Anda di halaman 1dari 5

Perawatan Gigi Nekrotik Terkalsifikasi Menggunakan Prosedur Replantasi

Intensional
Pendahuluan. Jika pada gigi terkena iritan kronik, ruang pulpa kemungkinan akan mengalami
perubahan kalsifikasi yang dapat menghalangi pembukaan akses saat perawatan saluran akar.
Pada kasus seperti ini, perawatan endodontik konvensional tidak mungkin dilakukan,
replantasi intensional dapat dipertimbangkan sebagai solusi terakhir untuk mempertahankan
gigi. Metode. Setelah gagal melakukan perawatan saluran akar konvensional untuk gigi
premolar dua bawah nekrotik terkalsifikasi, gigi diekstraksi dengan hati-hati. Apeks akar
direseksi dan kavitas ujung akar dipreparasi dan diisi dengan semen calcium enrich mixture
(CEM). Selanjutnya, gigi yang sudah diekstraksi ditanam kembali ke posisi sebenarnya.
Hasil. Setelah satu tahun gigi tidak tampak gejala, dan ukuran radiolusen periapikal sangat
berkurang dan tidak ada tanda klinis ankylosis. Kesimpulan. Replantasi intensional gigi
nekrotik terkalsifikasi dapat dipertimbangkan sebagai alternatif dari ekstraksi gigi, khususnya
untuk gigi satu akar dan saat prosedur endodontik bedah dan tanpa pembedahan tampak tidak
mungkin.
Pendahuluan
Sistem saluran akar gigi biasanya tetap tidak ada halangan dan dapat diakses, tapi jika terkena
iritan kronik, ruang pulpa kemungkinan akan mengalami perubahan kalsifikasi yang dapat
menghalangi pembukaan akses saat perawatan saluran akar.
Walaupun ruang pulpa pada gigi seperti ini tampak hilang pada radiografi preoperatif, ruang
ini memiliki ruang yang cukup bagi jutaan mikroorganisme untuk masuk. Karena itu, gigi
terkalsifikasi dengan nekrosis pulpa dapat memicu periodontitis apikal.
Pilihan pertama perawatan gigi nekrotik terkalsifikasi yaitu perawatan saluran akar
konvensional, tapi gigi dengan kalsifikasi parah dapat menjadi tantangan dalam mencari dan
menembus saluran akar. Pilihan lain selain perawatan endodontik tanpa pembedahan meliputi
reseksi akar menggunakan metode bedah serta ekstraksi intensional dan replantasi.
Prosedur replantasi intensional biasanya dianggap sebagai cara terakhir, tapi pada beberapa
kasus dimana perawatan endodontik konvensional atau bedah apikal tidak dapat dilakukan,
replantasi intensional dapat dipertimbangkan sebagai solusi untuk mempertahankan gigi.
Laporan kasus ini menunjukkan perawatan premolar dua bawah nekrotik terkalsifikasi yang
berhasil dengan menggunakan prosedur replantasi intensional.
Presentasi kasus
Perempuan berusia 44 tahun tanpa riwayat medis yang berkaitan dirujuk ke Departemen
Endodontik Qazvin school of Dentistry. Dia menyatakan bahwa gigi premolar dua kanan
bawahnya sakit saat mengunyah. Setelah pemeriksaan klinis, tampak atrisi gigi moderat pada
permukaan oklusal gigi. Gigi sensitif terhadap perkusi, tapi tidak terdeteksi saluran sinus
(sinus tract) atau poket periodontal. Pemeriksaan radiografi menunjukkan bahwa ruang pulpa
sangat rusak. Selain itu, tampak radiolusensi periapikal pada apeks premolar dua kanan
bawah (Gambar 1).
Gigi tersebut diperiksa dengan tes pulpa elektrik (EPT) menggunakan Element Diagnostic
Unit (SybronEndo, Glendora, CA) dan tes dingin (Roeko Endo-Frost; Roeko, Langenau,
Germany).
Adanya radiolusensi periapikal dan respon negatif gigi terhadap tes pulpa elektrik dan tes
dingin menyakinkan kami bahwa premolar dua kanan bawah merupakan gigi nekrotik yang
membutuhkan perawatan saluran akar konvensional.
