Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH LABELI NG DARI ORANGTUA TERHADP PERKEMBANGAN

ANAK
Frenky Fernando
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Frenkyfernando088@gmail.com

Abstrak
Kekerasan pada anak sangat sering terjadi, apalagi kekerasan verbal. Kekerasan pada anak tidak hanya kekerasan
fsik, tetapi juga kekerasan verbal (verbal abuse). Orangtua lebih memilih melakukan kekerasan verbal seperti
menghardik dan mengatakan anak nakal atau bodoh (labeling) dari pada kekerasan fisik karena persaan tidak
tega untuk memukul, menjewer, atau mencubit anak. Namun, tanpa disadari, kekerasan verbal memiliki dampak
yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
labeling dari orangtua terhadap perkembangan anak. Penelitian ini dilakukan dengan metode tinjauan pustaka.
Labeling yang diterima anak dari orang
tuanya akan dijadikan anak sebagai suatu identitas dirinya dan akan membangun konsep diri anak. sehingga
perilaku anak akan berorientasi terhadap label yang ia terima dari orangtuanya. Akibatnya, jika orangtua
memberikan label nakal maka ia akan menjadai anak yang nakal. Label negative yang diterima anak akan
membuatnya menjadi kecewa, introvert, dan tidak percaya diri serta cenderun menyalahkan dirinya sendiri.
Sehingga setiap kali anak mengalami kegagalan maka label negative yang diterima anak dari orangtuanya akan
muncul dan anak akan kehilangan rasa percaya dirinya. Anak akan selalu merasa tidak percaya diri dan takut
untuk mencoba karena dibayangi oleh label yang diberikan orangtuanya.
Kata kunci: verbal abuse, labeling
Abstract
Child abuse is very often happens. Moreover the verbal abuse. Child abuse is not only physical violence, but also
verbal violence (verbal abuse). Parents prefer to do verbal violence such a child scolded and said "naughty" or
"stupid" (labeling) than to do physical violence because of feeling of not bear to hit, tweak, or pinch a child.
However, without knowing it, verbal abuse has a huge impact on a child's development. The purpose of this study
was to determine the effect of parental labeling on children's development. This research was conducted by
literature review. The Label of child that received from his parents will serve as an identity of her child and will
build child self-concept. So that the child's behavior will be oriented towards the label that he received from his
parents. Consequently, if the parents give the label "naughty" then he would be a naughty child. Negative labels
that Received would make him be a disappointed child, introverted, and insecure. So that every time a child has
failed the children received negative labels of their parents and the child would appear and his confidence is lost.
The child will always feel confident and not afraid to try because it was overshadowed by that is given by his
parents.
Keywords: verbal abuse, labeling

PENDAHULUAN
Anak adalah tunas bangsa atau generasi penerus yang dapat mewujudkan cita-
cita bangsa dan di pundak merekalah eksistensi suatu bangsa dapat ditentukan. Oleh
karena itu, mereka harus mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat
terus tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, psikis, social maupun
spiritual.
Berdasarkan laporan yang diterima dar Komnas PA, laporan kekerasan pada
anak di kawasan Jabodetabek pada 2010 mencapai 2.046, pada tahun 2011 naik
menjadai 2.462 kasus, pada tahun 2012 naik lagi menjadai 2.626 kasus, dan pada
tahun 2013 melonjak menjadai 3.339 kasus. (Auliani, 2014)
Kekerasan pada anak (child abuse) sangat sering terjadi, Seorang ahli
sosiologi David Gil (1993) mendefinisikan kekerasan sebagai setiap tindakan yang
mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi. Kekerasan pada anak
(child abuse) tidak hanya kekersan yag bersifat badani, namun juga yang bersifat
psikologis. (Soetjiningsih, 1995)
Orangtua sering mengatakan anaknya nakal atau bodoh saat anak melakukan
kesalahan, kesalahan yang dilakukan anak disebabkan karena ketidaktahuan anak
tentang tindakannya. Karena mereka hanya meniru apa yang dilakukan orang-orang
di sekitarnya. Disini orangtua telah melakukan pelabelan (labeling) terhadap anak.
