Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai
suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan
penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penlitian. Dalam
rancangan perencaan dimulai dengan megadakan observasi dan evaluasi terhadap
penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, sampai pada penetapan kerangka
konsep dan hipotesis penelitian yang perlu pembuktian lebih lanjut. Rancangan
pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan
serta memilih pengukuran variabel, prosedur dan teknik sampling, instrument,
pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, dan pelaporan hasil penelitian.
Secara umum desain penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Untuk mendapatkan data
yang langsung valid dalam penelitian sering sulit dilakukan, oleh karena itu data
yang telah terkumpul sebelum diketahui validitasnya, dapat di uji melalui
pengujian reliabilitas dan obyeksitas. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka-angka. Angka-
angka tersebut digunakan sebagai representasi dari informasi yang didapatkan
dalam penelitian.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas dapat diuraikan rumusan
masalah, diantaranya:
1. Apa defenisi desain penelitian ?
2. Apa tujuan desain penelitian ?
3. Apa klasifikasi desain penelitian ?
5. Apa hal yang harus diperhatikan dalam desain penelitian ?


2

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Memahami defenisi desain penelitian.
2. Mengetahui tujuan desain penelitian .
3. Memahami klasifikasi desain penelitian.
4. Mengetahui hal yang harus diperhatikan dalam desain penelitian.

























3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Desian Penelitian
Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam
waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang
berlaku untuk dapat menghasilkan suatu penelitian yang baik. Untuk dapat
menghasilkan penelitian yang baik, maka dibutuhkan desain penelitian untuk
menunjang dan menberikan hasil penelitian yang sistematik.
Desain penelitian adalah suatu rancangan bentuk atau model suatu
penelitian. (Ibnu subyanto : 1990;10)
Desain penelitian adalah perencanaan, struktur dan strategi penelitian
dalam rangka mengendalikan penyimpangan yang mungkin terjadi dan
menjawab pertanyaan yang mungkin terjadi.
Desain penelitian merupakan sebuah rancangan bagaimana suatu
penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut digunakan untuk mendapatkan
jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang dirumuskan. Dalam sebuah desain
penelitian biasanya dijelaskan bagaimana data atau informasi dikumpulkan,
mekanisme kontrol dilakukan, dan upaya peningkatan validitas penelitian.
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam
perencanaan dan pelaksanaan penelitian, yang membantu penelitian dalam
pengumpulan dan menganalisis data.
Adapun desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar adalah
rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti
empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Definisi lain mengatakan bahwa desain (design) penelitian adalah rencana
atau rancangan yang dibuat oleh peneliti, sebagai ancar ancar kegiatan yang
akan dilaksanakan
Dalam pengertian yang lebih luas, design penelitian mencakup proses-
proses berikut :

4

a) Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian
b) Pemilihan kerangka konsepsual
c) Memformulasikan masalah penelitian dan membuat hipotesis
d) Membangun penyelidikan atau percobaan
e) Memilih serta member definisi terhadap pengukuran variabel-variabel
f) Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan
g) Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data
h) Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosesing data
i) Menganalisa data dan pemilihan prosedur statistik
j) Pelaporan hasil penelitian

2.2 Tujuan Desain Penelitian
Desain penelitian mempunyai peranan yang sangat penting, karena
keberhasilan suatu penelitian sangat dipengaruhi oleh pilihan desain atau model
penelitian.
Desain penelitian mempunyai tujuan diantaranya yaitu:
1. Mengendalikan penyimpangan yang mungkin terjadi
2. Menyediakan jawaban-jawaban yang diperlukan dalam penelitian

2.3 Klasifikasi Desain Penelitian
1. Ragam Desain Penelitian Menurut Tujuannya
Ditinjau dari tujuan penelitian, desain penelitian biasa dibedakan dalam
tiga macam riset, yaitu riset eksploratif, deskriptif dan inferensial. Tetapi dalam
perkembangannya kemudian muncul dua macam riset yang lain yaitu riset
evaluatif dan verivikatif.
a. Riset Eksploratif
Sesuai dengan arti katanya, merupakan suatu kegiatan pemelitian yang
bertujuan untuk menggali informasi atau data sebanyak-banyaknya dan
seluas-luasnya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala atau
obyek yang diteliti.
5

