Anda di halaman 1dari 24

A.

KEGUNAAN ISOTOP RADIOAKTIF


Berdasarkan sifat sifat yang dimilikinya, unsur radioaktif dapat memberikan manfaat dalam
berbagai bidang, selain dampak negatif yang ditimbulkan akibat panggunaan unsur radioaktif
tersebut. Unsur radioaktif secara umum dapat digolongkan menjadi radioaktif alami dan
radioaktif buatan. Unsur radioaktif alami terdapat di alam dan dalam tubuh mahluk hidup,
sedangkan unsur radioaktif buatan di peroleh dengan cara reaksi inti.penggunaan radioaktif
bergantung pada kebijaksanaan ummat manusia karena radioaktif dapat digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan, atau sebaliknya dapat digunakan untuk membuat kehancuran. a.
penggunaan isotop radioaktif dalam bidang kesehatan dalam bidang kesehatan, isotop
radioaktif dapat di gunakan sebagai perunut ( tracer ) untuk mendeteksi kerusakan yang terjadi
pada suatu organ tubuh. Selain itu, radiasi dari isotop radioaktif tertentu juga dapat digunakan
untuk membunuh sel sel kanker sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan untuk
mengangkat jaringan sel kanker tersebut. Berikut iniadalah contoh beberapa isotop radioaktif
yang dapat digunakan dalam bidang kesehatan. 1) Iodium 131 (1 131 ) 1 131 digunakan
untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok dan untuk mendeteksi jaringan kanker pada
otak. 2) Kobalt 60 ( Co 60 ) Pemancaran sinar gamma Co 60 digunaka untuk membunuh sel
sel kanker. Co 60 juga dapat digunakan untuk pangobatan penyakit leukimia. 3) Teknetium
99 ( Tc 99 ) Tc 99 digunakan untuk membunuh sel sel kanker. 4) Talium 201 ( Tl 201 ) Tl
201 digunakan untuk mendeteksi pengakit jantung dan pembuluh darah. 5) As 74 As 74
digunakan untuk mendeteksi letak kanker otak 6) Besi 59 ( Fe 59 ) Fe 59 digunakan untuk
menpelajari proses pembentukan sel darah merah 7) Fosforus 32 ( P 32 ) P 32 digunakan
untuk pengobatan penyakit polycyhemia rubavera, yaitu pembentukan sel darah merah yang
berlebihan. Di dalam penggunaannya isotop P 32 disuntikkan kedalam tubuh sehingga
radiasinya yang memancarkan sinar beta dapat menghambat pembentukan sel darah merah
pada sumsum tulang. Sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan alat alat yang
kedokteran yang sudah dikemas dan ditutup rapat, misalnya pada proses sterilisasi alat suntik.
Sebenarnya sebelum dikemas alat suntik sudah disterilkan, tetapi pada proses pengemasan
masih mungkin terjadi kontaminasi sehingga setelah alat suntik tersebutdikemas dan ditutup
rapat perlu dilakukan sterilisasi ulang dengan menggunakan sinar gamma. b. penggunaan isotop
radioaktif pada industri pengawetan makanan. Radiasi sinar gamma dapat digunakan pada
pengawetan makanan melalui dua cara 1) Membasmi mikroorganisme, misalnya, pada
pengawetan rempah rempah, seperti merica, ketumbar, dan kemiri. 2) Menghambat
pertunasan, misalnya untuk pengawetan tanaman yang berkembangbiak dengan pembentukan
tunas, seperti kentang, bawang merah, jahe dan kungit c. Penggunaan isotop radioaktif untuk
mendeteksi kebocoran pada pipa bawah tanah Untuk mendeteksi kebocoran pada pipa pipa
yang ditanam di dalam tanah, biasanya digunakan isotop radioaktif Na 24 dalam bentuk garan
NaCl atau Na2CO3. Radio isotop Na 24 inti dapat memancarkan sinar gamma yang bisa
dideteksi dengan menggunakan alat pencaca radio aktif geiger cunter. Untuk mendeteksi
kebocoran pada pipa air, garam yang mengandung radio isotop Na 24 dilarutkan kedalam air
kemudian, permukaan tanah di atas pipa air diperiksa dengan geiger counter. Intensitas radiasi
yang berlebihan menunjukkan adanya kebocoran. Radioisotop juga dapat digunakan untuk
menguji kebocoran sambungan logam pada pembutan rangka pesawat terbang. d. Penggunaan
isotop radioaktif dalam bidang pertanian Untuk mendorong kemajuan di bidang pertanian di
perlukan teknik pemupukan yang baik, pemberantasan hama tanaman yang tepat, dan
penggunaan bibit unggul. Untuk melaksanakan pemupukan pada waktu yang tepat, dapat
digunakan radioisotop Nitrogen 15 ( N 15 ). Pupuk yang mengandung N 15 di pantau
dengan alat pancaca jika pancaca tidak mendeteksi lagi adanya radiasi, berarti pupuk
sepenuhnya sudah di serap oleh tanaman. Pada saat itulah pemupukan berikutnya sebaiknya
dilakukan. dari upuya ini akan diketahui janka waktu pemupukan yang diperlukan dan sesuai
dengan usia tanaman. Radio isotop juga dapat digunakan dalam upaya pemberantasan hama.
Radioisotop dapat meradiasi sel sel kelamin hama jantan sehingga menjadi mandul.
Selanjutnya, hama hama jantan yang mandul ini di lepas kembali sehingga hama betina tidak
akan dapat berkembang biak a. Stroberi tampa radiasi, yang berjamur setelah di simpan
beberapa hari b. Stroberi yang tetap segar setelah penyimpanan dua minggu karena telah
disterilisasi dengan cara radiasi Kegunaan lain radioisotop dalam bidang pertanian adalah untuk
pembuatan bibit unggul. Radioisotop ini digunakan untuk memicu terjadinya mutasi pada
tanaman dari proses mutasi ini diharapkan dapat dperoleh tanaman dengan sifat sifat yang
menguntungkan misalnya tanaman padi yang lebih tahan terhadap hama dan memiliki tunas
lebih banyak. Selain itu, radioisotop juga dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan
produk produk pertanian. e. Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang hidrologi Dalam
bidang hidrologi, radioisotop digunakan untuk menguji kecepatan aliran sungai atau aliran
lumpur. Isotop radioaktif ini dapat digunakan untuk mengukur debit air. Biasanya, isotop
radioaktif natrium 24 (Na 24 ) digunakan untuk membentuk garam NaCl. Dalam
penggunaannya, garam ini dilarutkan dalam air atau lumpur yang di teliti debitnya. Pada tempat
atau jarak tertentu, intensitas radiasi diperiksa sehingga waktu yang di perlukan untuk mencapai
jarak tersebut dapat diketahui. f. Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang biologi Dalam
bidang biologi isotop radioaktif dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi
fotosintesis. Isotop radioaktif ini berupa karbon 14 ( C 14 ) atau oksigen 18 ( O 18 ).
Keduanya dapat digunakan untuk mengetahui asal asul atom oksigen ( dari CO2 atau dari H2O
) yang akan membentuk senyawa glukosa atau oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis.
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 Kegunaan lain isotop radioaktif dalam bidang biologi sebagai
berikut. 1) Mempelajari proses penyerapan air serta sirkulasinya di dalam batang tumbuhan. 2)
Mempelajari pengaruh unsur unsur hara selain unsur unsur N, P, dan K terhadap
perkembangan tumbuhan. 3) Memacu mutasi gen tumbuhan dalam upaya mendapat bibit
unggul g. Penggunaan isotop radioaktif dalam bidang kimia Dalam bidang kimia, isotop
radioaktif dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi kimia, misalnya isotop
radioaktif oksigen 18 ( O 18 ) digunakan untuk mempelajari mekanisme reaksi esterifikasi.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa pada reaksi esterifikasi. Atom O yang membentuk
senyawa H2O berasal dari karbohidrat. Adapun, atom O yang membentuk senyawa ester berasal
dar alkohol. h. Penggunaan isotop radioaktif untuk pembangkit tenaga listrik Reaksi inti
menghasilkan energi yang sangat besar. Pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ( PLTN ), energi
ini digunakan untuk memanaskan air sehingga terbentuk uap. Kemudian, uap ini digunakan
untuk menggerakkan turbin. Pergerakan turbin merupakan energi mekanik yang dapat memberi
kemampuan generator untuk mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi listrik. Pada
PLTN, reaksi inti berlangsung terkendali di dalam suatu reaktor nuklir. i. Penggunaan isotop
radioaktif untuk penanggalan Karbon Penanggalan karbon merupakan fungsi isotop radioaktif
untuk menentukan umur suatu senyawa organik, misalnya untuk menentukan unsur fosil. Isotop
radioisotop yang digunakan adalah karbon 14 ( C 14 ). Bahaya Zat Radioaktif Pencemaran zat
radioaktif, pencemaran zat radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan
oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Limbah
radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau
menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak dapat digunakan lagi. yang
paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan
gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel
neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang biasa
ditemukan adalah 90SR penyebab kanker tulang dan 131J. Apabila ada makhluk hidup yang
terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi
perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik
tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang. Efek serta Akibat yang ditimbulkan oleh
radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti berikut di bawah ini : Pusing-pusing, Nafsu
makan berkurang atau hilang, Terjadi diare, Badan panas atau demam, Berat badan turun,
Kanker darah atau leukimia, Meningkatnya denyut jantung atau nadi.
Penggunaan Radioaktif
Radioisotop atau radionuklida adalah isotop suatu unsur radioaktif yang memancarkan sinar
radioaktif. Isotop suatu unsur baik stabil maupun yang radioaktif memiliki sifat kimia yang
sama.

