Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

PSIKOLOGI HUMANISTIK


Disusun Oleh:
BIMAS RAHMA JUNIYANTO
NIM: 1224090281
IRMA YONITA APRIANI
NIM: 1324070014
KAMELA CHAERUNNISA HASANAH
NIM: 1224090088
KASMIR HAYATUL NUFUS
NIM: 1224090319
NATALIA SINTA DEWI
NIM: 1224090075
RARASTI WIRAPERMATASARI
NIM:1224090253
YASMINE DARAIS
NIM: 1324070010

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I
JAKARTA
2014

TERAPI GESTALT

Pemakaian perkataan gestalt pada terapi gestalt menunjukkan bahwa arti gestalt
menjadi landasan utama teknik dan tujuan terapi ini. Kata gestalt berasal dari bahasa jerman
Gestalten yang artinya bentuk konfigurasi atau keseluruhan, namun yang mendekati arti
sebenarnya adalah organisasi dari keseluruhan yang bermakna (meaningful organized
whole). Sebagaimana diketahui didalam psikologi gestalt dengan tiga tokoh terkenal Koffka,
Kohler, dan Wertheimer) bahwa kalau melihat hanya pada bagian dari sesuatu tanpa melihat
bagian lain, maka akan kehilangan karakteristik yang penting dari sesuatu arena hal ini hanya
diperoleh kalau melihat sesuatu sebagai keseluruhan. Keseluruhan mempunyai arti dan
kekhususan tersendiri dan bukan merupakan penjumlahan dari bagian-bagian yang ada, jadi
lebih dari itu. Demikian pula keadaan manusia pada perilakunya.
Jika pengalaman-pengalaman dirasakan sebagai keseluruhan semua akan seimbang,
namun kalau bagian-bagian dihilangkan manusia akan berusaha menyusun keseimbangan
sebagai Gestalt. Perls memandang manusia dalam keterlibatannya untuk mencapai
keseimbangan, bila kehidupannya terganggu oleh kebutuhan-kebutuhan dari dunia dalam dan
tuntutan-tuntutan dari dunia luar. Gangguan ini menimbulkan ketegangan dan karena itu
diperlukan keseimbangan untuk mengurangi dan menghilangkan ketegangan tersebut. Dalam
keadaan sehat seseorang mampu menerima dan bereaksi terhadap keadaan dunia dalam dan
luar. Tetapi kalau keadaannya menjadi tidak seimbang timbul ketakutan dan menghindar
untuk mengetahui atau menyadari penyadarannya. Untuk ini diperlukan teknik agar
seseorang membukakan diri secara langsung dan segera terhadap pengalaman yang berkaitan
dengan pikiran, perasaan, dan tindakan sekarang ini. Pandangan teori dan terapi gestalt
terhadap manusia, sama halnya dengan pandangan eksistensialistik-humanistik ialah positif,
bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu dan manusia adalah makhluk
yang mampu mengurus diri sendiri.
Dalam kaitan dengan dasar inilah Perls (1969) mengatakan bahwa tujuan terapi
gestalt adalah membantu orang agar ia mampu mengembangkan dirinya sendiri, mencapai
kematangan dan melibatkan diri dalam kehidupan dan bertanggung jawab terhadap dirinya
sendiri. Manusia dilihat sebagai keseluruhan (total organism), tidak fragmentaris. Jadi dalam
keadaan sehat seseorang memusatkan pada suatu kebutuhan (sebagai bentuk, wujud atau
figure) pada suatu saat, sementara itu kebutuhan-kebutuhan lain menjadi latar belakangnya
(inilah konsep hubungan wujud dengan latar belakangnya atau figure-ground relationship
dalam psikologi gestalt). Kalau sesuatu kebutuhan terpenuhi (artinya gestalt tercapai)
kemudian berubah menjadi latar belakang dan kebutuhan baru muncul, menjadi pusat
perhatian, menjadi wujud lagi. Perubahan-perubahan antara wujud dengan latar belakang jika
berlangsung semakin lancar semakin menunjukan kepribadian yang sehat.


