Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014

AKHMAD JAILANI 2-1


H1C112055

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Batuan
Dibagian dalam perut bumi terdapat cairan batuan yang sangat panas cairan
itu disebut magma. Magma keluar dari gunungapi dan kemudian mengalir akan
disebut lava. Lava yang bercampur dengan benda benda lain disebut lahar. Lahar
yang keluar dari gunung berapi akan membentuk batuan. (Ahlizar, 2014).
2.1.1. Definisi Batuan
Batuan adalah sekumpulan mineral-mineral yang menjadi satu.Bisa terdiri
dari satu atau lebihmineral.Lapisan lithosphere di bumi terdiri dari batuan.
Sedangkan mineral adalah substansi yang terbentuk karena kristalisasi dari proses
geologi yang memiliki komposisi fisik dan kimia.
Adapun pengertian batuan menurut beberapa ahli yaitu:
a. Menurut Para Geologiwan
Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang bersatu
membentuk kulit bumi dan merupakan semua material yang membentuk kulit
bumi.
b. Menurut Para Ahli Teknik Sipil Khususnya Ahli Geoteknik
Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan padat dari kulit bumi.
Batuan adalah suatu bahan yang keras dan koheren atau yang telah
terkonsolidasi dan tidak dapat digali dengan cara biasa, misalnya dengan
cangkul dan belincong.
c. Menurut Talobre
Menurut Talobre, orang yang pertama kali memperkenalkan Mekanika
Batuan di Perancis pada tahun 1948, batuan adalah material yang membentuk
kulit bumi termasuk fluida yang berada didalamnya
d. Menurut ASTM
Batuan ada`lah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid)
berupa massa yang berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen.





Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-2
H1C112055

e. Menurut Budavari
Mekanika batuan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari mekanika
perpindahan padatan untuk menentukan distribusi gaya-gaya dalam dan
deformasi akibat gaya luar pada suatu benda padat.
f. Secara Umum
Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda,
tidak mempunyaikomposisi kimia tetap.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa batuan tidak sama dengan
tanah. Tanah dikenal sebagai material yang mobile, rapuh dan letaknya dekat
dengan permukaan bumi.
(Anonim, 2014).
2.1.2. Sifat Batuan
Massa batuan, karena proses terjadinya secara alamiah. Memiliki sifat yang
cenderung unik (tidak ada kembarannya).Meskipun secara deskriptif namanya
sama misalnya andesit,tetapi antara andesit satu dengan yang lain hampir pasti
tidak sama persis.Oleh karena itulah maka sifat massa batuan di alam adalah
heterogen,anisotrop dan diskontinu.
a. Heterogen,artinya :
1) Mineralogis, yaitu jenis mineral pembentuk batuan berbeda-beda.
2) Butiran padatan, yaitu ukuran dan bentuknya berbeda-beda.
3) Void, yaitu ukuranbentuk dan penyebarannya berbeda-beda.
b. Anisotrop,artinya mempunyai sifat yang berbeda pada arah yang berbeda.
c. Diskontinu,artinya massa batuan selalu mengandung unsur struktur geologi
yang mengakibatkannya tidak kontinu seperti karena kekar, sesar, retakan,
fissure, bidang perlapisan. Struktur geologi ini cenderung memperlemah kondisi
massa bantuan.
Kondisi di atas apabila diperlakukan sebagaimana adanya tidak
memungkinkan dilakukan solusi dengan pendekatan logik-matematik.Oleh karena
itu perlu penyederhanaan dengan asumsi,yang semula heterogen-anisotrop-
diskontinu menjadi homogen-isotrop-kontinu.
(Anonim, 2014)
2.1.3 Mekanika Batuan
Mekanika merupakan cabang ilmu fisika yang berbicara tentang keadaan
diam atau geraknya benda-benda yang mengalami kerja atau aksi gaya. Mekanika