[]
Produksi radioisotop
Radioisotop dapat terjadi secara alamiah atau sengaja (sintesis) dibuat oleh manusia dalam
reaktor penelitian. Radioisotop yang sering digunakan dalam berbagai bidang kebutuhan
manusia seperti bidang kesehatan, pertanian, hidrologi dan industri, pada umumnya tidak
terdapat di alam, karena kebanyakan umur paronya relatif pendek. Oleh karena dibuat
radioisotop sintesis. Produksi radioisotop dengan proses aktivasi (sintesis) dilakukan dengan cara
menembaki isotop stabil dengan neutron di dalam teras reaktor. Proses ini lazim disebut irradiasi
neutron, sedangkan bahan yang disinari disebut target atau sasaran. Proses tersebut dibuat di
dalam suatu reaktor nuklir yang mempunyai kerapatan (fluks) neutron tinggi dengan
mereaksikan antara inti atom tertentu dengan neutron. Neutron yang ditembakkan akan masuk ke
dalam inti atom target sehingga jumlah neutron dalam inti target tersebut bertambah. Peristiwa
ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan inti atom sehingga berubah sifat menjadi radioaktif.
Selain itu, radioisotop dapat juga diproduksi menggunakan akselerator melalui proses reaksi
antara inti atom tertentu dengan suatu partikel, misalnya alpha, neutron, proton atau partikel
lainnya.

Penggunaan radioisotop
Dewasa ini, penggunaan radioisotop untuk maksud-maksud damai (untuk kesejahteraan umat
manusia) berkembang dengan pesat. Pusat listrik tenaga nuklir (PLTN) adalah salah satu contoh
yang sangat populer. PLTN ini memanfaatkan efek panas yang dihasilkan reaksi inti suatu
radioisotop , misalnya U-235. Selain untuk PLTN, radioisotop juga telah digunakan dalam
berbagai bidang misalnya industri, teknik, pertanian, kedokteran, ilmu pengetahuan, hidrologi,
dan lain-lain.

Penggunaan radioisotop dapat dibagi ke dalam penggunaan sebagai perunut dan penggunaan
sebagai sumber radiasi. Radioisotop sebagai perunut digunakan untuk mengikuti unsur dalam
suatu proses yang menyangkut senyawa atau sekelompok senyawa. Radioisotop dapat digunakan
sebagai sumber sinar sebagai pengganti sumber lain misal sumber sinar X.
Banyak isotop buatan yang dapat dimanfaatkan antara lain Na-24, P-32, Cr-51, Tc-99, dan I-131.
Pengunaan radioisotop sebagai perunut didasarkan pada ikatan bahwa isotop radioaktif
mempunyai sifat kimia yang sama dengan isotop stabil. Jadi suatu isotop radioaktif
melangsungkan reaksi kimia, yang sama seperti isotop stabilnya. Sedangkan penggunaan
radioisotop sebagai sumber radiasi didasarkan pada kenyataan bahwa radiasi yang dihasilkan zat
radioaktif dapat mempengaruhi materi maupun mahluk.
Radiasi dapat digunakan untuk memberi efek fisis: efek kimia, maupun efek biologi. Oleh karena
itu, sebelum membahas pengunaan radioisotop kita akan mengupas terlebih dahulu tentang
satuan radiasi dan pengaruh radiasi terhadap materi dan mahluk hidup.
Satuan radiasi
Berbagai macam satuan digunakan untuk menyatakan intensitas atau jumlah radiasi bergantung
pada jenis yang diukur.
Curie(Ci) dan Becquerrel (Bq)
Curie dan Bequerrel adalah satuan yang dinyatakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah
disintegrasi (peluruhan) dalam satuan waktu. Dalam sistem satuan SI, keaktifan dinyatakan
dalam Bq. Satu Bq sama dengan satu disintegrasi per sekon.
1Bq = 1 dps
dps = disintegrasi per sekon
Satuan lain yang juga biasa digunakan ialah Curie. Satu Ci ialah keaktifan yang setara dari 1
gram garam radium, yaitu 3,7.10
10
dps. 1Ci = 3,7.10
10
dps = 3,7.10
10
Bq
Gray (gy) dan Rad (Rd)
Gray dan Rad adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan keaktifan yakni jumlah (dosis)
radiasi yang diserap oleh suatu materi. Rad adalah singkatan dari 11 radiation absorbed dose.
Dalam sistem satuan SI, dosis dinyatakan dengan Gray (Gy). Satu Gray adalah absorbsi 1 joule
per kilogram materi. 1 Gy = 1 J/kg Satu rad adalah absorbsi 10
-3
joule energi/gram jaringan.
1 Rd = 10
-3
J/g.
Hubungan gray dengan fad 1 Gy = 100 rd
Rem
Daya perusak dari sinar-sinar radioaktif tidak saja bergantung pada dosis tetapi juga pada jenis
radiasi itu sendiri. Neutron, sebagai contoh, lebih berbahaya daripada sinar beta dengan dosis dan
intensitas yang sama. Rem adalah satuan dosis setelah memperhitungkan pengaruh radiasi pada
mahluk hidup (rem adalah singkatan dari radiation equivalen for man).
Radioisotop dapat digunakan sebagai perunut sebab energi sinar yang dipancarkan serta waktu
paruhnya merupakan sifat khas radioisotop tersebut. Pada contoh di bawah ini akan diberikan
beberapa contoh penggunaan radioisotop baik sebagai perunut maupun sebagai sumber radiasi.
1. Bidang Kimia
a. Teknik Perunut

