Anda di halaman 1dari 10

Pengawasan Berbasis ESQ

Perilaku (attitude) menjadi wacana penting ditengah maraknya


pemimpin Republik yang terjerat kasus korupsi. Seperti telah
diberitakan sebelumnya, pemimpin salah satu lembaga tinggi negara
atau Mahkamah Konstitusi (MK) telah tertangkap tangan oleh KPK di
kediamannya dalam sebuah penggrebekan yang diduga terlibat kasus
suap pemenangan sengketa Pilkada. Kejadian ini sontak
meruntuhkan opini publik terhadap kredibilitas lembaga negara
tersebut yang telah di juluki sebagai Wakil Tuhan. Kasus tersebut,
telah memberikan sebuah pelajaran yang amat besar bagi kita
dimana Kompetensi Profesionalitas (ditunjukkan dengan gelar
akademik, pengalaman praktik, dan sertifikat profesional) ternyata
belum mampu atau bahkan tidak cukup dalam menciptakan sebuah
penyelenggaraan pemerintahan yang baik (berintegritas dan bersih).
Aspek perilaku (attitude) menjadi perhatian penting dalam
menghasilkan SDM yang bermutu. Salah satu metode yang mungkin
bisa kita coba adalah Pembangunan karakter berbasis ESQ aparat
yang bermutu








Ketika Satu Pintu Tertutup - Sindo, 10 Oktober 2013
Hampir setiap hari kita membaca negeri ini selalu dirundung masalah. Beda benar nasibnya dengan
China, Singapura atau Malaysia yang sangat pandai menyembunyikan masalah dari hadapan
publik.

Selain tidak transparan, rakyatnya pun dilarang berbicara sembarangan. Sebegitu pandainya negeri-
negeri itu sehingga ekonom Paul Krugman tidak memercayai data-data ekonomi negeri itu. Tak ada
kritik masyarakat, tak ada kebenaran, ujarnya suatu ketika. Tapi di sini kita hidup seperti di dalam
sebuah roller coaster: pusing, mumet, dan banyak membuat orang putus asa.

Bagi orang-orang itu, ketika satu pintu tertutup, seakan-akan sudah tak ada lagi jalan keluar. Sikap
yang demikian tentu saja amat bertentangan dengan ketentuan yang berlaku di era APEC yang saling
terhubung, saling terbuka, dan saling memanfaatkan. Ketika dunia menjadi lebih terbuka, mereka
yang cepat mati akal, yang hanya mampu melihat pintu-pintu yang tertutup, akan mengalami
kemunduran.

Pemimpin- pemimpin dan pengamat-pengamat yang demikian hanya mampu menularkan rasa
frustrasi ketimbang jalan keluar. Sebaliknya di negara tetangga, selain informasinya tidak seterbuka
dan sebebas di sini, mereka justru tidak mudah mati akal. Selalu mengeksplorasi berbagai
kesempatan. Ketika satu pintu tertutup, mereka justru mencari pintu-pintu lain yang terbuka.

Quitters vs Campers

Paul Stoltz yang menulis buku Adversity Quotient mengungkapkan, ada 3 manusia dalam
menghadapi abad perubahan ini. Maka buku itu diberi subjudul: Turning obstacles into
opportunities. Bagi sebagian orang, rintangan adalah pintu yang tertutup. Tapi pada tipe manusia
lain, ditemukan kemampuan mengubah kesulitan menjadi sebuah kesempatan, bahkan
kesejahteraan dan jalan keluar.

Manusia tipe pertama yang membuat kita pusing itu adalah quitters, yang selalu melihat perubahan
sebagai sesuatu yang gelap dan menakutkan. Mereka bahkan sudah berhenti sebelum memulai.
Maka jangankan menjadi pemenang, kalau menjadi pemimpin, orang-orang ini hanya bisa
menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain. Ia menjadi benih bagi munculnya perilaku proteksi diri
yang berlebihan.

Dalam konteks yang lebih luas, kalau dipercaya sebagai pemimpin perusahaan atau pemimpin
negara, mereka hanya menjalankan prinsip play to not lose. Quitters senang menyalahkan situasi
atas kegagalan hidupnya dan abai melihat potensi besar yang dimiliki. Mereka tak berani mengambil
risiko, bermain aman, dan tak berani menghadapi tantangan-tantangan baru yang menuntut
keberanian.

