Anda di halaman 1dari 5

Mastektomi adalah operasi pengangkatan jaringan sebagian atau seluruh payudara.

Ada 3 jenis mastektomi (Hirshaut & Pressman, 1992):


Simple Mastectomy (Total Mastektomy): pada prosedur operasi ini, keseluruhan
jaringan payudara diangkat, tapi kelenjar getah bening yang berada di bawah ketiak
(axillary lymph nodes) tidak diangkat. Kadang-kadang sentinel lymph node, yaitu
kelenjar getah bening utama, yang lags berhubungan dengan payudara, diangkat juga.
Untuk mengidentifikasi sentinel lymp node ahli bedah akan menyuntikkan suatu
cairan dan / atau radioactive tracer kedalam area sekitar puting payudara. Cairan atau
tracer tadi akan mengalir ketitik-titik kelenjar getah bening, yang pertama akan
sampai ke sentinel lymp node. Ahli bedah akan menemukan titik-titik pada KGB
(kelenjar Getah Bening) yang warnanya berbeda (apabila digunakan cairan) atau
pancaran radiasi (bila menggunakan tracer). Cara ini biasanya mempunyai resiko
rendah akan terjadinya lymphedema (pembengkakan pada lengan) daripada axillary
lymp node dissection. Bila ternyata hasilnya sentinel node bebas dari penyebaran
kanker, maka tidak ada operasi lanjutan untuk KGB. Apabila sebaliknya, maka
dilanjutkan operasi pengangkatan KGB. Operasi ini kadang-kadang dilakukan pada
kedua payudara pada penderita yang berharap menjalani mastektomi sebagai
pertimbangan pencegahan kanker. Penderita yang menjalani simple mastectomy
biasanya dapat meninggalkan rumah sakit setelah dirawat dengan singkat . Seringkali,
saluran drainase dimasukkan selama operasi di dada penderita dan menggunakan alat
penghisap (suction) kecil untuk memindahkan cairan subcutaneous (cairan di bawah
kulit). Alat-alat ini biasanya dipindahkan beberapa hari setelah operasi apabila
drainase telah berkurang dari 20-30 ml per hari.
Modified Radical Mastectomy: Keseluruhan jaringan payudara diangkat bersama
dengan jaringan-jaringan yang ada di bawah ketiak (kelenjar getah bening dan
jaringan lemak). Berkebalikan dengan simple mastectomy, m. pectoralis (otot
pectoralis) ditinggalkan.
Radical Mastectomy atau Halsted Mastectomy : pertama kali ditunjukkan pada tahun
1882, prosedur operasi ini melibatkan pengangkatan keseluruhan jaringan payudara,
kelenjar getah bening di bawah ketiak, dan m. pectoralis mayor dan minor (yang
berada di bawah payudara). Prosedur ini lebih jelek dari pada modified radical
mastectomy dan tidak memberikan keuntungan pada kebanyakan tumor untuk
bertahan. Operasi ini, saat ini lebih digunakan bagi tumor-tumor yang melibatkan m.
pectoralis mayor atau kanker payudara yang kambuh yang melibatkan dinding dada.
Skin-sparing Mastectomy: pada operasi ini, jaringan payudara diangkat dengan irisan
konservatif (conservative incision) yang dibuat mengeliligi areola (area kehitaman di
sekitar puting susu). Peningkatan jumlah area kulit yang tersis jika dibandingkan
dengan mastectomy secara tradisional, dapat memfasilitasi prosedur dari breast
reconstruction (operasi rekonstruksi payudara). Penderita dengan kanker yang juga
melibatkan kulit pda payudaranya, tidak tepat untuk menggunakan prosedur operasi
ini.
Subcutaneous Mastectomy: jaringan payudara diangkat, tapi area putting susu (nipple-
areola complex) ditinggalkan. Prosedur ini dalam sejarah dikerjakan hanya sebagai
profilaksis atau dengan mastektomi pada tumor jinak yang dikhawatirkan dapat
berkembang menjadi kanker pada daerah sekitar putting susu.
Terdapat beberapa faktor risiko pada penderita kanker kususnya karsinoma
payudara, yaitu:
a. Usia
Dari studi epidemiologi, diketahui bahwa usia penderita tergolong usia dimana
insidensi kanker payudara meningkat (30-50 tahun) (Lorraine M. Wilson, 2005).
Tingginya insidensi kanker payudara seiring usia terjadi akibat akumulasi mutasi genetic
dan mungkin juga penurunan kompetensi imunitas yang menyertai penuaan (Robbins
dan Kumar, 2007 )
b. Lingkungan
Terdapat paparan zat karsinogen di lingkungan tempat penderita setiap hari
bekerja. Etilen oxida sering digunakan di perusahaan tekstil dan senyawa ini merupakan
zat karsinogen yang turut menjadi faktor risiko terjadinya kanker payudara. Sealin itu,
suami penderita adalah perokok berat dan besar kemungkinan penderita menjadi perokok
pasif. Dalam rokok terdapat beberapa zat karsinogen pemicu kanker, antara lain:
benzoapiren (sebagai hasil dari pembakaran tembakau dalam suhu tinggi) dan senyawa
nitroso yang terdapat dalam asap rokok (Robbins dan Kumar, 2007).
c. Riwayat penyakit terdahulu
Faktor lain yang menyebabkan insidensi tingginya kanker payudara adalah
riwayat penyakit tumor terdahulu. Apabila pengangkatan tumor jinak pada peyudara
kanan penderita tidak bersih, sel-sel tumor yang masih tersisa sangat mungkin untuk
tumbuh kembali (Lorraine M. Wilson, 2005).
d. Riwayat keluarga
Adanya riwayat keluarga yang pernah menderita kanker payudara juga