Perls merumuskan seorang penderita neurosis sebagai orang yang berusaha, untuk
memenuhi semua kebutuhan pada suatu saat, dengan akibat gagal untuk memenuhinya secara
penuh. Penderita neurosis mempergunakan kemampuannya untuk memanipulasi orang lain
agar berbuat untuk dirinya apa yang ia tidak lakukan untuk diri sendiri. Sehingga seseorang
menambah persoalan pada diri sendiri, karena ia tidak hidup secara tepat, seperti:
1) Kurang mengadakan hubungan dengan lingkungan. Misalnya pada seseorang
yang menutup diri sama sekali dari hubungannya dengan orang lain atau
lingkungan.
2) Titik temu. Seseorang bisa memberikan terlalu banyak dari dirinya atau
sebaliknya menyerap terlalu banyak dari lingkungan pada dirinya, sehingga ia
kehilangan tempat berpijak untuk dirinya sendiri.
3) Hal yang tidak tuntas. Seseorang bisa mempunyai kebutuhan yang belum
terpenuhi secara tuntas, atau perasaan yang tidak bisa diungkapkan atau
beberapa kejadian yang tidak terselesaikan, sehingga mengganggu perhatian.
4) Fragmentasi. Seseorang mungkin mengetahui atau menolak sesuatu kebutuhan
misalnya agresivitas. Karena kebutuhan seperti itu tidak diterima oleh
masyarakat, orang cenderung tidak mengekspresikannya. Kekuatan dorongan
yang ada bisa diarahkan secara konstruktif, justru menjadi hilang karena
penolakan itu.
5) Topdog, Underdog. Seseorang mungkin mengalami pemisahan didalam
kepribadiannya antara yang ia pikir harus dilakukan (top dog) dengan apa
yang ia ingin lakukan (underdog). Contoh dari top dog adalah bagian dari
pribadinya dengan ciri-ciri moralitas, perfeksionisme dan otoriter. Harus
melakukan sesuatu sebagaimana diharapkan dan dituntut oleh orang lain.
6) Polaritas. Kehidupan manusia banyak dipengaruhi oleh adanya polaritas
(dikotomi) dari dua kutub yang saling bertentangan, seperti badan pikiran,
pribadi-sosial, cinta-agresi, kesadaran-ketidaksadaran.
Dalam rangka terapi gestalt, pandangan terhadap hakikat manusia dalam
kemanusiaannya, menurut passons (1975) adalah sebgai berikut:
1. Manusia adalah keseluruhan dari komposisi bagian-bagian yang saling
berhubungan. Tidak ada satu bagian pun dari bagian-bagian ini seperti emosi,
pikiran perasaan, pengamatan, dapat diketahui terpisah dari manusia sebagai
keseluruhan.
2. Manusia juga bagian dari lingkungannya sendiri dan tidak bisa diketahui
terlepas dari lingkungan tersebut
3. Manusia memilih bagaimana ia memberi respons terhadap rangsangan dari
luar dan dari dalam. Dalam hal ini manusia adalah aktor bukan reaktor.
4. Manusia memiliki kemampuan untuk menyadari sepenuhnya terhadap semua
penginderaan, pikiran, emosi dan pengamatan.
5. Manusia mampu melakukan pilihan karena adanya kemampuan menyadari ini.
6. Manusia memiliki kemampuan untuk menguasai kehidupannya secara efektif.

7. Manusia tidak bisa mengalami dirinya sendiri terhadap hal yang sudah lampau
atau hal yang akan datang, ia hanya dapat mengalami dirinya sendiri sekarang.
8. Manusia menjadi baik atau buruk bukan dari dasarnya.

