Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH

PERKEMBANGAN
BAHASA ARAB


NAMA : AJI PRASTIYO
KELAS : X1S4/02
REMIDI UTS BAHASA ARAB


SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA
ARAB

Orang Arab sangat mencintai bahasa Arab hingga tingkat mensakralkan. Mereka
memandang otoritas yang ada dalam bahasa Arab tidak hanya mengekspresikan kekuatan
bahasa, tetapi juga kekuatan mereka. Mengapa demikian? sebab hanya orang Arab yang mampu
menguasai bahasa ini dan menaikkannya sampai tingkat ekspresi Bayani yang membedakan
mereka dari yang lain. Dari sebab ini tidaklah heran kalau bahasa Arab kaya akan kosakata
terutama pada konsep-konsep yang berkenaan dengan kebudayaan dan kehidupan mereka sehari-
hari. Kata Unta, Kuda, Pasir, Kurma dan Tenda, misalnya, memiliki puluhan bahkan ratusan
kosakata untuk mengungkapkan jenis, kualitas, kondisi dan jumlahnya. Kecintaan orang Arab
akan bahasanya ini, membuat bahasa Arab begitu cepat berkembang. Namun ada banyak faktor
lainnya yang mempengaruhi bahasa Arab berkembang sedemikian cepat, yang terpenting di
antaranya adalah datangnya Islam. Para pembahas dan ahli linguistik sependapat bahwa
peristiwa terpenting dalam sejarah perkembangan bahasa Arab adalah datangnya Islam dan
tersebarnya agama Rahmatan LilAlamin ini sampai meluas ke berbagai daerah dari Asia Tengah
sampai Afrika Barat. Kedatangan Islam dan turunnya al-Quran --yang disusul oleh hadits pada
beberapa abad kemudian-- yang berbahasa Arab standar menjadikan bahasa Arab sesuatu yang
sangat penting dan menarik perhatian pada kalangan masyarakat, terutama para peneliti sosial
masyarakat. Baru beberapa saat Islam disampaikan secara terang-terangan, al-Quran telah
menggemparkan warga Mekah khususnya, dan orang-orang kafir pada umumnya. Predikat
sebagai "Penyair," "Penyihir," "Dukun" serta merta sampai dialamatkan ke haribaan Rasulullah.
Tapi, tidak sedikit di antara mereka yang justru masuk Islam karenanya. Bahasa Arab dalam al-
Quran memberikan warna dan pengaruh yang sangat dahsyat pada bahasa Arab yang ada pada
saat itu. Tujuh huruf al-Quran yang mempresentasikan bahasa yang ada dan digunakan dalam
kehidupan sehari-hari itu, telah melambungkan nama Muhammad pada tingkat sedemikian
berbeda dari Fuhul dan Rijal Balaghah (jagoan-jagoan bahasa) saat itu. Dan dari sinilah bangsa
Arab semakin tercerahkan dalam menyongsong bahasa Arab menuju format yang lebih baik.
Sulit dipungkiri, bahwa semakin besar jumlah pemeluk Islam, semakin meluas pula pengaruh
bahasa Arab ini hingga menyentuh kehidupan orang-orang awam. Didorong oleh jiwa dan
semangat keagamaan yang tinggi, para pemeluk Islam mempunyai kecintaan untuk selalu
membaca dan mempelajari al-Quran, baik dalam konteks Taabbud (ibadah) atau sekedar Tilawah
(membaca) semata-mata. Berawal dari sini, upaya menjalin-padukan bahasa Arab dengan Islam
mulai digagas dan disosialisasikan ke seluruh pelosok negara yang menembus lintas batas
wilayah. Pencetus gagasan dan sosialisasi bahasa Arab ini membawa pengaruh yang sangat besar
dan terus menggelinding bak bola salju hingga mencapai wilayah yang jauh sekali. Tentu saja,
perkembangan ini sangat menjanjikan bagi masa depan bahasa Arab yang kelak menjadi bahasa
agama dan kebudayaan bagi dunia Islam. Sebelum abad tujuh masehi, bahasa Arab adalah
"bahasa statis" dan terkungkung oleh batas-batas kesukuan. Ia tidak lain hanya merupakan
bahasa orang-orang badui yang bermukim di bagian utara semenanjung Arabia, dan sebagian
tersebar di sebagian daerah Syam dan Irak, serta menjadi bahasa bagi penduduk kota-kota di
daerah utara semenanjung Arabia. Namun setelah itu, Islam berkembang dan meluas ke berbagai
daerah di semenanjung Arabia, bahkan hingga benua yang berbeda. Pada zaman pemerintahan
Umar bin Khattab (13-73 H), orang-orang Arab yang mendatangi berbagai negeri baru itu,
