Anda di halaman 1dari 108

ANALISIS KESESUAIAN AREA EKOWISATA MANGROVE

DI DESA MINASA UPA KEC. BONTOA KAB. MAROS





SKRIPSI




ZULFIKAR
L 111 06 018












JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012


ABSTRAK
Zulfikar (L 111 06 018) Analisis Kesesuaian Area Ekowisata Mangrove di Desa
Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros. di bawah bimbingan Amran Saru sebagai
pembimbing utama dan Mahatma sebagai pembimbing Anggota.

Salah satu dari sumber yang mendapat perhatian di wilayah pesisir
adalah ekosistem mangrove. Fungsi hutan mangrove sebagai spawning ground,
feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat
penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan
tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial,
dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial hutan mangrove adalah
memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian area untuk
ekowisata mangrove ditinjau dari aspek ekologis, menginventarisasi sarana dan
prasarana pendukung yang dapat menunjang pengembangan ekowisata
mangrove, mengetahui pendapat/pemahanan masyarakat tentang keberadaan
dan pengembangan ekowisata mangrove. Kegunaan penelitian adalah untuk
memberikan informasi kepada pengelolah kawasan atau pemerintah setempat
kemungkinan-kemungkinan pengembangan ekowisata mangrove.
Ruang lingkup wisata pantai dalam penelitian ini mencakup komposisi
jenis, pengukuran kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis, dan
frekuensi relatif jenis,. Serta pengukuran oseanografi diantaranya pengukuran
pasang surut, arus, suhu, Salinitas, dan sedimen. Mengidentifikasi ketersediaan
sarana dan prasarana dasar yang telah ada pada objek wisata.
Hasil penelitian ini menunjukkan Indeks kesesuaian wisata masing-
masing stasiun adalah stasiun I = 53.25 %, stasiun II = 55.75 %, dan stasiun III
=55,75 % yang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Desa Minasa Upa
masuk dalam kategori sesuai bersyarat untuk dijadikan sebagai area ekowisata
mangrove, Ketersediaan sarana dan prasarana yang ada belum cukup untuk
mendukung untuk melakukan kegiatan ekowisata mangrove dan berdasarkan
pendapat dari masyarakat menunjukkan adanya dukungan dibukanya kembali
ekowisata mangrove dengan optimalisasi fasilitas yang memadai.


Kata Kunci : Ekosistem mangrove, Pengembangan ekowisata.




ANALISIS KESESUAIAN AREA EKOWISATA MANGROVE DI DESA
MINASA UPA KEC. BONTOA KAB. MAROS

Oleh :

ZULFIKAR
L 111 06 018


Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
pada
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan












EKSPLORASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012


LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Analisis Kesesuaian Area Ekowisata Mangrove di Desa
Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros

Nama Mahasiswa : Zulfikar
No. Pokok : L111 06018
Program Studi : Ilmu Kelautan
Jurusan : Ilmu Kelautan

Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh :

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota





Prof. Dr. Amran Saru, ST., M.Si
NIP. 196709241995031 001





Dr. Mahatma, ST., M. Sc
NIP. 197010291995031001

Telah Disetujui Oleh :

Dekan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan





Ketua Jurusan
Ilmu Kelautan

Prof. Dr. Ir. A. Niartiningsih, MP
NIP. 19611201 1987032002
Dr. Ir. Amir Hamzah Muhiddin, M.Si
NIP: 19631120 1993031002


Tanggal Lulus : Februari 2012



RIWAYAT HIDUP
Zulfikar lahir di pangkep pada tanggal 15 November 1986.
Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Buah
hati dari pasangan Muh. Saleh Abbas dan Namming. Pada
tahun 1999 lulus di SDN 21 Maleleng Pangkep, tahun 2002
lulus di MTS Baru-Baru Tanga Pangkep, tahun 2005 lulus
di SMK Kebangsaan Indonesia Maros, dan pada tahun 2006 diterima dijurusan
Ilmu Kelautan Unhas melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
Pada tahu 2007 penulis dikukuhkan menjadi anggota senat mahasiswa
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kelautan (FITK). Selama masa studi penulis
banyak mengikuti kegiatan dan pelatihan diantaranya pelatihan Kepemimpinan
Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang diadakan oleh SEMA FITK UH pada tahun
2007 dan Basic Study Skill (BSS) yang diadakan FITK. Di bidang organisasi
penulis pernah menjadi anggota muda Marine Science Diving Club (MSDC)
Universitas Hasanuddin dan menjadi Anggota terdaftar di PERBAKIN Unhas.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah menjadi asisten di mata kuliah
Oseanografi Fisika pada tahun 2009. Pada tahun 2010 penulis melaksanakan
tugas akhir dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pude Kec.
Kajuara Kab. Bone. Praktek Kerja Lapang (PKL) di PPLH Puntondo Takalar
dengan judul ( Studi Penanaman Ekosistem Mangrove untuk Pengembangan
Wisata Mangrove di PPLH Puntondo Desa Laikang Kec. Mangarabombang Kab.
Takalar) dan Analisis Kesesuaian Area Ekowisata Mangrove di Desa Minasa Upa
Kec. Bontoa Kab. Maros sebagai tugas akhir.




KATA PENGANTAR


Assalammualaikum wr wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat dan hidayah yang telah diberikan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini, dengan judul Analisis Kesesuaian Area
Ekowisata Mangrove di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros. Skripsi
ini di susun berdasarkan data-data hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa
Minasa Upa Kab. Maros, sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana
dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin.
Skripsi ini kupersembahkan kepada orang tuaku tercinta, tersayang dan
terkasih Ayahanda Muh Saleh Abbas dan Ibunda Namming atas doa dan
limpahan kasih sayangnya, nasehat-nasehat yang menjadi pedoman dalam
menjalani hidup, dan terutama dukungan material yang tak ternilai.
Akhirnya dengan izin dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan skripsi
ini walaupun masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kritik dan saran
bagi pembaca sangat diharapkan. Dengan adanya penelitian ini penulis berharap
apa yang telah dilakukan dapat di terima dan bermanfaat serta membawa
kepada kesuksesan.

Penulis
Zulfikar





UCAPAN TERIMA KASIH
Penyusunan skripsi ini tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan
dari berbagai pihak, oleh karena pada kesempatan yang berbahagia ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Dekan FIKP, Pembantu Dekan FIKP, Ketua Jurusan Ilmu Kelautan
dan Ketua Program Studi Ilmu Kelautan yang telah memberikan kebijakan
selama penulis aktif dalam perkuliahan.
2. Bapak Prof. Dr. Amran Saru, ST., M.Si selaku pembimbing utama yang
telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan nasehat-nasehat
demi kesempurnaan penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Dr. Mahatma, ST., M.Sc selaku pembimbing anggota dan penasehat
akademik, yang telah memberikan arahan akademik serta saran-saran
dalam pelaksanaan penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Prof. Dr. Ir. Ambo Tuwo, DEA, Dr. Ir. Abd. Rasyid J, M.Si, dan Dr.
Ir. Muh Farid Samawi, M. Si sebagai tim penguji, yang telah memberikan
kritik dan saran selama penelitian.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar serta karyawan Jurusan Ilmu Kelautan atas
segala pengetahuan dan bimbingan yang telah diberikan selama penulis
menuntut ilmu dibangku perkuliahan.
6. Teman-teman yang membantu dilapangan : Muh Riski la cindung, Agus
S.kel, Mumin Syafei S.Kel, Ikbal S.Kel, Rahmat, dan Muh Nur Fitrah.
Terima kasih atas waktu dan bantuan yang telah di persembahkan pada
penulis.
7. Saudara-saudara seperjuangan klana (2006) Cici, Riri, Febe, Jumita, Idar,
Ani, Sardiana, Jannah, Odel, Ifa, Rahmat, Cindung, Kasmal, Ahmad,
Citos, Maskur, Erik, Asdar, Lukman, Pitta, Agus, Ikbal, Ical, Rustam,

Edwin dan Wahid. Terima kasih atas kebersamaan, canda dan tawa yang
senang tiasa mengisi kehidupan penulis selama berada di Kelautan Unhas.
8. Teman-teman KKN Reguler Unhas 2010 di posko Pude Cece, Fitri, Nini,
haje, Edi, Amar dan Andri serta kel A. Amir SE dan Ibu Laode atas
bantuannya dan tumpangannya selama berada di Kajuara.
9. Teman-teman PKL di PPLH Puntondo, terima kasih bantuan dan kerja
samanya.
10. Teman dekatku Itha yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam
penulisan skripsi.
11. Keluarga besar Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin.
yang masih ada hingga saat ini.
12. Dg Tene / Mone terima kasih atas tumpangan yang telah diberikan.
Semoga Allah SWT membalas segala bentuk kebaikan dan ketulusan
yang telah diberikan..

Terima Kasih...











DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Tujuan dan Kegunaan .................................................................... 3
C. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................. 3

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Wisata, Pariwisata dan Ekowisata.................................. 4
B. Pengertian Hutan Mangrove ........................................................... 6
C. Ekowisata Mangrove ...................................................................... 18
D. Potensi Ekowisata Ekosistem Mangrove......................................... 20
E. Sifat pengungjung Ekowisata .......................................................... 21
F. Aksesibilitas, Sarana dan Prasarana............................................... 23
G. Partisipasi Masyarakat Lokal............................................................ 24

III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat ........................................................................ 27
B. Alat dan Bahan .............................................................................. 28
C. Prosedur Penelitian ....................................................................... 28
D. Analisis Data ................................................................................. 39
E. Bagan Alur Penelitian ...................................................................... 40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi .............................................................. 41
B. Kondisi Ekosistem Mangrove ........................................................ 41
C. Jenis Biota .................................................................................... 45
D. Kondisi Fisik Ekosistem ................................................................ 48
E. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove ..................................... 52
F. Sarana dan Prasarana dasar yang mendukung ekowisata
mangrove di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros ............... 61
G. Persepsi Masyarakat .................................................................... 63





V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ...................................................................................... 67
B. Saran ........................................................................................... 67

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
























DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Ukuran partikel sedimen menurut standar Wenworth .................. 33
2. Matriks kesesuaian area untuk wisata pantai kategori wisata
mangrove .................................................................................... 35

3. Sistem penilaian kesesuaian area untuk wisata ekosistem
mangrove .................................................................................... 36

4. Interval nilai kesesuaian berdasarkan kategori kesesuaian ......... 38

5. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan di sepanjang
Sungai di Desa Minasa Upa ..................................................... .... 42

6. Kerapata jenis dan Kerapatan relatif jenis mangrove
di sungai Desa Minasa Upa Kab. Maros .................................. .... 44

7. Frekuensi jenis dan Frekuensi relatif jenis mangrove
di sungai Desa Minasa Upa Kab. Maros ................................... .... 45

8. Jenis ikan yang ditemukan di kawasan mangrove
di Desa Minasa Upa Kab. Maros. .......................................... .... 46
.
9. Jenis burung yang ditemukan di kawasan mangrove
di Desa Minasa Upa Kab. Maros ............................................. .... 47

10. Jenis reptil yang ditemukan di kawasan Ekosistem
Mangrove di Desa Minasa Upa Kab Maros................................... 47

11. Jenis Crustacea yang ditemukan di kawasan Ekosistem
Mangrove di Desa MInasa Upa Kab. Maros.................................. 48

12. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa
Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun I ...................................... 52

13. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa
Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun II ..................................... 55

14. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa
Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun III .................................... 57

15. Nilai kelayakan wisata pada setiap stasiun di sungai
Desa Minasa Upa Kab. Maros ...................................................... 60


DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia................... 10
2. Tipe Pasang Surut .................................................................... 12
3. Peta Lokasi Penelitian ............................................................... 27
4. Bagan Alir Penelitian ................................................................. 40
5. Ketebalan Hutan Mangrove ....................................................... 43
6. Grafik Pasang Surut di Desa Minasa Upa Kab. Maros .............. 48
7. Grafik salinitas di Desa Minasa Upa Kab. Maros ....................... 49
8. Grafik Suhu di Desa Minasa Upa Kab. Maros ........................... 50
9. Grafik Kecepatan Arus di Desa Minasa Upa Kab. Maros .......... 51
10. Grafik Perbandingan Ukuran Butir sedimen per Stasiun
di Desa Minasa Upa Kab. Maros................................................ 52

11. Dermaga kecil di sekitar hutan mangrove.................................. 61

12. Penginapan yang ada di sekitar hutan mangrove di Minasa Upa 62

13. Persentase responden Berdasarkan keberadaan wisata
di Desa Minasa Upa .................................................................. 64

14. Persentase responden berdasarkan penghasilan dengan
adanya wisata di Desa Minasa Upa............................................. 64

15. Persentase banyaknya kunjungan ke wisata di Desa
Minasa Upa ............................................................................... 65

16. Persentase cara mengunjungi pantai wisata
Lombang-Lombang ................................................................... . 66






DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Hasil Pengamatan Ekosistem Mangrove di Desa
Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros .......................................... . 72

2. Kondisi Oseanografi di Desa Minasa Upa Kab. Maros ................. . 82

3. Butiran Sedimen di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros..... 84

4. Hasil kuesioner di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros........ 87

5. Fotofoto kegiatan di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros. 94



















I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki
17.480 pulau dengan panjang garis pantai 95.181 km (Anonim, 2011). Besarnya
potensi sumberdaya kelautan Indonesia tersebut, sangat strategis untuk
dikembangkan dalam bidang wisata demi membangun perekonomian dan
menunjang kesejahteraan masyarakat yang mengacu pada semagat otonomi
daerah dan kemandirian masyarakat lokal.
Nybakken (1992) menjelaskan bahwa hutan bakau atau mangal
merupakan sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu
varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-
pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk
tumbuh dalam perairan yang asin. Sebutan bakau ditujukan untuk semua
individu tumbuhan, sedangkan mangal ditujukan bagi seluruh komunitas atau
asosiasi yang didominasi oleh tumbuhan ini.
Hutan mangrove adalah hutan yang berkembang baik di daerah pantai
yang berair tenang dan terlindung dari hempasan ombak, serta eksistensinya
selalu dipengaruhi oleh pasang surut dan aliran sungai. Definisi lain hutan
mangrove adalah suatu kelompok tumbuhan terdiri atas berbagai macam jenis
dari suku yang berbeda, namun memiliki daya adaptasi morfologi dan fisiologis
yang sama terhadap habitat yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut.
Salah satu dari sumber yang mendapat perhatian di wilayah pesisir
adalah ekosistem mangrove. Fungsi hutan mangrove sebagai spawning ground,
feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat
penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan
tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial,

dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial hutan mangrove adalah
memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata.
Dengan demikian hutan mangrove sepatutnya dikembangkan untuk
peningkatan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengidentifikasi
potensi mangrove untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan ekowisata
alternatif. Hal ini merupakan terobosan baru yang sangat rasional dikembangkan
di kawasan pesisir karena dapat di peroleh manfaat ekonomis tanpa
mengeksploitasi mangrove.
Pengembangan ekowisata mangrove juga akan mengurangi pemanfaatan
mangrove yang bersufat eksploitatif, misalnya konversi mangrove untuk area
pertambakan. Seperti permasalahan yang ada disulawesi selatan, area
mangrove sisa 34.000 ha (31 % dari luas awal yang dihitung pada tahun 1985-
1989 sebesar 110.000 ha), sedangkan selebihnya sekitar 73.088 ha telah
dikonsevasi menjadi tambak (bahar, 2005)
Kabupaten Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di
Propinsi Sulawesi Selatan, dengan luas wilayah 1.619.11 km
2
, dengan luas
daerah pesisir sepanjang 31 km. Luas daerah Desa Minasa Upa kurang lebih 90
hektar.
Ekowisata mangrove yang ada di Desa Minasa Upa kec. Bontoa Kab.
Maros itu pernah ada, tapi sekarang ini sudah ditutup sekitar dua tahun yang lalu
karena kurangnya pengunjung yang datang ke lokasi. Itu di sebabkan karena
lokasi yang jauh dari jalan raya dengan kondisi jalan yang kurang baik atau
rusak.serta kurangnya informasi kepada masyarakat tentang keberadaan wisata
tersebut.
Hutan mangrove yang ada di sepanjang sungai di Desa Minasa Upa Kec
Bontoa Kab Maros itu cukup lebat dan mempunyai beberapa jenis mangrove di

sepanjang sungai. Dengan demikian, penulis memilih hutan mangrove untuk
diteliti dalam upaya potensi ekowisata mangrove.

B. Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menganalisis kesesuaian area untuk ekowisata mangrove ditinjau dari
aspek ekologis.
2. Menginventarisasi sarana dan prasarana pendukung yang dapat
menunjang pengembangan ekowisata mangrove di Kab. Maros.
3. Mengetahui pendapat/pemahanan masyarakat tentang keberadaan dan
pengembangan ekowisata mangrove.
Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memberikan
informasi kepada pengelolah kawasan atau pemerintah setempat kemungkinan-
kemungkinan pengembangan ekowisata mangrove.
C. Ruang lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini mencakup komposisi jenis, pengukuran
kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis, dan frekuensi relatif jenis.
Serta pengukuran oseanografi diantaranya pengukuran pasang surut, arus,
suhu, Salinitas, dan sedimen. Mengidentifikasi ketersediaan sarana dan
prasarana dasar yang telah ada pada objek wisata.