Bahwa manusia oleh kelompok terapi gestalt dipandang sebagai keseluruhan, juga
dikemukakan oleh Ivey, et al (1987), yang mengatakan manusia adalah keseluruhan bukan
bagian-bagian yang sedang mencari untuk mencapai kelengkapan. Manusia memiliki
kemampuan yang meyakinkan untuk menentukan arah kehidupannya. Mengenai ini Corey
(1991) mengatakan manusia berjuang untuk mencapai keseluruhan dan integritas dari pikiran,
perasaan dan tindakan. Tidak deterministik, melainkan dilihatnya memiliki kemampuan
untuk mengenali bagaimana pengaruh-pengaruh terdahulu dihubungkan dengan kesulitan-
kesulitan yang dirasakan sekarang. Pertumbuhan dan perkembangan meliputi kegiatan untuk
mengalihkan dukungan yang berasal dari luar ke dukungan dari dalam diri sendiri (self-
support).
Sasaran utama Terapi Gestalt adalah memperkuat penyadaran (awareness) yang akan
meningkatkan arti kehidupannya secara penuh, disini dan sekarang (here and now).
Penyadaran menjadi sasaran utama dalam terapi gestalt, agar selanjutnya pasien secara
berangsur-angsur bisa mencapai keterpaduan (integrasi) yang diperlukan untuk
memungkinkan perkembangan dirinya berlangsung dengan baik. Penyadaran dilakukan
terhadap pasien meliputi penyadaran yang lebih terhadap hal khusus. Dalam kaitan ini tujuan
terapi adalah meningkatkan kemampuan pada pasien agar bisa membiasakan diri dalam
melakukan penyadaran yang diperlukan. Maka kalau pada mulanya penyadaran adalah
berupa isi, pada akhirnya berupa proses. Penyadaran ini meliputi pengetahuannya terhadap
lingkungan, tanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya, pengetahuan terhadap diri sendiri,
penerimaan terhadap diri sendiri dan kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan.
Terapi gestalt setelah mengetahui permasalahan pada pasien, memikirkan bagaimana pasien
bisa mengatasi persoalannya sendiri. Terapis meningkatkan pengaturan diri sendiri dan
dukungan dari diri sendiri pada pasien. Jika berhasil, pasien akan mampu mengintegrasikan
cara penyelesaian masalah, tema-tema khusus, hal-hal yang muncul selama berhubungan
dengan terapis dengan cara untuk mengatur penyadaran diri sendiri.
Dalam kegiatan terapeutik, tidak ada keharusan yang perlu dilakukan oleh pasien
karena pada terapi gestalt kebebasan pasien untuk menemukan nilai yang dianutnya sendiri
dihargai. Ciri hubungan antara terapis dan pasien disebut sebagai hubungan horizontal,
berbicara dengan bahasa yang sama. Dalam keadaan demikian, proses terapi akan bisa
berlangsung efektif, karena tidak hanya pasien akan terjadi perubahan dalam pribadinya,
melainkan juga pada terapisnya. Terapis bertindak aktif membimbing penyadaran pada
pasien. Kehadirannya memungkinkan pasien bisa mengamati bagaimana terapis dan apa yang
diinginkan terapis sebagai pribadi. Terapis juga harus tanggap terhadap bahasa tubuh dan
perilaku nyata yang diperlihatkan pasien, karena hal ini bisa memberi data yang lebih banyak
dan lengkap. Terapis kemudian bisa memberikan umpan balik dari gerakan atau bahasa
tubuhnya, agar pasien menyadari, memahami apa yang dilakukan dengan anggota tubuhnya,

termasuk apa yang mungkin ditutupi atau disembunyikan. Pasien belajar bagaimana ia dilihat
dan bagaimana proses penyadaran yang dimilikinya masih terbatas, terutama bukan dari
pembicaraan mengenai persoalan, tetapi dari bagaimana ia dengan terapis terlibat dan bekerja
sama.
Mengenai pengertian penyadaran (awarenaess), dirumuskan oleh Yontef (1976) yang
pada waktu itu adalah Ketua Trainning Committee dari Institute of Gestalt Therapy di Los
Angeles, sebagai berikut: Penyadaran adalah suatu bentuk pengalaman. Suatu proses agar
selalu terjadi hubungan dengan kejadian penting di dalam diri pribadi maupun lingkungan
dengan dukungan penuh dari senomotorik, emosi, kognisi dan dorongan yang ada didalam
dirinya. Penyadaran yang berlangsung terus dan tidak terputus akan mencapai pemahaman.
Ada beberapa ciri penyadaran, yakni:
1) Penyadaran akan efektif hanya jika didasarkan pada dan didorong oleh
kebutuhan sekarang yang dominan pada seseorang. Contohnya seseorang telah
mengadakan perjanjian dan ia khawatir tentang percakapan yang akan terjadi.
Ia tidak menyadari mengenai apa kepentingan dalam perjanjiannya itu dan arti
dari janji yang telah dibuat yang sebenarnya bisa mengurangi ketegangan,
sekiranya ia bisa menyadari keadaan sebenarnya.
2) Penyadaran tidak lengkap tanpa mengetahui langsung keadaan sebenarnya dari
situasi dan bagaimana seseorang berada dalam situasi ini.
3) Penyadaran selalu berada disini dan sekarang (here and now) dan selalu
berubah. Penyadaran adalah pengalaman sensori bukan magis. Kejadian yang
sudah lewat sekarang muncul sebagai ingatan, yang akan datang tidak ada
kecuali sekarang sebagai khayalan atau harapan. Jadi penyadaran diartikan
sebagai pemahaman terhadap apa yang dilakukan sekarang, pada situasi yang
ada sekarang.

