Anda di halaman 1dari 14

KANKER SERVIKS

1. EPIDEMIOLOGI
Kanker serviks mempunyai insidensi yang tinggi di negara-negara yang
sedang berkembang, yaitu menempati urutan pertama, sedang di negara maju
menempati urutan kesepuluh, atau secara keseluruhan menempati urutan kelima.
Berdasarkan data dari 13 pusat patologi tahun 1990 di ndonesia dari 13!"" kasus
pada pria dan #anita, kanker serviks mempunyai $rekuensi tertinggi yaitu %&'
atau 3!' dari 10%33 kasus pada #anita saja
1
.
(ata dari beberapa gabungan rumah sakit di ndonesia menunjukkan
$rekuensinya juga paling tinggi yaitu 1!', disusul oleh hati atau hepatoma )1%'*,
payudara )10'*, paru )9'*, kulit )&,+'*, naso$aring )&'*, K,B )!,0'*, leukemia
)+'*, usus besar )",+'*. -mumnya insidens kanker serviks sangat rendah
diba#ah umur %0 tahun, dan sesudahnya menaik dengan cepat dan menetap
sesudah umur +0 tahun
1
.
.pidemiologi meningkatnya resiko kanker serviks dan displasia pre
kanker adalah hubungan seks pertama pada usia muda dan pasangan seks yang
berganti-ganti
%
.
2. DEFINISI
Kanker adalah istilah umum untuk semua tumor ganas. /ada dasarnya
kanker dibagi dua yaitu karsinoma dan sarkoma. 0umor ganas yang berasal dari
sel epitel disebut karsinoma sedangkan yang berasal dari jaringan mesenkim
disebut sarkoma
%
..
3. ETIOLOGI
/ada tahun 1910-an menjadi jelas bah#a 2uman /apilloma 3irus )2/3*
terutama tipe 1! dan 11 sangat erat berhubungan dengan keganasan serviks. 2/3
adalah virus (45 yang menimbulkan proli$erasi pada permukaan epidermoid dan
mukosa. n$eksi virus papilloma sering terdapat pada #anita yang akti$ secara
seksual
1
.
(ari studi epidemiologi, kanker serviks skuamosa berhubungan erat
dengan perilaku seksual seperti multiple mitra se6 dan usia saat melakukan
hubungan seks yang pertama. 7esiko meningkat lebih dari 10 kali bila multiple
mitra se6 enam atau lebih atau hubungan seks pertama diba#ah umur 1+ tahun.
7esiko juga meningkat bila berhubungan dengan pria beresiko tinggi atau yang
mengidap kondiloma akuminata
1
.
0embakau mengandung bahan-bahan karsinogenik baik yang dihisap
sebagai rokok, sigaret atau dikunyah. 5sap rokok menghasilkan polisiklik
aromatic hidrikarbon heterosiklik amin yang sangat karsinogenik dan mutagen,
%
sedang bila dikunyah menhasilkan nitrosamine. Bahan yang berasal dari
tembakau yang dihisap terdapat di getah serviks #anita perokok dan dapat
menjadi ko karsinogen in$eksi virus. 5li dkk bahkan membuktikan bahan-bahan
tersebut dapat menyebabkan kerusakan (45 epitel serviks sehingga dapat
menyebabkan neoplasma seviks
1
.
(ari beberapa penelitian ternyata de$isiensi asam $olat, vitamin 8, vitamin
., 9 karoten:retinol dihubungakn dengan peningkatan resiko kanker serviks.
3itamin ., 8 dan 9 karoten mempunyai khasiat sebagai antioksidan yang kuat.
;ksidan dapat melindungi (45 aau 745 terhadap pengaruh buruk radikal bebas
akibat oksidasi karsinogen bahan-bahan kimia
1
.
