Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang
Stimulansia SSP adalah obat yang meningkatkan aktivitas otak dan spinal cord. Obat
golongan ini dapat digunakan untuk menghambat efek golongan depresansia SSP.
Obt yang termasuk golongan ini pada umumnya ada 2 mekanisme yaitu memblokade
system penghambatan dan meninggikan rangsangan synopsis. Obat stimulansia ini bekerja pada
system syaraf dengan meningkatkan transmisi yang menuju atau meninggalkan otak. Stimulant
tersebut dapat menyebabkan orang merasa tidak dapat tidur, selalu siaga dan penuh percaya diri.
Stimulant dapat meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah. Pengaruh fisik
lainnya adalah menurunkan nafsu makan, pupil dilatasi, banyak bicara, agitasi dan gangguan
tidur. Bila pemberian stimulant berlebihan dapat menyebabkan kegelisahan, panic, sakit kepala,
kejang perut, agresif dan paranoid.

I.2 Tujuan Percobaan
Mengetahui efek yang ditimbulkan dari suatu obat stimulansia SSP
Mengetahui gejala konvulasi yang ditimbulkan setelah pemberian suatu stimulansia
SSP

I.3 Hipotesis
Hewan coba yang di berikan zat Strignin Nitras akan menimbulkan efek konvulasi yang
simetris, tetanik dan aspontan. Sedangkan hewan coba yang diberikan Cafein menimbulkan efek
konvulsi yang asimetris, kronik dan spontan.



2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Perangsangan system saraf pusat oleh obat pada umumnya melalui dua mekanisme yaitu
mengadakan blockade system penghambatan dan meninggikan perangsangan sinaps. Dalam
system saraf pusat dikenal system penghambat dan meninggikan perangsangan sinaps. Dalam
system saraf pusat dikenal system penghambat pasca sinaps dan penghambatan prasinaps.
Stimulan system saraf pusat kegiatannya meningkatkan norepinefrin dan dopamine dalam
dua cara yang berbeda. Pertama, stimulant SSP meningkatkna pelepasan norepinefrin dan
dopamine dari sel sel otak. Kedua, stimulant SSP mungkin juga menghambat mekanisme yang
biasanya mengakhiri tindakan neuorotransmiter. Sebagai hasil dari kegiatan ganda system saraf
pusat stimulant, norepinefrin dan dopamine telah meningkatkan efek diberbagai daerah di otak.
Meskipun tindakan yang dimaksudkan system saraf pusat stimulant berada diotak,
tindakannya juga dapat mempengaruhi noepinephrine di bagian lain dari tubuh. Hal ini dapat
menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan seperti peningkatan tekanan darah.
Perangsangan nafas ada beberapa mekanisme yaitu perangsangan langsung pada pusat
nafas baik oleh obat atau karena adanya perubahan pH darah, perangsanagn dari impuls sensorik
yang berasal dari komoreseptor dibadan karotis, perangsangan dari impuls sensorik yang berasal
dari komreseptor dibadan karotis, perangsanagn dari impuls sferen terhadap pusat nafas misalnya
impuls yang dating dari tendo dan sendi dan pengaturan dari pusat yang lebih tinggi.
(B.G.Katzung, 1997)








3
BAB III
METODE KERJA


3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Jarum suntik
2. Timbangan hewan coba
3.1.2 Bahan
1. Mencit
2. Larutan Strignin Nitras 0.01 %

3.2 Prosedur Kerja
1. Diamati keadaan biologi dari hewan coba yang meliputi bobot badan, frekwensi
jantung, laju nafas, refleks, tonus otot, kesadaran, rasa nyeri dan gejala lainnya
bila ada.
2. Dihitung dosis yang akan diberikan kepada hewan coba : Strignin Nitras 0.75 mg
/ kg BB (0.01%)
3. Disuntikkan masing masing zat pada hewan coba secara Intraperitonial
4. Diamati gejala konvulsi yang terjadi dengan selang waktu setiap 10 menit








4
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Pengamatan
4.1.1 Data biologi hewan coba

Pengamatan
Hewan coba
Mencit (Nitras Strignin)
Mencit (Caffein)
Bobot badan 29.1 gram
34.3 gram
Frekwensi jantung 162 / menit
84/menit
Laju nafas 192 / menit
63/menit
Refleks +++
+
Tonus otot +++
+++
Kesadaran +++
+++
Rasa nyeri +++
+++
Salivasi

Urinasi

Devekasi



4.1.2 Perhitungan dosis Strignin Nitras dan Cafein pada mencit
No
Mencit
Berat Mencit Obat Dosis (Volume Pemberian)
1 29.1 gram Strignin 0.2 mL
2 34.3 gram Cafein 0.3 mL