II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Wisata, Pariwisata dan ekowisata.
1. Wisata
Wisata adalah perjalanan keluar tempat tinggalnya mengunjungi tempat
tertentu secara sukarela dan bersifat sementara dengan maksud berlibur,
bertamasya, dan/atau kepentingan lain ditempat lain yang dikunjunginya, bukan
untuk mencari nafka (Warpani, 2007).
Menurut Yulianda (2006), wisata dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada
pemanfaatan sumberdaya alam atau daya tarik panoramanya.
b. Wisata budaya (cultural tourism), merupakan wisata dengan kekayaan budaya
sebagai obyek wisata dengan penekanan pada aspek pendidikan.
c. Ecotourism, green tourism atau alternatif tourism, merupakan wisata
berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan
sumberdaya alam/lingkungan dan industri kepariwisataan

2. Pariwisata
Pariwisata adalah keluar rekreasi diluar domisili untuk melepas diri dari
perkerjaan rutin atau mencari suasana lain. Menurut Undang-undang No. 9
Tahun 1990 tentang kepariwisataan menyatakan Pariwisata sebagai segala
sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan
daya tarik serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Kepariwisataan
mempunyai peranan penting untuk memperluas dan meratakan kesempatan
berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperbesar
pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya

kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam memperkukuh jati
diri bangsa (Damanik dan Weber, 2006).

3. Ekowisata
Ekowisata merupakan suatu kegiatan wisata berbasis alam yang
informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk berinteraksi langsung dengan
alam, mengetahui habitat dan ekosistem yang ada dalam suatu lingkungan
hidup, memberikan manfaat ekonomi kepada lingkungan untuk pelestarian
lingkungan hidupnya, menyediakan lapangan kerja dan memberikan manfaat
ekonomi kepada masyarakat lokal guna meningkatkan taraf hidupnya, dan
menghormati serta melestarikan kebudayaan masyarakat lokal (Subadra, 2008).
Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam
yang alami maupun buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan
partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya.
Ekowisata menitikberatkan pada tiga hal utama yaitu; keberlangsungan alam
atau ekologi, memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi dapat diterima
dalam kehidupan sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung
memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, dan menikmati
pengalaman alam, intelektual dan budaya masyarakat lokal. Ekowisata
memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk menikmati keindahan alam
dan budaya untuk mempelajari lebih jauh tentang pantingnya berbagai ragam
mahluk hidup yang ada di dalamnya dan budaya lokal yang berkembang di
kawasan tersebut. Kegiatan ekowisata dapat meningkatkan pendapatan untuk
pelestarian alam yang dijadikan sebagai obyek wisata ekowisata dan
menghasilkan keuntungan ekonomi bagi kehidupan masyarakat yang berada
didaerah tersebut atau daerah setempat (Subadra, 2008).

Perkembangan dalam sektor kepariwisataan pada saat ini melahirkan
konsep pengembangan pariwisata alternatif yang tepat dan secara aktif
membantu menjaga keberlangsungan pemanfaatan budaya dan alam secara
berkelanjutan dengan memperhatikan segala aspek dari pariwisata berkelanjutan
yaitu; ekonomi masyarakat, lingkungan, dan sosial-budaya. Pengembangan
pariwisata alternatif berkelanjutan khususnya ekowisata merupakan
pembangunan yang mendukung pelestarian ekologi dan pemberian manfaat
yang layak secara ekonomi dan adil secara etika dan sosial terhadap
masyarakat. (Subadra, 2008).
Prinsip Dasar Ekowisata
Menurut Yulianda (2006), prinsip dasar ekowisata dapat dibagi menjadi :
1. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap
alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan
sifat dan karakter alam dan budaya setempat; (2) Pendidikan konservasi
lingkungan; (3) Pendapatan langsung untuk kawasan; (4) Patisipasi
masyarakat dalam perencanaan; (5) Penghasilan masyarakat; (6) Menjaga
keharmonisan dengan alam; (7) Daya dukung sebagai batas pemanfaatan;
(8) Kontribusi pendapatan bagi Negara.
B. Pengertian Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah hutan yang berkembang baik di daerah pantai
yang berair tenang dan terlindung dari hempasan ombak, serta eksistensinya
selalu dipengaruhi oleh pasang surut dan aliran sungai. Definisi lain hutan
mangrove adalah suatu kelompok tumbuhan terdiri atas berbagai macam jenis
dari suku yang berbeda, namun memiliki daya adaptasi morfologi dan fisiologis
yang sama terhadap habitat yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut.

Secara umum mangrove adalah vegetasi yang terdiri atas pohon atau
perdu yang tumbuh di daerah pantai di antara batas-batas permukaan air pasang
tertinggi dan di atas rata-rata permukaan air laut. Mangrove dapat tumbuh di
daerah tropis dan memiliki pantai terlindung, di muara sungai, di sepanjang
pantai berpasir atau berbatu maupun karang yang telah tertutup oleh lapisan
pasir dan berlumpur. Keberadaannya juga berkaitan dengan ekosistem lainnya
antara lain padang lamun dan terumbu karang (Muhamaze, 2008).
Pada mulanya, hutan mangrove hanya dikenal secara terbatas oleh
kalangan ahli lingkungan laut. Mula-mula, kawasan hutan mangrove dikenal
dengan istilah Vloedbosh, kemudian dikenal dengan istilah payau karena sifat
habitatnya yang payau. Berdasarkan dominasi jenis pohonnya, yaitu bakau,
maka kawasan mangrove juga disebut sebagai hutan bakau. Kata mangrove
merupakan kombinasi antara kata mangue (bahasa Portugis) yang berarti
tumbuhan dan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar atau hutan kecil (Arief,
2003).
Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu Manggi-manggi, yaitu
nama yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizophora spp.). Nama
mangrove diberikan kepada jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pantai atau
muara sungai yang menyesuaikan diri pada keadaan asin. Kadang-kadang kata
mangrove juga berarti suatu komunitas (mangrove) (Romimohtarto, 2001).
Nybakken (1992) menjelaskan bahwa hutan bakau atau mangal
merupakan sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu
varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-
pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk
tumbuh dalam perairan yang asin. Sebutan bakau ditujukan untuk semua

individu tumbuhan, sedangkan mangal ditujukan bagi seluruh komunitas atau
asosiasi yang didominasi oleh tumbuhan ini.
1. Karakteristik dan Zonasi Hutan Mangrove
Kartawinata dan Waluyo (1987) dalam Erwin (2005), menyatakan bahwa
faktor utama yang menyebabkan adanya zonasi pada hutan mangrove adalah
sifat-sifat tanah, disamping faktor salinitas, frekuensi serta tingkat penggenangan
dan ketahanan suatu jenis terhadap ombak dan arus, sehingga variasi zonasi ini
memanjang dari daratan sampai kepantai. Pola umum zonasi yang sering
ditemui dari arah laut kedarat, pertama adalah jalur Avicennia spp yang sering
berkolompok dengan Sonneratia sp, kemudian jalur Rhizophora spp, Bruguiera
sp dan terakhir Nypa sp. Dalam hal asosiasi di hutan mangrove di Indonesia,
asosiasi antara Bruguiera sp. dan Rhizophora spp. sering ditemukan, terutama di
zona terdalam. Dari segi keanekaragaman jenis, zona transisi (peralihan antara
hutan mangrove dan hutan rawa) merupakan zona dengan jenis yang beragam
yang terdiri atas jenis-jenis mangrove yang khas dan tidak khas habitat
mangrove. Secara umum, sesuai dengan kondisi habitat lokal, tipe komunitas
(berdasarkan jenis pohon dominan) mangrove di Indonesia berbeda suatu
tempat ke tempat lain dengan variasi ketebalan dari beberapa puluh meter
sampai beberapa kilometer dari garis pantai.
Menurut Bengen (2004), karakteristik habitat hutan mangrove yaitu
1) Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur,
berlempung dan berpasir, 2) Daerahnya tergenang air secara berkala, baik setiap
hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi
genangan menentukan komposisi hutan mangrove, 3) Menerima pasokan air
tawar yang cukup dari darat, 4) Terlindung dari gelombang besar dan arus

pasang surut yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (38
permil).
Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari
gempuran ombak dan daerah yang landai. Mangrove tumbuh optimal di wilayah
pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak
mengandung lumpur. Di wilayah pesisir yang tidak bermuara sungai,
pertumbuhan vegetasi mangrove tidak optimal. Mangrove sulit tumbuh di wilayah
pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut kuat karena
kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur yang diperlukan
sebagai substrat bagi pertumbuhannya (Dahuri, 1996).
Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi
dengan kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang tergenang,
kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dengan kondisi
lingkungan yang seperti itu, beberapa jenis mangrove mengembangkan
mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan,
sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu
memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya (Noor, 1999).
Mangrove diketahui mempunyai daya adaptasi fisiologis yang sangat
tinggi. Mereka tahan terhadap lingkungan dengan suhu perairan yang tinggi,
fluktuasi salinitas yang luas dan tanah yang anaerob. Salah satu faktor yang
penting dalam adaptasi fisiologis tersebut adalah sistem pengudaraan di akar-
akarnya (Odum dan Johanes, 1975 dalam Supriharyono, 2000).
Tidak semua tumbuh-tumbuhan memperoleh oksigen untuk akar-akarnya
dari tanah yang mengandung oksigen, mangrove tumbuh di tanah yang tidak
mengandung oksigen dan harus memperoleh hampir seluruh oksigen untuk akar-
akar mereka dari atmosfer. Spesies Rhizophora memenuhi kebutuhan tersebut
dengan akar-akar tunjang yang mencuat sampai mempunyai banyak pori-pori

yang disebut lenticels. Pada waktu air surut, oksigen terserap ke dalam tanaman
melalui lenticels dan turun ke akar-akar (Supriharyono, 2000).
Berbeda dengan Rhizophora, jenis Sonneratia, Avicennia dan Xylocarpus
tidak memiliki akar-akar tunjang, tetapi mempunyai pneumatophores, yaitu akar-
akar yang mencuat secara vertikal keluar dari bawah tanah. Pada waktu surut,
udara masuk melalui pneumatophore dan menyebarkan ke bawah selanjutnya ke
seluruh jaringan hidup di akar (Supriharyono, 2000).
Menurut Bengen (2004), salah satu tipe zonasi hutan mangrove di
Indonesia seperti ditujukkan pada Gambar 1, yaitu daerah yang paling dekat
dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia
spp. Pada zona ini biasa berasosiasi dengan Sonneratia spp yang dominan
tumbuh pada lumpur yang dalam yang agak kaya dengan bahan organik. Lebih
ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp, di
zona ini juga dijumpai Bruguiera sp dan Xylocarpus sp. Zona berikutnya
didominasi oleh Bruguiera sp. Zona transisi antara hutan mangrove dengan
hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans dan beberpa spesies
palem lainnya.







Gambar 1. Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia (Bengen, 2004)



Faktor-faktor yang mempengharuhi pertumbuhan mangrove antara lain :
1. Pasang Surut
Pasang surut (pasut) adalah proses naik turunnya muka laut secara
hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan
matahari (Dahuri, 1996). Pasut tidak hanya mempengaruhi lapisan di bagian
teratas saja, melainkan seluruh massa air. Energinyapun sangat besar. Di
perairan-perairan pantai, terutama di teluk-teluk atau selat-selat yang sempit,
gerakan naik turunnya muka air akan menimbulkan terjadinya arus pasang surut.
Berbeda dengan arus yang disebabkan oleh angin yang hanya terjadi pada air
lapisan tipis di permukaan, arus pasut bisa mencapai lapisan yang lebih dalam
(Nontji, 2002).
Menurut Rahardjo (1986) dalam Erwin (2005), pasang surut adalah
fenomena fisika laut yang berupa gerak naik turunnya permukaan laut sebagai
akibat dari gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari
terhadap massa air di bumi. Selain itu pasang surut disuatu tempat dipengaruhi
pula oleh rotasi bumi serta posisi geografisnya.
Pasang surut adalah proses naik turunnya paras laut (sea level ) secara
berkala yang ditimbulkan oleh adanya gaya tarik dari benda-benda angkasa,
terutama matahari dan bulan, terhadap massa air laut di bumi. Meskipun massa
bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya jauh lebih
dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar daripada
pengaruh gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang
surut adalah 2,2 kali lebih besar daripada gaya tarik matahari. Fenomena ini
memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan, sehingga
menyebabkan kondisi fisik perairan yang berbeda-beda. (Dahuri, dkk., 1996)

TUNGGAL
Menurut Dahuri, dkk., (1996), jika dilihat dari pola gerakan muka lautnya
atau dinamika gaya pembangkit pasang, pasang surut di Indonesia dapat dibagi
menjadi empat jenis, yaitu
a. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide), yaitu hanya terjadi satu kali
pasang dan satu kali surut setiap hari.
b. Pasang surut harian ganda (semidiurnal tide), yaitu hanya terjadi dua kali
pasang dan dua kali surut yang tingginya hampir sama.
c. Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide, prevailing
diurnal), yaitu terjadi dua kali pasang dalam satu hari tetapi satu pasang
lebih kecil dari yang lainnya.
d. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing
diurnal), ditandai dengan terjadinya satu kali pasang dan satu kali sudah
sangat tereduksi tinggal tampak pelandaiannya.










Gambar 2. Tipe Pasang Surut (Dahuri, 1996)


2. Arus
Menurut Setiyono (1996) arus adalah gerakan air yang menyebabkan
terjadinya perpindahan massa air secara horisontal. Di daerah tertentu dan
dalam kondisi tertentu massa air dapat mengalami sirkulasi vertikal, seperti up-
welling dan down-welling. Arus merupakan pergerakan massa air laut yang
diakibatkan oleh adanya tiupan angin yang berhembus di atas permukaan air laut
atau karena perbedaan densitas dalam air laut, atau dapat juga disebabkan oleh
gerakan gelombang yang panjang atau disebabkan oleh pasang surut (Nontji,
2002). Hal serupa dikemukakan oleh Hutabarat (1984), bahwa arus merupakan
gerakan massa air yang sangat luas, terutama disebabkan oleh adanya tiupan
angin di permukaan laut.
Hutan bakau tumbuh di sepanjang pantai yang terlindung dari aktifitas
gelombang dan arus pasang surut yang kuat. Arus pasang surut yang kuat tidak
memungkinkan terjadinya pengendapan sedimen yang diperlukan sebagai
substrat bagi tumbuhnya bakau ini (Snedaker et al, 1985 dalam Nontji, 2002).
Arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Pada
lokasi-lokasi yang memiliki arus yang cukup besar biasanya hutan mangrove
mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. Arus juga
berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies misalnya buah atau semai
Rhizophora terbawa arus sampai menemukan substrat yang sesuai untuk
menancap dan akhirnya tumbuh. Selain itu juga berpengaruh tidak langsung
terhadap sedimentasi pantai dan pembentukan padatan-padatan pasir di muara
sungai. Terjadinya sedimentasi dan padatan-padatan pasir ini merupakan
substrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove (Shanty, 2008
dalam Najihah, 2009).

Arus juga berfungsi sebagai media penyebar bibit mangrove. Akan tetapi
apabila tenaga arus terlalu kuat, hutan mangrove akan mengalami kesulitan
memanfaatkan daerah yang bersangkutan karena proses abrasi akan
berlangsung dengan cepat (Mulia, 2008).
3. Suhu dan Salinitas
. Suhu air merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam
pengkajian-pengkajian kelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja
untuk mempelajari gejala-gejala fisika di dalam laut, tetapi juga dalam kaitannya
dengan kehidupan hewan atau tumbuhan, bahkan dapat juga dimanfaatkan
untuk pengkajian meteorologi. Suhu air di permukaan dipengaruhi oleh kondisi
meteorologi, antara lain curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu
udara, kecepatan angin dan intensitas matahari. Oleh sebab itu, suhu di
permukaan biasanya mengikuti pula pola musiman (Nontji, 2002).
Salinitas adalah banyaknya zat-zat terlarut yang meliputi garam-garam
anorganik dan senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme hidup dan
gas-gas terlarut (Nybakken, 1992).
Kondisi salinitas mempengaruhi komposisi mangrove. Berbagai jenis
mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa
diantaranya secara selektif mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus
dari daunnya (Noor, 1999).
Salinitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi adanya zonasi
pada hutan mangrove. Faktor ini erat kaitannya dengan pasang surut yang
terjadi dalam satu hari dan dipengaruhi pula oleh musim dalam setahun.
Mangrove beradaptasi di lingkungan berkadar salinitas tinggi antara lain dengan
memiliki sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan

garam,berdaun tebal dan kuat yang mengandung banyak air untuk mengatur
keseimbangan kadar garam, kamudian pada daun terdapat serta struktur
stomata khusus yang dapat membantu mengurangi penguapan, misalnya dapat
dijumpai pada Rhizophora spp., Bruguiera sp., Ceriops sp., Sonneratia sp., dan
Avicennia spp. (Muhamaze, 2008).
Hardwinarto (2008) mengatakan bahwa ekosistem mangrove dapat
tumbuh dengan salinitas 10 - 30 ppt. Dan menurut Muhamaze (2008), bahwa
temperatur rata-rata untuk pertumbuhan mangrove maksimal 32
o
C pada siang
hari dan minimal 23
o
C pada malam hari.
4. Substrat (Sedimen)
Hutan mangrove hampir selalu tumbuh secara alami pada pantai
berlumpur yang terlindung. Lumpur halus, sering kali cukup cair dan kurang
padat, merupakan media yang baik untuk perkembangan tumbuhan mangrove.
Namun demikian, tipe sedimen lain seperti pasir, gambut, dan bahkan hamparan
karang, juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai jenis tumbuhan pioneer
(Budiman dan Suharjono, 1992).
Berdasarkan berbagai penelitian seperti yang dilaporkan oleh Barkey
(1990) dalam Erwin (2005), dapat disimpulkan berbagai hubungan antara
komposisi vegetasi dengan karakteristik lahan/ tanah bakau :
1. Jenis Avicennia spp. Umumnya berkembang pada tanah bertekstur halus,
relatif kaya akan bahan organik, salinitas tinggi. Dominasi dari jenis ini pada
umumnya terjadi pada delta sungai-sungai besar, dengan tingkat sedimentasi
tinggi dan berkadar lumpur halus yang tinggi pula.
2. Jenis Rhizophora apiculata berkembang pada tanah-tanah yang relatif lebih
kasar dibandingkan dengan Avicennia spp, tetapi secar umum masih dapat

