Anda di halaman 1dari 10

Minggu, 14 Oktober 2012

asuhan keperawatan DHF



ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian DHF
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang
tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Nursalam, dkk.
2008).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong
arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamukaedes aegypty (betina)
(Hidayatalimulaziz. 2006).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan
oleh nyamuk aedes aegypty (Suriadi. 2010).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever(DHF) adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirusdan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.
B. Klasifikasi
1. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni
dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II :
Derajat I di sertai perdarahan spontan di kulitdan atau perdarahan lain.
3. Derajat III :
Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin lembab, gelisah.

4. Derajat IV :
Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat di ukur.

C. Etiologi DHF
Virus dengue sejenis arbovirus yang di tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil pada suhu 37 0C. Adapun ciri-ciri nyamuk
penyebar demam berdarah adalah :
1. Badan kecil,warna hitam dengan bintik-bintik putih
2. Hidup didalam dan sekitar rumah
3. Menggigit dan menghisap darah pada waktu siang hari
4. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung didalam kamar
Bersarang dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar rumah seperti bak mandi,
tempayan vas bunga.
D. Patofisiologi
Berdasarkan klasifikasi derajat ringan dan beratnya penyakit DHF dibagi menjadi empat
derajat yaitu : Derajat 1 demam disertai gejala klinis lainnya pendarahan ringan, uji
tourniquet positif, trambositopenia hemokonsentrasi, Derajat II seperti derajat I disertai
pendarahan spontan dikulit dan pendarahan lain, Derajat III ditemukan kegagalan sirkulasi
dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmhg) atau
hipotensi disertai kulit yang dingin dan lembab, dan tekanan darah yang tak dapat diukur.
Penyebab DHF yaitu virus dengue terdiri dari 4 serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan melalui
vector nyamuk aedes aegypthy. Infeksi dengan salah satu serotif akan menimbulkan antibody
seumur hidup terhadap serotip lain.
Virus Dengue dianggap sebagai antigen sehingga akan merangsang tubuh untuk
mengeluarkan antibody humoral dan sekuler. Dalam virus tidak langsung menimbulkan
gejala tetapi mengalami masa inkubasi kurang lebih 2 minggu. Hal ini tergantung dari
banyaknya virus yang masuk, virulensi atau keganasan dan daya tahan tubuh. Setelah terjadi
masa inkubasi maka akan terjadi viremia yaitu adalah virus dalam darah. Viremia ini berjalan
singkat mulai dua hari sebelum panas dan mencapai puncaknya setelah mencapai 6-7 hari
bersamaan dengan timbulnya antibody yang memiliki aktivitas netralisasi atau aktivitas
komplemen akhirnya banyak virus di hilangkan dan penderita mengalami penyembuhan
selanjutnya terjadilah seumur hidup terhadap serotip virus yang sama, tetapi tidak melindungi
terhadap serotip yang lain (proses infeksi primer). Infeksi sekunder terjadi jika tubuh
mendapatkan infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berbeda dan lebih vurulen.
Terdapatnya kompleks virus dalam sirkulasi darah menyebabkan suatu aktivitas sistem
komplemen yang mengakibatkan dilepaskannya anafilaktosin C3a dan C5a yang berdaya
untuk melepaskan histamin dan serotonin yang berdampak meningginya permeabilitis
pembuluh darah dan pada sistem koagulasi mengakibatkan menghilangnya plasma melalui
dinding endotel pembuluh darah sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskuler
keruang ekstavaskuler, kedua agresi trombosit menurun, apa bila kelainan ini berlanjut akan
menyebabkan kelainan fungsi trambosit, sebagai akibat mobilisasi sel trambosit muda dari
sumsum tulang, Pada keadaan agregasi akan melepaskan amin vaso aktif (histamin dan
serotonin) yang bersifat meninggikan permaebilitis kapiler dan melepaskan trambosit faktor 3
yang merangsang reaksi intravaskuler. Ketiga terjadinya aktivitas factor hagemen (faktor XII)
akibat terjadinya pembekuan intravaskuler yang berperan dalam pembentukkan anafilaktosin
dan penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation product. Disamping itu aktivasi akan
merangsang sistem kinin yang peran dalam proses meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah.

(skema menurut Mansjoer 2001)


Perjalanan penyakit:

Di bawah ini dipaparkan skema patofisiologi Demam Berdarah Dengue:
Infeksi virus dengue

Demam Anoreksia Muntah

Hepatomegali

Permeabilitas Vaskular naik

Trombositopenia

Kebocoran Plasma
~ Hemokonsentrasi
~ Hipo proternemia
~ Efusi Pleura
~ Ascites

Hipovolemia

Syok

Asidosis

Anoksia

Perdarahan saluran cerna

I

II

Derajat

III

IV

Meninggal

Manifestasi Perdarahan















Demam Berdarah Dengue derajat I II III IV

(skema menurut Mansjoer 2001)


E. Manifestasiklinis
1. Demam tinggi selama 5 7 hari
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie.
4. Nyeri otot
5. Sakit kepala.
6. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah,
capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

F. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi apabila kebocoran plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler yang
terus maka akan mengalami syok hipovolemia dan bisa terjadi DSS (Dengue Syock
Sindrom), jika keadaan tersebut tidak teratasi maka akan menyebabkan anoreksia jaringan,
asidosis metabolic dan berakhir dengan kematian, perdarahan terjadi karena trombositopenia,
menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya factor koagulasi (protombin, factor V. VII,
IX, X dan frinogen) pendarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus grastrointestinal.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih), trombositopenia
(100.000/mm
3
atau kurang)
2. Serologi : uji HI (hemoagutination inhibition test).
3. Rontgen thoraks : effusi pleura

G. Penatalaksanaan medis
Demam berdarah dengue, penatalaksanaannya hanya bersifat simptomatis dan suportif.
1. Pemberian cairan yang cukup
Cairan di berikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat demam tinggi,
anoreksia, dan muntah. Penderita perlu di beri minum sebanyak mungkin (1-2 liter dalam 24
jam).

2. Antipiretik
Seperti golongan asetaminofen (parasetamol), jangan berikan golongan salisilat karena dapat
menyebabkan bertambahan perdarahan.
3. Antikonvulsan
Bila penderita kejang dapat di berikan :
- Diazepam
- Fenobarbital
4. Pemberian cairan melalui infus, di lakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai
hematokrit cenderung meningkat.


H. Konsep tumbuh kembang anak usia sekolah
1. Motorik kasar
Loncat tali, Badminton, Memukul dan Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara
bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
2. Motorik halus
Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan dan Dapat meningkatkan kemampuan
menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
3. Kognitif
Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi, Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif
dalam pemecahan masalah, Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali
sejak awal dan Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
4. Bahasa
Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak, Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat,
kata keterangan, kata penghubung dan kata depan,Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran
verbal dan Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan.
J. Teori Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
1. Perkembangan psikoseksual
Menurut Fase laten (6-12 tahun) :
Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media
untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik maupun
sosialnya. Pada fase laten, anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin
perempuan, dan anak laki-laki dengan anak laki-laki.dalam hal ini, orang tua harus bijaksana
dalam merespons, yaitu menjawabnya dengan jujur dan hangat. Oleh karena itu, apabila anak
tidak pernah bertanya tentang seks, sebaliknya orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sngat
penting dalam melakukan pendekatan dengan anak, pelajari apa yang sebenarnya sedang di
pikirkan anak berkaitan dengan seks.
2. Perkembangan psikososial (erikson)
Menurut Industri versus inferiority (6 12 tahun)
Anak akan belajar untuk bekerja sama dan bersaing dengan anak lainnya melalui kegiatan
yang di lakukan baik dalam kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan
yang di lakukannya bersama. Otonomi mulai berkembang pada anak mulai fase ini, terutama
awal usia 6 tahun dengan dukungan keluarga dekat. Terjadinya perubahan fisik, emosi dan
sosial pada anak berpengaruh terhadap gambaran terhadap tubuhnya.Kemampuan anak untuk
berinteraksi sosial lebih luas denagnteman di lingkungannya dapat memfasilitasi
perkembngan perasaan sukses tersebut.
3. Perkembangan kognitif (piaget)
Concrete operation (7 11 tahun)
Pada usia ini, pemikiran meningkat atau bertambah logis dan konkeren. Ada anak mampu
mengklasifikasi benda dan perintah dan menyelesaikan masalah.secara konkrit dan sistematis
dan bedasarkan dengan apa yang mereka terima dari lingkungananya.
Formal operation ( 11- 15 tahun)
Tahapan ini di tunjukan dengan karakteristik kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya
dan kemampuan untuk fleksibel terhadap lingkungannya.Anak remaja dapat berfikir dengan
pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan.
I. Konsep hospitalisasi pada anak usia sekolah
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat,
mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami
berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian di tunjukan dengan pengalaman yang sangat
traumatik dan penuh dengan stresas.
J. Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak
Banyak penelitian membuktikan bahwa perawatan anak di rumah sakit menimbulkan stress pada
anak dan orang tua. Reaksi orang tua terhadap perawatan anak di rumah sakit latar belakang yang
menyebabkan dapat di uraikan sebagai berikut :
1. Perasaan cemas dan takut
Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anak mendapat prosedur menyakitkan,
seperti pengambilan darah, injeksi, infus, di lakukan fungsi lumbal dan prosedur infasiv
lainnya.Perilaku yang sering di tujukan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan cemas dan
takut ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama secara berulang pada orang
yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan bahkan merah.

2. Perasaan sedih
Perasaan ini muncul terutama pada saat anak dalam kondisi terminal dan orang tua mengetahui
bahwa tidak ada lagi harapan anaknya untuk sembuh. Pada kondisi ini, orang tua menunjukan
perilaku isolasi atau tidak mau di dekati orang lain. Bahwa tidak bisa kooperatif terhadap petugas
kesehatan.
3. Perasaan frustrasi
Pada kondisi anak yang telah di rawat cukup lama dan di rasakan tidak mengalami perubahan serta
tidak adekuatnya dukungan psikologis yang di terima orang tua baik dari keluarga maupun kerabat
lainnya maka orang tua akan merasa putus asa, bahkan frustrasi. Oleh karena itu, sering kali orang
tua menunjukan perilaku tidak koomperatif, putus asa, menolak tindakan, bahkan menginginkan
pulang paksa.
K. Reaksi anak usia sekolah terhadap hospitalisasi ( 6 12 tahun)
Perawatan anak di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dengan lingkungan yang di
cintainya, yaitu keluarga dan terutama kelompok sosialnya dan menimbulkan kecemasan. Kehilangan
kontrol tersebut berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, anak kehilangan kelompok
sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati,
dan adanya kelemahan fisik.
Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri akan di tunjukan dengan ekspresi baik secara
verbal maupun non verbal karena anak sudah mampu mengomunikasi kannya. Anak usia sekolah
sudah mampu mengontrol perilakunya jika merasa nyeri, yaitu dengan menggigit bibir dan atau
memegang sesuatu dengan erat.
1. Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya, Dapat mengekspresikan perasaan dan
mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri, Selalu ingin tahu alasan tindakan dan Berusaha independen dan
produktif.
2. Reaksi orang tua
Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa
depan anak dan frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya
peraturan Rumah sakit.

