Anda di halaman 1dari 21

1

I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Pangan merupakan salah satu faktor kunci bagi pembangunan sumber daya
manusia berkualitas, yang diperlukan untuk menyelenggarakan pembangunan
nasional. Dalam kerangka pembangunan pangan, data/informasi tentang situasi
ketersediaan pangan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan
evaluasi dan perencanaan pangan. Salah satu metode dalam menyajikan
data/informasi tersebut berupa Tabel Neraca Bahan Makanan (NBM).
Tabel NBM menyajikan gambaran menyeluruh tentang pola penyediaan
pangan di suatu wilayah dalam periode tertentu. NBM Indonesia disusun mulai tahun
1963 yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Food
Agriculture Organization (FAO). Sejak tahun 1975 mulai disusun oleh Tim
Penyusun NBM yang berasal dari instansi lingkup Departemen Pertanian, BPS,
Bulog dan instansi terkait lainnya. Selanjutnya mulai edisi 1999 2000, buku NBM
dipublikasikan oleh Departemen Pertanian cq. Badan Ketahanan Pangan, sesuai
dengan tugas dan fungsinya. Sedangkan untuk Kota Tangerang kegiatan ini
merupakan kegiatan yang pertama. NBM yang akan dibuat adalah NBM Tahun data
2008 - 2011.
Sebagai salah satu bahan untuk menyusun kebijakan, maka akan sangat
berguna bila NBM disusun secara lengkap, tepat waktu dan berkelanjutan dari suatu
periode ke periode selanjutnya.

1.2. LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang No 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
2. Peraturan Pemerintah No.68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota;
4. Peraturan Menteri Pertanian No 25/Permentan/Ot.140/2/2010 tentang Pedoman
Umum Program Pembangunan Ketahanan Pangan Lingkup Badan Ketahanan
Pangan Tahun 2010;
2

5. Peraturan Menteri Pertanian No 65/Permentan/Ot.140/12/2010 tentang Petunjuk
Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan
Kabupaten/Kota;

1.3. PENGERTIAN
Neraca Bahan Makanan merupakan tabel yang memberikan gambaran
tentang situasi ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk di suatu wilayah
(ketersediaan di tingkat konsumsi) dalam suatu kurun waktu tertentu.

1.4. MANFAAT NBM
Tabel NBM ini dapat digunakan untuk :
1. Mengevaluasi pengadaan, penggunaan pangan, komposisi atau pola ketersediaan
energi atau zat gizi lainnya;
2. Sebagai bahan acuan dalam perencanaan produksi/pengadaan pangan;
3. Sebagai bahan dalam penetapan kebijakan pangan dan gizi;
4. Memenuhi Standar Pelayanan Minimal bidang ketahanan pangan.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Landasan Hukum
1.3. Pengertian
1.4. Manfaat NBM
1.5. Sistematika Penulisan
Bab II. Metodologi
2.1. Konsep dan Definisi
2.2. Sumber Data
2.3. Penyempurnaan NBM
Bab III. Ulasan NBM
3.1. Situasi Ketersediaan Pangan dan Gizi
3.2. Ikhtisar NBM th. 2008-2011
3.3. Perkembangan Ketersediaan Energi, protein dan lemak

3

II. METODOLOGI

2.1. KONSEP DAN DEFINISI
2.1.1. Cakupan Bahan Makanan
Bahan makanan yang dicakup dalam Tabel NBM dikelompokkan menjadi
10 kelompok menurut jenisnya, yaitu;
a. Padi-padian
b. Makanan berpati
c. Gula
d. Buah biji berminyak
e. Buah-buahan
f. Sayur-sayuran
g. Daging
h. Telur dan Susu
i. Ikan
j. Minyak dan lemak
Rincian jenis bahan makanan pada setiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 2.

2.1.2. Komponen NBM
Tabel Neraca Bahan Makanan terdiri dari kolom kolom :
a. Jenis Bahan Makanan
b. Produksi (Masukan)
c. Produksi (Keluaran)
d. Stok dan Perubahan Stok
e. Impor
f. Penyediaan Dalam Negeri Sebelum Stok
g. Ekspor
h. Penyediaan Dalam Negeri
i. Pemakaian Dalam Negeri
1) Pakan;
2) Bibit/Benih;
3) Diolah untuk makanan;
4) Diolah untuk bukan makanan;
4

5) Tercecer;
6) Bahan makanan.
j. Ketersediaan perkapita (energi, protein, dan lemak)

Kolom-kolom yang terdapat dalam Tabel NBM secara rinci tercantum dalam
Lampiran 3.

2.1.3. Cara Perhitungan
Tabel NBM terbagi menjadi tiga kelompok penyajian, yaitu:
pengadaan/penyediaan, penggunaan/pemakaian, dan ketersediaan perkapita.
a. Pengadaan/penyediaan (supply), terdiri atas komponen komponen : produksi,
perubahan stok, impor, dan ekspor. Bentuk persamaan penyediaan adalah sebagai
berikut :

b. Penggunaan/pemakaian (utilization), untuk keperluan pakan, bibit, industri
makanan, dan non makanan tercecer, serta bahan makanan yang tersedia pada
tingkat pedagang pengecer, yang dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan
sebagai berikut :

c. Ketersediaan bahan makanan (pangan) perkapita, diperoleh dari ketersediaan
masing masing bahan makanan dibagi dengan jumlah penduduk, disajikan
TS = F + S + I + W + Fd , dimana :
TS : total pengguna
F : pakan
S : bibit
I : industri
W : tercecer
Fd : ketersediaan bahan makanan
TS = O St + M X , dimana
TS : total penyediaan dalam negeri (total supply)
A : produksi
St : stok awal - stok akhir
M : impor (antar daerah masuk)
X : ekspor (antar daerah keluar)



5

dalam bentuk kuantum (volume) dan kandungan nilai gizinya dalam satuan
kalori energi, gram protein, dan gram lemak.
d. Perlakuan khusus
Bagi komoditas yang data produksinya tidak tersedia, perhitungan dimulai dari
kolom 15 yaitu ketersediaan perkapita (kg/tahun). Kolom 15 ini diperoleh dengan
menggunakan pendekatan data konsumsi hasil Susenas (modul) di-mark-up 10%,
dengan asumsi bahwa perbedaan antara angka kecukupan energi pada tingkat
konsumsi dengan angka kecukupan energi di tingkat ketersediaan sebesar 10%.

