zat gizi adalah makanan yang mencukupi kebutuhan semua zat gizi yang diperlukan tubuh. Walaupun semua zat gizi dibutuhkan oleh tubuh, jumlah yang diperlukan berbeda-beda tergantung pada tahap perkembangannya. Hal ini sejalan dengan Nadesul (2005), ibu hamil perlu mengkonsumsi menu seimbang yaitu menu yang lengkap dan sesuai kebutuhan tubuh. Tidak hanya cukup energi dan protein saja tetapi juga zat gizi lainnya. Makanan ibu

hamil sebaiknya terdiri dari nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu. Selain itu, dengan meningkatnya kebutuhan gizi selama hamil maka sebaiknya porsi makan saat hamil lebih banyak dibandingkan dengan sebelum hamil. Menurut Khomsan dan Sulaeman (1996) Angka Kecukupan Gizi rata-rata yang dianjurkan (AKG) adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi hampir semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan jenis aktivitas yang dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Muhilal dan Hardinsyah (2004) bahwa AKG adalah nilai yang menyatakan jumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh untuk dapat hidup sehat dan dapat diterapkan bagi hampir semua populasi yang dibedakan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi fisilogis tertentu seperti kehamilan dan menyusui. Menurut Hardinsyah dan Tambunan (2004), tambahan energi yang dianjurkan untuk ibu hamil trimester 1 adalah sebesar 180 Kal/hari sedangkan pada trimester 2 dan 3 tambahan kalori yang dianjurkan untuk ibu hamil adalah sebesar 300 Kal/hari. Angka kecupan energi (AKE) adalah sebesar 2000 Kal/hari dan angka kecukupan protein sebesar 52 g/hari. Tabel 1 merupakan estimasi angka kecukupan energi dan protein ibu hamil.

Tabel 1 Estimasi angka kecukupan energi dan protein

 

Umur

Berat (kg)

Tinggi (cm)

AKE (Kal/hari)

AKP (g/hari)

Wanita

19-29 th

52

156

1900

50

30-49 th

55

156

1800

50

Hamil

Trimester 1

+180

+17

Trimester 2

+300

+17

Trimester 3

+300

+17

Sumber : Widyakarya Pangan dan Gizi VIII (2004)

Kebutuhan energi pada trimester 1 meningkat secara minimal. Pada trimester 2 dan 3 kebutuhan akan terus meningkat sampai pada akhir kehamilan. Energi tambahan pada trimester 2 diperlukan untuk pertambahan komponen dalam tubuh ibu, seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara, serta penumpukan lemak. Sedangkan, energi tambahan pada trimester 3 digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta (Arisman 2004). Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari biasanya, minimal 60g/hari. Protein penting untuk pertumbuhan anak. Hampir 70 persen protein dipakai untuk kebutuhan janin. Protein digunakan untuk membangun badan anak dari sebesar sel sampai menjadi tubuh seberat 3.5 kg. Protein juga digunakan untuk membuat ari-ari serta pembuatan cairan ketuban. Ari-ari berfungsi untuk menunjang, memelihara, dan menyalurkan makanan bagi anak sedangkan

cairan ketuban sebagai tempat berlindung janin. Selain itu, protein juga digunakan untuk menambah jaringan tubuh ibu (Nadesul 2005). Pangan sumber energi adalah pangan sumber lemak, karbohidrat, dan protein. Pangan sumber energi yang tinggi lemak antara lain lemak/gajih dan minyak, buah berlemak (alpukat), biji berminyak (biji wijen, bunga matahari, dan kemiri), santan, coklat, kacang-kacangan dengan kadar air rendah (kacang tanah dan kacang kedele), dan aneka pangan produk turunannya. Pangan sumber energi yang tinggi karbohidrat antara lain beras, oat, jagung, serealia lainnya, umbi-umbian, tepung, gula, madu, buah dengan kadar air rendah (pisang, kurma, dan lain-lain), dan aneka produk turunannya. Pangan sumber energi yang tinggi protein antara lain daging, ikan, telur, susu, dan aneka produk turunannya (Hardinsyah & Tambunan 2004). Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik dalam jumlah maupun mutu. Sumber protein hewani adalah telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan tahu, serta kacang-kacangan lain (Almatsier 2003). Menurut Hardinsyah dan Tambunan (2004), untuk memperoleh mutu protein dan mutu zat gizi mikro yang lebih baik, paling tidak seperlima (20%) kebutuhan protein dipenuhi dari protein hewani. Peningkatan kebutuhan gizi ibu hamil tidak hanya pada energi dan protein saja tetapi juga zat gizi lainnya seperti vitamin dan mineral. Apabila ibu hamil kekurangan vitamin maupun mineral maka pembentukan sel-sel tubuh anak akan terhambat. Anak yang dilahirkan bisa kurang darah, cacat bawaan, kelainan bentuk, atau ibu akan mengalami keguguran (Nadesul 2005). Angka kecukupan vitamin dan mineral dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Angka kecukupan vitamin dan mineral per hari

Zat gizi

wanita

Trimester 1

Trimester 2

Trimester 3

Vitamin A (µg RE)

500

+300

+300

+300

Tiamin (mg)

1

+0.3

+0.3

+0.3

Riboflavin (mg)

1.1

+0.3

+0.3

+0.3

Niasin (mg)

14

+4

+4

+4

Asam folat (µg)

400

+200

+200

+200

Piridoksin (mg)

1.3

+0.4

+0.4

+0.4

Vitamin B12 (µg)

2.4

+0.2

+0.2

+0.2

Vitamin C (mg)

75

+10

+10

+10

Besi (mg)

26

+0

+9

+13

Kalsium (mg)

800

+150

+150

+150

Yodium (µg)

150

+50

+50

+50

Seng (mg)

9.3

+1.7

+4.2

+10.2

Sumber : Widyakarya Pangan dan Gizi VIII (2004)

Bahan makanan sumber vitamin A adalah kuning telur, hati, mentega, susu. Selain itu, sayuran hijau dan buah-buahan berwarna kuning, seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, papaya, mangga, nangka masak, dan jeruk, juga banyak mengandung vitamin A (Almatsier 2003). Menurut Nadesul (2005), ibu hamil yang kekurangan vitamin C cenderung mengalami ketuban pecah dini. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya infeksi di dalam kandungan dan akan membahayakan anak. Vitamin C hanya terdapat di dalam pangan nabati yaitu buah dan sayur. Jambu biji memiliki kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan dengan durian, jeruk, maupun pepaya (Daftar Analisis Bahan Makanan 1992 diacu dalam Almatsier 2003). Kalsium berfungsi untuk pembentukan tulang dan gigi. Menurut Nadesul (2005), ibu yang sedang hamil cenderung kekurangan kalsium. Akibat kekurangan kalsium maka anak yang dikandung menderita kelainan tulang dan gigi. Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil susu, seperti keju. Serealia, kacang-kacangan dan hasilnya, tahu dan tempe, serta sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga, namun bahan makanan ini mengandung banyak zat yang menghambat penyerapan kalsium seperti serat, fitat, dan oksalat. Kebutuhan kalsium akan terpenuhi bila makan makanan yang seimbang setiap hari (Almatsier 2003). Kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat pada kehamilan trimester 2 dan trimester 3. Pada masa tersebut dibutuhkan tambahan tablet besi meskipun makanan yang dikonsumsi sudah banyak mengandung zat besi dan tinggi bioavailibilitasnya (Nadesul 2005). Hal senada juga diungkapkan oleh Arisman (2004) semakin bertambah usia kehamilan maka zat besi yang dibutuhkan semakin banyak. Menurut Wirakusumah (1999), kebutuhan besi pada trimester pertama lebih rendah dari waktu sebelum hamil. Hal ini terjadi karena ibu hamil tidak mengalami menstruasi dan janin yang dikandung belum membutuhkan banyak zat besi. Menjelang trimester kedua kebutuhan zat besi mulai meningkat. Pada saat ini terjadi pertambahan sel-sel darah merah yang akan terus berlanjut sampai trimester ketiga. Pangan sumber zat besi adalah makanan hewani seperti hati, daging, ayam dan ikan, telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah (Almatsier 2003).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Konsumsi pangan adalah jumlah pangan (tunggal atau beragam) yang dikonsumsi oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Konsumsi pangan akan mempengaruhi kesehatan ibu hamil baik sebelum masa kehamilan maupun selama masa kehamilan. Jika konsumsi pangan cukup sebelum hamil, maka kemungkinan besar ibu hamil tidak akan mengalami gangguan kehamilan (Hardinsyah & Martianto 1992). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi (Harper et al. 1986). Menurut Muhilal et al. (1993) mengemukakan bahwa konsumsi pangan yang kurang maupun lebih dari kecukupan yang diperlukan, apabila dialami dalam jangka waktu yang lama, akan berdampak buruk pada kesehatan. Pendidikan Tingkat pendidikan akan mempengaruhi tingkat konsumsi pangan seseorang dalam memilih bahan pangan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memilih bahan pangan yang lebih baik dalam kuantitas maupun kualitas dibanding dengan orang yang berpendidikan rendah (Hardinsyah 1985). Tingkat pendidikan yang tinggi terutama yang berkaitan dengan pengetahuan gizi yang tinggi tentang informasi gizi dan kesehatan akan mendorong perilaku makan yang baik (Sediaoetama 1991). Walaupun tingkat pendidikannya cukup tinggi tetapi tidak disertai dengan pengetahuan gizi, maka tidak akan berpengaruh terhadap pemilihan pangan. Salah satu faktor yang menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang diperoleh adalah faktor pendidikan. Menurut Soekirman (1994), peningkatan pendidikan diharapkan terjadi perbaikan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan, sehingga dapat menimbulkan perilaku dan sikap positif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi. Hal ini sejalan dengan Atmarita dan Fallah (2004), yang menyatakan bahwa perubahan sikap dan perilaku sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Dengan pendidikan yang lebih tinggi maka akan lebih mudah menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi.

