Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN ALP

Uji Fungsi hati merupakan salah satu pemeriksaan kimia klinik yang seringdiminta oleh
para dokter klinisi. Hal ini dikarenakan peran ahti yang sebagi organ tubuh yang penting, dan
penyakit yang mengenai hati atau berkaitan dengan perubahan fungsi hati cukup sering dijumpai.
Fungsi hati yang merupakan organ pusat metabolism banyak macamnya. Karena itu uji fungsi
hati juga banyak jenisnya. Untuk menilai fungsi hati, mendeteksi adanya gangguan dan
menegakkan diagnosisnya diperlukan pemahaman tentang fungsi hati, jenis uji fungsi hati, dan
patofisiologi jenis-jenis penyakit hati. Umumnya pemeriksaan dilakukan dengan beberapa jenis
uji fungsi hati sebagai suatu panel. Salah satu pemeriksaan fungsi hati yang sering dilakukan
adalah pemeriksaan ALP.
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama
oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus,
tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase
alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada
saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang. Enzim ALP biasanya hadir dalam konsentrasi tinggi
pada darah yang tumbuh dan empedu dan dalam konsentrasi rendah pada darah. Fosfatase alkali
dilepaskan ke dalam darah dalam jumlah yang meningkat selama kerusakan sel-sel hati seperti
pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakit-penyakit radang,
regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik dan selama aktivitas normal seperti
pertumbuhan tulang dan kehamilan. Tingkat abnormal rendah fosfatase alkali hadir dalam
kondisi genetik dan hipotiroidisme. Zat ini diukur dalam tes darah rutin. Pada kelainan tulang,
kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik (pembentukan sel tulang) yang
abnormal. Jika ditemukan kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal
ini adalah normal akibat pertumbuhan tulang.
Pada Praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan kadar ALP (alkaline phosphatase),
dengan metode kolorimetri menggunakan alat spektrofotometer, berdasarkan prinsip yakni
Alkali phosphatase mengkatalisa dalam media alkali yang mentransfer p-nitrophenylphospate
menjadi p-nitrofenol. Kenaikan p-nitrofenol diukur secara fotometri pada panjang gelombang
405 nm yang sebanding dengan aktifitas alkali phosphatase dalam sampel. Sampel yang
digunakan adalah sampel serum dengan kode sampel 1. Hal yang petama yang harus dilakukan
adalah menggunakan alat pelindung diri dengan baik dan benar karena sampel yang digunakan
merupakan sampel yang infeksius. Disiapkan dua buah tabung, tabung pertama sebagai blanko
yang berisi aquades. Tabung yang kedua sebagai tes yang berisi 1000 l monoreagen ALP FS
kemudia ditambah 20 l sampel serum. Kemudian ditunggu selama 1 menit untuk membiarkan
agar reaksi berlangsung optimal, setelah 1 menit dimasukkan ke dalam kuvet dan diukur
absorbansi pada panjang gelombang 405 nm. Absorbansi diukur selama 1 menit, 2 menit dan 3
menit berikutnya. Pada praktikum kali ini diperoleh nilai absorbansi :
Menit Absorbansi Pada
panjang gelombang
405 nm
1 menit 0,337
2 menit 0,340
3 menit 0,347

Setelah diperoleh nilai absorbansi dai menit ke 1 sampai ke 3, dilakukan perhitungan kadar ALP
pada serum dengan menggunakan rumus :
ALP = hasil pengukuran x factor pengali pada pangjang gelomabang 405 nm
= 0,005 x 3433
= 17,165 u/l
Sesuai perhitungan diperoleh kadar ALP (alkali phosphate) pada sampel kode 1 yakni
17,165 u/l. Nilai normal kadar ALP untuk orang dewasa adalah <170 u/l. Dari hasil tersebut
maka pasien sampel kode 1 memilki kadar ALP normal.
Syarat bahan pemeriksaan :
- Spesimen terbaik : Serum
- Tidak berasal dari darah yang hemolis
- Bila pemeriksaan akan ditunda serum disimpan 2-8C
- Penundaan pemeriksaan tdk boleh lebih dari 2 hari
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
1. Sampel hemolisis,
2. Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),
3. Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai normalnya,
4. Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP), meningkatnya kadar
ALP terjadi karena pada usia muda tulang sedang mengalami proses petumbuhan sehingga
kadar ALP meningkat.
5. Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat meningkatkan kadar
ALP.