Anda di halaman 1dari 38

Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terluas kedua di dunia dengan
jumlah pulau sebanyak 17.504 buah dan panjang garis pantai mencapai 104.000 km, total
luas laut Indonesia sekitar 3,544 juta km atau sekitar 70% dari wilayah Indonesia, keadaan
tersebut seharusnya meletakan sektor perikanan menjadi salah satu sektor riil yang sangat
potensial di Indonesia (Bardach dan McLarney, 1972).
Perikanan sendiri menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004
adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya
ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan
pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan (Hempel dan Pauly,
2004). Dari definisi tersebut, setidakknya dapat diambil pemahaman bahwa kegiatan
perikanan berdiri di atas beberapa kegiatan mulai dari praproduksi, yaitu proses yang
dilakukan sebelum menjalankan kegiatan produksi, kegiatan produksi dalam perikanan dapat
diasumsikan adalah kegiatan penangkapan atau kegiatan budidaya, sementara pengolahan
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu dari suatu produk untuk
meningkatkan nilai ekonomisnya (Lackey, 2005). Barang-barang hasil produksi kegiatan
perikanan tadi harus difungsikan sebagai barang yang memiliki nilai ekonomis untuk
menjalankan fungsi bisnis perikanan. Oleh karena itu, ekonomi perikanan secara intensif
akan selalu bersinggungan dengan kegiatan-kegiatan perikanan sebelumnya, yaitu
penangkapan, budidaya dan pengohalan. Setiap dari kegiatan-kegiatan tersebut memiliki
karakteristik dan permasalahnnya sendiri-sendiri sehingga perlu pola dan perspektif yang
berbeda untuk memahami tiap macam kegiatan.
Potensi ekonomi sumber daya pada sektor perikanan diperkirakan mencapai US$ 82
miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi, potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1
miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi peraian
umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per
tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi
kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun (Rahardja dan Manurung, 2002). Selain itu,
Page 2

potensilainnya pun dapat dikelola, seperti sumber daya yang tidak terbaharukan, sehingga
dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan Indonesia.
Potensi perikanan sendiri dapat dibagi menjadi tiga sektor utama yaitu tawar, laut, dan
payau, dimana ketiga potensi perikanan ini telah berkembang menjadi usaha budidaya yang
dikarenakan terjadinya penangkapan yang berlebihan pada sektor penangkapan, hal ini
tentunya memberi dampak besar bagi ketahanan pangan nasional maupun dunia, salah satu
usaha budidaya yang saat ini berkembang dengan pesat untuk memenuhi kebutuhan panagn
dunia adalah budidaya udang yang dilakukan pada sektor payau(Lackey, 2005).menurut
Ghufron dan Kordi(1997) budidaya udang dipilih sebagai salah satu sektor yang perlu untuk
dijalankan dan dikembangkan didasari pada permintaan udang baik dalam maupun luar
negeri yang sangat besar selain itu udang sendiri memiliki nilai ekonomis yang tinggi
dipasaran, serta pengembanagan dan pelatihan budidaya udang yang dilakukan baik oleh
penyuluh swasta maupun negeri mengarahkan masayarakat untuk melakukan budidaya udang
demi memperbaiki perekonomian keluarganya, hal tersebut membuat masyarakat secara
berkelompok maupun individu melakukan kegiatan budidaya udang secara besar-besaran
dengan bantuan dana baik dari bank maupun pemerintah daerah setempat.
Perkembanagan usaha budidaya udang sendiri berjalan dengan sangat pesat namun belum
dapat memenuhi kebutuhan pasar yang sangat banyak, hal ini mengakibatkan harga jual
udang tidak mengalami perubahan yang drastis sehingga semakain banyak yang tertarik
untuk melakukan usaha budidaya udang baik yang memiliki modal besar maupun yang
memiliki modal yang kecil, menurut Lackey(2005) dalam usaha budidaya udang saat ini
dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu usaha yang dijalankan dengan sistem
perusahaan baik pribadi maupun kelompok dan ada pula usaha budidaya udang yang
dijalankan dengan sistem kemasyarakatan, atau dapat dikatakan usaha budidaya udang
masyarakat (kelompok pembudidaya) yang dikelolah oleh masyarakat suatu desa dengan
bantuan sistem koperasi dan permodalan yang bersal dari warga sendiri ataupaun dengan
bantuan pinjaman bank yang diperoleh beratasnamakan kelompok.
1.2.Tujuan
Mengetahui persamaan dan perbedaan kegiatan usaha budidaya udang yang
dilakukan perusahaan dan kelompok pembudidaya (masyarakat)
Mengetahui sistem budidaya yang diterapkan baik oleh perusahaan maupun
kelompok pembudidaya (masyarakat)
Page 3