Pada tahun 1969 dalam tulisannya, Perls mengatakan bahwa tujuan dari terapi gestalt
adalah untuk membantu seseorang agar bisa berkembang sendiri mencapai kematangan,
melibatkan diri dalam kehidupan dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Pusat
perhatian pada terapi Gestalt adalah mendalami proses penyadaran yang memungkinkan
untuk meningkatkan kehidupannya secara penuh disini dan sekarang. Disamping itu tujuan
lain adalah untuk mengejar seorang agar bisa mencapai integritas diri. Integritas dari
keseluruhan pribadiannya yang memungkinkan bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya
sendiri, mandiri, tidak tergantung pada faktor luar. George & Cristiani (1981) mengatakan
dengan singkat mengenai tujuan teori gestalt sebagai berikut: untuk memungkinkan
intervensi dan tantangan yang diperlukan mempermudah seseorang mencapai pengertian dan
penyadaran kearah integrasi dan perkembangannya. Untuk mencapai ini, kunci utamanya
adalah konsep keadaan sekarang yang perlu diperhatikan. Kejadian dulu sudah lewat, sudah
hilang dan kejadian yang akan datang belum tiba, jadi hanya keadaan sekarang yang penting.
Konsep yang dipakai dalam melaksanakan terapi gestalt yang ditandai oleh pernyataan apa
dan bagaimana dan bukan pertanyaan mengapa. Bagi Perls pertanyaan mengapa hanya

menjurus pada pembentukan rasionalisasi, penipuan diri dan menghindar dari pengalaman
langsung. Terapi Gestalt akan membawa pasien mengalaminya sekarang. Kalau ia berbicara
mengenai kemarahan, maka pasien harus merasakan kemarahan itu sekarang dan bukan
membicarakan mengenai kemarahan yang berlarut-larut tanpa hasil. Bagi terapis Gestalt hal
yang sudah lewat cukup penting jika ada kaitan dengan keadaannya sekarang dan terapis
akan meminta pasien memperlihatkan sekarang dihadapan terapis keadaan yang dialami atau
dirasakan dahulu, agar kemudian pasien bisa melakukan proses penyadaran terhadap
keadaannya dan selanjutnya berkembang pribadinya sebagai keseluruhan yang terpadu.
Mengenai tujuan terapi Gestalt, Ivey,et al (1987) mengatakan agar seseorang lebih
menyadari kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupannya. Corey (1991)
mengatakan mengenai tujuan terapi Gestalt untuk membantu pasien mencapai penyadaran
pada setiap saat pengalamannya. Untuk merangsang pasien agar menerima tanggung
jawabnya mengenai dukungan dari dunianya sendiri yang bertentangan dengan
ketergantungan terhadap dukungan dari dunia luar. George & Cristiani (1981) juga
mengatakan hal ini mengenai tujuan terapi Gestalt dan menambahkan tujuan skundernya,
yakni agar pasien bisa mencapai integritas dalam dirinya sebagai pribadi dengan kepribadian
yang terintegritas secara keseluruhan (totalitas). Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal
yang penting ialah menciptakan suatu skala penyadaran (continuum awareness), yang bisa
dilakukan dengan berbagai cara. Terapi Gestalt bisa dilakukan dengan beberapa teknik,
secara singkat adalah sebagai berikut:
1. Pengalaman sekarang. Pasien dibantu agar merasakan atau melakukannya
sekarang. Kejadian yang sudah lewat agar dirasakan sekarang, demikian juga
dengan kejadian yang akan datang.
2. Pengarahan langsung. Terhadap pasien secara terus menerus diarahkan pada
apa yang yang dilakukan. Apa yang dikemukakan pasien dipakai sebagai
bahan agar terapis secara aktif mengarahkan proses berpikir pasien, misalnya
mengenai kejadian dulu dan ucapan dulu yang harus diucapkan sekarang.
3. Perubahan bahasa. Terhadap pasien didorong agar mengubah pertanyaan-
pertanyaan menyadi pernyataan, dengan keyakinan bahwa kebanyakan
pertanyaan-pertanyaan adalah pernyataan tentang diri sendiri yang
tersembunyi. Misalnya contoh pertanyaan apakah anda suka saya? Pada
dasarnya pertanyaan ini adalah pernyataan bahwa saya tidak yakin anda suka
saya!
4. Teknik kursi kosong. Teknik ini sangat terkenal dan dianggap banyak
manfaatnya pada terapi Gestalt. Sering disebut sebagai teknik latihan atau
permainan peran (role-playing). Kalau seorang pasien mengekspresikan
ketegangannya terhadap orang lain, ia diarahkan untuk berbicara dengan orang
lain yang dibayangkan sedang duduk dikursi kosong disamping atau
didepannya. Setelah itu, terapis meminta pasien untuk bertukar tempat duduk
dan menjawabnya seolah-olah ia adalah orang lain tersebut. Terapis
mengarahkan pembicaranya antara pasien dengan tokoh imajiner dengan

