Anda di halaman 1dari 6

I.

Pendahuluan
Pasir kuarsa (quartz sands) merupakan pelapukan dari batuan beku asam seperti batu granit, gneiss atau
batu beku lainnya yang mengandung mineral utama kuarsa. Hasil pelapukan ini kemudian mengalami
proses sedimentasi, terbawa air atau angin kemudian diendapkan di tepi-tepi sungai, danau atau pantai.
Karena jumlahnya yang cukup besar dan terlihat memutih di sepanjang tepi sungai, danau atau pantai
tersebut, maka di Indonesia lebih dikenal dengan nama pasir putih.
Kualitas pasir kuarsa di Indonesia cukup bervariasi, tergantung pada proses genesa dan pengaruh
mineral pengotor yang ikut terbentuk saat proses sedimentasi. Material pengotor ini bersifat sebagai
pemberi warna pada pasir kuarsa, dan dari warna tersebut prosentase derajat kemurnian dapat
diperkirakan. Butiran yang mengandung banyak senyawa oksida besi akan terlihat berwarna kuning,
kandungan unsur aluminium dan titan secara visual akan lebih jernih, dan kandungan unsur kalsium,
magnesium dan kalium cenderung membentuk warna kemerahan.
Di Alam, pasir kuarsa ditemukan dengan ukuran butir, mulai fraksi yang halus (< 0,06 mm) apabila
terdapat jauh dari batuan induk, sedangkan ukuran kasar (> 2mm) terletak tidak jauh dari batuan induk.
Pasir kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung
mineral utama, seperti kuarsa dan feldspar. Hasil pelapukan kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau
angin yang terendapkan di tepi-tepi sungai, danau atau laut.
Pasir kuarsa di Indonesia lebih dikenal dengan nama pasir putih karena terdiri dari yang berwarna putih.
Pasir kuarsa adalah endapan letakan (placer/aluvial) terjadi dari hasil pelapukan batuan yang banyak
mengandung mineral-mineral kuarsa (SiO2) selanjutnya mengalami transportasi alam, terbawa oleh
media trasportasi (air/es) yang kemudian terendapkan dan terakmulasi di cekungan-cekungan (danau,
pantai dan lain-lain). Kristal kuarsa yang asli di alam karena kekerasannya, tahan terhadap asam maupun
basa.
Sebagai endapan letakan (placer) pasir kuarsa dapat berupa material-material yang lepas-lepas sebagai
pasir, dan dapat pula terus mengalami suatu proses selanjutnya ialah terkonsolidasi menjadi batupasir
dengan kandungan silika yang tinggi, misalnya protokuarsit (75- 95 % kuarsa) dan orthokuarsit (>95 %
kuarsa)
Pasir kuarsa letakan di Banten merupakan pasir kuarsa lepas yang umumnya berasosiasi dengan
endapan aluvial. Pasir kuarsa jenis ini karena rombakan batuan asal seperti granit, granodiorit dan dasit,
atau batupasir kuarsa yamg berumur lebih tua.

II. PERTAMBANGAN

2.1. Eksplorasi
Untuk mengetahui potensi serta kualitas cadangan pasir kuarsa dilakukan kegiatan eksplorasi yang
meliputi proses pemetaan udara, pemetaan topografi, pemetaan geologi, penyelidikan geofisika serta
dilanjutkan dengan pemboran atau dengan sumur uji. Metode geofisika yang tepat untuk endapan pasir
kuarsa ini umumnya menggunakan cara tahanan jenis, karena kondisi endapan pasir kuarsa relatif
homogen dan cenderung sejajar dengan permukaan.
Kualitas dan cadangan didasarkan kepada pengambilan contoh pasir kuarsa melalui pemboran atau
dengan sumur uji. Bila sudah diketahui tebal dan luas cadangan pasir kuarsa ini, maka akan dapat
diprediksi besar potensi cadangannya. Proses perhitungan cadangan ini dapat dilakukan dengan metode
Inverse Distance Square (IDS) atau dengan dihitung secara kasar dengan mengalikan luas dengan tebal
lapisan.
Pada saat ini perangkat lunak untuk perhitungan tersebut cukup banyak ditemukan di pasaran seperti
menggunakan perangkat lunak Surfer, Surpac, Datamine atau micromine.
Setelah diketahui besarnya cadangan, maka dilanjutkan dengan uji laboratorium untuk mengetahui
kualitas pasir kuarsa pada daerah tersebut. Bila sudah tahu informasi semuanya, maka dapat dilakukan
perhitungan dan analisis untuk mengetahui prospek dan pemanfaatan yang sesuai dari cadangan
tersebut.