4. KLASIFIKASI
Berdasarkan gambaran histopatologi, kanker serviks terbagi atas
3
<
1. 0umor epitel<
a. 8arcinoma .pidermoid
b. 5denocarcinoma
%. =arkoma
3. >elanoma malignant
". Kanker metastase
+. =mall 8ell 8arcinoma
3
5. PATOGENESIS
/ada kanker serviks, genom 2/3 ) 2/3 1! dan 2/3 11* terintegrasi ke
dalam genom tuan rumah. 2al ini menyebabkan dua produk virus yaitu .! dan
.& yang berpotensi onkogenik mengalami overekspresi yang berperan dalam
trans$ormasi sel tuan rumah. .! berikatan dengan /+3 yang menyebabkan
inaktivasi dan .& berikatan dengan 7B yang berakibat degradasi gen tersebut.
2al ini pada akhirnya mengganggu siklus sel normal yang menjadi a#al
terjadinya neoplasma
%
.
Kanker serviks biasanya didahului oleh displasia serviks atau neoplasia
intraepithelial serviks ) 4= *. 4= diklasi$ikasikan menurut derajat maturasi
epitel dan distribusi atipia sitologis
%
<
1. 4= )termasuk kondiloma*, bila atipia mendominasi lapisan sel
super$icial )koilositosis*, dengan dipertahankannya maturasi epitel.
%. 4= , bila atipia mendominasi lapisan super$icial dan lapisan sel basal,
tetapi dengan berkurangnya maturasi.
3. 4= , bila atipia terdapat di seluruh lapisan sel, tapi dengan maturasi
mjinimal atau tanpa maturasi ) karsinoma in situ*.
7esiko berkembangnya 4= menjadi keganasan sesuai dengan derajat 4=,
tetapi laju progresi$itas tidaklah sama. Karsinoma in situ jelas merupakan
precursor karsinoma invasi$, &0' #anita dengan karsinoma in situ yang tidak
diobati akan berkembang menjadi karsinoma invasi$
%
.
"
Figur 1 : Patog!"i" Kar"i!o#a Sr$i%"
+
&. GE'ALA KLINIS
=ekitar 9%' dari penderita tidak mepunyai keluhan apa-apa. 0etapi kalau
ada, ditemukan keluhan ? keluhan seperti <
Pr(ara)a!
/erdarahan pervaginam adalah keluhan yang paling sering ditemukan pada
pasien dengan kanker serviks. 0erutama merupakan perdarahan post koitus, dan
dapat juga berupa perdarahan irregular atau perdarahan postmenopause
3
.
K*uti)a!
Biasanya menyerupai air, kadang ? kadang timbulnya sebelum ada
perdarahan terutama adenokarsinoma. /ada stadium lebih lanjut, perdarahan dan
keputihan lebih banyak, disertai in$eksi , sehingga cairan yang keluar berbau
+
.
P#ri%"aa! Fi"i%
/ada pemeriksaan $isik secara umum, kelenjar getah bening
supraklavikular dan groin harus dipalpasi untuk menyingkirkan adanya
metastase
3
.
/ada pemeriksaan pelvis, spekulum dimasukkan kedalam vagina untuk
melihat penyebaran penyakit dan serviks diinspeksi untuk melihat daerah yang
mencurigakan
3
.
!
/emeriksaan bimanual dapat memperlihatkan suatu serviks yang keras,
iiregular, membesar yang menjadi ter$iksasi karena tumor menyebar ke
parametrium. /emeriksaan rektovaginal adalah cara terbaik untuk menilai
penyebaran ke parametrium dan posterior
"
.
.
+. PEMERIKSAAN PEN,N'ANG
1
Sito-ogi
(engan teknik papanicolau , sel ? sel yang berasal dari eks$oliasi serviks
diambil dan di#arnai secara khusus dan sel ? sel yang abnormal dapat terlihat di
ba#ah mikroskop
1
.
