Anda di halaman 1dari 16

UJI ANGKA LEMPENG TOTAL

PENGUJIAN CEMARAN BAKTERI DAN CEMARAN KAPANG/KHAMIR


PADA PRODUK JAMU GENDONG DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Sylvia Tunjung Pratiwi
Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

METODE PENELITIAN
Bahan:
sampel jamu gendong yang diambil dari 20 produsen jamu gendong yang
berbeda di 4 wilayah DIY (5 produsen dari Kabupaten Sleman, 5 produsen dari
Kabupaten Bantul, 5 produsen dari Kabupaten Kulon Progo, 5 produsen dari
Kotamadya Yogyakarta), media Plate Count Agar (PCA), media Potato Dextrosa
Agar (PDA), kloramfenikol, media ASA (Air Suling Agar 0,05%), dan larutan
fisiologis steril.
Alat:
piring petri, tabung reaksi, labu Erlen-meyer, gelas ukur, blue tip dan
yellow tip, pipet mikro, autoklav, inkubator, spreader glass.
Jalan Penelitian
Pembuatan seri pengenceran sampel Sebanyak 1 ml sampel yang akan diperiksa
dilarutkan dalam 10 ml larutan pengen-cer yaitu berupa larutan fisiologis steril
untuk uji ALT dan media ASA untuk uji AKT. Dibuat seri pengenceran hingga
10-6 untuk uji ALT (cemaran bakteri) dan 10-4 untuk uji AKT (cemaran
kapang/khamir).
Pengujian cemaran bakteri
Pengujian cemaran bakteri dari sampel jamu gendong dengan metode uji angka
lempeng total dilakukan sebanyak 3 kali pengambilan sampel, masing-masing
dilakukan replikasi duplo. Sebanyak 1 ml suspensi hasil pengenceran sampel

dituang ke dalam piring petri. Ke dalam setiap piring petri tersebut dituangkan
media PCA steril yang telah dicairkan dengan temperatur media berkisar pada
40C. Sebagai kontrol digunakan media PCA dan larutan pengencer (larutan
fisiologis steril). Piring petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur 35-37C
selama 24-48 jam dalam posisi terbalik. Penghitungan jumlah koloni bakteri yang
tumbuh pada media dilakukan sesuai cara penghitungan yang ditetapkan dalam
prosedur operasional baku pengujian mikrobiologi oleh Badan POM.
Pengujian cemaran kapang/khamir
Pengujian cemaran kapang/khamir dari sampel jamu gendong dengan metode uji
angka kapang/khamir total dilakukan sebanyak 5 kali replikasi. Media PDA steril
yang telah dicairkan dan didinginkan pada temperatur 40C ditambahkan
kloramfenikol sebesar 1ml/L, dan dituang ke dalam piring petri hingga membeku.
Sebanyak 1 ml suspensi hasil pengenceran sampel dituang pada permukaan
media PDA yang telah beku dalam piring petri, yang mengandung kloramfenikol,
dan diratakan dengan bantuan spreader glass. Sebagai kontrol digunakan media
dan larutan pengencer (ASA). Piring petri selanjutnya diinkubasi pada temperatur
20-25C selama 3-5 hari. Penghitu-ngan jumlah koloni kapang/khamir yang
tumbuh pada media dilakukan sesuai cara penghitungan yang ditetapkan dalam
prosedur operasional baku pengujian mikrobiologi oleh Badan POM.
Analisis hasil
Hasil penghitungan angka lempeng total dan angka kapang/khamir total
dibandingkan dengan standar uji cemaran mikroba SNI 19-2897-1992.

UJI IRITASI KULIT


UJI PRAKLINIS PEMBALUT LUKA HIDROGEL BERBASIS PVP STERIL
IRADIASI MENGGUNAKAN TIKUS PUTIH: EVALUASI IRITASI DAN
SENSITISASI
Darmawan Darwis
Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, BATAN, Jakarta
METODE PEMBUATAN

Pembuatan Pembalut Luka Hidrogel


Pembalut luka hidrogel PVP Madu (Formula I) dibuat dari campuran
polimer PVP dan madu serta bahan tambahan lainnya dengan komposisi tertentu.
Campuran tersebut dituang dalam cetakan plastic polietilen lalu cetakan ditutup
dengan menggunakan sealing machine. Pembalut luka hidrogel PVP - karaginan
(Formula II) dibuat dengan cara melarutkan hingga homogen polimer PVP dan
karaginan. Campuran tersebut dituang dalam cetakan plastik polietilen lalu
cetakan ditutup dengan menggunakan sealing machine.