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-3
H1C112055

(Mechanics) juga berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari gerakan suatu
bendaserta efek gaya dalam gerakan itu.
Mekanika adalah cabang dari fisika berkaitan dengan perilaku tubuh fisik
ketika mengalamikekuatan atau pemindahan, dan efek berikutnya perilaku benda di
lingkungan tersebut. Mekanika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
menggambarkan dan meramalkan kondisi benda yang diam atau bergerak karena
pengaruh gaya yang beraksi pada benda. Mekanika dibagi menjadi tiga bagian
mekanika benda tegar, mekanika benda lentuk dan mekanika fluida.
Mekanika batuan sendiri merupakan merupakan bagian dari subyek yang
lebih luas yaitu Geomekanik yang membahas tentang respon mekanik dari semua
material geologi seperti batuan dan tanah.
2.2 Sifat Fisik dan Sifat Mekanik
Sifat fisik dan mekanik merupakan sifat yang ada pada batuan, sifat fisik
merupakan sifat yang terdapat pada batuan setelah dilakukan pengujian tanpa
melakukan pengrusakan sedangkan sifat mekanik batuan adalah sifat yang ada
batuan setelah melalui pengrusakan.
2.2.1. Sifat Fisik Batuan
Sifat fisik batuan adalah sifat yang terdapat pada suatu batuan setelah
dilakukan pengujian tanpa melakukan pengrusakan. Sifat-sifat fisik antara lain bobot
isi, berat jenis, porositas, absorbsi dan voidratio. Pengujian sifat fisik batuan yang
ditentukan, antara lain :
a. Bobot isi asli (natural density,
n
), yaitu perbandingan antara berat batuan asli
dengan volume batuan.


(2.1)
a. Bobot isi kering (drydensity,
d
), yaitu perbandingan antara berat batuan kering
dengan volume batuan.


. (2.2)
b. Bobot isi jenuh (saturateddensity,
s
), yaitu perbandingan antara berat batuan
jenuh dengan volume batuan.

..................................................................................... (2.3)
c. Berat jenis semu (apperentspecificgravity), yaitu perbandingan antara bobot isi
kering batuan dengan bobot isi air.


.. .. (2.4)


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-4
H1C112055

d. Berat jenis nyata (truespecificgravity), yaitu perbandingan antara bobot isi basah
batuan dengan bobot isi air.


.. (2.5)
e. Kadar air asli(natural watercontent), yaitu perbandingan antara berat air asli yang
ada dalam batuan dengan berat butiran batuan itu sendiri dalam %.

............................................................................................. (2.6)
f. Kadar air jenuh (absorption), yaitu perbandingan antara berat air jenuh yang ada
dalam batuan dengan berat butiran batuan itu sendiri dalam %.

............................................................................................ (2.7)
g. Derajat kejenuhan, Derajat kejenuhan adalah perbandingan antara kadar air asli
dengan kadar air jenuh yang dinyatakan dalam %.

............................................................................................. (2.8)
h. Porositas, didefinisikan sebagai perbandingan volume pori-pori atau rongga
batuan terhadap volume total batuan yang dinyatakan dalam %.

............................................................................................. (2.9)
i. Voidratio, perbandingan antara volume pori-pori dalam batuan dengan volume
batuan.

.(2.10)
(Hutabarat, 2014)
2.2.2. Sifat Mekanik Batuan
Batuan memiliki sifat mekanik yang dilakukan dengan merusak, dimana
dalam menentukan sifat mekanik batuan di laboratorium dilakukan beberapa
pengujian, seperti :
a. Uji Kuat Tekan Uniaksial
1) Uji Kuat Tekan (Unconfined Compressive Strength Test)
Uji ini menggunakan mesin tekan (compression machine) untuk
menekan sampel batuan yang berbentuk silinder dari satu arah (uniaxial).
Penyebaran tegangan di dalam sampel batuan secara teoritis adalah searah
dengan gaya yang dikenakan pada sampel tersebut. Tetapi dalam
kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada
sampel tersebut karena ada pengaruh dari plat penekan mesin tekan yang


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-5
H1C112055

menghimpit sampel, sehingga bentuk pecahan tidak terbentuk bidang pecah
yang searah dengan gaya melainkan berbentuk kerucut cone.
Perbandingan antara tinggi dan diameter sampel (l/d) mempengaruhi
nilai kuat tekan batuan. Untuk pengujian kuat tekan digunakan yaitu 2 < l/d <
2,5. Semakin besar maka kuat tekannya bertambah kecil seperti ditunjukkan
oleh persamaaan dibawah ini.
Dengan
C
kuat tekan batuan.

*Sumber : Eucalypto. 2014
Gambar 2.1.
Perubahan sampel
2) Batas Elastis
Plastisitas adalah karakteristik batuan yang membuat regangan
(deformasi) permanen yang besar sebelum batuan tersebut hancur (failure).
Perilaku batuan dikatakan elastis (linier maupun non linier) jika tidak terjadi
deformasi permanen jika suatu tegangan dibuat nol.
Pada tahap awal batuan dikenakan gaya. Kurva berbentuk landai dan
tidak linier yang berarti bahwa gaya yang diterima oleh batuan dipergunakan
untuk menutup rekahan awal (pre exiting cracks) yang terdapat di dalam
batuan. Sesudah itu kurva menjadi linier sampai batas tegangan tertentu, yang
kita kenal dengan batas elastis lalu terbentuk rekahan baru dengan batas
elastis perambatan stabil sehingga kurva tetap linier. Sesudah batas elastis
dilewati maka perambatan rekahan menjadi tidak stabil, kurva tidak linier lagi
dan tidak berapa lama kemudian batuan akan hancur. Titik hancur ini
menyatakan kekuatan batuan.
Harga batas elastis dinotasikan dengan
C
dimana pada grafik diukur
pada saat grafik regangan aksial meninggalkan keadaan linier pada suatu titik
tertentu, Titik ini dapat ditentukan dengan membuat sebuah garis singgung