Labeling juga merupakan bentuk kekerasan. Kekerasan tidak hanya bersifat
kekerasan fisik, namun juga kekersan non-fisik (psikis) seperti pemberian cap
(labeling), ejekan, dan lainnya yang bersifat verbal.
Surat kabar harian kompas 23 januari 2008 mengisahkan seorang okter yang sangat
menarik penampilan fisiknya tubuhnya atletis dan memiliki wajah tampan. Namun
dibalik gambarang ideal ini, dokter tersebut memiliki kekurangan yaitu suaranya yang
sangat lirih.hal ini membuat pasien atau lawan bicarany asulit mengerti apa yang
diucapkannya. Hal ini disebabkan karena semasa kecilnya, sang dokter selalu
mendapatkan olokan dan ledekan ayahnya. Sehingga timbul raas malu yang luar biasa
dan ia selalu mengnggap olokan tersebut sebagai sebuah sebuah hinaan. (Annora
Mentari Putri, 2012)
Kisah diatasa adalah gambarannyata dari pelabelan yang diberikan orangtua.
Melalui penelitian ini kita akan mengetahui bagaimana pengaruh labeling pada
perkembangan anak.
METODE
metode yang digunakan adalah metode tinjauan pustaka. yaitu suatu metode
penelitan dengan cara mengumpulkan data yang telah ada dari buku, jurnal, artikel,
majalah, atau laporan penelitian lainnya dan dijadikan pendukung atau sumber dari
pembuatan makalah ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal yang paling sering membuat orangtua marah adalah karena kenakalan
anak. Terutama ketika anak memasuki usia tiga tahun. pada usia ini, pembentukan
otak dan perilaku anak terjadi secara pesat. Pada masa ini anak dianggap sangat kritis
untuk perkembangan emosi dan psikologis. Perkembangan superego dan kesadaran
mulai muncul, Kenakalan anak pada usia ini adalah suatu hal yang wajar karena ini
adalah cara anak dalam mempelajari lingkungannya secara kritis dan kreatif. Tetapi,
terkadang orangtua menganggapnya sebagai suatu hal yang mengganggu dan
orangtua tidak segan-segan untuk membentak, atau memarahi anak.
Terry E Lawson, psikiater anak membagi kekerasan pada anak menjadi empat
macam yaitu emosional abuse, verbal abuse, physical abuse dan sexual abuse.
Verbal abuse adalah kekerasan melalui kata-kata. Misalnya ketika anak mencari
perhatian orangtuanya, orangtua menyuruh nak diam, pergi atau jangan
menagis. Dan ketika anak mulai berbicara, orangtua menggunakan kekerasan verbal
kamu bodoh, kamu cengeng, kamu kurang ajar dan seterusya. (Annora Mentari
Putri, 2012)
Kekerasan verbal seperti pemberian label (labeling) anak bodoh atau anak
nakal sangat besar dampaknya terhadap perkembangan anak. Baik disadari atau
tidak, orangtua sering melakukan hal ini. Orangtua lebih memilih melakukan
kekerasn verbal (seperti labeling) ketimbang kekerasan fisik. Namun, baik kekerasan
verbal maupun kekerasan fisik memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan
anak.
Labeling dapat dibagi menjadi labeling positif dan labeling negative. Baik
labeling positive atau pun yang negative akan sangat berpengaruh pada kepribadan
anak. Labeling positif kamu amemang anak mama yang baik/pntar/rajin adalah
hal yang diinginkan semua orang, begitu pula pada anak. Ini akan menjadi
reinforcemen yang baik dalam membentuk kepribadian anak. Labeling yang positif
akan menumbuhkan rasa percaya diri dan perasan bangga, sehingga anak akan
mempertahankan hal positif yang ia lakukan agar mendapatkakn pujian lagi dari
orangtuanya.