Teknik perunut dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai reaksi kimia. Misal pada
reaksi esterifikasi. Dengan oksigen-18 dapat diikuti reaksi antara asam karboksilat dan alkohol.
Dari analisis spektroskopi massa, reaksi esterifikasi yang terjadi dapat ditulis seperti berikut.
(isotop oksigen-18 diberi warna).

Hasil analisis ini menunjukkan bahwa molekul air tidak mengandung oksigen-18. Adapun jika O
18 berada dalam alkohol maka reaksi yang terjadi seperti berikut.


b. Penggunaan Isotop dalam Bidang Kimia Analisis

Penggunaan isotop dalam analisis digunakan untuk menentukan unsur-unsur kelumit dalam
cuplikan. Analisis dengan radioisotop atau disebut radiometrik dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu, sebagai berikut.

1) Analisis Pengeceran Isotop

Larutan yang akan dianalisis dan larutan standar ditambahkan sejumlah larutan yang
mengandung suatu spesi radioaktif. Kemudian zat tersebut dipisahkan dan ditentukan
aktivitasnya. Konsentrasi larutan yang dianalisis ditentukan dengan membandingkannya dengan
larutan standar.

2) Analisis Aktivasi Neutron (AAN)

Analisis aktivasi neutron dapat digunakan untuk menentukan unsur kelumit dalam cuplikan yang
berupa padatan. Misal untuk menentukan logam berat (Cd) dalam sampel ikat laut. Sampel
diiradiasi dengan neutron dalam reaktor sehingga menjadi radioaktif. Salah satu radiasi yang
dipancarkan adalah sinar ? . Selanjutnya sampel dicacah dengan spektrometer gamma (? ) untuk
menentukan aktivitas dari unsur yang akan ditentukan.

2. Bidang Kedokteran

Berikut unsur radioisotop yang sering digunakan dalam dunia kedokteran.
info: Zat yang mengandung radiokatif akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah akan diserap
terutama oleh jaringan yang rusak pada organ tertentu, seperti jantung, hati dan paru-paru.

a. Radioisotop natrium-24 dapat digunakan untuk mengikuti peredaran darah dalam tubuh
manusia. Larutan NaCl yang tersusun atas Na-24 dan Cl yang stabil disuntikkan ke dalam darah
dan aliran darah dapat diikuti dengan mendeteksi sinar yang dipancarkan, sehingga dapat
diketahui jika terjadi penyumbatan aliran darah.

b. Untuk mempelajari kelainan pada kelenjar tiroid digunakan radioisotop 131I.

c. Radioisotop fosfor dapat dipakai untuk menentukan tempat tumor di otak. Selain itu, fosfor-32
juga merupakan radioisotop andalan dalam terapi polisitemia vera dan leukemia.

d. Radioisotop 59 Fe dapat digunakan untuk mengukur laju pembentukan sel darah merah dalam
tubuh dan untuk menentukan apakah zat besi dalam makanan dapat digunakan dengan baik oleh
tubuh.

e. Sejak lama diketahui bahwa radiasi dari radium dapat dipakai untuk pengobatan kanker. Oleh
karena radium-60 dapat mematikan sel kanker dan sel yang sehat maka diperlukan teknik
tertentu sehingga tempat di sekeliling kanker mendapat radiasi seminimal mungkin.

Berikut sekilas info mengenai Kanker.

Penyakit kanker, penyakit yang digolongkan ke dalam penyakit degeneratif ini telah menempati
papan atas penyebab kematian di berbagai negara, utamanya di negara negara maju yang telah
berhasil mengatasi penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi penyakit karena pertumbuhan sel
tidak terkendali ini. Di negara negara maju, dana dalam jumlah besar telah
digelontorkan untuk membiayai riset yang berkaitan dengan pendeteksian, pengobatan,
serta mekanis. Kemunculan dan pertumbuhan kanker. Di Jepang, misalnya, beberapa
pusat penanganan kanker (gan senta) telah didirikan. Institusi ini mendedikasikan
dirinya dalam riset dan pengembangan yang berkaitan dengan momok umat manusia
ini.
Di dunia penanganan kanker, radioisotop telah memainkan peran yang besar. Kiprah
radioisotop tersebut terlihat semakin besar dari hari ke hari karena potensi yang
disimpannya. Radioisotop memendam kemampuan untuk memburu dan bahkan
membunuh kanker secara efektif pada tahap yang paling dini ketika kanker masih
berupa benih, yaitu saat metabolisme sel kanker mulai terjadi.
Beberapa hasil pengembangan teknologi di bidang ini mulai dipasarkan dan
memberikan kontribusi secara nyata. Beberapa saat yang lalu sebuah rumah sakit di
Singapura menawarkan berbagai jasa kesehatan, di antaranya jasa deteksi dini kanker
menggunakan PET (positron emission tomography) yang dikombinasikan dengan CT
(computed tomography).
PET merupakan salah satu hasil di garis depan pengembangan radioisotop untuk dunia
kedokteran. PET adalah metode visualisasi fungsi tubuh menggunakan radioisotop
pemancar positron.Oleh karena itu, citra (image) yang diperoleh adalah citra yang
menggambarkan fungsi organ tubuh. Kelainan dan ketidaknormalan fungsi atau
metabolisme di dalam tubuh dapat diketahui dengan metode pencitraan (imaging) ini.
Hal ini berbeda dengan metode visualisasi tubuh yang lain, seperti MRI (magnetic
resonance imaging) dan CT (computed tomography). MRI dan CT scans adalah
visualisasi anatomi tubuh yang menggambarkan bentuk organ tubuh. Dengan kedua
metode ini, yang terdeteksi adalah kelainan dan ketidaknormalan bentuk organ