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-6
H1C112055

pada daerah linier dengan kelengkungan tertentu hingga mencapai puncak
(peak).Pada titik tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu tegangan aksial
sehingga didapat nilai batas elastis
C.
Harga batas elastis dinotasikan dengan
C
dimana pada grafik diukur
pada saat grafik regangan aksial meninggalkan keadaan linier pada suatu titik
tertentu, titik ini dapat ditentukan dengan membuat sebuah garis singgung pada
daerah linier dengan kelengkungan tertentu hingga mencapai puncak
(peak).Pada titik tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu tegangan aksial
sehingga didapat nilai batas elastis
C.

3) Modulus Young
Harga dari ModulusYoung dapat ditentukan sebagai perbandingan
antara selisih tegangan aksial () dengan selisih tegangan aksial (
o
),
yangdiambil pada perbandingan tertentu pada grafis regangan aksial dihitung
pada rata-rata kemiringan kurva dalam kondisi linier, atau bagian linier yang
terbesar di kurva sehingga didapat nilai Modulus Young rata-rata dalam
hubungan sebagai berikut :
4) Possions Ratio
Harga poissons ratio didefinisikan sebagai harga perbandingan antara
regangan lateral dan regangan aksial pada kondisi tegangan sebesar
i
. Harga
tegangan sebesar
i
yang diukur pada titik singgungantara grafik tegangan
volumetrik dengan garis sejajar sumbu tegangan aksial pada saat regangan
grafik volumetrik mulai berubah arah.
Titik singgung tersebut diproyeksikan tegak lurus sumbu tegangan
aksial didapat nilai
i.
Melalui titik
i
buat garis tegak lurus ke sumbu tegangan
aksial, sehingga memotong kurva regangan aksial dan lateral.Kemudian
masing-masing titik potong tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu
regangan aksial dan lateral sehingga didapatkan nilai
ai
dan
li
.
b. Uji kuat tarik tak langsung
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik (tensile strength)
dari percontoh batu berbentuk silinder secara tidak langsung.Alat yang
digunakan adalah mesin tekan seperti pada pengujian kuat tekan.


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-7
H1C112055


*Sumber : Eucalypto. 2014
Gambar 2.2.
Pengujian Kuat Tarik
c. Uji point load
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan dari sampel batuan
secara tak langsung di lapangan.Sampel batuan dapat berbentuk silinder atau
tidak beraturan.










* Sumber : Kramadibrata, dkk, 2000
Gambar 2.3.
Bentuk sampel batu untuk point load test
d. Uji Triaksial
Salah Pengujian ini adalah salah satu pengujian yang terpenting dalam
mekanika batuan untuk menentukan kekuatan batuan di bawah tekanan
triaksial. Percontoh yang digunakan berbentuk silinder dengan syarat-syarat
sama pada pengujian kuat tekan.
Diametricaltest
P L >
0.7D
P L
D
Irregular lump test

P


D = 50
mm
L L
D
Axial test
D
P

1,1+ 0,05


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-8
H1C112055


*Sumber : Eucalypto. 2014
Gambar 2.4.
Kondisi Tekanan Pada Pengujian Triaksial
Dari hasil uji triaksial dapat ditentukan :
1) Strength envelope (kurva intrinsik)
2) Kuat geser (shear strength)
3) Sudut geser dalam ()
4) Kohesi (C)












*Sumber : Eucalypto. 2014
Gambar 2.5.
Lingkaran Mohr dan Kurva Intrinsik Hasil Pengujian Triaksial
Langkah-langkah pembuatan lingkaran Mohr :
1) Buat sumbu vertikal untuk tegangan geser dan sumbu horizontal untuk kuat
tekan dan kuat tarik dengan skala yang sama.
2) Nilai dari kuat tekan berada disebelah kanan sumbu vertikal sedangkan nilai
kuat tarik berada disebelah kiri sumbu vertikal.