2.2. Penambangan
Secara umum, penambangan pasir kuarsa, yaitu dengan cara tambang terbuka dengan cara kering dan
cara basah menggunakan monitor (hydraulic mine). Pemilihan metode bergantung kepada proses
pengolahan, dan letak sebaran endapan.
Tahap kegiatan penambangan meliputi pengupasan lapisan tanah penutup (land clearing) dilanjutkan
dengan kegiatan penggalian pasir kuarsa, pemuatan.
a. Pengupasan (Stripping)
Tujuan pengupasan lapisan tanah penutup adalah untuk mengurangi kotoran (dilution), ketika akan
dilakukan proses penambangan. Biasanya lapisan tanah penutup terdiri dari semak belukar dan lapisan
lempung (soil).
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini berupa pembersihan terhadap semak belukar dengan
menggunakan alat manual (cangkul, singkup, belincong, dan lain-lain), ataupun alat mekanis (bulldoser
yang dilengkapi garu tunggal/ ganda, penggaruan (scrapper), shovel, dan lain-lain). Pemilihan alat
tergantung kepada kondisi lapangan dan tingkat produksi penambangan.
Peralatan yang dipakai dengan peralatan mekanis meliputi proses penggaruan, pendorongan dan
pengumpulan material tanah penutup yang akan dimanfaatkan pada saat proses back filling (reklamasi)
untuk menutup kembali lahan yang telah ditambang.
a. Pengambilan pasir kuarsa
Karena bahan galian ini bersifat material lepas, maka sistem penambangan yang dipakai dapat dengan
cara kering maupun basah. Pengambilan dengan cara kering yaitu menggunakan buldoser atau power
shovel, kemudian ditimbun dan diangkut memakai dumptruck.
Pengambilan pasir kuarsa dengan cara basah dilakukan penyemprotan dengan monitor. Campuran air
dan pasir kuarsa (slurry) dipompakan ke penampungan (stockpile) lalu diangkut ke instalasi pengolahan
atau langsung dijual ke pasaran.
b. Pemuatan dan Pengangkutan
Pengangkutan hasil tambang dari area tambang ke unit pengolahan atau penampungan menggunakan
alat muat excavator (back hoe), power shovel atau wheel loader. Alat angkut yang digunakan adalah
dump truck, atau dengan cara slurry dipompakan melalui pipa paralon langsung ke kapal.

2.3. Pengolahan
Proses pengolahan pasir kuarsa tergantung kepada kegunaan serta persyaratan yang dibutuhkan baik
sebagai bahan baku maupun untuk langsung digunakan. Untuk mem-peroleh spesifikasi yang
dibutuhkan dilakukan upaya pencucian untuk menghilangkan senyawa pengotor.
Untuk beberapa penggunaan kadang pasir kuarsa dilakukan pengolahan untuk membentuk butiran pasir
menjadi bundar. Selain itu, untuk mendapatkan ukuran yang halus diperlukan penggilingan, misal untuk
industri gelas.

III. KEGUNAAN DAN SPESIFIKASI

3.1. Kegunaan
Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai
bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama, misalnya digunakan dalam
industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit
(ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri
perminyakan dan per-tambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya.

Industri Pertambangan dan Perminyakan
Pemanfaatan pasir kuarsa pada industri pertambangan dan perminyakan (pemboran) adalah sebagai
filter yang lebih dikenal dengan istilah gravel pack sand (GPS). Ukuran kekuatan pasir kuarsa ditentukan
oleh uji resistansi parameter kekuatan yang ditentukan berdasarkan kedalaman pemboran dan tekanan
yang akan diderita oleh pasirkuarsa tersebut. Persyaratan ukuran pasir kuarsa yang memenuhi standar
untuk dipakai sebagai GPS.
Persyaratan lain yang dibutuhkan untuk GPS adalah Sphericity dan Roundnes. Secara umum, apabila
bentuk butir pasir kuarsa mendekati bulat dan tidak memiliki sudut harga pasir kuarsa tersebut semakin
tinggi. GPS pada Industri Penambangan dan Perminyakan dimanfaatkan sebagai penahan material-
material yang dapat menyumbat alat saring yang dipasang pada selubung atau pipa pemboran.
Disamping itu, GPS berfungsi untuk memperbesar permeabelitas formasi, sehingga aliran air atau
minyak dari formasi yang semula berbentuk radial bertekanan tinggi menjadi linier yang bertekanan
rendah . GPS ini ditempatkan antara alat saring dengan dinding sumu.

Industri Semen
Pasir kuarsa pada pembuatan semen berfungsi sebagai pelengkap kandungan silika dalam semen yang
dihasilkan. Kandungan silika untuk pabrik semen berkisar 21,3% SiO2. Apabila komposisi SiO2 belum
tercapai ditambahkan pasir kuarsa. Pemakain pasir kuarsa di industri ini bervariasi tergantung
kandungan silika bahan baku lainnya, biasanya berkisar antara 6 - 7 %.

lndustri Keramik
Pada industri keramik, pasir kuarsa merupakan pembentuk badan keramik bersama dengan bahan baku
lain, seperti kaolin, lempung, felspar, dan bahan pewarna. Pasir kuarsa ini umumnya pembentuk sifat
glazur pada badan keramik, sehingga berbentuk licin dan mudah untuk dibersihkan. Selain itu, pasir
kuarsa mempunyai sifat sebagai bahan pengurus yang dapat mempermudah proses pengeringan,
pengontrolan, penyusutan, dan memberi kerangka pada badan keramik. Bahan keramik terdiri atas
bahan anorganik bukan logam berfasa kristalin dan campuran logam yang proses produksinya
memerlukan adanya pemanasan suhu tinggi. Berdasarkan fungsi dan strukturnya, keramik yang
dihasilkan dibagi menjadi dua tipe, yaitu cara konvensional dan modern.
Secara umum, cara konvensional menggunakan bahan-bahan alam dari fasa amorf setelah pengolahan
dan ada juga tanpa pengolahan. Ada dua golongan industri yang termasuk keramik konvensional, yaitu
lndustri keramik berat yang terdiri atas industri semen, mortar, refraktori, abrasif, dan industri khusus
dan lndustri keramik halus, yaitu gerabah/keramik hias, ubin lantai dan dinding, saniter, peralatan
makan-minum (table ware), isolator listrik, alat dapur, keramik teknik, lampu pijar, botol dan gelas.
Industri keramik maju biasanya menggunakan bahan baku artifisial murni yang mempunyai fasa
kristalin. Produk keramik maju yang dipasarkan di dunia, antara lain jenis zirkonia dan sialon di industri
otomotif (blok mesin, gear), mata pisau dan gunting, barium titanat pada industri elek-tronika
(kapasitor, resistor), keramik nir-oksida (zirkon nitrida, magnesium nitrida, silikon karbida, silikon nitrida)
digunakan untuk high technology kiln furniture, cutting tools, komponen mesin, alat ekstraksi dan
pengolahan logam dan fibre optic di industri telekomunikasi, gedung pencakar langit, penerangan, dan
tenaga surya.
Secara umum, bagian badan keramik terdiri atas dua bagian, yaitu badan yang memberi bentuk
kekuatan, dan sebagai penutup badan (glazuur) sehingga tampak lebih indah dan, menarik, serta mudah
dibersihkan. Pasir kuarsa merupakan bagian yang membentuk glazuur.
Persentase penggunaan pasir kuarsa dalam keramik tergantung dari jenis dan kegunaan produktannya.
Pasir kuarsa memiliki peran penting sebagai pembentuk badan keramik karena mempunyai fungsi
sebagai pengontrol pada saat proses sebelum dan sesudah pembakaran. Sebagai fungsi kontrol, pasir
kuarsa harus memenuhi persyaratan standar.

Bahan Persentase Pasir Kuarsa (%)
Semi Porselin 10 - 20
Bone China 3 - 14
Porselin Pemakai Lokal Hotel Barang Tahan Panas 20,7 - 32,2 19,6 - 27,0 12,3 - 23,0
Saniter Eropa Amerika 30 25
Stone Ware Eropa Amerika 30 25
Sumber : Kajian Keramik, PPTM, 1994