Pendapatan Pendapatan merupakan sumberdaya material bagi seseorang untuk membiayai kegiatan konsumsinya. Jumlah pendapatan yang diperoleh akan menggambarkan besarnya daya beli. Menurut Harper et al. (1986) pada umumnya jika pendapatan naik, maka jumlah dan jenis pangan akan membaik. Sedangkan menurut Suhardjo (1989) bahwa keluarga yang berpengahasilan rendah menggunakan sebagian besar dari keuangannya untuk pangan dan sebaliknya keluarga yang berpenghasilan tinggi akan menurunkan pengeluaran untuk pangan. Keluarga yang berpenghasilan rendah akan rendah pula jumlah uang yang dibelanjakan untuk pangan. Bila penghasilan menjadi semakin baik, maka jumlah uang yang dipakai untuk membeli makanan dan bahan makanan juga akan meningkat sampai tingkat tertentu dimana uang tidak dapat bertambah secara berarti. Pengukuran dan Penilaian Konsumsi Pangan Pengukuran konsumsi pangan adalah salah satu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi seseorang atau masyarakat secara tidak langsung. Pengukuran konsumsi pangan menghasilkan dua jenis data konsumsi, yaitu bersifat kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dapat diketahui frekuensi makan, kebiasaan makan, serta cara memperoleh makanan tersebut. Metode yang digunakan adalah food frequency dan dietary history. Sedangkan secara kuantitatif dapat diketahui jumlah makanan yang dikonsumsi dan konsumsi zat gizi. Metode yang digunakan adalah recall 24 jam, perkiraan makanan, penimbangan makanan, food account, inventaris, maupun pencatatan (Supariasa, Bakri, & Fajar 2001). Metode Recall 24 jam Metode recall 24 jam digunakan untuk memperkirakan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorang selama sehari sebelum wawancara dilakukan. Data yang diperoleh dari metode ini lebih bersifat kualitatif sehingga apabila ingin memperoleh data kuantitatif maka jumlah konsumsi makanan dinyatakan dengan Ukuran Rumah Tangga (URT). Menurut Supariasa et al. (2001) metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:

Kelebihan metode recall 24 jam:

1. Mudah dilaksanakan.

2. Biaya relatif murah karena tidak perlu tempat khusus untuk wawancara.

4.

Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.

5. Memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu.

Kekurangan metode recall 24 jam:

1. Bila hanya dilakukan satu hari, tidak dapat menggambarkan intake makanan sehari-hari.

2. Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.

3. Ada kecenderungan untuk mengurangi atau menambahkan makanan yang dikonsumsi.

4. Membutuhkan enumerator yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai masyarakat.

5. Responden harus diberi motivasi dan tujuan penelitian.

6. Untuk mendapatkan gambaran konsumsi sehari-hari, sebaiknya tidak dilakukan pada saat panen, hari raya, akhir pekan, saat upacara keagamaan, selamatan, dan lain-lain

Metode Frekuensi Makan (Food Frequency Questionnaire) Metode food frequency questionnaire dikenal sebagai frekuensi pangan, sehingga pola konsumsi pangan seseorang dapat diketahui. Menurut Supariasa et al. (2001), metode ini adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi

konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:

Kelebihan metode frekuensi makanan:

1. Relatif murah dan sederhana

2. Dapat dilakukan sendiri oleh responden

3. Tidak membutuhkan latihan khusus

4. Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan

Kekurangan metode frekuensi makanan:

1. Tidak dapat digunakan untuk menghitung intake zat gizi sehari

2. Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data

3. Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner

4. Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi

Menurut Hardinsyah dan Briawan (1994), penilaian konsumsi pangan adalah perbandingan antara kandungan gizi makanan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang dengan angka kecukupannya. Prinsip dari penilaian konsumsi pangan berdasarkan pada tiga jenis data, yaitu data konsumsi pangan, data kandungan zat gizi bahan makanan, dan data kecukupan gizi. Penilaian terhadap kandungan gizi dari beragam pangan merupakan jumlah dari masing-masing zat gizi pangan komponennya. Pengumpulan data konsumsi pangan sebaiknya dicatat dalam bentuk pangan olahannya. Hal ini terkait dengan hilangnya beberapa zat gizi akibat cara pengolahan. Zat gizi yang rawan terhadap cara pengolahan dan perlu dikoreksi terutama vitamin A, vitamin B1, vitamin C, dan mineral Fe. Penilaian untuk mengetahui tingkat konsumsi gizi dilakukan dengan membandingkan antara konsumsi gizi aktual dengan kecukupan gizi yang dinyatakan dalam persen. Secara umum tingkat konsumsi gizi dirumuskan sebagai berikut (Hardinsyah & Briawan 1994):

TKGi = (Ki/AKGi) x 100 %

Keterangan:

TKGi = Tingkat konsumsi zat gizi i (%) Ki = Konsumsi zat gizi i AKGi = Kecukupan zat gizi i yang dianjurkan Data kandungan zat gizi bahan makanan dapat dilihat di dalam daftar komposisi zat gizi makanan. Daftar komposisi zat gizi makanan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dapat digunakan sebagai alat untuk mengubah data konsumsi makanan menjadi konsumsi gizi atau sebaliknya. Kekurangan daftar komposisi zat gizi yang ada sekarang adalah tidak tercantumnya semua zat gizi secara lengkap yang diperlukan untuk menetapkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan pelabelan makanan yang dikemas misalnya selenium dan asam folat (Hermana 2004). Pengetahuan, Sikap, Praktek Gizi Kesehatan tubuh belum terjamin hanya dengan mengkonsumsi makanan yang berkualitas baik. Tanpa mengetahui jumlah dan jenis bahan makanan yang baik dikonsumsi untuk kesehatan mustahil kesehatan tubuh dapat terjaga dengan baik. Untuk mengetahui hal itu dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan gizi.