dilarang untuk memiliki hak kepemilikan tanah di daerah-daerah yang mereka tempati.
Sebaliknya mereka diharuskan untuk tinggal dan menetap di perkemahan-perkemahan yang
letaknya jauh dari kota. Perkemahan-perkemahan inilah yang kelak menjadi kota baru yang
bercorak Islam seperti Basrah, Kufah, dan Fustat. Dan inilah yang menjadi sebab menguatnya
kesatuan bahasa Arab sejalan dengan semakin berkurangnya kebiasaan berbahasa yang semula
dibawa dari masing-masing kabilah. BAHASA ARAB PADA ZAMAN BANI UMAYAH Pada
masa kekuasaaan Bani Umayah, terjadilah perubahan sosial yang sangat dramatis dalam tubuh
masyarakat Islam. Orang-orang Arab (pendatang) mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan
pribumi karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan,
penduduk asli (pribumi) pun kemudian merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajari
bahasa Arab. Alasan mereka setidaknya untuk dapat saling mengerti dan memahami dalam
komunikasi dengan orang-orang Arab yang bahasanya masih asing bagi mereka. Maka,
terbentuklah persatuan dua kelompok yang masing-masing memiliki perbedaan bahasa, budaya
dan kelas sosial. Penduduk Mesir yang tadinya berbahasa koptik Mesir, mulai mempelajari --
secara langsung-- bahasa Arab. Demikian juga penduduk Syam dan sebagian Irak yang berbicara
dengan bahasa Aramia, penduduk Maroko dan Afrika Utara yang menggunakan bahasa Barbar,
penduduk Iran dan sebagian Irak yang menggunakan bahasa Iran (persi), semua mengalami
masa-masa terjadinya sosialisasi bahasa Arab. Pada saat itu, berbicara dan berkomunikasi
dengan bahasa Arab yang fasih ( Arab standar) menunjukkan ketinggian martabat sosial dan
kelas tersendiri di masyarakat. Oleh karenanya, kalangan pejabat dan penguasa pada saat itu
berkepentingan mendidik keturunan mereka dengan bahasa yang memungkinkan mereka mudah
meraih kursi kekuasaan. Tidak cukup dengan itu, mereka pun mengirim anak-anak dan generasi-
generasi mereka ke wilayah yang dihuni masyarakat Badui di Hijaz. Anak-anak mereka sengaja
dikirim ke Badui untuk mempelajari dan mendalami bahasa Arab yang masih bersih. Maka
jelaslah, bahwa sejak sepertiga akhir abad pertama Hijriyah, bahasa Arab sudah mencapai dan
menduduki posisi sedemikian tinggi, terhormat dan sangat kuat di wilayah-wilayah yang
menjadikan Islam sebagai agama resmi. Pada masa Daulah Umayah inilah proses "Arabisasi"
berjalan lancar melalui penyebaran Islam. Pada masa ini pula ditata rapi administrasi
professional dan dengan sendirinya bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara Islam. Orang-
orang pribumi yang ingin bekerja di pemerintahan disyaratkan untuk fasih berbahasa Arab, dan
ini merupakan langkah positif yang cukup massif. Tapi satu hal yang tidak bisa dilewatkan,
adalah bahwa antusiasme mereka mempelajari bahasa Arab adalah karena dorongan agama.
Islam yang baru saja mereka peluk, secara tidak memaksa memotivasi mereka untuk mendalami
al-Quran dan hadits yang berbahasa Arab. Dalam tingkat perkembangan selanjutnya, bahasa
Arab memasuki masa-masa pertarungan yang sangat sulit dengan bahasa-bahasa asli yang sudah
hadir di daerah-daerah yang memeluk Islam itu. Pertarungan itu berlangsung lama dan tidak
selesai dalam satu generasi. Setelah hampir dua abad berlangsung, bahasa Arab menghirup udara
tenang karena ia sudah menjadi bahasa dominan di seluruh pelosok daerah yang sudah dimasuki
bahasa Arab. Beberapa abad setelah itu, pertarungan pun berakhir, bahasa Arab berhasil
mendesak, bahkan menggantikan bahasa Persia, Aramia, Barbar, Yunani, Koptik di negeri-
negeri yang ditaklukan oleh Islam. Namun demikian, perkembangan ini tidak berjalan mulus.
Percampuran yang tidak terbendung dari dua kelompok (pendatang dan pribumi) ini tidak bisa
menghindarkan perkawinan di antara anggota kelompok yang berbeda ini. Generasi-generasi
yang lahir dari perkawinan ini ternyata kurang menguasai bahasa Arab dengan baik. Hal ini
