Anda di halaman 1dari 11

KORBAN DALAM TINDAK PIDANA PERKOSAAN SEBAGAI PERTIMBANGAN HAKIM

DALAM MENJATUHKAN BERAT RINGANYA PUTUSAN



A. Latar Belakang Masalah
Negara Republik Indonesia adalah Negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-
undang dasar Negara 1945 yang menjujung tingi hak dan kewajiban bagi warga Negaranya. Bagi
warga Negara Indonesia haruslah taat dan sadar pada Hukum, dan kewajiban Negara untuk
menegakan dan menjamin kepastian hukum bagi warga negaranya.
Hukum harus selalu ditegakan guna mencapai cita-cita dan trujuan Negara Indonesia
dimana tertuang dalam pembukaan alinea ke-empat yaitu membentuk suatu pemerintahan
Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
Salah satu bidang hukum yang harus di tegakan adalah bidang hukum pidana, karena
eksistensinya sampai saat ini masih diakui sebagai salah satu sarana untuk menanggulangi atau
mencegah terjadinya kejahatan.
Berbicara masalah hukum pidana maka tidak akan terlepas dari empat nasalah utama yaitu
masalah pelaku, masalah perbuatan, masalah punishment dan masalah korban. Dalam masalah
pelaku sendiri hukum pidana lebih cenderung membahas mengenai sifat bersalahnya pelaku
tidak pidana, apakah dia dapat dikenai pertanggung jawaban pidana atau tidak, dan mengenai ada
tidak nya alasan pembenar maupun alasan pemaaf pada pelaku. Mengenai masalah perbuatan
lebih menitik beratkan pada perbuatan tersebut melawan hukum atau tidak (criminal act). Pada
masalah punishmen akan lebih menitikberatkan pada stelsel hukum pidana. Yang keempat
adalah masalah korban, masalah korban seringkali dilupakan dalam masalah pidana, padahal
korban merupakan pihak yang seharusnya diperhatikan.
Kajian mengenai korban sendiri dipelajari dalam suatu disiplin ilmu tersendiri yang kita
kenal dengan viktimologi, dalam viktimologi terdapat bebagai kajian mengenai korban
diantaranya adalah mengenai peranan korban dalam suatu tindak pidana.
Dalam kajian victimologi terjadinya viktimisasi peranan korban dapat menjadi
faktornya Artinya korban dipandang dapat memainkan peran dan menjadi unsur yang penting
dalam suatu tindak pidana yang menimbulkan korban (viktimisasi). Begitu eratnya peranan
korban dalam terjadinya viktimisasi yang disebabkan interaksi lebih dahulu antara korban dan
pelaku, Heting menghipotesakan bahwa dalam beberapa hal, korban membentuk dan mencetak
penjahat dan kejahatnya(Iswanto dan Angkasa 2010 :27).
Korban mempunyai peranan yang fungsional dalam terjadinya suatu kejahatan, bahkan
dalam beberapa kejahatan seringkali peran korban memegang peranan penting adalam terjadinya
kejahatan tersebut.
Dalam kasus pembunuhan misalnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Wolfgang,
berdasarkan analisis terhadap studi statistik ditemukan bahwa satu korban diantara empat kasus
pembunuhan ikut mempercepat pembunuhan tersebut. Begitu pula dikemukakan olehAmir yang
mengkaji kasus pemerkosaan, yang menunjukan bahwa korban berpartisipasi dan mempercepat
satu diantara kasus perkosaan.Hasil studi tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Meir dan Meite
pada tahun 1993, menunjukan bahwa dalam kasus perkosaan tingkat victim precipitation (VP)
mencapai sekitar 4-19 % karna kelalaian korban.(Iswanto dan Angkasa 2010 :28).
Dari data tersebut dapat diasumsikan bahwa selain faktor adanya niat pelaku dan adanya
kesempatan, faktor peran korban juga memegang peran penting dalam terjadinya suatu tindak
pidana, diantaranya tindak pidana perkosaan. Karna peran korban yang cenderung besar dalam
terjadinya tidak pidana perkosaan, maka tidaklah berlebihan jika peranan korban dalam tindak
pidana perkosaan dijadikan suatu pertimbangan oleh hakim dalam memutus berat ringanya suatu
putusan.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian guna menyusun skripsi dengan judulPERAN KORBAN DALAM
TINDAK PIDANA PERKOSAAN SEBAGAI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM
MENJATUHKAN BERAT RINGANNYA PUTUSAN