Ko-*o"%o*i
-ntuk menegakkan diagnosis de$initive, diperlukan pemeriksaan dengan
kolposkopi dan pemeriksaan /5. (engan kolposkopi, metaplasia skuamosa
in$eksi 2/3, 4= akan terlihat putih dengan asam asetat dengan atau tanpa
corakan pembuluh darah. @2; mengajukan semua tingkat 4=, K=, dan invasi$
harus dikon$irmasi secara histologik. Kalau tidak ada kolposkopi, sedang kanker
invasi$ tidak dapat disingkirkan dengan biopsi, maka perlu dilakukan konisasi
1
.
P#ri%"aa! Vi"ua- La!g"u!g
/ada daerah dimana $asilitas pemeriksaan sitologi dan kolposkopi tidak
ada maka pemeriksaan visual langsung, dapat digunakan untuk mendeteksi kanker
secara dini
1
.
&

Aigur % < ,ambaran karsinoma serviks
Sr$i%ogra.i
=ervikogra$i dapat digunakan sebagai metode yang baik untuk skrining
massal, lebih-lebih di daerah dimana tidak ada seorang spesialis sitologi, maka
kombinasi servikogram dan kolposkopi kelihatannya merupakan keharusan
1
.
Gi!"%o*i
=uatu teleskop monokuler, dengan pembesaran %,+ dapat digunakan untuk
meningkatkan skrining dengan sitologi. Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat
disarankan bila tampak daerah be#arna putih dengan pulasan asam asetat
1
.
/. SKRINING
(alam hal kanker serviks yang sampai saat ini di indonesia masih
menduduki tempat yang tertinggi . =itologi memberikan peluang yang besar
untuk menemukan kelainan ini dalam stadium yang sangat dini. 2al ini dapat
dicapai bila #anita dengan resiko tinggi secara teratur melakukan skrining
1
dengan pemeriksaan sitologi apusan serviks atau yang lebih dikenal dengan nama
B /ap-smearB atau B/ap-tesB. (engan meluasnya pemeriksaan sitologik serviks
pada masyarakat , kanker serviks invasi$ dengan nyata menurun
1

/rogram skrining selain bertujuan untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas juga harus memenuhi beberapa kriteria yaitu
1
<
1. mempertimbangkan $aktor biaya
%. daapt mencapai golongan tidak mampu
3. penyakit $atal, morbiditas lama, cara pengobatan pada $ase prekanker lebih
e$ekti$ daripada bila sudah ada symptom, prevalensi kanker tinggi
". sensitivitas dan sesuai antara jenis tes dan populasi yang diskrin
-mur juga merupakan pertimbangan dalam menentukan saat skrining
dimulai. (i negara maju dan berkembang insidens kanker invasi$ meningkat
sampai umur 3+ tahun, dan menetap sampai umur !0 tahun dan sesudahnya
menurun. 5tas dasar hal-hal tersebut diatas, dan dengan mempertimbangkan
cost-effective maka @2; menyarankan sebagai berikut
1
<
1. =krining pada setiap #anita sekali dalam hidupnya pada #anita berumur
3+-"0 tahunC
%. Kalau $asilitas tersedia, lakukan setiap 10 tahun pada #anita berumur 3+-
++ tahunC
3. Kalau $asilitas tersedia lebih, maka lakukan setiap + tahun pada #anita
berumur 3+-++ tahunC
9
". deal atau jad#al yang optimal, setiap 3 tahun pada #anita berumur %+-!0
tahun.
0. Stagi!g
4
K-a"i.i%a"i o-) FIGO
=istem staging yang digunakan pada saat ini adalah Bclinical stagingB berdasarkan
prosedur nternational Aederation o$ ,ynaecology D ;bstetric )A,;* seperti
berikut <
=tage 0 < karsinoma in situ
=tage < karsinoma terbatas pada serviks
=tage a < karsinoma invasi$ hanya teridenti$ikasi secara mikroskopis
=tage a1 < kedalaman invasi E 3 mm dan lebarnya F & mm
=tage a% < kedalaman invasi G 3 mm dan E + mm, dan lebarnya F & mm
=tage b < lesi klinis terbatas pada serviks atau lesi preklinis lebih besar dari stage
a
=tage b1 < Hesi klinis berukuran E " cm
=tage b% < Hesi klinis berukuran G "cm
=tage < Karsinoma menyebar ke sekitar serviks dan melibatkan vagina ) tidak
lebih dari %:3 bagian atas vagina * dan atau telah mengin$iltrasi
parametrium ) tetapi tidak mencapai dinding pelvis *
=tage a < Karsinoma melibatkan vagina tanpa melibatkan parametrium
=tage b < Karsinoma telah mengin$iltrasi parametrium
10
=tage < Karsinoma melibatkan 1:3 bagian ba#ah vagina dan atau menyebar ke
dinding pelvis )tidak ada celah antara tumor dan dinding pelvis*.