L. Pengkajian keperawatan

a. Kondisi lingkungan
Sering terjadi didaerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih ( seperti
air yang mengenang dan gantungan baju dikamar ).

b. Riwayat penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam
kesadaran kompos menthis. Turunya panas terjadi antara hari ke -3 dan ke-7 dan anak smakin
lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek,
mual, muntah, anareksia, diare/konstipati, sakit keepala, nyeri otot dan persedian, nyeri
ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manipestasi pendarahan pada
kulit, gusi, (grade III, IV) melena atau hemastemesis.

c. Pemeriksaan Fisik
1) Inpeksi : Epitaksis.
2) Palpasi :Nyeri tekan pada ulu hati dan otot, hepatomegali, demam tinggi, perifer dingin, dan
dispneu.
3) Uji torniquet positif (Adanya perdarahan kulit seperti petekhie).

d. Test diaknostik
1) Hematorik meningkat, trombosit menurun, hemoglobin dan natrium.
2) Rontgent thorax.
3) Rontgent abdomen dan USG.


M. Diagnosa keperawatan
1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit (virus dalam darah/viremia).
2. Gangguan pemenuhan kubutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
3. Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
4. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
5. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh akibat
perdarahan.
6. Kurang pengetahuan tenang proses penyakit, diet, perawatan, dan obat-obatan pasien
berhubungan dengan kurangnya informasi.

N. Intervensi keperawatan
1. DX 1 : Hipertemia (suhu naik) berhubungan dengan proses penyakit (viremia/virus).
Tujuan : Hipertemia dapat teratasi
Kriteria Hasil : Suhu tubuh dalam batas normal (36-37
0
C).
Mukosa lembab tidak ada sianosis atau purpura
Intervensi
Mandiri :
1) Kaji saat timbulnya demam
Rasional : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2) Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi, tensi, pernafasan setiap 3 jam atau lebih sering.
Rasional : Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum klien.
3) Anjurkan klien untuk banyak minum 2,5 liter/24 jam dan jelaskan manfaatnya bagi
klien.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
4) Lakukan Tepid Water Sponge
Rasional : Tepid Water Sponge dapat menurunkan penguapan dan penurunan suhu tubuh.
5) Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.
Rasional: Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi panas dalam tubuh.
Kolabirasi :
6) Berikan terapi cairan IVFD dan obat antipiretik.
Rasional : Pemberian cairan dan obat antipiretik sangat penting bagi klien dengan suhu
tinggi yaitu untuk menurunkan suhu tubuhnya.

2. DX 2 : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungandengan anoreksia.
Tujuan :Anoreksia dan kebutuhan nutrisi dapat teratasi.
Kriteria Hasil : Berat badan stabil dalam batas normal.
Tidak ada mual dan muntah.
Intervensi
Mandiri :
1) Kaji mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami oleh pasien.
Rasional : untuk menetapkan cara mengatasinya.
2) Kaji cara/bagaimana makanan dihidangkan
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengarauhi nafsu makan klien.
3) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur, tim, dan hidangkan saat masih hangat.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena
mudah ditelan.
4) Jelaskan manfaat makanan/nutrisi bagi klien terutama saat klien sakit.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehingga motivasi makan meningkat.
5) Berikan umpan balik positif pada saat klien mau berusaha menghabiskan makanan.
Rasional : Motivasi dan meningkatklan semangat pasien.
6) Catat jumlah/porsi makan yang dihabiskan oleh klien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi.
7) Lakukan oral hygiene dengan menggunakan sikat gigi yang lunak.
Rasional : Meningkat nafsu makan.
8) Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mengetahui perkembangan status nutrisi klien.

Kolaborasi :
9) Bererikan obat-obatan antasida (anti emetik) sesuai program/instruksi dokter.
Rasional: Dengan pembarian obat tersebut diharapkan intake nutrisi klien meningkat karena
mengurangi rasa mual dan muntah.
10) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit yang tepat.
Rasional : Membantu proses penyembuhan klien.

