Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

MODUL H03
STABILITAS BENDA TERAPUNG






Kelompok 10
Dwi Rian S. (1006659666)
Hendra Radiansyah (1006659703)
Rahman Raeyani K. (1006659760)
Derrie Nabilaputra (1006674105)
Ferry Wijaya (1006674156)

Tanggal Praktikum : 22 Maret 2012
Assisten Praktikum : Herlambang Cipta A.
Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf Assisten :

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TENIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2012

I. Tujuan Percobaan
- Menentukan tinggi titik metacentrum

II. Peralatan
1. Meja Hidrolika
2. Perangkat alat percobaan stabilitas benda apung


Keterangan Gambar :
a. Kotak Ponton
b. Tiang Vertical
c. Skala Derajat
d. Pengatur Beban Geser
e. Skala Jarak
f. Pengatur Beban Transversal
g. Unting-unting

- Spesifikasi :
o Dimensi Poton : Panjang : 350 mm
Lebar : 200 mm
Tinggi : 75 mm
o g = 9,81 m/det
2

o air = 1,00 gr/cm
3

III. Dasar Teori




- Tinggi metacentrum adalah titik perpotongan antara garis vertikal yang
melalui titik berat benda dalam keadaan stabil (G) dengan gari vertikal yang
melalui pusat apung setelah benda digoyangkan (B).
- Tinggi metacentrum adalah jarak antara titik G dan titik M.
- Titik apung (B) adalah titik tangkap dari gaya apung atau titik tangkap dari
resultan tekanan apung.
- Jarak bagian dasar ponton ke titik apung B adalah setengah jarak bagian dasar
poton ke permukaan air (setengah jarak bagian poton yang terendam atau
tenggelam).
- Biasanya penyebab posisi B pada gambar di atas adalah bergeraknya suatu
benda tertentu (w) sejauh x dari titik G, sehingga untuk mengembalikan ke
posisi semula harus memenuhi persamaan berikut:

, maka

, <<<

- Secara teoritis GM dapat diperoleh dari :

Dengan,


Dimana :
W = berat ponton
w = berat pengatur beban transversal
= sudut putar ponton
GM = tinggi titik metacentrum
BM = jarak antara titik apung dan titik metacentrum
BG = jarak antara titik apung dan titik berat ponton
I
x
= momen inersia arah c dari luasan dasar ponton
V = volume zat cair yang dipindahkan
y = jarak antara titik berat ponton dan dasar ponton
d = kedalaman bagian ponton yang terbenam air
IV. Cara Kerja
1. Menyiapkan meja hidrolika.
2. Menyiapkan ponton dan perlengkapannya.
3. Mengatur pengatur beban tranversal sehingga tepat ditengah ponton.
4. Mengatur beban geser pada tiang vertikal sedemikian rupa sehingga titik berat
ponton secara keseluruhan terletak di atas ponton.
Caranya :
a. Meletakkan pengatur beban geser sehingga 200 mm dari dasar ponton.
b. Mencari titik berat dengan cara menggantungkan ponton pada seutas benang
yang diletakkan / dikaitkan pada tiang vertikal diantara pengatur beban
transversal dan pengatur beban geser (unting-unting harus dipegang agar
tidak mempengaruhi penentuan titik berat ponton).
c. Apabila telah terjadi keseimbangan yaitu pada saat posisi benang tegak lurus
dengan tiang vertikal, maka tandailah titik tersebut (G).
d. Apabila titik G masih dibawah ponton, beban dinaikkan lagi, mengulangi
langkah b dan c, sampai letak titik G berada diatas ponton.
e. Mengukur tinggi titik tersebut dari dasar ponton (y).
5. Mengisi tangki pengatur volume pada meja hidrolika dan mengapungkan ponton
di atasnya.
6. Mensetting unting-unting, dimana dalam keadaan stabil sudut bacaannya nol
derajat.
7. Menghitung kedalaman bagian ponton yang terbenam (d), untuk kemudian
tentukan titik pusat gaya apung dari dasar ponton dalam keadaan stabil (B).
8. Menggerakkan beban transversal ke arah semula tiap 15 mm, sampai kembali ke
titik awal (0).
9. Mengulangi langkah ke-8 dan 9, untuk penggeseran beban trnsversal ke kiri.
10. Mengulangi langkah ke 4, dimulai dari poin b, sampai dengan langkah 10 dengan
menaikkan beban geser tiap 50 mm sampai setinggi 30 cm.

