=tage a < Karsinoma sampai menyebar ke 1:3 bagian ba#ah vagina.
=tage b < Karsinoma meluas ke dinding pelvis dan:atau hydrone$rosis atau atau
ginjal yang tidak ber$ungsi menjadi ureterostenosis yang disebabkan
oleh tumor.
=tage 3a < Karsinoma termasuk mukosa dari kandung kencing atau rektum
dan:atau menyebar ke dinding pelvis.
=tage 3b < >enyebar ke organ yang jauh.
11. TERAPI
/rinsip pengobatan pada kanker serviks sama dengan prinsip pengobatan
pada keganasan yaitu mengobati lesi primer dan daerah penyebarannya. (ua
macam pengobatan yang digunakan adalah operasi dan radioterapi. (imana
radioterapi dapat digunakan pada semua stadium penyakit sementara operasi
hanya digunakan pada pasien stadium dan
3
.
0abel. 1. ;perasi (ini /ada Kanker =erviks
=tage a1 nvasi E 3 mm
0idak ada invasi melalui
lim$atik-vaskular
(engan invasi pada
melalui lim$atik-vaskular
Konisasi
0ipe histerektomi
0ipe atau
histerektomi dengan
diseksi K,B pelvis
=tage 1a% nvasi G3-+mm 0ipe histerektomi
11
dengan lim$adenektomi
pada pelvis
=tage b nvasi G + mm 0ipe histerektomi
dengan lim$adenektomi
pada pelvis.
7adioterapi dapat digunakan untuk mengobati semua stadium kanker
serviks dengan tingkat kesembuhan sekitar &0' untuk stadium , !0' untuk
stadium , "+' untuk stadium dan 11' untuk stadium 3
3
.
7adioterapi dan operasi adalah cara utama yang dapat mengobati kanker
serviks , tetapi kemoterapi dapat menyebabkan regresi tumor. 7espon yang baik
terhadap kemoterapi hanya terjadi pada #anita yang juga berespons baik terhadap
radioterapi
".
11. Prog!o"i"
2
/rognosis kepada penderita karsinoma serviks bervariasi tergantung pada
staging karsinoma serviks, metode pengobatan yang digunakan, pengalaman oleh
radioterapis dan tim bedah yang melakukan operasi pada penderita tersebut.
=ecara ilustrasi B+-year survival rate< untuk penderita karsinoma serviks adalah
seperti berikut <
=tage < G 1+'
=tage < +0'
=tage < %+'
=tage 3 < +'.
1%
DAFTAR P,STAKA
1. /erhimpunan ;nkologi ndonesia. /encegahan dan (eteksi (ini /enyakit
Kanker. - /ress Iakarta < 199!.
%. Kumar, 7obins. (asar /atologi /enyakit. .disi +. .,8 < 199!
3. Berek =,I. 4ovakJs ,ynecology. 1%
th
edition. @illiams D @ilkins < 199!.
". 8hamberlain ,, /hilip I =teer. 0urnbull,s ;bstetrics. 3th edition. 8hurchill
Hivingstone < %00%.
+. Bagian ;bstetri dan ,inekologi Aakultas Kedokteran -niversitas /adjadjaran2<
,inekologi. B.lstar ;$$setB. 199&. Bandung.
13
1"