Tingkat pengetahuan gizi berhubungan dengan tingkat pendidikan formal. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal, semakin luas wawasan berpikir seseorang, sehingga lebih banyak informasi yang diserap. Namun, bukan berarti seseorang yang memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi, jika dibandingkan dengan orang lain dengan pendidikan lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya sumber informasi yang digunakan, sehingga mempengaruhi pengetahuan gizinya. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa pengetahuan yang baik dapat menghindarkan seseorang dari konsumsi pangan yang salah. Pengetahuan gizi dapat diperoleh dari pendidikan formal maupun informal. Selain itu, melalui media komunikasi seperti televisi, majalah, koran, radio, atau melalui penyuluhan kesehatan/gizi, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang gizi. Keterbatasan informasi dan tingkat pengetahuan gizi seseorang dapat menyebabkan tujuan akhir dalam membeli dan mengkonsumsi pangan berubah menjadi asal kenyang. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang akan cenderung memilih makanan yang murah dengan nilai gizi yang lebih tinggi sesuai dengan jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil, sehingga kebutuhan zat gizinya terpenuhi. Hal ini sesuai dengan Sanjur (1982) yang menyebutkan bahwa pengetahuan gizi menentukan atau membentuk praktek secara langsung. Masalah gizi timbul karena tidak cukupnya pengetahuan gizi dan kurangnya pengertian tentang kebiasaan makan yang baik (Williams 1973). Hasil penelitian Hunt, et al. (1976) menunjukkan bahwa program pendidikan gizi selama tiga hari secara signifikan dapat meningkatkan konsumsi gizi pada wanita hamil dari kelompok pendapatan rendah. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksana motif tertentu (Newcomb diacu dalam Notoatmojo 2007). Sikap belum merupakan suatu tindakan. Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan seperti fasilitas (Notoatmojo 2007).

Menurut Khomsan (1997), sikap gizi merupakan tahapan lebih lanjut dari pengetahuan gizi. Seseorang yang berpengetahuan gizi baik akan mengembangkan sikap gizi yang baik. Pembentukan sikap gizi akan lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan/sosial budaya yang ada di masyarakat. Praktek atau perilaku merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. Perilaku gizi dicerminkan oleh tindakan-tindakan berkaitan dengan upaya peningkatan status gizi, pemenuhan kebutuhan gizi. Status Gizi Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau kelompok orang yang diakibatkan konsumsi penyerapan, dan pengunaan zat gizi makanan. Status gizi seseorang dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Keadan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu cukup lama. Status gizi seseorang dapat berupa gizi kurang atau lebih dengan tingkatan ringan, sedang, dan berat (Riyadi, 2001). Status gizi ibu sebelum dan selama hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungannya. Apabila status gizi ibu buruk sebelum dan selama kehamilan akan menyebabkan beberapa akibat yang fatal bagi bayi. Akibatnya antara lain BBLR, terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terinfeksi, abortus dan lain-lain (Supariasa et al. 2001). Menurut Riyadi (2006), status gizi seseorang dipengaruhi oleh faktor langsung maupun faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi konsumsi makanan dan keadaan kesehatan. Sedangkan faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi adalah faktor pertanian, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Secara tidak langsung pengetahuan tentang gizi berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Ada berbagai cara untuk menilai status gizi, yaitu konsumsi makanan, antropometri, biokimia, dan klinis. Cara penilaian status gizi tersebut dapat digunakan secara tunggal (satu indikator saja) tetapi akan lebih efektif jika digunakan secara gabungan/lebih dari satu indikator (Riyadi 2001).

Antropometri digunakan untuk pengukuran status gizi dan kesehatan. Indikator lain yang digunakan dalam pengukuran antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Menurut Depkes RI (1996) dalam Riyadi (2001), IMT merupakan cara sederhana untuk memantau kekurangan dan kelebihan berat badan ataupun untuk mempertahankan berat badan normal. Indeks Massa Tubuh merupakan parameter turunan dari berat badan dan tinggi badan kuadrat. Pada ibu hamil status gizi bisa dilihat dari kenaikan BB selama kehamilan berdasarkan pada IMT sebelum hamil. IMT (kg/m 2 ) = Berat Badan (kg)

Tinggi Badan (m 2 )

Tabel 3 Rekomendasi kenaikan berat badan selama kehamilan berdasarkan pada IMT sebelum kehamilan

Kategori BB terhadap TB

Rekomendasi kenaikan BB total dalam kg

Rekomendasi kenaikan BB setiap minggu selama trimester 2 dan 3 dalam kg

Rendah (IMT <19.8)

12.5-18.0

0.5

Normal (IMT 19.8-26)

11.5-16.0

0.4

Tinggi (IMT >26- 29)

7.0-11.5

0.3

Obesitas (IMT >29)

>6.8

Ditentukan pada setiap individu

Sumber: Institute of Medicine (1990)

KERANGKA PEMIKIRAN

Ibu hamil adalah salah satu kelompok yang paling rawan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang dialami ibu hamil sebelum atau selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Terhambatnya pertumbuhan janin salah satunya disebabkan oleh gizi ibu yang buruk. Hal ini ditandai dengan rendahnya pertambahan berat badan ibu hamil atau berat badan ibu sebelum hamil. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang baik sehingga kualitas bayi yang dilahirkan juga baik (Khomsan 2002). Status gizi ibu selama hamil menjadi salah satu indikator kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandung. Secara tidak langsung pengetahuan gizi mempengaruhi status gizi. Kesehatan tubuh belum terjamin hanya dengan mengkonsumsi makanan yang berkualitas baik. Terjadi peningkatan kebutuhan zat-zat gizi pada saat hamil. Menurut Nadesul (2005), ibu hamil perlu mengkonsumsi menu seimbang yaitu menu yang lengkap dan sesuai kebutuhan tubuh. Tidak hanya cukup energi dan protein saja tetapi juga zat gizi lainnya. Menu makanan ibu hamil sebaiknya terdiri dari nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu. Selain itu, dengan meningkatnya kebutuhan gizi selama hamil maka sebaiknya porsi makan saat hamil lebih banyak dibandingkan dengan sebelum hamil. Kesehatan tubuh belum terjamin hanya dengan mengkonsumsi makanan yang berkualitas baik. Tanpa mengetahui jumlah dan jenis bahan makanan yang baik dikonsumsi untuk kesehatan tidak mungkin kesehatan tubuh dapat terjaga dengan baik. Untuk mengetahui hal itu dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan gizi. Tingkat pendidikan ibu dapat menentukan pengetahuan, sikap, dan praktek dalam menentukan makanan yang dikonsumsi keluarga dan secara langsung mempengaruhi konsumsi gizi ibu hamil. Menurut Khomsan (1997), sikap gizi merupakan tahapan lebih lanjut dari pengetahuan gizi. Seseorang yang berpengetahuan gizi baik akan mengembangkan sikap gizi yang baik. Pembentukan sikap gizi akan lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan/sosial budaya yang ada di masyarakat. Praktek atau perilaku merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. Perilaku gizi dicerminkan oleh tindakan-tindakan berkaitan dengan upaya peningkatan status gizi, pemenuhan kebutuhan gizi.

Karakteristik ibu hamil secara tidak langsung mempengaruhi konsumsi gizi yang akan berpengaruh pada tingkat konsumsi gizi ibu hamil yang ditentukan berdasarkan perbandingan antara konsumsi gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG). Pendidikan yang rendah berpengaruh pada pekerjaan dan pendapatan keluarga, sedangkan pendapatan keluarga terkait dengan daya beli keluarga terhadap pangan yang dapat menentukan kualitas dan kuantitas makanan yang suatu keluarga. Peningkatan pendapatan diharapkan berpengaruh pada perbaikan konsumsi gizi keluarga dan selanjutnya berhubungan dengan konsumsi gizi ibu hamil. Besar keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi gizi keluarga. Jika anggota keluarga bertambah maka pangan untuk ibu hamil akan berkurang dan akan berdampak pada konsumsi gizinya. Selain itu, karakteristik ibu hamil seperti usia kehamilan, usia ibu hamil, dan IMT ibu sebelum hamil akan mempengaruhi AKG.

