Anda di halaman 1dari 10

STIMULASI ELEKTRIK NEUROPROSTHESE

UNTUK MENGATASI PARALISIS OTOT



Tarwoto, NPM : 0906621501

Program Pasca Sarjana Kekhususan Keperawatan Medical Bedah
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia 2010


ABSTRAKSI
Kelumpuhan otot atau paralisis merupakan fenomena yang sering terjadi di masyarakat
khususnya pada pasien dengan stroke dan cedera tulang belakang. Kelumpuhan dapat terjadi
karena adanya kerusakan atau stimulasi saraf ke otot baik yang disebabkan karena kerusakan
saraf pusat mapun saraf perifer misalnya pada pasien dengan stroke dan cedera tulang belakang.
Untuk mengatasi masalah tersebut didesain suatu alat yang disebut Functional Electrical
Stimulation atau FES. Prinsif kerja dari FES adalah neuroprosthese elektrik yang merangsang
otot yang lumpuh dengan menyediakan perangkat tambahan fungsional sehingga pasien dapat
melakukan aktivitas secara optimal. Sistem ini juga dapat membantu berbagai fungsi seperti
fungsi perengangan tangan , membantu berdiri, melangkah, meningkatkan fungsi bladder dan
membantu pernapasan.
Cara kerja FES adalah dengan memasang 6 atau 12 elektroda pada intramuskuler atau kulit yang
kemudian dihubungkan dengan stimulator atau telemeter dan selanjutnya informasi atau datanya
akan dikirim ke eksternal unit control untuk kemudian dikembalikan berupa respon gerak.
Pengantar
Functional electrical stimulation atau FES merupakan perangkat stimulasi listrik yang langsung
merangsang saraf dan otot atau neuromuscular. Perangkat tersebut juga dinamakan
neuroprosthese. Pada penggunaan awal FES digunakan dengan memasang elektroda pada bagian
permukaan tubuh, namun mengingat masalah kosmetik dan komplikasi medic kemudian diubah
dengan metode pemasangan implant. Elektroda yang terpasang kemudian diset melalui alat pacu
untuk mengintegrasikan antara fungsi sensorik, motorik dan otonom. Pada aplikasi kilnis pada
alat ini dapat dimanfaatkan untuk aktivitas hidup sehari-hari seperti untuk stimulasi otot dan
saraf pada otot tungkai dan saraf sacral untuk pemulihan kandung kemih, fungsi usus, fungsi
saraf frenikus atau diaprgma untuk respon pernapasan atau batuk.
Beberapa studi yang dilakukan dalam penggunaan FES diantaranya :
1. Ragnarsson, 2008, mencoba melakukan overview perlembangan pada aplikasi FES dan
kemungkinan kemajuan ke depan.
2. DiMarco, 2005, melakukan overview teknologi FES untuk restorasi fungsi pernapasan.
3. Peckham, (2001), melakukan aplikasi FES untuk mengatasi kelumpuhan pada ekstremitas
atas. Peckham melakukan penelitian pada 51 orang dewasa dengan tetraplegia karena
kerusakan C5-C6, hasilnya dengan FES aman digunakan dan dapat meningkatkan
kemandirian pasien.
4. Kotting, 2007, melakukan penelitian pada 29 kelumpuhan ekstremitas bawah pada pasien
stroke. Hasilnya menunjukkan penggunaan FES 23 % dapat meningkatkan kecepatan
berjalan.
Banyak gangguan neurologi yang dicirikan difisit upper motor neuron (UMN) tetapi fungsi
lower motor neuron (UML) nya masih baik. FES merupakan aplikasi untuk elektrik pada
ektraseluler yang kemudian menimbulkan kontraksi otot dan dikombinasikan pada kelompok
otot yang berbeda dan dikontrol pusat motorik pergerakan yang berada pada temporal di otak.
Aplikasi ini sangat bermanfaat pada deficit neurologi dengan kelumpuhan pada UMN seperti
cedera tulang belakang, stroke, trauma kepala, multiple sklerosis dan cerebral palsy. Teknik
system FES diklasifikasikan menjadi beberapa metode yaitu melalui bagian permukaan kulit
tubuh, pada transcutaneous atau ditanam pada otot. Pada pemasangan dipermukaan kulit tubuh
dan transcutaneus tidak dilakukan tindakan invasive dan elektroda dipasang pada otot target.
Teknik ini lebih murah dan cocok untuk terapeutik yang lebih singkat tetapi pada pemasangan di
permukaan kulit dapat menyebabkan iritasi, nyeri, kurang kosmetik, keandalan kontraksi otak
sulit untuk melokalisir poin kontraksi otot. Pemasangan elektroda FES dengan teknik implant
ditempatkan pada otot yang didukung dengan baterai baik permanen atau dapat diisi ulang
melalui frekuensi radio (RF)