2.2. SUMBER DATA POKOK
Komponen penyediaan merupakan data pokok yang dibutuhkan dalam
menyusun NBM yang bersumber dari beberapa instansi. Secara umum data produksi
padi, palawija, dan hortikultura bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota
Tangerang dan Dinas Pertanian.
Data impor, ekspor, dan industri berasal dari Dinas Perindustrian,
Perdagangan, dan Koperasi dan BPS Kota Tangerang. Khusus data stok beras
bersumber dari Bulog Sub Divre Tangerang, data perkembangan stok lainnya berasal
dari PD Pasar. Data penduduk pertengahan tahun bersumber dari BPS. Sumber
data/informasi yang digunakan dalam penyusunan NBM secara rinci tercantum
dalam Lampiran 1.

2.3. PENYEMPURNAAN NBM
2.3.1. Penyempurnaan Besaran/Konversi Dengan Pendekatan Tabel Input Output
(I-O)
Dalam rangka meningkatkan akurasi data NBM, dilakukan pendekatan
Tabel Input Output (I-O) untuk memperbaiki beberapa konversi/besaran. Beberapa
konversi yang masih layak digunakan di tingkat nasional, yaitu konversi pakan, bibit,
industri non makanan, dan tercecer.
Secara umum komponen komponen tersebut dapat di estimasi dengan cara
mengalikan rasio yang diperoleh dari Tabel Input Output (I-O) dikalikan dengan
penyediaan dalam negeri. Tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan rasio dari
Tabel Input Output (I-O) seperti tercantum dalam Lampiran 4.

6

2.3.2. Penyempurnaan Konversi Hasil Kajian
a. Beberapa komoditas dari subsektor perkebunan dan hortikultura telah
disempurnakan konversi tercecernya berdasarkan hasil studi/kajian. Data lebih
rinci tercantum dalam Lampiran 5.
b. Data Impor dan Ekspor komoditas beras dan jagung sudah termasuk produk
olahannya (tepung).
c. Dalam publikasi NBM Tahun 2008 - 2011, data jenis sayuran dan buah buahan
yang ditampilkan lebih rinci yaitu buah buahan meliputi jeruk, mangga, apel,
alpukat, duku, durian, dsb, sedangkan pada sayuran meliputi bayam, kangkung,
kol, sawi putih, dsb.
Data penduduk pertengahan tahun yang digunakan adalah bersumber dari BPS.
7

III. ULASAN NERACA BAHAN MAKANAN (NBM)

3.1. SITUASI KETERSEDIAAN PANGAN DAN GIZI
Situasi ketersediaan energi tahun 2008-2011 menggambarkan bahwa tingkat
ketersediaan energi berfluktuasi, meskipun demikian untuk tahun 2008-2010 sudah
melebihi Angka Kecukupan Energi (AKE) 2200 Kalori/kapita/hari, dengan kisaran
111,98%-119,14% (Tabel 3.1). Hanya untuk tahun 2011 ketersediaan energi berada
di bawah Angka Kecukupan Energi (AKE) 2200 Kalori/kapita/hari yang hanya
sebesar 2.052,08 Kal/kap/hr atau hanya sekitar 93,28% . Penyediaan tertinggi terjadi
pada tahun 2009 yaitu sebesar 2.621,10 kalori/kapita/hari, kemudian cenderung
menurun pada tahun 2010 dan 2011.

Tabel 3.1. Ketersediaan Energi Tahun 2008-2011
Tahun
Energi
Ketersediaan (Kal/kap/hr) Tingkat Ketersediaan (%)
2008 2.463,45 111,98
2009 2.621,10 119,14
2010 2.490,34 113,20
2011 2.052,08 93,28

Sebaliknya tingkat ketersediaan protein, disamping sudah melebihi Angka
Kecukupan Protein (AKP) 57 gram/kapita/hari, juga terjadi peningkatan sepanjang
periode tersebut dengan kisaran 117,37% - 153,39% dari (Tabel 3.2).
Ketersediaan protein yang paling besar ada di tahun 2009 yaitu sebesar
87,43 gram/kapita/hari atau sebesar 153,39% dari angka kecukupan protein yang
dianjurkan. Peningkatan tersebut disebabkan meningkatnya peranan pangan hewani
dalam penyediaan protein. Sedangkan yang paling kecil ketersediaan proteinnya ada
di tahun 2011 yaitu sebesar 66,90 gram/kapita/hari namun masih berada diatas
kecukupan protein yang dianjurkan.




8

Tabel 3.2. Ketersediaan Protein Tahun 2008-2011
Tahun
Protein
Ketersediaan
(Gram/kap/hr)
Tingkat
Ketersediaan (%)
2008 81,51 143,00
2009 87,43 153,39
2010 81,00 142,11
2011 66,90 117,37

Data pada tabel 3.3. menunjukkan perkembangan laju peningkatan
ketersediaan energi dan protein tahun 2008-2011. Terlihat terjadi penurunan laju
ketersediaan energi periode 2009-2010 yaitu sebesar 4,99% dan periode 2010-2011
yaitu sebesar 17,60%. Begitu pula laju peningkatan ketersediaan protein periode
2009-2010 dan 2010-2011 cenderung menurun yaitu sebesar 7,35% dan 17,41%.