Tipe kedua adalah campers. Meski berani memulai dan pada awal perjalanan terlihat bersemangat,
campers ternyata bukan pejuang sejati. Ibarat orang yang kuliah di perguruan tinggi, mereka hanya
semangat membentuk prestasi, tetapi berhenti belajar setelah mendapatkan ijazah. Sebagai pendaki
gunung, mereka hanya mendaki mencari spot yang bagus untuk berkemah. Di situ mereka berhenti
dan merasa sudah cukup. Mereka menggunakan seluruh energi besar yang masih dimiliki untuk
memelihara status quo.

Akibatnya mereka tak pernah mencapai potensi penuh yang dimilikinya. Ini berbeda besar dengan
manusia tipe climbers yang tak ada matinya. Ibarat sekolah, seperti yang dialami desainer kebaya
Anne Avantie, meski sekolahnya terhenti di bangku SMA dan hanya menggenggam ijazah SMP, ia tak
pernah berhenti belajar. Ia terus mendaki dan mendaki. Hari Selasa kemarin, di MMUI ia
mengungkapkan perjalanan dari Semarang ke Jakarta selalu ia tempuh dengan menumpang kereta
api.

Tentu bukan karena ia mau berhemat atau tak punya uang, melainkan karena ia memang tak berani
terbang di ketinggian. Tapi itu tak membuatnya berhenti untuk berkarya. Malam itu Anne Avanti
langsung kembali ke Semarang dengan kereta api, menjadi perjalanannya yang ke-2.321 selama 25
tahun terakhir. Saya kira PT KAI wajib memberikan penghargaan kepadanya. Climbers tak ada
matinya. Ia bergerak terus meski batu-batu berjatuhan menimpa kaki tangannya, meski kesulitan
selalu menghadang.

Apa Tidak Letih?

Di Kolese Kanisius, tiga minggu lalu saya ditanya para siswa, kalau mendaki terus, Kapan
menikmatinya? Pertanyaan ini sama nadanya dengan ungkapan hati ibunda saya yang sering
bertanya kepada saya apa tidak letih? Hari ini saya ada di Bandung, sore hari sudah di Jakarta, besok
di Pulau Buru, beberapa hari kemudian di Brunei Darussalam, lalu pagi harinya sudah di kota lain.

Saya bekerja di depan kelas, di belakang meja, di kebun, di masyarakat, dan di pesawat terbang.
Mengajar, menulis, memimpin perusahaan, dan seterusnya. Tapi saya selalu menemukan
kenikmatan itu justru ada di dalam perjalanan atau pendakian itu sendiri. Mungkin itulah yang
membedakan antara pengemudi motor besar dengan pengemudi sepeda motor biasa. Yang satu
enjoy the riding, yang satunya tempat tujuan (destinasi).

Bagi orang yang hanya memikirkan destinasi, perjalanan yang padat dan jauh sungguh menjemukan
dan meletihkan, sementara bagi penikmat berkendara, perjalanan itu sendirilah sumber
kenikmatannya. Bagi quitters atau campers, capai itu berarti fisiknya letih, sedangkan bagi climbers,
capai fisik itu bukan masalah. Ia tahu persis ada dua jenis capai: capai fisik dan capai mental.

Kalau hanya fisik saja, itu bukan capai, bukanlah rintangan. Sekarang, di era yang penuh kesempatan
dan persaingan ini, mari kita evaluasi diri masing-masing. Apakah kita ini quitters, campers atau
climbers? Kalau perusahaan sudah mencanangkan program transformasi, meletihkan sekali kalau
pimpinannya tak bisa membedakan mana eksekutifnya yang quitters, campersdan mana yang
climbers.

Pengalaman saya menunjukkan, kemampuan memisahkan dan mengubah dua dari tiga tipe itu akan
menentukan seberapa jauh transformasi bisa digerakkan. Tapi andaikan Anda tak merasa perlu
memperbarui diri, renungkan saja apa yang ingin Anda dapatkan dari anak-anak yang Anda
besarkan. Kalau Anda ingin mereka berubah, Andalah yang pertama-tama harus berubah.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan











Belajar Melihat Perspektif - Kompas, 1 Oktober
2013
Salah satu latihan yang disukai anak-anak di sekolah kami adalah latihan perspektif. Ada sebuah
gunungan di tengah-tengah meja yang membuat seorang anak yang duduk di satu sisi hanya
bisa melihat benda-benda yang tampak di depang gunung yang menghadap ke dirinya.