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan
permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peranan korban terhadap terjadinya perkosaan di Purwokerto
2. Apakah peranan korban dalam tindak Pidana perkosaan dijadikan sebagai pertimbangan
Hakim dalam menjatuhkan berat ringannmya putusan.
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan karya tulis ini adalah :
1. Untuk mengetahui sejauh mana peran korban dalam terjadinya suatu tindak pidana
perkosaan di Purwokerto.
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh peranan korban dalam tindak pidana
perkosaan dijadikian pertimbangan terhadap berat ringanya putusan hakim.

D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang ilmu Hukum Pidana pada umumnya dan Viktimologi pada
kususnya.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai masukan, sumber data
dan referensi bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penelitian ini.
2. Kegunaan Praktis
Menambah literatur kepustakaan hukum pidana terutama mengenai masalah peranan
korban dalam tindak pidana perkosaan.

E. Kerangka Teoritis
1. Tinjauan Umum Tentang Viktimologi
a. Pengertian Viktimologi
Viktimologi dapat dikatakan sebagai kajian yang relatif baru dibandingkan dengan
cabang ilmu lain seperti sosiologi dan kriminologi karena viktimologi baru muncul dan
poluler pada pertengahan abad ke 20. Sekalipun usianya relatif muda, namun peran
viktimologi tidak lebih rendah dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu lain
Viktimologi secara etimlogis, berasal dari kata victima(Latin) yang berarti korban
dan logos (Yunani) berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuantentang korban. Pengertian
tersebut yang menggunakan kata pengetahuan atau ilmu pengetahuan memang masih
menampakan belum adanya suatu ketegasan apakah viktimologi itu merupakan pengetahuan
atau sudah merupakan ilmu pengetahuan. Ini terjadi karena ada beberapa fihak yang masih
berpandangan viktimologi hanya pengetahuan cabang kriminologi, namun ada pula yang
berpandangan bahwa viktimologi sudah merupakan ilmu pengetahuan yang sejajar dengan
ilmu-ilmu lainya. (Iswanto dan Angkasa 2010 : 1 )
Pengertian lain dari viktimologi dapat kita peroleh dari beberapa sumber diantaranya
dari internat. dalam suatu situs memberikan devinisi viktimologi sebagai berikut
Viktimologi adalah suatu studi atau pengetahuan ilmiah yang mempelajari masalah
korban kriminal sebagai suatu masalah manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial dan
viktimologi merupakan bagian dari kriminologi yang mempunyai objek studi yang sama,
yaitu kejahatan atau korban criminal (http://replaz.blogspot.com/2008/09/viktimologi.html).
Dari pengertian di atas, tampak jelas bahwa yang menjadi objek pengkajian
viktimologi adalah mengenai korban.