ditambah dengan mengendurnya semangat berbahasa Arab di lingkungan keluarga
pejabat/penguasa. Hal inilah yang kemudian mengundang keprihatinan tokoh-tokoh intelektual
muda untuk melakukan gerakan pemurnian bahasa Arab. Tokoh-tokoh intelektual muda itu
merupakan kolaborasi Arab-Non Arab. Salah satu peran besar yang diukir pemerintahan Bani
Umayyah, lewat gerakan ini adalah penggunaan bahsa Arab sebagai media bahasa karang
mengarang (karya tulis). Banyak buku-buku berkualitas tinggi dengan kedalaman ilmu yang luar
biasa berhasil diterbitkan pada masa itu. Padahal, sebelum Bani Umayah berkuasa, bahasa Arab
hanya digunakan sebatas untuk syair dan peribahasa (Amtsal) selain dalam al-Quran. Ibnu
Muqaffa, (wafat 142 H) adalah salah seorang ulama terkemuka yang termasuk pertama kali
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa karang mengarang dalam buku-buku yang ia tulis.
Dengan demikian, penggunaan bahasa Arab memasuki babak baru, yakni dunia pustaka karena
bahasa Arab tidak lagi hanya sebatas bahasa syir. Bidang ilmu lainnya yang lahir, tumbuh dan
berkembang pada masa Daulah Umayyah adalah ilmu Arudh yang dibadani oleh Khalil bin
Ahmad, di tangan beliaulah lahir wazan-wazan syair Arab semisal, Thawil, Khofif, Rajaz,
Basith, Kamil dan lain-lain. Dalam hal ini ilmu semantik yang menjadi bagian ilmu bahasa mulai
berkembang. BAHASA ARAB PADA ZAMAN BANI ABBASIYAH Walaupun pemerintahan
Bani Umayyah yang berasal dari keturunan bangsa Arab telah runtuh, namun fungsi dan peranan
bahasa Arab tidak ikut jatuh. Bahasa Arab tetap berperan dan menempati posisi yang sangat
penting sebagaimana mula awalnya meskipun zaman dinasti Bani Abbasiyah --menurut
sejarawan Islam-- menang dan menggambarkan kemenangan orang-orang Persia atas Bani
Umayyah yang berasal dari bangsa Arab. Pernyataan ini didasarkan atas bukti bahwa sebagian
menteri dan panglima militer adalah orang-orang Persia atau ketrurunan orang-orang Persia.
Seluruh Khalifah Bani Abbasiyah memberikan perhatian serius kepada bahasa Arab. Kecintaan
terhadap bahasa Arab didasarkan pada kecintaan mereka terhadap Islam. Doktrin-doktrin al-
Quran dan hadits tentang pentingnya bahasa Arab betul-betul mengisi dada dan otak mereka
sehingga mengalahkan cinta kesukuan dan premordialitas semu terhadap hal-hal lain di luar
motif agama. Kalau di zaman Bani Umayyah, para pejabat mengirim anak-anak dan generasi
mereka ke Badui untuk mendalami dan menguasai bahasa yang masih bersih dan belum
tercemari bahasa-bahasa luar, maka pada zaman Bani Abbasiyah ini berbeda. Justru orang Arab
Baduilah yang diundang hadir ke istana untuk mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak dan
keluarga para khalifah. Hal itu didasarkan pada kehendak para khalifah untuk memberikan hidup
bahagia dan fasilitas istana bagi putra putri mereka. Pada zaman Bani Abbasiyah ini, gerakan
pemurnian bahasa Arab terus berjalan. Hal ini lahir karena bahasa Arab sempat merosot ke
tingkat sangat rendah ketika terjadi proses percampuran orang-orang Arab dengan penduduk
lokal yang baru masuk Islam. Pada saat itu bahasa Amiyah (The Colluquial Arabic, Al-Arabiyah
al Amiyah) sebagai campuran bahasa ( Arabiyah Muwalladah) antara kelompok dua bahasa yang
berbeda tadi menjadi tren bahasa kelas menengah dan rendah bahkan kaum terpelajar. Pada tahap
selanjutnya, bahasa Arab Amiyah atau al- Muwalladah tersebut kemudian berubah menjadi
bahasa percakapan dan alat komunikasi yang akhirnya berbeda jauh dengan bahasa Arab Fusha
dalam beberapa hal. Misalnya perbedaan yang menyangkut segi tata bunyi ( Al-Ashwat,
Fonologi), bentuk kata (Al-Sharf, Morfologi), tata kalimat (Al-Nahwu, Sintaksis), maupun
kosakata (Al-Mufradat, Vokabulari). Gerakan pemurnian ini dibantu oleh para khalifah dan para
pejabat Bani Abbasiyah sehingga berjalan lancar. Khalifah, para menteri dan pejabat-pejabat