Berbagai kelainan metabolisme di dalam tubuh, termasuk di dalamnya adalah adanya
metabolisme sel kanker, dapat diketahui dengan cepat melalui PET. Salah satu bentuk
perbedaan sel kanker dengan sel normal di sekelingnya adalah pada bentuk
metabolisme glukosa. Sel kanker mengonsumsi glukosa dalam jumlah yang lebih besar
dari sel di sekelilingnya.Secara umum, kecepatan pertumbuhan sel kanker yang
mencerminkan tingkat keganasannya sebanding dengan tingkat konsumsi glukosa.
Bentuk metabolisme glukosa di dalam tubuh ini dapat dideteksi menggunakan bahan
radiofarmaka 18FDG (18 F-2-fluoro-2-deoxy-D-glucose). Keberadaan radioisotop fluor-
18 yang ada di dalam senyawa tersebut dapat dideteksi dengan mudah dari luar tubuh
melalui radiasi yang dipancarkannya.
Dengan meletakkan detektor radiasi di
luar tubuh, image reconstruction terhadap sebaran fluor-18 di dalam tubuh dapat
dilakukan dengan mengolah sinyal-sinyal yang ditangkap oleh detektor detektor
tersebut. Sebaran fluor-18 di dalam tubuh ini menunjukkan pola metabolisme glukosa di
berbagai bagian tubuh.
Konsumsi glukosa yang berlebihan di suatu tempat mengindikasikan adanya
metabolisme sel kanker di tempat tersebut. Inilah yang dinamakan menemukan kanker
dalam bentuk benih. Meskipun secara bentuk fisik belum ditemukan atau belum
terdeteksi, keberadaan kanker telah diketahui ketika metabolisme sel kanker telah
terjadi. Kemampuan radioisotop memburu kanker pada stadium ini belum dapat
ditandingi oleh metode lain. Penemuan adanya sel kanker pada stadium sangat dini ini
akan memudahkan penanganan selanjutnya.
PET dapat pula digunakan pula untuk menganalisis hasil penanganan kanker yang
telah dilakukan. Setelah operasi pengangkatan kanker melalui operasi, misalnya, perlu
dilakukan pemeriksaan apakah masih ada benih benih kanker yang tersisa. Untuk
keperluan ini, PET merupakan metode yang paling tepat karena pada kondisi ini
keberadaan kanker sulit dilihat secara fisik.
Yang diperlukan adalah melihat keberadaan metabolisme sel kanker. Selain itu, PET
dapat pula digunakan untuk melihat kemajuan pengobatan kanker baik dengan
chemotherapy maupun radiotherapy. Kemajuan hasil pengobatan kanker dapat
diketahui dari perubahan metabolisme di samping perubahan secara fisik. Untuk
keperluan ini, kombinasi PET dan CT memberikan informasi yang sangat berharga
untuk menentukan tingkat efektivitas pengobatan yang telah dilakukan.
Perangkat PET secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian produksi
fluor-18, bagian sintesa 18FDG, dan bagian kamera PET. Penggunaan PET diawali
dengan proses produksi radioisotop fluor-18. Radioisotop fluor-18 diproduksi dari isotop
oksigen-18 menggunakan siklotron.
Partikel bermuatan berupa proton ditembakkan dari siklotron ke dalam inti oksigen-18
dan terbentuklah fluor-18 sambil melepaskan sebuah neutron. Oksigen di alam memiliki
kandungan isotop oksigen-18 sebanyak 0,20 persen. Sisanya berupa isotop oksigen-16
dan oksigen-17 dengan kandungan masing-masing sebesar 99,76 persen dan 0,04
persen.
Karena kandungan oksigen-18 di alam sangat kecil, maka untuk keperluan ini
diperlukan oksigen yang telah ditingkatkan kandungan isotop oksigen-18 di dalamnya.
Peningkatan kandungan isotop oksigen-18 ini dapat dilakukan sampai lebih dari 90
persen. Pada proses produksi fluor-18 ini, oksigen-18 digunakan dalam bentuk
air(H2O).
Radioisotop fluor-18 yang telah didapatkan digunakan untuk mensintesa 18FDG.
Reaksi "menempelkan" fluor-18 ini dikenal dengan reaksi penandaan (labelling). Di
beberapa negara yang telah menggunakan PET secara rutin seperti Jepang, Amerika
Serikat, dan Korea, reaksi penandaan ini dilakukan menggunakan alat otomatis.
Pertimbangan utama penggunaan alat otomatis ini adalah mempercepat waktu proses.
Hal ini dikarenakan fluor-18 memiliki waktu paruh, waktu yang diperlukan untuk meluruh
sehingga radioaktivitas tinggal separuhnya, yang pendek kurang dari 2 jam (110 menit).
Jadi, reaksi penandaan ini berpacu dengan waktu. Jika proses ini terlalu lama, sebagian
besar fluor-18 telah meluruh sehingga radioaktivitasnya akan berkurang jauh dari
radioaktivitas awal.
Setelah 18FDG selesai disiapkan, radiofarmaka tersebut segera disuntikkan ke pasien.
Jumlah yang disuntikkan antara 10 dan 20 milicurie, tergantung keperluan, kondisi
kamera, dan sebagainya. Di University of Iowa, misalnya, secara rutin digunakan
18FDG sebanyak 10 milicurie untuk tiap pasien guna mendeteksi metabolisme sel
kanker.
Sebaran fluor-18 di dalam tubuh dideteksi dengan memasukkan tubuh ke dalam
rangkaian detektor elektronik berbentuk melingkar. Dari hasil pendeteksian ini dilakukan
image reconstruction untuk mendapatkan gambaran sebaran fluor-18 di dalam tubuh.
Perangkat kamera PET biasanya telah dilengkapi dengan program untuk keperluan ini
sehingga hasil image reconstruction dapat diperoleh dengan mudah.
Kamera PET memiliki kejernihan citra
yang lebih baik dibandingkan dengan kamera gamma yang secara umum digunakan
pada kedokteran nuklir. Hal ini dikarenakan pendeteksiannya didasarkan pada
coincidence detection. Ketika positron dilepaskan dari fluor-18, partikel ini akan segera
bergabung dengan elektron dan terjadilah anihilasi.
Dari anihilasi ini dihasilkan radiasi gelombang elektromagnetik dengan energi sebesar
511 ke V dengan arah berlawanan (180 derajat). Adanya dua buah photon yang
dilepaskan secara bersamaan ini memungkinkannya dilakukan coincidence detection.
Pada coincidence detection ini, sinyal yang ditangkap oleh detektor akan diolah jika dua
buah sinyal diperoleh secara bersamaan. Jika hanya satu buah sinyal yang ditangkap,
sinyal tersebut dianggap sebagai pengotor. Oleh karena itu, hampir seluruh sinyal
pengotor dapat dieliminasi dengan cara ini.
PET hanyalah salah satu dari beberapa hasil terdepan pemanfaatan radioisotop pada
penanganan kanker. Berbagai aplikasi lain sedang dikembangkan di laboratorium-
laboratorium terkemuka di bidang ini. Salah satu contohnya adalah pengembangan
cancer seeking agent dengan memanfaatkan metabolisme spesifik yang terjadi pada
sel kanker.
Radioisotop-radioisotop pemancar partikel
seperti partikel alpha dan beta memiliki kemampuan membunuh sel secara efektif
dalam jarak dekat. Oleh karena itu, pembunuhan sel-sel kanker secara efektif dapat
dilakukan dengan "memuatkan" radioisotop-radioisotop itu ke dalam cancer seeking
agent. Jadi, cancer seeking agent seperti layaknya peluru kendali yang secara otomatis
mencari sasaran yang telah ditetapkan dan radioisotop adalah hulu ledak yang akan
menghancurkan sasaran yang dituju.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi PET dan beberapa aplikasi
radioisotop yang lain pada penanganan kanker tidak lagi terbatas pada lorong-lorong lembaga
penelitian. Hasil pengembangan teknologi ini telah merambah ke wilayah bisnis karena jasa
kesehatan yang ditawarkan memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil.