5
4.1.3 Pengamatan gejala yang terjadi
Pengamatan
Nitras Strignin
10 20 30 40 50
Frekwensi jantung 135/menit 210/menit 120/menit 135/menit 128/menit
Laju nafas 150/menit 198/menit 126/menit 158/menit 120/menit
Refleks +++ +++ ++ ++ +++
Tonus otot +++ +++ ++ +++ +++
Kesadaran +++ ++ ++ ++ ++
Rasa nyeri +++ ++ ++ ++ ++
Simetris - -
Asimetris - - - -
Kronik - -
Tetanik - - - -
Spontan - - - -
Aspontan - -

Pengamatan
Cafein
10 20 30 40 50
Frekwensi jantung 108/menit 123/menit 144/menit 168/menit 78/menit
Laju nafas 42/menit 72/menit 126/menit 144/menit 90/menit
Refleks ++ +++ +++ +++ +++
Tonus otot +++ +++ +++ +++ +++
Kesadaran +++ +++ +++ +++ +++
Rasa nyeri +++ +++ +++ +++ +++
Simetris - - - - -
Asimetris - - - - -
Kronik - - - - -
Tetanik - - - - -
Spontan - - - - -
Aspontan - - - - -


6
4.2 Perhitungan
4.2.1 Nitras Strignin 0.75 mg / kg BB (0.1 %)
Bobot mencit 29.1 gram




x =



x = 0.0218 mg

0.01 % :




x =



x = 0.218 mL = 0.2 mL

4.2.2 Kafein 100 mg/kg bb
Bobot mencit 34.3 gram




x =



x = 0,00343 mg

10 % :


x =



x = 0,343 mL = 0.3 mL





7
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, mencit dengan bobot badan 29.1 gram
yang di beri Nitras Strignin sebanyak 0.2 mL dengan cara Intraperitonial (disuntikkan pada
daerah abdomen) menyebabkan terjadinya konvulsi karena Nitras Strignin merupakan konvulsan
kuat dengan sifat kejang khas dengan mengadakan blockade selektif terhadap system
penghambatan pascasinaps, bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap
transmitor penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan pascasinaps sehingga pemberian
Nitras Strignin pada mencit menyebakan konvulsi yang simetris, tetanik dan aspontan dan
menyebabkan frekwensi jantung serta laju nafas meningkat dari menit ke-10 sampai menit ke-20
hal ini dikarenakan sifat Nitras Strignin sebagai konvulsan yang kuat. Pemberian Nitras Strignin
juga menyebabkan mencit sangat peka terhadap reflex, tonus otot, kesadaran dan rasa nyeri.
Kemudian pada menit ke-30 sampai menit ke-50 frekwensi jantung dan laju nafas mengalami
penurunan, hal ini disebabkan karena efek obat yang dihasilkan mulai menurun.
Perlakuan kedua yaitu menggunakan mencit dengan bobot badan 34.3 gram yang di beri
Cafein sebanayak 0.3 mL dengan cara yang sama yaitu dengan cara Intraperitonial (disuntikkan
pada daerah abdomen). Pemberian Cafein pada mencit menyebabkan terjadinya konvulsi karena
Cafein merupakan stimulant psikoaktif dan menyebabkan frekwensi jantung serta laju nafas yang
meningkat dari menit ke-10 sampai menit ke-40 hal ini dikarenakan Cafein mengurung reseptor
adenosin di otak. Adenosin adalah senyawa nukleotida yang berfungsi mengurangi aktivitas sel
saraf, dampaknya aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormone epinefrin dirembes.
Hormone tersebut akan menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah dan menambah
penyalurandarah ke otot otot, hal tersebut menyebabkan kepekaan mencit pada reflex, tonus
otot, kesadaran dan rasa nyeri. Kemudian pada menit ke-50 frekwensi jantung dan laju nafas
mengalami penurunan, hal ini disebabkan Cafein dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat.






8
BAB V
KESIMPULAN


Berdasarkan hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan Nitras Strignin
pada mencit menyebabkan konvulsi yang simetris, tetanik dan aspontan karena sifat dari Nitras
Strignin yang merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang khas sedangkan pemberian Caffein
pada mencit menyebabkan frekwensi jantung dan laju nafas meningkat dari menit ke-10 sampai
menit ke-50 hal ini dikarenakan Cafein mengurung reseptor adenosin di otak sehingga aktivitas
otak meningkat dan mengakibatkan hormone epinefrin dirembes. Hormone tersebut akan
menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah dan menambah penyaluran darah ke otot
otot.