Sedangkan label negative yang diucapkan kepada anak akan langsung masuk
kedalam kognisi anak dan yang akan membangun suatu konsep diri negative dalam
diri anak dan akan mempengaruhi tingkah lakunya, apalagi jika kata-kata yang
diucapkan sangat menusuk perasan anak bodoh, dasar anak tdak berguna dan
diucapkan oleh orang yang paling dekat dengannya, maka kata-kata ini akan langsung
masuk ke alam bawah sadar anak dan akan mempengaruhi kepribadiannya. karena
anak memiliki perasaan yang sangat peka. Apalagi anak dalam usia golden age
Pemberian label negtif pada anak sangat dahsyat pengaruhnya. Anak akan
melabel dirinya seperti label yang diberikan orangtuanya. Akikbatnya, perilaku anak
akan menyesuaikan dengan label tersebut. dari pada melabel anak lebih baik orangtua
membantu anak mengevaluasi sebab-sebab kegagalan perilaku tertentu. Sehingga
anak menkaji usaha yang telah dilakukannya, mengetahiu kelebihan maupun
keterbatasannya. (Familia, 2006, p. 30)
Label atau cap yang diberikan orangtua kepada anak sangat besar dampaknya.
Anak akan menganggap label tersebut sebagai suatu identitas dirinya. Secara
sederhana, jika label yang diberikan adalah anak nakal, maka ia akan menjadi anak
yang nakal. Karena perilaku anak akan berorientasi pada label anak nakal yang
diberikan kepadanya.
Lebeling memberikan dampak negative melalui tiga cara. Pertama melalui
self-labeling (self konsep) menurut Sigmund freud, konsep ini berlangsung melalui
pengalaman, dengan mendapat label nakal dari orang lain, maka dalam diri anak akan
terbentuk konsep bahwa dirinya adalah seorang anak yang nakal dan ia mengukuhkan
label tersebut dengan berperilaku yang secara umum adalah perilaku anak nakal.
Kedua, melalui persepsi orangtua/perilaku orang dewasa lainnya. Apapun
yang dilakukan anak, orangtua akan menganggapnya sebagai nakal. Walaupun anak
menampilkan perilaku baik, namun orangtua /orang dewasa lainnya mempersepsikan
apa yang dilakukan anak adalah perilaku ada udang dibalik batu. Hal ni membuat
anak frustrasi dan tidak mau mengulangi perilaku baiknya lagi.
Ketiga, melalui perilaku orangtua/orang dewasa lainnya. Dari persepsi
negative tentang anak, orangtua/orang dewasa lainnya menampilkan perilaku yang
tidak memberikan peluang bagi anak untuk memperbaiki diri, misalnyasudahlah, tak
usah dinasehatilagi, buang waktu saja. Dia memang anak yang nakal akibatnya anak
makin tidak tau perilaku mana yang bisa diterima masyarakat.demikan proses ini
terjadiberulang dan berputar seperti bola salju (Herlina, 2007)
Anak bisa menyatakan kondisi dirinya secara negatif seperti: aku tidak bisa,
aku bodoh, aku takut, aku tidak bisa bergaul, dan berbagai penyataan negatif lain
tentang dirinya. Tidak menutup kemungkinan ada anak lain memandang dirinya
secara positif, seperti: aku bisa, aku pintar, aku cakep, menarik, aku
semangat. Semua yang dikatakan anak adalah self-concept, atau gambaran anak
tentang diri mereka sendiri. Self-concept merupakan pandangan seseorang terhadap
diri sendiri sebagai berharga atau tidak berharga. (Sriyanti)
Anak pada dasarnya lahir dalam keadaan fitrah, tidak penakut, tidak pemalu,
tidak nakal dan tidak bandel. Tidak kasar, tidak minder, tidak takut mencoba, tidak
senang berbohong. Semua perilaku tersebut dibentuk oleh lingkungan, oleh
pendidikan dan pengasuhan. Orang ua, guru, dan orang dewasa lain. Dan labeling
negatif adalah salah satu penyebab anak menjadi pribadi yang negative.
