Anda di halaman 1dari 18

DISUSUN OLEH:

RICKY ISKANDAR



PEMBIMBING:

dr. Azwan Mandai,Sp.THT-KL




SMF ILMU KESEHATAN THT-KL
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH EMBUNG FATIMAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
2014








GANGGUAN PENDENGARAN
AKIBAT KEBISINGAN
DIAJUKAN GUNA MEMENUHI SALAH SATU TUGAS
ILMU KESEHATAN THT-KL




1
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, rahmat
kesehatan dan keselamatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan laporan kasus ini
tepat pada waktu. Laporan Gangguan pendengaran akibat kebisingan dibuat untuk memenuhi
tugas Program Pendidikan Profesi di Departemen Ilmu kesehatan THT-KL di RSUD Embung
Fatimah Batam .
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Azwan Mandai, Sp.THT-KL selaku
dokter pembimbing dan teman-teman yang telah mendukung dalam penulisan referat ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan kasus ini masih memiliki kekurangan. Oleh
sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan
laporan kasus ini. Akhir kata, penulis berharap agar referat ini memberi manfaat kepada
semua pihak.


Batam, 14 mei 2014


Penulis




DAFTAR ISI
2

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 1
DAFTAR ISI ...................................................................................................... 2
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 3
Latar Belakang ................................................................................... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 5
Bunyi .................................................................................................. 5
Anatomy Telinga Dan Fungsinya ...................................................... 5
Definisi Kebisingan ........................................................................... 6
Bunyi Dan Mekanisme Kebisingan ................................................... 6
Jenis Kebisingan ................................................................................ 7
Sumber-Sumber Bising ...................................................................... 8
Pengukuran kebisingan ...................................................................... 9
Nilai Ambang Batas Kebisingan ........................................................ 10
Gangguan Kebisingan Pada Pendengaran ......................................... 11
Keluhan Pendengaran ........................................................................ 13
Tuli ..................................................................................................... 14
Derajat Ketulian ................................................................................. 14
Pathogenesis ....................................................................................... 14
Penatalksanaan ................................................................................... 15
Tinitus ................................................................................................ 17
Etiologi ............................................................................................... 17
Penatalaksanaan ................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 19






3
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau yang tidak di
kehendaki, definisi ini menunjukkan bahwa bising itu sangat subjektif, tergantung dari
masing-masing individu, waktu dan tempat terjadinya bising. Sedangkan secara
audiologi, bising adalah campuran bunyi nada murnidengan berbgai frekuensi.
1

National institute for occupational safety and health (NIOSH) dan Indonesia
menetapkan nilai ambang batas (NAB) bising ditempat kerja adalah 85dBA. Bila
NAB ini melebihi terus menerus dalam lama maka akan menimbulkan Noise Induced
Hearing Loss (NIHL). Factor lain yang berpengaruh terhadap NIHL adalah frekuensi
bising, periode pajanan setiap hari, lama kerja, kepekaan individu, umur dan lain-
lain.
1

Kemajuan teknologi disektor industry telah berhasil menciptakan berbagai
macam produk mesin yang dalam pengoperasianya sering kali menghasilkan polusi
suara atau timbulnya bising di tempat kerja. Suara bising atau polusi suara, sebagai
salah satu efek dari sector industry dapat menimbulkan gangguan pendengaran atau
ketulian pada seseorang yang bekerja atau berada pada lingkungan industry.
9

Suara yang tidak diinginkan akan memberikan efek yang kurang baik terhadap
kesehatan. Suara merupakan gelombang mekanik yang di hantarkan suara medium
yaitu umumnya oleh udara. Kualitas dan kuantitas suara ditentukan oleh intensitas
(loudness), frekuensi, periodesitas (kontiniu atau terputus) dan durasi nya. Factor-
faktor tersebut juga ikut mempengaruhi dampak suatu kebisingan terhadap
kesehatan.
10

Berdasarkan survey Multi Centre Study di asia tenggara, Indonesia termasuk
4 negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6% sedangkan 3 negara
lainnya yakni Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%), dan India (6,3%). Walaupun
bukan yang tertinggi tapi prevalensi 4,6% tergolong cukup tinggi, sehingga dapat
menimbulkan masalah social di tengah masyarakat. Sementara itu organisasi
kesehatan dunia World Health Orgazation (WHO) memperkirakan pada tahun 2000
4

terdapat 250 juta penduduk dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta 140
juta diantara nya terdapat di asia tenggara.
9