digolongkan pada tanah bertekstur halus. Kadar bahan organik pada tanah
dibawah tegakan Rhizophora apiculata adalah yang paling tinggi. Salinitas
tanahnya sedang.
Selanjutnya Bengen (2004) menyatakan bahwa bakau (Rhizophora spp)
dapat tumbuh dengan baik pada substrat (tanah) yang berlumpur dan dapat
mentoleransi tanah lumpur berpasir, dipantai yang agak berombak dengan
frekuensi genangan 20-40 kali/bulan. Bakau merah (Rhizophora stylosa) dapat
ditanam pada lokasi bersubstrat tanah (pasir berkoral). Api-api (Avicennia
spp)lebih cocok ditanam pada substrat (tanah) pasir berlumpur terutama dibagian
terdepan pantai, dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.
2. Fungsi dan Manfaat Vegetasi Mangrove
Mangrove memiliki fungsi dan manfaat penting bagi darat dan laut.
Berikut fungsi dan manfaat tersebut dibagi menjadi 3 kategori yaitu, Fungsi Fisik,
Biologis dan Ekonomi.
1. Fungsi Fisik
Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung dari abrasi,
penahan lumpur dan perangkap sedimen (Bengen, 2004). Kerapatan
pohon mampu meredam atau menetralisir peningkatan salinitas.
Perakaran yang rapat akan menyerap unsur-unsur yang mengakibatkan
meningkatnya salinitas. Bentuk-bentuk perakaran yang telah beradaptasi
terhadap kondisi salinitas tinggi menyebabkan tingkat salinitas di daerah
sekitar tegakan menurun (Arief, 2003). Selain itu akar-akar mangrove
dapat pula menahan adanya pengendapan lumpur yang dibawa oleh
sungai-sungai di sekitarnya, sehingga lahan mangrove dapat semakin
luas tumbuh keluar. Dengan adanya hutan mangrove di daerah pantai,
dapat berfungsi untuk mencegah dan melindungai daerah pertambak dari

ancaman erosi pantai akibat hantaman ombak (DKP Sul Sel dan LP3WP,
2006).
2. Fungsi Biologis
Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan
(feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) berbagai jenis
ikan, udang dan berbagai jenis biota laut lainnya, penghasil sejumlah
besar detritus dari daun dan dahan pohon mangrove (Bengen, 2004).
Daerah hutan mangrove dapat dihuni bermacam-macam fauna. Hewan-
hewan darat termasuk serangga, kera pemakan daun-daunan yang suka
hidup dibawah naungan pohon-pohonan, ular dan golongan melata
lainnya. Hewan laut diwakili oleh golongan epifauna yang beraneka
ragam dimana hidupnya menempel pada batang-batang pohon dan
golongan infauna yang tinggal didalam lapisan tanah atau lumpur. Kayu
dari pohon mangrove itu sendiri adalah suatu hasil produksi yang
berharga ( Hutabarat dan Evans, 1984)
3. Fungsi Ekonomi
Sebagai sumber bahan bakar dan bangunan, lahan untuk perikanan dan
pertanian serta tempat tersedianya bahan makanan (Arief, 2003).
Selanjutnya Nontji (2002) menambahkan bahwa berbagai tumbuhan dari
hutan mangrove di manfaatkan untuk bermacam keperluan. Produk hutan
mangrove antara lain digunakan untuk kayu bakar, pembuatan arang,
bahan penyamak (tanin), perabot rumah tangga, bahan konstruksi
bangunan, obat-obatan dan sebagai bahan untuk industri kertas.





C. Ekowisata Mangrove
Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang
memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, karena keberadaan ekosistem ini
berada pada muara sungai atau estuaria. Mangrove hanya tumbuh dan
menyebar pada daerah tropis dan subtropis dengan kekhasan organisme baik
tumbuhan ataupun hewan yang hidup dan berasosiasi disana. Tumbuhan hidup
dan berasosiasi di sana adalah tumbuhan khas perairan estuari yang mampu
beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup luas.
Ekowisata saat ini menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan
lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu
kawasan kunjungan wisata. Potensi yang ada adalah suatu konsep
pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan
konservasi alam, mangrove sangat potensil bagi pengembangan ekowisata
karena kondisi mangrove yang sangat unik serta model wilayah yang dapat di
kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta
organisme yang hidup kawasan mangrove. Suatu kawasan akan bernilai lebih
dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang
khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu
pengembangan kawasan wisata (Kasim, 2006).
Menurut Supriharyono (2000), Mengingat peruntukanya yang spesifik,
maka untuk penentuan zona-zona tersebut dibutuhkan suatu criteria yang jelas
yaitu sebagai berikut
1. Kriteria Zona Inti
a. Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, beserta
ekosistemnya;
b. Mewakili formasi biota tertentu dan/ atau unit- unit penyusunnya;

c. Memempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisik-kimia lingkungan yang
masih asli dan/ atau tidak atau belum terganggu oleh aktifitas manusia;
d. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar nenunjang
pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologi
secara alami;
e. Potensinya mempunyai ciri yang khas dan dapat dijadikan contoh, serta
keberadaannya memerlukan upaya konservasi; dan
f. Mempunyai komunitas tumbuhan dan/ atau satwa beserta ekosistemnya
yang langka atau yang keberadaannya terancam punah.
2. Kriteria Zona Pemanfaatan
a. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi
ekosistem tertentu serta formasi geologis yang indah dan unik;
b. Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya
tarik untuk dimanfaatkan sebagai objek pariwisata dan rekreasi alam; dan
c. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan
pariwisata alam.
3. Kriteria Zona Penyangga
a. Kawasan yang ditetapkan mampu mendukung upaya perkembangan dari
jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi;
b. Memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona
inti dan zona pemanfaatan. Karena fungsinya, maka zona ini disebut
sebagai zona penyangga; dan
c. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran (peruaya)
tertentu.




D. Potensi Ekowisata Ekosistem Mangrove
Pemanfaatan hutan mangrove untuk rekreasi merupakan terobosan baru
yang sangat rasional diterapkan di kawasan pesisir karena manfaat ekonomis
yang dapat diperoleh tanpa mengeksploitasi mangrove tersebut. Selain itu, hutan
rekreasi mangrove dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan menstimulasi
aktivitas ekonomi masyarakat setempat, sehingga diharapkan kesejahteraan
hidup mereka akan lebih baik. Dari segi kelestarian sumberdaya, pemanfaatan
hutan mangrove untuk tujuan rekreasi akan memberikan efek yang
menguntungkan pada upaya konservasi mangrove karena kelestarian kegiatan
rekreasi alam di hutan mangrove sangat bergantung pada kualitas dan eksistensi
ekosistem mangrove tersebut (Kusmana dan Istomo, 1993 dalam Wiharyanto,
2007).
Potensi rekreasi dalam ekosistem mangrove antara lain :
1. Bentuk perakaran yang khas yang umum ditemukan pada beberapa jenis
vegetasi mangrove seperti akar tunjang (Rhizophora sp.), akar lutut
(Bruguiera sp.), akar pasak (Sonneratia sp, Avicennia sp.), akar papan
(Heritiera sp.).
2. Buah yang bersifat viviparious (buah berkecambah semasa masih
menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis vegetasi
mangrove seperti Rhizophora sp. dan Ceriops sp.
3. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai
pedalaman (transisi zonasi).
4. Berbagai jenis fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove
seperti beraneka ragam jenis burung, serangga dan primata yang hidup
di tajuk pohon serta berbagai jenis fauna yang hidup di dasar mangrove
seperti babi hutan, biawak, buaya, ular, udang, ikan, kerang-kerangan,
keong, kepiting, dan sebagainya.

5. Atraksi adat istiadat penduduk setempat yang berkaitan dengan
sumberdaya mangrove.
6. Hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan
tumpang sari, penebangan maupun pembuatan garam, bisa menarik
perhatian wisatawan.
Potensi ini dapat dikembangkan untuk kegiatan berburu, lintas alam,
memancing, berlayar, berenang, pengamatan jenis tumbuhan, dan atraksi satwa
liar, fotografi, pendidikan, piknik dan camping, serta adat istiadat penduduk lokal
yang hidupnya bergantung pada keberadaan hutan mangrove.
Kawasan mangrove memiliki tempat yang cukup tinggi bagi
pengembangan wisata atau rekreasi pantai. hal ini didasarkan pada keunikan
karakteristik dari tumbuhan (flora) penyusun ekosistem mangrove, terutama
sistem pembuangannya, diversitas bentuk buah dan sistem perakarannya. Daya
tarik utama ekosistem mangrove adalah potensi keragaman kehidupan liarnya
(wildlife), terutama burung air, burung migrasi, reptil, mamalia, primata, dan ikan
(Bengen, 1999).

E. Sifat Pengunjung Ekowisata
Menurut Fandeli (2001) dalam Wiharyanto (2007),pada umumnya tujuan
utama wisatawan untuk berwisata adalah mendapat kesenangan. Sifat dan
karakteristik pengunjung ekowisata adalah mempunyai rasa tanggung jawab
sosial terhadap daerah wisata yang dikunjunginya. Kunjungan yang terjadi dalam
satu satuan waktu tertentu yang mereka lakukan tidak hanya terbatas pada
sebuah kunjungan dan wisata saja. pengunjung ekowisata mempunyai rasa
tanggung jawab moral yang tinggi, walaupun tidak memberikan nilai tambah
pada daerah wisata yang dikunjunginya, mereka tetap tidak akan mengurangi
nilai yang telah ada pada kawasan yang telah dikonversi tersebut. Pengunjung

ekowisata biasanya lebih menyukai perjalanan dalam kelompok-kelompok kecil,
sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitarnya. Daerah yang padat
penduduknya atau alternatif lingkungannya yng serba buatan dan prasarana
lengkap kurang disukai karena dianggap merusak daya tarik alami. Secara
khusus, pengunjung ekowisata mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Menyukai lingkungan dengan daya tarik utama adalah alam dan budaya
masyarakat lokal, dan mereka juga biasanya mencari pemandu informasi
yang berkualitas.
2. Kurang memerlukan tata krama formal (amenities) dan juga lebih siap
menghadapi ketidaknyamanan, meski mereka masih membutuhkan
pelayanan yang sopan dan wajar, sarana akomodasi dan makanan yang
bersih.
3. Sangat menghargai nilai-nilai (high value) dan berani membayar mahal untuk
suatu daya tarik yang mempesona dan berkualitas.
4. Menyukai daya tarik wisata yang mudah dicapai dengan batasan waktu
tertentu dan mereka tahu bahwa daya tarik alami terletak di daerah terpencil.
Sedangkan menurut Siswanto (2003) dalam Wiharyanto (2007) profil
wisatawan yang terlibat dalam kegiatan minat khusus secara adalah sebagai
berikut :
a. Wisatawan cendrung mencari nilai manfaat yang dapat bertahan lama,
seperti misalnya: aktualisasi diri, pengembangan diri, ekspresi diri, interaksi
sosial, serta produk fisik yang abadi.
b. Wisatawan biasanya memiliki latar belakang pengetahuan tertentu,
kemampuan atau kecakapan tertentu untuk mengikuti atau ambil bagian
dalam kegiatan yang diikuti.
c. Bagi sebagian wisatawan, kegiatan yang diikuti kadang-kadang dipakai
sebagai ajang untuk melatih/mengembangkan kemampuan untuk mencapai

kualifikasi tertentu terhadap suatu kegiatan yang menjadi hobi atau
kesenangannya.
d. Wisatawan cenderung memiliki etika yang berkaitan dengan nilai-nilai,
moralitas, prinsip, norma, serta tingkat intelektualitas tertentu, sehingga
secara umum mereka adalah wisatawan yang bertanggung jawab dan
cenderung mencari sesuatu yang kualitatif lebih dari sekedar kegiatan
rekreasi atau hiburan.
e. Wisatawan cenderung untuk selektif dalam memilih jenis kegiatan yang akan
mereka ikuti sepanjang melakukan perjalanan wisata.
Gerakan lingkungan, seorang Eco-tourist bersedia untuk tidak mengikuti
konsumerisme, yang merupakan salah satu masalah pokok dari pariwisata
massal. Bagi mereka, tinggal di rumah penduduk, mencicipi makanan setempat,
berjalan-jalan menelusuri jalan setapak, menghadapi sendiri resiko merupakan
perjalanan pertualangan (adventure) (Aoyama, 2000) dalam Wiharyanto, (2007).

F. Aksesibilitas, Sarana Dan Prasarana
Aksebilitas yang mudah serta sarana dan prasarana yang memadai
sangat dibutuhkan dalam mendukung pengembangan pariwisata. kondisi ini
diperlukan untuk menarik para wisatawan agar mendapat kepuasan dalam
melakukan perjalanan wisatanya. kepuasan wisatawan ini sangat penting karena
dapat digunakan sebagai promosi untuk menarik wisatawan lainnya. sarana
pendukung yang penting yang akan dikemukakan pada bagian ini melipiti sarana
dan prasaran, transportasi, akomodasi yang berupa penginapan dan restoran,
biro perjalanan serta transportasi (Wiharyanto (2007).
Menurut Sukarsa dalam Nasrullah (2006), menjelaskan bahwa sarana
pokok kepariwisataan adalah perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat

tergantung kepada arus kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata,
meliputi:
a. Akomodasi (accomodation), sarana akomodasi dibutuhkan apabila wisata
diselenggarakan dalam waktu lebih dari 24 jam dan direncanakan untuk
menggunakan sarana akomodasi tertntu sebagai tempat menginap.
b. Transportasi (tourist transportation), sarana transportasi berkaitan erat
dengan mobilisasi wisatawan. Dalam perkembangan pariwisata alat
transportasi tidak hanya dipakai sebagai sarana untuk membawa
wisatawan dari suatu tempat ketempat lain saja, namun juga digunakan
sebagai atraksi wisata yang menarik.
c. Penyediaan makanan (catering trades), dilihat dari lokasinya ada makanan
yang disediakan di hotel dan menjadi bagian atau fasilitas hotel. Adapula
yang berdiri sendiri secara independen. Dimanapun restoran itu berada,
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: jenis atau kelas,
menu, fasilitas, harga, lokasi, dll.
d. Obyek dan atraksi wisata (tourist objects & tourist attraction), objek dan
atraksi wisata dapat dibedakan atas dasar asal usulnya yang menjad
karakteristik objek atau atraksi tersebut, yaitu objek atau atraksi wisata
yang bersifat alami, buatan manusia serta perpaduan antara buatan
manusia dengan keadaan alami.

G. Partisipasi Masyarakat Lokal
Pengelolaan suatu kawasan konservasi yang sekarang dilakukan oleh
pemerintah, walaupun berhasil melestarikan keanekaragaman hayati, namun
masih menghadapi permasalahan dari masyarakat yang merasa tidak
mendapatkan manfaat secara langsung dari kawasan tersebut. Bahkan ada
kecenderungan masyarakat merasa bahwa penetapan sutau kawasan

konservasi merupakan larangan untuk memanfaatkan kawasan tersebut. Salah
satu bentuk pengelolaan kawasan konservasi yang akhir-akhir ini banyak
dilakukan yaitu pengelolaan sumberdaya alam melibatkan partisipasi masyarakat
lokal yang dikenal dengan istilah pengelolaan sumberdaya alam berbasis
masyarakat Dalam pengelolaan ini melibatkan masyarakat setempat mulai tahap
perencanaan sampai tahap pengawasan (Tahir dan Baharudin, 2002 dalam
Wiharyanto, (2007).
Sesuai dengan konsep pembangunan kepariwisataan yang bertumpu
pada pengembangan masyarakat lokal (community based tourism), maka
pengembangan kegiatan pariwisata diharapkan mampu menciptakan lapangan
kerja dan kesempatan berusaha serta diarahkan agar dapat mengakomodasikan
upaya pemberdayaan masyarakat lokal. Berdasarkan pada konsep tersebut,
maka pengembangan kegiatan pariwisata diharapkan akan mampu
meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.
Konsep dan peluang pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangan
kegiatan wisata minat khusus dengan basis potensial alami ini dapat diterapkan
pada :
1. Tenaga pemandu wisata lokal.
2. Tenaga porter, untuk membantu mengangkut barang-barang kebutuhan
perjalanan penjelajahan hutan.
3. Penyedia makanan/minuman.
4. Pengrajin souvenir/cinderamata.
5. Pentas Budaya.
6. Pengelolaan usaha akomodasi lokal.
7. Awak motor boat yang digunakan selama paket berlangsung.