Data yang dikumpulkan atau diperlukan dalam penelitian ini umumnya
bersifat longitudinal. Tetapi tidak jarang penelitian eksploratif juga sebagai
riset sekali tembak atau cross section.
Sesuai dengan tujuannya, riset eksploratif memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Lebih banyak menggunakan data sekunder, dibanding data primer. Bahkan
seringkali terkesan sebagai studi pustaka.
2. Karena lebih banyak menggunakan data sekunder seringkali
keterandalannya diragukan.
3. Draft laporan penelitian perlu dipublikasikan terlebih dahulu untuk
memperoleah kritik baik interrnal maupun eksternal.

b. Riset Deskriptif
Riset deskriptif merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
menjelaskan, merinci atau membuat deskripsi terhadap suatu gejala atau
obyek yang diteliti dengan menggunakan data yang diperoleh dengan seklali
tembak atau cross sectional.
Dalam arti sempit, deskriptif dapat diartikan sebagai penelitian yang
hanya menunjukkan gambaran, uraian, atau rincian tentang gejala yang
diteliti. Tetapi dalam arti luas lebih jauh menceritakan hubungan atau
keterlibatan antar gejala, serta seberapa jauh terdapat kesepakatan atas hasil
yang disampaikan. Dengan demikian, dapat dirumuskan tentang
kecenderungan-kecenderungan, atau implikasi kegiatan yang perlu dilakukan.

c. Riset Inferensial
Jika riset deskriptif hanya berusaha membuat rincian atau deskripsi
untuk menjelaskan suatu gejala yang diteliti, riset inferensial lebih bersifat
untuk pengambilan keputusan atau menguji hipotesis terutama yang dilakukan
melaui riset eksperimental.


6

d. Riset Komparatif, Riset Korelasional, Dan Riset Kausal
Riset komparatif adalah penelitian yang bertujuan untuk
membandingkan gejala atau keadaan yang dapat ditemui pada objek penelitian
yang berbeda, untuk kemudian dilakukan analisis tentang seberapa jauh
terdapat perbedaan yang signifikan antara gejala atau variabel penelitian yang
diteliti.
Riset korelasional merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merinci
dan menjelaskan seberapa jauh timbal balik antar variabel yang diteliti,
sedangkan riset kausal dilakukan bertujuan untuk menjelaskan gejala sebab
akibat yang bersifat searah.
Meskipun bertujuan membandingkan, melihat hubungan timbal balik
maupun mengkaji terjadinya sebab akibat, ketiga penelitian tersebut dapat
didesain sekadar sebagai penelitian deskriptif ataupun penelitian inferensial.

e. Riset Evaluatif
Merupakan riset yang dilakukan untuk melakukan evaluasi terhadap
suatu kegiatan yang belum, sedang maupun telah dilaksanakan. Dalam
pelaksanaanya riset evaluatif dapat bersifat deskriptif maupun inferensial.
Meskipun demikian sebaiknya didesain sebagai riset inferensial yang
dilengkapi hipotesis.

f. Riset Verifikatif
Adalah suatu kegiatan penelitian ulangan yang ditujukan untuk
mengkaji ulang atau mengkaji kembali hasil penelitian serupa yang pernah
dilakukan pada lokasi yang sama atau pada lokasi yang berbeda. Karena itu,
kaji ulang yang dimaksud di sini dapat berdimensi waktu dan atau berdimensi
ruang.
Dalam banyak kasus, kegiatan pengulangan terhadap penelitian yang
pernah dilakukan dianggap sebagai penjiplakan atau plagiat, untuk itu pada
penelitian ini diperlukan kejujuran peneliti tewntang upaya peneloitian yang
akan dilakukan.
7