Tabel 3.3. Laju Tingkat Ketersediaan Energi dan Protein
Tahun
Laju Ketersediaan
Energi (%) Protein (%)
2008-2009 6,40 7,26
2009-2010 - 4,99 -7,35
2010-2011 -17,60 -17,41

Ketersediaan pangan Kota Tangerang diperoleh dari produksi dan impor,
namun sebagian besar bertumpu pada impor. Komoditas yang diproduksi dalam
volume cukup besar adalah padi, Seperti terlihat dalam Tabel 3.4, bahwa situasi
pengadaan beras yang berasal dari produksi dalam negeri cenderung menurun pada
periode 2009-2011, Pasokan beras yang berasal dari impor rata-ratanya cukup besar,
hampir semuanya diatas 96.45% ,dan semakin meningkat untuk tahun-tahun
selanjutnya.



9

Tabel 3.4. Produksi, Ekspor, Import dan Rasio Ketergantungan Impor Beras
Tahun 2008-2011
Tahun Produksi *) Impor Ekspor Rasio Ketergantungan
Impor (%)
2008 6,658 180,694 0 96.45
2009 6,192 239,228 0 97.48
2010 5,293 260,723 0 98.01
2011 4,096 208,735 0 98.08
Keterangan :
*) setelah dikurangi penggunaan (pakan, bibit, tercecer) pada tingkatan gabah.

Kemampuan penyediaan pangan beberapa kelompok pangan berfluktuasi,
pada periode tahun 2008-2011 ketersediaan energi dan protein cenderung menurun
yaitu untuk energi berturut-turut sebesar 2.463,45 kalori/kapita/hari, 2.621,10
kalori/kapita/hari, 2.490,34 kalori/kapita/hari, dan 2.052,08 kalori/kapita/hari
sedangkan untuk protein yaitu berturut-turut sebesar 81,51 gram/kapita/hari, 87,43
gram/kapita/hari, 81,00 gram/kapita/hari, dan 69,90 gram/kapita/hari seperti terlihat
pada table 3.5. Andil terbesar berasal dari pangan nabati, khususnya pada kelompok
padi-padian, meskipun persentasenya kecenderungan menurun pada tahun 2011.
Sedangkan untuk proporsi kalori nabati dan kalori hewani dari tahun 2008-2011
secara keseluruhan pergerakannya cenderung stabil.
Ditinjau dari sisi keanekaragaman pangan, maka ketersediaan padi-padian
sudah melebihi norma gizi/Pola Pangan Harapan (PPH) yang dianjurkan 50%. Yaitu
dari tahun 2008-2011 ketersediaan pangannya berturut-turut sebesar 62,85%,
63,62%, 67,06% dan 64,21%. Namun kontribusi beberapa kelompok pangan perlu
ditingkatkan, seperti pangan hewani, buah/biji berminyak, gula, sayur dan buah.







10


Tabel 3.5. Komposisi ketersediaan Zat Gizi Tahun 2008-2011

No
Uraian Tahun
2008 2009 2010 2011
1 Total ketersediaan Energi
( Kalori/kapita/hari)
2.463,45 2.621,10 2.490,34 2.052,08
2 Kontribusi Energi Kelompok Bahan
Makanan (%)

- Padi-padian 62,85 63,62 67,06 64,21
- Makanan berpati 1,60 1,47 0,83 0,90
- Gula 3,19 2,78 3,31 2,97
- Buah/biji berminyak 4,45 3,36 2,95 3,49
- Buah-buahan 1,93 2,28 1,00 1,60
- Sayuran 2,39 1,85 2,05 2,13
- Daging 4,89 6,31 6,17 4,59
- Telur 1,68 2,00 1,86 2,12
- Susu 3,84 4,13 2,92 3,65
- Ikan 2,82 2,70 2,47 2,82
- Minyak dan Lemak 10,35 9,52 9,42 11,53
Proporsi kalori nabati (%) 86,50 84,49 86,29 86,80
Proporsi kalori hewani (%) 13,50 15,51 13,71 13,20
3 Ketersediaan Protein
(Gram/Kap/hari)
81,51 87,43 81,00 66,90
- Proporsi protein nabati (%) 64,67 60,95 63,14 64,16
- Proporsi protein hewani (%) 35,33 39,05 36,86 35,84
4 Ketersediaan Lemak
(Gram/Kap/hari)
60,76 64,81 58,21 51,76
- Proporsi lemak nabati (%) 66,75 60,73 63,39 68,61
- Proporsi lemak hewani (%) 33,25 39,27 36,61 31,39


3.2. IKHTISAR NBM TAHUN 2008-2011
Ketersediaan pangan per kapita mengindikasikan rata-rata peluang individu
untuk memperoleh bahan pangan. Total ketersediaan energi untuk dikonsumsi
penduduk Kota Tangerang tahun 2008 mencapai 2.463,45 Kalori/Kapita/hari atau
111,89% dari Angka Kecukupan Energi di tingkat ketersediaan sebesar 2.200 Kalori,
(hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII Tahun 2004). Peranan pangan
11

nabati sangat dominan dengan kontribusi mencapai 86,50% (2.130,78
Kalori/Kapita/hari), dan hanya 13,5% yang berasal dari pangan hewani.
Seiring dengan itu, total ketersediaan protein sudah melebihi Angka
Kecukupan Protein (AKP) yang dianjurkan yaitu sebesar 81,51 gram/kapita/hari
(143% dari Angka Kecukupan Protein di tingkat ketersediaan 57 gram/kapita/hari).
Sedangkan lemak, ketersediaannya sebesar 60,76 gram/kapita/hari.
Pada tahun 2009, ketersediaan energi meningkat menjadi 2.621,10
kalori/Kapita/hari (119,14% dari Angka Kecukupan Energi) dengan komposisi
84,49% pangan nabati dan 15,51% pangan hewani. Ketersediaan protein juga
mengalami sedikit peningkatan menjadi 87,43 gram/kapita/hari (153,39% dari
anjuran), dan lemak menjadi 64,81 gram/kapita/hari.
Pada tahun 2010, ketersediaan energi menurun menjadi 2.490,34
kalori/Kapita/hari (113,20% dari Angka Kecukupan Energi) dengan komposisi
86,29% pangan nabati dan 13,71% pangan hewani. Ketersediaan protein juga
mengalami sedikit penurunan menjadi 81 gram/kapita/hari (142,11% dari anjuran),
dan lemak menjadi 58,21 gram/kapita/hari.
Sedangkan pada tahun 2011, ketersediaan energi menurun menjadi 2.052,08
kalori/Kapita/hari (93,28% dari Angka Kecukupan Energi) dengan komposisi
86,80% pangan nabati dan 13,20% pangan hewani. Ketersediaan protein juga
mengalami sedikit penurunan menjadi 66,9 gram/kapita/hari (121,05% dari anjuran),
dan lemak menjadi 51,76 gram/kapita/hari.
Meningkatnya ketersediaan zat gizi tahun 2009 secara umum karena adanya
peningkatan pasokan dari kelompok makanan berpati, ternak, ikan, serta minyak dan
lemak. Situasi ketersediaan pangan dan zat gizi secara rinci dapat diuraikan seperti
berikut ini :

1. Kelompok Padi-Padian
Ketersediaan pangan Kota Tangerang dipasok dari produksi dalam negeri,
stok dan net impor. Kelompok padi-padian pada tahun 2008 mensuplai zat gizi per
kapita sebesar 1.548,39 Kalori/hari, dan 38,94 gram protein, serta 5.64 gram lemak.
Proporsi energi dan protein dari padi-padian terhadap total ketersediaannya masing-
masing 62,85%, dan protein 47,77%. Dalam kelompok ini, komoditas beras adalah
pemasok zat gizi terbesar yaitu 1.157,67 Kalori/kapita/hari (46,99% dari total
12

ketersediaan), 28,38 gram protein, dan 4,46 gram lemak, dengan volume
ketersediaan per kapita sebesar 116,40 kg beras/tahun. Kontribusi komoditas lain,
seperti jagung sebesar 0,45 kalori/kapita/hari (0,02% dari total ketersediaan) dan
protein sebesar 0,01 gram/kapita/hari dengan volume ketersediaan sebesar 0,05
kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut berasal dari impor sebesar 89 ton. Sedangkan
tepung terigu mensuplai 389,98 Kalori/kapita/hari, 10,54 gram protein, 1,17
gram/kapita/hari lemak atau setara 42,75 kg/kapita/tahun.
Pada tahun 2009, kontribusi energi dari kelompok padi-padian mengalami
kenaikan menjadi 1.667,46 kalori/kapita/hari (63,62% dari total ketersediaan), dan
1.415,20 kalori diantaranya berasal dari beras atau setara dengan 142,30
kg/kapita/tahun, dengan jumlah produksi sebesar 6.192 ton. Sedangkan ketersediaan
protein dan lemak dari kelompok ini, masing-masing 41,52 gram/kapita/hari dan
6,22 gram/kapita/hari. Meskipun volume produksi beras tahun 2009 menurun,
namun ketersediaan beras per kapita tahun 2009 lebih besar dibanding tahun 2008,
hal ini dikarenakan adanya penambahan penyediaan yang berasal dari impor.
Pada tahun 2010, kontribusi energi dari kelompok padi-padian mengalami
kenaikan menjadi 1.669,67 kalori/kapita/hari (67,06% dari total ketersediaan), dan
1.411,15 kalori diantaranya berasal dari beras atau setara dengan 141,89
kg/kapita/tahun, dengan jumlah produksi sebesar 5.293 ton. Sedangkan ketersediaan
protein dan lemak dari kelompok ini, masing-masing 41,59 gram/kapita/hari dan
6,22 gram/kapita/hari.
Sedangkan pada tahun 2011, kontribusi energi dari kelompok padi-padian
mengalami penurunan menjadi 1.317,55 kalori/kapita/hari (64,21% dari total
ketersediaan), dan 1.017,82 kalori diantaranya berasal dari beras atau setara dengan
102,34 kg/kapita/tahun, dengan jumlah produksi sebesar 4.096 ton. Sedangkan
ketersediaan protein dan lemak dari kelompok ini, masing-masing 33,06
gram/kapita/hari dan 4,83 gram/kapita/hari. Ketersediaan jagung pada tahun 2011
meningkat menjadi 0,51 Kalori/kapita/hari atau setara dengan 0,06 kg/kapita/tahun.
Sedangkan tepung terigu untuk tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi 299,12
Kalori/kapita/hari.



13

2. Kelompok Makanan Berpati
Pasokan energi per kapita per hari yang berasal dari kelompok makanan
berpati tahun 2008-2011 terus menurun yaitu berturut-turut sebesar 39,32 Kalori
(1,6% dari total ketersediaan), 38,42 kalori/kapita/hari (1,47% dari total
ketersediaan), 20,67 kalori/kapita/hari (0,83% dari total ketersediaan), dan 18,46
kalori/kapita/hari (0,90% dari total ketersediaan), begitu juga dengan ketersediaan
protein dari tahun 2008-2011 yang juga terus menurun yaitu berturut-turut sebesar
0,28 gram, 0,26 gram, 0,14 gram dan 0,08 gram dan ketersediaan lemak dari tahun
2008-2011 yang juga cenderung menurun yaitu masing-masing sebesar 0,08 gram,
0,08 gram, 0,04 gram, dan 0,03 gram.
Kontribusi terbesar dari tahun 2008-2011 berasal dari ubi kayu yaitu untuk
tahun 2008 sebesar 28,16 Kalori/kapita/hari, dengan jumlah ketersediaan 7,85
kg/kapita/tahun, yang berasal dari produksi sebesar 310 ton, tahun 2009 sebesar
30,19 Kalori/kapita/tahun (8,42 kg/kapita/tahun), dengan jumlah produksi 239 ton,
tahun 2010 menyumbang 16,62 Kalori/kapita/tahun (4,64 kg/kapita/tahun), dengan
jumlah produksi 40 ton dan tahun 2011menyumbang 3,24 Kalori/kapita/tahun (0,90
kg/kapita/tahun), dengan jumlah produksi 127 ton.

3. Kelompok Gula
Untuk ketersediaan gula di Kota Tangerang keseluruhannya berasal dari
impor karena memang tidak ada produksi untuk kelompok ini. Pada tahun 2008,
kontribusi energi dari kelompok gula (gula pasir dan gula mangkok) sebesar 78,52
kalori/kapita/hari (3,19% dari total ketersediaan). Suplai energi tersebut didominasi
oleh gulai pasir sebesar 72,45 kalori/kapita/tahun (7,27 kg/kapita/tahun) dengan
volume impor sebesar 11.238 ton.
Pada tahun 2009, terjadi penurunan ketersediaan energi menjadi 72,78
kalori/kapita/hari, dan 67,15 kalori diantaranya merupakan kontribusi dari gula pasir
(6,73 kg/kapita/tahun).
Pada tahun 2010, terjadi kenaikan ketersediaan energi menjadi 82,31
kalori/kapita/hari, dan 75,95 kalori diantaranya merupakan kontribusi dari gula pasir
(7,62 kg/kapita/tahun) dengan volume impor sebesar 13.833 ton.
14

Sedangkan pada tahun 2011 terjadi penurunan ketersediaan energi menjadi
60,92 kalori/kapita/hari, dan 58,83 kalori diantaranya merupakan kontribusi dari gula
pasir (5,90 kg/kapita/tahun) dengan volume impor sebesar 11.006 ton.

4. Kelompok Buah Biji Berminyak
Komoditas yang termasuk dalam kelompok ini adalah kacang tanah tanpa
kulit, kacang kedelai, kacang hijau dan kelapa berkulit/daging. Total energi yang
disumbangkan dari kelompok ini pada tahun 2008 sebesar 109,64 kalori/kapita/hari
(4,45% dari total ketersediaan). Pada tahun 2009 menurun menjadi 88,04
kalori/kapita/hari (3,36% dari total ketersediaan) dan seterusnya menurun lagi pada
tahun 2010 dan 2011 sebesar berturut-turut 73,49 kalori/kapita/hari (2,95% dari total
ketersediaan) dan 71,65 kalori/kapita/hari (3,49% dari total ketersediaan). Suplai
protein termasuk ketiga terbesar pada tahun 2008 setelah kelompok padi-padian dan
ikan-ikanan, yaitu 8,91 gram/kapita/hari (10,93% dari total ketersediaan). Untuk
tahun 2009, 2010 dan 2011 suplai protein adalah berturut-turut sebesar 7,51
gram/kapita/hari (8,59% dari total ketersediaan), 5,68 gram/kapita/hari (7,01% dari
total ketersediaan) dan 6,30 gram/kapita/hari (9,42% dari total ketersediaan)
Ketersediaan zat gizi per kapita per hari pada tahun 2011 didominasi oleh
komoditas kedelai dan kelapa yaitu masing-masing ketersediaan kedelai sebesar
54,22 kalori dan 5,75 gram protein dengan volume 5,19 kg/kapita/tahun atau setara
dengan 10.137 ton penyediaan dalam negeri, sedangkan ketersediaan kelapa sebesar
9,6 kalori dan 0,09 gram protein dengan volume 1,84 kg/kapita/tahun atau 7.879 ton
penyediaannya.

5. Kelompok Buah-buahan
Pada tahun 2008 buah-buahan sebagai sumber vitamin, mensuplai energi
sebesar 1,93% dari total ketersediaan (47,66 Kalori/kapita/hari). Pasokan terbesar
berasal dari komoditas pepaya sebesar 11,50 Kalori/kapita/hari (12,17
kg/kapita/tahun) dan pisang sebesar 9,37 kalori/kapita/hari (5,31 kg/kapita per
tahun).
Tahun 2009, proporsi energi dari buah mengalami kenaikan menjadi 2,28%
(59,67 Kalori/kapita/hari). Seiring dengan itu, kontribusi pisang juga naik yaitu
menjadi sebesar 13,96 kalori/kapita/hari (7,91 kg/kapita/tahun).
15

Pada Tahun 2010, energi buah-buahan mengalami penurunan cukup drastis
menjadi 24,88 kalori/kapita/hari (1,00 % dari total ketersediaan). Komoditas yang
paling besar adalah Pisang namun suplainya juga menurun dibanding tahun
sebelumnya yaitu sebesar 6,59 kalori/kapita/hari atau 3,74 kalori/kapita/tahun.
Sedangkan tahun 2011, suplai energi untuk buah-buahan mengalami sedikit
kenaikan menjadi sebesar 32,93 kalori/kapita/hari (1,60 % dari total ketersediaan).
Komoditas yang paling besar masih tetap pisang dengan suplai yang meningkat
menjadi sebesar 7,72 kalori/kapita/hari atau 4,38 kalori/kapita/tahun.

6. Kelompok Sayur-Sayuran
Seperti halnya buah-buahan, peranan sayuran dalam penyediaan energi juga
masih rendah, untuk tahun 2008, kontribusi energinya sebesar 2,39% dari total
ketersediaan atau 58,89 kalori/kapita/hari, Komoditi yang dominan diantaranya
adalah bawang (bawang merah dan bawang putih) dan cabe (merah, hijau dan rawit).
Tahun berikutnya, penyediaan energinya sedikit menurun yaitu sebesar 48,54
Kalori/kapita/hari (1,85% dari total ketersediaan), Tahun 2010 suplai energinya
sedikit meningkat menjadi sebesar 51,05 kalori/kapita/hari atau 2,05% dari total
ketersediaan. Sedangkan pada tahun 2011 mengalami sedikit penurunan walaupun
tidak drastis penyediaan energinya menjadi sebesar 43,73 Kalori/kapita/hari atau
2,13% dari total ketersediaan.
Untuk ketersediaan proteinnya dari tahun 2008-2011 cenderung menurun
dari tahun ketahun yaitu berturut turut dari tahun 2008 sebesar 4,02
Kalori/kapita/hari, 3,26 Kalori/kapita/hari, 3,43 Kalori/kapita/hari dan 3,10
Kalori/kapita/hari.

7. Kelompok Daging
Ketersediaan energi dari pangan hewani berasal dari daging, telur, susu dan
ikan. Daging merupakan pemasok energi kedua terbesar , pada tahun 2008 dengan
kontribusi 120,50 Kalori/kapita/hari (4,89% dari total ketersediaan) dan protein 7,93
gram/kapita/hari (9,73% dari total ketersediaan). Kelompok pangan ini didominasi
oleh ketersediaan daging ayam ras sebesar 90,26 kalori/kapita/hari (10,91 kg/kapita
per tahun) dan daging sapi sebesar 8,79 kalori/kapita/hari (1,55 kg/kapita/tahun).
16

Sedangkan suplai protein per kapita per hari untuk ayam ras 5,44 gram, dan daging
sapi 0,80 gram.
Pada tahun 2009, ketersediaan zat gizi per kapita per hari meningkat
menjadi 165,35 kalori (6,31% dari ketersediaan) dan 11,34 gram protein (12,97%
dari total ketersediaan). Hal ini disebabkan oleh peningkatan pasokan dari ayam ras
menjadi 102,17 Kalori/kapita/hari (12,35 kg/kapita/tahun). Sedangkan ketersediaan
dari beberapa komoditas juga relatif meningkat, yaitu daging sapi 23,43
kalori/kapita/hari (4,13 kg/kapita/tahun). Suplai protein dari ayam ras sebesar 6,16
gram/kapita/hari, daging babi 0,05 gram/kapita/hari, daging sapi 2,13
gram/kapita/hari, dan daging ayam buras 0,37 gram/kapita/hari.
Pada tahun 2010, ketersediaan energinya sedikit menurun menjadi 153,53
kalori/kapita/hari (6,17% dari total ketersediaan) dan 11,14 gram protein (13,75%
dari total ketersediaan). Terjadi penurunan pasokan dari ayam ras menjadi 81,41
Kalori/kapita/hari (9,84 kg/kapita/tahun). Sedangkan ketersediaan dari beberapa
komoditas relatif meningkat, yaitu daging sapi 35,67 kalori/kapita/hari (6,29
kg/kapita/tahun). Suplai protein dari ayam ras sebesar 4,91 gram/kapita/hari, daging
babi 0,05 gram/kapita/hari, daging sapi 3,24 gram/kapita/hari, dan daging ayam
buras 0,34 gram/kapita/hari.
Sedangkan pada tahun 2011, ketersediaan energinya menurun lagi menjadi
94,09 kalori/kapita/hari (4,59% dari total ketersediaan) dan 5,92 gram protein
(8,85% dari total ketersediaan). Terjadi penurunan juga untuk pasokan dari ayam ras
menjadi 65,54 Kalori/kapita/hari (7,92 kg/kapita/tahun). Sedangkan ketersediaan
dari beberapa komoditas juga relatif menurun, yaitu daging sapi 3,59
kalori/kapita/hari (0,63 kg/kapita/tahun). Suplai protein dari ayam ras sebesar 3,95
gram/kapita/hari, daging babi 0,02 gram/kapita/hari, daging sapi 0,33
gram/kapita/hari, dan daging ayam buras 0,26 gram/kapita/hari.

8. Kelompok Telur
Telur sebagai pangan hewani yang murah dan mudah dijangkau, pada tahun
2008 memasok energi sebesar 41,45 kalori/kapita/hari (1,68% dari total
ketersediaan), protein 3,30 gram/kapita/hari dan lemak 2,93 gram/kapita/hari. Dari
jumlah tersebut komoditas yang paling besar adalah dari telur ayam ras dengan
volume sebesar 39,37 kalori/kapita/hari atau 10,49 kg/kapita/tahun. Ketersediaan
17

tersebut sedikit mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 52,41
kalori/kapita/hari (2% dari total ketersediaan), diikuti pula oleh peningkatan
ketersediaan protein menjadi 4,17 gram/kapita/hari dan lemak 3,70 gram/kapita/hari.
Kontribusi telur ayam ras juga meningkat menjadi 49,75 kalori/kapita/hari (13,25
kg/kapita/tahun).
Pada Tahun 2010, ketersediaan energinya sedikit menurun menjadi 46,24
kalori/kapita/hari (1,86% dari total ketersediaan) dan 3,68 gram protein (4,54% dari
total ketersediaan). Terjadi penurunan pasokan dari telur ayam ras menjadi 43,89
Kalori/kapita/hari (11,69 kg/kapita/tahun). Suplai protein dari telur ayam ras sebesar
3,53 gram/kapita/hari.
Sedangkan pada Tahun 2011, ketersediaan energinya sedikit mengalami
penurunan menjadi 43,42 kalori/kapita/hari (2,12% dari total ketersediaan) dan 3,47
gram protein (5,19% dari total ketersediaan). Untuk kontribusi komoditi yang paling
besar tetap telur ayam ras yaitu sebesar 42,14 kalori/kapita/hari atau 11,22
kg/kapita/tahun dan 3,39 gram/kapita/hari protein dan 2,96 gram/kapita/hari lemak.

