Anda di halaman 1dari 14

Aplikasi Injeksi Polimer Untuk Enhanced Oil

Recovery (EOR)

Aplikasi EOR untuk meninkatkan produksi migas
Secara umum proses perolehan minyak (oil recovery) di
reservoir terdiri dari teknik produksi primer (primary oil
recovery), teknik produksi sekunder (secondary
oil recovery), dan teknik perolehan tersier (tertiary oil
recovery.
Pada Teknik produksi primer (primary oil recovery),
proses pengeboran pada sumur produksi dilakukan secara
natural akibat adanya gaya dorong dari reservoir.
Minyak yang terdapat di reservoir mengalir sendiri secara
natural melalui jalur pori menuju sumur produksi akibat
adanya perbedaan tekanan yang tinggi, yang berasal dari
gaya pengembangan batuan dan gas alam, gaya gravitasi,
gaya apung dari air dan gaya tolak menolak akibat
pemadatan batuan reservoir. Efisiensi pada primary oil
recovery tergantung pada tekanan natural di dalam
reservoir minyak.
Teknik produksi sekunder (secondary oil
recovery) dilakukan ketika produksi minyak menurun
akibat terjadinya penurunan tekanan reservoir.1 Teknik
secondary oil recovery dapat dilakukan dengan
menginjeksikan fluida seperti air dan/atau gas ke
dalam reservoir untuk meningkatkan tekanan dan volume
efisiensi penyapuan minyak di dalam reservoir. Berdasarkan
jalur injeksi gas menuju reservoir, metode injeksi gas dapat
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pemulihan tekanan,
pertahanan tekanan, dan gas pendorong.
Dalam metode pemulihan tekanan, gas diinjeksikan ke
formasi (hidrokarbon yang terbentuk di sekitar reservoir)
melalui satu sumur, sedangkan sumur produksi lainnya
ditutup sampai tekanan pulih di sepanjang reservoir.
Dalam metode pertahanan tekanan, gas yang berasal dari
sumur produksi ditekan dan diinjeksikan ke sumur
tertentu sebelum tekanan reservoir seluruhnya habis.
Dalam metode ini, beberapa sumur dioperasikan sebagai
sumur injeksi, dimana yang lain dioperasikan sebagai
sumur produksi. Selain gas, air juga biasa digunakan dalam
metode pertahanan tekanan, dimana air diinjeksikan ke
sumur produksi melalui sumur injeksi dan air
akan mendorong minyak melalui batuan reservoir menuju
sumur produksi, metode ini biasa disebut dengan water
flooding. Dalam metode pendorong gas, gas diinjeksi ke
reservoir di bawah tekanan dan aliran gas kontinu
dipertahankan dari sumur injeksi ke sumur produksi. Aliran
gas mendorong minyak dalam bentuk film atau gelembung
gas menuju sumur produksi.
Teknik produksi tersier (tertiary oil
recovery) dilakukan karena teknik primary oil recovery
dan secondary oil recovery belum dapat memproduksi
minyak dari reservoir secara optimal (kurang dari 40%)2
dan masih banyak minyak yang tertinggal di reservoir.
Teknik produksi tersier atau yang dikenal dengan istilah
enhanced oil recovery (EOR) dilakukan dengan
menginjeksikan fluida khusus, terdiri atas teknik injeksi
termal, proses pelarutan gas dalam minyak (miscible
gases), dan teknik kimiawi
Pada teknik injeksi termal biasanya fluida bertemperatur
tinggi, seperti air panas (water injection) atau uap air
(steam injection) diinjeksikan ke dalam formasi
untuk menurunkan viskositas minyak sehingga mudah
mengalir dan diharapkan tekanan reservoir naik dan minyak
akan terdorong ke sumur produksi. Teknik injeksi
termal dapat meningkatkan efisiensi penyapuan minyak di
reservoir. Pada proses pelarutan biasanya digunakan fluida
pendorong (gas hidrokarbon, CO2, nitrogen) yang
akan bercampur dengan minyak yang diproduksi. Pada
teknik kimiawi digunakan bahan kimia (polimer atau
surfaktan) yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk
mengubah sifat dari minyak agar mudah mengalir ke sumur
produksi. Teknik kimiawi (polimer atau surfaktan) dapat
meningkatkan efisiensi penyapuan dan efisiensi
pendesakan minyak di reservoir. Surfaktan dapat
menurunkan tegangan antarmuka antara minyak dan air,
sehingga mampu membawa minyak yang berada pada pori
batuan ke sumur produksi, sedangkan polimer dapat
menaikkan viskositas fluida sehingga dapat mendorong
minyak dengan lebih optimal.
1. Apa itu Injeksi Polimer
Injeksi polimer merupakan salah satu teknik kimiawi yang
digunakan dalam proses perolehan minyak atau enhanced
oil recovery (EOR). Injeksi polimer banyak digunakan dalam
teknik EOR karena teknik aplikasinya relatif sederhana dan
recovery yang didapat relatif besar dibandingkan dengan
injeksi air secara konvensional. Dalam proses produksi
dengan injeksi air biasanya sering terjadi fenomena air
mengalir terlebih dahulu daripada minyak secara tidak
merata dan biasanya terjadi pada reservoir yang heterogen.
Polimer dapat meningkatkan viskositas fluida (air) dan
berperan dalam mendorong dan mendesak minyak supaya
lebih optimal. Injeksi polimer dapat menurunkan
mobilitas fluida dan meningkatkan viskositasnya. Polimer
yang terlarut dalam air digunakan sebagai viscosifying
agent yang dapat mengontrol mobilitas fluida injeksi (water
base) untuk meningkatkan efisiensi penyapuan. Polimer
mengurangi efek negatif karena adanya variasi
permeabilitas dan rekahan dalam reservoir heterogen.
Injeksi polimer terdiri atas beberapa tahap, yaitu preflush
(pengondisian reservoir), additional oil recovery (oil Bank),
injeksi larutan polimer untuk mengontrol mobilitas fluida,
injeksi air bebas mineral (fresh water buffer) untuk
melindungi polimer, dan injeksi fluida pendorong (driving
fluid) berupa air. Gambaran sistem Injeksi Polimer dapat di
lihat di bawah ini