Anak yang diberi label negative oleh orangtuanya akan berusaha menjaga
tingkah lakunya, ucapannya, memendam rasa ingin tahunya, bahkan akan menjaga
jarak dari orangtuanya dan orang lain. Maka anak akan menjadi individu yang
pemalu, tidak mau bergaul, introvert, cenderung menyalahkan dirinya sendiri, mudah
putus ada, takut untuk mencoba dan tidak percaya diri. Anak tidak percaya diri dalam
melakukan sesuatu, karena ia takut melakukan kesalahan. Walaupun ia mencoba
untuk pintar dan berguna, namun saat ia mengalami kegagalan, konsep diri negative
itu akan langsung muncul dalam kesadarannya yang menghilangkan rasa percaya
dirinya.
keluarga adalah agen sosialisasi primer. Keluargalah yang pertama kali
memberikan sosialisasi atau pembelajaran kepada anak terutama orangtua. Peran
orang-orang terdekat dalam keluarga mejadi sangat penting karena interaksi anak
terbatas pada keluarganya dan kepribadian anak akan sangat ditentukan melalui
sosialisasi primer ini. Dalam hal ini keluarga terutama orangtua harusnya dapat sabar
dengan rasa ingin tahu anak yang sangat besar dan dapat menahan emosi atas
tindakan anak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Jean piaget mengatakan dalam teori kognitifnya, bahwa anak baru dapat
berpikir apa yang mereka lakukan setelah mereka berusia tujuh tahun. dan sebelum
tujuh tahun, anak hanya melakukan sesuatu sebagai proses meniru, tanpa tahu apa
secara sempurna tentang yang mereka lakukan. (suparno)
Anak selalu meniru apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Dan
seringkali melakukan kesalahan, namun kesalahan itu bukanlah hal yang disengaja.
Karena anak hanya meniru tanpa tau apa yang ia lakukan. Kesalahan atau kenakalan
yang mereka lakukan adalah cara unik mereka dalam mengeksplorasi dunianya secara
kreatif. Namun banyak dari orangtua yang memarahi anaknya yang salah dan bahkan
sering disebut sebagai anak yang nakal atau anak yang bodoh.
Anak bagaikan kertas kanvas putih yang siap disapu dengan berbagai warna.
Karena itu cara mendidik dan membesarkan anak dalam keluarga sangat penting.
Keluarga (terutama orangtua) adalah agen pertama yang akan memberikan warna
pada kanvas iniOrangtua harusnya lebih sabar dan lebh kreatif dalam menghadapi
perilaku anak, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menghambat perkembangan
optimal anak.
DAFTAR PUSTAKA

Annora Mentari Putri, A. S. (2012). PERSEPSI ORANG TUA TENTANG
KEKERASAN VERBAL PADA. JURNAL NURSING STUDIES, Volume 1,
Nomor 1 Tahun 2012, 22 29.
Auliani, P. A. (2014). Indonesia Darurat Kekerasan pada Anak. Harin Kompas:
http://nasional.kompas.com/read/2014/05/07/0527140/Indonesia.Darurat.Kek
erasan.pada.Anak.
Familia, T. P. (2006). KONSEP DIRI POSITIF, Menentukan Prestasi Anak.
YOGYAKARTA: KANISUS.
Herlina. (2007). Labeling dan Perkembangan Anak. Jurnal Psikologi Universitas
Pendidikan Indonesia.
Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang Anak. (G. Ranuh, Ed.) Jakarta: EGC.
Sriyanti, L. (n.d.). MEMBENTUK SELF CONCEPT POSITIF. Jurnal Sekolah
TInggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga.
suparno, p. (n.d.). Teori Perkembangan Kogniif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisus.