Anda di halaman 1dari 6

MEKANISME RETENSI - AMALGAM DENGAN PIN RETENTIF

Dua Laporan Kasus


Abstrak: Restorasi amalgam dengan pin retentif dapat digambarkan sebagai jenis restorasi
amalgam kompleks yang membutuhkan penempatan satu atau lebih pin pada dentin untuk
memberikan bentuk resistensi dan retesi yang adekuat. Pin digunakan saat bentuk resistensi
dan retensi yang adekuat tidak dapat diperoleh dengan hanya slot, lock atau undercut.
Amalgam dengan pin retentif merupakan tambahan penting dalam restorasi gigi dengan
karies atau fraktur luas. Pin tidak hanya membantu mengikat amalgam ke struktur gigi,
namun juga membantu mengikat struktur gigi yang rapuh pada amalgam. Laporan kasus ini
menunjukkan teknik inovatif yang menggambarkan rekonstruksi gigi posterior yang
kehilangan cusp fungsional dengan kerusakan parah.
Kata kunci: Amalgam; amalgam dengan pin retentif; self-threaded pin
I. Pendahuluan
Amalgam merupakan salah satu bahan restorasi paling serbaguna, yang terdapat pada sekitar
75% bahan restoratif yang digunakan oleh dokter gigi. Gabungan dari tambalan yang dapat
diandalkan, kemampuan jangka panjang dalam menahan beban, sensitivitas teknik rendah,
sifat penutupan sendiri dan tahan lama tidak dapat dibandingkan dengan bahan restoratif
lainnya.
Sejak laporan pertama Markley mengenai retensi pin pada amalgam tahun 1958, penelitian
lebih banyak telah dilakukan mengenai topik ini.
Pada tahun 1969, Moffa,dkk melaporkan tentang sifat retentif tiga desain berbeda pada dentin
dan amalgam. Mereka mencatat bahwa 2 mm merupakan panjang optimal pin retentif pada
dentin/amalgam untuk self-threaded pin dan mereka menyimpulkan bahwa self-threaded pin
merupakan yang paling retentif pada dentin dan amalgam.
Pemberian retensi tambahan, dalam bentuk pin sering dibutuhkan untuk restorasi gigi yang
rusak dan patah, khususnya pada pasien muda yang ruang pulpanya relatif besar, tubulus
dentin yang relatif imatur dan tepi gingiva masih tinggi.
i.i. Retensi pin pada dentin
Tujuan utama penggunaan pin yaitu untuk memperoleh atau meningkatkan retensi restorasi
pada dentin. Self-threaded pin akan menjadi 5-6 kali lebih retentif daripada cemented pin.
Friction grip pin akan memiliki retensi 2-3 kali lebih besar dari cemented pin. Pin yang
diletakkan saling berdekatan kurang dari 2 mm dalam satu gigi akan mengakibatkan
hilangnya retensi pin pada dentin.
i.ii. Dekatnya pin dengan DEJ
Jarak 1,5 2,0 mm dari DEJ aman untuk threaded pin.
i.iii. Retensi pin pada bahan restoratif
Threaded pin 4 kali lebih retentif daripada friction grip, sebagian besar karena permukaannya
yang berlekuk dan kekasaran threaded. Bahan restoratif akan diletakkan pada panjang pin 1,5
mm. pin yang bengkok dapat menyulitkan pola tekanan.
i.iv. Letak pin
Letak ideal yaitu gingival, dekat dengan sudut proksimo-labial dan proksimo-lingual. Pilihan
kedua yaitu di tengah lantai proksimal gingival atau di tengah lantai labial gingival dan
pilihan ketiga yaitu insisal, yang terdapat paling kurang 2 mm atau lebih dentin antara enamel
labial dan lingual.
i.v. Faktor yang mempengaruhi retensi pin pada dentin dan amalgam
Jenis pin berdasarkan urutan kemampuan retentif pada dentin, self-threaded pin merupakan
yang paling retentif, selanjutnya yaitu friction locked pin, dan yang paling kurang retentif
yaitu cemented pin.
Karakteristik permukaan Jumlah dan kedalaman elevasi (gerigi atau thread) pada pin
mempengaruhi retensi pin pada restorasi amalgam. Bentuk self-threaded pin memberikannya
nilai retensi terbesar.
Orientasi, jumlah, diameter Penempatan pin pada keadaan tidak sejajar meningkatkan
retensinya. Pada umumnya, penambahan jumlah pin meningkatkan retensi pada dentin dan
amalgam.
Faktor lain untuk retensi pin yaitu pengikatan mekanis amalgam dengan undercut pin serta
elastisitas dan kekakuan dentin.
i.vi. Teknik Threaded pin
Indikasi:
Ini merupakan teknik yang paling dapat diterapkan dan mudah dilakukan untuk indikasi
berikut:
1. Digunakan untuk gigi vital
2. Dentin untuk ditempatkan pin yaitu dentin primer atau sekunder dengan hidrasi yang baik
3. Letak pin yang tersedia paling kurang 1,5 mm dari DEJ
4. Membutuhkan jumlah minimal pin untuk restorasi
5. Retensi maksimal pin pada dentin dan restorasi dibutuhkan untuk satu alasan atau
lainnya. Tiap pin akan memiliki bagian perlekatan kunci dimana alat penggerak kunci
dapat menahannya dengan kuat saat menggerakkan pin ke dalam channel pin.