Gambaran Sistem Injeksi Polimer
Dalam produksi minyak dengan menggunakan teknik EOR,
polimer berperan sebagai berikut di antaranya :
1. Sebagai agen untuk meningkatkan performa air yang
diinjeksikan ke reservoir dengan cara menghalangi daerah
yang memiliki konduktivitas tinggi.
2. Sebagai agen pengikat silang (cross-linked) di daerah
konduktivitas tinggi di dalam sumur di reservoir. Dalam
proses ini polimer diinjeksikan dengan suatu kation
logam anorganik yang akan dicross-link sehingga molekul
polimer akan mengeliling permukaan logam tersebut.
3. Sebagai agen untuk memurunkan mobilitas air atau rasio
mobilitas air-minyak (water-oil).
2. Pemanfaat Injeksi Polimer untuk EOR
Karakteristik polimer yang dapat diaplikasikan dalam teknik
EOR di antaranya harus larut dalam air, memiliki viskositas
yang tinggi pada konsentrasi yang rendah,
memiliki ketahanan termal yang baik (tidak terdegradasi
pada suhu tinggi), dan juga memiliki kestabilan mekanik,
dan salinitas yang baik.1 Ada dua jenis polimer yang
dapat digunakan dalam aplikasi EOR yaitu polimer sintetis
seperti hydrolized polyacrylamide (HPAM) dan biopolimer
seperti polisakarida dan turunannya misalnya xanthan
gum, kitosan, selulosa, sodium carboxymethyl cellulose
(CMC), dan hydroxyl ethyl cellulose (HEC).