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-9
H1C112055

3) Plotkan nilai kuat tekan dan kuat tarik dari data yang telah diketahui
membentuk setengah lingkaran.
4) Setelah diplot tarik garis singgung menyinggung lingkaran kuat tekan dan
kuat tarik.
5) Nilai kohesi didapatkan dari perpotongan antara garis singgung dan sumbu
tegak.
6) Sudut geser dalam diperoleh dari besarnya sudut yang dibentuk garis
singgung tersebut.
e. Uji punch shear
Uji ini untuk mengetahui kuat geser dari sampel batuan secara
langsung. Sampel berbentuk silinder tipis yang ukurannya sesuai dengan alat
uji punch dengan tebal t dan diameter d.
Sesudah sampel dimasukkan ke dalam alat uji punch shear kemudian
ditekan dengan mesin tekan sampai sampel pecah (P).








*Sumber : Kramadibrata, dkk, 2000. Hal 40
Gambar 2.6.
Uji punch shear
f. Uji sudut geser langsung
Uji ini untuk mengetahui kuat geser batuan pada tegangan normal
tertentu. Dari hasil uji dapat ditentukan:
1) Garis coulomb`s shear strength
2) Kuat geser (shear strength)
3) Sudut geser dalam ()
4) Kohesi (C)
2.3. Tegangan (Stress) dan Regangan (Strain)
Mengenal dan menafsirkan tentang asal-usul dan mekanisme pembentukan
suatu struktur geologi akan menjadi lebih mudah apabila kita memahami prinsip-
prinsip dasar mekanika batuan, yaitu tentang konsep gaya (force), tegangan
t
1
Pembebanan

Penampang tegak

punch shear sampel



Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-10
H1C112055

(stress), regangan (strain) dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi karakter
suatu materi atau bahan.
1. Tegangan (Stress)
Tegangan adalah gaya yang bekerja pada suatuluasan permukaan dari
suatu benda. Tegangan juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi yang
terjadi pada batuan sebagai respon dari gaya-gaya yang berasal dari luar. Ada 3
macam tegangan sebelum massa batuan mengalami gangguan, antara lain :
a. Tegangan gravitasi
b. Tegangan tektonik
c. Tegangan sisa
Tegangan (stress) dan tegangan tarik (strainstress) adalah gaya-gaya
yang bekerja di seluruh tempat dimuka bumi.Salah satu jenis tegangan yang
biasa kita kenal adalah tegangan yang bersifat seragam (uniform-stress) dan
dikenal sebagai tekanan (pressure). Tegangan seragam adalah suatu gaya yang
bekerja secara seimbang kesemua arah. Tekanan yang terjadi di bumi yang
berkaitan dengan beban yang menutupi batuan adalah tegangan yang bersifat
seragam. Jika tegangan kesegala arah tidak sama (tidak seragam) maka
tegangan yang demikian dikenal sebagai tegangan diferensial.
Tegangan diferensial dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Tegangan tensional (tegasan extensional) adalah tegasan yang dapat
mengakibatkan batuan mengalami peregangan atau mengencang.
b. Tegangankompresional adalah tegasan yang dapat mengakibatkan batuan
mengalami penekanan.
c. Tegangan geser adalah tegasan yang dapat berakibat pada tergesernya dan
berpindahnya batuan.
Nilai kuat tekan uniaksial dari percontoh batuan merupakan tegangan
yang terjadi pada saat percontoh batuan tersebut mengalami keruntuhan
(failure)akibat pembebanan, dan nilai dapat diperoleh dari persamaan :

....................................................(2.11)
Dengan keterangan :
= Tegangan
F = Besarnya gaya yang bekerja pada percontohan batuan pada batuan pada
saat terjadi keruntuhan (failure)
A = Luas penampang percontohan batuan yang diuji


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-11
H1C112055

2. Regangan (Strain)
Ketika batuan terdeformasi maka batuan mengalami regangan. Regangan
akan merubah bentuk, ukuran,atau volume dari suatu batuan. Tahapan
deformasi terjadi ketika suatu batuan mengalami peningkatan regangan yang
melampaui 3 tahapan pada deformasi batuan.Bentuk regangan dan deformasi
keduanya menunjukkan perubahan dimensi. Sebuah benda yang mendapat gaya
tarik atau tekan akan mengalami perubahan panjang. Benda akan mulur
(bertambah panjang) dengan gaya tarik dan mengkerut (memendek) dengan
gaya tekan.








*Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.7.
Hubungan Stress-Strain
Regangan terbagi atas 3 macam, yaitu :
a. Regangan aksial (a), merupakan regangan yang terjadi karena adanya
perubahan bentuk arah aksial terhadap tinggi.

...................................................(2.12)
b. Regangan lateral (l), merupakan regangan yang terjadi karena adanya
perubahan bentuk arah lateral terhadap diameter.