Bani Abbasiyah sering menyelenggarakan forum-forum ilmiyah di istana. Misalnya, pertemuan
antara Sibawaih (wafat 177 H) dan al-Kisai (wafat 189 H) yang dihadiri langsung oleh khalifah
Harun al-Rasyid seorang khalifah yang sangat mencintai ilmu. Namun sejak pertengahan abad
dua sampai awal abad tiga Hijriyah, terjadi pertarungan antara bahasa Arab Fusha dengan bahasa
Arab Amiyah. Bahasa Arab Fusha yang digawangi orang-orang Arab Badui, yang tidak henti-
hentinya didatangkan ke pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berhadapan dengan bukan hanya
orang-orang awam yang memang menggunakan bahasa Amiyah ini dalam pergaulan sehari-hari,
tapi juga dengan terbitnya buku-buku ilmiah yang ditulis dengan bahasa Arab yang kurang murni
karena mengandung gaya bahasa dan kata-kata bahasa Arab Muwalladah. Tidak hanya itu, pada
masa ini salah seorang menteri, Ismail Ibnu Bulbul dan para pejabat tinggi kerajaan juga
berbicara dengan menggunakan bahasa Arab Amiyah. Keadaan yang lebih menyedihkan adalah
para ahli Nahwu yang seharusnya teguh untuk mempertahankan bahasa Arab Badui pun pada
akhir abad tiga Hijriyah turut menggunakan bahasa Arab Amiyah dalam percakapan biasa. Tapi
harapan pun tumbuh ketika buku-buku yang memakai bahasa Arab Badui diterbitkan untuk
mengoreksi dan meluruskan penggunaan kosakata yang salah yang digunakan dalam buku-buku
berbahasa Arab Fusha. Dan sejak saat itu bahasa Arab tidak hanya dipelajari secara Listening
(didengar langsung) dari orang-orang Badui, tapi juga sudah menjadi mata ajar yang dapat
dipelajari melalui buku-buku. Abad kecemerlangan bahasa Arab di zaman Khilafah Abbasiyah
adalah abad ke empat. Hal itu selain disebabkan terbitnya buku-buku berbahasa Arab, juga
karena masa itu hampir tidak ada lagi orang yang mempelajari bahasa Arab dengan mengunjungi
guru-guru bahasa Arab badui. Bahasa Arab sudah cukup dipelajari dari buku-buku yang setiap
saat bertambah dan dipublikasikan. Beberapa buku yang sudah terbit masa itu, antara lain ,
Jawahir Al-Lafdz yang ditulis Qudamah ibn Jafar dan Alfadz Al-Kitabiyah yang ditulis Yaqub
al- Sakit al Jamhi. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa Arab badui sudah tidak lagi
menjadi sandaran ketergantungan penguasa dan rakyat karena berbagai faktor yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor itu antara lain bahasa Arab abad ini sudah menjadi bahasa yang
mantap karena ia sudah menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Hal ini
memunculkan tuntutan bagi lahirnya kata-kata, istilah-istilah, ungkapan-ungkapan dan gaya
bahasa yang baru yang tidak dapat dinyatakan oleh bahasa masyarakat Arab Badui dengan
kosakata dan gaya bahasa yang sangat terbatas dan hanya mampu mencerminkan alam
kehidupan bersahaja di padang pasir. Namun demikian, bahasa Arab Badui tidak semuanya
ditinggalkan, masih ada sebagian kecil dari para penyusun kamus yang masih berminat
melakukan pengamatan ke pedalaman gurun sahara dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan,
baik kata-kata ataupun gaya bahasa yang langsung diperoleh dari lingkungan Badui. Mahmud al-
Azhar, misalnya (wafat 370 H) berhasil menyusun sebuah kamus fenomenal Al-Lughat Tahdzib.
Hal inilah yang membuat bahasa Arab di Persia dan Irak, kala itu menjadi bahasa dengan tingkat
tertinggi karena penduduk setempat mempelajari bahasa Arab secara sungguh-sungguh serta
mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk dapat menguasai bahasa Arab asli dengan baik
dibanding kawasan-kawasan dan negeri-negeri lain seperti Syam, Mesir, Afrika Utara dan
Andalusia. Uniknya, bahasa Arab Fusha, dengan dialek-dialek yang berbeda-beda tadi, masih
tetap mempersatukan daerah-daerah tersebut dan digunakan oleh ulama, sastrawan dan para
cendikiawan. Bahkan bahasa Arab Fusha ini terus digunakan sampai negeri-negeri tadi telah
berdaulat dan berdiri sendiri.