Tiap pin tersedia dalam salah satu desain berikut:
1. Desain standar, panjang 7 mm, harus diperpendek setelah ditempatkan
2. Desain self-shearing secara otomatis bergeser pada 4 mm dari tepi dentin, saat tepinya
berkontak dengan dasar channel pin.
3. Pin dengan disposable latch-head biasanya memiliki plastic head yang pas pada geared-
down low speed contraangle handpiece. Pada titik dimana terdapat tahanan untuk thread
lanjutan, misalnya menyentuh dasar channel, disposable latch-head akan terpisah dari pin.
Prosedur:
1. Prosedur penggunaan pin ini dapat diperkirakan dari gambaran desainnya. Channel pin
dipreparasi seperti biasa.
2. Selanjutnya pin dimasukkan bersama dengan alat penggeraknya dan pin dimasukkan terus
sampai pin memberikan resistensi yang dimulai dengan menyentuh pin pada dasar
channel.
3. Resistensi ini dapat menyebabkan self-shearing atau terlepasnya ikatan alat penggerak.
Kita dapat memotong pin sampai panjang yang diinginkan, menggunakan bur sangat kecil
pada hand piece high speed.
Beberapa penelitian klinis menunjukkan bahwa amalgam tinggi tembaga dapat menyediakan
hasil yang memuaskan selama 12 tahun. Plasmins,dkk menilai ketahanan jangka panjang
restorasi banyak permukaan dan menemukan bahwa luas restorasi amalgam tidak
mempengaruhi angka ketahanan.
II. Laporan Kasus
Pasien perempuan berusia 28 tahun datang ke Bagian Konservasi Gigi dan Endodontik,
dengan keluhan utama terselipnya makanan di daerah gigi belakang bawah kiri sejak 2 bulan
yang lalu. Riwayat medis pasien tidak berkaitan.
Pada pemeriksaan klinis, dinding distal dan sebagian dinding lingual gigi hilang. Gigi tidak
bergejala dan tidak menimbulkan rasa sakit. Gigi berespon positif terhadap tes termal dan
pulpa elektrik. Gigi tersebut tidak menunjukkan mobilitas (Gambar 1).
Pemeriksaan radiografinya menunjukkan adanya lesi karies yang mendekati tapi tidak
melibatkan pulpa tanpa adanya tanda keterlibatan apikal (Gambar 2). Informed consent
pasien dan ethical clearance diperoleh dari pasien.
Prosedur dimulai dengan ekskavasi karies dan pembuangan batas enamel yang rapuh.
Preparasi channel pin dilakukan menggunakan Fairfax Stabilok custom drill (Gambar 3,4).
Channel pin dibuat menggunakan bur Stabilok yang dilanjutkan dengan fiksasi pin (Gambar
5). Setelah pin dimasukkan, dilakukan adaptasi matriks band, basis zinc fosfat diaplikasikan
dan amalgam dipadatkan lapis demi lapis. Dilakukan pengukiran untuk memperoleh kontur
gigi yang sesuai diikuti dengan penyesuaian oklusi serta finishing dan pemulasan. (Gambar
6).
III. Laporan Kasus
Pasien perempuan berusia 32 tahun datang ke Bagian Konservasi Gigi dan Endodontik,
dengan keluhan utama terselipnya makanan di daerah gigi belakang kiri bawah sejak 4 bulan
yang lalu. Riwayat medis pasien tidak berkaitan.
Pada pemeriksaan klinis, terdapat karies luas yang mengenai permukaan bukal. Gigi tidak
bergejala dan tidak menimbulkan rasa sakit. Gigi berespon positif terhadap tes termal dan
pulpa elektrik. Gigi tersebut tidak menunjukkan adanya mobilitas (Gambar 7). Infomed
consent dan ethical clearance yang dibutuhkan diperoleh dari pasien. Prosedur dimulai
dengan ekskavasi karies dan pembuangan tepi enamel yang rapuh. Preparasi channel pin
dilakukan dengan menggunakan Fairfak Stabilok custom drill (Gambar 8). Channel pin
dibuat dengan bur Stabilok yang diikuti dengan fiksasi pin (Gambar 9). Setelah pin
dimasukkan, dilakukan adaptasi matriks band, basis zinc fosfat semen diaplikasikan dan
amalgam dipadatkan lapis demi lapis. Dilakukan pengukiran untuk memperoleh kontur gigi
yang sesuai, yang dilanjutkan dengan penyesuaian oklusi serta finishing dan pemulasan
(Gambar 10).