Karakteristik ibu hamil:

Usia

Pendidikan

Besar keluarga

Pekerjaan

Pendapatan per kapita

Usia kehamilan

Pengetahuan gizi

Pendapatan per kapita • Usia kehamilan Pengetahuan gizi Media informasi Sikap gizi Praktek gizi Akses pelayanan

Media

informasi

Sikap gizi

Praktek gizi

Akses pelayanan kesehatan
Akses
pelayanan
kesehatan

Tingkat konsumsi gizi (energi, protein, zat besi , vitamin A)

Status gizi

gizi (energi, protein, zat besi , vitamin A ) Status gizi Status kesehatan Keterangan : variabel
gizi (energi, protein, zat besi , vitamin A ) Status gizi Status kesehatan Keterangan : variabel

Status

kesehatan

Keterangan :

variabel yang diteliti, vitamin A ) Status gizi Status kesehatan Keterangan : variabel yang tidak diteliti hubungan yang

variabel yang tidak ditelitigizi Status kesehatan Keterangan : variabel yang diteliti hubungan yang diteliti hubungan yang tidak diteliti =

hubungan yang diteliti: variabel yang diteliti variabel yang tidak diteliti hubungan yang tidak diteliti = = = =

hubungan yang tidak ditelitiditeliti variabel yang tidak diteliti hubungan yang diteliti = = = = Gambar 1. Kerangka pemikiran

=

=

=

=

Gambar 1. Kerangka pemikiran pengetahuan, sikap, dan praktek gizi serta tingkat konsumsi ibu hamil di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan Propinsi DKI Jakarta

METODE

Desain, Tempat dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan. Pemilihan lokasi berdasarkan program bubuk tabur multivitamin untuk ibu hamil. Pemilihan lokasi di wilayah tersebut dilakukan dengan purposive karena di daerah tersebut masih banyak penduduk miskin dan jumlah ibu hamil yang cukup banyak. Penelitian dilakukan dari bulan November 2007 sampai Januari 2008. Cara Penarikan Contoh Contoh penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang tinggal di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan dan merupakan baseline pada kajian uji penerimaan bubuk tabur multivitamin untuk ibu hamil yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta dan Departemen Gizi Masyarakat IPB. Jumlah ibu hamil di kelurahan Kramat Jati sebanyak 150 orang dan jumlah ibu hamil yang terdapat di Kelurahan Ragunan sebanyak 224 orang. Contoh penelitian ini diambil secara purposive dengan kriteria 1) bukan kehamilan pertama, 2) usia kehamilan antara 8-28 minggu, 3) bersedia diwawancarai. Data ibu hamil

didapatkan di puskesmas serta sensus bersama kader posyandu. Jumlah contoh yang terpilih adalah semua ibu hamil yang memenuhi kriteria yang ditentukan. Jumlah yang terpilih adalah 100 ibu hamil yang terdiri dari Kelurahan Kramat Jati 50 contoh dan Ragunan 50 contoh. Penentuan ukuran contoh dengan menggunakan prevalensi (p) anemia 40 persen, level of confidence (α) 0.05, dan toleransi estimasi (d) 10 persen. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah contoh masing-masing wilayah minimal 48 orang, namun pada penelitian ini diambil contoh sebanyak 50 orang dari masing-masing wilayah. Rumus : n p x (1-p)x Z

Kramat Jati (n= 150) n=34 n=50
Kramat Jati
(n= 150)
n=34
n=50

(d) 2

Kriteria :

Bukan kehamilan pertama, Usia kehamilan 12-24 minggu Kriteria :

Bukan kehamilan pertama, Usia kehamilan 8-28 minggu

Ragunan (n=224) n=31 n=50
Ragunan
(n=224)
n=31
n=50

Gambar 2 Cara penarikan contoh

Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik ibu hamil, pengetahuan gizi ibu hamil, sikap gizi ibu hamil, dan praktek gizi ibu hamil, serta konsumsi pangan dengan metode semikuantitatif food frequency questionnaire. Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan adalah data tentang gambaran umum lokasi penelitian. Pengumpulan data primer melalui wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari puskesmas, kelurahan, serta dinas terkait. Data berat badan ibu sebelum hamil diperoleh melalui KMS atau recall. Pengetahuan gizi ibu hamil meliputi makanan sehat bagi ibu hamil, porsi makan ibu hamil, penyebab dan gejala terjadinya anemia, contoh makanan sumber zat gizi, dampak kekurangan zat besi selama kehamilan, pertambahan berat badan selama kehamilan, jarak kelahiran, risiko bayi lahir tidak cukup bulan, minimal berat badan bayi lahir yang sehat, serta perawatan payudara. Sikap gizi ibu pernyataan tentang makanan sehat bagi ibu hamil, suplemen gizi, tablet tambah darah, pertambahan berat badan, pemeriksaan kehamilan, usia kehamilan, imunisasi TT. Praktek gizi ibu hamil meliputi komposisi makanan ibu hamil, susu ibu hamil, kebiasaan sarapan, pemeriksaan kehamilan, pemantauan pertambahan berat badan, imunisasi TT, dan perawatan payudara.

Tabel 4 Cara pengumpulan data primer

No

Kelompok

Variabel

Cara Pengumpulan

Alat

Data

Data

1.

Karakteristik

1. Usia (ibu dan suami)

1. Wawancara

1. Kuesioner

ibu hamil

2. Pendidikan (ibu dan suami)

2. Wawancara

2. Kuesioner

 

3. Pekerjaan(ibu dan suami)

3. Wawancara

3. Kuesioner

4. Penghasilan

4. Wawancara

5. Besar keluarga

5. Wawancara

4. Kuesioner

6. Usia kehamilan

6. Wawancara

5. Kuesioner

7. BB sebelum hamil

7. Wawancara

6. Kuesioner

8. TB

8. Wawancara

7. Kuesioner

 

8. Kuesioner

2.

Pengetahuan

1. Makanan sehat

1. Wawancara

1. Kuesioner

gizi

2. Porsi makan

2. Wawancara

2. Kuesioner

 

3. Penyebab anemia

3. Wawancara

3. Kuesioner

4. Makanan sumber zat besi

4. Wawancara

4. Kuesioner

5. Akibat kekurangan zat besi

5. Wawancara

5. Kuesioner

6. Makanan sumber

6.

Wawancara

6.

Kuesioner

kalsium

7. Buah sumber vitamin C

7. Wawancara

7. Kuesioner

8. Gejala anemia

8.

Wawancara

8.

Kuesioner

No

Kelompok

Variabel

Cara Pengumpulan

Alat

Data

Data

 

9.

Pertambahan berat

9.

Wawancara

9.

Kuesioner

badan selama hamil

 

10.

Makanan sumber

10.Wawancara

10. Kuesioner

protein

 

11.

Jarak kelahiran yang

11.Wawancara

11. Kuesioner

aman

 

12.

Risiko bayi lahir tidak

12. Wawancara

12. Kuesioner

cukup bulan

 

13.

Berat minimal bayi lahir

13. Wawancara

13. Kuesioner

sehat

 

14.

Perawatan payudara

14. Wawancara

14. Kuesioner

3.

Sikap gizi

1. Makanan sehat

1. Wawancara

1. Kuesioner

 

2. Komposisi makanan

2. Wawancara

2. Kuesioner

3. Porsi makan

3. Wawancara

3. Kuesioner

4. Susu untuk ibu hamil

4. Wawancara

4. Kuesioner

5. Suplemen gizi ibu hamil

5. Wawancara

5. Kuesioner

6.

Tablet besi

6.

Wawancara

6. Kuesioner

7. Manfaat tablet besi

7.

Wawancara

7. Kuesioner

8. Jumlah pertambahan BB

8. Wawancara

8. Kuesioner

9. Cara mengurangi mual

9. Wawancara

9. Kuesioner

10.