V. Pengamatan dan pengolahan data

Data Pengamatan
Percobaan ke distance of moveable mass
(mm)
angle of heel (right) angle of heel (left)
1
beban geser = 20 cm
titik berat = 8,6 cm
tinggi tercelup = 1,8 cm
15 2,5 2
30 4,5 4
45 6,5 6,5
60 9 8,5
2
beban geser = 25 cm
titik berat = 9,2 cm
tinggi tercelup = 1,8 cm
15 2,75 2,5
30 5 5
45 7 7
60 9,5 9,5
3
beban geser = 30 cm
titik berat = 10 cm
tinggi tercelup = 1,8 cm
15 3 2,5
30 6 5,5
45 8,5 8
60 11 11



















1. Percobaan pertama
Beban geser = 20 cm
y = 8,6 cm
d = 1,8 cm
no distance of moveable mass
(mm)
angle of
heel (right)
angle of
heel (left)
average
angle
1 15 2,5 2 2,25
2 30 4,5 4 4,25
3 45 6,5 6,5 6,5
4 60 9 8,5 8,75

Distance of moveable mass (x) Sin (y)
15 0,03926
30 0,074108
45 0,113203
60 0,152123



)

| |



y = 0.0025x
R = 0.9993
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0 20 40 60 80
s
i
n


jarak beban transversal (mm)
Grafik hubungan antara sin dan
jarak beban transversal
Series1
Linear (Series1)
2. Percobaan kedua
Beban geser = 25 cm
y = 9,2 cm
d = 1,8 cm
no distance of moveable mass
(mm)
angle of
heel (right)
angle of
heel (left)
average
angle
1 15
2,75 2,5 2,625
2 30
5 5 5
3 45
7 7 7
4 60
9,5 9,5 9,5

Distance of moveable mass (x) Sin (y)
15
0,045799
30
0,087156
45
0,121869
60
0,165048



)

| |



y = 0.0028x
R = 0.9944
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 20 40 60 80
s
i
n


jarak beban transversal (mm)
Grafik hubungan antara sin dan
jarak beban transversal
Series1
Linear (Series1)
3. Percobaan ketiga
Beban geser = 30 cm
y = 10 cm
d = 1,8 cm
no distance of moveable mass
(mm)
angle of
heel (right)
angle of
heel (left)
average
angle
1 15
3 2,5 2,75
2 30
6 5,5 5,75
3 45
8,5 8 8,25
4 60
11 11 11

Distance of moveable mass (x) Sin (y)
15
0,047978
30
0,100188
45
0,143493
60
0,190809



)

| |



y = 0.0032x
R = 0.9983
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0 20 40 60 80
s
i
n


jarak beban transversal (mm)
Grafik hubungan antara sin dan
jarak beban transversal
Series1
Linear (Series1)
VI. Analisa Praktikum
a. Analisa Percobaan
Pada percobaan stabilitas benda terapung bertujuan agar praktikan dapat
menentukan tingggi titik metacentrum. Langkah awal sebelum melaksanakan
praktikum yaitu dengan menyiapkan meja hidrolik serta ponton dan perlengkapannya.
Kemudian praktikan mengatur pengatur beban transversal sehingga tepat ditengah
ponton agar ponton dalam keadaan setimbang.
Selanjutnya praktikan mengatur beban geser pada Mengatur beban geser pada
tiang vertikal sedemikian rupa sehingga titik berat ponton secara keseluruhan terletak
di atas ponton. Dengan meletakkan pengatur beban geser sehingga 20 cm dari dasar
ponton. Lalu mencari titik berat dengan cara menggantungkan ponton pada seutas
benang yang diletakkan / dikaitkan pada tiang vertikal diantara pengatur beban
transversal dan pengatur beban geser (unting-unting harus dipegang agar tidak
mempengaruhi penentuan titik berat ponton). Apabila telah terjadi keseimbangan
yaitu pada saat posisi benang tegak lurus dengan tiang vertikal, maka tandailah titik
tersebut (G). Akan tetapi, jika titik G masih dibawah ponton, beban dinaikkan lagi,
mengulangi seperti langkah diatas, sampai letak titik G berada diatas ponton.
Selanjutnya mengukur tinggi titik tersebut dari dasar ponton (y).

