Anda di halaman 1dari 14

DERIVATIF DAN LINDUNG NILAI

disusun sebagai persyaratan untuk memenuhi


mata kuliah Pelaporan dan Analisi Laporan Keuangan



disusun oleh :

Anggi Octavia Irawan
Evanti Andriani



PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014




Secara umum perbedaan antara PSAK (2013) : Instrumen Keuangan :Pengakuan dan dan
Pengukuran dengan PSAK 55 (revisi2010) :Intrumen Keuangan : Pengakuan dan Pengukuran
sebagai berikut :










Penetapan pada nilai wajar melalui laba rugi
Nilai wajar adalah jumlah suatu aset dipertukarkan atau liabilitas diselesaikan, antara pihak-
pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi yang wajar
Derivatif melekat
Derivatif melekat merupakan suatu komponen dari instrumen yang mana di dalamnya termasuk
kontrak utama nonderivatif, yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen
gabungan bervariasi dengan derivatif yang berdiri sendiri. Derivatif melekat menyebabkan
sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak, dimodifikasi menurut
variabel yang telah ditentukan, antara lain: suku bunga, harga instrumen keuangan, harga
komoditas, kurs valuta asing, indeks harga atau indeks suku bunga, peringkat kredit atau indeks
kredit, atau variabel lain. Untuk variabel nonkeuangan, variabel tersebut tidak berkaitan dengan
pihak-pihak dalam kontrak. Derivatif yang dilekatkan pada instrumen keuangan tetapi dalam
kontraknya dapat dipindah tangankan secara terpisah dari instrumen keuangannya, atau dimiliki
oleh pihak lawan yang berbeda dari instrumen keuangannya, bukan merupakan derivatif melekat,
tetapi merupakan instrumen keuangan terpisah.

Pengakuan dan penghentian pengakuan
Penghentian pengakuan aset keuangan
- Transfer yang memenuhi kriteria
- penghentian pengakuan
Pengukuran
Pengukuran awal aset keuangan dan liabilitas
Keuangan
Pertimbangan pengukuran nilai wajar
- Pasar aktif: harga yang dikuotasikan
- Bukan pasar aktif: teknik penilaian
- Bukan pasar aktif: instrumen ekuitas
- Input dalam teknik penilaian
Lindung nilai
Instrumen lindung nilai
- Instrumen yang memenuhi kualifikasi
- lindung nilai
Akuntansi lindung nilai
Penilaian efektivitas lindung nilai.