...................................................(2.13)
c. Regangan volumetrik (v), merupakan regangan yang terjadi karena adanya
perubahan bentuk secara volumetrik.
.......................................(2.14)






Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-12
H1C112055

*Sumber : www.scribd.com
Gambar 2.8.
Regangan yang dihasilkan dari pengujian kuat tekan batuan
(a) regangan aksial, (b) regangan lateral dan (c) regangan volumik
Kita dapat membagi material menjadi 2 (dua) kelas didasarkan atas
sifat perilaku dari material ketika dikenakan gaya tegangan padanya, yaitu :
a. Material yang bersifat retas (brittle material), yaitu apabila sebagian kecil
atau sebagian besar bersifat elastis tetapi hanya sebagian kecil bersifat
lentur sebelum material tersebut retak.
b. Material yang bersifat lentur (ductile material) jika sebagian kecil bersifat
elastis dan sebagian besar bersifat lentur sebelum terjadi peretakan atau
fracture.


*Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.9.
Brittle and Ductile Material



Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-13
H1C112055

2.4. Hammer Test
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak beton.
Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data
dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah. Metode pengujian ini
dilakukan dengan memberikan beban intact (tumbukan) pada permukaan beton
dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi
yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat
terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan indikasi
kekerasan juga setelah dikalibrasi, dapat memberikan pengujian ini adalah jenis
Hammer. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton
pada struktur.Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini
sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu
yang singkat.
Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton,
misalnya keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.
Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran disekitar setiap
lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan British Standards (BS)
mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap
daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.

*Sumber : www.geologistsurvey.indonetwork.co.id
Gambar 2.10.
Hammer
Secara umum alat ini bisa digunakan untuk memeriksa keseragaman
kwalitas beton pada struktur, mendapatkan perkiraan kuat tekan beton. Kelebihan
dan kekurangan Hammer testadalah :
1. Kelebihan dari hammer test adalah :
a. Murah
b. Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat
c. Praktis (mudah digunakan).


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-14
H1C112055

d. Tidak merusak
2. Kekurangan dari hammer test adalah :
a. Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton,
sifatsifat dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton.
Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari
jenis dan kondisi yang sama.
b. Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.
c. Tingkat keandalannya rendah.
d. Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada
permukaan
Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang
berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan hammer.
Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram kalibrasi yang bersifat
umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai fungsi dari
pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk sembarang
beton.
Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis
campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang berbeda,
perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan sample
hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur yang sedang
ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai konstanta untuk
mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer tersebut.
Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang dibuat
oleh produsen alat uji hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram kalibrasi
diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran agregat tertentu,
bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang tertentu (Anonim, 2014).
2.5. Densitas Batuan
Massa jenis atau densitas (density) suatu batuan secara harafiah
merupakan perbandingan antara massa dengan volume total pada batuan tersebut.
Secara sederhana, suatu batuan memiliki dua komponen, komponen padatan dan
komponen rongga (pori). Keberadaan komponen padatan maupun komponen
rongga mempunyai nilai yang beragam pada tiap-tiap batuan sehingga massa jenis
dari suatu batuan berbeda dengan batuan yang lainnya. Ilustrasi pada gambar di
bawah menunjukan dua jenis batuan yang terdiri dari presentase padatan dan


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-15
H1C112055

rongga yang berbeda-beda.Namun rongga yang terdapat pada batuan tersebut juga
dapat terisi oleh fluida, seperti air, minyak, ataupun gas bumi.Persentase rongga
yang terisi oleh fluida dikenal dengan istilah kejenuhan fluida, untuk air dinamakan
saturasi air, untuk hidrokarbon (minyak dan gas bumi) dikenal dengan saturasi
hidrokarbon.

*Sumber: ensiklopediseismik.blogspot.com
Gambar 2.11.
Densitas Batuan
Batuan mempunyai perilaku yang berbeda-beda pada saat menerima beban.
Perilaku ini dapat ditentukan dengan pengujian di laboratorium yaitu dengan
pengujian kuat tekan, seperti :
1. Elastik
Batuan dikatakan berperilaku elastik apabila tidak ada deformasi permanen
pada saat tegangan dihilangkan (dibuat nol).Dari kurva tegangan-regangan hasil
pengujian kuat tekan terdapat dua macam sifat elastik, yaitu elastik linier dan elastik
non linier.


*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.12.
Elastik



Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-16
H1C112055

2. Elasto Plastik
Perilaku plastik batuan dapat dicirikan dengan adanya deformasi (regangan)
permanen yang besar sebelum batuan runtuh atau hancur (failure).

*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.13.
Elasto Plastik
(Hutabarat, 2014)
2.6. Kuat Tekan dan Kuat Tarik Batuan
Terdapat beberapa jenis kekuatan batuan, yaitu :
1. Kuat tekan (uniaxial)
Kuat tekan (uniaxial) yang diuji dengan suatu silinder atau prisma
terhadap titik pecahnya. Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan silinder
merupakan uji sifat mekanik yang paling umum digunakan.Uji kuat tekan
uniaksial dilakukan untuk menentukan kuat tekan batuan (
i
), Modulus Young
(E),Nisba Poisson (v), dan kurva tegangan-regangan.Contoh batuan berbentuk
silinder ditekan atau dibebani sampai runtuh. Perbandingan antara tinggi dan
diameter contoh silinder yang umum digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan
luas permukaan pembebanan yang datar, halus dan paralel tegak lurus
terhadap sumbu aksis contoh batuan.
2. Kuat tarik (tensile strength)
Kuat tarik (tensile strength) ditentukan dengan uji Brazilian dimana suatu
piringan ditekan sepanjang diameter atau dengan uji langsung yang meliputi
tarikan sebenarnya atau bengkokan dari prisma batuan.Kekuatan batuan dapat
diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran di laboratorium.Regangan
(deformasi) diukur di areatambang kemudian dihubungkan terhadap tegangan
dengan berpedoman pada konstanta elastik dari laboratorium.Tegangan


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-17
H1C112055

sebelum penambangan merupakan kondisi tegangan asli, sulit dihitung, tetapi
merupakan parameter desain tambang yang penting.
Kekuatan batuan dapat diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran
dilaboratorium. Regangan (deformasi) diukur di area tambang kemudian
dihubungkan terhadap tegangan dengan berpedoman pada konstanta elastik dari
laboratorium.Tegangan sebelum penambangan merupakan kondisi tegangan asli,
sulit dihitung, tetapi merupakan parameter desain tambang yang penting.Tegangan
tersebut umumnya diperkirakan dan diberi beberapa kuantifikasi dengan memasang
sekelompok pengukur tegangan elektrik dalam rosette pada permukaan batuan,
memindahkan batuan-batuan yang berdekatan, dan mengukur respons tegangan
sebenarnya yang dilepaskan. Kondisi tegangan yang berkembang selama
penambangan merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam operasi
tambang sebaik dalam perancangan tambang.Regangan yang dihasilkan dari pola
tegangan baru diukur dari waktu ke waktu atau dimonitor secara menerus selama
penambangan berlangsung.
Tabel 2.1.
Tabel Kuat tekan uniaksial dan kuat tarik dari beberapa jenis batuan

Jenis Batuan Kuat Tekan (MPa) Kuat Tarik (MPa)
Batuan Intrusif
Granit 1000-2800 40-250
Diorit 1800-3000 150-300
Gabro 1500-3000 50-300
Dolerit 2000-3500 150-350
Batuan Ekstrusif
Riolit 800-1600 50-90
Dasit 800-1600 30-80
Andesit 400-3200 50-110
Basal 800-4200 60-300
Tufa Vulkanik 50-600 5-45
Batuan Sedimen
Batupasir 200-1700 40-250
Batugamping 300-2500 50-250
Dolomit 800-2500 150-250
Serpih 100-1000 20-100
Batubara 50-500 20-50
Batuan Metamorfik
Kuarsit 1500-3000 100-300
Gneiss 500-2500 40-200
Marmer 1000-2500 70-200
Sabak 1000-2000 70-200
*Sumber: www.artikelbiboer.blogspot.com


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-18
H1C112055

2.7. Aplikasi Mekanika Batuan
Pertambangan sangat berhubungan dengan batuan, oleh karena itu dalam
pertambangan perlu dipelajari ilmu mekanika batuan.Mekanika batuan dapat
diaplikasikan dalam berbagai hal dalam pertambangan.Pengaplikasiannya dapat
dalam hal kestabilan lereng, peledakan jenjang dan pemboran lubang ledak.
2.7.1. Kestabilan Lereng
Mekanika batuan dikatakan sangat berkaitan dengan kestabilan lereng
karena salah satu faktor dari kestabilan lereng adalah struktur batuan, sifat fisik dan
mekanik batuan.
Strukutur batuan yang sangat mempengaruhi kestabilan lereng adalah
bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan.Struktur batuan tersebut merupakan
bidang-bidang lemah (diskontinuitas) dan sekaligus sebagai tempat merembesnya
air, sehingga batuan lebih mudah longsor.
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah bobot isi
(density), porositas dan kandungan air. Sedangkan sifat mekanik batuan antara lain
kuat tekan, kuat tarik, kuat geser dan juga sudut geser dalam batuan.
Semakin besar bobot isi suatu batuan, maka gaya penggerak yang
menyebabkan lereng longsor juga semakin besar. Dengan demikian kestabilan
lereng semakin berkurang.
Batuan yang mempunyai porositas besar akan banyak menyerap air.
Dengan demikian bobot isinya menjadi lebih besar, sehingga memperkecil
kestabilan lereng. Adanya air dalam batuan juga akan menimbulkan tekanan air
pori yang akan memperkecil kuat geser batuan. Batuan yang mempunyai kuat
geser kecil akan lebih mudah longsor.Kuat geser batuan dapat dinyatakan sebagai
berikut :
= C + (- ) tan
dimana :
t = kuat geser batuan (ton/m
2
)
C = kohesi (ton/m
2
)
s = tegangan normal (ton/m
2
)
q = sudut geser dalam (angle of internal friction)



Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-19
H1C112055


*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.14.
Kestabilan Lereng
Semakin besar kandungan air dalam batuan, maka tekanan air pori menjadi
semakin besar juga. Dengan demikian berarti bahwa kuat geser batuannya menjadi
semakin kecil, sehingga kestabilannya berkurang.
Kekuatan batuan biasanya dinyatakan dengan kuat tekan (confined and
unconfined compressive strength), kuat tarik (tensile strength) dan kuat geser (shear
strength). Batuan yang mempunyai kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser besar
akan lebih stabil (tidak mudah longsor). Selain itu Semakin besar sudut geser
dalam, maka kuat geser batuan juga akan semakin besar. Dengan demikian batuan
(lereng) akan lebih stabil. Berikut adalah beberapa contoh dari perhitungan faktor
keamanan kestabilan lereng.
Diketahui : H (Tinggi Jenjang) = 5m
(Sudut Longsoran) = 30
(Sudut Lereng) = 52
(Bobot Isi) = 19 KN/


Penyelesaian :
- W = 1/2H[

]
= x 19 x 5



= 47,5 (8,66 3,91)
= 225,6KN/


- Ta = W sin
= 225,6 sin 30
= 112,8KN/





Overall slope


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-20
H1C112055

Gaya normal pada bidang
- N = W cos 30 = 225,6 cos 30 = 195,38 KN/


- L = 5/sin 30 = 10 m
Jadi
- Tr = 1/F (10 x 25 + 195,38 tg 12)
= 291,53/F
Pada kondisi seimbang,
- Tr = Ta
291,53/F = 112,8
- F = 291,53/112,8
= 2,58
Dimana 2,58 > 1,2 yang berarti lereng tersebut stabil atau aman.

*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.15.
Jenjang Pada Tambang Terbuka
(Susanto, 2014).
2.7.2. Peledakan
Dalam suatu operasi peledakan batuan, kegiatan pemboran merupakan
pertama kali yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat sebuah lubang ledak
dengan geometri dan pola yang sudah tertentu pada masa batuan, yang selanjutnya
akan diisi dengan bahan peledak yang akan diledakan.Peledakan itu sendiri
bertujuan untuk membongkar batuan atau material yang keras dengan
menggunakan campuran bahanbahan kimia untuk memicu terjadi peledakan.
Kegiatan peledakan pada penambangan batubara dilakukan dengan tujuan
menunjang operasi penggalian yang dilakukan Excavator, karna tujuan dari