9. Kelompok Susu
Kontibusi zat gizi per kapita tahun 2008 dari kelompok susu sebesar 94,54
kalori/hari atau 3,84% dari total ketersediaan, protein 4,96 gram/hari dan lemak 5,42
gram/hari, dengan volume sebesar 56,57 kg/kapita/tahun yang berasal dari susu
sapi/impor semuanya.
Pada tahun 2009, ketersediaan per kapita meningkat menjadi 108,17
kalori/hari (4,13% dari total ketersediaan), protein 5,67 gram/hari, lemak 6,21
gram/hari atau volume ketersediaan susu per kapita 64,72 kg/tahun.
Pada tahun 2010, ketersediaan per kapita menurun menjadi 72,61 kalori/hari
(2,92% dari total ketersediaan), protein 3,81 gram/hari, lemak 4,17 gram/hari atau
volume ketersediaan susu per kapita 43,45 kg/tahun.
Sedangkan untuk tahun 2011, ketersediaan per kapita sedikit meningkat
menjadi 74,99 kalori/hari (3,65% dari total ketersediaan), protein 3,93 gram/hari,
lemak 4,30 gram/hari atau volume ketersediaan susu per kapita 44,87 kg/tahun.



18

10. Kelompok Ikan
Tahun 2008, total suplai per kapita produk perikanan sebesar 69,48
Kalori/hari (2,82% dari total ketersediaan), protein 12,60 gram/hari dan lemak 1,47
gram/hari, dengan volume 38,24 kg/tahun. Ketersediaan produk tersebut pada tahun
2009 meningkat menjadi 70,68 kalori/kapita/hari (2,7% dari total ketersediaan),
protein sebesar 12,93 gram/kapita/hari dan lemak 1,46 gram/kapita/hari. Volume
penyediaan per kapita meningkat menjadi 38,21 kg/tahun. Pada tahun 2010
ketersediaan energi sedikit menurun menjadi 61,45 kalori/kapita/hari (2,47% dari
total ketersediaan), protein sebesar 11,22 gram/kapita/hari dan lemak 1,29
gram/kapita/hari. Volume penyediaan per kapita meningkat menjadi 33,51 kg/tahun.
Sedangkan tahun 2011 ketersediaan energi juga menurun menjadi 57,84
kalori/kapita/hari (2,82% dari total ketersediaan), protein sebesar 10,65
gram/kapita/hari dan lemak 1,18 gram/kapita/hari. Volume penyediaan per kapita
meningkat menjadi 30,72 kg/tahun.
Dari tahun 2008-2011 Komoditas terbesar adalah ikan/hewan lainnya
dengan suplai berturut-turut sebesar 28,63 kalori/kapita/hari, 25,36 kalori/kapita/hari,
24,25 kalori/kapita/hari, 18,07 kalori/kapita/hari dan terbesar kedua adalah ikan
kembung dengan suplai berturut-turut sebesar 9,28 kalori/kapita/hari, 10,86
kalori/kapita/hari, 9,13 kalori/kapita/hari, dan 10,04 kalori/kapita/hari

11. Kelompok Minyak/Lemak
Kelompok ini terdiri dari minyak/lemak nabati dan hewani, tahun 2008
kontribusinya terhadap ketersediaan energi per kapita sebesar 255,05 kalori/hari
(10,35% dari total ketersediaan), 0,01 gram/kapita/hari protein dan 28,27
gram/kapita/hari lemak. Minyak sawit/goreng mendominasi ketersediaan tersebut
yaitu 246,55 Kalori/kapita/hari atau 9,98 kg/kapita/tahun. Total ketersediaan per
kapita dari kelompok ini pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 249,59
kalori/hari (9,52% dari total ketersediaan) 0,02 gram/kapita/hari protein dan 27,67
gram/kapita/hari lemak, sedangkan kontribusi dari minyak sawit/goring masih tetap
yang terbesar yaitu sebesar 237,92 kalori/kapita/hari. Pada tahun 2010 ketersediaan
perkapita mengalami sedikit penurunan menjadi 234,43 kalori/hari (9,42% dari total
ketersediaan), 0,01 gram/kapita/hari protein dan 25,99 gram/kapita/hari lemak.
Sementara tahun 2011 ada sedikit peningkatan untuk ketersediaan energy sebesar
19

236,51 kalori/kapita/hari (11,53% dari total ketersediaan), 0,02 gram/kapita/hari
protein dan 26,24 gram/kapita/hari.

3.3. PERKEMBANGAN KETERSEDIAAN ENERGI, PROTEIN DAN LEMAK
Besarnya ketersediaan energi, protein dan lemak merupakan indikator
tingkat pemenuhan gizi penduduk Kota Tangerang. Angka kecukupan energi, protein
dan lemak sudah ditetapkan dalam Widyakarya Pangan dan Gizi ke VIII tahun 2004.
Angka kecukupan rata-rata energi dan protein yang dianjurkan pada tingkat
ketersediaan masing-masing 2.200 kalori dan 57 gram perkaita per hari, sedangkan
pada tingkat konsumsi energi dan protein masing-masing 2.000 kalori dan 52 gram
per orang hari. Guna memperoleh mutu protein dan mutu zat gizi mikro yang lebih
baik, minimal 20% AKP dipenuhi dari protein hewani. Adapun angka kecukupan
lemak menurut Sunita Almatsier (Prinsip Dasar Ilmu Gizi, 2003) kebutuhan lemak
tidak dinyatakan secara mutlak sebagaimana kalori dan protein. Namun WHO (1990)
merekomendasikan konsumsi lemak sebanyak 15-30 persen kebutuhan energi total
(AKE). Proporsi lemak yang masih dianggap baik untuk kesehatan saat ini adalah
20% dan sebaiknya tidak melebihi 30% (Mardiansyah, Viktor Tambunan, Prosiding
WNPG VIII, 2004). Lemak dan minyak menghasilkan 9 kalori untuk tiap gram yaitu
2 kali besar energy yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah
yang sama. Jika dirata-ratakan kebutuhan lemak adalah 20 persen dari Angka
Kecukupan Energi sebesar 2.200 kalori maka kebutuhan lemak adalah 2.200 x 20
persen : 9 = 48,88 gram.
Tingkat ketersediaan energi pada tahun 2008-2010 jika dilihat dari data yang
didapatkan telah melampau tingkat kecukupan kalori yang dianjurkan, masing-
masing 2.463,45 kalori, 2.621,10 kalori dan 2.490,34 kalori. Sedangkan untuk tahun
2011 masih dibawah tingkat kecukupan kalori yang dianjurkan yaitu 2.052,08 kalori.
Demikian juga dengan tingkat ketersediaan protein, pada tahun 2008-2011 berturut-
turut sebesar 81,51 gram, 87,43 gram, 81,00 gram dan 66,90 gram sudah melampau
tingkat kecukupan protein yang dianjurkan. Ketersediaan lemak juga sudah melebihi
kebutuhan lemak rata-rata yaitu diatas 48,88 gram per hari dan dibawah nilai
maksimal dari 30 persen kebutuhan energi total yaitu sebesar 73,33 gram per hari,
masing-masing sebesar 60,76 gram, 64,81 gram, 58,21 gram, dan 51,76 gram
20

