Anda di halaman 1dari 6

Nama : Mutiara Zahroh

NPM : 1306394000
FH UI 2013 Paralel
Tugas Asas-asas Hukum Pidana, Analisis Kasus

Sumber : www.megapolitan.kompas.com , http://lipsus.kompas.com/

A. KASUS POSISI
Kasus pembunuhan terhadap mahasiswi Bina Nusantara, Livia Pavita Soelistio
(20), yang diketahui menghilang sejak Selasa, 16 Agustus 2011, pada waktu
pulang kuliah dan meninggalkan kampusnya menaiki Mikrolet M24 jurusan
Srengseng-Slipi.
Keesokan harinya, 17 Agustus 2011, orangtua Livia melaporkan hilangnya anak
mereka ke Polsek Metro Kebon Jeruk. Pada 21 Agustus 2011. mayat perempuan
tak beridentitas ditemukan penggembala kambing di selokan sedalam 2 meter
dalam kondisi membusuk. Lokasi berada di wilayah Cisauk, Tangerang.
Keluarga meyakini mayat itu merupakan Livia karena terdapat liontin kalung, rok,
dan baju kemeja putih yang sama. Diduga awalnya korban hanya diincar untuk
dirampas barang-barangnya. Lalu setelah korban dicekik hingga tak sadarkan diri
dan diduga tewas, beberapa orang melalukan pemerkosaan.
Dugaan Livia merupakan korban pemerkosaan muncul karena saat ditemukan rok
Livia sudah melorot hingga selutut.Hasil visum juga menguatkan dugaan itu
karena kondisi dubur rusak dan ada cairan sperma di tubuh Livia.Polisi juga
menemukan tali jerat yang diduga telah dipersiapkan oleh pelaku bila korban
berontak.
Pencarian pelaku terus dilakukan oleh kepolisian sejak diterimanya laporan.
Namun, polisi baru dapat menangkap pelaku sejak tanggal 25-30 Agustus 2011.
Pelaku merupakan Ap dan MF yang melakukan pemerkosaan serta pencurian
dengan kekerasan, RH dan IN yang juga melakukan curas, serta SR dan AB yang
melakukan penadahan barang yang dicuri.

B. KEBERLAKUAN HUKUM PIDANA

1. TEMPUS DELICTI
Tempus delicti biasanya digunakan untuk menentukan waktu terjadinya tindak
pidana. Tempus delicti penting untuk diketahui karena :
a. Berkaitan dengan Asas Legalitas Pasal 1 ayat (1) KUHP, mengenai
keberadaan peraturan yang mengaturnya ketika delik tersebut dilakukan.
b. Berkaitan dengan Pasal 1 ayat (2) KUHP, mengenai penggunaan UU
apabila adanya perubahan peraturan.
c. Daluwarsa (Pasal 78-85 KUHP), mengenai kapan seseorang dapat dituntut,
karena tidak selamanya seseorang dapat dituntut.
d. Kaitannya dengan umur sang pelaku

Teori Tempus Delicti
a. Teori perbuatan fisik
Delik dinyatakan terjadi ketika perbuatan dilakukan. Pada kasus ini,
perampasan barang dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2011.
b. Teori bekerjanya alat yang digunakan
Delik dinyatakan terjadi berdasarkan pada waktu bekerjanya alat yang
digunakan. Dalam kasus ini, tali jerat dan sweater untuk menyekap korban,
bekerja pada tanggal 16 Agustus 2011.
c. Teori akibat
Delik dinyatakan telah selesai apabila muncul akibat dari perbuatan yang
dilakukan. Pada kasus ini, akibat yang muncul adalah kematian korban pada
tanggal 16 Agustus 2011.
d. Teori waktu yang jamak
Teori ini menyatakan bahwa terjadinya delik pada saat gabungan antara 3
waktu tersebut.

2. LOCUS DELICTI
Locus delicti biasanya digunakan untuk menentukan tempat atau lokasi terjadinya
tindak pidana. Locus delicti penting untuk diketahui karena :
a. Berkaitan dengan hukum pidana yang akan diberlakukan (berkaitan dengan
asas-asas keberlakuan hukum pidana)
b. Kompentensi relatif pengadilan