Pemanfaatan Polimer untuk EOR
Alasan lebih banyak dipakainya polimeruntuk EOR adalah:
a. identik dengan waterflooding
b. teknik aplikasinya relative sederhana
c. biaya yang diperlukan relative kecil
d. recovery yang didapat relative besar.
Polimer yang baik harus memiliki karakteristik berikut,
yaitu :
1. Tidak memiliki ikatan -O- di rantai utama (backbone)
untuk meningkatkan stabilitas termal
2. Memiliki gugus ionik hidrofilik yang bermuatan negatif
untuk mengurangi absorpsi polimer pada permukaan
batuan
3. Memiliki viskositas yang tinggi
4. Memiliki gugus hidrofilik nonionik untuk meningkatkan
ketahanan terhadap zat kimia.
Polimer turunan selulosa yang sering digunakan untuk
aplikasi EOR adalah carboxymethyl cellulose (CMC) dan
hydroxyl ethyl cellulose (HEC) dan xanthan gum. HEC dan
CMC memiliki ketahanan yang baik terhadap shear rate dan
temperatur yang tinggi. Xanthan gum memiliki
ketahanan termal yang baik karena strukturnya yang
komplek akibatnya penurunan viskositas xanthan gum
sangat kecil seiring dengan meningkatnya temperatur.
Xanthan gum juga memiliki ketahanan terhadap salinitas
yang baik sehingga xanthan lebih sering dipakai dalam
aplikasi EOR dibandingkan polimer lain meskipun harganya
mahal. Jenis polimer lain yang bisa digunakan untuk
aplikasi EOR adalah poliakrilat yang memiliki ketahanan
terhadap shear rate dan memiliki kestabilan termal yang
lebih baik dibandingkan polimer lainnya, namun ketahanan
terhadap salinitas rendah akibat adanya gugus karboksil.
Tahapan Polymer flooding:
a. Pre flush (pengkondisian reservoir)
b. Oil bank (Recovery target)
c. Polymer solution (mobility control)
d. Fresh Water buffer (Polymer protection)
e. Driving Fluid (water)
Faktor yang mempengaruhi kualitas polymer:
a. Salinity
Tingkat keasaman suatu reservoir. Hal ini bisa merusak
ikatan kimia polymer
b. Hardness
Jumlah kation dalam campuran polymer dan reaksi dengan
fluida di reservoir


DASAR-DASAR ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)
Lapangan hidrokarbon setelah sekian lama diproduksikan akan mengalami penurunan
produksi karena force/tenaga untuk mengeluarkan fluida ke dalam sumur sudah semakin
berkurang. Berkurangnya tenaga pendorong bisa terlihat dengan dipasangnya pompa atau
gas lift pada sumur sembur alam (natural flow) yang tidak dapat mengalir dengan sendirinya.
Begitupun sumur pompa atau gas lift yang lambat laun akan menjadi kering. Untuk menambah
pengurasan lapangan dan drive force, dikembangkan teknik-teknik yang kemudian disebut
dengan Enhanced Oil Recovery (EOR) atau Improved Oil Recovery (IOR). Selanjutnya akan
dibahas jenis-jenis teknik EOR.

I. INJEKSI AIR (WATER FLOOD)
Injeksi air merupakan salah satu metoda EOR yang paling banyak dilakukan sampai saat ini.
Biasanya injeksi air digolongkan ke dalam injeksi tak tercampur.
Alasan-alasan sering digunakannya injeksi air ialah:
- Mobilitas yang cukup rendah
- Air cukup mudah diperoleh
- Pengadaan air cukup murah
- Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak mengurangi
besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan; jika dibandingkan dengan injeksi
gas, dari segi ini berat air sangat menolong.
- Air biasanya mudah tersebar ke seantero reservoir, sehingga menghasilkan efisiensi
penyapuan yang cukup tinggi.
- Effisiensi pendesakan air juga cukup baik. sehingga harga Sor sesudah injeksi air = 30%
cukup mudah didapat.


Gambar Pattren Water Flooding

Pemakaian injeksi air sebagai meloda untuk menaikan peralehan minyak dimulai pada tahun
1880 setelah John F. Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari lapisan yang lebih dangkal
dapat membantu produksi minyak. Secara tidak sengaja, hal telah terjadi sebelum di
Pennsylvania opada tahun 1865. Tujuan Injeksi air
adalah mengimbangi penurunan tekanan reservoir dengan menginjeksikan air ke dalam
reservoir.

II. INJEKSI AIR DITAMBAH ZAT-ZAT KIMIA TERTENTU
Setelah injeksi air telah maksimum diaplikasikan, terdapat beberapa cara untuk menambah
efisiensi injeksi dengan cara menambahkan zat-zat kimia tertentu kedalam air injeksi yang
akan diinjeksikan.
1. Surfactant
Surfactant berfungsi untuk menurunkan tegangan pcrmukaan, tekanan kapiler campuran
polimer, alkohol, sulfonate), menaikkan efesiensi pendesakan dalam skala pori, mikropis.
2. Polymer
Polymer berfungsi untuk memperbaiki perbandingan mobilitas minyak-air. Untuk menaikkan
efesiensi pengurasan secara luas, makrokopis. Sering dipakai berselang-seling dengan
surfactant. Injeksi Polymer efektif untuk reservoir dengan viskositas minyak tinggi (sampai 200
cp).
Jenis-jenis polimer yang paling sering dipakai:
- polycrylamide
- polysaccharide