Pertambahan berat badan selama hamil

10.Wawancara

10. Kuesioner

11. Pemeriksaan kehamilan

11.Wawancara

11. Kuesioner

12. Imunisasi TT

12. Wawancara

12. Kuesioner

13. Bayi lahir cukup umur

13. Wawancara

13. Kuesioner

4.

Praktek Gizi

1. Makan buah

1. Wawancara

1. Kuesioner

 

2. Makan sayur

2. Wawancara

2. Kuesioner

3. Makan lauk pauk

3. Wawancara

3. Kuesioner

4. Minum susu

4. Wawancara

4. Kuesioner

5. Porsi makan

5. Wawancara

5. Kuesioner

6. Sarapan pagi

6.

Wawancara

6. Kuesioner

7. Periksa kehamilan

7.

Wawancara

7. Kuesioner

8. Memantau pertambahan BB

8. Wawancara

8. Kuesioner

9. Minum tablet besi

9. Wawancara

9. Kuesioner

10. Imunisasi TT

10.Wawancara

10. Kuesioner

11. Berencana memberikan ASI eksklusif

11.Wawancara

11. Kuesioner

12. Imunisasi anak balita

12. Wawancara

12. Kuesioner

13. Merawat payudara

13. Wawancara

13. Kuesioner

5.

Konsumsi

1. Jumlah pangan

Semi kuantitatif food

Kuesioner

pangan

2. Jenis pangan

frequency

 
 

3. Frekuensi makan

questionnaire selama 1 minggu

 

Pengolahan dan Analisis Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengolahan data dimulai dari editing, coding, entri, cleaning dan selanjutnya dianalisis. Coding dilakukan dengan cara menyusun code-book sebagai panduan entri dan pengolahan data. Selanjutnya dilakukan entri data kemudian dilakukan

cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Analisis data diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 13 for windows. Data sosial ekonomi keluarga seperti tingkat pendidikan ibu hamil dan suami berdasarkan latar belakang pendidikan yang telah ditamatkan, kemudian dikategorikan menjadi dasar (tidak tamat SD, dan tamat SD), menengah (SMP dan SMA), tinggi (lebih dari SMA). Pekerjaan kepala keluarga dan ibu hamil dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pegawai negeri, swasta (pegawai swasta dan wiraswasta), dan lainnya. Data pendapatan keluarga merupakan penjumlahan dari pendapatan seluruh anggota keluarga. Selanjutnya pendapatan keluarga ini dibagi dengan jumlah anggota keluarga sehingga diperoleh pendapatan perkapita perbulan, kemudian dikategorikan miskin dan tidak miskin berdasarkan batas kemiskinan Propinsi DKI Jakarta tahun 2004 yang sudah dikonversi dengan laju inflasi tahun 2004 sampai 2007. Contoh dikategorikan miskin jika pendapatan perkapita per bulan kurang dari Rp 214.817,00 dan tidak miskin jika pendapatan perkapita per bulan lebih dari atau sama dengan Rp 214.817,00. Data besar keluarga ditentukan berdasarkan jumlah anggota keluarga yang hidup dibawah pengelolaan sumberdaya yang sama. Besar keluarga dikategorikan menjadi kecil (4orang) dan besar (>4orang). Status gizi ibu sebelum hamil diukur dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (Depkes

2003).

Pengetahuan gizi ibu hamil diperoleh dengan menilai jawaban contoh terhadap 14 pertanyaan mengenai gizi dan kesehatan ibu hamil yang meliputi,

makanan sehat bagi ibu hamil, porsi makan ibu hamil, penyebab dan gejala terjadinya anemia, contoh makanan sumber zat gizi, dampak kekurangan zat besi selama kehamilan, pertambahan berat badan selama kehamilan, jarak kelahiran, risiko bayi lahir tidak cukup bulan, minimal berat badan bayi lahir yang sehat, serta perawatan payudara. Jawaban yang benar diberi skor 2.5, sedangkan jawaban yang salah diberi skor 0 dengan total skor maksimal 35. Menurut Khomsan (2000), tingkat pengetahuan gizi ibu hamil dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. tinggi, apabila skor 80% dari total jawaban yang benar

2. cukup, apabila skor 60-80% dari total jawaban yang benar

Sikap gizi ibu hamil diketahui dengan menilai respon contoh terhadap 13 pernyataan tentang makanan sehat bagi ibu hamil, suplemen gizi, tablet tambah darah, pertambahan berat badan, pemeriksaan kehamilan, usia kehamilan, imunisasi TT. Pernyataan positif apabila setuju diberi skor 2.5 dan tidak setuju diberi skor 0, sedangkan untuk pernyataan negatif jawaban setuju diberi skor 0 dan tidak setuju diberi skor 2.5 dengan total skor 32.5. Dari hasil penilaian terhadap pernyataan yang diajukan, sikap ibu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. baik, apabila skor 80% dari total jawaban yang benar

2. sedang, apabila skor 60-80% dari total jawaban yang benar

3. kurang, apabila skor 60% dari total jawaban yang benar

Praktek gizi ibu hamil dapat diketahui dengan menilai jawaban contoh terhadap 13 pernyataan tentang gizi dan kesehatan ibu hamil yang meliputi komposisi makanan ibu hamil, susu ibu hamil, kebiasaan sarapan, pemeriksaan kehamilan, pemantauan pertambahan berat badan, imunisasi TT, dan perawatan

Pernyataan yang dilakukan oleh contoh diberi skor 2.5 sedangkan

payudara

yang tidak dilakukan diberi skor 0 dengan total skor 32.5. Dari hasil penilaian terhadap pernyataan yang diajukan, praktek gizi dan kesehatan ibu hamil dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. baik, apabila skor 80% dari total jawaban yang benar

2. sedang, apabila skor 60-80% dari total jawaban yang benar

3. kurang, apabila skor 60% dari total jawaban yang benar

Data konsumsi pangan yang diketahui melalui metode semi kuantitatif food frequency quetionnaire secara berturut-turut dikonversikan ke dalam satuan

energi (Kal), protein (g), zat besi (mg), dan vitamin A (RE) dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) 1994. Konversi dihitung dengan menggunakan rumus (Hardinsyah & Briawan 1994) sebagai berikut:

KGij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100)

Keterangan:

Kgij = kandungan zat gizi i dalam bahan makanan j Bj = Berat makanan j yang dikonsumsi (g) Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDDj = Bagian bahan makanan j yang dapat dimakan Kecukupan zat gizi dihitung berdasarkan angka kecukupan zat gizi yang dianjurkan menurut umur dan berat badan sehat (WNPG 2004). Berdasarkan Depkes (1996) diacu dalam Hardinsyah, Wulandari, dan Retnaningsih (2000),

tingkat konsumsi energi dan protein dibedakan menjadi cukup (90%) dan tidak cukup (<90%). Sedangkan untuk tingkat konsumsi vitamin A dan zat besi disebut tidak cukup jika TK<100% dan cukup jika TK >100%.

Analisis hubungan antar variabel menggunakan korelasi Spearman. Analisis Multivariat dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi (energi, protein, zat besi, dan vitamin A) pada ibu hamil. Uji statistik yang digunakan adalah regresi logistik (Kleimbaum 1992 diacu dalam Riyadi, Hardinsyah & Anwar 1997) dengan model sebagai berikut :

Z = α + β χ + β χ +

1

1

2

2

+ β χ

k

k

dimana :

Z

= tingkat konsumsi yang dibedakan atas cukup dan tidak cukup

X1

= pendapatan perkapita

X2

= besar keluarga

X4

= praktek gizi.

β1

= koefisien pendapatan perkapita

β2

= koefisien besar keluarga

β3

= koefisien praktek gizi

α

= konstanta

Tingkat konsumsi gizi dibagi menjadi dua kategori yaitu cukup dan tidak cukup. Pada analisis regresi logistik kategori tingkat konsumsi gizi diberi kode yaitu untuk cukup = 1 dan tidak cukup = 0. Nilai eksponensial dari setiap koefisien variabel bebas (exp(βi)) merupakan nilai Odd Ratio (OR) yang

menunjukkan besar dari setiap faktor tingkat konsumsi. Tujuan pengukuran

analisis regresi logistik adalah untuk mengestimasi kemungkinan yang paling besar hubungan diantara seluruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 5 Cara pengkategorian dan analisis variabel penelitian

No

Kelompok

Variabel

Kategori Pengukuran

Analisis

Data

1.