IV. Diskusi
Umumnya, amalgam merupakan bahan pilihan untuk restorasi penutupan cusp secara
langsung pada gigi posterior. Smales,dkk memperoleh angka ketahanan sebesar 66,7%
setelah 10 tahun untuk restorasi amalgam yang besar, dan menutupi cusp. McDaniel,dkk
melakukan survey, yang menunjukkan bahwa penyebab kegagalan restorasi amalgam yang
menutupi cusp yaitu fraktur gigi. Mereka menganggap bahwa alasan utama kegagalan yaitu
preparasi gigi yang terlalu konservatif; mereka menyarankan penggantian cusp rapuh dengan
restorasi amalgam yang besar.
Pengerutan polimerisasi merupakan perhatian utama saat penambalan dengan restorasi resin
komposit direct pada gigi posterior. Dibandingkan dengan restorasi amalgam yang sama,
penambalan restorasi komposit direct membutuhkan waktu 2,5 kali lebih lama karena tahapan
yang kompleks yang dimasukkan dalam teknik inkrementalnya. Pasien yang memiliki
kebiasaan parafungsional bukan merupakan calon ideal untuk perawatan yang sama. Jika
dipergunakan teknik konvensional, kontinyu, fast curing, batas bonding dapat tetap melekat,
dapat muncul retakan mikro di luar cavosurface margin akibat tekanan pengerutan
polimerisasi. Sebaliknya, terdapat metode indirect untuk merestorasi molar dan premolar
yang rusak parah dengan restorasi sewarna gigi dan metal tuang, tapi prosedur operatif untuk
metode ini lebih rumit dan menghabiskan waktu, serta harga yang lebih mahal.
Prinsip utama preparasi kavitas untuk restorasi amalgam pin retentif yaitu, pertama, menjaga
struktur gigi yang tersisa dan kedua, pembuangan semua karies/struktur gigi yang rapuh. Pin
tidak meniadakan kebutuhan preparasi kavitas, tapi melengkapi ciri desain kavitas. Pin
sendiri menyerap tekanan dalam struktur gigi. Karena itu, ideal untuk menggabungkan secara
teliti jumlah pin minimal dan ciri kavitas, untuk memperoleh aspek retensi dan resistensi
yang maksimal. Untuk retensi ideal, dinding fasial dan lingual yang ada harus sejajar, bukan
konvergen ke oklusal. Daerah aproksimal gigi harus memiliki bentuk box dengan retensi
groove, sewaktu-waktu mudah dilakukan. Retensi tambahan dapat disediakan dengan
menempatkan slot dan dovetail pada struktur gigi yang ada, dan harus ada daerah dentin yang
cukup luas untuk penempatan pin. Pada umumnya, daerah yang didesain untuk menerima pin
harus dikurangi untuk memungkinkan pin sepanjang 2 mm dan amalgam yang menutupi
paling kurang 0,5 mm di sekitar pin dan 2,0 mm oklusal dari pin.
Posisi pin tergantung dari beberapa faktor, pertama yaitu morfologi internal kavitas. Kedua,
harus dipertimbangkan morfologi eksternal gigi. Ketiga, harus dipertimbangkan bagian
terbesar amalgam, karena pin yang ditempatkan di daerah dengan ukuran amalgam yang
lebih besar, kecil kemungkinannya untuk memperlemah amalgam. Terakhir, harus
dipertimbangkan perkiraan titik beban oklusal, karena pin vertikal yang ditempatkan
langsung di bawah beban oklusal akan memperlemah amalgam secara signifikan.
Prediksi bahwa amalgam tidak akan bertahan sampai akhir abad ke-20 itu salah. Sebaliknya,
penelitian terbaru menyimpulkan bahwa restorasi penutupan cusp dengan kombinasi
amalgam-komposit menunjukkan kemampuan klinis yang dapat diterima dalam jangka waktu
tertentu. Namun, amalgam terus menjadi tawaran terbaik dalam armamentarium restoratif
karena ketahanan dan tekniknya yang tidak sensitif. Amalgam mungkin akan hilang suatu
saat, namun hilangnya amalgam akan membawa bahan yang lebih baik dan lebih estetik,
daripada kekhawatiran bahaya bagi kesehatan. Saat amalgam menghilang, ini telah melayani
kedokteran gigi dan pasien dengan baik selama lebih dari 200 tahun.
Kesimpulan
Restorasi amalgam telah melayani profesi kedokteran gigi dengan baik dan akan terus
berlanjut dalam beberapa tahun kedepan. Dalam hal daya tahan, ini mungkin lebih superior
daripada resin komposit, khususnya saat digunakan untuk restorasi besar dan penutupan cusp.
High copper single composition alloy terbaru memberikan sifat yang superior, tapi tidak
memberikan penutupan yang baik seperti amalgam yang lebih dahulu. Amalgam dapat terus
digunakan sebagai bahan pilihan jika estetik tidak diperhatikan.
Gambar 1. Gambaran pre-operatif
Gambar 2. Foto periapikal pre-operatif
Gambar 3. Preparasi channel pin menggunakan custom drill
Gambar 4. Custom drill
Gambar 5. Fiksasi pin
Gambar 6. Gambaran post-operatif
Gambar 7. Gambaran pre-operatif
Gambar 8. Channel pin dibuat menggunakan custom drill
Gambar 9. Fiksasi pin
Gambar 10. Gambaran post-operatif