Ketika ditanya guru, apa saja yang bisa ia lihat dari sisinya sambil duduk, anak-anak menyebut
semua benda yang tampak di depannya dengan baik. Di situ tampak seekor kambing, pohon
kelapa dan sebuah mobil. Sekarang, bisakah engkau melihat yang aku lihat dari sini?, tanya bu
guru yang duduk di sisi seberang. Anak itu menggelengkan kepalanya.

Mereka lalu bertukar tempat duduk. Anak itu tersenyum. Ia lalu menyebut apa saja yang ia lihat
dari sisi belakang gunung. Seekor burung hantu, tulang tengkorak, pohon cemara dan ada
orang, ujarnya.

Sekarang, bisakah engkau melihat apa yang aku lihat dari sini?, tanya bu guru. Anak itu
mengangguk-anggukan kepala . Ya!, ujarnya mantap. Seekor kambing, pohon kelapa dan
sebuah mobil. Ia lalu menyebutkan semua benda yang ada di atas meja, baik yang hanya bisa
dilihat dari sisinya maupun dari sisi yang dilihat gurunya.

Belajar Melihat

Berulangkali saya mengatakan, perubahan tidak mungkin bisa dilakukan selama manusia gagal
diajak melihat. Silahkan mengadah ke langit. Anda bisa saja berujar, langit berwarna biru.
Teman di sebelah Anda enggan menoleh ke atas, ia hanya berujar pendek, tak biru lagi. Atau
tak semuanya biru, hanya sebagian biru, bahkan tak sama birunya.

Sudah hampir pasti setiap perubahan selalu menimbulkan guncangan, atau bahkan mendorong
orang melakukan demo. Begitu ada yang berubah, manusia Indonesia belakangan ini menjadi
lebih ekspresif dan reaktif.

Seorang diplomat asing yang senang melihat demokrasi di Indonesia berujar, Di negara saya,
orang berpikir dulu, lalu mengambil tema dan turun ke jalan. Di Indonesia, begitu bangun tidur,
orang punya kecenderungan berbicara dan mengajak orang lain berdemo.

Untuk apa berdemo kalau suara satu orang saja bisa didengar? Jawabnya jelas, untuk
menimbulkan perhatian. Bahkan bisa juga untuk mengancam. Tetapi benarkah demo selalu
dilakukan untuk kebaikan banyak orang dan demi perubahan yang lebih baik?

Di UI saya pernah menerima petisi dari satu kelas mahasiswa S3 yang minta jadwal
ujian preliminary ditunda satu bulan. Ujian itu sebelumnya tak pernah ada karena program studi
sebelumnya diurus mereka yang tidak pernah sekolah doktor berbasiskan kuliah.

Begitu ditata ulang dan diperbaiki, tentu para mahasiswa itu kegerahan. Namun setelah saya
susuri, ternyata penyebabnya hanya 1 orang yang takut tidak bisa mendapat nilai bagus.

Saya pun memanggil mereka satu persatu dan memisahkan alang-alang dari padinya.
Akhirnya sumbernya ditemukan. Satu orang yang gelisah telah memprovokasi orang-orang yang
siap ujian. Orang-orang baik yang siap mengikuti ujian ternyata kalah mengikuti kehendak satu
orang yang paling lemah.

Setelah diajak berdialog, orang yang paling aktif dan galak menentang jadual ujian secara
beramai-ramai ternyata adalah orang paling cengeng ketika dihadapi seorang diri. Sejak saat itu
saya menerapkan peraturan, dilarang mengajukan protes beramai-ramai, sebab suara satu
orang pun pasti didengar.

Saya memberikan nomor telpon saya kepada seluruh mahasiswa dan mereka boleh protes apa
saja. Syaratnya hanya satu: jadilah pemberani yang terbuka. Saya pun wajib mendengarkan dan
mencarikan jalan untuk masa depan mereka. Tidak sulit bukan? Tetapi masalahnya, masalah
satu orang seringkali dipaksakan menjadi masalah banyak orang dan ini tentu keliru.

Tapi yang jauh lebih penting dari semua itu adalah biasakan melatih orang melihat perspektif.
Tugas pemimpin yang bersungguh-sungguh melakukan perubahan adalah mengajak orang lain
mampu melihat apa yang ia lihat.