Karakteristik

1. Usia ibu (th)

Sesuai data

 

ibu hamil

2. Pekerjaan

 

3. Usia kehamilan (minggu)

Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu sebelum hamil (Depkes 2003)

 

4. Berat badan saat wawancara (kg)

1.

Kurang (IMT < 18.5)

2.

Normal (IMT 18.5-25.0)

5. Berat badan sebelum hamil (kg)

3.

Lebih (IMT >25.0)

6. Tinggi badan (cm)

7. Pendidikan ibu dan suami

1.

Dasar (SD)

2.

Menengah (SMP dan SMA)

 

3.

Tinggi (>SMA)

Deskriptif

 

8. Pekerjaan ibu

1.

Pegawai negeri

dan suami

2.

Swasta (wiraswasta dan swasta)

 

3.

Lainnya

 

9. Pendapatan perkapita DKI Jakarta (BPS 2004)

1.

Miskin <Rp 214.817,00

2.

Tidak miskin >

Rp214.817,00

10. Besar keluarga

1.

Keluarga kecil (4 orang)

 

2.

Keluarga besar (>4 orang)

3.

Pengetahuan

1. Makanan sehat

1.

tinggi, apabila skor 80%

gizi

2. Porsi makan

2.

cukup, apabila skor 60-80%

 

3. Penyebab anemia

3.

kurang, apabila skor 60%

4. Makanan sumber zat

besi

5. Akibat kekurangan zat besi

6. Makanan sumber kalsium

7. Buah sumber vitamin C

Deskriptif

8. Gejala anemia

9. Pertambahan berat badan selama hamil

10. Makanan sumber

protein

11. Jarak kelahiran yang

aman

12. Risiko bayi lahir tidak

cukup bulan

No

Kelompok

Variabel

Kategori Pengukuran

Analisis

Data

 

13.

Berat minimal bayi

lahir sehat

 

14.

Perawatan payudara

4.

Sikap gizi

1. Makanan sehat

1. tinggi, apabila skor 80%

 

2. Komposisi makanan

2. cukup, apabila skor 60-80%

3. Porsi makan

3. kurang, apabila skor 60%

4. Susu untuk ibu hamil

5. Suplemen gizi ibu hamil

6.

Tablet besi

7. Manfaat tablet besi

8. Jumlah pertambahan BB

 

Deskriptif

9. Cara mengurangi mual

 

10.

Pertambahan berat badan selama hamil

11. Pemeriksaan kehamilan

12. Imunisasi TT

13. Bayi lahir cukup umur

5.

Praktek gizi

1. Makan buah

1. baik, apabila skor 80%

 

2. Makan sayur

2. sedang, apabila skor 60-80%

3. Makan lauk pauk

3. kurang, apabila skor 60%

4. Minum susu

5. Porsi makan

6. Sarapan pagi

7. Periksa kehamilan

8. Memantau pertambahan BB

 

Deskriptif

9. Minum tablet besi

 

10. Imunisasi TT

11. Berencana memberikan

ASI eksklusif

12. Imunisasi anak balita

13. Merawat payudara

6.

Konsumsi

1. Jumlah pangan

Tingkat konsumsi energi dan

pangan

2. Jenis pangan

protein

 

3. Frekuensi makan

1. Tidak cukup (<90%)

 

2. Cukup (>90%)

Tingkat konsumsi vitamin dan mineral

Deskriptif

1. Tidak cukup <100%)

2. Cukup (>100%)

Definisi Operasional Pendapatan keluarga adalah jumlah pendapatan contoh dan suami yang dihasilkan per bulan dari pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan yang dinyatakan dalam satuan rupiah dan dikategorikan miskin jika pendapatan perkapita per bulan kurang dari Rp 197.306 dan tidak miskin jika pendapatan perkapita per bulan lebih dari atau sama dengan Rp 197.306. Konsumsi gizi adalah jumlah zat gizi (energi, protein, vitamin A, dan zat besi) yang dikonsumsi oleh contoh dan dinilai melalui metode semi kuantitatif food frequency quetionnaire. Tingkat konsumsi gizi adalah persentase dari perbandingan konsumsi dari rata- rata zat gizi (energi, protein, zat besi, dan vitamin A) terhadap kecukupan menurut umur berdasarkan WNPG (2004). Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh contoh dan dikategorikan menjadi tiga, yaitu dasar (tidak tamat SD dan tamat SD), menengah (SMP dan SMA), tinggi (diploma dan sarjana). Status gizi adalah keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat tubuh diukur dengan indeks massa tubuh (IMT) ibu sebelum hamil kemudian dikelompokkan menjadi kurang (<18.5), normal (18.5- 25.0), dan lebih (>25.0). Pengetahuan gizi adalah tingkat pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan gizi, makanan dan kesehatan yang diukur dengan nilai atas jawaban yang diajukan. Tingkat pengetahuan gizi dihitung dalam persentase serta dikategorikan menjadi tinggi, cukup, dan kurang. Sikap gizi adalah respon contoh terhadap pernyataan yang berhubungan dengan gizi, makanan dan kesehatan. Sikap gizi dihitung dalam persentase serta dikategorikan menjadi baik, sedang, dan kurang. Praktek gizi adalah tindakan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan gizi, makanan dan kesehatan. Praktek gizi dihitung dalam persentase serta dikategorikan menjadi baik, sedang, dan kurang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Daerah Penelitian Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan terletak di Propinsi DKI Jakarta. Kelurahan Kramat Jati merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur, sedangkan Kelurahan Ragunan merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Kotamadya Jakarta Selatan. Keadaan wilayah yang meliputi luas wilayah, batas wilayah, jumlah penduduk, jumlah ibu hamil, jumlah posyandu, jumlah kader dan jumlah keluarga miskin di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Keadaan wilayah Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan

Keadaan Wilayah

Kramat Jati

Ragunan

Luas (Ha)

Batas

Utara

Timur

Selatan

Barat

151.58

Jalan Cililitan Besar/Kelurahan Cililitan

Jalan Tol Jagorawi/Kelurahan Makasar, Kecamatan Makasar

Jalan Raya Pondok Gede/Kelurahan Rambutan, Kecamatan Pasar Rebo

Kalibaru/Kelurahan Batu Ampar dan Kelurahan Tengah.

Jumlah penduduk (orang)

28 651

Laki-laki (orang)

14 688

Perempuan (orang)

13 962

Jumlah puskesmas

2

Jumlah ibu hamil (orang)

150

Jumlah posyandu (buah)

12

Jumlah kader (orang)

112

Jumlah keluarga miskin (KK)

200

504.74

Jalan Pejaten Barat dan Jalan TB Simatupang Jalan Warung Buncit dan Jalan Margasatwa

Jalan Sagu dan Jalan Margasatwa Barat

Jalan Ampera Raya dan Jalan Cilandak KKO 36 798 18 928 17 870

1

224

29

120

152

Perbandingan jumlah puskesmas dengan jumlah penduduk adalah 1:10000. Jika dilihat dari jumlah penduduk yang terdapat di wilayah kerja puskesmas Kelurahan Kramat Jati maka perbandingan tersebut hampir sesuai, sedangkan untuk puskesmas Kelurahan Ragunan perbandingan jumlah puskesmas dengan jumlah penduduk adalah hampir tiga kali lebih besar. Perbandingan jumlah posyandu berdasarkan jumlah ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kramat Jati adalah 1:8, sedangkan di wilayah kerja Puskesmas

Ragunan adalah 1:13. Hal ini berarti keadaan posyandu dengan jumlah ibu hamil di wilayah Kramat Jati lebih baik daripada di wilayah Ragunan. Jumlah KK miskin pada Puskesmas Kramat Jati lebih besar dibandingkan dengan jumlah KK miskin pada Puskesmas Ragunan. Hal ini kemungkinan disebabkan Puskesmas Kramat Jati memiliki jumlah desa miskin lebih banyak dibandingkan dengan Puskesmas Ragunan. Kurang dari separuh (36.02%) penduduk Kelurahan Kramat Jati bekerja sebagai pegawai swasta. Pekerjaan penduduk lainnya yaitu buruh (17.07%), pedagang (13.18%), pegawai negeri (10.63%). Di Kelurahan Ragunan lebih dari separuh (54.3%) penduduk bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Pekerjaan penduduk lainnya adalah buruh (5%), karyawan swasta (5.4%), pedagang (5.4%), swasta lainnya (6.3%), dan pensiunan (20.2%).