Teori Locus Delicti
a. Teori perbuatan fisik
Delik dinyatakan terjadi dimana perbuatan fisik dilakukan. Pada kasus ini,
perampasan barang dilakukan di Mikrolet M24 jurusan Srengseng-Slipi.
b. Teori bekerjanya alat yang digunakan
Delik dinyatakan terjadi berdasarkan dimana bekerjanya alat yang
digunakan. Dalam kasus ini, tali jerat dan sweater untuk menyekap korban, di
Mikrolet M24 jurusan Srengseng-Slipi.
c. Teori akibat
Delik dinyatakan telah selesai apabila muncul akibat dari perbuatan yang
dilakukan. Pada kasus ini, akibat yang muncul adalah kematian korban, di
Mikrolet M24 jurusan Srengseng-Slipi.
d. Teori tempat yang jamak
Teori ini menyatakan bahwa terjadinya delik pada saat gabungan antara 3
waktu tersebut. Pada kasus ini, semua tindakan dilakukan di Mikrolet M24
jurusan Srengseng-Slipi, kecuali pembuangan mayat Livia yang kemudian
ditemukan di Cisauk, Tangerang.

C. ASAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA
Berdasarkan kasus diatas, yang dilakukan di Indonesia, maka asas yang digunakan
adalah asas teritorial, dimana berlakunya hukum pidana didasarkan pada tempat
terjadinya perbuatan. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam Pasal 2
KUHP yang berbunyi Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia
berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia.
Oleh karena itu, setiap perbuatan pidana yang dilakukan di Indonesia, baik pelaku
merupakan warga negara Indonesia maupun warga negara asing, dapat
diberlakukan hukum pidana Indonesia.

D. PASAL YANG DIKENAKAN
Pasal 340 KUHP yang berbunyi Barangsiapa sengaja dan dengan rencana
terlebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan
rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun
Pasal 365 ayat (3) KUHP tentang pencurian yang berbunyi Jika perbuatan
mengakibatkan mati, maka dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun
Pasal 480 KUHP yang berbunyi Diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah karena penadahan.

E. PENGURAIAN UNSUR PASAL
Unsur dalam Pasal 340 KUHP :
Barangsiapa // Dengan sengaja // Dengan rencana terlebih dahulu // merampas
nyawa orang lain
1. Barangsiapa
Unsur barangsiapa adalah subyek hukum yang melakukan tindak pidana
dan dapat dimintai pertanggungjawaban, karena tidak memiliki dasar
pembenar ataupun dasar pemaaf atas perbuatannya.
Dalam kasus ini terdapat beberapa orang yang menjadi pelaku tindak
pidana yang dilakukan kepada Livia, yaitu AP, MF, RH, IN, SR, dan MF.
Maka unsur barangsiapa dalam pasal ini terpenuhi.
2. Dengan sengaja
Unsur dengan sengaja berdasarkan Memori van Toelichting (MvT) adalah
willens en wetens yaitu pelaku menghendaki tujuan yang diinginkan dan
mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukan dapat menyebabkan akibat
atau mencapai tujuan utamanya.
Ada 3 bentuk kesengajaan :
a) Kesengajaan sebagai tujuan (opzet als oogmerk): kesengajaan yang
dilakukan oleh si pelaku untuk mencapai tujuan utamanya dan dengan
kata lain bahwa si pelaku sudah menghendaki akibat tersebut serta
akibat tersebut merupakan tujuan utamanya.
b) Kesengajaan dengan keinsyafan kepastian (opzet bij zekerheids
bewutzijn): kesengajaan yang dilakukan oleh si pelaku untuk mencapai
tujuan utamanya dimana si pelaku menyadari bahwa dengan
dilakukannya perbuatan tersebut akan menimbulkan akibat lain demi
tercapainya tujuan utamanya, maka akibat lain yang muncul tersebut
tidaklah menjadi penghalang bahkan diambilnya sebagai resiko untuk
mencapai tujuan utama.
c) Kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (opzet bij
mogelijkheids bewutzijn): kesengajaan yang dilakukan oleh si pelaku
untuk mencapai tujuan utamanya dimana si pelaku secara sadar
menginsyafi perbuatannya, namun mungkin saja dengan
perbuatannya tersebut akan timbul suatu akibat lain.
Dalam kasus ini, unsur dengan sengaja termasuk dalam kesengajaan
dengan keinsyafan kemungkinan. Karena pelaku mengetahui bahwa tujuan
utamanya adalah ingin merampas harta milik Livia. Tetapi ternyata dalam
melakukan perampasan harta tersebut, pelaku juga dengan sengaja
membunuh Livia yang memberontak dengan mengikat tali jerat dan
menyekap Livia menggunakan sweaternya, sehingga menyebabkan Livia
meninggal. Dengan demikian, unsur dengan sengaja terpenuhi.
3. Dengan rencana terlebih dahulu
Unsur direncanakan terlebih dahulu (voorbedacbte rade) maksudnya adalah
adanya tempo antar timbulnya maksud untuk membunuh dengan
pelaksanaannya, untuk memikirkan cara tujuan utamanya dilakukan.
Dalam kasus ini, para pelaku telah menyiapkan tali jerat yang digunakan
untuk mengikat sasaran korban yang memberontak. Maka berdasarkan
pasal ini, unsur dengan rencana terlebih dahulu terpenuhi.
4. Merampas nyawa orang lain
Dalam pasal ini, dapat diketahui bahwa pasal 340 merupakan delik materiil
yang memiliki akibat dari suartu perbuatannya. Maka dalam pasal ini
akibatnya adalah terampasnya nyawa orang lain. Unsur menghilangkan
nyawa orang lain dapat diartikan dengan berhentinya detak jantung
manusia.
Dalam kasus ini, nyawa Livia terampas akibat tindakan para pelaku.
Sehingga unsur ini terpenuhi.