Menurut Suratmo (1990) dalam Wiharyanto (2007), manfaat dari
partisipasi masyarakat dalam sebuah rencana pembangunan adalah sebagai
berikut:
1. Masyarakat mendapat informasi mengenai rencana pembangunan di
daerahnya.
2. Masyarakat akan ditingkatkan pengetahuannya mengenai masalah
lingkungan, pembangunan dan hubungannya.
3. Masyarakat dapat menyampaikan informasi dan pendapat atau persepsinya
kepada pemerintah terutama masyarakat di tempat pembangunan yang
terkena dampak langsung.
4. Dapat menghindari konflik diantara pihak-pihak yang terkait.
5. Masyarakat akan dapat menyiapkan diri untuk menerima manfaat yang akan
dapat dinikmati dan menghindari dampak negatifnya.
6. Akan meningkatkan perhatian dari instansi pemerintah yang terkait pada
masyarakat setempat.
Pemerintah memiliki peran strategis mengembangkan kebijakan sektor
ecotourism dan penunjangnya. Outputnya dapat berupa kebijakan fiskal, moneter
atau khusus pengembangan wilayah ecotourism. Kebijakan fiskal meliputi
perpajakan (dan tarif), investasi dalam parasarana infrastruktur, dukungan aspek
keamanan atau peningkatan profesional aparat pemerintah. Kebijakan moneter
berhubungan dengan dukungan institusi keuangan dan stabilitas kurs.
Sedangkan kebijakan khusus mengacu kepada upaya-upaya mengembangkan,
mensubsidi atau melindungi wilayah-wilayah tertentu (protected area). (Fandeli
2000 dalam Hamsiah 2009).



III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Maret 2011 Februari 2012
yang meliputi studi literatur, penyusunan proposal, pengambilan data lapangan,
analisa sampel, analisis data dan penyusunan laporan hasil penelitian.
Lokasi penelitian di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros.
Sedangkan untuk analisis jenis substrat dilakukan di Laboratorium Geomorfologi
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, Makassar.



Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian

B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah perahu sebagai alat
transportasi, meteran sepanjang 100 cm untuk mengukur area batang mangrove,
meteran gulung sepanjang 100 m untuk mengukur luas dan lebar area
mangrove, tali untuk membuat transek garis, Global Positioning System (GPS)
berfungsi untuk penentuan posisi, layang-layang arus untuk mengukur kecepatan
arus, kompas untuk mengetahui arah arus, tiang skala untuk mengukur pasang
surut, thermometer untuk mengukur suhu permukaan perairan,
Handrefractometer untuk mengukur salinitas, alat tulis menulis untuk mencatat
dan menulis hasil analisa data, stopwatch untuk menghitung waktu, core
sediment untuk mengambil sedimen, kantong sampel untuk menyimpan
sedimen, timbangan digital untuk menimbang berat sampel sedimen, oven untuk
mengeringkan sampel sedimen, cawan petri sebagai wadah sampel, sieve net
untuk menyaring sedimen, sikat untuk membersihkan sisa sampel di sieve net
dan kamera untuk dokumentasi.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades untuk membersihkan
sampel dan sampel sedimen untuk analisis sedimen.
C. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini meliputi beberapa tahap yaitu:
1. Persiapan
Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan meliputi survei lokasi
penelitian, pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan obyek penelitian,
diskusi dengan dosen pembimbing dan studi literatur.


2. Penentuan Stasiun
Penentuan stasiun pengamatan, dilakukan dengan pertimbangan hasil dari
observasi awal dan analisis peta. Prinsip penentuan stasiun ini didasarkan pada
keterwakilan kriteria pengamatan. Adapun stasiun pengamatan terdiri dari tiga
stasiun yang dipilih mengikuti alur sungai. Stasiun 1 ditempatkan pada daerah
dekat perkampungan, stasiun 2 ditempatkan pada bagian sebelah utara alur
sungai, stasiun 3 ditempatkan pada bagian sebelah selatan alur sungai daerah
perbatasan Desa.
3. Pengambilan Data
Data ekologi
Pencatatan yang dilakukan adalah menempatkan transek kuadran
10x10m untuk kategori pohon, kemudian mengidentifikasi dan menghitung jenis-
jenis mangrove yang ditemukan sepanjang daerah pengamatan. Selain itu,
diperhatikan pula organisme dan kondisi di sekitar ekosistem dan mencatat hasil
yang didapatkan.
Perhitungan/ Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan meliputi : data mengenai spesies, jumlah individu,
dan diameter pohon yang telah dicatat pada form mangrove, kemudian diolah
untuk memperoleh kerapatan spesies, frekuensi spesies, dan keanekaragaman
spesies (Bengen, 2002):
Komposisi jenis
Ki = Ni
A
Keterangan:
Ki = komposis jenis
Ni = Jumlah jenis i
A = Luas total area pengambilan contoh


Kerapatan Jenis
Di =
A
ni

Keterangan :
Di = Kerapatan jenis (ind/m
2
)
ni = Jumlah total tegakan jenis i
A = Luas total area pengambilan contoh

Kerapatan Relatif Jenis
Rdi = 100 x
n
ni

%
Keterangan :
Rdi = Kerapatan relatif penting (%)
ni = Jumlah total tegakan jenis i
n = Jumlah total tegakan seluruh jenis

Frekuensi Jenis
Fi =
p
pi


Keterangan :
Fi = Frekuensi jenis
Pi = Jumlah petak contoh ditemukan jenis i
p = Jumlah total petak contoh yang diamat

Frekuensi Relatif Jenis
Rfi = 100 x
F
Fi

%
Keterangan :
Rfi = Frekuensi relatif jenis
Fi = Frekuensi jenis
F = Jumlah Frekuensi



Data Oseanografi
1. Arus
Pengukuran kecepatan arus dilakukan dengan menggunakan layang-layang
arus. Sedangkan arah arus diukur dengan menggunakan kompas dengan
mengamati arah layang-layang arus. Pengukuran dilakukan sebanyak 2 kali
yaitu saat menjelang pasang dan menjelang surut pada stasiun II.
2. Pasang Surut
Pengukuran pasang surut dilakukan selama 39 jam dengan interval waktu 1
jam menggunakan alat tiang skala yang ditempatkan pada lokasi dimana pada
saat pasang tertinggi dan surut terendah, tiang skala masih terendam air.
3. Suhu
Pengukuran suhu dilakukan pada setiap substasiun yang diamati dengan
menggunakan thermometer.
4. Salinitas
Pengukuran salinitas dengan menggunakan Handrefractometer pada setiap
substasiun.
5. Sedimen
Pengambilan sedimen dilakukan pada setiap substasiun yang telah
ditentukan dengan menggunakan core sediment. Sampel kemudian di masukkan
ke dalam kantong sampel dan mencatat stasiunnya untuk selanjutnya di analisis
di laboratorium. Adapun analisis yang dilakukan di laboratorium sebagai berikut:
1) Sedimen dicuci dengan aquades lalu dimasukkan ke dalam beaker
glass (untuk memisahkan/ menghilangkan sampah dalam sedimen)

2) Sedimen dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 150
0
C atau
dikeringkan dengan bantuan sinar matahari sehingga sedimen betul-
betul kering
3) Sedimen kering tersebut diambil dan kemudian ditimbang untuk
dianalisis 100 gram sebagai berat awal
4) Sampel dimasukkan ke dalam ayakan untuk diguncang selama
minimum 10 menit untuk sempurnanya pengayakan, sehingga
didapatkan pemisahan ukuran masing-masing partikel sedimen
berdasarkan ukuran ayakan
5) Sampel dipisahkan dari ayakan (untuk antisipasi tertinggalnya butiran
pada ayakan disikat dengan perlahan)
6) Hasilnya kembali dihitung untuk mendapatkan berapa gram hasil
masing-masing tiap ukuran ayakan.
Perhitungan/ Pengolahan Data
1. Arus
Besarnya kecepatan arus dihitung dengan menggunakan rumus (Modul
Praktikum Fisika Oseanografi, 2008):

T
S
V
Keterangan :
V = Kecepatan Arus (m/dtk)
S = Panjang lintasan layang-layang arus (m)
T = Waktu tempuh layang-layang arus (dtk)

2. Pasang Surut
Pengukuran pasang surut air menggunakan persamaan (Modul Praktikum
Fisika Oseanografi, 2008):


C
C H
DTS



Keterangan :
DTS = Tinggi muka air rata-rata (cm)
H = Tinggi muka air (cm)
C = Konstanta Doodson

3. Substrat (Sedimen)
Untuk menghitung % berat sedimen pada metode ayakan kering digunakan
rumus sebagai berikut (Modul Praktikum Sedimentologi, 2008):
Berat hasil ayakan
% Berat = x 100 %
Berat awal

Analisis substrat (sedimen) dilakukan dengan menggunakan skala Wenworth.
Tabel 1. Ukuran partikel sedimen menurut standar Wenworth
Ukuran (mm) Keterangan
2 0.5 Kasar
0.5 0.25 Sedang
<0.25 Halus
Sumber : Graha (1987) dalam Erwin (2005)
4. Pengumpulan data sosial Ekonomi
Pengambilan data dilaksanakan dengan menggunakan kombinasi antara
metode wawancara dan pembagian kuisioner.
1. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap kepala keluarga dengan cara wawancara
langsung dengan informan kunci. Model wawancara yang digunakan adalah
wawancara berstruktur dengan mengacu pada daftar pertanyaan yang disusun

sehubungan dengan pengelolaan dan perencanaan pengembangan daerah
setempat.
2. Penentuan Responden
Responden ditetapkan berdasarkan kelompok stakeholder, yaitu
masyarakat setempat, pemerintah/penentu kebijakan, pemilik modal dan
pengunjung. Pembagian kuisioner dilakukan dengan menggunakan tekhnik
sampling non-probability sampling terhadap para penentu kebijakan dan
stakeholders lainnya. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan
tekhnik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, metode ini dilakukan
untuk mengetahui prilaku, interaksi dan tingkat kesejahtraan populasi masyarakat
disekitar hutan mangrove dilakukan dengan menggunakan kuisioner.
3. Mengorganisir Data
Tahap ini dilakukan untuk menyusun data secara terstruktur berdasarkan
sumber data dan jenis data yang dikumpulkan, dengan cara pengelompokan
data berdasarkan data ekologi dan pengelompokan data berdasarkan kondisi
ekonomi. Hal ini dilakukan untuk lebih memudahkan peneliti dalam menginput
informasi kedalam tahap analisis data.
5. Kesesuaian Area Untuk Wisata Mangrove
Pembobotan dan nilai untuk mengetahui besar skor dari penggabungan
beberapa variabel sehingga akan terdapat perbedaan skor antara kelas yang
satu dengan kelas yang lain, selanjutnya digunakan untuk memberi klasifikasi
kesesuaian lahan.


Tabel 2. Matriks kesesuaian area untuk wisata pantai kategori wisata mangrove
No Parameter Bobot Kategori S1 Skor Kategori S2 Skor Kategori S3 Skor Kategori N Skor
sum
ber
1
Jumlah
Jenis
mangrove
0,18 >5 4 3 - 5 3 1 - 2 2 0 1
1
2
Ketebalan
mangrove
(m)
0,16 >500 4 >200 - 500 3 50 - 200 2 <50 1
1
3
Kerapatan
mangrove
(100 m
2
)
0,14 > 15 - 25 4
>10 15

3 5 - 10 2 < 5 1
1
4



Biota di
atas pohon



0,12



Burung, Ular,
Biwak, Monyet



4


Burung, Biwak, Ular



3


Ular dan
Burung



2


Salah satu
dari
organisme

1


3
5


Biota di
dalam air

0,1


ikan, udang,
moluska,
kepiting



4


Ikan, kepiting,
udang

3


Ikan dan
Moluska


2


salah satu
organisme





1


3
6






Kegiatan
masyaraka
t






0,08





Kerajinan,
Budaya,Festifal
Budaya,Rumah
Tradisional dan
Makanan
Daerah



4






Kerajinan,
Makanan
daerah,dan
Rumah
tradisional





3






Rumah
tradisional,
dan
Festival






2






Kerajinan








1





mod
ifika
si
7



Aksesibilita
s



0,07


Kapal, Perahu,
Speet Boat, dan
Mobil

4


perahu, dan speet
boat,
dan mobil wisata


3


Speet Boat


2


perahu


1


mod
ifika
si
8
Kisaran
Pasut (m)
0,05 0 - 1 4 >1 - 2 3 >2 - 5 2 >5 1
2
9
Kecepatan
aus
(m/det)
0.04 <0.5 4 >0.5 - 0.6 3 >0.6 - 0.7 2 >0.7 1
4
10
Ukuran
partikel
(mm)
0.03 <0.25 4 >0.25 - 0.5 3 0.5 - 2 2 >2 1
2
11
Salinitas
(
0
/
00
)
0.02 10-30 4 >30 - 35 3 >35 - 40 2 >40 1
4
12 Suhu (
0
) 0,01 18 - 28 4 >28 - 34 3 >34 - 40 2 >40 1 4

Jumlah 1



Sumber : Yulianda (2006)(1), Bakosurtanal (1995) dan Purbani (1999) Suriamihardja
dalam Erwin (2005)(2), Muhamaze (2008)(3), Graha dalam Erwin (2005)(4),
(Modifikasi 2011).

Dari matriks kesesuaian di atas maka dapat di tentukan penilaian untuk
kesesuaian area ekowisata mangrove. Sistem pembobotan di susun berdasarkan
minat pengunjung.
Tabel 3.Sistem Penilaian Kesesuaian Area Untuk Wisata Ekosistem Mangrove
Rangking Parameter Bobot S1 S2 S3 N
Skor Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor Nilai
1
Jumlah Jenis
mangrove
0,18 4 0.72 3 0,54 2 0,36 1 0,18
2
Ketebalan
mangrove
(m)
0,16 4 0.64

3
0,48

2
0,32

1
0,16
3
Kerapatan
mangrove
(ind/m
2
)
0,14 4 0.56

3
0,42

2
0,28

1
0,14
4
Biota di atas
pohon


0,12



4 0,48

3
0,36

2
0,24

1
0,12
5
Biota di
dalam air

0,1

4 0,4

3
0,3

2
0,2

1
0,1
6
Kegiatan
masyarakat

0,08





4 0,32

3
0,24

2
0,16

1
0,08
7 Aksesibilitas


0,07


4 0,28 3 0,21 2 0,14 1 0,07
8
Kisaran Pasut
(m)
0,05 4 0,2 3 0,15 2 0,1 1 0,05
9
Kecepatan
arus (m/det)
0.04 4 0.16 3 0.12 2 0.08 1 0.04
10
Ukuran
partikel (mm)
0.03 4 0.12 3 0.09 2 0.06 1 0.03
11 Salinitas (
0
/
00
) 0.02 4 0.08 3 0.06 2 0.04 1 0.02
12 Suhu (
0
) 0.01 4 0.04 3 0.03 2 0.02 1 0.01
Jumlah 1 48 4 36 3 24 2 12 1

Pemberian bobot di hitung dengan rumus:





Berdasarkan nilai skor setiap parameter, maka dilakukan penilaian
dengan menggunakan formulasi yang dikemukakan oleh Utojo, dkk., (2000)
sebagai berikut :




Untuk menentukan indeks kesesuaian wisata dapat digunakan
persamaan :
IK W = [ Ni/Nmaks] x 100 %
Dimana : IKW = Indeks Kesesuaian Wisata
Ni = Nilai parameter ke-i
(Bobot x Skor)
Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata
Untuk penentuan kategori kelayakan interval kelas sebagai berikut :
S1 (Sangat sesuai) = X
3
X
4
(Nilai Maksimum)
S2 (Cukup sesuai) = X
2
X
3
(X
2
+ C
i
)
S3 (Sesuai bersyarat) = X
1
X
2
(X
1
+ C
i
)
N (Tidak sesuai) = X
0
(Nilai minimum) X
1
(X
0
+ C
i
)
Dimana:
X
0
= Nilai minimal dari skala penilaian

X
1
= Hasil penjumlahan dari X
0
dengan range nilai antar kelas
X
2
= Hasil penjunlahan dari X
1
dan X
2
dengan range nilai antar kelas
X
3
= Hasil penjumlahan dari X
2
dengan range nilai antar kelas
X
3
= Nilai maksimum
C
i
= Range antar kelas
Penentuan range antar kelas menggunakan rumus:


Dimana:
Ci = Range antar kelas
SHB = Skor akhir setelah penjumlahamn nilai semua parameter
(100%)
N = Jumlah kelas yang direncanakan
Tabel 4. Interval nilai kesesuaian berdasarkan kategori kesesuaian
No Kategori % interval kesesuaian
1 S1 = Sangat sesuai 81,25 100 %
2 S2 = Sesuai 62.5 - < 81,25 %
3 S3 = Sesuai bersyarat 43.75 - < 62.5 %
4 N = Tidak sesuai < 43.75 %


D. Analisis Data
Setelah pengambilan data di lapangan, data diolah dalam bentuk tabel dan
gambar. Untuk tingkat kesesuaian ekowisata data diolah secara kuantitatif
dalam bentuk tabel dan grafik. Sedangkan untuk inventarisasi sarana dan
prasarana termasuk pendapat/pemahaman masyarakat tentang pengembangan
ekowisata mangrove, data diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk
tabel dan grafik.