f. isotop Tc-99 (teknesium) digunakan untuk mendiagnosis fungsi dan anatomis organ tubuh
sehingga juga dapat mendeteksi adanya tumor di tubuh. Digunakannya Tc-99 ini mempunyai
alasan tersendiri. Alasan pertama, waktu paruh yang dimiliki tidak terlalu kecil dan besar. Jika
waktu paruh terlalu kecil radioisotop terlalu sulit untuk dideteksi(setelah disuntikkan, tak lama
kemudian akan hilang kereaktifannya). Dan jika radioisotop yang disuntikkan memiliki waktu
paruh yang besar akan berbahaya bagi tubuh. Tc-99 merupakan paruh waktu yang sangat cocok
bila digunakan untuk mendeteksi adanya penyakit dalam tubuh manusia Tc-99 Memiliki waktu
paruh yang sangat ideal bagi penyelidikan penyakit dalam tubuh manusia

g. Radiasi gamma dapat membunuh organisme hidup termasuk bakteri. Oleh karena itu, radiasi
gamma digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran.

Sterilisasi digunakan juga di industri makanan. Sterilisasi dengan cara radiasi, menjadikan
makanan dapat tahan empat atau lima kali lebih lama dari cara sterilisasi biasa.

3. Bidang Pertanian

a. Pembentukan Bibit Unggul

Dalam bidang pertanian, radiasi gamma dapat digunakan untuk memperoleh bibit unggul. Sinar
gamma menyebabkan perubahan dalam struktur dan sifat kromosom sehingga memungkinkan
menghasilkan generasi yang lebih baik, misalnya gandum dengan yang umur lebih pendek.

b. Pemupukan dan Pemberantasan Hama dengan Serangga Mandul

Radioisotop fosfor-32 dapat dipakai untuk mempelajari pemakaian pupuk oleh tanaman. Ada
jenis tanaman yang mengambil fosfor sebagian dari tanah dan sebagian dari pupuk. Berdasarkan
hal inilah digunakan fosfor radioaktif untuk mengetahui efesiensi pengambilan fosfor dari pupuk
oleh tanaman. Dengan demikian, akan memberikan cara pemupukan yang tepat dan hemat.
Teknik iradiasi juga dapat digunakan untuk memberantas hama dengan menjadikan serangga
mandul.

Dengan radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, sehingga timbul kemandulan pada serangga
jantan. Kemandulan ini dibuat di laboratorium dengan cara hama serangga diradiasi sehingga
serangga jantan menjadi mandul. Setelah disinari hama tersebut dilepas di daerah yang terserang
hama, sehingga diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul
yang dilepas, sehingga telur itu tidak akan menetas.

c. Pengawetan Makanan

Pada musim panen, hasil produksi pertanian melimpah. Beberapa dari hasil pertanian itu mudah
busuk atau bahkan dapt tumbuh tunas, contohnya kentang. Oleh karen aitu diperlukan teknologi
untuk mengawetkan bahan pangan tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan
irradiasi sinar radioaktif. Irradiasi ini juga dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.

4. Bidang Industri

Penggunaan radioisotop dalam bidang industri antara lain untuk mendeteksi kebocoran pipa yang
ditanam di dalam tanah atau dalam beton. Dengan menggunakan radioisotop yang dimasukkan
ke dalam aliran pipa kebocoran pipa dapat dideteksi tanpa penggalian tanah atau pembongkaran
beton. Penyinaran radiasi dapat digunakan untuk menentukan keausan atau kekeroposan yang
terjadi pada bagian pengelasan antarlogam. Jika bahan ini disinari dengan sinar gamma dan
dibalik bahan itu diletakkan film foto maka pada bagian yang aus atau keropos akan memberikan
gambar yang tidak merata. Radiasi sinar gamma juga digunakan dalam vulkanisasi lateks alam.
Penggunaan zat radioaktif dalam bidang industri yang lainnya adalah untuk mengatur ketebalan
besi baja, kertas, dan plastik; dan untuk menentukan sumber minyak bumi.

5. Pengukuran Usia Bahan Organik

Radioisotop karbon-14, terbentuk di bagian atas atmosfer dari penembakan atom nitrogen
dengan neutron yang terbentuk oleh radiasi kosmik.



Karbon radioaktif tersebut di permukaan bumi sebagai karbon dioksida dalam udara dan sebagai
ion hidrogen karbonat di laut. Oleh karena itu karbon radioaktif itu menyertai pertumbuhan
melalui fotosintesis. Lama kelamaan terdapat kesetimbangan antara karbon-14 yang diterima dan
yang meluruh dalam tumbuh-tumbuhan maupun hewan, sehingga mencapai 15,3 dis/menit gram
karbon. Keaktifan ini tetap dalam beberapa ribu tahun. Apabila organisme hidup mati,
pengambilan 14C terhenti dan keaktifan ini berkurang. Oleh karena itu umur bahan yang
mengandung karbon dapat diperkirakan dari pengukuran keaktifan jenisnya dan waktu paruh
14C. ( 12 T = 5.730 tahun).