Industri Gelas dan Kaca
Proses akhir pengolahan pasir kuarsa menjadi gelas dan kaca, yaitu dengan jalan meleburkannya
bersama bahan-bahan lain seperti soda dan kapur dalam tungku peleburan. Sebagai bahan pembentuk
gelas kontribusi silica (SiO2) sangat dominan. Unsur lain seperti soda (Na2O) dimanfaatkan dalam proses
pencairan, sedangkan kapur (CaO dan MgO) berfungsi sebagai stabilisator ketika proses pencairan dan
pembentukan kembali gelas dan kaca tersebut. Biasanya, pada saat pengolahan ditambahkan belerang
untuk membantu pelunakan gelas ketika dicairkan. Untuk proses pembuatan gelas yang berkualitas
tinggi perlu ditambahkan aluminium oksida (Al2O3) dan B2O3 untuk menambah ketahanan gelas.
Sebagai bahan pewarna, pada saat pengolahan ditambahkan juga dengan oksida-oksida lain seperti besi,
kobal, khrom, tembaga dan nikel.
Persyaratan pasir kuarsa untuk industri gelas dan kaca mutlak diperlukan terutama komposisi kimia dan
distribusi ukuran butir. Komposisi kimia tersebut tergantung dari jenis gelas yang akan dibuat serta
harus dapat menjamin syarat kemurnian minimum, juga pembatasan pada pengotor yang
mempengaruhi kandungan pasir kuarsa yang akan dipakai, karena pengotor yang tidak diinginkan akan
mengganggu proses pengolahannya. misalnya ketika yang diinginkan adalah kaca atau gelas yang
bening, maka besarnya oksida besi akan mengganggu terbentuknya warna bening dari hasil
produksinya. Oleh karena itu untuk mendapatkan kaca putih dan bening, dibutuhkan kandungan oksida
logam yang rendah dan kemurnian silika yang tinggi.
Persyaratan dan standar umum yang biasa digunakan perusahaan gelas dan kaca untuk membeli pasir
kuarsa diperlihatkan.
Beberapa perusahaan industri gelas membuat klasifikasi pasir kuarsa menjadi dua jenis komposisi yaitu
pasir putih dan pasir kuning dengan komposisi.
Proses peleburan pasir kuarsa merupakan proses perubahan berbagai bahan baku menjadi adonan cair
yang homogen, sehingga ukuran fraksi menjadi sangat penting. Persyaratan British Standard Screens
untuk pasir putih adalah mesh +28 maksimal 2%, +35 maksimal 10% dan -150 maksimal 1%. Sementara
pasir kuning adalah mesh +25 maksimal 2%, +36 maksimal 10% dan -150 maksimal 1%.
Khusus bidang arsitektur bangunan, penggunaan kaca sebagai pelengkap utama dalam menata disain
interior dan eksterior sudah sangat meluas, yaitu kaca bangunan, kaca balok, kaca gelombang,
keperluan kombinasi sinar laser dan difusi, gelas fiber pengatur sound systems pada gedung
pertunjukan, binokuler (melihat jelas objek pandang), kaca mata dan lain sebagainya. Untuk
menghasilkan kaca berkualitas diperlukan pengolahan yang berteknologi tinggi.
Berdasarkan bentuk dan kegunaan, kaca lembaran dibedakan menjadi dua jenis, yaitu jenis polos atau
bening dan jenis berpola.
Sekarang, kedua jenis ini sudah dikembangkan dengan teknologi maju karena banyak permintaan di
pasaran. Jenis kaca polos dilakukan dengan proses pengambangan cairan kaca di atas cairan logam. Sifat
istimewa kaca polos memiliki permukaan yang rata di dua sisi, sejajar sempurna, dan bebas distorsi, baik
untuk bayangan langsung maupun pantul, benda yang ada dibalik kaca akan terlihat terang dan jernih
karena kaca ini bersifat transparansi dan transmitansi tinggi, permukaan lebih berkilau daripada kaca
plat poles karena dipoles dengan api, tebal kaca dapat sampai 19 mm dengan dimensi lebih besar
sehingga memudahkan perencanaan dinding kaca yang besar. Biasanya, kaca polos dipakai dalam
pekerjaan disain interior dan eksterior rumah, pusat perbelanjaan, perkantoran, etalase took dan lain
sebagainya.
Kaca berpola merupakan kaca yang proses pembuatannya dilakukan dengan membubuhkan zat warna
berupa senyawa oksida logam ke dalam cairan kaca yang sedang diproses. Keuntungan penggunaan
kaca berpola ini dapat mengurangi panas dan cahaya yang menyilaukan, serta mempunyai daya tembus
pandang rendah sekali yang memberi rasa nyaman bagi yang ada di dalam ruangan. Kaca jenis ini sangat
bermanfaat untuk disain interior dan eksterior rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan dan lain
sebagainya.
Selain itu, beberapa jenis kaca dibuat secara khusus, seperti kaca tanpa pantul yang bisanya digunakan
untuk industri optikal dan laboratorium, kaca tahan kimia untuk industri kemasan botol dan obat-
obatan, dan berbagai jenis kaca yang diproses berteknologi tinggi seperti untuk industri pesawat
terbang, pemotongan optis dan lain sebagainya.
Industri Pengecoran dan Bata Tahan Api
Pemanfaatan pasir kuarsa dalam industri pengecoran, karena memiliki titik leleh lebih tinggi dari logam.
Fungsi pasir kuarsa di industri ini adalah sebagai pasir cetak dan foundry. Kondisi pasir kuarsa untuk
pasir cetak perlu kriteria khusus, seperti penyebaran dan kehalusan butir, bentuk butir, bulk density,
base permeability dan titik mensinter, kadar lempung, tempering water, kuat tekan, kuat geser, dan
permeabilitas.
Pasir kuarsa pada industri bata tahan api dipakai untuk pembentuk konstruksi bata.
lndustri manufaktur Lainnya
Pemakaian pasir kuarsa pada industri lainnya, yaitu sebagai bahan pengeras pada pengolahan karet,
bahan pengisi (industri cat), bahan ampelas (industri gerinda), bahan penghilang karat (industri logam),
bahan penyaring (industri penjernihan air), bahan baku dalam pembuatan ferro silicon carbide, dan
lainnya, seperti dalam indutri microchip (elektronika).