merupakan faktor risiko tingginya angka insidensi. Apabila ibu atau kakak perempuan
pernah menderita kanker patudara, maka risiko terserang kanker payudara bagi penderita
adalah 6 kali lipat (Lorraine M. Wilson, 2005). Insidensi neoplasma berkaitan dengan
proses pengaturan pertumbuhan sel yang dikendalikan oleh gen-gen tertentu yang apabila
terjadi mutasi pada gen-gen tersebut sel akan berproliferasi terus-menesrus dengan
menghiraukan sinyal keseimbangan.
(Patologi Kumar)
e. Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker
payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua,
dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah
bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur
saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara.
Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya
umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga
diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.
f. Penggunaan hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari
Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker
payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu
metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada
pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama
mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause. Sel-sel
yang sensitive terhadap rangsangan hormonal mungkin mengalami perubahan degenerasi
jinak atau menjadi ganas.
g. Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan
risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit
meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga
5 kali.
h. Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan
kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di
negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
i. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker
payudara. Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi
lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34
sampai 59 tahun.
j. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan
terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan
bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat
terjadinya eksposur.
Maaf sumbernya dari wikipedia,kalau mau dimasukkan silahkan.
Strategi pencegahan
Pada prinsipnya, strategi pencegahan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar,
yaitu pencegahan pada lingkungan, pada pejamu, dan milestone. Hampir setiap epidemiolog
sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah
promosi kesehatan dan deteksi dini. Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang
dilakukan antara lain berupa:
A. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi
kesehatan karena dilakukan pada orang yang "sehat" melalui upaya menghindarkan diri
dari keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat.
Pencagahan primer ini juga bisa berupa pemeriksaan SADARI (pemeriksaan payudara
sendiri) yang dilakukan secara rutin sehingga bisa memperkecil faktor risiko terkena
kanker payudara.


B. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki risiko untuk
terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal
merupakan populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan
melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan.
Skrining melalui mammografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua penderita kanker
payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mammografi pada wanita yang sehat
merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Karena itu, skrining
dengan mammografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan antara lain:
Wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer risk
assessement survey.
Pada wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk dilakukan mammografi
setiap tahun.
Wanita normal mendapat rujukan mammografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia
50 tahun.
Foster dan Constanta menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih
sedikit pada wanita yang melakukan pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara
Sendiri) dibandingkan yang tidak. Walaupun sensitivitas SADARI untuk mendeteksi
kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mammografi maka sensitivitas
mendeteksi secara dini menjadi 75%.
C. Pencegahan tertier
Pencegahan tertier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecatatan dan memperpanjang harapan hidup
penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita
serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan
dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup
penderita. Bila kanker telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan
sitostatika. Pada stadium tertentu, pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik
dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif.
Maaf sumbernya dari wikipedia,kalau mau dimasukkan silahkan.