Tabel 7 Keadaan tenaga kesehatan di Puskesmas Kramat Jati dan Ragunan

Keadaan tenaga

Puskesmas

Kramat Jati (Orang)

Ragunan (Orang)

Dokter umum

2

1

Dokter gigi

3

1

Bidan

3

2

Perawat kesehatan

5

3

Perawat gigi

1

0

Pelaksana gizi

1

2

Pelaksana sanitasi

2

1

Pelaksana farmasi

1

0

Tata usaha

1

1

Total

19

11

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa Puskesmas Kramat Jati maupun Puskesmas Ragunan memiliki jumlah tenaga/pegawai kesehatan sudah baik. Karena setiap puskesmas idealnya memiliki dokter umum, dokter gigi, petugas gizi, beberapa perawat, bidan, sanitarian, dan beberapa petugas kesehatan lainnya. Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan memiliki sarana yang bisa digunakan oleh masyarakat, diantaranya di bidang kesehatan dan pendidikan. Adanya sarana di bidang kesehatan diharapkan derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat. Sarana bidang kesehatan yang terdapat di Kelurahan Kramat Jati dan Ragunan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sarana bidang kesehatan di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan

Sarana bidang

kesehatan

Jumlah

Kramat Jati

Ragunan

Rumah sakit Puskesmas kelurahan Pos kesehatan Poliklinik Dokter praktek Apotek Balai pengobatan

2

-

2

1

2

-

-

2

5

6

8

3

3

2

Posyandu

12

26

Rumah bersalin

1

1

Klinik KB

1

2

Depo obat

-

5

Dukun bayi

-

1

Sarana bidang pendidikan di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan terdiri dari sarana pendidikan formal dan nonformal. Adanya sarana pendidikan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Sarana bidang pendidikan yang terdapat di Kelurahan Kramat Jati dan Ragunan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sarana bidang pendidikan di Kelurahan Kramat Jati dan Ragunan

Jumlah

 

Kramat Jati

Ragunan

Formal

Play group TK SD SMP SMA Akademi Unversitas Pusat kursus-kursus Kursus komputer Kursus menjahit Kursus kecantikan Kursus bahasa Kursus montir Kursus seni tari atau montir

-

1

10

2

25

17

5

2

5

2

-

3

-

3

Non-formal

2

-

10

2

3

1

2

-

-

2

-

1

-

1

Sarana bidang pendidikan

Karakteristik Ibu Hamil

Usia Ibu Hamil dan Suami Usia ibu hamil berkisar antara 20 tahun hingga 40 tahun. Sebagian besar (91%) ibu hamil tersebar antara usia 20-35 tahun. Hanya sebagian kecil (9%) ibu hamil yang memilliki risiko terhadap kehamilannya. Hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara usia ibu hamil di

Kelurahan Kramat jati dan Kelurahan Ragunan. Rata-rata usia ibu hamil di Kelurahan Kramat jati adalah 30 tahun. Rata-rata usia ibu hamil di Kelurahan Ragunan adalah 28 tahun. Kehamilan pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kehamilannya. Usia suami berkisar antara 21 tahun hingga 46 tahun. Proporsi terbesar (70%) usia suami tersebar antara usia 20-35 tahun. Rata-rata usia suami di Kelurahan Kramat Jati dan Kelurahan Ragunan adalah 34 tahun. Usia suami istri yang lebih tinggi kemungkinan mempunyai pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan yang lebih baik daripada suami istri dengan usia muda karena pengalaman dalam memperoleh pelayanan kesehatan, namun juga memiliki kemungkinan kekurangan informasi tentang pengetahuan gizi yang terbaru (Wolfe & Behrman 1982 diacu dalam Hardinsyah 2007). Usia dapat mempengaruhi cara berpikir, bertindak, dan emosi seseorang. Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan usia

Usia (th)

Kramat Jati

Ragunan

 

Total

n

%

n

%

n

%

Ibu hamil

20-35

43

86.0

48

96.0

91

91.0

>35

7

14.0

2

4.0

9

9.0

Total

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Rata-rata±sd

29.92±4.28

27.94±3.95

28.93±4.21

Suami

20-35

34

68.0

36

72.0

70

70.0

>35

16

32.0

14

28.0

30

30.0

Total

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Rata-rata±sd

34.02±5.64

33.44±4.70

33.93±5.18

Pendidikan Ibu Hamil dan Suami Pendidikan ibu hamil dan suami berdasarkan latar belakang pendidikan yang telah ditamatkan. Pendidikan ibu hamil berkisar antara tidak tamat SD hingga S2, sedangkan pendidikan suami berkisar antara SD hingga S1. Lebih dari separuh ibu hamil di Kelurahan Kramat Jati (68%) dan Kelurahan Ragunan (62%) memiliki jenjang pendidikan hingga SMP dan SMA. Lebih dari separuh (75%) suami di kedua wilayah memiliki jenjang pendidikan hingga SMP dan SMA.

Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pendidikan ibu merupakan faktor yang penting. Tinggi rendahnya

pendidikan ibu erat kaitannya dengan perawatan kesehatan, pemilihan makanan untuk keluarga, disamping faktor lainnya seperti pendapatan dan pekerjaan.

Tabel 11 Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan pendidikan

Pendidikan

Kramat Jati

Ragunan

Total

 

n

%

n

%

n

%

Ibu hamil Dasar (SD) Menengah (SMP dan SMA) Tinggi Total Suami Dasar (SD) Menengah (SMP dan SMA) Tinggi Total

10

20.0

9

18.0

19

19.0

34

68.0

31

62.0

65

65.0

6

12.0

10

20.0

16

16.0

50

100.0

50

100.0

100

100.0

8

16.0

8

16.0

16

16.0

39

78.0

36

72.0

75

75.0

3

6.0

6

12.0

9

9.0

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Pekerjaan Ibu Hamil dan Suami Pekerjaan ibu hamil dikategorikan menjadi tiga, yaitu pegawai negeri, swasta yang terdiri dari pegawai swasta dan wiraswasta, dan ibu rumah tangga. Sebagian besar (90%) ibu hamil bekerja sebagai ibu rumah tangga, baik di Kelurahan Kramat Jati maupun Kelurahan Ragunan. Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga memungkinkan pengalokasian waktu ibu untuk memperhatikan konsumsi dan kesehatan diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih besar. Status dan jenis pekerjaan ibu mempengaruhi ketersediaan waktu ibu untuk mengelola pangan. hal ini cenderung untuk menjadi determinan keragaman konsumsi pangan di rumah tangga (Hardinsyah 2007). Pekerjaan suami dikategorikan menjadi tiga, yaitu pegawai negeri, swasta yang terdiri dari pegawai swasta dan wiraswasta, dan lainnya. Sebagian besar (87%) suami berprofesi swasta, yaitu sebagai pegawai swasta (55%) dan berwiraswasta (32%). Di wilayah Kelurahan Kramat Jati hampir separuh suami berprofesi sebagai pegawai swasta (44%) dan berwiraswasta (36%). Sedangkan di wilayah Kelurahan Ragunan lebih dari separuh (66%) suami berprofesi

sebagai pegawai swasta dan kurang dari separuh (28%) suami berwiraswasta. Selain itu, ada (2%) suami yang tidak bekerja sehingga pendapatan keluarga diperoleh dari ibu hamil. Pekerjaan ibu hamil dan suami akan mempengaruhi pendapatan keluarga.

