Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN BLOK 17 LBM 1

SGD 4


Nama Kelompok :
Annastacia MK ( 112110179 )
Dadiet frisca avalianti ( 112110187 )
Furi drian p ( 11211020195 )
Handi Lukam ( 112110199 )
Irfan cahya permana ( 112110201 )
Nina ristianti ( 112110214 )
Taufiah Resa ( 112110228 )
Tifani ardiana ( 112110229 )
Shita maharani ( 112110225 )
Zaniar febryan pratiwi ( 112110240 )


PENDAHULUAN
Trauma adalah luka atau jejas baik fisik maupun psikis yang disebabkan oleh tindakan-
tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Trauma gigi anterior sering
terjadi pada anak-anak karena anak-anak lebih aktif daripada orang dewasa dan koordinasi serta
penilaiannya tentang keadaan belum cukup baik sehingga sering terjatuh saat belajar berjalan,
berlari, bermain, dan berolahraga. Kerusakan yang terjadi pada gigi anak dapat mengganggu
fungsi bicara, pengunyahan, estetika, dan erupsi gigi tetap sehingga mengganggu pertumbuhan
dan perkembangan gigi serta rahang. Secara psikologis kehilangan gigi secara dini terutama gigi
anterior akan menyebabkan gangguan pada anak dan orang tua. Penatalaksanaan trauma gigi
pada anak selain menerapkan teknik-teknik serta pemakaian bahan-bahan yang tepat juga harus
memperhatikan pendekatan psikologis agar anak tidak mengalami trauma lain disamping trauma
gigi yang sedang dialaminya. Oleh karena itu pendekatan terhadap orang tua dan anak
merupakan faktor-faktor penting yang harus diperhatikan.


Pengertian trauma secara umum adalah luka atau jejas baik fisik maupun psikis. Trauma
dengan kata lain disebut injury atau wound, dapat diartikan sebagai kerusakan atau luka yang
biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu
struktur. Trauma juga diartikan sebagai suatu kejadian tidak terduga atau suatu penyebab sakit,
karena kontak yang keras dengan suatu benda. Definisi lain menyebutkan bahwa trauma gigi
adalah kerusakan yang mengenai jaringan keras gigi dan atau periodontal
karena sebab mekanis. Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka trauma gigi anterior
merupakan kerusakan jaringan keras gigi dan atau periodontal karena kontak yang keras dengan
suatu benda yang tidak terduga sebelumnya pada gigi anterior baik pada rahang atas maupun
rahang bawah atau kedua-duanya. Penyebab trauma gigi pada anak-anak yang paling sering
adalah karena jatuh saat bermain, baik di luar maupun di dalam rumah dan saat berolahraga.
Trauma gigi anterior dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, trauma gigi secara
langsung terjadi ketika benda keras langsung mengenai gigi, sedangkan trauma gigi secara tidak
langsung terjadi ketika benturan yang mengenai dagu menyebabkan gigi rahang bawah
membentur gigi rahang atas dengan kekuatan atau tekanan besar dan tiba-tiba.
1

Trauma pada gigi dapat menyebabkan injuri pulpa, dengan atau tanpa kerusakan mahkota
atau akar, atau pemindahan gigi dari soketnya. Bila mahkota atau akar patah atau mengalami
fraktur, pulpa dapat sembuh dan hidup terus, dapat segera mati, atau dapat mengalami degenerasi
progresif dan akhirnya mati.
2

Menurut suatu penelitian prevalensi tertinggi trauma gigi anterior pada anak-anak terjadi
antara usia 1-3 tahun karena pada usia tersebut, anak mempunyai kebebasan serta ruang gerak
yang cukup luas, sementara koordinasi dan penilaiannya tentang keadaan belum cukup baik.
Frekuensi trauma cenderung meningkat saat anak mulai merangkak, berdiri, belajar berjalan, dan
biasanya berkaitan dengan masih kurangnya koordinasi motorik. Penelitian lain menyebutkan
bahwa salah satu periode rawan fraktur adalah pada saat usia 2-5 tahun, karena pada usia ini
anak belajar berjalan dan berlari. Prevalensi trauma gigi yang terjadi pada anak usia di atas 5
tahun menunjukkan penurunan disebabkan karena koordinasi motorik anak yang semakin
membaik, namun terjadi peningkatan kembali pada periode 8-12 tahun karena adanya
peningkatan aktifitas fisik mereka.
1