Pertimbangan Desain system implantable neuroprosthetic

Neuroprosthese implant dirancang dengan tujuan biokompatibilitas, keselamatan dan
penggunaanya dalam jangka panjang. Sistem ini diharapkan berjalan setiap hari seumur hidup
untuk pasien yang mengalami kelumpuhan atau kecacatan. Sistem ini dipasang untuk
mengontrol neuromuscular yang ditanam dengan sumber daya internal dan sensor terpadu. Ada
dua komponen yang saling bekerja sama yaitu komponen internal dan komponen eksternal.
Kedua komponen tersebut dihubungkan melalui kumparan radio frekuensi (RF). Hal ini
memungkinkan adanya pengiriman parameter kekuatan dan menstimulasi ke generator implant
dan selanjutnya terjadi pengiriman data ke luar.
Perubahan keseimbangan impuls arus listrik harus konstan sehingga frekuensi stimulus,
amplitudo dan semua durasi dapat memodulasi respon otot. Frekuensi stimulasi disimpan
serendah mungkin untuk mencegah kelelahan otot dan biasanya 12-16 Hz untuk aplikasi
ekstremitas atas dan 20-50 Hz untuk aplikasi tungkai bawah. Kekuatan otot dikendalikan oleh
modulasi baik durasi impuls maupun amplitudo. Kemasan elektronik implant sangat penting
dalam memastikan biokompatibilitas dan keselamatan elektronik. Kemasan implant modern
telah didesain kedap suara dan memberikan perlindungan jangka panjang dari cairan tubuh.
Kemasan metalik umumnya menggunakan kapsul titanium dan mempunyai fleksibilitas karena
dibangun dengan multi untai heliks. Elektroda dibuat dari bahan yang tahan korosif seperti dari
logam mulia platinum atau iridium atau keduanya. Paduan tersebut platiunum 10 % dan iridium
90 %, jenis elektroda tersebut sering disebut epimysial.
Elektroda epimysial dikembangkan di Case Western Reserve University (CWRU) menggunakan
cakram platinum dan iridium diperkuat dengan silicon ditempatkan pada intramuscular.


Gambar 1 : CWRU 8 channel implantable receiver stimulator dengan komponen kapsul
titanium Pada bagian kanan menunjukkan intramuscular elektroda.
Neuroprosthese untuk ekstremitas atas
Neuroprosthese untuk ekstremitas atas digunakan pada pasien yang terjadi kelemahan fungsi
ekstremitas atas, gangguan mengenggam yang biasanya terjadi akibat kerusakan pada tingkat
cervical C5 dan C6. Pasien dengan kelainan tersebut biasanya memiliki bahu yang fleksi dan
ekstensi pada pergelangan tangan serta adanya gangguan fungsi. Dengan terapi FES dapat
mengurangi ketergantungan bantuan dan lebih adaptif. Model implant untuk ekstremitas atas
merangsang elektrik rangsangan ekstensor siku. Pemilihan pasien sangat penting dalam
keberhasilan implant neuroprosthese untuk fungsi ekstremitas atas. Pasien dengan kontraktur
yang berlebihan merupakan kontraindikasi karena kelenturan otot dan sendi tidak
memungkinkan untuk suatu pergerakan.
Pada generasi pertama implant neuroprosthese digunakan dengan 8 chanel elektroda penerima
stimulator (lihat gambar 1) yang diaktifkan dan dikendalikan melalui radio frekuensi (RF) sinyal
eksternal. Delapan saluran menyediakan keseimbangan biphasic stimulus konstan saat 0-200
mikrodetik dengan kekuatan antara 2 dan 20 mA. Perangkat ini ditempatkan di sebuah
titaniumpackage dengan kumparan baja stainless eksternal. Pangkal elektroda adalah multi-
strande helical yang dilapisi dengan Teflon, sedangkan bagian ujungnya berhubungan dengan
konektor lengan. Kapsul implant melayani sebagai anoda untuk kembalinya arus dari semua
elektroda. Komponen eksternal IRS 8 mencakup eksternal unit control koil transmisi dan
eksternal tranduser di bahu. Pada bahu digubakan sebagai dual control untuk membuka dan
menutup atau supin dan pronasi dan mendukung kunci membuka tangan, meregang dan sensasi
posisi yang diinginkan. Pada uji coba klinis dengan IRS 8 ternyata dari 51 orang tetraplegia
menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam fungsi tangan.
Penempatan elektroda ada intermuskular otot-otot lengan bawah dan tangan menghasilkan
kekuatan pegang meningkat dan kemampuan memanipulasi objek juga meningkat. Dengan
neuroprosthese 78 % pasien mengalami perbaikan kemampuan pergerakan.