sehingga bisa dikatakan ketersediaan lemak di Kota Tangerang masih dalam batas
normal.
Di lihat dari sumbernya, ketersediaan bahan makanan di Kota Tangerang
masih sebagian besar adalah sumber nabati. Menurut Pola Pangan Harapan, sumber
pangan hewani yang dianjurkan sebagai sumber energi adalah 15 persen dari seluruh
bahan makanan yang tersedia. Selama tahun 2008-2011 sumber pangan nabati
sebagai sumber energi mencapai 86,50 persen, 84,49 persen, 86,29 persen dan 86,80
persen, sehingga peran bahan makanan sumber hewani hanya sebesar 13,50 persen,
15,51 persen, 13,71 persen dan 13,20 persen.

3.3.1. KETERSEDIAAN ENERGI
Ketersediaan energi perkapita perhari pada tahun 2011 bila dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, mengalami penurunan sekitar 17,98 persen. Dari 2.490,34
kalori menjadi 2.052,08 kalori. Penurunan yang paling besar adalah pada
ketersediaan kelompok daging, gula, dan padi-padian. Pada tahun ini bahan makanan
penghasil energi terbesar adalah padi-padian sebesar 1.317,55 kalori (64,21 persen),
minyak dan lemak sebesar 236,51 kalori (11,53 persen), kemudian daging, susu dan
buah/biji berminyak masing-masing 94,09 kalori, 74,99 kalori dan 71,65 kalori atau
sekitar 4,59 persen, 3,65 persen dan 3,49 persen dari ketersediaan kalori.
Ketersediaan kalori yang berasal dari hewan hanya sebesar 270,83 kalori (13,20
persen), sumber energi hewani terutama berasal dari kelompok daging sekitar 34,74
persen. Dengan demikian total energi yang tersedia pada tahun 2011 masih dibawah
tingkat ketersediaan yang dianjurkan.

3.3.2. KETERSEDIAAN PROTEIN
Total ketersediaan protein perkapita per hari pada tahun 2011 sebesar 66,9
gram. Sebagian besar (64,16 persen) merupakan protein nabati, sisanya adalah
protein hewani. Dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya, ketersediaan
protein juga mengalami penurunan 17,41 persen. Penurunan ini banyak disebabkan
karena menurunnya ketersediaan bahan makanan kelompok padi-padian dan ikan
sebagai penyedia protein terbesar. Pada tahun ini Kelompok bahan makanan sebagai
sumber protein terbesar adalah kelompok padi-padian dan kelompok ikan, masing-
masing menyediakan sekitar 33,06 gram dan 10,65 gram protein per kapita per hari,
21

atau sekitar 49,42 dan 15,92 persen dari seluruh ketersediaan protein per kapita per
hari. Disusul kelompok daging dan kelompok buah/biji berminyak, masing-masing
menyediakan sekitar 6,3 dan 5,92 gram per kapita per hari, atau masing-masing
sekitar 9,42 dan 8,85 persen dari ketersediaan protein. Komoditi yang menyediakan
protein terbesar adalah beras menyediakan sekitar 24,95 gram. Sedangkan sebagai
sumber protein hewani terbesar berasal dari daging ayam ras dan susu, menyediakan
sekitar 3,95 gram dan 3,93 gram per kapita per hari.

3.3.3. KETERSEDIAAN LEMAK
Tidak seperti ketersediaan kalori dan energi, ketersediaan lemak tahun 2011
dibandingkan tahun sebelumnya mengalami penurunan 11,08 persen. Dari 58,21
gram menjadi 51,76 gram per kapita per hari. Pada tahun ini Lemak sumber nabati
sebesar 68,61 gram dan lemak sumber hewani 31,39 gram. Penurunan ketersediaan
lemak ini akibat dari turunnya ketersediaan minyak goreng yang siap dikonsumsi
penduduk. Meskipun turun, terlihat bahwa ketersediaannya naik melebihi dari
kecukupan lemak yang dianjurkan.
Kelompok bahan makanan penyedia lemak terutama adalah kelompok
minyak dan lemak. Kelompok ini menyediakan lemak sekitar 26,24 gram per kapita
per hari atau sekitar 50,69 persen ketersediaan lemak per kapita per hari di Kota
Tangerang. Disusul oleh kelompok daging yaitu sekitar 7,65 gram per kapita per
hari atau sekitar 14,78 persen dari seluruh ketersediaan lemak per kapita per hari.
Komoditinya terutama adalah minyak sawit/goreng dan daging ayam ras dengan
kandungan lemaknya sebesar 24,70 gram dan 5,43 gram per kapita per hari.