3. DX 3 : Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan : Perdarahan tidak terjadi.
Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital normal.
Jumlah trombosit klien meningkat.
Tidak terjadi epitaksis, melena, dan hemotemesis
Intervensi
Mandiri :
1) Monitor tanda-tanda perdarahan dan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
Rasonal: Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda-tanda adanya perforasi pembuluh darah
yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis berupa perdarahan (petekie,
epistaksis, dan melena).
2) Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
Rasional : Aktivitas yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
3) Berikan penyelasan pada keluerga untuk segera melaporkan jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Mendapatkan penanganan segera mungkin.
4) Antisipasi terjadinya perdarahan dengan menggunakan sikat gigi lunak,
memberikan tekanan pada area tubuh setiap kali selesai pengambilan darah.
Rasional : Mencegah terjadinya pendarahan.

4. DX 4 : Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan : Aktivitas sehari-hari klien kembali normal.
Kriteria Hasil :Keadaan umum membaik
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi seperti: makan, minum,dan personal hyiene (mandi,
menggosok gigi, dan bershampo).
Intervensi
Mandiri :
1) Kaji kebutuhan klien.
Rasional : Mengidentifikasi masalah klien.
2) Kaji hal-hal yang mampu dilakukan klien berhubungan dengan kelemahan fisiknya.
Rasional: Mengetahui tindakan keperawtan yang akan diberikan sesuai dengan masalah klien.
3) Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari klien sesuai tingkat keterbatasan klien
seperti mandi, makan, dan eliminasi.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah dan
perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa
membuat klien ketergantungan terhadap perawat.

5. DX 5 : Resiko tinggi syok hipovolemik berhibungan dengan kurangnya volume cairan
tubuh akibat perdarahan.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria Hasil :Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Keadaan umum baik, Syok hipovolemik tidak terjadi.
Intervensi.
Mandiri :
1) Monitor keadaan umum kilen.
Rasional : Untuk mengetahui jika terjadi tanda-tanda syok.
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam.
Rasional : Untuk memastikan tidak terjadi per syok.
3) Monitor tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera teratasi.
4) Anjurkan keluarga/klien untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Untuk membantu tim perawat untuk segara menentukan tindakan yang tepat.
5) Segera puasakan jika terjadi perdarahan saluran pencernaan.
Rasional : Untuk membantu mengistirahatkan saluran pencernaan untuk
sementara selama perdarahan berasal dari saluran cerna.
6) Perhatikan keluhan klien seperti pusing, lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pengaruh perdarahan.
Kolaborasi :
7) Berikan therapi cairan intra vena jika terjadi perdarahan.
Rasional: Untuk mengetahui kehilangan cairan tubuh yang hebat yaitu untuk mengatasi
syok hipovolemik.
8) Cek Hb, Ht, Trombosit (sito)
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami klien, dan untuk
acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
9) Berikan trasfusi sesuai instruksi dokter.
Rasional : Untuk menganti volume darah serta komponen yang hilang.

6. DX 6 : Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diit, perawatan, dan obat-obatan
pasien berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pengetahuan klien bertambah.
Kriteria Hasil :Pengetahuan klien/Keliarga tentang proses penyakit, diit,perawatan dan
obat penderita DHF meningkat dan klien/keluarga mampu menjelasakan kembali.
Intervensi
Mandiri :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF.
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan tentang penyakit yang diderita klien.
2) Kaji latar belakang pendidikan klien dan keluarga.
Rasional: Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan sehingga
penjelasan dapat dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai.
3) Jelaskan tentang proses penyakit,diit, perawatan, obat-obatan pada klien dengan bahasa yang
mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan tepat dan jelas.
4) Berikan kesempatan pada klien/keluarga untuk bertanya sesuai dengan penyakit yang
dialami.
Rasional: Mengurangi kecemasan dan motivasi klien untuk kooperatif selama masa
perawatan/penyembuhan
5) Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam bentuk penjelasan.
Rasional : Dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat dilihat
atau dibaca berulang kali.