PEMBAHASAAN

Klasifikasi gigi yang mengalami fraktur
1. Klasifikasi fraktur menurut Ellis.
3,4,5

Klasifikasi Ellis (1961) terdiri dari enam kelompok dasar:
a. Fraktur email.
Fraktur mahkota sederhana, tanpa mengenai dentin atau hanya sedikit mengenai dentin.
b. Fraktur dentin tanpa terbukanya pulpa.
Fraktur mahkota yang mengenai cukup banyak dentin, tapi tanpa mengenai pulpa.
c. Fraktur mahkota dengan terbukanya pulpa.
Fraktur mahkota yang mengenai dentin dan menyebabkan pulpa terbuka.
d. Fraktur akar.
e. Luksasi gigi.
f. Intrusi gigi
2. Klasifikasi menurut Ellis dan Davey.
1,3,5,6

Ellis dan Davey (1970) menyusun klasifikasi trauma pada gigi anterior menurut banyaknya
struktur gigi yang terlibat, yaitu :
Kelas 1 : Fraktur mahkota sederhana yang hanya melibatkan jaringan email.
Kelas 2 : Fraktur mahkota yang lebih luas yang telah melibatkan jaringan dentin tetapi
belum melibatkan pulpa.
Kelas 3 : Fraktur mahkota gigi yang melibatkan jaringan dentin dan menyebabkan
terbukanya pulpa.
Kelas 4 : Trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital dengan atau
tanpa kehilangan struktur mahkota.
Kelas 5 : Trauma pada gigi yang menyebabkan kehilangan gigi atau avulsi.
Kelas 6 : Fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota.
Kelas 7 : Perubahan posisi atau displacement gigi.
Kelas 8 : Kerusakan gigi akibat trauma atau benturan pada gigi yang menyebabkan
fraktur mahkota yang besar tetapi gigi tetap pada tempatnya dan akar tidak mengalami
perubahan.
Kelas 9: kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan

Fraktur Mahkota
Fraktur mahkota merupakan jenis fraktur yang terjadi pada bagian enamel hingga ke
bagian tulang gigi dengan atau tanpa patahnya sebagian elemen. Dalam hal ini, yang termasuk
dalam jenis fraktur ini adalah jenis fraktur Ellis 1 dan Ellis 2.
Fraktur mahkota juga dapat dibagi menjadi:
a. Infraksi Mahkota: Pada jenis ini, pada beberapa kasus fraktur yang terjadi tidak membentuk
suatu patahan, namun hanya berupa garis retak saja yaitu sekitar 10-13%. Retak biasa mencapai
dentin hingga pulpa.
b. Fraktur Mahkota Tanpa Komplikasi: Merupakan fraktur yang terjadi pada sebagian
email, dan dentin. Fraktur ini biasanya terjadi pada gigi anterior dan patah pada bagian sudut
mesial maupun sudut distal. Biasanya jenis fraktur ini tidak menimbulkan rasa sakit, namun
apabila fraktur terjadi hingga mencapai dentin, maka rasa sakit akan terasa terutama pada saat
makan maupun karena perubahan suhu. Rasa sakit pada saat mengunyah juga bisa terjadi
karena jaringan periodontal juga mengalami kerusakan.
c. Fraktur Mahkota dengan Komplikasi: Pada jenis fraktur ini, bagian besar mahkota dan
tulang gigi patah sehingga pulpa terbuka dan mengalami pendarahan kapiler. Rasa sakit
biasanya timbul pada saat mengunyah dan jika terjadi perubahan suhu. Sekitar 4% penderita
fraktur gigi mengalami fraktur jenis ini.