5
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Suara
Definisi suara adalah sensasi yang dihasilkan apabila getaran longitudinal molekul-molekul
dari lingkuangan luar, yaitu pemadatan dan perenggangan dari molekul-molekul yang silih
berganti, mengenai membrane timpani. Pola dari gerakan ini digambarkan sebagai
perubahan-perubahan tekanan pada membrane timpani tiap unit waktu merupakan sederetan
gelombang dan gerakan ini dalam lingkungan sekitar kita umumnya di namakan gelombang
suara. Suara merupakan perubahan tekanan dalam udara yang di tangkap oleh gendang
telinga dan disalurkan ke otak.
7
Anatomi Telinga dan Fungsinya
Telinga terdiri dari 3 bagian utama yaitu :
1. Telinga Bagian Luar
Terdiri dari daun telinga dan liang telinga (audiotory canal), dibatasi oleh membrane
timpani. Telinga bagian luar berfungsi sebagai mikrofon yaitu menampung gelombang
suara dan menyebabkan membrane timpani bergetar. Semakin tinggi frekuensi getaran
semakin cepat pula membrane tersebut bergetar begitu pula sebaliknya.
4
2. Telinga Bagian Tengah
Terdiri dari osside yaitu 3 tulang kecil yaitu Meleus, Inkus, Stapes. Fungsi dari tulang
pendengaran yaitu yang menghantarkan suara dari membrane timpani melewati telinga
tengah ke koklea.
5

3. Telinga Bagian Dalam
Yang juga disebut koklea dan berbentuk rumah siput. Koklea mengandung cairan, di
dalamnya terdapat membrane basiler dan organ corti yang terdiri dari sel-sel rambut yang
merupakan reseptor pendengaran. Getaran dari oval window akan diteruskan oleh cairan
dalam koklea, mengantarkan membrane basiler. Getaran ini merupakan implus bagi organ
corti yang selanjutnya diteruskan ke otak melalui syaraf pendengar.
5

6



Definisi Kebisingan
Bising didefinisikan oleh ahli fisika sebagai suara yang disebabkan oleh gelombang akustik
dengan intensitas dan frekuensi yang acak. Seperti yang terdapat dalam industry, bising
adalah suara yang tidak diinginkan dan merupakan energi yang terbuang.
1

Bunyi dan Mekanisme Kebisingan
Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul dilingkungan
eksternal, yaitu fase pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi secara bergantian
mengenai membrane timpani.
4
Pada kondisi atau aktifitas tertentu, misalnya saat seseorang berpindah dari satu lokasi ke
lokasi lain dengan perbedaan tingkat ketinggian lokasi cukup besar dalam waktu relative
singkat, akan timbul perbedaan tekanan udara antara bagian depan dan belakang gendang
telinga. Akibatnya gendang telinga tidak dapat bergetar secara efisien, dan sudah tentu
pendengaran akan terganggu.
8
Secara umum, kekuatan suara berkaitan dengan gelombang suara dan nadanya berkaitan
dengan frekuensi.
4
Telinga manusia hanya mampu menangkap suara yang ukuran intensitasnya berkisar antara
20-20.000Hz dan dengan frekuensi suara sekitar 80 dB (batas aman) (Chandra, 2007). Lebar

7
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

telinga manusia diantara 0 dB-140 dB yang dapat di dengar. Dan batas intensitas suara
tertinggi adalah 140 dB dimana untuk mendengarkan suara itu sudah timbul perasaan sakit
pada alat pendengaran. Pajanan terhadap suara atau bunyi yang melampui batas aman di atas
dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya ketulian sementara atau permanen.
2

Jenis Kebisingan
Kebisingan diklasifikasikan ke dalam dua jenis golongan besar yaitu :
1. Kebisingan tetap (steady noise)
2. Kebisingan tidak tetap (non steady noise).
8


Kebisingan tetap (steady noise)
Kebisingan tetap (steady noise) dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frekuensi noise)
Kebisingan ini berupa nada-nada murni pada frekuensi yang beragam, contohnya
suara mesin, suara kipas dan sebagainya.
8
b. Kebisingan dengan frekuensi terputus dan broad band noise sama-sama digolongkan
sebagai kebisingan tetap (steady noise). Perbedaan adalah broad band noise terjadi
pada frekuensi yang lebih bervariasi (bukan nada murni).
8


Kebisingan tidak tetap (non steady noise)
Kebisingan tidak tetap (non steady noise) dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise)
Kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.
b. Intermitten noise.
Sesuai dengan terjemahnya, intermitten noise adalah kebisingan yang terputus-putus
dan besarnya dapat berubah-ubah, contohnya kebisingan lalu lintas.
8
c. Impulsive noise
Kebisingan impulsive dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan
telinga) dalam waktu relative singkat, misalnya suara ledakan senjata api dan alat-alat
sejenisnya.
8