STUDI KASUS PT. INDOSAT TBK.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atau Bapepam-LK menilai transaksi
derivatif berupa lindung nilai (hedging) PT. Indosat Tbk merupakan hal yang wajar dan tidak
ditemukan adanya pelanggaran. Tetapi, otoritas pasar modal tetap akan meneliti kasus Indosat
ini.
Berdasarkan keterangan dari direksi Indosat dan akuntan publik yang memeriksa laporan
keuangannya, langkah lindung nilai terhadap utang dollar AS perseroan adalah hal yang wajar
dan tak melanggar aturan. Itu dilakukan sebagai prinsip kehati-hatian terhadap fluktuasi kurs
rupiah, kata Fuad Rahmany, Ketua Bapepam.
Kasus Indosat mencuat pada tahun 2007 ketika anggota Komisi XI DPR, yang juga Wakil Ketua
Fraksi Partai Amanat Nasional Dradjad H Wibowo dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan
mengatakan, Indosat diduga berpotensi merugikan negara sebesar Rp 323 miliar akibat salah
kelola dalam transaksi derivatif pada tahun 2004-2006. Bapepam telah menelaah kasus ini.
Namun, dari akuntan publik, Ernst & Young telah menyatakan transaksi derivatif itu wajar.
Secara terpisah, Direktur Keuangan Indosat Wong Heang Tuck mengatakan, kebijakan lindung
nilai itu untuk mengelola potensi risiko dari fluktuasi kurs. Itu praktik umum yang dilakukan
perusahaan di seluruh dunia yang memiliki utang valas, sementara pendapatan usahanya dalam
mata uang lokal. Perseroan memiliki kebijakan lindung nilai paling sedikit 50 persen dari total
utang dalam denominasi dollar AS. Pada akhir triwulan I-2007, kewajiban jangka panjang
Indosat dalam dollar AS berjumlah 584 juta dollar AS. Sebanyak 400 juta dollar AS atau 69
persen di antaranya telah dilakukan program lindung nilai.
Kerugian derivatif, sebagaimana disebutkan dalam laporan keuangan tahun 2004 sampai 2006,
sebesar Rp 653 miliar. Porsi yang belum terealisasi merupakan transaksi atas nilai pasar wajar
(marked to market) yang berjumlah lebih dari 50 persen. Dalam hal lindung nilai ini, untuk sisi
utang kami mungkin merugi, namun dari sisi pendapatan kami meraih keuntungan. Jadi,
sebaiknya dilihat dari sisi kerugiannya saja.
Marwan Batubara Anggota DPD RI Sewaktu posisi Dirut Indosat kosong karena diangkatnya
Widya Purnama menjadi Dirut Pertamina (2004), pemerintah berupaya menempatkan pengganti.
Namun Temasek menolak. Komisaris Utama Indosat, Peter Seah, mengatakan, Posisi Dirut
Indosat dikosongkan karena calon-calon yang ada tidak memenuhi kualifikasi. Kita paham itu
memang hak Temasek sebagai pemegang saham mayoritas. Tapi hal ini dapat juga dianggap
menistakan kemampuan SDM Indonesia.
Sadarkah kita bahwa asing telah sedemikian menentukan pada sektor strategis negara? Meskipun
divestasi Indosat pada bulan Desember 2002 telah dilakukan dengan melanggar aturan, kita
belum melihat upaya menyeluruh untuk menuntaskannya. Justru kita tersentak dengan temuan
Anggota DPR Dradjad H Wibowo yang menyatakan bahwa transaksi derivatif Indosat berpotensi
merugikan negara hingga Rp 323 miliar. Kita khawatir temuan terbaru tentang Indosat inipun
akhirnya akan hilang tanpa penyelidikan yang tuntas. Me! Mengapa semua ini bisa terjadi? Kita
khawatir memang ada oknum yang terus melindungi dan bekerja untuk kepentingan Temasek.
Selalu mentok Saat Iluni UI Jakarta melaporkan kasus divestasi Indosat ke Kejaksaan Agung
pada awal 2003, kita menaruh harapan besar mengingat antusiasnya Tim Kejasaan Agung
meminta keterangan dan informasi. Namun setelah dua kali diundang ke Kejaksaan Agung, Iluni
justru diminta mendengarkan presentasi hasil penyidikan yang menyimpulkan tidak adanya
pelanggaran dan kerugian negara. Yang mengagetkan, Tim Kejagung menolak untuk
menyerahkan hasil penyelidikan tersebut kepada Iluni. Kejagung pun tidak pernah
menyampaikan kesimpulan penyelidikannya kepada publik. Selain kepada Kejagung, Iluni UI
juga mengajukan gugatan actio popularis 133 tokoh nasional ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
pada 2004. Gugatan ini ditolak dengan alasan konsep gugatan actio popularis tidak diatur dalam
perundang-undangan Indonesia. Gugatan kembali ditolak dengan alasan yang sama saat banding
diajukan ke Pengadilan Tinggi Jakarta (2005) dan kasasi ke Mahkamah Agung (2006).
Ketiga lembaga peradilan tersebut tidak pernah memeriksa esensi materi gugatan berupa
pelanggaran hukum dan kerugian negara, kecuali menolak karena tidak adanya aturan
perundangan. Padahal bentuk gugatan actio popularis sudah pernah (2002) diajukan oleh suatu
kelompok masyarakat dalam kasus TKI Nunukan, dan pengadilan memenangkan gugatan
tersebut. Sekarang KPPU sedang giat-giatnya menyelidiki dugaan pelanggaran terhadap UU No
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh
Temasek di Indosat dan Telkomsel. Kita mencatat banyaknya penolakan pakar dan pengamat