2. Ragam Desain Penelitian Menurut Data Yang Akan Dikumpulkan
Desain penelitian dapat dibedakan dalam : riset sekali tembak (one
Shoot), riset longitudinal (time series), dan cross sectional research yang
merupakan gabungan dari keduanya.
a. Riset Longitudinal
Biasanya diterapkan pada riset historis yaitu suatu kegiatan penelitian
melalui pengamatan atau pengumpulan data selama rentang waktu tertentu
terhadap obyek yang sama dengan tujuan untuk mengetahui perubahan yang
terjadi atau yang ditunjukkan oleh obyek penelitian dari waktu ke waktu.
Biasanya dilakukan terhadap studi tentang perubahan perilaku, karena
akan diperoleh gambarab yang jelas tentang karakteristik perilaku individu
ataui kelompok masyarakat serta faktor-faktor yang memiliki pengaruh
terhadap terjadinya perubahan-perubahan tersebut.

b. Riset Sekali Tembak (One Shoot)
Merupakan penelitian yang memanfaatkan data yang dikumpulkan
pada waktu tertentu saja, dengan tujuan untuk mengetahui atau menjelaskan
keadaan suatu obyek yang terjadi pada saat dilakukan penelitian.

c. cross sectional research
Riset Cross Section sebenarnya sama dengan penelitian sekali tembak,
bedanya adalah pengumpulan datanya dilakukan beberapa tahap terhadap
obyek atau sub populasi yang berbeda.

3. Ragam Penelitian Menurut Sifat Datanya
Bersasarkan sifatnya dibedakan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian
kualitatif. Secara sederhana dibedakan menurut jenis data dan analisis data yang
akan dilakukan, yaitu :
1. Penelitian kuantitatif memusatkan pada pengumpulan data kuantitatif yang
berupa angka-angka untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan alat-
8

alat analisis kuantitatif yang berupa analisis statistika maupun dengan
perhitungan matematika.
2. Penelitian kualitatif, memusatkan perhatian pada pengumpulan data kualitatif
yang berupa informasi kualitatif yang disampaikan melalui lisan maupun
tertulis. Karena data yang dikumpulkan bersifat kualitatif, maka analisis
datanya juga dengan teknik kualitatif. Meskipun demikian dapat pula
dilakukan analisis kuantitaif dengan terlebih dahulu melakukan kuantifikasi
terhadap data kualitatif melalui pemberian nilai skor baik dengan skala
nominal maupun ordinal.
Dalam praktek seringkali terdapat kesalahkaprahan dalam penilaian
terhadap kedua jenis penelitian tersebut yaitu :
1. Penelitian kuantitatif seringkali dinilai lebih baik karena harus
memanfaatkan analisis kuantitatif yang sesuai dengan perkembangan
teknologi komputasi, cenderung semakin rumit dan harus menggunakan
bantuan komputer untuk mengabalisisnya.
2. Penelitian kualitatif seringkali dinyatakan sebagai pengganti penelitian
kuantitatif khususnya bagi peneliti sosial yang ketakutan atau tidak dapat
menggunakan analisis kuantitatif.
Pendapat seperti itu tentu saja tidak dibenarkan sebab masing-masing
memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Bahkan seringkali yang terbaik
adalah jika seseorang mampu menggabungkan kedua jenis penelitian tersebut
secara simultan.
Riset kuantitatif seringkali dipilih karena keunggulanya dalam arti mampu
memberikan penilaian yang lebih obyektif dan dapat digunakan untuk melakukan
prediksi yang lebih baik dengan menggunakan statistika atau metematika.
Sebaliknya, penelitian kualitatif lebih banyak dipilih karena memiliki keunggulan
dalam menjelaskan atau memberikan deskripsi tentang banyak hal seperti sifat-
sifat hubungan antar manusia, perubahan perilaku manusia terhadap suatu obyek
dan lingkungannya dan lain-lain.
9