8

Sumber-Sumber Bising
Sumber bising adalah suatu hal yang tidak dapat diragukan lagi sebagai asal atau aktivitas
yang menghasilkan suara bising yang merusak pendengaran baik bersifat sementara ataupun
permanen. Sumber bising utama dalam pengendalian bising lingkungan diklasifikasikan
dalam kelompok :
a. Bising interior, berasal dari manusia, alat-alat rumah tangga, mesin gudang dan
aktifitas di dalam ruangan atau gedung.
b. Bising luar, bising yang di kategorikan berasal dari aktifitas diluar ruangan seperti
transportasi udara, termasuk bus, mobil, sepeda motor, transportasi air, kereta api dan
pesawat terbang dan bising yang berasal dari industry. Untuk bising transportasi yang
paling penting diketahui bahwa makin besar kendaraan akan semakin keras suara
bising yang dihasilkan.
3


Pengukuran Kebisingan
Beberapa alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan, yaitu :
1. Audiometer, biasanya dipakai untuk mengukur kebisingan yaitu dengan
membandingkan dengan suara yang intensitasnya diketahui.

Gambar : audiometer

2. The Equivalent Continous Level, alat ini digunakan untuk menganalisa suatu
kebisingan yang sangat fluktuatif, misalnya kebisingan lalu-lintas.

9
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R


Gambar : Equivalent Continous Level

3. Sound Level Meter, alat ini digunakan untuk mengukur kebisingan antara 30-130 dB
dan frekuensi 20-20.000 Hz. Sound Level Meter terdiri dari mikrofon, amplifer, dan
sirkuit attenuator dan beberapa alat lain. Sound Level Meter dilengkapi dengan
tombol pengaturan skala pembobotan seperti A, B, C dan D. skala A, contohnya
adalah rentang skala pembobotan yang melingkupi frekuensi suara rendah dan
frekuensi suara tinggi yang masih dapat diterima oleh telinga manusia normal.
Sementara itu skala B, C dan D digunakan untuk keperluan-keperluan khusus,
misalnya pengukuran kebisingan yang di hasilkan oleh pesawat terbang bermesin jet.
8


Gambar : Sound Level Meter

Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan
Pengawasan kebisingan berpedoman pada nilai ambang batas (NAB) seperti pada table di
bawah ini :
Tabel Intensitas dan waktu.
1
Paparan bising yang diperkenankan
Wktu pemaparan tiap hari (jam)
Batas suara
(dB.A)
8 90
6 92
10

4 95
3 97
2 100
1
1
/
2
102
1 105

110
<1/4 115
Sumber : (Ballenger, edisi 13).
Dengan adanya pemaparan 8 jam tiap hari, batas suara yang masih di perbolehkan adalah 85
dB.A.
Tingkat kebisingan maksimum yang dianjurkan maupun diperbolehkan adalah rata-rata nilai
modus dari tingkat kebisingan pada siang hari, petang hari dan malam hari. Siang hari adalah
waktu yang digunakan oleh kebanyakan orang untuk istirahat di rumah tetapi belum tidur.
Malam hari adalah waktu yang digunakan kebanyakan orang untuk tidur. Pembagian waktu
pagi, siang dan malam hari disesuaikan dengan kegiatan kehidupan masyarakat setempat.
Biasanya pagi hari adalah pukul 06.00 09.00, siang hari adalah pukul 14.00 17.00 dan
malah hari adalah pukul 17.00 22.00.
6

Gangguan Kebisingan Pada Pendengaran
Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat
beberapa jam (1-2 jam). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama (10-15
tahun) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ corti sampai terjadi destruksi total
organ corti. Proses ini belum jelas terjadi, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang
berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolism dan vaskuler
sehingga terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Umunya frekuensi pendengaran
yang mengalami penurunan intensitas adalah antara 3000-6000 Hz dan kerusakan alat corti
untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekuensi 400 Hz (4 Knotch). Ini merupakan
proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh para
pekerja. Hal ini hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan audiometric. Apabila bising
dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akhinya
pengaruh penurunan pendengaran akan menyebar ke frekuensi percakapan (500-3000 Hz).
Pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan
sekitarnya.
1

11
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

Pembagian Efek Kebisingan Terhadap Pendengaran
Secara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu :

1. Temporary Threshold Shift (TTS)
Seseorang yang pertama kali terpapar suara bising akan mengalami berbagai
perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi
pada frekuensi tinggi. Pada gambaran audiometric tampak sebagai notch yang
curam pada frekuensi 4000 Hz, yang disebut juga acoustic notch. Pada tingkat awal
terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara, yang disebut juga
TTS. Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat
kembali normal.
1
2. Permanent Threshold Shift (PTS)
Di dalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat
suara bising, dan hal ini disebut dengan occupational hearing loss atau kehilangan
pendengaran karena pekerjaan atau mana lainnya ketulian akibat bising.
1
Dikatakan bahwa untuk merubah TTS menjadi PTS diperlukan waktu bekerja dilingkungan
bising selama 10-15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada :
a. Tingkat suara bising
b. Kepekaan seseorang terhadap suara bising
PTS biasanya terjadi disekitar frekuensi 4000 Hz dan perlahan-lahan meningkat dan
menyebar ke frekuensi sekitarnya. PTS mula-mula tanpa keluhan, tetapi apabila sudah
menyebar sampai ke frekuensi yang lebih rendah (2000 Hz dan 3000 Hz) keluhan akan
timbul. Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan
di tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekuensi yang lebih rendah maka akan
timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. Notch bermula pada frekuensi
3000-6000 Hz, dan setelah beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada
frekuensi yang lebih tinggi. Kehilangan pendengaran pada frekuensi 4000 Hz akan terus
bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebih
lambat.
1



12

Keluhan Pendengaran
Keluhan pendengaran adalah perubahan pada tingkat pendengaran yang berakibat kesulitan
dalam melaksanakan kehidupan normal, biasanya dalam hal memahami pembicaraan.
No Gradasi Parameter
1 Normal Tidak mengalami kesulitan dalam percakapan biasa (6 m)
2 Sedang Kesulitan dalam percakapan sehari-hari mulai jarak > 1,5 m
3 Menengah Kesulitan dalam percakapan keras mulai jarak >1,5 m
4 Berat Kesulitan dalam percakapan keras/teriak mulai jarak >1,5 m
5 Tuli total Kehilangan kemampuan pendengaran dalam berkomunikasi
Sumber : Buchari, 2007

Tuli
Tuli akibat kerja dapat didefinisikan sebagai gangguan pendengaran pada satu atau kedua
telinga, sebagian atau seluruhnya, yang timbul pada masa kerja atau sebagai akibat dari
pekerjaan seseorang.
1
Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (speech discrimination)
dan fungsi social. Gagguan pada frekuensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam
menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi
menangis atau deringan telepon dapat tidak di dengar sama sekali. Ketulian biasanya
bilateral. Selain itu tinitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat
mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi. Secara umum gambaran ketulian pada
tuli akibat bising adalah :
1. Bersifat sensorineural
2. Hampir selalu bilateral
3. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat (profound hearing loss) derajat ketulian
berkisar antara 40 s/d 75 dB
4. Apabila paparan bising dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang
signifikan
5. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekuensi 3000, 4000 dan 6000 Hz,
dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekuensi 4000 Hz (Ballenger, edisi
13)
6. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekuensi 3000, 4000 dan 6000
Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10-15 tahun.

13
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R


Derajat ketulian menurut ISO (I nternational Organization for standardization) dan ASA
(Americe Standard Association) adalah :
4
Hearing Loss Hearing Loss
ASA 1951 (dB) ISO 1964 (dB)
Normal -10 s/d 15 -10 s/d 26
Tuli Ringan 16 s/d 29 27 s/d 40
Tuli Menengah 30 s/d 44 41 s/d 45
Tuli Menengah Berat 45 s/d 55 56 s/d 70
Tuli Berat 56 s/d 79 71 s/d 90

Derajat ketulian (menurut buku FKUI) :
Normal : 0 25 dB
Tuli ringan : 26 40 dB
Tuli sedang : 41 60 dB
Tuli berat : 61 90 dB
Tuli sangat berat : > 90 dB

PATOGENESIS
Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah yang
pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang
meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar
menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya
intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya
stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Dengan hilangnya
stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas
paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin
luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat
dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak.
9

PERUBAHAN HISTOPATOLOGI TELINGA AKIBAT KEBISINGAN
Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah
sebagai berikut :
9
14

1. Kerusakan pada sel sensoris
a. degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis
b. pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris
c. Anoksia
2. Kerusakan pada stria vaskularis
Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis
oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan
ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi.
3. Kerusakan pada serabut saraf dan nerve ending
Keadaan ini masih banyak dipertentangkan, tetapi pada umumnya kerusakan
ini merupakan akibat sekunder dari kerusakan-kerusakan sel-sel sensoris.
GAMBARAN KLINIS
Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara ( speech discrimination
) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam
menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi
menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral.
Selain itu tinitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu
ketajaman pendengaran dan konsentrasi.
9
Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah
:
1. Bersifat sensorineural
2. Hampir selalu bilateral
3. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ) Derajat
ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB.
4. Apabila paparan bising dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang
signifikan.
5. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz,
dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz.
6. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000
Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun.
Selain pengaruh terhadap pendengaran ( auditory ), bising yang berlebihan juga mempunyai
pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi bicara, gangguan konsentrasi,
gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi.

15
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

PENATALAKSANAAN
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan
bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga yaitu
berupa sumbat telinga ( ear plugs ), tutup telinga ( ear muffs ) dan pelindung kepala ( helmet
). Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap (irreversible ),
bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume
percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar ( ABD ). Apabila
pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat
berkomunikasi dengan adekuat, perlu dilakukan psikoterapi. Latihan pendengaran ( auditory
training ) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan
ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir ( lip reading ), mimik dan gerakan
anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi.
9
Prognosis
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya
menetap, dan tidak dapat diobati secara medikamentosa maupun pembedahan, maka
prognosisnya kurang baik. Oleh sebab itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya
ketulian.
10
TINITUS
Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan ini dapat
berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis atau berbagai macam bunyi yang lain.
11
Dari data WHO di Amerika serikat terdapat 40-50 juta orang yang mengalami tinitus,
walaupun hampir seluruhnya gejala yang timbul sewaktu-waktu, di antaranya sekitar 10-12
juta memiliki gejala yang berat.

Etiologi dari tinitus :
Penyebab fisiologis tepat atau penyebab tinitus tidak diketahui. Namun demikian, beberapa
kemungkinan sumber-sumber, yang semuanya diketahui memicu atau memperburuk tinitus.
1. Bising
Paparan suara keras dapat merusak dan bahkan menghancurkan sel-sel rambut, yang
disebut silia, di telinga dalam. Sekali rusak, sel-sel rambut tidak dapat diperbaharui
atau diganti.
2. Trauma kepala dan leher
16

Trauma fisik pada kepala dan leher dapat menyebabkan tinitus. Gejala lain termasuk
sakit kepala, vertigo, dan kehilangan memori.
3. Gangguan tertentu, seperti hipo-atau hipertiroidisme, penyakit Lyme, fibromyalgia,
dan sindrom outlet toraks, dapat memiliki tinitus sebagai sebuah gejala. Ketika tinitus
adalah gejala dari gangguan lain, mengobati gangguan dapat membantu meringankan
tinitus.
4. Beberapa jenis tumor
5. Penyakit vascular

Penatalaksanaan
Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dibagi dalam 4 cara yaitu :
1. Psikologik, dengan memberkan kosultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa
penyakitnya tidak membahayakan, mengajarkan relaksasi setiap hari.
2. Elektrofisiologik yaitu memberi stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang
lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar.
3. Terapi medikamentosa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya
untuk meningkatkan aliran koklea, tranquilizer, antidepresan sedative, neurotonik,
vitamin dan mineral.
4. Tindakan tumor dilakukan pada tumor akustik neuroma.

Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat menjelang tidur pada
pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinnitus.
11









Daftar Pustaka

17
G
A
N
G
G
U
A
N

P
E
N
D
E
N
G
A
R
A
N

A
K
I
B
A
T

K
E
B
I
S
I
N
G
A
N

|


R
I
C
K
Y

I
S
K
A
N
D
A
R

1. Ballenger, John Jacob. Pemaparan Bising Industri dan Kurang Pendengaran. Telinga
Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher, Edisi 13. Binarupa Aksara., Tangerang.

2. Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC., Jakarta.

3. Doelle, Leslie L. Akustik Lingkungan. Erlangga., Jakarta.

4. Ganong, W.F. 2005. Pendengaran dan Keseimbangan. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran Edisi 22. EGC., Jakarta

5. Guyton dan Hall. 2006. Indera Pendengaran. Buku ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi
11. EGC., Jakarta.

6. Kep MENHL No : Kep-48/MENHL/11/1996. Baku Tingkat Kebisingan., Jakarta.

7. Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Guna., Surabaya.

8. Tambunan, Sihar Tigor Benjamin. 2005. Kebisingan di Tempat Kerja. ANDI.,
Yogyakarta.

9. Heggins II ,J. The effects of industrial noise on hearing.
http://hubel.sfasu.edu/courseinfo/SL98/hearing.html

10. Mansyur, Muchtaruddin. 2003. Dampak Kebisingan Terhadap Kesehatan. Job
Training Petugas Pengawas Kebisingan., Yogyakarta.


11. Telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. 2007, Edisi 6. FKUI : jakarta