atas langkah itu. Ada pula yang menuduh KPPU ditunggangi oleh pihak tertentu. Bahkan ada
pula sejumlah berita yang menunjukkan pembelaan kepada Temasek. Mudah-mudahan KPPU
tetap tegar untuk menuntaskan tugasnya dan menghasilkan keputusan yang mengutamakan
kepentingan nasional. Kita tidak anti-investor asing dan tidak pula mengabaikan proses tender
yang telah dilakukan. Kita justru mendukung langkah-langkah tersebut demi perbaikan ekonomi,
sepanjang itu dilakukan sejalan dengan amanat konstitusi. Kita menolak keras oknum-oknum
yang melindungi investror asing yang telah melanggar hukum, termasuk yang bekerja menjadi
antek asing. Kita tidak sependapat dengan pernyataan tokoh dan beberapa tulisan yang
mengatakan pembelian saham Telkomsel dan Indosat telah melalui proses tender, dan harus
dihormati. Apakah disadari bahwa justru Temasek telah melakukan konspirasi jahat dan berbagai
pelanggaran hukum dalam divestasi Indosat? Saat ini tindakan manipulatif juga masih
berlangsung di perusahaan tersebut. Penggunaan ICL sebagai SPV dalam pembelian saham
Indosat jelas melanggar Pasal 90 UU No 8/1995. Mengapa para tokoh ini diam? Jangan-jangan
memang banyak orang-orang Indonesia yang bekerja untuk asing dengan berlindung di balik
berbagai alasan yang sengaja ditiupkan oleh investor asing bersama kompradornya untuk
mengamankan kepentingan. Dalam kasus transaksi derivatif Indosat, management letter dari
auditor eksternal Indosat (Earnst & Young) kepada manajemen Indosat, pada 2004 dan
2005, telah menyatakan bahwa Indosat tidak memiliki kebijakan formal manajemen risiko atas
transaksi derivatif yang dilakukan perusahaan. Akibatnya auditor tidak dapat menemukan adanya
dokumentasi formal atas analisis keefektifan aktivitas lindung nilai yang diklaim telah dilakukan.
Atas temuan tersebut, Earnst & Young sudah dua kali mengingatkan manajemen Indosat
untuk membenahi kebijakan formal manajemen risiko atas instrumen derivatif. Aktivitas hedging
Indosat yang tidak memenuhi persyaratan PSAK, tidak dapat dikategorikan sebagai hedging.
Oleh sebab itu, kita mempertanyakan pernyataan Ketua Bapepam, Fuad Rahmany, yang
mengatakan bahwa berdasarkan keterangan manajemen Indosat dan akuntan publik, disimpulkan
tidak ada pelanggaran (Investor Daily, 8 Juni 2007). Fuad mengatakan Bapepam akan menelaah
kasus tersebut. Kalau memang masih menelaah, mengapa dikatakan kesimpulan yang berisi
tidak ada pelanggaran? Apakah ini dilakukan dalam rangka menggiring opini untuk
kepentingan Temasek? Apakah Bapepam menilai wajar jika auditor sekelas Earnst &
Young sampai setiap tahun harus mengingatkan manajemen Indosat mengenai kelemahan
material yang terjadi dalam transaksi derivatif ini? Apakah Bapepam sudah memeriksa Earnst
& Young dalam kasus ini? Kita meminta Bapepam bekerja objektif dan independen dari
pengamanan kepentingan Temasek atas nama keamanan investasi asing. Meskipun Earnst
& Young sudah menyimpulkan bahwa transaksi derivatif Indosat bukan hedging, Direktur
Keuangan Indosat, Wong Heang Tuck, berkali-kali mencoba meyakinkan publik dan Bapepam
bahwa itu adalah hedging. Padahal kasus-kasus seperti ini telah membangkrutkan Bank Exim
akibat kerugian 2,23 miliar dolar AS (sekitar Rp 20 triliun), juga membangkrutkan Bank Duta
pada tahun 1991. Oleh sebab itu tidak salah jika banyak pakar menyatakan bahwa transaksi
derivatif seperti ini merupakan pelanggaran hukum berat yang pelakunya harus dipidanakan.
Prospek buram Kita perhatikan cukup banyak oknum yang secara sadar atau tidak, telah bekerja
untuk kepentingan asing dengan melanggar berbagai aturan dan mengabaikan kepentingan
negara. Hasilnya, berbagai sektor strategis kita sudah dukuasai asing, sehingga tidak dapat
mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, tidak
sedikit elemen masyarakat yang melakukan advokasi agar lembaga-lembaga terkait melakukan
perbaikan dan para oknum penyeleweng diusut tuntas dan dituntut secara hukum. Namun,
oknum-oknum yang memiliki jaringan luas, serta didukung oleh si penjajah itu demikian kuat
untuk dihadapi. Akibatnya, penjajahan tersebut akan terus berlangsung dan kita hanya akan
menjadi pekerja dan kuli di negeri sendiri. Bagaimanakah prospek penyelesaian kasus derivatif
dan penggelapan pajak Indosat? Tampaknya, kalau kita tidak punya harga diri kasus tersebut
akan lenyap seiring dengan berjalannya waktu. Ikhtisar Penyelesaian dugaan pelanggaran
hukum yang terj!
adi dalam penjualan Indosat belum terlihat bakal diselesaikan dengan serius. Beberapa upaya
hukum yang ditempuh banyak pihak selalu menemukan jalan buntu. Masuknya investor asing
sebenarnya tidak jadi soal jika berlangsung sesuai hukum. Kita melihat banyak oknum yang
secara sadar atau tidak telah bekerja untuk kepentingan asing.