Gambar Sumur Injeksi Surfactant

III. INJEKSI TERMAL
Injeksi termal dilakukan dengan menginjeksikan fluida panas yang temperatur jauh lebih besar
jika dibandingkan temperatur fluida reservoir. Injeksi Termal berfungsi menurunkan viskositas
minyak atau membuat minyak berubah ke fasa uap, juga mendorong minyak ke sumur-sumur
produksi.
Jenis-jenis Injeksi termal antara lain:
1. Stimulasi uap (steam soak, huff and puff)
Yang diinjeksikan biasanya campuran uap dan air panas dengan komposisi yang berbcda-
beda.

Gambar Thermal Oil Recovery

2. Pembakaran di tempat (In-situ Combustion)
Menginjeksikan udara dan membakar sebagaian minyak ini akan menurunkan viskositas,
mengubah sebagian minyak menjadi uap dan mendorong dengan pendesakan gabungan uap,
air panas dan gas.
3. Injeksi air panas.

IV. INJEKSI GAS CO2
CO2 mudah larut dalam minyak bumi namun sulit larut pada air. Karena itu beberapa hal yang
penting dan berguna dalam proses EOR ketika minyak bumi terjenuhi oleh CO2 adalah :
1. Menurunkan viskositas minyak dan menaikkan viskositas air.
2. Menaikkan volume minyak (swelling) dan menurunkan densitas minyak
3. Memberikan efek pengasaman pada reservoir karbonat.
4. Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi, penguapan, dan
pemindahan kromatografi, sehingga dapat bertindak sebagai solution gas drive.
Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak dan membentuk
fluida baru yang lebih mudah didesak daripada minyak pada kondisi awal di reservoir.
Ada 4 jenis mekanisme pendesakan injeksi CO2 :
1. Injeksi CO2 secara kontinyu selama proses EOR.
2. Injeksi slug CO2, diikuti air.
3. Injeksi slug CO2 dan air secara bergantian.
4. Injeksi CO2 dan air secara simultan.


Gambar Injeksi CO2

Injeksi CO2 dan air secara simultan terbukti merupakan mekanisme pendesakan yang terbaik
di antara keempat metode tersebut (oil recovery-nya sekitar 50%). Disusul kemudian injeksi
slug CO2 dan air secara bergantian. Injeksi langsung CO2 dan injeksi slug CO2 diikuti sama
buruknya dalam kemampuan mengambil minyak sekitar 25%). Agar tercapai pencampuran
antara CO2 dengan minyak, maka tekanan di reservoir
harus melebihi MMP (Minimum Miscibility Pressure), harga MMP dapat diperoleh dari hasil
percobaan di laboratorium atau korelasi. Sumber CO2 alami adalah yang terbaik, baik dari
sumur yang memproduksi gas CO2 yang relatif murni atau dari pabrik yang mengolah gas
hidrokarbon yang mengandung banyak CO2 sebagai kontaminan. Sumber yang lain adalah
kumpulan gas (stack gas) dari pembakaran batubara (coal-fired). Alternatif lain adalah gas
yang dilepaskan dari pabrik amoniak. Desain yang dilakukan dalam injeksi CO2 ke reservoir
minyak adalah menentukan banyaknya air yang digunakan untuk menaikkan tekanan reservoir
sehingga proses pencampuran CO2 dengan minyak dapat berlangsung, menentukan
kebutuhan CO2 yang akan diinjeksikan ke reservoir yang didorong oleh gas N2, menentukan
tekanan injeksi (dipermukaan) CO2 ke reservoir yang tidak melebihi tekanan formasi.

V. PEMILIHAN METODA EOR
Dari beberapa metoda EOR yang ada, harus ditentukan metoda mana yang paling tepat yang
sesuai dengan karakteristik reservoir. Besaran-bcsaran berikut yang harus diperhatikan dalam
pemilihan metoda EOR:
- Kebasahan (Wettability) batuan
- Sifat-sifat batuan reservoir (petrofisik), seperti permeabilitas, porositas
- Jenis batuan (satu pasir, carbonatc dan lain-lain).
- Jenis minyak (viskositas).
- Tekanan temperatur reservoir, surfactant & polimer: T < 250F
- Kegaraman air formasi.
- Saturasi minyak yang tersisa yang dapat bergerak
- Cadangan
- Kemiringan reservoir
- Ekonomi