PERIODE PERKEMBANGAN BAHASA ARAB

Dalam sejarah perkembangan bahasa Arab, terdiri dari beberapa priode, antara lain :

1. Priode Jahiliyah. Priode ini munculnya nilai-nilai standarisari pembentukan bahasa arab
fusha, dengan adanya beberapa kegiatan penting yang telah menjadi tradisi masyarakat Makah .
Kegiatan tersebut berupa festifal syair-syair arab yang diadakan di pasar Ukaz, Majanah, Zul
Majah. yang akhirnya mendorong tersiar dan meluasnya bahasa arab, yang pada akhirnya
kegiatan tersebut dapat membentuk stsndarisasi bahasa arab fusha dan kesusasteraannya.

2. Periode Permulaan Islam. Turunnya Al Quran dengan membawa kosa kata baru dengan
jumlah yang sangat luar biasa banyaknya menjadikan bahasa Arab sebagai suatu bahasa yang
telah sempurma baik dalam mufradat, makna, gramatikal dan ilmu ilmu lainnya. Adanya
perluasan wilayah-wilayah kekuasaan islam sampai berdirinya daulah umayah . Setelah
berkembang kekuasaan Islam, maka orang-orang islam arab pindah ke negeri baru, sampai masa
Khulafaa Al-Al-Rasyidiin

3. Priode bani Umayah. Terjadinya percampuran orang-orang arab dengan penduduk asli akibat
adanya perluasan wilayah islam. Adanya upaya-upaya orang arab untuk menyebarkan bahasa
arab ke wilayah melalui akspansi yang beradab. Melakukan arabisasi dalam berbagai kehidupan,
sehingga penduduk asli mempelajari bahasa arab sebagai bahasa agama dan pergaulan.