E. Bagan Alir Penelitian





Gambar 4. Bagan Alir Penelitian

Pengambilan
data ekologi

Pengambilan data
sosial ekonomi
Mengorganisir data
Hasil dan Pembahasan
Analisis data ekologi Analisis data sosial ekonomi
Kesesuaian Ekowisata
Mangrove
Persiapan dan Observasi awal
Identifikasi Ekosistem
untuk ekowisata
Mangrove
Permasalahan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi
Secara Geografis Desa Minasa Upa terletak di Kec. Bontoa Kab. Maros,
dengan luas wilayah 8.60 km
2
, berada pada posisi 455257 LS dan 11933634 BT,
dengan batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebalah Utara : Desa Japing-japing Kab Pangkep
b. Sebelah Selatan : Desa Tunikamaseang Kab. Maros
c. Sebelah Timur : Desa Bonto Lempangan / Salenrang Kab. Maros
d. Sebelah Barat : Desa Tupabiring / Ampikale Kab. Maros
Desa Minasa Upa termasuk daerah pesisir dan kondisi tanah yang datar ,
terdiri dari 5 Dusun yaitu Dusun Cammbayya, Dusun Pappaka, Dusun
Kalupenrang, Dusun Sikapayya, dan Dusun Buamata. Jarak Desa Minasa Upa
dengan Ibu Kota Kecamatan yaitu 3.5 km, sedangkan jarak Ibu Kota
Kabupaten yaitu 10 km, dan jarak dari Ibu Kota Propinsi yaitu 40 km.

B. Kondisi Ekosistem Mangrove

Hutan Mangrove yang ada di Desa Minasa Upa di Kabupaten Maros
diperkirakan sudah berumur puluhan tahun, khususnya yang ada sepanjang
sungai, dilihat dari diameter batang pohon yang mencapai 40 50 cm dan tinggi
mangrove yang mencapai antara 8 - 15 meter, kondisi seperti ini menunjukan
bahwa di sepanjang sungai tersebut masih terjaga kelestarian mangrovenya.
1. Komposisi Jenis Mangrove
Jenis mangrove yang dijumpai di Desa Minasa Upa di Kabupaten maros
selama penelitian yaitu terdapat 5 jenis mangrove yaitu Rhyzophora mucronata,
Rhyzophora Stylosa, Avicennia alba, Sonneratia alba dan Nypa frutican. Dari

kelima jenis mangrove tersebut yang paling banyak ditemukan di sepangjang
sungai adalah jenis R. mucronata.
Tabel 5. Komposisi jenis mangrove yang ditemukan di sepanjang Sungai di Desa
Minasa Upa
Stasiun Sub Stasiun Spesies Pohon Anakan
I
I Rhyzophora mucronata 24 34
II R. mucronata 18 23
III R. mucronata 20 14
II
I R. mucronata 17 35
Avicennia alba 2
II R. mucronata 4 12
Nypa frutican 29
III N. frutican 38
III
I R. mucronata 22 21
II R. mucronata 20 16
III R. mucronata 27 7
Jumlah 221 162

Dilihat dari tabel diatas pada stasiun I ditemukan jenis Rhyzophora
mucronata, sedangkan pada Stasiun II ditemukan Jenis R. mucronata, Avicennia
alba dan Nypa frutican. Dan pada Stasiun III ditemukan jenis R. mucronata.
2. Ketebalan Hutan Mangrove
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dikawasan ekosistem
mangrove di sepanjang sungai di Desa Minasa Upa didapatkan lebar ekosistem
mangrove pada setiap stasiun adalah sebagai berikut:


Gambar 5. Ketebalan Hutan Mangrove
Berdasarkan pernyataan (Wantasen, 2002) bahwa pantai yang lantai
memiliki tingkat keanekaragaman ekosistem mangrove yang tinggi dibandingkan
dengan pantai yang terjal. Hal ini terjadi karena pada daerah yang landai
memiliki ruang yang luas untuk ditumbuhi oleh mangrove sehingga distribusi
jenis mangrove meluas dan melebar.
Ekosistem mangrove yang ada di sungai Desa Minasa Upa mempunyai
lebar mangrove antara 4 - 5 m, yaitu pada stasiun I lebar mangrove adalah 5 m,
sedangkan stasiun II lebar mangrove adalah 4 m, dan pada stasiun III lebar
mangrove yaitu 5 m.
3. Kerapatan Jenis dan Kerapatan Relatif Jenis
Kerapatan jenis adalah jumlah tegakan mangrove jenis i dalam suatu unit
area. Kerapatan relatif jenis adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis i
dan jumlah total tegakan seluruh jenis (Bengen, 2004).
Nilai kerapatan jenis dan kerapatan relatif jenis mangrove berdasarkan
pohon di sungai Desa Minasa Upa adalah sebagai berikut :



I
5 m
II
4m
III
5m
Lebar (m)

Tabel 6. Kerapata jenis dan Kerapatan relatif jenis mangrove di sungai Desa
Minasa Upa Kab. Maros
Stasiun
Sub
Stasiun
Spesies
Kerapatan Jenis dan
Kerapatan Relatif Jenis
Pohon
Di Rdi
I
I
Rhizophora mucronata 0.24 100
II
R. mucronata 0.18 100
III
R. mucronata 0.2 95.238
Nypa frutican 0.01 4.762
II
I

R. mucronata 0.17 89.474
Avicennia alba 0.02 10.526
II
R. mucronata 0.04 12.121
Nypa frutican 0.29 87.879
III
N. frutican 0.38 100
III
I
R. mucronata 0.22 100
II
R. mucronata 0.2 100
III
R. mucronata 0.27 100

Dari hasil pengukuran nilai kerapatan jenis mangrove berdasarkan
kategori pohon didapatkan pada stasiun I itu di dominasi oleh jenis mangrove R.
mucronata, sedangkan pada stasiun II itu di dominasi oleh Rhizophora
mucronata dan Nypa frutican, dan pada stasiun III itu di dominasi oleh R.
mucronata, jadi pada stasiun I,II, dan III terdapat jenis R. mucronata
R. mucronata memiliki nilai kerapatan tertinggi bila dibandingkan dengan
jenis mangrove lainnya seperti Avicennia alba dan Nypa frutican. Hal ini
disebabkan oleh kemampuan jenis dalam memanfaatkan unsur hara secara
optimal untuk pertumbuhannya.
4. Frekuensi Jenis dan Frekuensi Relatif Jenis
Frekuensi jenis adalah peluang di temukannya mangrove jenis i dalam
petak contoh/plat. Frekuensi relatif jenis adalah perbandingan antara frekuensi
jenis dan jumlah untuk seluruh jenis (Bengen, 2000).
Nilai frekuensi jenis dan frekuensi relatif jenis mangrove berdasarkan
pohon di sungai Desa Minasa Upa adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Frekuensi jenis dan Frekuensi relatif jenis mangrove di sungai Desa
Minasa Upa Kab. Maros
Stasiun Spesies
Frekuensi Jenis dan Frekuensi
Relatif Jenis
Pohon
Fi RFi
I
Rhizophora Mucronata 1 25
Nypa frutican 0.333 8.333
II
R. mucronata 0.667 16.667
Avicennia alba 0.333 8.333
Nypa frutican 0.667 16.667
III
R. mucronata 1 25

Dari hasil perhitungan frekuensi jenis dan frekuensi relatif jenis
didapatkan bahwa jenis R. mucronata memiliki nilai kemunculan tertinggi pada
stasiun I dan III. Selain jenis R. mucronata, jenis yang nilai kemunculannya tinggi
adalah Jenis N. frutican terutama pada stasiun II.
C. Jenis Biota
Ekosistem mangrove merupakan bentuk pertemuan lingkungan darat dan
laut (ekoton), sehingga hewan dari kedua lingkungan ini dapat ditemukan di
dalamnya (Tomlinson, 1986). Sebagian kecil hewan menggunakan mangrove
sebagai satu satunya habitat, sebagian dapat berpindah-pindah meskipun sering
ditemukan di hutan mangrove, sedang lainnya berpindah-pindah berdasarkan
musim, tahapan siklus hidup atau pasang surut laut.
Kebanyakan orang menganggap mangrove sebagai tempat berlumpur
dan rawa-rawa becek, yang dipenuhi dengan nyamuk, ular yang member rasa
tidak nyaman. Namun apabila diperhatikan dengan teliti berjalan-jalan di
kawasan mangrove merupakan perburuan besar. Di bawah kerimbunan hutan
mangrove terdapat beberapa jenis burung, ikan, reptil dan crustacean, sehingga
menarik untuk di telusuri.

Kawasan mangrove di Desa Minasa Upa memiliki berbagai macam biota,
diantaranya jenis Ikan, Burung, reptil dan crustacea.
1. Ikan
Hutan mangrove merupakan tempat aman bagi berbagai jenis ikan untuk
mencari makan, bersarang dan tinggal. Kebanyakan ikan yang hidup di
mangrove juga ditemukan di laut sekitar pantai. Ikan ini tinggal di hutan
mangrove pada waktu atau tahap tertentu, misalnya pada waktu muda dan
musim kawin. Terdapat pula jenis ikan air tawar yang hidup di area mangrove.
Ketersediaan makanan dan perlindungan merupakan faktor terpenting yang
menyebabkan ikan bermigrasi keluar masuk lingkungan ini.
Beberapa jenis ikan yang ditemukan di kawasan mangrove di Desa
Minasa Upa Kab. Maros.
Tabel 8. Jenis ikan yang ditemukan di kawasan mangrove di Desa Minasa Upa
Kab. Maros

No Nama Latin Nama Indonesia
1
Chanos-chanos Bandeng
2
Areochromis mossambicus Mujair
3
Mugil Sp Balanak

Adapun ikan yang di temukan di sekitar mangrove di Desa Minasaupa
yaitu jenis Bandeng, Mujair dan balanak. Ikan ini semuanya ditemukan dalam
keadaan terjerat gillnet yang dipasang oleh penduduk setempat.
2. Burung
Hutan mangrove merupakan tempat mencari makan dan perlindungan
bagi beberapa jenis burung, selain itu mangrove juga merupakan sebagai tempat
bersarang.

Adapun jenis burung yang di temukan saat pengamatan yaitu jenis
kokokan laut, pergam laut dan bangau.
Tabel 9. Jenis burung yang ditemukan di kawasan mangrove di Desa Minasa
Upa Kab. Maros
No Nama Latin Nama Indonesia
1 Butorides striatus Kokokan Laut
2 Ciconiidae Bangau
3 Ducula luctuosa Pergam putih

3. Reptil
Hutan mangrove merupakan habitat dari berbagai jenis satwa yang
beranekaragam salah satunya adalah reptil. Jenis reptil yang ditemukan pada
lokasi penelitian adalah kadal dan biawak. Menurut informasi dari masyarakat
setempat bahwa sering ditemukan ular pohon pada hutan mangrove. Reptil
menjadikan hutan mangrove ini sebagai tempat untuk bertelur, tempat
mengasuh anak dan juga menjadi tempat mencari makan. Jenis-jenis reptil
yang di temukan dapat di lihat pada tabel (Tabel 10).
Tabel 10. Jenis reptil yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di Desa
Minasa Upa Kab Maros

4. Crustacea
Hutan mangrove merupakan habitat yang sangat sesuai untuk
crustacea. Beberapa jenis crustacea hidup di sekitar mangrove untuk
mencari makan dan sebagai tempat perlindungan. Ada beberapa jenis
No Nama Latin Nama Indonesia
1
Emoia atrocostata Kadal
2
Varanus salvator Biawak
3
Chrysopelea sp Ular pohon

crustacea yang ditemukan dilokasi adalah jenis udang dan kepiting. Jenis-
jenis crustacea yang ditemukan di sekitar mangrove di Desa Minasa Upa.
Tabel 11. Jenis Crustacea yang ditemukan di kawasan Ekosistem Mangrove di
Desa MInasa Upa Kab. Maros

No Nama Latin Nama Indonesia
1
Macrobrachium equidens Udang Muara
2
penaeus Udang Laut
3
Myomenippe harwicki Kepiting Batu

D. Kondisi Fisik Ekosistem
1. Pasang Surut
Pasang surut merupakan proses naik turunnya muka laut secara periodik
karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari, (Nontji,
1988). Naik turunnya muka air yang terjadi satu kali dalam sehari yaitu pasut
tunggal, dan pasang surut dua kali sehari adalah pasut ganda. Sedangkan
pasang surut yang terjadi dua kali sehari tetapi satu pasang lebih kecil dari yang
lainnya disebut sebagai pasut campuran.
Untuk tipe pasang surut di Kab. Maros termasuk ke dalam tipe pasang
surut campuran yang condong keharian tunggal.

Gambar 6. Grafik Pasang Surut di Desa Minasa Upa Kab. Maros
0
50
100
150
200
0
0
.
0
0
0
3
.
0
0
0
6
.
0
0
0
9
.
0
0
1
2
.
0
0
1
5
.
0
0
1
8
.
0
0
2
1
.
0
0
0
0
.
0
0
0
3
.
0
0
0
6
.
0
0
0
9
.
0
0
1
2
.
0
0
23-Mar-11 24-Mar-11
Tinggi muka air (H)
DTS

Pengukuran pasang surut dilakukan selama 39 jam didapatkan pasang
tertinggi adalah 159 cm sedangkan surut terendah adalah 90 cm. Ini
menunjukkan bahwa kisaran pasang surut yang diperoleh adalah sebesar 69 cm
dengan MSL 128.95 cm. Kisaran pasang surut tersebut sudah termasuk kisaran
sangat sesuai untuk pemilihan lokasi wisata pantai yang mana standar
kesesuaian untuk parameter pasang surut adalah < 1 meter 3 meter, kisaran
pasang surut ini adalah kisaran pasang surut secara umum di Indonesia, (Nontji,
1988).
2. Salinitas
Berdasarkan hasil pengukuran salinitas didapatkan yaitu pada Stasiun I
adalah 4 ppt, untuk Stasiun II adalah 5 ppt, sedangkan Stasiun III adalah 5 ppt.
Kisaran ini tergolong rendah, hal ini disebabkan karena pada saat pengamatan di
lakukan pada musim hujan.

Gambar 7. Grafik salinitas di Desa Minasa Upa Kab. Maros
3. Suhu
Suhu adalah sutu sifat fisik yang dapat mempengaruhi metabolisme dan
pertumbuhan organism perairan. Suhu berperan penting dalam proses Fisiologis,
0
1
2
3
4
5
6
1 2 3
p
p
t

Stasiun
Salinitas
Salinitas

seperti Fotosintetis dan respirasi. Berdasarkan hasil pengukuran suhu
didapatkan yaitu pada stasiun I adalah 29
0
C, Untuk Stasiun II adalah 30
0
C,
sedangkan pada Stasiun III adalah 30
0
C. kisaran suhu tersebut masih berada
dalam kriteria yang sangat sesuai untuk pertumbuhan mangrove. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Muhamaze (2008), bahwa suhu rata-rata untuk pertumbuhan
mangrove maksimal 32
0
C pada siang hari dan minimal 23
0
C pada malam hari.

Gambar 8. Grafik Suhu di Desa Minasa Upa Kab. Maros
. Untuk kesesuaian pertumbuhan, maka kisaran suhu 29
0
C sampai 30
0
C
sangat cocok untuk pertumbuhan mangrove. Sesuai dengan pendapat Bengen
(2002) dalam Hamsiah (2009) bahwa hutan mangrove tumbuh optimal pada suhu
tropik yaitu diatas 20
0
C.
4. Kecepatan Arus
Berdasarkan Hasil Pengukuran kecepatan arus yaitu didapatkan 0.069
m/det saat menjelang pasang, sedangkan kecepatan arus menjelang surut yaitu
0.082 m/det. Nilai ini termasuk sangat sesuai untuk mangrove. Hal ini didukung
pendapat Suriamihardja (1998) dalam Erwin (2005) bahwa kecepatan arus <0.5
m/dtk sangat layak bagi pertumbuhan mangrove.
28.5
29
29.5
30
30.5
1 2 3
(

0
C
)

Stasiun
Suhu
Suhu


Gambar 9. Grafik Kecepata Arus di Desa Minasa Upa Kab. Maros
5. Jenis Substrat
Ukuran partikel sedimen dipengaruhi oleh beberapa faktor oseanografi
yaitu besarnya gelombang dan arus yang mensuplai sedimen. Dimana
gelombang yang relatif tenang dan arus yang lemah menyebabkan pengendapan
sedimenterlebih dahulu adalah sedimen yang berukuran kecil atau
haluskemudian di susul sedimen yang berukuran besar atau kasar.
Jenis sedimen yang ada di sungai Desa Minasa Upa Kec Bontoa kab.
Maros setelah di analisis yaitu pada Stasiun I 52.804 % jenis substrat kasar,
18.186 % jenis substrat sedang, dan 29.010 % jenis substrat halus, untuk
Stasiun II 45.298 % jenis substrat kasar, 25.727 % jenis substrat sedang, 28.976
% jenis substrat halus, sedangkan pada Stasiun III 68.752 % jenis substrat kasar,
14.544 % jenis substrat sedang, 16.705 % jenis substrat halus. `
0.06
0.065
0.07
0.075
0.08
0.085
Pasang Surut
m
/
d
e
t