6. Bidang Hidrologi
-->Mempelajari kecepatan aliran sungai dan menyelidiki kebocoran pipa air bawah tanah.
Natrium-24 (24P) merupakan radioisotop yang sering digunakan untuk mengukur
kecepatan
laju dan debit air sungai, air dalam tanah dan rembesan. Kebocoran dam serta pipa
penyalur yang terbenam dalam tanah dapat dideteksi menggunakan radioisotop iodium-
131 dalam bentuk senyawa CH3131l, sedangkan lokasi dumping, asal/pola aliran sedimen
dan laju pengendapan dapat diukur menggunakan krom-51 dan brom-82 masing-masing
dalam bentuk senyawa K251Cr2P7 dan K82Br.

fisika medis
Senin, 22 Maret 2010
Pesawat Cobalt- 60
Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat membahayakan dan
butuh biaya yang besar dalam pengobatannya. Biasanya dalam pengobatan kanker
yang dilakukan adalah operasi atau menggunakan radioterapi. Pengobatan dengan
operasi ataupun radioterapi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Pada pembahasan ini, difokuskan mengenai radioterapi dan khusunya dengan
menggunakan pesawat terapi Cobalt-60.
Radioterapi saat ini banyak digunakan untuk menyembuhkan berbagai
penyakit kanker karena tingkat penyembuhannya relative lebih tinggi apalagi kalau
dilakukan pada kanker dengan stadium awal. Tujuan Radioterapi:Mematikan
jaringan kanker sebanyak banyaknya, tetapi cedera yang timbul pada jaringan sehat
diusahakan seminimal mungkin (rasio terapeutik)
Sel kanker biasanya lebih sensitive terhadap sinar gamma sehingga dalam
prakteknya dapat digunakan zat radioaktif cobalt-60 yang memancarkan radiasi
gamma dengan energy yang sangat tinggi 1,33 Mev dan 1,17 Mev. Sinar gamma dapat
digunakan untuk mematikan sel-sel kanker tanpa melakukan operasi.
Sebelumnya mungkin lebih baik dibahas tentang radiasi terlebih dahulu.
Radiasi bias berbentuk gelombang ataupun partikel. Beberapa contoh radiasi
misalnya:
- Cahaya tampak
- Panas
- Sinar X, dll.
Untuk memahaminya bisa dimulai dengan membahas apa itu atom? Atom
merupakan basis unit dari sebuah materi. Ada tiga basis partikel yang terdapat di
dalam atom, yaitu electron, proton dan neutron. Radioaktifitas akan terjadi pada
neutron yang tidak stabil, yang biasanya terjadi pada atom yang memiliki jumlah
neutron yang terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. Atom yang tidak stabil akan
berusaha untuk mencapai kestabilan dengan memancarkan energy. Energi ini bisa
berbentuk sinar ( gelombang ) ataupun partikel. Atom ini biasanya dikenal dengan zat
radioaktif.
Berdasarkan energi yang ditransferkan radiasi dapat dibagi dua, ionizing dan
non-ionizing. Contoh ionizing radiation adalah partikel alpha, partikel beta, neutron,
sinar gamma, serta sinar X. Contoh non-ionizing radiation adalah gelombang mikro,
ultraviolet, infra red, laser, radar dll. Detailnya dapat dilihat pada tabel.

Gambar 1
(sumber: diklat fisika dosimetri dan radiologi Universitas Indonesia)
Karakteristik sinar gamma yaitu tidak bermassa, tidak bermuatan, berbentuk
gelombang elektromaknetik atau photon, memiliki daya tembus yang sangat tinggi.
Salah satu sumber sinar gamma adalah cobalt-60.
Kembali ke topik yang akan dibahas, dalam melakukan treatment, harus
diupayakan sel kanker menerima dosisi yang tepat dan waktu yang dibutuhkan juga
harus di perhatikan. Hal ini bertujuan agar treatment sesuai prosedur dan
meminimalkan sel lain yang bukan kanker ikut terkena dampak radiasi sinar gamma.
Sebelum melakukan treatment, seorang radiologist harus tahu ketetapan posisi
pasien, biasanya seperti yang terdapat pada gambar:

Gambar 2
(sumber : J.Th.M. Jansen, 2001,types of treatment.)

Gambar 3
(sumber: J.Th.M. Jansen, 2001,types of treatment.)
Berikut cara menggunakan pesawat cobalt-60 yang diambil dari karya Supi
Atmayati Ilham dan Arif jauhari, prinsip kerja pesawat terapi cobalt-60, 2007, yang
merupakan radiographer di rumah sakit persahabatan Jakarta.
Prosedur pemakaian
Sebelum meng ON kan pesawat, periksa dahulu apakah bagian belakang
panel konsul sudah terhubung dengan tepat ke mainframe melalui kabel khusus.
Caranya, ON kan power pada mainframe sehingga lampu penunjuk langsung
menyala, jika tidak maka tarik tombol emergency yang berada pada control box,
kemudian ubah console Key pada posisi I. Pada posisi normal semua lampu penunjuk
akan menyala. Setelah itu konsul berbunyi bip dan menunjukkan pesawat dalam
kondisi slap seperli ditunjukkan oleh kedipan lampu ZERO RESET.
Lampu tombol penunjuk dan display dapat diuji coba dengan menekan kontak Front
Panel Test yang terletak di sisi kanan konsul. Uji coba ini mengakibatkan semua
lampu menyala dan semua display menunjukkan angka 88.88 serta system alarm
berbunyi. Tekan tombol zero reset (RAZ) dan lepaskan maka T2 menghitung dalam
mode up yang dipercepat ke dalam waktu 01.00. Ketika waktu tercapai panel konsul
berbunyi bip dan tombol penunjuk kesalahan menyala selama fraksi waktu sedetik
lamanya.
Jika penunjuk waktu tidak bekerja dan bekerja relatif cepat dan tanpa berhenti,
maka panel konsul tidak dapat dioperasikan, Bila terjadi kesalahan, mallungsi atau
penunjuk waktu T2 tombol kiri dan kanan mulai berkedip dan akan padam jika salah
satunya ditekan.