Membukakan mata jauh sebelum sebuah perubahan digulirkan. Orang harus diajak melihat
perspektif-perspektif baru sehingga ketika satu pintu tertutup mereka bisa "melihat" pintu-pintu
lain yang terbuka.

Jokowi tentu bisa mengubah Jakarta dengan ketulusan dan kejujurannya. Juga Prabowo bisa
saja membukakan mata para penegak Hukum di Malaysia bahwa Wilfrida, TKI yang terancam
hukuman mati adalah korban woman trafficking yang pantas dibebaskan dari ancaman hukuman
mati.

Tetapi untuk memperbaiki perspektif tentang perbedaan keyakinan yang belakangan tumbuh
tajam di negeri ini, semua guru harus berani turun melatih anak-anak didiknya melihat Indonesia
dari perspektif yang berbeda-beda. Ini kalau kita masih ingin hidup dalam bingkai NKRI dan
Pancasila.

Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar, yang terlalu sempit bila dilihat dari satu titik yang
dapat bertentangan warnanya dengan titik warna lainnya. Agama atau keyakinan adalah
sesuatu begitu agung dan mulia yang mengisi kehidupan manusia dunia-akhirat bagi bangsa ini.

Namun, ia menjadi sangat kecil bila diselewengkan manusia-manusia luka batin yang
mempunyai aneka kepentingan dengan isu-isu SARA. Agama tak hanya bisa dilihat dari satu
ayat dari sebuah surat untuk membenarkan perilaku-perilaku buruk bertentangan dengan ajaran
pokok yang mengajarkan toleransi, kebaikan, dan saling menyayangi.

Indonesia sendiri tengah menghadapi goncangan-goncangan perubahan yang tak pernah
berhenti. Dalam goncangan-goncangan itu, kedamaian, dan kesejahteraan hanya bisa dicapai
kalau orang yang datang dengan perspektif yang berbeda-beda mau melihat, mendengar, dan
membuka pikiran-pikirannya terhadap kesulitan orang lain.

Hari ini di sini kita menjadi mayoritas, esok saat berkelana dan hijrah kita bisa menjadi minoritas
yang terasing. Saat itulah kita merasakan, betapa pentingnya arti dukungan dan bantuan orang
lain. Tapi itulah awal dari perubahan yang kebih baik: biasa melihat dari sudut yang berbeda.

Ayo latih diri melihat dari titik yang berbeda dan biasa menerima perbedaan sebagai sebuah
kekuatan.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan




Cognitive Flexibility - Sindo, 3 Oktober 2013
Anda mau tahu mengapa banyak orang bergelar akademis tinggi di sini kurang berhasil, kaku,
bahkan frustrasi dalam hidupnya?

Pertanyaan seperti ini juga banyak ditanyakan para sekjen kementerian yang tengah
menggelorakan reformasi birokrasi: Saya heran sekolahnya bagus-bagus, tetapi banyak yang
sulit diajak maju dan tak punya inisiatif. Semuanya terpaku pada constraint. Di dalam birokrasi
itu sendiri, orang-orang hebat bukan tidak tahu masalah yang dihadapi, melainkan tak berdaya
mengatasinya. Semua orang bekerja under constraint, tetapi kalau constraint selalu dijadikan
alasan, ini sudah menjadi penyakit mental yang disebut cognitive in flexibility.

Tapi nanti dulu, pertanyaan serupa ternyata juga datang dari banyak manajer HR yang mulai
trauma merekrut pegawai yang terlalu pandai, tetapi kurang bisa menerima pandangan-
pandangan lain yang berbeda. Saya pun menganggukkan kepala. Tapi bukankah itu juga terjadi
pada mereka yang kurang pintar? Dalam executive functioning (KORAN SINDO, 19 September
2013) anak-anak dibentuk kemampuannya dalam self regulation, inhibitory control, dan focus.

Di sana anak-anak belajar mengendalikan diri, tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang
lain. Anak-anak lalu diaktifkanworking memory-nya, mendapatkan kemampuan berpikir kritis dan
logis. Lantas di mana kemampuan fleksibilitas dan kreativitasnya? Mengapa orang-orang hebat
menjadi kaku, gagal melihat, dan mengambil kesempatan emas yang bisa memajukan
bangsanya?

Pintu Emas Bell

Anda mungkin masih ingat dengan Alexander Graham Bell. Salah satu quotes terkenal yang
dipakai untuk menjelaskan pentingnya melatih daya kelenturan berpikir anak-anak ternyata
berasal dari dirinya. Ia mengatakan begini: Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain terbuka.
Tapi acap kali otak kita terpaku begitu lama menyesali pintu-pintu yang tertutup itu sehingga
tidak mampu melihat pintu-pintu yang dibukakan. Heidi McKenzie (2011), seorang psikolog
klinis,menuliskan pengalaman masa kecilnya saat merayakan Paskah di sekolah.

Saat itu ia sangat menginginkan hadiah berupa cokelat kelinci yang didapat siapa saja yang
berhasil mengumpulkan telur paling banyak. Telur sudah dihias dan disebar di pekarangan
sekolah, disamar-samarkan di antara rerumputan, daun, dan pohon-pohon besar. Ketika
memungut beberapa butir telur, ia melihat sebuah bungkusan plastik berisi cokelat. Ah itu bukan
telur, ujarnya. Heidi kecil (4 tahun) berpaling, tetapi temannya memungut kantong itu dan
memasukkan ke dalam keranjangnya. Ia tertegun, lalu di dekatnya ada lagi benda lain, tapi
bentuknya bukan telur. Ia ragu.

Tapi temannya yang lain memperhatikan pandangannya dan dengan tangkas mengoreknya, lalu
memasukkan ke dalam keranjangnya. Lagi-lagi ia kehilangan. Tapi ia berpikir, Semua itu bukan
telur. Biarkan saja. Alhasil, Heidi kecil hanya mendapatkan sedikit telur dan gagal mendapatkan
cokelat Paskah. Ia menangis. Pemenangnya adalah anak-anak yang mengambil kantong-
kantong plastik yang sudah ia lihat tadi. Andaikan saya lebih fleksibel dengan melihat telur
bukan semata-mata telur ayam atau telur betulan, andaikan saya luaskan makna telur tadi,
mungkin sayalah pemenangnya, tulisnya 2 tahun yang lalu di Yahoo Network.

Mengutuk Pintu yang Tertutup

Setiap anak mengalami fase inflexibility. Namun pendidikan bisa mengubah mereka kalau kita
mau meluaskan makna sekolah dari sekadar belajar angka dan huruf menjadi belajar tentang
kehidupan dan bagaimana menaklukkan kesulitan. Dari belajar tentang pengetahuan menjadi
bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan. Anak-anak yang tak dilatih kemampuan
fleksibilitasnya cenderung mengutuk pintu-pintu yang tertutup sehingga sama sekali tak
mengembangkan keahlian menemukan pintu-pintu yang terbuka.

Tapi, maaf, ini juga terjadi pada orang dewasa. Lihatlah bagaimana orang ngotot dan marah saat
izin membangun rumah ibadah tak diberikan, padahal umat harus terus beribadah. Tengoklah
mantan karyawan yang bertahun-tahun berorasi dan melakukanlong march dari Bandung ke
Jakarta selama bertahun-tahun menuntut kenaikan uang pesangon yang diberikan kurang cukup
(padahal sebagian teman mereka sudah melamar di perusahaan lain yang lebih berkualitas).

Maaf, saya bukan tak setuju melawan diskriminasi dan penindasan. Saya setuju kita harus bela
negara dengan membela kebenaran. Tapi kita juga harus lentur dalam berjuang dan memenangi
pertempuran dengan kepala tegak. Seperti kata Adlai Stevenson, Lebih baik kita menyalakan
lilin daripada mengutuk kegelapan. Harus saya katakan pula hidup saya sendiri juga tak jauh
berbeda dengan Anda. Karier kita ibarat perjalanan seekor kelinci yang membuat lubang di
dalam tanah. Bukan hal yang aneh bila lubang-lubang yang kita buat ditutup oranglain. Itu
bukan hal yang istimewa. Apalagi bila Anda jujur, disiplin, dan cerdas. Masalahnya adalah,
mampukah Anda mencari dan menemukan pintu-pintu lain?