Kecepatan Arus


Gambar 10. Grafik Perbandingan Ukuran Butir sedimen per Stasiun di Desa
Minasa Upa Kab. Maros
E. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove
1. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Desa Minasa Upa Kec.
Bontoa Kab. Maros Stasiun I
Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa analisis kesesuaian ekowisata
mangrove di Desa Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun I (Tabel 12)
Tabel 12. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa Minasau Upa Kab.
Maros pada stasiun I
No Parameter Bobot Hasil Penelitian Skor
Bobot X
skor
1 Jumlah Jenis mangrove
0.18 2 jenis 2 0.36
2 Ketebalan mangrove (m)
0.16 5 meter 1 0.16
3
Kerapatan mangrove
(100 m
2
)
0.14 18-24 4 0.56
4 Biota di atas pohon
0.12 burung, dan ular 2 0.24
5 Biota di dalam air
0.1 Kepiting 1 0.10
6 Kegiatan Masyarakat
0.08 Bertani 1 0.08
7 Aksesibilitas
0.07 dengan Perahu 1 0.07
8 Kisaran Pasut (m)
0.05 0.69 m 4 0.20
9 Kecepatan aus (m/det)
0.04 0.075 4 0.16
10 Ukuran partikel (mm)
0.03 0.25-0.5 mm 3 0.09
11 Salinitas (
0
/00)
0.02 4 ppt 4 0.08
12 Suhu (
0
)
0.01 29 3 0.03
Jumlah 1 30 2.13
[Ni/Nmax] 0.5325
Indeks Kesesuaian Wisata (%) 53.25
0
20
40
60
80
1 2 3
(

%
)

Stasiun
Sedimen

Sistem pembobotan kesesuaian untuk ekowisata mangrove, di lakukan
dengan pertimbangan parameter kesesuaian yang terdiri dari 12 parameter.
Parameter yang diambil adalah jumlah jenis mangrove, ketebalan mangrove,
kerapatan mangrove, biota di atas pohon, biota di dalam air, kegiatan
masyarakat, aksebilitas, pasang surut, kecepatan arus, ukuran partikel, salinitas,
dan suhu.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang di lakukan bahwa terdapat 2 jenis
mangrove yang didapat pada stasiun I yaitu R. mucronata dan N.frutican dengan
bobot 0.18 dengan skor 2 sehingga dapat digolongkan dengan S3 (sesuai
bersyarat). Hal ini berdasarkan dari tabel kesesuaian ekowisata mangrove yang
menyatakan bahwa tergolong dalam sesuai bersyarat dengan nilai 0.36.
Hasil pengukuran pada stasiun I didapatkan ketebalan mangrove
tergolong dalam kategori N (tidak sesuai) dengan ketebalan mangrove 5 meter.
Berdasarkan tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata, ketebalan
mangrove mempunyai bobot 0.16 dengan skor 1 sehingga nilai yang didapatkan
adalah 0.16. sedangkan kerapatan mangrove pada stasiun I tergolong dalam
kategori S1 (sangat sesuai), yaitu dengan kerapatan mangrove 18-24 ind/m
2
.
Berdasarkan tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata, kerapatan
mangrove mempunyai bobot 0.14 dengan skor 4 sehingga kerapatan mangrove
untuk ekowisata mempunyai nilai 0.56.
Jenis biota yang berada di atas pohon adalah termasuk dalam kategori
S3 (sesuai bersyarat) dengan bobot 0.12 dan skor 2 sehingga memiliki nilai 0.24.
Jenis biota yang didapatkan pada stasiun I di lokasi penelitian terdapat 2 jenis
biota yaitu jenis burung dan ular. Sedangkan jenis biota yang di temukan di
dalam air pada stasiun I yaitu jenis kepiting, dimana pada tabel kesesuaian
mangrove untuk ekowisata masuk dalam kategori N (tidak sesuai). Jenis biota

dalam air mempunyai bobot 0.1 dengan skor 1 sehingga nilai yang didapatkan
adalah 0.10.
Masyarakat di Desa Minasaupa memiliki beberapa kegiatan yaitu berupa
bertani sawah dan tambak. Berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove
bahwa kegiatan masyarakat mempunyai nilai bobot 0.08 dengan skor 1 sehingga
di dapatkan nilai 0.08. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat di Desa
Minasa Upa masuk dalam kategori N (tidak sesuai) untuk ekowisata mangrove.
Sedangkan untuk aksebilitas, masuk dalam kategori N (tidak sesuai) dengan
aksebilitas berupa perahu. Aksebilitas mempunyai bobot 0.07 dengan skor 1
sehingga nilai yang didapatkan untuk aksebilitas yaitu 0.07.
Kondisi pasang surut pada stasiun I memiliki nilai 0.20, dengan bobot
0.05 dan skor 4. Pasang surut pada stasiun I masuk dalam kategori S1(sangat
sesuai) untuk kesesuaian ekowisata. Sedangkan untuk kecepatan arus pada
stasiun I masuk dalam kategori S1(sangat sesuai), dimana kecepatan arus
mempunyai bobot 0.04 dengan skor 4, sehingga medapat nilai 0.16.
Pada stasiun I jenis substrat masuk dalam kategori S2(sesuai) untuk
ekowisata, dimana substrat memiliki nilai 0.09 dari bobot 0.03 dengan skor 3 .
untuk salinitas pada stasiun I masuk dalam kategori S1(sangat sesuai), salinitas
mempunyai bobot 0.02 dengan skor 4 sehingga salinitas untuk ekowisata
mempunyai nilai 0.08. sedangkan untuk suhu pada stasiun I yaitu 29
0
. Suhu
mempunyai bobot 0.01 dengan skor 3, menurut tabel kesesuaian ekowisata
mangrove suhu masuk dalam kategori S2(sesuai) dengan nilai 0.03.
2. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Desa Minasa Upa Kec.
Bontoa Kab. Maros Stasiun II
Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa analisis kesesuaian ekowisata
mangrove di Desa Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun II (Tabel 13)

Tabel 13. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa Minasau Upa Kab.
Maros pada stasiun II
No Parameter Bobot Hasil Penelitian Skor
Bobot X
skor
1 Jumlah Jenis mangrove
0.18 3 jenis 2 0.36
2 Ketebalan mangrove (m)
0.16 4 meter 1 0.16
3
Kerapatan mangrove
(100 m
2
)
0.14 19-38 4 0.56
4 Biota di atas pohon
0.12 burung, dan kadal 2 0.24
5 Biota di dalam air
0.1 udang dan Biawak 2 0.20
6 Kegiatan Masyarakat
0.08 Bertani 1 0.08
7 Aksesibilitas
0.07 dengan Perahu 1 0.07
8 Kisaran Pasut (m)
0.05 0.69 m 4 0.20
9 Kecepatan aus (m/det)
0.04 0.075 4 0.16
10 Ukuran partikel (mm)
0.03 0.25-0.5 mm 3 0.09
11 Salinitas (
0
/00)
0.02 5 ppt 4 0.08
12 Suhu (
0
)
0.01 30 3 0.03
Jumlah 1 31 2.23
[Ni/Nmax] 0.5575
Indeks Kesesuaian Wisata (%) 55.75

Sistem pembobotan kesesuaian untuk ekowisata mangrove, di lakukan
dengan pertimbangan parameter kesesuaian yang terdiri dari 12 parameter.
Parameter yang diambil adalah jumlah jenis mangrove, ketebalan mangrove,
kerapatan mangrove, biota di atas pohon, biota di dalam air, kegiatan
masyarakat, aksebilitas, pasang surut, kecepatan arus, ukuran partikel, salinitas,
dan suhu.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang di lakukan bahwa terdapat 3 jenis
mangrove yang didapat pada stasiun II yaitu R. mucronata, A. Alba dan
N.frutican dengan bobot 0.18 dengan skor 2 sehingga dapat digolongkan dengan
S3 (sesuai bersyarat). Berdasarkan dari tabel kesesuaian ekowisata mangrove
yang menyatakan bahwa tergolong dalam sesuai bersyarat dengan nilai 0.36.
Dari hasil pengukuran pada stasiun II didapatkan ketebalan mangrove
tergolong dalam kategori N (tidak sesuai) dengan ketebalan mangrove 4 meter.

Berdasarkan tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata, ketebalan
mangrove mempunyai bobot 0.16 dengan skor 1 sehingga nilai yang didapatkan
adalah 0.16. Sedangkan untuk kerapatan mangrove pada stasiun II tergolong
dalam kategori S1 (sangat sesuai), yaitu dengan kerapatan mangrove 19-38
ind/m
2
. Berdasarkan tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata,
kerapatan mangrove mempunyai bobot 0.14 dengan skor 4 sehingga kerapatan
mangrove untuk ekowisata mempunyai nilai 0.56.
Pada stasiun II Jenis biota yang berada di atas pohon adalah termasuk
dalam kategori S3 (sesuai bersyarat) dengan bobot 0.12 dan skor 2 sehingga
memiliki nilai 0.24. Jenis biota yang didapatkan pada stasiun II di lokasi penelitian
terdapat 2 jenis biota yaitu jenis burung dan kadal. Sedangkan jenis biota yang di
temukan di dalam air yaitu jenis udang dan biawak, dimana pada tabel
kesesuaian mangrove untuk ekowisata masuk dalam kategori S3 (sesuai
bersayarat). Jenis biota dalam air mempunyai bobot 0.1 dengan skor 1 sehingga
nilai yang didapatkan adalah 0.10.
Masyarakat di Desa Minasaupa memiliki beberapa kegiatan yaitu berupa
bertani sawah dan tambak. Berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove
bahwa kegiatan masyarakat mempunyai nilai bobot 0.08 dengan skor 1 sehingga
di dapatkan nilai 0.08. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat di Desa
Minasa Upa masuk dalam kategori N (tidak sesuai) untuk ekowisata mangrove.
Sedangkan untuk aksebilitas, masuk dalam kategori N (tidak sesuai) dengan
aksebilitas berupa perahu. Aksebilitas mempunyai bobot 0.07 dengan skor 1
sehingga nilai yang didapatkan untuk aksebilitas yaitu 0.07.
Kondisi pasang surut pada stasiun II memiliki nilai 0.20, dengan bobot
0.05 dan skor 4. Pasang surut masuk dalam kategori S1(sangat sesuai) untuk
kesesuaian ekowisata. Sedangkan untuk kecepatan arus pada stasiun II masuk

dalam kategori S1(sangat sesuai), dimana kecepatan arus mempunyai bobot
0.04 dengan skor 4, sehingga medapat nilai 0.16.
Pada stasiun II jenis substrat masuk dalam kategori S2 (sesuai) untuk
ekowisata, dimana substrat memiliki nilai 0.09 dari bobot 0.03 dengan skor 3 .
Untuk salinitas pada stasiun II masuk dalam kategori S1(sangat sesuai), salinitas
mempunyai bobot 0.02 dengan skor 4 sehingga salinitas untuk ekowisata
mempunyai nilai 0.08. sedangkan untuk suhu pada stasiun II yaitu 30
0
. Suhu
mempunyai bobot 0.01 dengan skor 3, menurut tabel kesesuaian ekowisata
mangrove suhu masuk dalam kategori S2(sesuai) dengan nilai 0.03.
3. Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Desa Minasa Upa Kec.
Bontoa Kab. Maros Stasiun III
Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa analisis kesesuaian ekowisata
mangrove di Desa Minasau Upa Kab. Maros pada stasiun III (Tabel 14)
Tabel 14. Analisis kesesuaian ekowisata mangrove di Desa Minasau Upa Kab.
Maros pada stasiun III
No Parameter Bobot Hasil Penelitian Skor
Bobot X
skor
1 Jumlah Jenis mangrove
0.18 1 jenis 2 0.36
2 Ketebalan mangrove (m)
0.16 5 meter 1 0.16
3
Kerapatan mangrove
(100 m
2
)
0.14 22-27 4 0.56
4 Biota di atas pohon
0.12 burung dan kadal 2 0.24
5 Biota di dalam air
0.1 udang dan kepiting, 2 0.20
6 Kegiatan Masyarakat
0.08 bertani 1 0.08
7 Aksesibilitas
0.07 dengan Perahu 1 0.07
8 Kisaran Pasut (m)
0.05 0.69 m 4 0.20
9 Kecepatan aus (m/det)
0.04 0.075 4 0.16
10 Ukuran partikel (mm)
0.03 0.25-0.5 mm 3 0.09
11 Salinitas (
0
/00)
0.02 5 ppt 4 0.08
12 Suhu (
0
)
0.01 30 3 0.03
Jumlah 1 31 2.23
[Ni/Nmax] 0.5575
Indeks Kesesuaian Wisata (%) 55.75


Sistem pembobotan kesesuaian untuk ekowisata mangrove, di lakukan
dengan pertimbangan parameter kesesuaian yang terdiri dari 12 parameter.
Parameter yang diambil adalah jumlah jenis mangrove, ketebalan mangrove,
kerapatan mangrove, biota di atas pohon, biota di dalam air, kegiatan
masyarakat, aksebilitas, pasang surut, kecepatan arus, ukuran partikel, salinitas,
dan suhu.
Dari hasil penelitian yang di lakukan bahwa terdapat 1 jenis mangrove
yang didapat pada stasiun I yaitu R. mucronata, dengan bobot 0.18 dengan skor
2 sehingga dapat digolongkan dengan S3 (sesuai bersyarat). Hal ini berdasarkan
dari tabel kesesuaian ekowisata mangrove yang menyatakan bahwa tergolong
dalam sesuai bersyarat dengan nilai 0.36.
Hasil pengukuran pada stasiun III didapatkan ketebalan mangrove
tergolong dalam kategori N (tidak sesuai) dengan ketebalan mangrove 5 meter.
Berdasarkan tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata, ketebalan
mangrove mempunyai bobot 0.16 dengan skor 1 sehingga nilai yang didapatkan
adalah 0.16. sedangkan kerapatan mangrove tergolong dalam kategori S1
(sangat sesuai), yaitu dengan kerapatan mangrove 22-27 ind/m
2
. Berdasarkan
tabel kesesuaian ekosistem mangrove untuk ekowisata, kerapatan mangrove
mempunyai bobot 0.14 dengan skor 4 sehingga kerapatan mangrove untuk
ekowisata mempunyai nilai 0.56.
Jenis biota yang berada di atas pohon termasuk dalam kategori S3
(sesuai bersyarat) dengan bobot 0.12 dan skor 2 sehingga memiliki nilai 0.24.
Jenis biota yang didapatkan pada stasiun III di lokasi penelitian terdapat 2 jenis
biota yaitu jenis burung dan kadal. Sedangkan jenis biota yang di temukan di
dalam air pada stasiun III yaitu jenis udang dan kepiting, dimana pada tabel
kesesuaian mangrove untuk ekowisata masuk dalam kategori S3 (sesuai

bersyarat). Jenis biota dalam air mempunyai bobot 0.1 dengan skor 2 sehingga
nilai yang didapatkan adalah 0.20.
Masyarakat di Desa Minasaupa memiliki beberapa kegiatan yaitu berupa
bertani sawah dan tambak. Berdasarkan tabel kesesuaian ekowisata mangrove
bahwa kegiatan masyarakat mempunyai nilai bobot 0.08 dengan skor 1 sehingga
di dapatkan nilai 0.08. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan masyarakat di Desa
Minasa Upa masuk dalam kategori N (tidak sesuai) untuk ekowisata mangrove.
Sedangkan untuk aksebilitas, masuk dalam kategori N (tidak sesuai) dengan
aksebilitas berupa perahu. Aksebilitas mempunyai bobot 0.07 dengan skor 1
sehingga nilai yang didapatkan untuk aksebilitas yaitu 0.07.
Kondisi pasang surut pada stasiun III memiliki nilai 0.20, dengan bobot
0.05 dan skor 4. Pasang surut pada stasiun III masuk dalam kategori S1(sangat
sesuai) untuk kesesuaian ekowisata. Sedangkan untuk kecepatan arus pada
stasiun I masuk dalam kategori S1(sangat sesuai), dimana kecepatan arus
mempunyai bobot 0.04 dengan skor 4, sehingga medapat nilai 0.16.
Pada stasiun III jenis substrat masuk dalam kategori S2(sesuai) untuk
ekowisata, dimana substrat memiliki nilai 0.09 dari bobot 0.03 dengan skor 3 .
untuk salinitas pada stasiun III masuk dalam kategori S1(sangat sesuai), salinitas
mempunyai bobot 0.02 dengan skor 4 sehingga salinitas untuk ekowisata
mempunyai nilai 0.08. sedangkan untuk suhu pada stasiun III yaitu 30
0
. Suhu
mempunyai bobot 0.01 dengan skor 3, menurut tabel kesesuaian ekowisata
mangrove suhu masuk dalam kategori S2(sesuai) dengan nilai 0.03.
Berdasarkan dari hasil analisis dari ketiga stasiun, maka stasiun I memiliki
nilai 53.25% indeks kesesuaian wisata untuk ekowisata mangrove. Sedangkan
pada stasiun II dan III memiliki nilai 55.75% indeks kesesuaian wisata untuk
ekowisata mangrove.

Tabel 15. Nilai kelayakan wisata pada setiap stasiun di sungai Desa Minasa Upa
Kab. Maros
No Stasiun Nilai Kelayakan
Kategori
Kelayakan
1 I 53.25 Sesuai Bersyarat
2 II 55.75 Sesuai Bersyarat
3 III 55.75 Sesuai Bersyarat

Berdasarkan matriks kesesuaian area untuk wisata mangrove di sungai
Desa Minasa Upa Kabupaten Maros dapat dilihat bahwa berdasarkan parameter
yang diukur maka lokasi penelitian tergolong kategori sesuai bersyarat untuk
pariwisata, hal ini disebabkan adanya beberapa parameter yang tidak sesuai
untuk kategori ekowisata mangrove diantaranya jenis mangrove yang kurang,
ketebalan mangrove yang kecil, biota yang kurang di daerah mangrove dan
aksebilitas yang ada ke lokasi wisata. Maka diperlukan perhatian pemerintah
untuk menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove dan jenis biota yang ada
di mangrove dan melakukan reboisasi mangrove di sepanjang sungai Minasa
Upa, serta mengembangan sarana dan prasarana dan aksebilitas yang dapat
menunjang pengembangan ekowisata mangrove dan perlu adanya keterlibatan
masyarakat dalam mengelola, menjaga dan melindungi ekosistem mangrove
agar bisa terjaga kelestariannya. Hal ini sesuai dengan undang-undang nomor
10 tahun 2009 tentang kepariwisataan yang menyatakan bahwa masyarakat
memiliki peran serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan.