menukar kursi pada saat-saat kritis. Dengan demikian pasien akan belajar
untuk menyadari dan mengerti perasaannya secara lebih baik.
5. Berbicara dengan bagian dari dirinya. Ini merupakan variasi dari teknik kursi
kosong. Percakapan terjadi antara bagian-bagian yang ada dalam diri
seseorang, misalnya yang menimbulkan konflik. Atau antara yang harus (top
dog)dengan yang sebaliknya (underdog)yang pasif dan penurut.

Terapi Gestalt pada dasarnya adalah penanganan perorangan, namun bisa juga
dipergunakan dalam kelompok dan dalam bentuk lokakarya. Pasien-pasiennya adalah mereka
yang mengalami hambatan neurosis seperti kecemasan, phobia dan depresi, kecuali itu juga
dianggap efektif untuk menangani pasien-pasien psikosomatik, konflik intrapsikik dan
terhadap pasien-pasein dengan gangguan yang lebih mendalam seperti psikosis. Terapi
Gestalt juga bisa diterapkan untuk menghadapi anak-anak yang mengalami gangguan-
gangguan perilaku, bahkan juga untuk latihan, seperti latihan kreativitas dan intervensi-
intervensi jangka pendek.
Terapi Gestalt ternyata banyak dipakai oleh para terapis dan menurut passons (1975),
terapi Gestalt merupakan salah satu teknik terapi yang punya keunggulan tersendiri dalam
lapangan kesehatan mental. Fagan & Shepard (1970) menunjukkan bahwa American
Academy of Psychotherapist, mencantumkan terapi Gestalt sebagai urutan keenam mengenai
banyaknya terapi yang digunakan oleh para terapis, jadi termasuk kelompok besar. Mengenai
keefektifan dari terapi Gestalt dilaporkan oleh simkin (1976), greenberg (1980), dan Harman
(1984). Kesemuanya menunjukan hasil yang positif meyakinkan mengenai keefektifannya.
Pada akhirnya untuk menutup uraian mengenai terapi Gestalt ini, dicantumkan doktrin dari
Perls yang dikemukakan melalui Gestalt Prayernya yang terkenal (Perls, 1969, terjemahan
bebas oleh penulis);
Aku lakukan pekerjaanku dan Anda melakukan pekerjaan Anda
Kehidupanku didunia ini tidak untuk memenuhi harapan Anda
Dan Anda didalam dunia ini tidak dapat hidup untuk aku
Anda adalah Anda dan Aku adalah Aku
Dan kalau tanpa sengaja kita bertemu, alangkah indahnya
Jika tidak, tak tertolonglah





DAFTAR PUSTAKA

Supriyadi, T., & Erdina Indrawati, Psikologi Konseling. Jakarta: Inti Prima
Promosindo, 2011.