Fraktur Akar
Fraktur akar terjadi pada daerah sekitar akar gigi. Diagnosis fraktur dapat ditegakkan
melalui pemeriksaan foto rontgen untuk mnegetahui kondisi gigi yang mengalami fraktur.
a. Fraktur Mahkota Akar
Fraktur mahkota akar yang terjadi dari insisal sampai 2-3 mm di bawah pengikatan
gingival pada elemen pada arah vestibulolingual, dan pulpa sering terlibat dalam hal ini. Pada
gigi premolar atas, tonjol vestibular sering patah. Pada kasus yang terakhir, bagian yang patah
biasanya ditahan pada tempatnya oleh serabut periodontal, sehingga retak pada mulanya kurang
menarik perhatian. Keluhan yang terjadi pada pasien seperti keluhan pada pulpitis, dan sakitnya
akan bertambah ketika digunakan untuk menggigit.
b. Fraktur Akar Gigi yang baru erupsi memiliki resiko untuk lepas dari alveolus apabila
terjadi benturan, sedangkan gigi yang telah tumbuh sempurna memiliki resiko patah.
Andreasen (1981) juga mengklasifikasi trauma terhadap gigi berdasarkan gejala pada
gambaran klinis, seperti:
10

1. Perubahan warna enamel menjadi lebih putih atau kuning hingga kecokelatan.
2. Perubahan warna enamel yang mengalami hipoplasia, menjadi lebih putih atau kuning
hingga kecokelatan.
3. Dilaserasi mahkota.
4. Malformasi gigi.
5. Dilaserasi akar.
6. Gangguan pada erupsi.

Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan mengangkat jaringan
pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian diisi padat oleh bahan
pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang. Tujuannya adalah
untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang, sehingga fungsi dan bentuk
lengkung gigi tetap baik.Perawatan saluran akar membutuhkan ketelatenan sehingga seringkali
membutuhkan lebih dari 1 kunjungan, bervariasi tergantung kasusnya.

Tahapan PSA adalah sebagai berikut:
- Tahap 1
Mahkota gigi di-bur untuk mendapatkan jalan masuk ke kamar pulpa. Semua tambalan dan
jaringan rusak pada gigi (karies) dibuang.
- Tahap 2
Pulpa dikeluarkan dari kamar pulpa dan saluran akar. Suatu instrumen kecil yang disebut file
digunakan untuk membersihkan saluran akar. Gigi ditutup dengan tambalan sementara untuk
melindungi kamar pulpa dan saluran akar agar tetap bersih. Tambalan sementara akan dibongkar
pada kunjungan selanjutnya.
- Tahap 3
Saluran akar diisi dan dibuat kedap dengan suatu bahan yang mencegah bakteri masuk. Kamar
pulpa sampai dengan permukaan mahkota gigi ditutup dengan tambalan sementara.
- Tahap 4
Tambalan sementara dibongkar dan diganti dengan tambalan tetap atau dibuatkan crown
(sarung gigi).
- Tahap 5
Saluran akar, tambalan tetap, atau crown dievaluasi untuk melihat ada / tidaknya masalah.
Setelah PSA selesai, gigi akan disuplai nutrisinya oleh tulang dan gusi di sekitarnya.

Dalam masa Perawatan Saluran Akar (PSA) gigi, adakalanya gigi mengalami rasa sakit, bisa
karena saraf pulpa belum seluruhnya mati, bisa juga karena pembersihan yang belum selesai.
Bila gigi mempunyai akar yang bengkok, maka tingkat kesulitan pembersihan saluran akar lebih
tinggi daripada saluran akar yang normal lurus. Belum lagi bila saluran akar utama mempunyai
cabang-cabang. PSA kadang bisa gagal karena faktor-faktor di atas.