F. Sarana dan Prasarana dasar yang mendukung ekowiata mangerove di
Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros
1. Prasarana yang terdapat di sekitar hutan mangrove
a. Dermaga kecil
Dermaga merupakan salah satu prasarana yang terdapat di sekitar
hutan mangrove di Desa minasa Upa Kab. Maros. Dermaga ini sering digunakan
penduduk sekitar untuk berlabuh kapalnya, dermaga ini juga dijadikan sebagai
tempat jual beli ikan pada pagi hari. Dan pada sore hari dermaga ini digunakan
oleh pendududk sekitar sebagai tempat memancing ikan.

Gambar 11. Dermaga kecil di sekitar hutan mangrove
b. ketersediaan air
sumber air tawar yang ada di Desa Minasa Upa berasal dari sumur.
Ketersediaan air tawar di Desa Minasa Upa masih sangat kurang karena hanya
beberapa rumah yang mempunyai sumur


c. ketersediaan listrik
Di tempat wisata Minasa Upa ketersediaan listrik berasal dari rumah
peduduk, berjarak kira-kira 50 meter. Listrik di tempat wisata Minasa Upa apabila
siang hari digunakan oleh pedagang untuk menyalakan kulkas, membuat jus,
dan menyalakan TV. Apabila malam hari digunakan sebagai penerangan di
dermaga dan juga dinyalakan di penginapan apabila ada pengunjung yang
menginap di tempat wisata. Ketersediaan listrik sangat baik untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat yang ada di Desa Minasa Upa dan mendukung hutan
mangrove di Desa Minasa Upa untuk di jadikan sebagai daerah ekowisata.
2. Sarana yang terdapat di sekitar hutan mangrove di Desa Minasaupa
a. Akomodasi
Fasilitas akomodasi terdiri dari tempat menginap, makanan, minuman dan
lainnya. Akomodasi merupakan salah satu komponen yang sangat penting serta
merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah
tujuan wisata (Cooper, 1996 dalam Nasrullah, 2006). Di sekitar hutan mangrove
terdapat penginapan. Penginapan ini sering di gunakan oleh pengunjung yang
berwisata di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros.

Gambar 12. Penginapan yang ada di sekitar hutan mangrove di Minasa Upa

b. Transportasi
Transportasi pada hakekatnya adalah jasa untuk memindahkan
wisatawan dari satu tempat asal ke tempat lain yang merupakan daerah tujuan
wisata. Dalam hal ini, untuk mencapai tempat wisata di Minasa Upa wisatawan
dapat menggunakan angkutan umum yang terdapat di terminal Maros.
Kebanyakan dari pengunjung menggunakan kendaraan pribadi yaitu mobil dan
motor untuk ke lokasi wisata.
Sarana transportasi berkaitan erat dengan mobilisasi wisatawan. Dalam
perkembangan pariwisata alat transportasi tidak hanya dipakai sebagai sarana
untuk membawa wisatawan dari suatu tempat ketempat lain saja, namun juga
digunakan sebagai atraksi wisata yang menarik. (Sukarsa, dalam Nasrullah
2006)
G. Persepsi Masyarakat
Secara umum hasil survei menunjukkan bahwa responden yang terdiri
dari penduduk dan pengunjung mengetahui keberadaan wisata di Desa Minasa
Upa. Menurut hasil survei yang dilakukan kepada penduduk setempat 90%
responden setuju dengan keberadaan wisata tersebut.. Dengan alasan, dapat
menambah penghasilan penduduk, pembangunan mulai berkembang di
lingkungan pantai wisata khususnya di Desa Minasa Upa, membuka mata
pencaharian baru bagi penduduk (terbukanya lowongan kerja). Dan 10 %
penduduk tidak setuju dengan keberadaan pantai wisata tersebut. Dengan
alasan apabila wisata tersebut dibuka maka dapat mempengaruhi kebudayaan
asli masyarakat, dan dapat menambah merusak jalan. Untuk menghindari hal
tersebut maka perlu diadakan pelarangan yang dapat mempengaruhi kearifan
lokal dalam pengembangan ekowisata dan perlu dilakukan perbaikan jalan.


Gambar 13. Persentase responden yang setuju dan tidak setuju dengan
keberadaan wisata di Desa Minasa Upa
Jumlah responden (n) =51

Menurut hasil yang diperoleh dari penduduk di sekitar wisata di Desa
Minasa Upa bahwa 20% dari penduduk berpendapat keberadaan wisata di Desa
Minasa Upa dapat memberikan tambahan penghasilan. Dengan cara membuka
warung ataupun kios-kios disekitar pantai wisata, menjaga kendaraan
pengunjung, nelayan dapat menjual langsung hasil tangkapannya kepada
pengunjung tanpa harus menjualnya kepasar ataupun keliling kampung, dan
80% penduduk sekitar wisata di Desa Minasa Upa tidak mendapat tambahan
penghasilan dengan adanya wisata di Desa Minasa Upa.

Gambar 14. Persentase responden yang mendapatkan penghasilan tambahan
dengan adanya wisata di Desa Minasa Upa
90%
10%
Setuju
Tidak setuju
20%
80%
Ya
Tidak

Umumnya responden sudah pernah berkunjung ke wisata di Desa
Minasa Upa. Dari 51 jumlah responden yang disurvey maka diperoleh hasil
frekwensi kunjungan penduduk ke wisata di Desa Minasa Upa yaitu 59% berkali-
kali, 13% satu kali sebulan, 4% dua kali seminggu, 8% satu kali seminggu, 10%
satu sampai lima kali, dan 6% tidak petrnah sama sekali.

Gambar 15. Persentase banyaknya kunjungan ke wisata di Desa Minasa Upa
Jumlah responden (n) =51

Menurut hasil wawancara dan survey yang telah dilakukan, wisata di
Desa Minasa Upa ramai di kunjungi oleh pengunjung pada hari sabtu, minggu
dan hari-hari libur. Alat transportasi penduduk untuk berkunjung ke pantai wisata
yaitu 90 % menggunakan kendaraan pribadi, 10 % menggunakan kendaraan
umum.



59%
13%
4%
8%
10%
6% Berkali-kali
1 Kali Sebulan
2 Kali Seminggu
1 Kali Seminggu
1-5 Kali
Tidak Pernah


Gambar 16. Persentase kendaraan saat mengunjungi pantai wisata Lombang-Lombang
Jumlah responden (n) =51
Menurut responden yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke
pantai wisata Minasa Upa yaitu keindahan sungai yang lebar dan air yang tenang
di Desa Minasa Upa Kabupaten Maros.








90%
10%
Kendaraan Pribadi
Kendaraan Umum

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Indeks kesesuaian wisata masing-masing stasiun adalah stasiun I = 53.25
%, stasiun II = 55.75 %, dan stasiun III =55,75 %. Hal ini menunjukkan
bahwa ekosistem mangrove di Desa Minasa Upa masuk dalam kategori
sesuai bersyarat untuk dijadikan sebagai area ekowisata mangrove.
2. Ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di Desa minasa Upa belum
cukup untuk mendukung untuk melakukan kegiatan ekowisata mangrove.
3. Berdasarkan pendapat dari stekholder terhadap pertanyaan yang diberikan
menunjukkan dukungan dibukanya kembali tempat wisata dan
menambahkan ekowisata mangrove di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab.
Maros.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian pengembangan ekowisata mangrove maka
disarankan sebagai berikut :
1. Perlu adanya penelitian lanjutan tentang oseanografi kimia yang lebih
detail untuk mengetahui tingkat pencemaran di lokasi studi.
2. Dalam penelitian ini suhu, salinitas dan kecepatan arus hanya diukur
satu kali. Maka untuk pengembangan wisata dibutuhkan pengukuran
suhu, salinitas dan kecepatan arus yang lebih banyak.





DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 1994. Hutan (Hakitat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan). Yayasan
Obor Indonesia, Jakarta.
2003. Hutan Mangrove (Fungsi dan Peranannya). Kanisius, Yogyakarta.
Bahar, A, 2005. Kajian Kesesuaian Ekosistem Mangrove Untuk pengembangan
Ekowisata. Dikepulauan Tanakeke Takalar
Bengen, D.G. 2004. Pedoman Teknis. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. PKSPL-IPB, Bogor
2000. Pedoman Teknis Pengenalan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian
Sumber Daya Pesisir dan Laut. IPB, Bogor
Budiman, A. dan Suhardjono. 1992. Struktur Komunitas Mangrove. Prosiding
Lokakarya Nasional Penyusunan Penelitian Biologi Kelautan dan Proses
Dinamika Pesisir, Semarang 24-28 November 1992.
Dahuri, R. Rais, J. Ginting,SP dan Sitepu. M.J. 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradya Paramita,
Jakarta.
Damanik,J. dan Weber,H.F. 2006. Perencanaan ekowisata. PUSPAR UGM dan
Andi, Yogyakarta.
DKP Sul Sel dan LP3WP, 2006. Inventarisasi Kawasan Mangrove di Sulawesi
Selatan. Laporan Akhir.
Erwin. 2005. Studi Kesesuaian Lahan Untuk Penanaman Mangrove Ditinjau Dari
Kondisi Fisika Oseanografi Dan Morfologi Pantai Pada Desa Sanjai Pasi
Marannu, Kab. Sinjai. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan dan
Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Hutabarat, S. dan Evans, S.M. 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Hardwinarto, S. 2008. Faktor Penopang Keberhasilan Penanaman Mangrove.
http://www.pmdmahakam.org]. [Akses 12 januari 2011]
Hamsiah, N. 2009, Analisis Pengembangan Ekowisata Mangrove di Pantai
wisata Lombang-lombang Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju
Sulawesi Barat. Universitas Hasanuddin Makassar

http://ppasadagori.blogspot.com/2010/10/20-persen-garis-pantai-indonesia-
alami.html (Akses 1 maret 2011)
Muhamaze. 2008. Introduction to Mangrove Ecosystem (Mengenal Ekosistem
Mangrove). http://www.google.com. [Akses 12 Januari 2011]

Mulia, F. Pertumbuhan Tegakan dan Teknik Pengusahaan Hutan Mangrove
Berkelanjutan (Pengamatan dan Penelitian Hutan Mangrove).
http://manglar.rimbawan.com/pdf. [Akses 12 januari 2011]
Modul Praktikum Oseanografi. 2008. Laboratorium Oseanografi Fisika. Jurusan
Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Modul Praktikum Sedimentologi, 2008. Laboratorium Geomorfologi. Jurusan Ilmu
Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Noor, Y.R., Khazali, M. dan Suryadiputra, I. N. N. 1999. Panduan Pengenalan
Mangrove di Indonesia. PKA/ WI-IP, Bogor.
Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Najihah A. 2009. Studi Kesesuaian Lahan Untuk Penanaman Mangrove
Ditinjau Dari Kondisi Oseanogarfi Di Muara Sungai Pangkajene
Kabupaten Pangkep. Universitas Hasanuddin Makassar.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia,
Jakarta.
Romimohtarto. K dan Juwana. S. 2001. Biologi Laut, Ilmu Pengetahuan Tentang
Bilogi Laut. Djambatan, Jakarta.
Setiyono, H. 1996. Kamus Oseanografi. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Supriharyono, M. S. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di
Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Subadra, IN 2008 Welcome to Bali Tourism Watch Bali Tourism Watch:
Ekowisata sebagai Wahana Pelestarian Alam Akademi Pariwisata Triatma
Jaya-Dalung http//Bali Tourism Watch Ekowisata sebagai Wahana
Pelestarian Alam Welcome to Bali Tourism Watch.htm diakses tanggal
24 Januari 2011.
Triatmodjo, B. 1999. Tehnik Pantai. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Tolison, P.B 1986. The Botany Of Mangrove. London: Cambridge University
Press.
Utojo, 2000. Studi Kelayakan Sumber Daya Budu Daya Laut di Pulau-pulau
Sembilan Kab. Sinjai Sul. Sel. Teluk Tira-tira, Teluk Kamaru dan Teluk
Lawele Kab. Buton serta Teluk Kalisusu Kab. Muna Sulawesi Tengah.
Balikanta, Maros.
Suwardjoko W, 2007. Pariwisata Dalam Tata Ruang Wilayah. ITB.
Wantasen, A, 2002. Kajian Potensi Sumber Daya Hutan Mangrove di Desa
Talise Kabupaten Minahasa. Sulawesi Utara. Institut Pertanian Bogor

Wiharyanto, D, 2007. Kajian Pengembangan Ekowisata Mangrove Di kawasan
Konservasi Pelabuhan Tengkayu II Kota Tarakan Kalimantan Timur.Tesis.
IPB.

Yulianda, P. 2006 Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan
Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi.. Makalah Seminar Sehari
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Institut Pertanian Bogor.

.

























































Lampiran 1. Hasil Pengamatan Ekosistem Mangrove di Desa Minasa Upa
Kec. Bontoa Kab. Maros

STASIUN I
PLOT 1

1. Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis induk
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 46 12 14.642 168.386 1.684
2 47 12 14.961 175.786 1.758
3 49 13 15.597 191.065 1.911
4 46 12 14.642 168.386 1.684
5 49 13 15.597 191.065 1.911
6 48 13 15.279 183.346 1.833
7 48 13 15.279 183.346 1.833
8 48 13 15.279 183.346 1.833
9 45 12 14.324 161.144 1.611
10 47 12 14.961 175.786 1.758
11 49 13 15.597 191.065 1.911
12 47 12 14.961 175.786 1.758
13 49 13 15.597 191.065 1.911
14 49 13 15.597 191.065 1.911
15 48 13 15.279 183.346 1.833
16 46 12 14.642 168.386 1.684
17 47 12 14.961 175.786 1.758
18 47 12 14.961 175.786 1.758
19 49 13 15.597 191.065 1.911
20 49 13 15.597 191.065 1.911
21 48 13 15.279 183.346 1.833
22 48 13 15.279 183.346 1.833
23 48 13 15.279 183.346 1.833
24 48 13 15.279 183.346 1.833

43.495
Anakan 34





PLOT 2

Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R. mucronata
1 48 13 15.279 183.346 1.833
2 47 13 14.961 175.786 1.758
3 49 13 15.597 191.065 1.911
4 49 13 15.597 191.065 1.911
5 45 12 14.324 161.144 1.611
6 47 12 14.961 175.786 1.758
7 47 12 14.961 175.786 1.758
8 48 12 15.279 183.346 1.833
9 48 13 15.279 183.346 1.833
10 46 12 14.642 168.386 1.684
11 46 12 14.642 168.386 1.684
12 49 13 15.597 191.065 1.911
13 49 13 15.597 191.065 1.911
14 47 13 14.961 175.786 1.758
15 48 13 15.279 183.346 1.833
16 47 12 14.961 175.786 1.758
17 48 13 15.279 183.346 1.833
18 48 13 15.279 183.346 1.833


32.412
Anakan 23















PLOT 3

Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 49 13 15.597 191.065 1.911
2 49 13 15.597 191.065 1.911
3 49 13 15.597 191.065 1.911
4 47 12 14.961 175.786 1.758
5 46 12 14.642 168.386 1.684
6 48 12 15.279 183.346 1.833
7 48 12 15.279 183.346 1.833
8 48 13 15.279 183.346 1.833
9 45 12 14.324 161.144 1.611
10 47 12 14.961 175.786 1.758
11 46 12 14.642 168.386 1.684
12 48 13 15.279 183.346 1.833
13 49 13 15.597 191.065 1.911
14 48 13 15.279 183.346 1.833
15 49 13 15.597 191.065 1.911
16 48 13 15.279 183.346 1.833
17 48 13 15.279 183.346 1.833
18 47 13 14.961 175.786 1.758
19 49 13 15.597 191.065 1.911
20 48 13 15.279 183.346 1.833
N. frutican 1

36.384

Anakan 14









2. Komposisi jenis

ulangan Ki
1 0,01
2 0,01
3 0,02

3. Kerapatan jenis dan Kerapatan relatif jenis


ulangan jenis Di Rdi
1 R. mucronata 0,24 100
2 R. mucronata 0,18 100
3
R. mucronata 0,2 95,238
N. frutican 0,01 4,762































STASIUN II
PLOT 1

1. Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p

jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 46 12 14,642 168,386 1,684
2 47 12 14,961 175,786 1,758
3 46 12 14,642 168,386 1,684
4 46 12 14,642 168,386 1,684
5 47 13 14,961 175,786 1,758
6 48 13 15,279 183,346 1,833
7 47 13 14,961 175,786 1,758
8 46 12 14,642 168,386 1,684
9 46 12 14,642 168,386 1,684
10 46 12 14,642 168,386 1,684
11 47 13 14,961 175,786 1,758
12 47 13 14,961 175,786 1,758
13 48 13 15,279 183,346 1,833
14 48 13 15,279 183,346 1,833
15 46 13 14,642 168,386 1,684
16 47 12 14,961 175,786 1,758
17 46 11 14,642 168,386 1,684
A. alba 2

29,518





Anakan 35















PLOT 2

Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p

jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 40 8 12.732 127.324 1.273
2 41 9 13.051 133.769 1.338
3 43 9 13.687 147.138 1.471
4 40 9 12.732 127.324 1.273
N. frutican 29