b. Ruang Lingkup Victimologi
Viktimologi meneliti topik-topik tentang korban, seperti, peranan korban pada
terjadinya tindak pidana, hubungan antara pelaku dan korban, rentanya posisi korban dan
peranan korban dalam sistem peradilan pidana.
Menurut J.E Sahetapy ruang lingkup Viktimologi meliputi bagaimana seseorang
dapat menjadi korban yang ditentukan oleh suatu victimity yang tidak selalu berhubungan
dengan masalah kejahatan (Mansur dan Gultom, 2007 :43 )
Selain itu viktimologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai tujaun
untuk :
a. Menganalisis berbagai aspek masalah korban (to analize the manifold aspec of thr
victims problem). Dalam tujuan untuk menganalisa berbagai aspek masalah
korban ini meliputi kerugian dan atau penderitaan korban.
b. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya pengorbanan (to explain the causes for
victimization). Hal ini meliputi suatu analisis serta penjelasan tentang faktor
faktor yang menyebabkan timbulnya korban. Dalam kajian viktimologi akan
tampak bahwa timbulnya korban tidak mutlak disebabkan oleh kesalahan pelaku
kejahatan, namun dapat pula disebabkan oleh kesalahhan korban dari tingkat yang
ringan hingga kesalahan penuh dipihak korban.
c. Menciptakan system kebijakan dalam upaya mengurangi penderitaan manusia (to
develop a system of measures for reducing human suffering). Hal ini dapat berupa
kebijakan perlindungan hukum bagi korban berupa pemberian hak dalam system
peradilan pidana maupun kebijakan lain berupa restitusi dan atau
kompensasi.(Separovic dalam Iswanto dan Angkasa, 2010 : 15)

2. Tinjauan Tentang korban
a. Pengertian Korban
Pentingnya pengertian korban diberikan dalam pembahasan ini adalah untuk
membantu menentukan secara jelas batas-batas apa yang menjadi pengertian korban.
Berbagai pengertian korban banyak dikemukakan baik oleh ahli maupu narasumber, sebagian
diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Arif gosita.
Menurutnya, korban adalah mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai
akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri dan orang lain
yang bertentangan dengan kepentingan hak asasi yang menderita. ( Gosita, 1985 : 41)
2) Muladi.
Berbeda dengan Arif Gosita yang memberi pengertian korban sebatas pada mereka
yang menderita jasmaniah dan rohaniah akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan
kepentingan, Muladi member prespektif berbeda mengenai korban. Menurut Muladi yang
dimaksud dengan korban adalah :
Orang yang baik secara individual maupun kolektif telah menderita kerugian
termasuk kerugian fisik maupun mental, emosional, ekonomi, gangguan substansial terhadap
hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana
di masing-masing Negara termasuk penyalahgunaan kekuasaan. (Mansur dan Gultom, 2007 :
47 )

3) Cohen
Cohen mengungkapkan bahwa korban adalah whose pain and suffering have been
neglectedby the state while it spands immense resources to hunt down and punish the
offender who responsible for that pain and suffering. (Mansur dan Gultom, 2007:46)
4) Barda Nawawi Arief menyatakan korban adalah
Orang-orang, baik secara individual maupun kolektif, yang menderita kerugian akibat
perbuatan (tidak berbuat) yang melanggar hukum pidana yang berlaku di suatu negara,
termasuk peraturan-peraturan yang melarang penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu korban
termasuk juga orang-orang yang menjadi korban dari perbuatan-perbuatan (tidak berbuat)
yang walaupun belum merupakan pelanggaran terhadap hukum pidana nasional yang
berlaku, tetapi sudah merupakan pelanggaran menurut norma-norma hak asasi manusia yang
diakui secara
internasional.(http://gendo.multiply.com/journal/item/7/URGENSI_VONIS_REHABILITASI_
TERHADAP_KORBAN_NAPZA_DI_INDONESIA