Gambar 2 : Penggunaan FES untuk ekstremitas atas, dimana elektroda-elektroda
ditempatkan pada intramuskuler lengan dan pada bahu dipasang resiever stimulator
yang dihubungkan dengan unit control eksternal.
Sejak diperkenalkan penggunaan IRS-8 sistem mengalami berbagai penyempurnaan yang
awalnya memerlukan sayatan besar dalam menyisipan epimysial elektroda intramuskuler. Baru-
bau ini diperkenalkan pengembangan elektroda perkutaneous dengan teknik yang minimal
sayatan, memerlukan waktu yang relative singkat, morbiditas pasien dan meningkatkan hasil
serta meminimalkan perlengketan pada tenton.
Pengembangan neuroprosthese generasi kedua dimulai pada awal 1990 an. Stimulatortelemeter
implantable (IST) memiliki fitur IRS 8 tetapi dengan meningkatnya jumlah saluran output.
Selain itu elemen kunci adalah mengumpulkan data dari sensor dan mengirimkan informasi ke
luar tubuh. IST mengakodasi dua jenis sensor yaitu transducer sudut implant sendi untuk
pergerakan lengan dan sinyal mioelektrik. Sensor mendeteksi fleksi pergelangan tangan dan
sudut sendi yang kemudian datanya disampaikan melalui unit control eksternal. Data-data ini
kemudian dianalisis untuk memberikan stimulasi yang dikirim kembali ke implant untuk
mengontrol rangsangan otot dengan pola-pola yang diinginkan, misalnya membuka dan menutup
tangan.
Ada beberapa resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada penggunaan neuroprosthese
yaitu infeksi. Hasil penelitian menunjukkan system FES mempunyai komplikasi infeksi kurang
dari 2 % pada tempat pemasangan elektroda, dan kurang dari 3 % pada area stimulator. Namun
demikian menurut Kaplan-Meiser (2003) memaparkan hasil penelitian bahwa 98.7 % daya tahan
system IRS masih baik sampai dengan 16 tahun. Umumnya komplikasi teknnologi terjadi pada
kegagalan komponen eksternal khususnya pada unit control ke transmitting coil. Disamping itu
komplikasi yang sering terjadi adalah terjadi ketidaknyamanan, tremor dan kejang.

Gambar 3 : FES dengan implantable stimulator telemeter (IST) 12 elektroda (12
chanel) untuk ekstremitas atas. Pada gambar ini terlihat adanya elektroda yang
dihubungkan dengan stimulator dan eksternal control unit.