CONTOH KASUS KECURANGAN DERIVATIF PADA PT. INDOSAT TBK.
Pada laporan keuangan periode 2006, PT. Indosat melaporkan adanya kerugian sebesar Rp 438
miliar yang di klaim sebagai Rugi dari perubahan nilai wajar atas transaksi derivatif-bersih
(Loss on Change in Fair Value of Derivatifes-Net). Pengakuan atas kerugian ini muncul karena
perusahaan tidak menerapkan PSAK sebagaimana mestinya.
Dalam PSAK no 55 Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktifitas Lindung Nilai disebutkan
bahwa transaksi derivatif mensyaratkan adanya dokumentasi formal atas analisa manajemen
resiko dan analisa efektifitas transaksi jika ingin melindungi resiko dari transaksi derivatif ini.
Selain itu suatu entitas diwajibkan pula untuk melaporkan setiap transaksi derivatif paling tidak
setiap tiga bulan dalam laporan keuangan perusahaan.
Dalam surat yang ditujukan kepada manajemen Indosat (management letter) pada tahun 2004,
2005 dan 2006, auditor eksternal Indosat menyarankan pihak manajemen Indosat untuk segera
membenahi kebijakan formal manajemen resiko yang berkaitan dengan transaksi derivatif yang
dilakukan oleh Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2,5 trilliun. Transaksi derivatif ini
meliputi 17 kontrak perjanjian dengan berbagai institusi keuangan.
Kasus ini memberikan contoh dari besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan di
Indonesia diakibatkan tidak adanya analisa yang memadai terhadap transaksi derivatif yang akan
dilakukan. Akibat kerugian ini pula negara kehilangan potensi pajak baik atas laba bersih
perusahaan maupun atas deviden yang dibagikan.
6. PT BANK DANAMON VS PT ESA KERTAS NUSANTARA (EKN)
PT Bank Danamon Indonesia yang digugat oleh PT Esa Kertas Nusantara (EKN) pada tahun 2009
atas kontrak derivatif yang dilakukan antara kedua belah pihak. EKN adalah perusahaan
nasional yang memproduksi coated and uncoated paper untuk tujuan ekspor dengan jumlah
karyawan sekitar 1.200 orang dan berlokasi di Karawang dan Jakarta.
Permasalahan tersebut berawal ketika kedua pihak menandatangani perjanjian untuk 17
structured financial product. Perjanjian itu terdiri dari tiga transaksi Forward with Knock Out,
delapan transaksi Target Redemption Forward, empat transaksi Cancel-able Forward, dan
satu transaksi American Knock Out, sejak Oktober 2007 hingga September 2008. Kedua pihak
juga menandatangani perjanjian cross currency swap (CCS). Total nominal transaksi
structured financial product dan CCS yang telah dilakukan masing-masing adalah US$29.5 juta
dan US$5,5 juta. Pada tahun 2009 perjanjian tersebut menuai masalah. Dodi S Abdulkadir dari
kantor hukum MR&P sebagai pengacara EKN, menggugat Danamon karena lalai mengungkap
informasi mengenai transaksi derivatif yang berupa structured finance products dan tidak
bertujuan untuk lindung nilai, namun bersifat spekulatif. Padahal EKN membutuhkan produk
lindung nilai (hedging). Akibatnya, EKN disesatkan dan mengalami kerugian yang sangat besar
dari transaksi derivatif tersebut
Dari hasil sidang, majelis hakim mengabulkan gugatan PT EKN dan meminta Danamon untuk
memberikan ganti rugi sebesar Rp 63 miliar. Dalam putusannya, majelis hakim menganggap
bahwa transaksi derivatif itu dianggap perbuatan melawan hukum.