Selanjutnya mengisi tangki pengatur volume pada meja hidrolika dan
mengapungkan ponton di atasnya. Kemudian mengatur unting-unting, dimana dalam
keadaan stabil sudut bacaannya nol derajat dan menghitung kedalaman bagian ponton
yang terbenam (d), untuk kemudian ditentukan titik pusat gaya apung dari dasar
ponton dalam keadaan stabil (B). Setelah itu, menggerakkan beban transversal ke arah
semula tiap 15 mm, sampai kembali ke titik awal (0) serta melakukannya juga untuk
beban transversal ke kiri agar didapatkan variasi data dalam percobaan. Setelah
langkah di atas, praktikan mengulangi percobaan di atas dengan menggeser beban
geser sejauh 5 cm sampai sebesar 30 cm.





b. Analisa Hasil dan Grafik
Dari data-data di atas, dilakukan pengolahan data dengan menggunakan least
square yang dilakukan dengan menggunakan intercept to 0,0 dimana sumbu y
merupakan sin dari sudut yang didapatkan pada skala derajat yang dicari nilai rata-
ratanya dari sudut yang terbentuk di kanan dan kiri. Sedangkan sumbu x merupakan
jarak beban transversal. Setelah melakukan least square didapatkan nilai gradien garis
(b) yang akan digunakan untuk mengjitung nilai GM praktikum :



Dimana :
GM : tinggi titik metacentrum
w : berat pengatur beban transversal (322 gr)
W : berat ponton (1457 gr)

Sedangkan untuk nilai GM secara teoritis didapatkan dengan menggunakan
rumus :

)
Dimana :
l : lebar ponton
d : kedalaman ponton yang terbenam air
y : jarak antara titik berat ponton dan dasar ponton

Selanjutnya dicari nilai kesalahan relatif dengan rumus :


| |



Nilai GM yang didapatkan pada praktikum adalah :
Percobaan ke Nilai GM praktikum Nilai GM teoritis Kesalahan Relatif
1 11,05 cm 10,82 cm 2,14%
2 11,05 cm 10,22 cm 8,14%
3 7,37 cm 9,42 cm 21,785%

c. Analisa Kesalahan
Jika dilihat dari hasil yang didapatkan dapat dilihat bahwa tinggi titik
metacentrum pada percobaan dan teoritis terdapat perbedaan . Karena terdapat
beberapa faktor kesalahan, antara lain :
1. Kesalahan paralaks
Kesalahan ini terjadi karena pembacaan skala oleh praktikan tidak tepat sehingga
terjadinya kesalahan pengamatan. Hal ini dapat disebabkan karena kesulitan
menentukan skala pada penggaris atau kemampuan daya akomodasi mata praktikan.
2. Kesalahan praktikan
Kesalahan ini dapat terjadi karena praktikan kurang memperhatikan ponton saat
diapungkan ke air dimana kondisi ponton masih mungkin menyentuh permukaan meja
hidrolik atau masih terjadi guncangan mekanis oleh tangan praktikan.

VII. Kesimpulan
1. Dari percobaan ini tinggi titik metacentrum dapat dicari
2. Semakin tinggi posisi titik G maka nilai GM yang didapatkan akan semakin
kecil dan begitu juga sebaliknya. Selain itu, sudut yang didapatkan akan
semakin besar sedangkan titik apungnya tetap.
3. Nilai GM yang didapatkan dari percobaan ini sebagai berikut :

Percobaan ke Nilai GM praktikum Nilai GM teoritis Kesalahan Relatif
1 11,05 cm 10,82 cm 2,14%
2 11,05 cm 10,22 cm 8,14%
3 7,37 cm 9,42 cm 21,785%

4. Jika nilai titik berat (G) diatas titik metacentrum (M) atau nilai GM negatif
maka ponton berada pada posisi yang tidak stabil karena momen guling dan
momen pengembalinya tidak berlawanan dan ponton tidak akan stabil.

VIII. Referensi
Buku Pedoman Praktikum Mekanika Fluida FT UI

IX. Lampiran



Gambar 1. Pelakasanaan praktikum