4. Priode bani Abasiyah. Pemerintahan Abasiyas berkeyakinan bahwa kejayaan
pemerintahannya dapat bertahan bila bergantung kepada kemajuan agama islam dan bahasa arab,
kemajuan agama islam dipertahankan dengan cara melaksanakan kegiatan pembedahan Al-
Quran terhadap cabang-cabang disiplin ilmu pengetahuan baik ilmu agama ataupun ilmu
pengetahuan lainnya. Bahasa Arab Badwi yang bersifat alamiah ini tetap dipertahankan dan
dipandang sebagai bahasa yang bermutu tinggi dan murni yang harus dikuasai oleh putra-putra
bani Abas. Pada abad ke empat H bahasa arab fusha sudah menjadi bahasa tulisan untuk
keperluan administrasi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan bahas Arab mulai dipelajari melalui
buku-buku ,sehingga bahasa fusha berkembang dan meluas.

5. Priode ke lima. Sesudah abad ke 5 H bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa politik dan
adminisrasi pemerintahan, tetapi hanya menjadi bahasa agama. Hal ini terjadi setelah dunia arab
terpecah dan diperintah oleh penguasa politik non arab Bani Saljuk yang mendeklarasikan
bahasa Persia sebagai bahasa resmi negara islam dibagian timur, sementara Turki Usmani yang
menguasai dunia arab yang lainnya mendeklarasikan bawwa bahasa Turki sebagai bahasa
administrasi pemerintahan. Kejak saat itu sampai abad ke7 H bahasa Arab semakin terdesak.

6. Priode bahasa arab di zaman baru. Bahasa arab bangkit kembali yang dilandasi adanya
upaya-upaya pengembangan dari kaum intelektual Mesir yang mendapat pengaruh dari golongan
intelektual Eropa yang datang bersama serbuan Napoleon.
a. Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar disekolah. Waktu-waktu perkuliahan disampaikan
dengan bahasa arab.
b. Munculnya gerakan menghidupkan warisan budaya lama dan menghidupkan penggunaan
kosakata asli yang berasal dari bahasa fusha.
c. Adanya gerakan yang yang telah berhasil mendorang penerbit dan percetakan dinegara-negara
arab untuk mencetak kembali buku-buku sastra arab dari segala zaman dalam jumlah yang
sangat besar dan berhasil pula menerbitkan buku-buku dan kamus bahasa arab.

Munculnya kesadaran dari intelektual arab yang mempertahankan bahasa Arab dari
berbagai kritikan terhadap bahasa arab yang datang dari non arab atau dari orang arab
sendiri untuk mempertahankan bahasa arab, tidak hanya sebagai bahasa agama,
melainkan sebagai bahasa nasional dan diwujudkan melalui :
a. adanya usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa arab seperti Majma al lughah al-
arabiyyah th 1934 di Mesir. Tujuannya untuk memelihara keutuhan dan kemurnian bahasa fusha
dan melakukan usaha usaha pengenbangan agar menjadi bahasa yang dinamis, maju dan
mampu memenuhi tuntutan kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.

b. Mendirikan lembaga pendidikan hkususnya pengajaran bahasa arab seperti Al -Azhar jurusan
bahasa arab. Perhatian bangsa arab tidak hanya terjadi di Mesir tetapi terjadi pula di negara arab
lainnya.
















SEJARAH
PERKEMBANGAN
BAHASA ARAB


NAMA : ANITA NILA PRAMARATRI
KELAS : X1S4/03
REMIDI UTS BAHASA ARAB


SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA ARAB


NAMA ; WAHYU SRI
KELAS : X1S4/29
REMIDI UTS BAHASA ARAB