Blok nervus inferior alveolar dilakukan menggunakan lidocaine (2% lidocaine dengan
1/80000 epinefrin; Darupakhsh, Tehran, Iran); setelah isolasi dengan baik, mahasiswa
postdoctoral mencoba preparasi akses endodontik pada premolar dua kanan bawah
menggunakan round bur, tapi pada tingkat anatomi orifice normal, tidak ada tanda orifice
ditemukan. Dia terus mencoba mencari pembukaan saluran akar (Gambar 2), tapi saat dia
mencoba menembus saluran yang terkalsifikasi, terjadi perforasi pada permukaan akar distal
1mm di bawah puncak alveolar. Perforasi ditutup menggunakan semen calcium enrich
mixture (CEM) (BioniqueDent, Tehran, Iran) (Gambar 3), dan akses kavitas ditutup
menggunakan Cavit (coltosol, AriaDent, Tehran, Iran). Pilihan perawatan selenjutnya
(apikoektomi, replantasi intensional, ekstraksi dan pemasangan implan) serta resiko dan
keuntungannya dijelaskan pada pasien; kami menjelaskan bahwa apikoektomi lebih dapat
diprediksi daripada replantasi intensional, tapi terdapat resiko merusak isi foramen mentale;
tapi pasien pergi untuk konsultasi dengan dokter giginya tentang rencana perawatan.
Pada hari berikutnya, pasien menghubungi departemen endodontik dan mengatakan pada
kami bahwa dia sudah konsultasi dengan dokter giginya dan memutuskan untuk melakukan
replantasi intensional. Karena itu, kami menyusun pertemuan dan merestorasi akses kavitas
gigi nomor 29 menggunakan restorasi komposit. Informed consent tertulis diperoleh dan
pasien dijadwalkan untuk replantasi intensional.
Pada saat pasien kembali, dilakukan antisepsis menggunakan 0,2% chlorhexidine gluconate;
kemudian premolar dua kanan bawah dianestesi menggunakan blok mandibula dan blok saraf
long buccal (Lidocaine 2% dengan epinefrin 1:80000; Daroupakhsh, Iran). Gigi tersebut
diekstraksi dengan hati-hati menggunakan tang tanpa komplikasi intraoperatif; setelah itu,
akar 3mm dari apeks akar direseksi dan kavitas ujung akar dipreparai dan diisi dengan semen
CEM (Gambar 4).
Setelah itu, permukaan akar dirawat dengan tetrasiklin selam 30 detik untuk meningkatkan
perlekatan sel ligamen periodontal. Selanjutnya, gigi yang sudah dicabut ditanam kembali ke
posisi aslinya, dan ditahan menggunakan splint semirigid selama 10 hari (Gambar 5).
Diberikan resep 4 x 400 mg ibuprofen, obat kumur 0,2% chlorhexidine gluconate, dan 3 x
500 mg amoxicillin setiap hari selam seminggu.
Followup klinis-radiografi
Sensitivitas gigi terhadap perkusi serta mobilitas gigi diperiksa setiap 3 bulan. Kami menilai
bunyi perkusi dan membandingkan dengan gigi tetangganya. Pada 12 bulan setelah replantasi
intensional, tidak terdapat poket periodontal dan gigi tidak bergejala; gigi tersebut juga
memiliki derajat mobilitas fisiologis. Selain itu, radiolusensi periapikal tampak berkurang
(Gambar 6).
Diskusi
Saat prosedur endodontik bedah dan tanpa pembedahan tidak mungkin dilakukan dan pasien
menginginkan semua usaha yang dapat dilakukan untuk menghindari ekstraksi gigi dan
pemasangan implan, replantasi intensional dapat dipertimbangkan sebagai pilihan perawatan
terakhir.
Ekstraksi dan replantasi gigi telah dilakukan untuk menangani beberapa kasus bermasalah
seperti fraktur gigi vertikal, gigi rusak yang membahayakan periodontal, gigi terkalsifikasi,
dan perforasi iatrogenik.