Mereka yang membangun usaha pasti tahu, visi dan modal besar saja tidak cukup untuk
menjadikan usaha besar. Segala yang Anda pikirkan dan kerjakan selalu saja ada hambatan dan
sumbatannya. Anda yang sedang membuat tesis atau disertasi, ya sama saja. Gagasan-
gagasan besar akan mati bersama kebebalan Anda, sedangkan mereka yang biasa-biasa saja
bisa meraih banyak hal dengan mudah karena kecerdikannya yang kita sebut sebagai cognitive
flexibility. Cognitive flexibility adalah sebuah keterampilan yang bisa dilatih, baik pada anak-anak
maupun orang dewasa.

Ia adalah sebuah keterampilan merajut pengalaman-pengalaman baru pada pengetahuan yang
sudah ada sehingga dapat dipakai dalam situasi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Ini
sama artinya dengan keterampilan menembus batas-batas kesulitan secara kreatif. Kata Heidi
McKenzie, banyak orang yang gagal berubah karena selalu muncul pertanyaan bagaimana
kalau .... Bagaimana kalau saya gagal, bagaimana kalau saya jatuh dan malu, dan seterusnya.

Manusia harus banyak belajar bertanya dari sudut yang berbeda, yaitu: bagaimana kalau semua
penghalang what if itu tidak ada? Bukankah saya akan menjadi lebih efektif?

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan










Kearifan Air Embun - Sindo, 15 Agustus 2013
Jurnal kedokteran Indonesia, Medika, terbitan Agustus ini (2013) menurunkan tulisan empat
peneliti dari Poli Obat Tradisional Indonesia RS Umum Dr Soetomo.

Keempat peneliti itu, Arijanto Jonosewojo, Widayat Sastrowardoyo, Nadia Monita, dan Nafdsu
M Muna mengkaji secara ilmiah manfaat air embun sebagai ajuvan dislipedemia. Keempat
peneliti itu mengkaji manfaat kearifan lokal yang berasal dari orang-orang tua, yang dulu biasa
mengembunkan air dengan menggunakan kendi dari tanah liat yang diembunkan pada malam
hari sebelum dipakai untuk konsumsi. Memang benar, air merupakan kebutuhan yang tak
tergantikan sepanjang kehidupan manusia.

Karena Rumah Perubahan yang saya pimpin sedang menggunakan air embun untuk produksi
tempe, kajian ini menarik perhatian kami. Uji coba yang kami lakukan, tempe yang diproduksi
menggunakan air embun ternyata memang lebih enak, dan lebih tahan lama. Bahkan, kopi
yang kami seduh dengan air embun pun terasa lebih harum. Jadi, penelitian ini melengkapi
karya perubahan yang sedang kami lakukan.

Pada bagian lain, belum lama ini sebuah penelitian yang dikeluarkan badan-badan kesehatan
dunia menemukan, manusia bisa hidup tanpa makan beberapa hari, namun tanpa air dalam
tempo dua hari otaknya bisa melemah dan mati. Jadi betapa kritisnya hubungan antara
manusia dan air, apalagi air akan menjadi masalah kedua bagi umat manusia setelah oksigen.
Namun, apa yang menarik dari penelitian ini? Saya kira, keempat peneliti itu ingin menunjukkan
kepada kita bahwa ternyata air embun adalah obat.

Ia ternyata memiliki khasiat menyembuhkan yang luar biasa, yang bahkan bisa menurunkan
kolesterol LDL, yang menjadi masalah bagi sebagian besar orang dewasa. Air embun ternyata
mampu mengurangi konsumsi obat karena diserap lebih cepat oleh tubuh. Ia juga bisa
mengubah persepsi kita tentang macam-macam jenis air serta cara mengonsumsi obat.

Embun Purence

Setelah membaca jurnal itu, saya menjadi lebih senang memberikan berbotol-botol embun
kepada teman sebagai hadiah. Tentu saja bukan embun yang ditampung dari atap genting
secara tradisional seperti yang dilakukan orang-orang tua dulu, melainkan embun Purence yang
diambil dengan teknologi pengembunan.

Lumayan mengobati kegelisahan sanak saudara yang takut makan santan atau gulai di hari
raya Lebaran kemarin. Sebab dari kajian keempat dokter itu, mereka menemukan air embun
mempunyai khasiat menurunkan lemak jahat dan meningkatkan kadar lemak baik.