5.356

Anakan 12

PLOT 3

Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p

jenis Jumlah
N. frutican 38

2. Komposisi jenis

ulangan Ki
1 0,02
2 0,02
3 0,01

3. Kerapatan jenis dan Kerapatan relatif jenis

ulangan jenis Di Rdi
1 R. mucronata 0,17 89,474
A. alba 0,02 10,526
2 R. mucronata 0,04 12,121
N. frutican 0,29 87,879
3 N. frutican 0,38 100


STASIUN III
PLOT 1

1. Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 46 12 14,642 168,386 1,684
2 46 12 14,642 168,386 1,684
3 45 12 14,324 161,144 1,611
4 46 12 14,642 168,386 1,684
5 47 13 14,961 175,786 1,758
6 48 13 15,279 183,346 1,833
7 46 12 14,642 168,386 1,684
8 48 13 15,279 183,346 1,833
9 47 13 14,961 175,786 1,758
10 48 13 15,279 183,346 1,833
11 47 13 14,961 175,786 1,758
12 46 12 14,642 168,386 1,684
13 47 13 14,961 175,786 1,758
14 48 13 15,279 183,346 1,833
15 48 13 15,279 183,346 1,833
16 47 13 14,961 175,786 1,758
17 48 13 15,279 183,346 1,833
18 49 13 15,597 191,065 1,911
19 48 13 15,279 183,346 1,833
20 47 13 14,961 175,786 1,758
21 46 12 14,642 168,386 1,684
22 47 13 14,961 175,786 1,758


38,764
Anakan 21










PLOT 2

Penutupan Jenis (Ci)
Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis nomor
Diameter
(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 47 13 14,961 175,786 1,758
2 48 13 15,279 183,346 1,833
3 46 12 14,642 168,386 1,684
4 48 13 15,279 183,346 1,833
5 48 13 15,279 183,346 1,833
6 47 13 14,961 175,786 1,758
7 46 12 14,642 168,386 1,684
8 47 13 14,961 175,786 1,758
9 46 12 14,642 168,386 1,684
10 47 13 14,961 175,786 1,758
11 48 13 15,279 183,346 1,833
12 49 13 15,597 191,065 1,911
13 49 13 15,597 191,065 1,911
14 48 13 15,279 183,346 1,833
15 49 13 15,597 191,065 1,911
16 46 12 14,642 168,386 1,684
17 49 13 15,597 191,065 1,911
18 46 12 14,642 168,386 1,684
19 47 12 14,961 175,786 1,758
20 45 12 14,324 161,144 1,611


35,630
Anakan 16












PLOT 3

Penutupan Jenis (Ci)

Ci = BA/A
BA = (p(DBH)2/4)
DBH = CBH/p


jenis
nomo
r Diameter(cm)
Tinggi
(m) DBH BA Ci
R.
mucronata
1 47 12 14,961 175,786 1,758
2 46 12 14,642 168,386 1,684
3 48 13 15,279 183,346 1,833
4 47 12 14,961 175,786 1,758
5 48 12 15,279 183,346 1,833
6 45 12 14,324 161,144 1,611
7 47 12 14,961 175,786 1,758
8 46 12 14,642 168,386 1,684
9 47 12 14,961 175,786 1,758
10 47 12 14,961 175,786 1,758
11 46 12 14,642 168,386 1,684
12 47 12 14,961 175,786 1,758
13 48 13 15,279 183,346 1,833
14 48 13 15,279 183,346 1,833
15 47 13 14,961 175,786 1,758
16 48 13 15,279 183,346 1,833
17 47 13 14,961 175,786 1,758
18 49 13 15,597 191,065 1,911
19 48 13 15,279 183,346 1,833
20 49 13 15,597 191,065 1,911
21 49 13 15,597 191,065 1,911
22 48 13 15,279 183,346 1,833
23 49 13 15,597 191,065 1,911
24 46 12 14,642 168,386 1,684
25 47 13 14,961 175,786 1,758
26 46 12 14,642 168,386 1,684
27 48 13 15,279 183,346 1,833

48,162
Anakan 7




2. Komposisi jenis

ulangan Ki
1 0,01
2 0,01
3 0,01

3. Kerapatan jenis dan Kerapatan relatif jenis

ulangan jenis Di Rdi
1 R. mucronata 0,22 100
2 R. mucronata 0,2 100
3 R. mucronata 0,27 100


4. Frekuensi Jenis dan Frekuensi Relatif Jenis

stasiun jenis Fi Rfi
1
R. mucronata 1 25
N. frutican 0,333 8,333
2
R. mucronata 0,667 16,667
A. alba 0,333 8,333
N. frutican 0,667 16,667
3 R. mucronata 1 25





















Lampiran 2. Kondisi Oseanografi di Desa Minasa Upa Kab. Maros
1. Data Pasang Surut

Tanggal Jam Tinggi muka air (H) DTS
2
3
-
M
a
r
-
1
1

00.00 102

01.00 90

02.00 91

03.00 92.5

04.00 93.5

05.00 105

06.00 107.5

07.00 115

08.00 128

09.00 132

10.00 133

11.00 139.5

12.00 141

13.00 142.5

14.00 143.5

15.00 145.5 128.95
16.00 149.5

17.00 153

18.00 159

19.00 148

20.00 140

21.00 137.5

22.00 125

23.00 121.5

2
4
-
M
a
r
-
1
1

00.00 108.5

01.00 102.5

02.00 103.5

03.00 110

04.00 112.5

05.00 114.5

06.00 115

07.00 124

08.00 124.5

09.00 125

10.00 132.5

11.00 135.5

12.00 137.5

13.00 143.5

14.00 148.5


2. Data suhu dan salinitas
Stasiun
Suhu
(
0
C)
Salinitas
(ppt)
1 29 4
2 30 5
3 30 5

3. Data Kecepatan Arus
Menjelang pasang

S (m) T (dtk) V (m/det)
5 72 0.069
Menjelang Surut

S (m) T (dtk) V (m/det)
5 61 0.082






























Lampiran 3. Butiran Sedimen di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros
Stasiun I

Sub Stasiun 1

No Saringan 100.007 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 20.804 20.804
1 24.091 24.091
0.5 19.517 19.517
0.25 13.735 13.735 64.411 13.735 21.854
0.125 14.298 14.298
0.063 7.244 7.244
< 0.063 0.312 0.312
100.001 100.000

Stasiun I

Sub Stasiun 2

No Saringan 100.009 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 5.95 5.950
1 23.67 23.669
0.5 23.187 23.186
0.25 18.187 18.186 52.804 18.186 29.010
0.125 15.493 15.492
0.063 12.396 12.395
< 0.063 1.122 1.122
100.005 100.000


Stasiun I

Sub Stasiun 3

No Saringan 100.007 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 18.05 18.049
1 23.496 23.495
0.5 19.932 19.931
0.25 15.255 15.255 61.476 15.255 23.269
0.125 12.031 12.031
0.063 10.297 10.297
< 0.063 0.942 0.942
100.003 100.000





Stasiun II

Sub Stasiun 1

No Saringan 100.008 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 8.191 8.191
1 11.998 11.998
0.5 20.01 20.010
0.25 35.729 35.728 40.198 35.728 24.074
0.125 18.047 18.047
0.063 5.495 5.495
< 0.063 0.532 0.532
100.002 100.000


Stasiun II

Sub Stasiun 2

No Saringan 100.009 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 11.731 11.731
1 13.08 13.080
0.5 20.487 20.487
0.25 25.727 25.727 45.298 25.727 28.976
0.125 20.122 20.122
0.063 7.478 7.478
< 0.063 1.376 1.376
100.001 100.000



Stasiun II

Sub Stasiun 3

No Saringan 100.008 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 9.379 9.379
1 12.807 12.806
0.5 21.677 21.676
0.25 29.461 29.460 43.861 29.460 26.679
0.125 19.613 19.612
0.063 6.327 6.327
< 0.063 0.74 0.740
100.004 100.000



Stasiun III

Sub Stasiun 1

No Saringan 100.009 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 14.202 14.201
1 26.023 26.022
0.5 22.174 22.173
0.25 16.116 16.115 62.396 16.115 21.489
0.125 10.312 10.311
0.063 9.672 9.672
< 0.063 1.506 1.506
100.005 100.000


Stasiun III

Sub Stasiun 2

No Saringan 100.009 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 18.973 18.973
1 29.048 29.047
0.5 20.732 20.732
0.25 14.544 14.544 68.752 14.544 16.705
0.125 8.553 8.553
0.063 7.207 7.207
< 0.063 0.945 0.945
100.002 100.000


Stasiun III

Sub Stasiun 3

No Saringan 100.004 % berat Kasar % Sedang % Halus %
2 9.083 9.083
1 23.818 23.818
0.5 22.126 22.126
0.25 17.508 17.508 55.026 17.508 27.466
0.125 15.274 15.274
0.063 10.944 10.944
< 0.063 1.248 1.248
100.001 100.000





Lampiran 3. Hasil koisioner di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab. Maros
No Nama/umur
(tahun)
/pekerjaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Jufri/ 35/
Nelayan
Y Y Y Menjual
Ikan
Berkali-
kali
LS KP A B S Y
2 Dg. Muh Saleh/
39/ Staf Kantor
Desa
Y T Y Rekreasi Satu kali
sebulan
LD KP A B S Y
3 Dg. Sikka/ 55/
Petani
Y T Y Rekreasi Tiga kali
sebulan
LD KP A KB KS T
4 Dg Libu/ 43/
Peternak
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A B S Y
5 Latif/ 55/ Kepala
Desa
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A KB S Y
6 Dg Mappa/ 51/
Nelayan
Y T T - - - - - KB S Y
7 Syarifuddin/ 32/
Petani
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A B S Y
8 Sako/ 51/ Petani Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KU A CB S Y
9 Buah/ 53/
Wiraswasta
(Pembeli Udang)
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LS KP A B S Y
10 Dg Tiro/ 58/
Nelayan
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LS KP A B S Y
11 Dg Baso/ 50/
Petani
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A KB TS T
12 Dg Agus/ 35/
Petani
Y T Y Rekreasi Dua Kali LD KP A KB TS T
13 Dg Sapa/ 47/
Peternak
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
14 Dg Dullah/ 39/
Tukang batu
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
15 Dg Kahar/ 51/
Petani
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A CB S Y
16 Dg Roa/ 41/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu kali
sebulan
LD KP A CB S Y
17 Dg Sahari/ 68/
Peternak
Y T T - - - - - KB TS T
18 Taqim/ 28/
Tukang Ojek
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A B S Y
19 Syarifah/ 40/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu Kali LD KU A B S Y
20 Dg Tiroh/ 61/
Petani
Y T Y Rekreasi Tiga Kali LD KU A B KS T
21 Anto/ 30/ Petani Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y

22 Bollo/ 50/ Ibu
Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Tiga Kali LD KP A CB S Y
23 Sampara/ 42/
Petani
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
24 Nindo/ 43/
Nelayan
Y T Y Memancing Berkali-
kali
LS KP A CB S Y
25 Haliani/ 21/ Ibu
Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Lima kali LD KU A B S Y
26 St Maemunah/ 33/
Ibu Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KU A B S Y
27 Pada/ 45/ Ibu
Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Satu kali
sebulan
LD KP A B S Y
28 Hatijah/ 37/ Ibu
Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Satu kali sebulan LD KP A B S Y
29 Jumain/ 35/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu kali sebulan LD KP A CB S Y
30 Zaenuddin/ 40/
Petani
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LS KP A B S Y
31 Amir/ 32/ Petani Y T Y Rekreasi Satu Kali
seminggu
LD KP A B S Y
32 M Sideng/ 58/
Petani
Y T Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
33 Sirajuddin/ 40/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu Kali
seminggu
LD KP A B S Y
34 Zaenuddin/ 35/
Petani
Y Y Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
35 Rabasiah/ 50/ Ibu
Rumah Tangga
Y T T - - - - - KB S Y
36 Ratu/25/ Ibu
Rumah Tangga
Y T Y Rekreasi Satu kali
sebulan
LD KP A B S Y
37 M Anwar/ 36/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu kali
sebulan
LD KP A B S Y
38 Dg Kulle/ 40/
Petani
Y T Y Rekreasi Satu Kali
seminggu
LD KP A B S Y
39 Rahman/ 45/
Petani
Y T Y Rekreasi Dua Kali
seminggu
LD KP A B S Y
40 H Ilyas/ 35/
Penjual
Y Y Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
41 H Mantasia/ 53/ Ibu
Rumah Tangga
Y Y Y Lewat Tiap Hari LD KP A A S Y
42 Hajsia/ 33/ Ibu
rumah tangga
Y Y Y Rekreasi Berkali-
kali
LD KP A B S Y
43 Munir/25/petani Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A B S Y
44 Ardi/30/Nelayan Y T Y Memancing Satu Kali
seminggu
LS KP A B S Y
45 Wahyu/28/petani Y T Y Memancing Berkali-
kali
LD KP A KB S Y
46 Ilham/40/Petani Y T Y Memancing Berkali- LD KP A B S Y

No Nama/umur
(tahun)
/pekerjaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Nage/ 60/
Penjual
Y Y Y Jualan Berkali-
kali
LD KP A B S Y
2 Dg Intang/
39/ Penjual
Y Y Y Jualan Berkali-
kali
LD KP A B S Y
3 Dg Bunga/42/
Penjual
Y Y Y Jualan Berkali-
kali
LD KP A B S Y
4 H Salasa/
60/ Penjual
Y Y Y Jualan Berkali-
kali
LD KP A B S Y
5 H Hasnah/
35/ Penjual
Y Y Y Jualan Berkali-
kali
LD KP A B S Y

KETERANGAN
1,2,3,4,:Urutan pertanyaan
Y :Ya S :Setuju
T :Tidak KS :Kurang Setuju
B :Baik TS :Tidak Setuju
CB :Cukup baik A : Ada
KB :Kurang baik TA :Tidak Ada
KU :Kendaraan Umum
KP :Kendaraan Pribadi
LD :Lewat Darat
LS :Lewat Sungai
























Contoh Kuesioner Pengumpulan Data Sosial Ekonomi Masyarakat Di
Sekitar Desa Minasaupa Kec. Bontoa Kab. Maros

Bagian I. Perpektif Masyarakat
No. :
Hari/Tgl :
Latar Belakang
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin : Pria Wanita
Tingkat pendidikan : Tidak pernah sekolah
SD
SLTP
SMU
Akademi/Universitas
Lainnya
Apakah anda bekerja : Ya Tidak
Jenis pekerjaan : Pegawai negeri..........instansi apa......
Pegawai swasta........perusahaan apa.....
Wiraswasta........jenis usaha......
Lain-lain (sebutkan)......
Kegiatan lain : ...................

1. Apakah anda mengetahui keberadaan wisata yang pernah ada di daerah ini
?
...........jelaskan a. keuntungan.

b. kerugian..



2. Apakah keberadaan wisata memberikan tambahan penghasilan bagi anda?
Ya
Tidak
Bagaimana caranya.........................................................................

3. Apakah anda pernah berkunjung wisata desa Minsaupa?
Ya
Tidak

4. Apa alasan anda mengunjungi wisata minasaupa ?
..
5. Berapa kali anda berkunjung wisata Minasaupa.?
................................................................................
6. Bagaimana cara anda mengunjungi daerah wisata?

Lewat darat
Lewat sungai/laut

7. kendaraan yang di gunakan kelokasi wisata..?
kendaraan umum
kendaraan pribadi

8. Bagaimana fasilitas penunjang wisata Minasaupa?
Ada
Tidak ada

9. Bagaimana pendapat anda mengenai daerah wisata Minasaupa?

Baik
Cukup baik
Kurang baik


10. apakah anda setuju dengan keberadaan wisata tersebut ?

Setuju
Kurang setuju
Tidak setuju
Alasan..

11. Menurut anda apakah perlu pengembangan wisata di sini khususnya wisata
mangrove ?

Ya
Tidak
Alasan..

Bagian II. Informasi Stakeholder
1. apakah penetapan lokasi pariwisata ini di dukung oleh peraturan daerah
yang terkait
Bila telah ada sebutkan peraturan-peraturan daerah apa
saja?..................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
.................
2. Apakah lembaga pengelolah pariwisata telah
terbentuk?.........................................................................................................
..........................................................................................................................
...........
3. Langkah- langkah apa saja yang akan ditempuh oleh pihak pemerintah
dalam pengembangan wisata di minasaupa..???
a. Promosi...........................................................................................................
........................................................................................................................
.........
b. Pengembangan sarana dan prasarana ?
......................................................................................................................
........................................................................................................................
...........

c. Penguatan kapasitas pengelolah ?
......................................................................................................................
........................................................................................................................
...........
d. Keamanan daerah wisata
......................................................................................................................
........................................................................................................................
...........
4. Pengunjung tempat wisata di minasa upa umumnya dari mana saja..?
a. kab. Maros : %
b. di luar kab. Maros : %
5. Wisatawan umumnya berkunjung pada hari apa ?
.
6. Berkaitan dengan penetapan menjadi daerah wisata apa nilai tambah yang
diharapkan dari hutan mangrove menjadi daerah wisata?
a. PAD (Pendapatan asli daerah)
b. Pengembangan taraf hidup masyarakat













Lampiran 4. Foto foto kegiatan di Desa Minasa Upa Kec. Bontoa Kab.
Maros
1. Foto pengambilan data mangrove



2. Foto pengukuran suhu menggunakan thermometer













3. Foto pengukuran salinitas menggunakan Handrefractometer



4. Foto wawancara dengan masyarakat