Indikasi umum perawatan endodonsia :
1. Gigi dengan kelainan yang telah mengenai jaringan pulpa dan periapikal
2. Sebagai pencegahan untuk menghindari infeksi jaringan periapikal
3. Untuk rencana pembuatan mahkota pasak
4. Sebagai penyangga / abunment gigi tiruan
5. Kesehatan umum pasien baikOral hygiene pasien baik
6. Masih didukung jaringan penyangga gigi yang baik
7. Pasien bersedia untuk dilakukan perawatan
8. Operator mampu.

Kontraindikasi perawatan endodonsia :

1. Gigi yang tidak dapat direstorasi lagi
2. Tidak didukung jaringan penyangga gigi yang cukup
3. Gigi yang tidak strategis, tidak mempunyai nilai estetik dan fungsional. Misalnya gigi
yang lokasinya jauh di luar lengkung.
4. Fraktur vertical
5. Resorpsi yang luas baik internal maupun eksternal
6. Gigi dengan saluran akar yang tidak dapat dipreparasi; akar terlalu bengkok, saluran akar
banyak dan berbelit-belit.
7. Jarak interoklusal terlalu pendek sehingga akan menyulitkan dalam instrumentasi.
8. Kesehatan umum pasien buruk
9. Pasien tidak bersedia untuk dilakukan perawatan
10. Operator tidak mampu.

PERAWATAN ENDODONTIK KONVENSIONAL
Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa, yaitu untuk
meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal sekitarnya
serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh
jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa tidak terdapat lagi simtom, dapat berfungsi dengan baik
dan tidak ada tanda-tanda patologis yang lain. Faktor pertimbangan khusus diperlukan pada
saat memutuskan rencana perawatan yang sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu untuk
mempertahankan panjang lengkung rahang.

Pulp Capping
Pulp Capping didefinisikan sebagai aplikasi dari satu atau beberapa lapis bahan pelindung di
atas pulpa vital yang terbuka. Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah
kalsium hidroksida karena dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif
dibandingkan bahan lain. Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke
jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan
vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. Teknik pulp
capping ini ada dua yaitu indirect pulp capping dan direct pulp capping.

1. Indirect Pulp Capping
Istilah ini digunakan untuk menunjukan penempatan bahan adhesif di atas sisa dentin karies.
Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan bor bundar
kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak
sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa. Basis pelindung pulpa yang biasa dipakai
yaitu zinc okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida yang diletakan di dasar
kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies diharapkan jaringan pulpa
akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan pelindung dengan membentuk dentin
sekunder. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi.
Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi
maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih
radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

2. Direct Pulp Capping
Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa.
Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida dapat
ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc okside eugenol dapat diletakkan di atas
seluruh lantai pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi
bila gigi di restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik
jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa di sekitar daerah
terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan.
Langkah-langkah Pulp Capping :

1. Siapkan peralatan dan bahan.
Gunakan kapas, bor, dan peralatan lain yang steril.
2. Isolasi gigi.
Selain menggunakan rubber dam, isolasi gigi juga dapat menggunakan kapas dan
saliva ejector, jaga posisinya selama perawatan.
3. Preparasi kavitas.
Tembus permukaan oklusal pada tempat karies sampai kedalaman 1,5 mm (yaitu
kira-kira 0,5 mm ke dalam dentin. Pertahankan bor pada kedalaman kavitas dan
dengan hentakan intermitten gerakan bor melalui fisur pada permukaan oklusal.
4. Ekskavasi karies yang dalam
Dengan perlahan-lahan buang karies dengan ekskavator, mula-mula dengan
menghilangkan karies tepi kemudian berlanjut ke arah pulpa. Jika pulpa vital dan
bagian yang terbuka tidak lebih besar diameternya dari ujung jarum maka dapat
dilakukan pulp capping.
5. Berikan kalsium hidroksida.
Keringkan kavitas dengan cotton pellet lalu tutup bagian kavitas yang dalam
termasuk pulpa yang terbuka dengan pasta kalsium hidroksida.