Tentang hal ini Sutopo (1988) mencatat adanya beberapa karakteristik
penelitian kualitatif yang merupakan keunggulannya dibanding penelitian
kuantitatif yang perlu dipahami oleh para pengguna yaitu :
1. Riset kualitatif lebih dapat diandalkan dalam arti datanya dapat dipercaya
karena memilki natural setting dan hanya menggunakan data primer dari
pihak-pihak yang bersangkutan langsung atau setidaknya mengetahui. Riset
kualitatif lebih mengutamakan apa yang benar-benar terjadi dari sekedar
laporan. Riset kualitatif lebih mengutamakan keyakinan dalam arti peristiwa
yang diteliti adalah subyek masa kini dan bukan masa lampau.
2. Riset kualitatif terutama diarahkan untuk memberikan deskripsi melalui
informasi yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata.
3. Lebih mementingkan proses dari pada hasil, lebih mementingkan mengapa,
bagaimana, dan kapan daripada sekadar apa atau berapa yang terjadi.
4. Cenderung menggunakan analisis induktif sehingga teori yang
dikembangkan berangkat dari lapangan.
5. Lebih mengutamakan participant perspective sehingga semua instrumen dan
ukuran yang digunakan, dikembangkan dari lapangan.
Penelitian kuantitatif dilakukan jika kita telah memiliki informasi/asumsi-
asumsi tertentu dan data yang diperlukan dapat diperoleh dalam bentuk kuantitatif
atau kualitatif yang dapat dikuantifisir. Penelitian kuantitatif lebih tepat digunakan
untuk penelitian inferensial dengan menggunakan perameter yang
bersifat emik(dirumuskan berdasarkan teori/konsep/pengalaman empirik).
Penelitian kualitatif sebenarnya dilakukan untuk mengeksplorasi informasi
yang diperlukan, yang sulit dituangkan dalam bentuk
data kuantitatif.dalam penelitian kualitatif perlu dihindari perumusan atau
penggunaan asumsi-asumsi sebelum penelitian dilakukan karena asumsi yang
dirumuskan berdasarkan teori atau pengalaman empiris tidak selalu benar untuk
penelitian yang akan dilakukan. Karena itu, penelitian kualitatif lebih tepat
digunakan untuk penelitian deskriptif dengan meanggunakan
parameater etik (berdasar fakta setempat).
10

Lebih jauh tentang penelitian kualitatif, dapat dikemukakan beberapa
catatan sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
Pengumpulan data lebih banyak dilakukan melalui wawancara secara
kelompok, karena itu peran pengumpul data lebih bersifat sebagai pemandu
wawancara dalam suatu pertemuan yang bersifat partisipatif.
Sehubungan dengan hal itu, sebelum melakukan kegiatan pengumpulan data,
calon pengumpul data harus menyiapkan diri untuk benar-benar memiliki
kemampuan sebagai pewawancara. Serta harus mengetahui karakteristik sosial
budaya masyarakat diwilayah penelitian agar benar-benar dapat diterima oleh
kelompok.

2. Pemilihan responden
Penetapan sampel lebih sering dilakukan secara purposive sehingga
responden yang terpilih adalah kelompok atau individu yang diyakini dapat
memberikan informasi yang diperlukan. Untuk memperoleh data yang handal
perlu diusahakan kelompok-kelompok responden yang relatif homogen terutama
menyangkut status sosialnya.
Jika hal tersebut sulit diupayakan, maka dalam pengumpulan data perlu
diperhatikan keragaman atau perbedaan karakteristik individu dalam setiap
kelompok.

3. Teknik wawancara
Dalam wawancara harus dihindari pertanyaan-pertanyaan yang cenderung
mengarahkan jawaban responden serta yang cenderung memperoleh jawaban
klise. Untuk memperoleh data yang efektif, kegiatan wawancara sebaiknya
dibatasi waktunya yaitu maksimal 2 jam.

4. Instrumen penelitian
Dalam penelitian kualitatif disarankan untuk tidak menggunakan daftar
pertanyaan tetapi cukup dengan panduan wawancara. Lebih lanjut, perlu dihindari
11

pertanyaan-pertanyaan tertutup dan usahakan pertanyaan terbuka agar responden
lebih bebas dalam mengemukakan informasinya bahkan informasi penting yang
sebelumnya belum terpikirkan oleh pengumpul data. Perhatikan kata-kata kunci
yang sesuai dengan tujuan penelitian dan hindari untuk cukup puas dengan
jawaban klise.

5. Data yang dikumpulkan
Selain memusatkan perhatian pada pengumpulan data kualitatif, data yang
dikumpulkan tidak cukup dari jawaban verbal tetapi juga data yang disampaikan
secara tidak langsung melalui bahasa tubuh.
Pengumpulan data jangan terlalu cepat percaya pada jawaban tetapi perlu
melakukan recheck atas semua informasiyang ditangkap terutama untuk menguji
konsistensi jawaban responden.

6. Analisis hasil penelitian
Analisis data dalam penelitian kualitatif sudah dapat dilakukan sejak perumusan
panduan diskusi/wawancara. Selain itu, draft hasil laporan perlu dikonfirmasikan
kembali dengan individu yang terlibat dalam penelitian.

4. Ragam Rancangan Penelitian Menurut Metodanya
Dalam banyak kepustakaan dijumpai adanya tiga macam metode dasar
yaitu historis, deskriptif dan eksperimental.
a. Riset Historis
Adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk membuat suatu
gambaran tentang masa lalu dan perkembangannya secara obyektif dan sistematis.
Hampir menyerupai studi pustaka karena lebih banyak mengandalkan data
sekunder yang lebih bersifat longitudinal sedangkan pengumpulan data primer
lebih banyak diarahkan untuk melakukan verifikasi dan evaluasi data sebelumnya.
Karena itu keterhandalan riset historis sangat tergantung pada kemampuan
peneliti untuk mensintesis bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh
kesimpulan yang kuat.
12

b. Riset Deskriptif
Berbeda dengan riset historis, penelitian deskriptif pada umumnya
menggunakan data sekali tembak atau cross section. Ditinjau dari tujuannya,
penelitian deskriptif dibedakan dalam :
1. Deskriptif korelasional, untuk melihat signifikansi hubungan antar
variabel.
2. Deskriptif Kausal, untuk melihat signifikansi sebab akibat antar variabel.
3. Deskriptif komparatif, untuk melihat signifikansi perbedaan antar obyek
atau variabel yang dicermati.
Dalam prakteknya, penelitian deskriptif dapat dilakukan menggunakan dua teknik
yaitu :
1. Teknik Survei, yang melibatkan obyek penelitian dengan populasi
yang relatif besar dengan memanfaatkan data sekali tembak.
2. Teknik Kasus, yang bertujuan melakukan kajian yang mendalam
terhadap obyek yang terbatas.

c. Riset Eksperimental
Merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menguji
kesignifikansian perlakuan-perlakuan tertentu dibanding kontrolnya. Dalam
hubungan ini rancangan penelitian dapat dibuat untuk membandingkan
antara with and without treatment atau before and after treatment.
Dalam desain eksperimen ada empat prinsip dasar yang perlu
diperhatikan, yaitu:
1. Penempatan subjek secara acak
2. Adanya perlakuan
3. Adanya mekanisme kontrol
4. Adanya ukuran keberhasilan
Dalam kenyataannya, penelitian eksperimental dibedakan dalam dua hal,
yaitu :
1. Eksperimen murni, yang semua perlakuannya dapat benar-bener dikontrol
dalam arti antar treatmen dapat benar-benar diisolir.
13

2. Eksperimen semu, yaitu penelitian eksperimen yang tidak mampu
mengontrol atau mengisolasi hubungan yang terjadi antar treatmen
sehingga terjadi perembesan. Penelitian ini terjadi manakala obyek
penelitian melibatkan manusia yang dalam banyak kasus sangat sulit
dikontrol.
Berkaitan dengan riset eksperimental ini dikenal adanya beragam
desain penelitian, seperti :
1. Rancangan Blok Acak sederhana
2. Rancangan Blok Acak Lengkap
3. Latin Square
4. Sarang Lebah
5. Dll

2.4 Jenis-jenis Desain Penelitian
Pengelompokkan desain penelitian yang menyeluruh belum dapat dibuat
dewasa ini, karena masing-masing ahli mengelompokkan jenis desain penelitian
sesuai dengan kondisi ilmuwan itu sendiri.
Ilmuwan McGrath (1970) mengelompokkan desain penelitian menjadi
lima, yaitu :
Percobaan dengan control
Studi (belajar)
Survey (pengamatan)
Investigasi (meneliti)
Penelitian tindakan
Sedangkan menurut Barnes (1964), desain penelitian dibagi menjadi :
Studi Sebelum Sesudah dengan kelompok control
Studi Sesudah Saja dengan kelompok control
Studi Sebelum Sesudah dengan satu kelompok
Studi Sesudah Saja tanpa control
Percobaan ex post facto

14

Shah (1972) mencoba membagi desain penelitian menjadi enam kenis, yaitu :
Desain untuk penelitian yang ada control
Desain untuk studi deskriptif dan analitis
Desain untuk studi lapangan
Desain untuk studi dengan dimensi waktu
Desain untuk studi evaluatif - nonevaluatif
Desain dengan menggunakan data primer atau data sekunder

Desain penelitian memiliki beragam jenis dilihat dari berbagai perspektif, antara
lain :
a) Desain penelitian dilihat dari perumusan masalahnya ;
Penelitian eksploratif
Penelitian uji hipotesis

b) Desain penelitian berdasarkan metode pengumpulan data ;
Penelitian pengamatan
Penelitian Survai

c) Desain penelitian dilihat dari pengendalian variabel-variabel oleh peneliti ;
Penelitian eksperimental
Penelitian ex post facto

d) Desain penelitian menurut tujuannya ;
Penelitian deskriptif
Penelitian komparatif
Penelitian asosiatif

e) Desain penelitian menurut dimensi waktunya ;
Penelitian Time Series
Penelitian Cross Section

15

f) Desain Penelitian dilihat dari lingkungan studi dapat dikelompokkan ;
Studi dan Eksperimen Lapangan
Ekspreimen Laboratorium

2.5 Ruang Lingkup Desain Penelitian
Ruang lingkup desain penelitian terdiri dari :
a) Penentuan Judul Penelitian
Penentuan judul penelitian sangat penting karena dapat mengetahui objek
penelitian, subjek apa yang akan diteliti, dimana lokasi penelitian, tujuan yang
ingin di capai dan sasarannya.
Ada beberapa petunjuk bagi seorang peneliti yang akan melakukan
penelitian dalam menentukan judul, yaitu :
Keterjangkauan
Ketersedian Data
Signifikansi Judul yang dipilih
Beberapa syarat yang diperlukan untuk memilih judul penelitian, yaitu :
Judul ditetapkan setelah peneliti mengetahui permasalahan pokok objek
yang akan diteliti
Judul penelitian mencerminkan keseluruhan isi penulisan
Judul harus mengemukakan kalimat singkat dan jelas

b) Penentuan masalah penelitian.
Masalah penelitian itu merupakan pedoman kegiatan penelitian. Dalam
penelitian, masalah berperan untuk mengarahkan kegiatan penelitian. Tanpa
rumusan masalah, peneliti akan kesulitan dalam pelaksanaan dan penulisan
penelitiannya.
Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah yaitu:
Masih berhubungan dengan judul utama
Mendukumg tujuan penelitian
Mengembangkan atau memperluas cara-cara pengujian suatu teori
Memberikan sumbangan terhadap metodelogi penenelitian
16

Menunjukan variable-variabel yang diteliti.

c) Penentuan tujuan penelitian.
Tujuan penelitian dapat mengarahkan peneliti untuk mencapai sasaran dan
target yang ingin dicapai. Tujuan penelitian terdiri dari tujuan utam dan tujuan
sekunder. Tujuan utama sangat erat kaitannya dengan judul dan masalah
penelitian, sedangkan tujuan sekunder sangat tergantung pada keinginan pribadi
seorang peneliti, dengan kata lain lebih bersifat subjektif bagi peneliti.

d) Penentuan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan namun perlu
menguji kebenarannya.
Ada beberapa cara untuk merumuskan hipotesis anatara lain yaitu sebagai berikut:
Hipotesis yang baik harus searah dan mendukung Judul, Masalah, dan
Tujuan Penelitian
Hipotesis harus dapat diuji dengan data empiris
Hipotesis harus bersifat spesifik
Dalam statistik dikenal ada dua macam hipotesis yaitu:
Hipotesis nol (H
0
): hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan dan tidak
ada perbedaan atau tidak ada pengaruh antara variabel yang satu dengan
variabel yang lain
Hipotesis alternative (H
a
): hipotesis yang menyatakan adannya
ketidaksamaan atau adanya perbedaan dan saling mempengaruhi anatara
variabel satu dengan variable yang lain

e) Penentuan populasi dan sampel penelitian.
Yang harus diperhatikan dalam menentukan sampel penelitian, adalah :
Tentukan populasi di daerah penelitian.
Tentukan jumlah sampel yang akan diteliti
Tentukan metode pengambilan sampel

17

f) Penentuan metode dan teknik pengumpulan data.
Metode pengumpulan data terdiri atas beberapa cara yaitu :
Observasi
Wawancara
Angket
Pengumpulan data skunder
Pengumpulan data melalui penginderaan jauh

g) Penentuan cara mengolah dan menganalisis data.

2.6 Hal Yang Perlu Diperhatikan
Hal yang perlu diperhatikan dalam rancangan atau desain penelitian :
- Rencana tentang sumber & tipe informasi yang relevan sesuai dengan
kebutuhan penelitian
- Strategi / gambaran pendekatan yang digunakan dalam pengumpulan &
analisa data
- Jadwal & anggaran penelitian yang diperlukan harus diuraikan secara jelas

2.7 Desain Dalam Merencanakan Penelitian
Dalam memecahkan masalah, desain dimulai dengan mengadakan
penyelidikan dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan
diketahui. Dari penyelidikan itu, akan terjawab bagaimana hipotesis dirumuskan
dan diuji dengan data yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah. Dari sini
pula dapat dicari beberapa petunjuk tentang desain yang akan dibuat untuk
penelitian yang akan dikembangkan.

2.8 Desain Pelaksanaan Penelitian
Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan atau
pengamatan serta memilih pengukuran,-pengukuran variabel, memilih prosedur
dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat
coding dan editing, serta memproses data yang telah dikumpulkan.
18

Suchman (1967) telah membagi desain dalam pelaksanaan penelitian,
yaitu :
Desain sampel
Desain alat (instrument)
Desain administrasi
Desain analisis

























19



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Desain penelitian adalah suatu rancangan bentuk atau model suatu
penelitian. (Ibnu subyanto : 1990;10)
Desain penelitian adalah perencanaan, struktur dan
strategi penelitian dalam rangka mengendalikan penyimpangan yang mungkin
terjadi dan menjawab pertanyaan yang mungkin terjadi.
Desain penelitian merupakan sebuah rancangan bagaimana suatu
penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut digunakan untuk mendapatkan
jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang dirumuskan. Dalam sebuah desain
penelitian biasanya dijelaskan bagaimana data atau informasi dikumpulkan,
mekanisme kontrol dilakukan, dan upaya peningkatan validitas penelitian.
Desain penelitian mempunyai peranan yang sangat penting, karena
keberhasilan suatu penelitian sangat dipengaruhi oleh pilihan desain atau model
penelitian.
Desain penelitian mempunyai tujuan diantaranya yaitu:
1. Mengendalikan penyimpangan yang mungkin terjadi
2. Menyediakan jawaban-jawaban yang diperlukan dalam penelitian

3.2 Saran
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan.
Kami tetap berharap makalah ini tetap memberikan manfaat bagi pembaca.
Namun, saran dan kritik yang sifatnya membangun dengan tangan terbuka kami
terima demi kesempurnaan di masa akan datang.