Neuroprosthese untuk ekstremitas bawah
Berbeda dengan ekstremitas atas, penggunaan FES pada ekstremitas bawah lebih difokuskan
pada pasien stroke dengan menggunakan saraf peroneal untuk mengatasi footdrop. Kualitas dari
neuroprosthese pada pasien dengan kelumpuhan ekstremitas bawah adalah kemampuan pasien
untuk berdiri, kecepatan ambulasi dan restorasi pada otot.
Di Cleveland FES Center, Amerika Serikat, FES digunakan untuk mengaktifkan otot-otot
ekstremitas bawah untuk meningkatkan posisi duduk, mempertahankan postur tegak, melatih
jalan jarak pendek, melatih tungkai bawah.
IRS 8 stimulator digunakan pada kerusakan thorako lumbal. Stimulasi impuls melalui 8
elektroda dari lutut dan hip melalui otot ekstensor bilateral dan pada spinal T12 L2. Stimulator
ditempatkan pada area perut bagian bawah, kemudian power eksternal koil dan stimulator
implant terhubung ke sebuah unit control eksternal. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dari
11 pasien dapat berdiri rata-rata 85 % dengan berat badan bertumpu pada kaki mereka. Tujuh
dari sebelas orang dapat melakukan ayunan kaki untuk ambulasi dengan alat bantu jalan atau
kruk. Pasien yang menyelesaikan latihan berdiri pada pase selanjutnya menerima IRS 8 kedua
untuk mengaktifkan otot-otot yang diperlukan untuk melangkah.

Gambar 4 : Pemasangan alat stimulator control untuk footdrop kaki dengan menggunakan
eksternal control.
Proyek Eropa Stand Up dan Walk (SUAW), mengembangkan sebuah stimulator implant untuk
aplikasi tungkai bawah dengan menggunakan 16 elektroda SUAW stimulator memanfaatkan otot
berbasis epimysial elektroda.

Gambar : 5 : skematik dari IRS-8 sistem pada ekstremitas bawah untuk fungsi duduk dan
berdiri, pada gambar tersebut terdapat komponen IRS-8 yaitu elektroda, stimulator,
coupling coil, eksternal control yang dihubungkan dengan program computer.
FES sebagai penstimulasi syaraf dengan media sinyal listrik statik pada pasien kelumpuhan
yang kemudian hasil tersebut dideteksi melalui layar PC sehingga dapat dilakukan analisa
perkembangannya. Sinyal hasil yang telah diamati akan dibandingkan dengan referensi sinyal
dari manusia normal sebagai acuan (Ratna Adil dkk, 2005)
Pentingnya neuroprosthese untuk ekstremitas bagian bawah sangat membantu pasien melakukan
aktivitas, sikap, postur tubuh dan lamanya pergerakan. Ambulasi pada tungkai bawah untuk
aktivitas singkat dan jarak pendek merupakan pilihan tepat untuk penggunaan FES.
Penutup
Pada generasi pertama system implan neuroprostetik efektif untuk meningkatkan aktivitas
ektremitas atas, kemampuan berdiri, memperbaiki fungsi kandung kemih membantu otot
pernapasan. Kemudian dilakukan pengembangan untuk memperbaiki system ini dengan
menambah saluran tambahan atau elektroda untuk memperbaiki system sonsor dan metode
control. Kedepan system ini diharapkan mampu menggerakan ektremitas atau tangan untuk
menggunakan krusor computer, hal ini merupakan inovasi tinggi dalam penerapan teknologi
kesehatan. Aspek lain yang perlu dikembangkan dari neuroprosthese adalah multi chanel yaitu
metode untuk mengendalikan pola stimulasi gerakan fungsional yang kompleks dengan sinyal
yang berasal dari otak.
Dengan demikian kemajuan dan penelitian tentang FES dan pengenalan fungsi implant sangat
penting untuk meningkatkan mobilitas dan aktivitas hidup sehari-hari pada orang dengan
gangguan UMN. Pada gangguan ekstremitas atas dengan system ini seseorang dapat
meningkatkan fungsi tangan. Pada gangguan ekstremitas bawah dengan system ini seseorang
mampu meningkatkan kemampuan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan mobilisasi lainnya.













DAFTAR PUSTAKA
http://www.neuro.uni-bremen.de/~dip/theproblem.html, The Problem of Neuroprosthesis,
Diunduh tanggal, 28 Oktober 2010
http://www.rhci.org/outpatient-care/adult-care/ness-h200-neuroprosthesis, NESS H200
Neuroprosthesis, diunduh tanggal 28 Oktober 2010
Ratna Adil, dkk (2005), Penerapan Teknologi Stimulasi Kontraksi Otot Lengan pada
Neuroprosthesis dengan Neural Network , Makalah Seminar Nasional Soft Computing,
Intelligent Systems and Information Technology
Niloy Bhadra and John Chae (2009), Implantable neuroprosthetic technology, IOS Press and the
authors