Iradiasi pembalut luka hidrogel


Iradiasi pembalut luka hidrogel dilakukan di Iradiator Panorama
Serbaguna, PATIR BATAN menggunakan sinar gamma pada dosis 25 kGy
dengan laju dosis 7 kGy/jam

Pengujian iritasi kulit


Pengujian iritasi kulit dilakukan berdasarkan metode DRIZE et.al yang
telah dimodifikasi (8). Tikus dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok
1: FI, kelompok 2: FII dan kelompok 3: kontrol, dengan jumlah tiap kelompok
sebanyak 6 ekor. Rambut pada punggung setiap tikus dicukur menggunakan alat
pencukur pada 3 tempat berbeda, masing-masing berukuran (2 X 2) cm2 seperti
yang disajikan pada Gambar 1. Kulit tikus yang telah dicukur lalu dibersihkan
dengan alkohol 70%. Pembalut luka hidrogel yang telah dipotong berukuran (2 X
2) cm2 ditempelkan pada kulit tikus yang telah dicukur tersebut, kemudian
dilapisi kain kassa dan ditutup dengan plester.

Pada ketiga bagian punggung tikus yang telah dicukur pada satu kelompok
hewan, masing-masing bagian ditempeli dengan 1 macam hidrogel misal hidrogel
FI atau FII. Sedangkan untuk kelompok kontrol tidak diberi pembalut luka. Tikus
lalu dibiarkan selama 24 jam, 48 jam

IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR ESTER P-HIDROKSI BENZOAT


IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT PADA
KECAP ASIN YANG BEREDAR DI KOTA MANADO
Windy Sumarauw,Fatimawali,Adithya Yudistira
Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115

METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Desember 2012 di laboratorium
Analisis Farmasi Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi.
Alat-alat
Alat-alat yang akan digunakan adalah seperangkat instrumen
spektrofotometer
UV-Vis, neraca analitik, kertas lakmus, kertas saring, corong pisah, pemanas
listrik, tabung reaksi, labu ukur 100 mL,labu ukur 250 mL, erlenmeyer 100
mL, erlenmeyer 250 mL, pipet.
Bahan-bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan adalah kecap asin, akuades, dietil eter
(C2H5OC2H5), asam klorida (HCl), natrium hidroksida (NaOH), amonium
hidroksida (NH4OH), natrium klorida (NaCl), natrium sulfat (Na2SO4), besi III
klorida (FeCl3).
Prosedur Kerja
Analisis Kualitatif

Sampel kecap asin masing-masing diambil sebanyak 20 gram,


dimasukkan ke dalam beker gelas dan di campur dengan larutan NaCl jenuh

sampai volume 100 mL. Ke dalam larutan sampel ditambahkan larutan


NaOH 10 % sampai larutan bersifat alkalis, dan diaduk dengan pengaduk
listrik selama lima menit, selanjutnya larutan di biarkan semalam dan di
saring. Filtrat yang diperoleh di tambah dengan 10 tetes larutan HCl 3 M
sampai larutan bersifat asam, kemudian di tambahkan lagi dengan 1 mL
larutan HCl 3 M.Larutan yang bersifat asam diekstraksi sebanyak 3 kali
dengan dietil eter masing masing 25 mL. Ekstrak eter dicuci sebanyak 3
kali dengan akuades masingmasing10 mL, selanjutnya ekstrak eter
diuapkan dalam penangas air selama 5 menit pada suhu antara 80-85 o C.
Larutan didinginkan dan ditambah beberapa tetes NH4OH pekat sampai
larutan bersifat alkalis. Kelebihan amoniak dihilangkan dengan penguapan
di atas penangas air, kemudian larutan di tambah dengan beberapa tetes
larutan FeCl3 5 %. Apabila terbentuk endapan berwarna kecoklatan
menunjukkan adanya asam benzoat dalam sampel (Helrich, 1990). Menurut
Dean (1987) penambahanFeCl3 ke dalam larutan asam benzoat yang telah
dinetralisasi dengan amoniak akan menghasilkan endapan asam benzoate
berwarna coklat kemerahan.

Analisis Kuantitatif
Kurva Standar

Pembuatan larutan standar didahului dengan pembuatan larutan


induk 100 mg/Lyang dibuat dengan melarutkan 25 mg asam benzoat ke
dalam 250 mL dietil eter.Larutan standar di buat dengan mengambil : 5; 10;
15; 20; 25; 30; 35; 40 mL darilarutan induk asam benzoat 100 mg/L ke
dalam labu takar 50 mL kemudian masingmasing diencerkan dengan dietil
eter sampai tanda batas. Konsentrasi larutan standar yang di peroleh
berturut-turut adalah : 10; 20; 30; 40; 50; 60; 70; 80 mg/L. Deteksi
absorbansi larutan standar pada rentang panjang gelombang 265-280 nm
dengan menggunakan instrument spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya

dibuat kurva standar yang menghubungkan absorbansi dengan konsentrasi


dari masing-masing larutan standar.

Penentuan Kadar Asam Benzoat pada


Kecap Asin

Sebanyak 10 gram sampel dipindahkan ke dalam Erlenmeyer,


kemudian sampel dilarutkan dalam 100 mL larutan NaCl jenuh. Tambahkan
beberapa tetes HCl sampai larutan bersifat asam (kertas lakmus biru
menjadi merah)kemudian di campur dengan baik (Helrich, 1990). Larutan
diekstrak dengan dietil eter sebanyak 3 kali masing-masing: 30, 20, 10 mL.
Hasil ekstraksi dicuci dengan larutan HCl sebanyak 3 kali, masing-masing :
25, 20 dan 15 mL. Ekstrak asam diekstraksi lagi dengan larutan NH4OH
sebanyak 4 kali masing-masing : 25, 20, 15, 10 mL. Hasil ekstraksi
diekstraksi dengan dietil eter sebanyak 3 kali masing-masing : 30, 20, dan
10 mL. Hasil ekstraksi dicuci dengan Na2SO4 dan diencerkan dengan dietil
eter sampai tanda batas dalam labu takar 100 mL (Hawley, 1981).
Larutan hasil ekstraksi dibaca absorbansinya dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang, kemudian konsentrasi
asam benzoat dalam sampel ditentukan berdasarkan kurva standar (Helrich,
1990).

UJI S. AUREUS
PENGGUNAAN ANTIMIKROBA DARI ISOLAT Lactobacillus
TERSELEKSISEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI UNTUK
MENGHAMBATPERTUMBUHAN VIBRIO SP. DAN Staphylococcus
aureus PADA FILLETIKAN KAKAP
Titin Yulinery, I. Y. Petria dan Novik Nurhidayat
Bidang Mikrobiologi, P2B LIPI
Jl. Raya Jakarta km 46, CSC. Cibinong
E-mail: tyulinery@yahoo.co.id
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini menggunakan 8 isolat bakteri Lactobacillus yang diisolasi
dari makanan fermentasi, yakni Mar 8 (dari markisa), Lac 3 (acar), Bl.Smd.Ai
(belimbing), P 8 (pikel), P.Pdg.N3 (pado), C.Mnd.N4 (rumen sapi), L.Smd.A5
(lobak asin), Sg.Mnd.N5 (saguer). Bakteri uji yang digunakan adalah Vibrio sp.
dan Staphylococcus aureus.
Seleksi Isolat Lactobacillus Dalam Menghambat
Bakteri Uji
Penelitian ini dilakukan untuk memilih isolate Lactobacillus yang paling
berpotensi menghasilkan antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri uji, yaitu Vibrio sp. dan S. aureus.
Pembuatan Starter
Starter dibuat dari biakan Lactobacillus dan bakteri uji dengan
menanamnya pada medium GYP (Glucose Yeast Peptone) cair. Diambil 1 ose
bakteri Lactobacillus dan diinokulasikan dalam medium GYP cair sebanyak 5 ml
(biakan starter), kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 30 C. Kemudian
biakan dinokulasikan 4% ke dalam 10 ml medium GYP cair dan diinkubasi
selama 48 jam pada suhu 30 C. Demikian juga terhadap bakteri uji, yaitu diambil
1 ose bakteri Vibrio sp. dan S. aureus masing-masing ditanam ke dalam medium
LB (Luria Bertany) sebanyak 10 ml dan diinkubasi pada suhu 30 C selama 24
jam.

Pembuatan Supernatan
Setiap isolat Lactobacillus setelah ditumbuhkan dalam medium GYP
dengan konsentrasi 108 sel/mL lalu disentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm
selama 10 menit sehingga diperoleh supernatan. Supernatan disaring dengan
menggunakan membran filter milipore ukuran 0,45 m. Pada tahap ini, supernatan
yang diperoleh diberi berbagai perlakuan suhu yang berbeda.
Uji Aktivitas Antimikroba

Metode yang digunakan adalah metode cakram. Biakan Vibrio sp. ditanam
pada medium Merine, sedangkan S. aureus pada medium MSA (Manitol Salt
Phenol-red Agar, Merck). Cakram diameter 6 mm direndam 5 menit di dalam
supernatan yang telah diberi perlakuan suhu. Kemudian cakram diletakkan pada
cawan yang telah ditanam dengan bakteri uji, lalu diinkubasi pada suhu 30 C
selama 24 jam. Sebagai kontrol adalah cakram yang direndam dalam medium
GYP steril. Aktivitas hambatan supernatan terhadap pertumbuhan bakteri uji
tampak sebagai zona bening di sekitar cakram. Pengamatan dilakukan dengan
mengukur dan membandingkan zona bening dari setiap perlakuan tiap isolat.
Kandidat terbaik adalah isolat dengan perlakuan supernatan yang memiliki zona
hambat terluas. Isolat dancara perlakuan yang terbaik akan digunakan dan
diterapkan.
Pemeriksaan Kuantitatif Bakteri Uji
Pemeriksaan ini dilakukan secara TPC (Total Plate Count) untuk melihat
jumlah total bakteri, jumlah bakteri Vibrio sp. dan S. aureus pada tiap sampel.
Fillet ikan sebanyak 1 g dihaluskan dan ditambahkan NaCl 0,85% lalu dilakukan
pengenceran 10-110-3 dan masingmasing pengenceran diambil 1 ml
dimasukkan dalam cawan petri dan dilakukan teknik agar tuang dengan
menggunakan medium NA (Nutrien Agar, Oxoid) untuk jumlah total bakteri,
TCBS (Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose, Difco) untuk Vibrio sp. dan MSA
garam tinggi untuk S. aureus. Masing-masing dilakukan duplo kemudian
diinkubasi pada suhu 30 C selama 24 jam. Setelah inkubasi diamati koloni bakteri
yang tumbuh pada setiap media. Pada media NA dihitung keseluruhan bakteri

yang tumbuh. Media TCBS, diamati Vibrio sp. yang koloninya berwarna
hijau/kuning sedangkan S. aureus pada medium MSA akan membentuk koloni
putih kekuningan dengan zona kuning di sekitar koloni.