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-21
H1C112055

peledakan itu sendiri membuat fragmentasi sehinga dapat menghasilkan rekahan
pada batuan, yang dapat memudahkan dalam proses penggalian batuan tersebut.
Dalam melakukan peledakan perlu dilakukan suatu pemboran, Kinerja suatu
mesin bor dipengaruhi oleh faktor-faktor sifat batuan yang di bor, rock drillability,
geometri pemboran, umur dan kondisi mesin bor, dan ketrampilan operator
a. Kekerasan
Kekerasan adalah tahanan dari suatu bidang permukaan halus terhadap
abrasi. Kekerasan dipakai untuk mengukur sifatsifat teknis dari material batuan
dan juga dipakai untuk menyatakan berapa besarnya tegangan yang diperlukan
untuk menyebabkan kerusakan pada batuan. Kekerasan merupakan suatu fungsi
dari kekerasan, Komposisi butiran mineral, serta merupakan hal yang utama harus
diketahui, karna setelah mata bor menetrasi batuan, maka akan menentukan tingkat
kemudahan pemboran.
b. Kekuatan ( Strength)
Pada prinsipnya kekuatan batuan tergantung pada komposisi mineral.
Diantara mineralmineral yang terkandung di dalam batuan, kwarsa yang
terkompak atau terkuat tekan mencapai lebih 5,00 MPa, sehingga semakain tinggi
kandungan kwarsa, akan memberikan kekuatan yang menigkat.
c. Elastisitas
Sifat elatisiatas dinyatakan dengan modulus elatisitas atau modulus Young
(E), dan nisbah poisson (u) modulus elatisitas merupakan faktor kesebandingan
antara tegangan normal dengan regangan relatif, sedangkan nisbah poisson
merupakan kesebandingan regangan lateral dan reganagn aksial. Modulus
elastisitas sangat tergantung pada komposisi mineralnya, porositas, jenis
perpindahan dan besarnya beban yang diterapkan. Nilai modulus elastisitas untuk
batuan yang sangat rendah, hal ini disebapkan komposisi mineral dengan tekturnya,
seperti modulus elastisitas pada arah yang sejajar bidang perlapisan selalu lebih
besar dibandingkan dengan arah tegak lurus.
d. Plastisitas
Plastisitas batuan merupakan perilaku batuan yang menyebabkan deformasi
tetap setelah tegangan dikembalikan kondisi awal, dimana batuan tersebut belum
hancur. Sifat plastis tergantung pada komposisi mineral penyusun batuan dan
diperbaharui oleh adanya pertambahan kuarsa dan mineral lain.




Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-22
H1C112055

e. Abrasitas
Abrasitas adalah sifat batuan yang menggores permukaan material lain, ini
merupakan suatu parameter yang mempengaruhi kehausan (umur) mata bor dan
batang bor. Kandungan kwarsa dari batuan biasanya petunjuk yang dipercaya untuk
mengukur kehausan mata bor.
f. Rock Drillability
Drilabilitas batuan adalah temperatur mudah tidaknya mata bor melakukan
penetrasi ke dalam batuan. Drilabilitas batuan merupakan fungsi dari sifat batuan
seperti komposisi mineral, tekstur, ukuran butir dan tingkat pelapukan.
2.7.3. Penyanggan Tambang Bawah Tanah
Dalam tambang bawah tanah agar mendapatkan suatu keamanan dalam
terowongan-terowongan perlu dibuat suatu penyangga agar terowongan di tambang
bawah tidak runtuh.Dalam penyanggan terdapat penyanggan pasif dan aktif, dalam
penentuan tipe penyanggan yang digunakan kita perlu mengkaji tipe dan jenis
penyanggan mana yang sesuai.Didasarkan pada sifat penyanggaan, jenis
penyangga dapat dibagi menjadi penyangga pasif dan penyangga aktif.
a. Penyangga Pasif, bersifat mendukung / menahan batuan yang akan runtuh dan
tidak melakukan reaksi langsung terhadap beban yang diterima (rigid). Contoh
penyanggaan pasif antara lain penyangga kayu, penyangga besi baja,
penyangga beton.

*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.16.
Cribbing
b. Penyangga Aktif, bersifat melakukan reaksi langsung (yield) dan memperkuat
batuan tersebut secara langsung (reinforcement). Contoh penyanggan aktif
antara lain baut batuan, hydraulic props, powered roof support.


Laporan Praktikum Mekanika Batuan 2014
AKHMAD JAILANI 2-23
H1C112055


*Sumber : Anonim, 2014
Gambar 2.17.
Kestabilan Lereng
Sistem penyangga harus dapat bekerja secara kaku untuk merespon
pergerakan pergeseran tanah.Berarti bahwa pemasangan alat mekanis harus
ditekankan dan harus dapat diperhitungkan sebelum sebuah pergerakan dapat
mulai melakukan pergerakannya.Terowongan adalah struktur bawah tanah yang
mempunyai panjang lebih dari lebar penampang galiannya, dan mempunyai gradien
memanjang kurang dari 15%.
Untuk menentukan efek joint pada konstruksi terowongan, Bieniawski (1974)
mengelompokan massa batuan menjadi lima kelompok untuk mengetahui metode
yang cocok digunakan untuk pelaksanaan. Material batuan dengan banyak joint
dapat digali dengan menggunakan ripper.Bidang permukaan joint yang lebar sering
dijumpai dalam pelaksanaan terowongan.Jika arahnya sejajar atau hampir sejajar
dengan as terowongan maka dapat menimbulkan masalah besar dalam
pelaksanaannya.
Mekanika batuan dalam penyanggan berperan analisa bagian-bagian mana
yang akan disangga, dan jenis penyanggaan mana yang sesuai dengan jenis dan
kekuatan batuan. Sehingga batuan tidak runtuh walaupun batuan itu mempunyai
kemampuan yang rendah menahan suatu gaya yang mengenainya.
(Anonim, 2014).