b. Tipologi korban kejahatan.
Mendelsohn membuat suatu tipologi korban yang di klasifikasikan menjadi 6 tipe,
tipologi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. The completely innocent victim. Korban yang samasekali tidak bersalah oleh
Mendeson dianggap sebagai korban ideal yang cenderung terjadi pada anak-anak
dan mereka juga tidak menyadari ketika ia menjadi korban.
b. The victim whit minor guilty and victim due to his ignorance. Korban dengan
kesalahan kecil dan korban yang disebabkan kelalaian dapat dicontohkan seorang
wanita yang menggoda tetapi salah alamat, sebagai akibat malah dia menjadi korban.
c. The victim as guilty as offender and voluntary victim.Korban sama salahnya
dengan pelaku dan korban sukarela ini olehmendelsohn dibagi menjadi beberapa
sub tipe sebagai berikut.
1. bunuh diri dengan melemparkan uang logam;
2. bunuh diri dengan adhesi;
3. euthanasia;
4. bunuh diri yang dilakukan suami isteri (misalnya pasangan suami isteri yang
putus asa karena salah satu pasangan sakit).
d. The victim more guilty than the offender. Dalam hal korban kesalahnaya lebih
besar daripada pelaku ini ada dua tipe yakni :
1. korban yang memancing dan atau menggoda seeorang untuk berbuat jahat;
2. korban lalai yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan kejahatan.
e. The most guilty victim and the victim as is gultu alone.Korban yang sangat
salah dan korban yang salah sendirian misalnya terjadi pada korban yang sangat
agresif terlebih dahulu melakukan kejahatan namun akirnya justeru ia sendiri yang
menjadi korban (misalnya penyerang yang mati akibat pembelaan diri dari orang lain
yang diserang).
f. The simulating victim and the imagine as victim. Korban pura-pura dan korban
imajinasi oleh Mandesohn dicontohkan pada mereka yang mengaku menjadi korban
demi kepentingan tertentu atau orang yang menjadi paranoid, hysteria atau
pikun. (Iswanto danAngkasa 2010:28).

Sedikit berbeda dengan Mendelson yang membuat tipologi korban berdasarkan tingkat
kesalahan, Schafer membagi tipe korban dalam kategori yang tergantung pada pertanggung
jawaban korban dalam tindak pidana tersebut. Tipologi tersebut adalah :
a. unrelated victim yakni kejahatan dilakukan oleh pembuat kejahatan tanpa ada
hubungan apapun dengan korban.
b. profokatif victim disini korban memancing pembuat kejahatan untuk melakukan
untuk melakukan kejahatan dengan perilaku tertentu mialnya korban mengingkari
janji.
c. precipicatif victims adalah pelaku melakukan kejahatan karena tingkah laku yang
tidak hati-hati dari korban mendorong pelaku melakukan kejahatan.
d. biological weak victims yakni saiapa saja yang secara fisik atau mental lemah
misalnya orang yang sangat muda atau sangat tua dan orang yang tidak sadar yang
menjadi target kejahatan.
e. social weak victims misalnya kaum imigran atau minoritas etnik yang memiliki
posisi sosial yang lemah dalam masarakat dan sering dieksploitasi oleh elemen
kejahatan.
f. self-victimizing victims dan political victim. Self-victimizing victim adalah
korban dari tindakanya sendiri sebab mereka berkorban sendiri. (Yazid efendi 2001:
28)

3. Tinjauan tentang Tindak Pidana.
Berikut merupakan pendapat para ahli hukum mengenai pengertian tindak pidana, antara
lain:
1. Sudarto memberikan pendapat bahwa delik itu mengandung perbuatan yang
mengandung perlawanan hak yang dilakukan dengan salah dosa yanag sempurna akal
budinya dan kepada siapa perbuatan patut di pertanggungjawabkan. (Sudarto,
1990:42).
2. Dalam website resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan definisi Tindak
Pidana memiliki pengertian perbuatan setiap orang/subjek Hukum yang berupa
kesalahan yang bersifat melanggar Hukum ataupun tidak sesuai dengan Undang-
Undang yang berlaku. (http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum).
Dari pengertian diatas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa tindak pidana adalah
suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang dimana orang tersebut mempunyai kemampuan
untuk bertanggung jawab, dimana perbuatan yang dilakukan tersebut bersifat melawan hukum
dan melanggar peraturan perundang-undangan sehingga perbuatan tersebut diancam dengan
suatu pemidanaan yang bertujuan untuk memberikan efek jera bagi orang yang melakukan
perbuatan tersebut.