UJI P.AERUGINOSA
Identifikasi
Pseudomonas aeruginosa
Penanaman pada media Braint Hert Infision ( BHI )Sampel yang telah dihomogenkan,
diambil 1 mL dengan pipet voloumesteril, kemudian dituang pada media BHI secara aseptis di
inkubasi 37Cselama 24 jam.2. Pembiakan pada media Mac Conkey Agarsecara aseptis
diinokulasikan biakan kuman dari media BHI ke media MacConkey dengan cara diambil 1 ons mata
lalu ditanam secara gores kuadran.Diinkubasi 37C selama 24 jam. KoloniPseudomonas aeruginosa
dilakukanpurifikasi untuk masing masing koloni ke media Mac Conkey diinkubasi37C selama 24
jam. Koloni Pseudononas aeruginosa pada media ini koloniberbentuk bulat, warna transparan, tepi
tidak rata, konsistensi smooth,diameter 3 mm, elevasi cembung bersifat non laktosa ferneter.3.
Pengecatan GramKoloni tersangka dari media Mac Conkey 1 dilakukan pengecatan Gramdengan
cara diambil koloni dengan ose mata secara aseptis, Diletakanpada obyek glass yang sebelumnya
telah di bersihkan dengan alkohol 70%,diratakan dan dikeringkan lalu difiksasi, genangi cat gentian
violet 2menit, cuci dengan air mengalir, gengangi cap lugol 1 menit, cuci dengan
airmengalir,gengangi alkohol absolut 45 detik, cuci dengan air mengalir,genangi safranin 34 menit,
cuci dengan air mengalir, keringkan dan dilihatdibawah mikroskop dengan perbesaran 1000
kali.Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang, bersifat gram negatif.

UJI C.ALBICANS
Metode
Setiap alat dan bahan yang diguakan dalam penelitian ini dipersiapkan
dalam keadaan steril. C. albicans yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh
dari usapan (swab) dari lesi mukosa mulut pasien kandidiasis oral di klinik
Penyakit Mulut Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo.
Sebagai pembanding digunakan strain laboratorium C. albicans ATCC (American
Type Culture Cell) 10231 yang diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi
FKUI. Sampel usapan diidentifikasi menggunakan CHROMagar dan diinkubasi
selama 2 hari. Pada media CHROMAgar C. albicans akan membentuk koloni
berwarna hijau pucat. Konfirmasi spesies C. albicans dilanjutkan dengan melihat
pembentukan germ tube dalam serum (Fetal Bovine Serum), diinkubasi selama 2
jam. Kemudian C. albicans isolat klinis dan strain ATCC 10231 diinokulasikan
dalam Sabouraud Dextrose Agar (SDA) miring, dan diinkubasi selama 2 hari.
Seluruh koloni C. albicans yang tumbuh dalam SDA miring diambil dengan
sengkelit, lalu dimasukkan ke dalam Eppendorf tube berisi 1 ml PBS. Eppendorf
tube ini disentrifugasi selama 2 menit dengan kecepatan 10.000 rpm pada suhu
28C. Setelah supernatan dibuang, PBS ditambahkan ke Eppendorf tube yang
berisi pelet, sampai volumenya 1 ml, lalu dihomogenisasi. Kemudian 10 l
suspensi diambil dari Eppendorf tube, dimasukkan ke dalam Eppendorf tube
lainnya yang sudah berisi 990 l, sehingga diperoleh pengenceran 102 kali.
Prosedur yang sama dilakukan sampai didapat pengenceran 106 kali.
Pemaparan tambahan glukosa 1%, 5%, 10% pada C. albicans isolat klinik dan C.
albicans Strain ATCC 10231 dilakukan dalam medium Sabouraud Dextrose
Broth (SDB).
Pada kontrol tidak diberikan tambahan glukosa. Disiapkan 16 Eppendorf
tube yang ditutup dengan kapas steril, masing-masing ditandai dengan ke 4
konsentrasi glukosa (kontrol, 1%; 5%; dan 10%) dengan masing-masing dua
durasi pemaparan (3 dan 7 hari). Lalu tiap Eppendorf tube diisi dengan larutan
glukosa dan SDB sesuai dengan konsentrasinya, sebanyak 990 l. Kemudian dari

Eppendorf tube berisi C. albicans dengan pengenceran 106 dari prosedur


pengenceran diatas diambil 10 l sehingga volumenya menjadi 1 ml dan
pengenceran menjadi 108 kali. Keenambelas Eppendorf tube ini disimpan di
dalam suhu kamar dengan 2 durasi pemaparan (3 dan 7 hari) masing-masing
untuk C. albicans isolat klinik dan strain ATCC 10231. Candida albicans isolat
klinik dan strain ATCC 10231 yang telah dipaparkan dengan glukosa selama 3
dan 7 hari kemudian disentrifugasi untuk didapatkan peletnya. Setelah itu pada
masing-masing pelet tersebut ditambahkan PBS sampai volumenya dalam
Eppendorf tube 1 ml. Kemudian dari masingmasing Eppendorf tube diambil 10 l
suspensi, ditanam dalam cawan petri berisi SDA secara duplo. Setelah 2 hari
diinkubasi, koloni C. albicans yang tumbuh dalam setiap cawan petri dihitung.
Data dianalisis dengan ANNOVA menggunakan 0,05.

UJI SALMONELLA

PROSEDUR UJI
Prosedur pengujian deteksi Salmonella sesuai Metode Analisis
Mikrobiologi (MA PPOM 74/MIK/06) yaitu:

1.

Pra-Pengkayaan Non-Selektif
Dengan cara aseptic ditimbang 25 gram atau dipipet 25 ml
cuplikan ke dalam kantong plastic stomacher steril ditambahkan 225
ml BPW. Dihomogenkan menggunakan stomacher selama 30 detik
dan diinkubasi pada suhu 371 C selama 182 jam.

2.

Pengkayaan Selektif
Dengan cara aseptic dipipet biakan pra-pengkayaan masingmasing 1ml ke dalam 10 ml MKTTn inkubasi pada suhu 371C
selama 243 jam dan 0,1 ml ke dalam 10 ml RVS inkubasi pada suhu
41,51 C selama 243 jam. Jagalah agar maksimum suhu inkubasi
tidak melebihi 42,5 C.

3.

Inokulasi & identifikasi


Dari biakan MKTTn dan RVS diinokulasikan masing-masing
sebanyak 1 sengkelit pada permukaan BGA dan XLD, kemudian
diinkubasi pada suhu 37+1 C selama 24+3 jam koloni yang tumbuh
diamati. Biakan diduga Salmonella positif jika :

BGA : koloni dari tidak berwarna, merah muda hingga merah dan
translusen hingga keruh

dengan lingkaran merah muda sampai

merah.

XLD : koloni translusen dengan bintik hitam ditengah, dan


dikelilingi zona transparan berwarna kemerahan.

4.

Konfirmasi
Dipilih dua atau lebih koloni spesifik pada BGA dan XLD
diinokulasikan pada media TSA atau NA miring. Dari TSA atau NA
miring dilakukan uji konfirmasi sebagai berikut:

a)

TSIA
Diinokulasikan koloni tersangka dengan cara tusuk dan goresan pada
media TSIA, inkubasi pada suhu 37+1 C selama 24+3 jam. Amati
perubahan warna yang terjadi.

b)

Uji Urease
Inokulasikan koloni tersangka pada media urea agar (Christensen)
suhu 371C. Amati perubahan warna biakan yang terjadi.

c)

Uji Dekarboksilasi lysine


Inokulasikan koloni tersangka pada media L.Lysine decarboxylase
diikubasi pada suhu 371 C selama 243 jam. Amati perubahan
warna biakan dan kekeruhan yang terjadi.

d)

Uji Voges Proskauser


Inokulasikan koloni tersangka pada media MR-VP pada suhu 371 C
selama 243 jam. Tambahan 3 tetes larutan Alfa naftol dan 2 tetes
larutan KOH 40 %. Amati perubahan warna biakan yang terjadi
setelah 15 menit.

e)

Uji Indol

Inokulasikan koloni tersangka pada media Tryptone Broth atau


Tryptophan broth, inkubasikan pada suhu 371 C selama 243 jam.
Tambahkan beberapa tetes larutan Kovac. Amati perubahan cincin
merah.
f)

Uji -galaktosidase
Suspensikan 0,5 ml NaCl 0,85 % pada biakan NA miring dalam
tabung reaksi kecil steril. Masukkan sebuah cakram ONPG, inkubasi
pada suhu 371C selama 243 jam.

g)

Uji Serologi
Ambil 1 ose biakan dari TSA/NA miring suspensikan dengan 1
tetes NaCl 0,85 % dan 1 tetes air, dan campurkan pada kaca objek.
Apabila diamati dengan latar belakang gelap dan menggunakan kaca
pembesar telah terjadi aglutinasi, sebaiknya tidak dilakukan uji
serologi dengan antisera polivalen O, H, Vi, karena telah terjadi
aglutinasi sendiri (self agglutination).