Seperti dijelaskan sebelumnya, perawatan endodontik bedah untuk premolar bawah dapat
menyebabkan kerusakan struktur vital di sekitarnya seperti isi foramen mentale; sehingga
sebelum rencana perawatan, resiko terjadinya parestesi mentale setelah apikoektomi harus
dipertimbangkan dengan serius.
Selain itu, terdapat perforasi iatrogenik pada permukaan akar distal 1mm di bawah puncak
alveolar. Jarak yang dekat antara daerah perforasi dan puncak alveolar merupakan penyebab
kekhawatiran, karena terdapat bahaya terjadinya kehilangan tulang dan pembentukan poket
periodontal di daerah tersebut, tapi setelah reseksi akar dan replantasi, gigi ditempatkan
sekitar 2mm lebih apikal dari sebelumnya; dengan melakukan hal ini, jarak antara daerah
perforasi dengan puncak alveolar bertambah (Gambar 7).
Untuk menutup apeks gigi nomor 29, akarnya dipotong dan diisi dengan semen CEM. Semen
CEM merupakan bahan biokompatibel yang ditunjukkan memiliki kemampuan penutupan
yang dapat diterima saat digunakan untuk menutup kavitas ujung akar dan perforasi furkasi.
Ditunjukkan pula bahwa dibandingkan mineral trioxide aggregate (MTA), penutup apikal
semen CEM memiliki kemampuan penutupan yang lebih baik. Karena itu, pada kasus ini
semen CEM digunakan untuk menutup daerah perforasi dan kavitas ujung akar.
Adanya sementum sehat di permukaan akar merupakan salah satu faktor penting dalam
mencegah ankylosis. Untuk menghasilkan permukaan akar yang menghubungkan adhesi dan
pertumbuhan sel, disarankan beberapa solusi seperti penggunaan tetrasiklin, asam sitrat, dan
ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA). Selain itu, pada penelitian sebelumnya tetrasiklin
digunakan untuk merawat gigi selama 30 detik sebelum replantasi. Dari dasar penemuan ini,
tetrasiklin diaplikasi pada permukaan akar untuk meningkatkan perlekatan serat ligamen
periodontal dan mencegah ankylosis.
Kami menilai mobilitas dan bunyi perkusi gigi saat kontrol untuk mendeteksi ankylosis;
karena kami tahu bahwa lokasi awal ankylosis biasanya pada permukaan gigi lingual dan/atau
labial, juga telah ditunjukkan bahwa jika daerah ankylosis berada pada daerah ini, maka tidak
akan dapat dideteksi secara radiografi.
Setelah setahun gigi premolar dua kanan bawah mobile dalam batas normal, dan bunyi
perkusi sama dengan gigi tetangganya yang sehat, tapi jelas bahwa baik untuk mengawasi
gigi ini untuk jangka waktu yang lama.
Kesimpulan
Replantasi intensional gigi nekrotik terkalsifikasi dapat dipertimbangkan sebagai alternatif
ekstraksi gigi, khususnya untuk gigi berakar tunggal dan saat prosedur endodontik bedah dan
tanpa pembedahan tampak tidak mungkin dilakukan.
Gambar 1. Foto radiografi preoperatif; ruang pulpa premolar dua kanan bawah sangat rusak
dan tampak radiolusensi periapikal pada apeks gigi
Gambar 2. Untuk menemukan orifice saluran akar, beberapa radiografi kerja diambil, tapi
negosiasi saluran akar tidak memungkinkan
Gambar 3. Semen Calcium Enrich Mixture (CEM) digunakan untuk menutup perforasi
Gambar 4. Setelah ekstraksi gigi, 3 mm apeks akar direseksi, serta kavitas ujung akar
diperparasi dan diisi dengan semen CEM.
Gambar 5. Setelah replantasi, gigi ditahan dengan splint semirigid selama 10 hari
Gambar 6. 12 bulan setelah replantasi intensional, radiolusensi periapikal tampak berkurang
Gambar 7. Jarak antara daerah perforasi dan puncak alveolar ditunjukkan dengan tanda
kurung warna merah yang meningkat setelah reseksi akar dan replantasi gigi.