Memang benar air mineral yang dipakai untuk menenggak obat simvastatin pada pasien
penderita kolesterol tinggi dapat menurunkan kolesterolnya secara statistik bermakna, namun
dengan air embun, ternyata pemakaian obat tidak menyebabkan gangguan fungsi liver, malah
menurunkan kadar SGPT secara bermakna, tulis keempat peneliti itu. Kata bermakna itu,
dalam statistik berarti significant. Mereka mencatat sejumlah keajaiban. Pertama, air embun
dapat meningkatkan kadar HDL, aman bagi ginjal, dan tak meningkatkan kadar asam urat
darah.

Kedua, embun yang dipakai sebagai media untuk minum obat simvastatin ternyata tidak
menimbulkan efek samping yang selama ini ditakutkan para dokter bila digunakan air mineral
biasa, yaitu kadar glukosa dalam darah. Air embun ternyata dapat dimanfaatkan sebagai terapi
ajuvan untuk menangkal peningkatan glukosa pada pasien yang mendapatkan terapi statin,
tulis keempatnya. Memang simvastatin dipercaya sebagai obat mujarab yang mampu
memerangi masalah kolesterol tinggi, tetapi selama ini ia juga dikenal memiliki efek samping
yang dapat meningkatkan gula darah sehingga bisa menimbulkan gejala diabetes. Jadi
serbasalah.

Nah, air embun ternyata mampu menetralisasi efek samping ini. Embun yang dipakai adalah
embun buatan Purence yang dirintis penemu dari Indonesia. Sejak mendapatkan temuan itu,
Budhi Haryanto memang tak berhenti melakukan penelitian. Beberapa peneliti asing pernah
menunjukkan kepada saya bahwa air embun buatan Budhi memiliki molekul-molekul air yang
unik.

Selain bebas mineral (anorganik) yang justru bisa berbahaya bagi orang paruh baya, air embun
ternyata mengandung oksigen terlarut dalam jumlah yang signifikan. Soal mineral ini memang
sungguh membingungkan. Ada yang mengatakan mineral itu diperlukan oleh tubuh manusia,
namun tidak dijelaskan mineral yang mana. Dari literatur-literatur yang saya baca, yang
dibutuhkan adalah mineral organik, bukan yang berasal dari tanah (anorganik). Mineral organik
itu hanya bisa didapat dari buah-buahan dan sayuran setelah melalui proses fotosintesa.

Lantas, apa makna kandungan oksigen terlarut dalam jumlah besar? Sewaktu saya tanyakan
apa makna kandungan oksigen terlarut itu, mereka menyebutkan sebagai anti-
aging dan antiwrinkle. Bahkan, ada ahli yang memercayai, oksigen yang tinggi ini bisa
membantu proses kerja otak sehingga membuat orang-orang yang sedang belajar lebih merasa
segar.

Di Atas Negeri Kepulauan

Kajian ilmiah itu tentu menarik untuk terus diikuti, karena kita tinggal di negara kepulauan di
lewati garis khatulistiwa. Ini berarti Indonesia adalah negeri yang sangat lembab, yang kaya
embun. Embun yang secara alami terbentuk dari proses pendinginan udara di malam hari,
menghasilkan sebuah rahasia kesehatan yang maha penting selain keanekaragaman hayati di
Nusantara ini! Peristiwa alamiah itulah yang diamati Budhi Haryanto, si penemu Embun
Purence yang teknologinya ia patenkan di mancanegara.

Saya sendiri berkeyakinan, teknologi ini dapat menjadi kontribusi penting bagi perubahan
peradaban manusia. Apalagi, kita sudah sering mendengar, jalan-jalan di sepanjang pusat ibu
kota setiap tahun turun satu sentimeter karena penyedotan air secara besar-besaran dari dalam
perut bumi telah menimbulkan lubang besar yang membuat lapisan-lapisan tanah di atasnya
ambles ke bawah. Di tambah meledaknya populasi Indonesia, maka wajar bila kita perlu
merasa cemas terhadap kualitas air konsumsi: Dari air pulalah, generasi-generasi baru
Indonesia membentuk watak dan kesehatannya.

Kalau air yang tercemar itu dikonsumsi ibu-ibu yang tengah mengandung, diminum anak-anak
sekolah, maka bisa dibayangkan bagaimana merosotnya kualitas hidup bangsa ini. Bagi saya,
lebih baik kita rela membayar sedikit lebih mahal, daripada menderita selama-lamanya. Air
embun ternyata menyimpan banyak rahasia.

Rhenald Kasali
founder Rumah Perubahan

[ Kembali ]