Unsur dalam Pasal 365 ayat (3) KUHP :
Perbuatan // Mengakibatkan Mati
1. Perbuatan
Unsur perbuatan yang dimaksudkan disini adalah perbuatan mencuri yang
dilakukan disertai dengan kekerasan.
Dalam kasus ini pelaku tindak pidana melakukan perbuatan pidana yang
bermaksud untuk merampas nyawa Livia dengan melakukan tindakan
kekerasan.
2. Mengakibatkan mati
Unsur ini mirip dengan merampas nyawa orang lain.
Dalam kasus ini, matinya Livia diakibatkan oleh tindakan kekerasan yang
dilakukan oleh para pelaku tindak pidana. Maka dalam kasus ini unsur
pasal tersebut telah terpenuhi.

Unsur dalam Pasal 480 KUHP :
Penadahan
Unsur penadahan yang dimaksud dalam pasal ini adalah para pihak yang bersedia
menyimpan barang curian yang dirampas dari Livia.
Dalam kasus ini, yang melakukan penadahan adalah SR dan AB. Maka unsur
penadahan dalam pasal ini terpenuhi.

F. PERUMUSAN TINDAK PIDANA
Perumusan tindak pidana dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :
1. Disebutkan unsur dan kualifikasinya
2. Disebutkan kualifikasinya tanpa disebut unsurnya
3. Disebutkan unsurnya tanpa disebut kualifikasinya
Pasal 340 KUHP merumuskan unsur dan kualifikasinya. Unsurnya berupa
perbuatan aktif, yaitu merampas nyawa orang lain dan kualifikasinya yaitu
pembunuhan.
Pasal 365 ayat (3) KUHP merumuskan hanya disebutkan unsurnya tanpa disebut
kualifikasinya. Unsurnya berupa perbuatan yang mengakibatkan mati.
Pasal 480 KUHP merumuskan hanya disebutkan kualifikasinya tanpa disebut
unsurnya. Kualifikasinya berupa penadahan.

G. TEORI KAUSALITAS
a. Teori Von Buri (Teori Conditio Sine Quanon / Ekuivalensi)
Dalam teori ini Von Buri menyatakan bahwa semua faktor merupakan
syarat yang menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari
rangkaian faktor-faktor lain. Dengan kata lain semua faktor memiliki
nilai yang sama.
Oleh sebab itu dalam kasus ini, penyebab kematian Livia dimulai dari
- Livia berangkat ke kampus untuk ujian
- Livia meninggalkan kampus dengan mikrolet M24 jurusan Srengseng-
Slipi
- Pelaku melakukan perampasan barang Livia
- Livia memberontak
- Pelaku menjerat Livia dengan tali penjerat dan membekapnya dengan
sweater
- Pelaku memperkosa Livia
- Livia tidak dapat dihubungi
- Mayat Livia ditemukan di dalam selokan dengan kondisi membusuk
b. Teori Von Kries (Teori Adequat)
Von Kries dalam teori ini menyatakan bahwa dari semua syarat yang ada,
terdapat satu faktor yang dapat dijadikan penyebab, yaitu faktor yang
sesuai/sesimbang dengan terjadinya akibat.
Dalam kasus ini, meninggalnya Livia, yang apabila dikaitkan oleh teori
Von Kries maka penyebabnya adalah ketika pelaku mengeluarkan tali jerat
yang telah dipersiapkan olehnya untuk menjerat korban apabila korban
memberontak.
c. Teori Rumelin (Teori Objective Prognose)
Teori yang biasa disebut dengan teori keseimbangan objektif ini berisi
bahwa satu faktor yang secara umum dapat diterima dengan logika secar
objektif yang menentukan bahwa faktor tersebut ada dalam delik yang
dilakukan.
Dalam kasus ini, pelaku melakukan perampasan barang Livia.