Gambar 4
Bagan pesawat cobalt-60
Petunjuk pelaksanaan
Pertama tekan tombol fixed, sehingga tombol tersebut menyala dan lampu
lainnya berhenti berkedip. Masukkan waktu radioterapi dalam satuan menit ke digital
keyboard. Tombol A digunakan untuk membatalkan dan tombol V untuk validasi
waktu radioterapi. Setelah waktu dimasukkan melalui keyboard, untuk prases lebih
jauh tombol V perlu ditekan, maka indikator ready akan menyala.
Jika indikator tersebut tidak menyala, periksalah pintu ruang radioterapi ataupun
sistem lain apakah sesuai dengan indikator yang menyala. Selama persiapan
radioterapi, setiap waktu tombol reset dapat ditekan untuk membatalkan waktu yang
telah dimasukkan ke digital keyboard
Permulaan radioterapi
Ubahlah power up key searah putaran jam (yaitu, pindah dari posisi I ke posisi
treatment dan tetap diposisi ini selama 1 sampai 2 detik yang ditandai oleb indikator
on treatment menyala kemudian lepaskan key yang akan kembali ke posisi I.Sumber
kemudian berpindah dari posisi penyimpanannya menuju ke posisi penyinaran. Posisi
ini ditunjukkan oleh 3 buah lampu: source in storage, source in transfer, source out.
Jika transfer terakhir lebih dari 3 detik, panel konsul menunjukkan keadaan
malfungsi dan radioterapi akan berhenti.
Selama sumber meninggalkan posisi penyimpanannya, T2 memulai perhitungan. Saat
sumber mencapai posisi penyinaran T1 mulai berhitung.
Jika salah satu tombol interruption atau termination ditekan selama sumber
berpindah, maka sistem pada panel konsul akan pindah dari kondisi interruption
atau termination.
Urutan perlakuan
Kedua penunjuk waktu melanjutkan perhitungan waktu sampai satu dari
empat kemungkinan ini terjadi.
1.Normal termination: Tl telah mencapai Preset time.
2.Operators termination: tombol termination telah ditekan.
3.Interruption: tombol interruption telah ditekan.
4. Malfunction: selarna radioterapi berlangsung bunyi bip terdengar setiap 3 detik.
Dalam kasus akhir radioterapi yang normal, sumber dikembalikan ke posisi
penyimpanannya. Jika waktu total untuk transfer kembali ke posisi penyimpanan
melebihi 3 detik, panel konsul menunjukkan malfungsi. Dan jika panel konsul tidak
kembali ke kondisi stand by (treatment termination), maka tombol zero reset akan
berkedip.
Ketika radioterapi dihentikan dengan menggunakan tombol termination sumber
kembali ke dalam penyimpanan. Pengukuran transfer waktu yang sama dibuat
seperti pada awal radioterapi dan panel konsul berubah ke kondisi treatment
terminalion. Suara bip yang lebih lama akan dipancarkan pada saat kondisi akhir
tercapai.
Ketika radioterapi dihentikan dengan menggunakan tombol interrupt console berubah
ke kondisi berhenti: sumber dikembalikan ke posisi penyimpanannya seperti untuk
treatment termination, dan tombol penunjuk interruption menyala. Kondisi demikian
memungkinkan pintu ruang radioterapi dibuka dan gantry diputar tanpa
mengakibatkan console ke sistem malfungsi.
Selanjutnya radioterapi dapat dihentikan atau diteruskan. Radioterapi dapat
dihentikan dengan menggunakan tombol termination atau mungkin diteruskan
dengan mengubah power up key console seperempat putaran arah jarum jam (dari
posisi "V ke posisi "treatment") dan tetap dalam posisi ini selama 1-2 detik (the "on
Co60" indicator lights up) sebelum melepaskan kunci yang kemudian kembali
keposisi I.
Ketika panel konsul dalam kondisi malfungsi, surnber dikembalikan secara
otomatis kepenyimpanannya dan alarm berbunyi. Panel konsul akan mendeteksi
malfungsi selama radioterapi berlangsung, jika:
- Pintu ruang radioterapi dibuka
- Jika sumber meninggalkan posisinya lebih dari 0,1 menit penyinaran
- Gantry masuk/menuju putaran
- Waktu T2 melebihi Tl yang diset.
Perubahan perlakuan
Bila panel konsul dalam kondisi treatment termination tomhol zero reset
berkedip, tekan tombol ini kemudian T2 menghitung dalam model dipercepat ke
waktu yang sesuai pada saat terjadi kesalahan. Hal ini untuk menguji kebenaran
operasi terhadap rangkaiannya. Panel konsul berbunyi bip, lampu fault berkedip
dalam waktu pendek dan T2 kembali ke nol. Kondisi demikian memungkinkan untuk
memasukkan data radioterapi baru.
Sumber berbalik dalam kondisi darurat
Selama radioterapi berlangsung dimungkinkan untuk memaksa sumber
kembali ke posisi penyimpanan dengan menggunakan motor. Proses demikian dapat
dilakukan dengan menekan tombol emergency. Tindakan ini selalu membawa panel
konsul kembali kekondisi malfungsi. Penekanan tombol emergency ketika sumber di
dalam penyimpanannya tidak akan membawa efek pada pesawat.

Gambar 5
(sumber : Dwi seno, 2010, fisika terapi. FMIPA UI)
Setelah semua prose situ selesai, maka treatment dapat dilakukan. Untuk
mendapatkan hasil treatment yang maksimal jarak sel kanker dari pesawat harus
ditentukan.

Gambar 6.
(sumber : Radiation oncology physics)
Menentukan jarak sumber terhadap pasien.

Disaat melakukan treatment, biasanya juga akan terbentuk geometric
penumbra yang diakibatkan oleh keterbatasan diameter sumber yang digunakan,
seperti terlihat pada gambar berikut:

P (z) / S= (SSD+z-SDD)/ SDD
Pembentukan penumbra ini dapat diminimalkan dengan cara menggunakan
diameter sumber yang kecil dan diusahakan penumbra trimmer sedekat mungkin
dengan kulit pasien atau z=0
Berikut cara penentuan dosis saat melakukan treatment pada praktikum
kalibrasi foton di rumah sakit persahabatan Jakarta.
Energi : 6 MV dan 10 MV
Tegangan : -400 V, -100 V, +400 V
Monitor Unit : 200 MU
Kedalaman (d) : 10 cm
Luas Lapangan : 10 x 10 cm
Electrometer : PTW Silinder 30013
Tekanan Awal : 1010 Pa
Tekanan Ruangan : 1023 Pa
Dose Rate : 240 MU rate
PDD (6MV) : 67.4
PDD (10 MV) : 73.6
Monitor Unit : 200 MU
Waktu : 1 menit
TPR(10,20) 6 MV : 0.66
NDW : 52.9 mGy/nC
TPR (10,20) 10 MV : 0.734
Worksheet untuk Foton 6 MV
Detemination of absorbed dose to water in a high energy photon
beam
lokasi : Rumah Sakit Persahabatan
Tanggal : 14 November 2009
1. Radiaton treatment unit and reference condition for
DW,Q determination
Nominal Acc. Potential : 6 MV
Nominal dose rate : 240 MU rate Beam quality, Q(TPR20,10): 0.66
Reference phantom : - Set-up : SSD, SAD
Reference field size : 10 x 10 cm Reference distance (cm): 10 cm
Reference depth zref : 10 cm
2. Ionization chamber and electrometer
Ionization chamber model : PTW Silinder, Serial No. : 30013
Chamber wall : -
Waterproof sleeve : -
Phantom window : -
Absorbed dose to water calibration factor ND,W,Q = 52.9 mGy/nC
Calibration quality Qo : photon beam Calibration depth : -
If Qo is photon beam give TPR20,10 : 0.66
Refrence condition for calibration Po : 1.010 kPa ;
To : 20
o
C
Rel.humidity : 0%
Polarizing potential V1 : -400 Calibration polatiry : -ve
Use polarity : -ve
Calibration laboratory : - Date : -
Elektrometer model : PTW Farmer Serial No : 30013
Calibrated separately from chamber : - Range setting : -
If yes, calibration laboratory : - Date : -
3. Dosimeter reading and correction for influence quantities
Uncorrected dosimeter reading at V1 and user polarity : 25.72 nC
Corresponding accelerator monitor unit : 200 MU
6 MV; V = -400 V
-25.73 nC
-25.72 nC -25.71 nC
-25.71 nC
6 MV; V = -100 V
-25.59 nC
-25.59 nC -25.59 nC
-25.59 nC
6 MV; V = +400 V
25.68 nC
25.67 nC 25.66 nC
25.66 nC
10 MV; V = -400 V
-28.27 nC
-28.29 nC -28.29 nC
-28.31 nC
10 MV; V = -100 V
-28.12 nC
-28.13 nC -28.12 nC
-28.14 nC
10 MV; V = +400 V
28.24 nC
28.24 nC 28.22 nC
28.26 nC
Ratio of dosimeter reading and monitor units : M1 : 0.1286 nC/MU
1. Pressure P : 1.023 kPa ; Temperatur T : 22
o
C