4. Tinjauan tentang Perkosaan
Perkosaan sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah contoh
kerentanan posisi perempuan terhadap laki-laki terutama terhadap kepentingan seks laki-laki.
Citra seks perempuan yang selalu ditempatkan sebagai objek seks laki-laki berimplikasi jauh
terhadap kehidupan perempuan. Ia selalu menghadapi kekerasan pemaksaan dan penyiksaan
fisik. Perkosaan pada intinya merupakan bentuk hubungan yang dilakukan secara paksadan
merugikan pihak perempuan sebagai korban.
Kejahatan perkosaan dalam hal persetubuhan dimuat dalam Pasal 285 KUHP yang
rumusanya sebagai berikut.Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seorang perempuan bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun
Dalam Pasal 285 KUHP tersebut mensyaratkan keharusan adanya persetubuhan dengan
wanita yang bukan istrinya disertai dengan ancaman kekerasan. Menurut pasal tersebut,
perkosaan ditandai dengan penetrasi penis kedalam lubang vagina dalam hubungan seks yang
disertai dengan kekerasan fisik terhadap korban oleh pelaku.
5. Putusan Pengadilan.
Pengertian Putusan Pengadilan terdapat dalam Pasal 1 butir 11 KUHAP yang
menyatakan bahwa. Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang
pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini".
Sebelum memberikan putusan hakim, tentusaja suatu perkara harus melalui pemeriksaan
didalam sidang pengadilan dengan minimal harus didasari oleh dua alat bukti dan berdasar
keyakinan hakim, keyakinan hakim diperoleh setelah pemeriksaan alat bukti dan berbagai
pertimbangan hakim.
Jadi dapat dikatakan bahwa putusan pengadilan merupakan akir dari proses persidangan
pidana untuk tahap pemeriksaan di pengadilan negeri. Putusan pengadilan ini hanya sah dan
mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan harus di
tandatangani Hakim dan panitera seketika setelah putusan diucapkan.

F. Metode Penelitian
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalah metode
penekatan yuridis sosiologis atau sosio legal research yaitu metode pendekatan yang
memandang hukum sebagai suatu fenomena sosial, yang didalam interaksinya tidak lepas dari
faktor-faktor non Hukum (Suggono, 2003 : 101 )
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis, yang bertujuan untuk
menggambarkan serta menganalisis keadaan atau gejala objek dalam suatu penelitian tanpa
bermaksud mengambil kesimpulan yang bersifat umum.
3. Sumber data
a. Data Primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lapangan berupa
wawancara dengan pihak terkait dalam hal ini Hakim, korban perkosaan, dan
keluarga korban.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, pereturan Perundang-
undangan , msupun internet yang ada hubungannya dengan materi ini.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Data primer , pada data yang bersifat primer diambil dengan menggunakan metode
wawancara secara langsung yaitu dengan Hakim, korban dan keluarga korban.
b. Data sekunder , metode pengumpulan data pada data sekunder yaitu dengan
melkukan studi dokumen berupa mempelajari buku-buku, peraturan Perundang-
undangan, maupun internet yang ada kaitanya dengan materi ini.

5. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Pusat Informasi Ilmiah (PII) Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Pusat Universitas Jenderal
Soedirman dengan menelaah pustaka yang berkaitan dengan kajian penelitian serta tanya jawab
langsung dengan Hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto.
6. Metode Penyajian Data
Data yang berhasil dikumpulkam selama mengadakan penelitian akan disajikan dalam
bentuk uraian secara sistematis.
7. Metode Analisis Data
Data dianalisa secara kualitatif, yaitu penelitian yang memusatkan pada deskripti






















DAFTAR PUSTAKA

Literatur
Angkasa dan iswanto, 2010, Viktimologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Effendi, Yazid, 2001, Pengantar Viktimologi Rekonsiliasi Korban dan Pelaku Kejahatan,
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Gosita, Arif, 1985, Masalah Korban Kejahatan, PT Akademia Presindo, Jakarta.

Mansyur, Dikdik M. Arief dan Gultom, Elisatris,2007, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan
Antara Norma dan Realita, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sudarto. 1990, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Semarang.

Undang-Undang :
Kitab Undang-Undang Hukum pidana