Pulpektomi
Pulpektomi adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa. Pulpektomi merupakan
perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat
irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun
perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar daripada pulp capping atau
pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya dapat diprediksi dengan baik.
Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan
diperoleh hasil perawatan yang baik pula.
Indikasi perawatan pulpektomi pada anak adalah gigi yang dapat direstorasi, anak dengan
keadaan trauma pada gigi insisif sulung dengan kondisi patologis pada anak usia 4-4,5
tahun, tidak ada gambaran patologis dengan resorpsi akar tidak lebih dari dua pertiga atau
tiga perempat.

1. Pulpektomi Vital
Langkah-langkah perawatan pulpektomi vital satu kali kunjungan :

a. Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar
gigi yang akan dirawat. Pemberian anestesi lokal untuk menghilangkan rasa sakit
pada saat perawatan.
b. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi
bakteri dan saliva.
c. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang
dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur
steril.
d. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau
bor bundar kecepatan rendah.
e. Perdarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa dikendalikan
dengan menekankan cotton pellet steril yang telah dibasahi larutan saline atau
akuades selama 3 sampai dengan 5 menit.
f. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas
kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di
saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom
file.
g. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan
darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah
dibasahi dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar
selama 5 menit.
h. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan
menggunakan jarum lentulo.
i. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian.
j. Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida
eugenol atau seng fosfat.
k. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.


2. Pulpektomi Non Vital
Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital adalah pulpektomi
mortal (pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua jaringan
pulpa nekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non vital, kemudian
mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar gigi sulung pada beberapa
kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur pulpektomi, namun perawatan ini
merupakan salah satu cara yang baik untuk mempertahankan gigi sulung dalam lengkung
rahang.
Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital :

Kunjungan pertama :
1. Lakukan foto rontgen.
2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
3. Buang semua jaringan karies dengan ekskavator, selesaikan preparasi dan
desinfeksi kavitas.
4. Buka atap kamar pulpa selebar mungkin.
5. Jaringan pulpa dibuang dengan ekskavator sampai muara saluran akar terlihat.
6. Irigasi kamar pulpa dengan air hangat untuk melarutkan dan membersihkan
debris.
7. Letakkan cotton pellet yang dibasahi trikresol formalin pada kamar pulpa.
8. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
9. Instruksikan pasien untuk kembali 2 hari kemudian.
Kunjungan kedua :
1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
2. Buang tambalan sementara.
3. Jaringan pulpa dari saluran akar di ekstirpasi, lakukan reaming, filling, dan
irigasi.
4. Berikan Beechwood creosote.
2. Celupkan cotton pellet dalam beechwood creosote, buang kelebihannya, lalu
letakkan dalam kamar pulpa.
5. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
6. Instruksikan pasien untuk kembali 3 sampai dengan 4 hari kemudian.
Kunjungan ketiga :
1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
2. Buang tambalan sementara.
3. Keringkan kamar pulpa, dengan cotton pellet yang berfungsi sebagai stopper
masukkan pasta sambil ditekan dari saluran akar sampai apeks.
4. Letakkan semen zinc fosfat.
5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.