2. Electrometer calibration factor kelec : 1
3. Polarity correction rdg at +V1 : M+ = 25.67/200 = 0.12835 rdg at V1: M- =
25.72/200 = 0.1286

4. Recombination correction (two voltage method)
Polarizing voltages : V1 (normal) = -400V V2 (reduced) = -100V
Reading at each V : M1(normal)=0.1286 M2(reduced)=0.12795
Voltage ratio V1/V2 = 4 Ratio of reading M1/M2 = 1.005
Use table 9 for a beam of type pulsed
a0 = 1.022 a1 = -0.363 a2 = 0.341

Corrected dosimeter reading at the voltage V1 :
MQ = M1 kTP kelec kpol ks = 0.1286 x 0.994 x 1 x 0.999 x 1.001
= 0.1278 nC/MU
4. Absorbed dose to water at the reference depth zref
Beam quality correction factor for the user quality Q : kQ,Q0 = 0.992 taken from
table 14

5. Absorbed dose to water at depth of dose maximum zmax
Depth of dose maximum : zmax = 1.5 g/cm
2

1. SSD set-up
Percentage depth dose at zref for a 10 cm x 10 cm field size :
PDD (zref = 10 g/cm
2
) = 0.674
Absorbed dose calibration of monitor at zmax :
Gy/MU
2. SAD set-up
TMR at zref for a 10 cm x 10 cm field size : TMR (zref = 10 g/cm
2
) = 0.66
Absorbed dose calibration of monitor zmax :
Gy/MU
Worksheet untuk Foton 10 MV
Determination of absorbed dose to water in a high energy photon beam
lokasi : Rumah Sakit Persahabatan
Tanggal : 14 November 2009
1. Radiaton treatment unit and reference condition for DW,Q determination
Nominal Acc. Potential : 10 MV
Nominal dose rate: 240 MU rate Beam quality, Q(TPR20,10) : 0.734
Reference phantom: Set-up : SSD dan SAD
Reference field size: 10 x 10 cm Reference distance (cm) : 10 cm
Reference depth zref : 10 cm
2. Ionization chamber and electrometer
Ionization chamber mode : PTW Silinder, Serial No. : 30013
Chamber wall : -
Waterproof sleeve : -
Phantom window : -
Absorbed dose to water calibration factor ND,W,Q = 52.9 mGy/nC
Calibration quality Qo : photon beam Calibration depth : -
If Qo is photon beam give TPR20,10 : 0.734
Refrence condition for calibration Po : 1.010 kPa ; To : 20
o
C Rel.humidity : 0%
Polarizing potential V1 : -400 Calibration polatiry : -ve
Use polarity : -ve
Calibration laboratory : - Date : -
Elektrometer model : PTW Farmer Serial No : 30013
Calibrated separately from chamber : - Range setting : -
If yes, calibration laboratory : - Date : -
3. Dosimeter reading and correction for influence quantities
Uncorrected dosimeter reading at V1 and user polarity : 28.29 nC
Corresponding accelerator monitor unit : 200 MU
Ratio of dosimeter reading and monitor units : M1 : 0.14145 nC/MU
1. Pressure P : 1.023 kPa ; Temperatur T : 22
o
C

2. Electrometer calibration factor kelec : 1
3. Polarity correction rdg at +V1 : M+ = 28.24/200 = 0.1412 at V1:
M- = 28.29/200 = 0.14145

4. Recombination correction (two voltage method)
Polarizing voltages : V1 (normal) =-400V V2 (reduced) =-100V
Reading at each V :M1 (normal) =0.14145 M2 (reduced) = 0.14065
Voltage ratio V1/V2 = 4 Ratio of reading M1/M2 = 1.0057
Use table 9 for a beam of type pulsed
a0 = 1.022 a1 = -0.363 a2 = 0.341


Corrected dosimeter reading at the voltage V1 :
MQ = M1 kTP kelec kpol ks = 0.14145 x 0.994 x 1 x 0.999 x 1.002
= 0.14074 nC/MU
4. Absorbed dose to water at the reference depth zref
Beam quality correction factor for the user quality Q : kQ,Q0 = 0.982 taken from
table 14

5. Absorbed dose to water at depth of dose maximum zmax
Depth of dose maximum : zmax = 2.5 g/cm
2

1. SSD set-up
Percentage depth dose at zref for a 10 cm x 10 cm field size :
PDD (zref = 10 g/cm
2
) = 0.736
Absorbed dose calibration of monitor at zmax :
Gy/MU
REFERENSI
Wasono,Sumosastro,dkk. 1992.Pengkuran output radiasi pesawat radioterapi pada
rumah sakid di seluruh Indonesia. BATAN
Susetyo,Trijoko.1996.Perhitungan waktu untuk penyinaran tumor dengan pesawat
teleterapi cobalt-60.PSPKR BATAN.
Jauhary, Arif. 2007. Prinsip kerja pesawat terapi cobalt-60.
diklat fisika dosimetri dan radiologi Universitas Indonesia.
J.Th.M. Jansen, 2001,types of treatment
Dwi seno, 2010, fisika terapi. FMIPA UI
E.B.Podgorsak.2005.Radiation oncology physics. International Atomic
EnergyAgency.
Modul praktikum kalibrasi foton.14 November 2009.