Tabel 12 Sebaran ibu hamil dan suami berdasarkan jenis pekerjaan

Kramat Jati

Ragunan

Total

 

n

%

n

%

n

%

Ibu hamil PNS Swasta Ibu rumah tangga Total Suami PNS Swasta Lainnya Total

1

2.0

0

0.0

1

1.0

6

12.0

3

6.0

9

9.0

43

86.0

47

94.0

90

90.0

50

100.0

50

100.0

100

100.0

6

12.0

3

6.0

9

9.0

40

80.0

47

94.0

87

87.0

4

8.0

0

0.0

4

4.0

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Pekerjaan

Pendapatan Pendapatan merupakan faktor penting bagi kuantitas dan kualitas makanan. Diharapkan dengan pendapatan yang tinggi dapat memberikan peluang yang besar dalam pemilihan makanan yang baik dalam jumlah dan jenisnya. Separuh (51%) pendapatan keluarga berkisar antara Rp 500.001,00 sampai Rp 1.000.000,00. Hanya sebagian kecil (13%) yang memiliki pendapatan keluarga di bawah Rp 500.000. Pendapatan perkapita per bulan berkisar antara Rp 50.000,00 sampai Rp 1.666.667,00 dengan rata-rata Rp 385.925,00. Berdasarkan batas kemiskinan yang ditetapkan BPS DKI Jakarta tahun 2004 yang sudah dikonversi dengan laju inflasi tahun 2004-2007, lebih dari separuh (68%) ibu hamil tergolong tidak miskin dengan pendapatan perkapita lebih dari Rp 214.817,00. Oleh karena itu dengan tingginya tingkat pendapatan diharapkan dapat memilih dan membeli pangan yang bermutu dan beragam dalam jumlah yang cukup. Sebaran ibu hamil berdasarkan kategori pendapatan perkapita keluarga disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran ibu hamil berdasarkan pendapatan perkapita

Pendapatan

Kramat Jati

Ragunan

Total

perkapita

n

%

n

%

n

%

(Rp)

Miskin (< 214.817) Tidak miskin

19

38.0

13

26.0

32

32.0

31

62.0

37

74.0

68

68.0

(>214.817)

Total

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Rata-rata±sd

339433.33 ± 255067.43

432416.67 ± 333995.78

385925.00 ± 299328.60

Besar keluarga Besarnya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pangan ibu hamil, idealnya keluarga mempunyai anggota maksimal empat orang. Menurut Hardinsyah (2007), besar keluarga mempunyai hubungan yang berkebalikan dengan keragaman konsumsi pangan, diduga besar keluarga merupakan determinan keragaman konsumsi pangan di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar (82%) jumlah anggota keluarga sebanyak kurang dari atau sama dengan 4 orang. Di wilayah Kramat Jati dan Ragunan, lebih dari separuh ibu hamil mempunyai besar keluarga kurang dari atau sama dengan 4 orang dengan persentase masing-masing sebanyak 76 persen dan 88 persen. Besar keluarga ibu hamil di wilayah Kramat Jati berkisar antara 3-8 orang, sedangkan di wilayah Ragunan berkisar antara 2- 10 orang. Rata-rata besar keluarga ibu hamil di kedua wilayah adalah 3.7±1.28 orang.

Tabel 14 Sebaran ibu hamil berdasarkan besar keluarga

Besar keluarga

Kramat Jati

Ragunan

Total

 

n

%

n

%

n

%

Kecil (4orang) Besar (> 4 orang) Total

38

76.0

44

88.0

82

82.0

12

24.0

6

12.0

18

18.0

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Usia Kehamilan Usia kehamilan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu trimester satu pada usia kehamilan 0-12 minggu, trimester dua pada usia kehamilan 13-24 minggu, dan trimester tiga pada usia kehamilan 25-37 minggu. Usia kehamilan ibu hamil

pada penelitian ini adalah 8-28 minggu. Secara keseluruhan, separuh (55%) ibu hamil berada pada kelompok trimester dua baik di wilayah Kramat Jati maupun Ragunan, yaitu masing-masing sebesar 56 persen dan 54 persen. Umur kehamilan ibu hamil yang paling sedikit di wilayah Kramat Jati berada pada kisaran 25-37 minggu yaitu sebanyak 16 persen, sedangkan di wilayah Ragunan sebanyak 22 persen umur kehamilan ibu hamil berada pada kisaran 0-12 minggu.

Tabel 15 Sebaran ibu hamil berdasarkan usia kehamilan

Usia

Kramat Jati

 

Ragunan

Total

kehamilan

n

%

n

%

n

%

Trimester 1

14

28.0

11

22.0

25

25.0

Trimester 2

28

56.0

27

54.0

55

55.0

Trimester 3

8

16.0

12

24.0

20

20.0

Total

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Indeks Massa Tubuh Lebih dari separuh (58%) ibu hamil memiliki IMT normal sebelum hamil dengan rata-rata 21.67±4.39. Di wilayah Kramat Jati dan wilayah Ragunan terdapat ibu dengan IMT sebelum hamil yang termasuk kategori kurang sebanyak 18 persen dan 32 persen. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari ibu hamil agar memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. Diharapkan terjadi peningkatan status gizi ibu hamil karena akan mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungannya. Ibu hamil perlu mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam dan porsi yang lebih besar serta sering agar kecukupan gizinya terpenuhi. Status gizi seseorang dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu cukup lama. Status gizi ibu sebelum dan selama hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungannya. Apabila status gizi ibu buruk sebelum dan selama kehamilan akan menyebabkan beberapa akibat yang fatal bagi bayi. Akibatnya antara lain BBLR, terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terinfeksi, abortus dan lain-lain (Supariasa et al. 2001).

Tabel 16 Sebaran ibu hamil berdasarkan IMT sebelum hamil

IMT

Kramat Jati

Ragunan

Total

n

%

n

%

n

%

Kurang (<18.5)

9

18.0

16

32.0

25

25.0

Normal (18.5-25.0)

30

60.0

28

56.0

58

58.0

Lebih (>25.0)

11

22.0

6

12.0

17

17.0

Total

50

100.0

50

100.0

100

100.0

Rata-rata±sd

22.19±4.8

21.15±3.9

21.67±4.39

Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pengetahuan gizi ibu hamil diketahui berdasarkan skor dari daftar pertanyaan yang diajukan, kemudian diubah dalam bentuk persen. Pengetahuan gizi yang diteliti meliputi makanan sehat bagi ibu hamil, porsi makan ibu hamil, penyebab dan gejala terjadinya anemia, makanan sumber zat gizi, dampak kekurangan zat besi selama kehamilan, pertambahan berat badan selama kehamilan, jarak kelahiran, risiko bayi lahir tidak cukup bulan, minimal berat badan bayi lahir yang sehat, serta perawatan payudara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor pengetahuan gizi ibu hamil berkisar antara 5-35 dari selang skor minimum 0 dan skor maksimum 35 dengan skor rata-rata 24.3. Ibu hamil di Kelurahan Kramat Jati (48%) dan Kelurahan Ragunan (56%) memiliki skor pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori cukup. Secara keseluruhan, ibu hamil dengan tingkat pengetahuan gizi tinggi sebanyak 22 persen dan ibu hamil dengan tingkat pengetahuan gizi rendah sebanyak 26 persen. Menurut Soeharjo (1989), pengetahuan gizi merupakan salah satu faktor penyebab yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan. Hal ini sejalan dengan Hardinsyah (2007), perilaku atau kebiasaan makan yang baik merupakan cerminan dari tingkat pengetahuan gizi yang baik. Sebaran ibu hamil berdasarkan pengetahuan gizi dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Sebaran ibu hamil berdasarkan tingkat pengetahuan gizi

Tingkat pengetahuan gizi

Kramat Jati

 

Ragunan

Total

n

%

n

%

n

%

Tinggi

11

22.0