Kegawatdaruratan dalam endodontik

Kegawatdaruratan dalam endodontik adalah kasus yang dirasakan penderita berupa sakit (nyeri)
dengan berbagai frekuensi nyeri atau pembengkakan sebelum, selama, atau sesudah perawatan
saluran dengan penyebab berupa iritan yang menimbulkan inflamasi yang hebat di pulpa atau
jaringan periradikuler (Cohen et al., 1987 cit. Walton and Torabinejad, 1997; Lemon, 1990 cit.
Walton and Torabinejad, 1997).Sekitar 90% pasien yang datang ke tempat praktik dokter gigi
dan meminta perawatan untuk menghilangkan rasa nyeri adalah pasien yang memiliki penyakit
pulpa dan atau penyakit periapikal. Perawatan kegawatdaruratan yang dilakukan dokter gigi
bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan mengkontrol inflamasi atau infeksi yang terjadi
(Stock dkk., 2004).
Perawatan lanjutan dapat dilakukan setelah kondisi pasien memungkinkan (Weine, 2004).
Sebelum perawatan endodontik rutin maupun gawat darurat dilakukan, harus dilakukan
diagnosis yang tepat untuk mengetahui penyebab sakit pasien. Sumber penyakit, pulpa maupun
periapikal, harus dapat dibedakan karena keduanya memiliki teknik perawatan yang berbeda.
Pada umumnya, kondisi yang memerlukan perawatan kegawatdaruratan endodontik dibagi
menjadi empat kategori dan masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda untuk
menghilangkan rasa nyerinya. Keempat kategori tersebut adalah pulpitis akut, pulpitis akut
dengan periodontitis apikal, pulpa nekrosis, dan abses periapikal akut. Beberapa kondisi akut
dapat terjadi dari inflamasi kronis dan lesi awal inflamasi. Menentukan patogenitas yang tepat
tidak begitu penting dalam perawatan kegawat daruratan karena yang terpenting adalah
menghilangkan rasa sakit pasien (Weine, 2004).
Pemeriksaan klinis yang diperlukan sebelum melakukan perawatan kegawatdaruratan endodontik
adalah menentukan vitalitas pulpa, menganalisis reaksi gigi yang bersangkutan terhadap perkusi,
dan evaluasi radiograf. Tes vitalitas pulpa dapat dilakukan dengan menggunakan tes termal dan
tes pulpa elektrik. Tes perkusi merupakan tes yang penting karena berguna untuk mengetahui
perluasan inflamasi ke jaringan periapikal. Radiograf diperlukan untuk menentukan perawatan
yang tepat dalam perawatan endodontik jika waktu yang tersedia untuk menangani rasa nyeri
pasien sangat sedikit (Weine, 2004).

KONSEP MAPPING








Gigi Fraktur
Klasifikasi fraktur menurut
elis
Non Vital
Vital
Restorasi
Kegawat daruratan
Endodontik
Pembuatan Mahkota
PSA
Tidak dirawat
Pemeriksaan klinis
Daftar Pustaka
1. Riyanti E. Penatalaksanaan trauma gigi pada anak. 12 Juni 2010.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/06/penatalaksanaan_trauma_gigi_pad
a_anak.pdf. 17 November 2011.

2. Grossman LI. Ilmu endodontik dalam praktek. Alih bahasa, Rafiah abiyono. Editor,
Sutatmi Suryo. Ed 11. Jakarta: EGC, 1995: 303-4.

3. Braham RL, Morris ME. Textbook of pediatric Dentistry. USA: williams and Wilkias,
1980: 264.

4. Paristuta L. Penggunaan mouthguard pada pasien anak dengan riwayat trauma dental. 1
Agustus 2011. www.gigigeligi.com/index.php?option=com. 17 November 2011.

5. Rao A. Principles and practice of pedodontics. New Delhi: Jaypee, 2008: 304-5.

6. McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and adolescent. St. Louis,
Missouri: Mosby, 2003: 458-9.

7. Walton, Richad E. Prinsip dan praktik ilmu endodonsi. Alih bahasa, Narlan Sumawinata,
Winiati Sidharta, Bambang Nursasongko. Editor, Narlan Sumawinata. Ed 2. Jakarta:
EGC, 1997: 555-6.

8. Pinkhom JR, Casamassimo DS, McTigue DJ, et al. Pediatric Dentistry. St. Louis,
Missouri: elsevier Saunders, 1988: 237-9.

9. Welbury RR. Pediatrics dentistry. New York: Oxford University Press, 2003: 244-5.

10. Mathewson RJ, Primosch RE. Fundamentals of pediatric dentistry. USA: quintessenic
Books, 1995: 286.
11. Walton RE dan Keiser K. 2009. Endodontics Emergencies and Therapetics. In:
Torabinejad M dan Walton RE (ed.): Endodontics: Principles and Practice. Elsevier
Saunders: St. Louis. P. 156-157.
12. Weine, F. S. 2004. Endodontic Therapy. Elsevier Mosby Inc.: St. Louis.