Mengetahui efek dari adanya kegiatan budidaya udang terhadap lingkungan
sekitar
Mengetahui efek dari usaha budidaya udang terhadap tingkat perekonomian
Masyarakat sekitar
1.3.Manfaat
Dapat mengetahui secara langsung persamaan dan perbedaan kegiatan usaha
yang dilakukan oleh perusahaan maupun kelompok pembudidaya
(masyarakat)
Dapat mengetahui sistem budidaya yang diterapkan baik oleh perusahaan
maupun kelompok pembudidaya (masyarakat)
Dapat mengetahui pengarauh keberadaan usaha budidaya udang baik segi
ekonomi masyarakat maupun lingkungannya.
Dapat lebih memahami tentang tahapan-tahapan yang perlu dilakukan untuk
memulai, menjalankan hingga memasarkan hasil usaha budidaya udang.
1.4.Waktu Pelaksanaan
Praktikum Manajemen Akuakultur Payau dilaksanakan di Dusun Kuwaru, Desa
Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul Yogyakarta pada Sabtu, 31 Mei 2014
yang dimulai dari pukul 09.00 WIB 14.00 WIB yang bertempat di PT. Indokor Bangun
Desa dan Kelompok Pembudidaya Udang Dusun Kuwaru.









Page 4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau
organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau
akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja
tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air. Istilah akuakultur
sendiri diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris yaitu Aquaculture, dimana definisi
akuakultur sendiri merupakan suatu proses pembiakan organisme perairan dari mulai proses
produksi, penanganan hasil sampai pemasaran(Wheaton, 1977).Akuakultur merupakan upaya
produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat
kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan),
penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi (Bardach dan McLarney,
1972). Sementara akuakultur menurut Websters Dictionary (1990) adalah proses pengaturan
dan perbaikan organisme akuatik untuk kepentingan konsumsi manusia.
Udang penaed memiliki beberapa ciri khas utama antara lain adalah, memiliki kaki jalan
1,2, & 3 bercapit dan kulitnya dilapisi oleh citin. Udang penaeid sendiri termasuk golongan
crustaceae yang merupakan binatang air yang memiliki tubuh beruas-ruas dan pada setiap
ruasnya terdapat sepasang kaki. Udang vanname merupakan salah satu jenis udang yang
sering dibudidayakan oleh masayarakat tak terkecuali oleh masayarakat dan perusahaan
indokor yang terletak di Dusun Kuwaru, udang vanname sendiri merupakan salah satu famili
penaeidae yang menurut Ghufron dan Kordi (1997) secara morfologi dapat di bedakan
menjadi 2 bagian yaitu, cephalothorax terdiri atas bagian kepala dan badan yang dilindungi
carapace dan abdomen yang terdiri atas bagian perut dari segmen/ruas-ruas sampai ekor.
Ruas kepala dari udang vanname terdapat mata majemuk yang bertangkai, selain itu juga
memiliki 2 buah antena yaitu, antenna I dan antenna II, dimana Antena I atau antenulles
mempunyai dua buah flagellata pendek berfungsi sebagai alat peraba atau penciuman dan
antena II atau antenae mempunyai dua buah cabang yaitu, exopodite yang berbentuk pipih
disebut prosantema dan endopodite berupa cambuk panjang yang berfungsi sebagai alat
perasa dan peraba. Pada bagian kepala juga terdapat mandibula yang berfungsi untuk
menghancurkan makanan yang keras dan dua pasang maxilla yang berfungsi membawa
Page 5

makanan ke mandibular (Saanin, 1984). Pada bagian dada terdapat 8 buah ruas, masing-
masing mempunyai sepasang anggota badan disebut thoracopoda, thoracopoda 1-3 disebut
maxiliped berfungsi pelengkap bagian mulut dalam memegang makanan, thoracopoda 4-8
berfungsi sebagai kaki jalan (periopoda), sedangkan pada periopoda 1-3 mempunyai capit
kecil yang merupakan ciri khas udang penaeidae(Setyobudi, 2012). Sementara bagian
abdomen terdiri atas 6 buah ruas, diaman Ruas 1-5 memiliki sepasang anggotabadan berupa
kaki renang yang disebut pleopoda (swimmered), pleopoda sendiri berfungsisebagai alat
untuk berenang yang bentuknya pendek dan ujungnya berbulu (setae), pada ruas ke 6 terdapat
uropoda yang bersama dengan telson berfungsi sebagai kemudi (Sunarto, 2003). Berikut
adalah morfologi dari udang vannamei Menurut Ghufron dan Kordi (1997):
Gambar 2. Morfologi udang vannamei

Keterangan gambar:
1. Carapace a. Oesophagus
2. Rostrum b. Ruang cardiac
3. Mata majemuk c. Ruang pyloric
Page 6

4. Antennules d. Cardiac plate
5. Prosartema e. Gigi-gigi cardiac
6. Antena f. Cardiac ossicle
7. Maxilliped g. Hepatopancreas
8. Pereopoda h. Usus (mid gut)
9. Pleopoda i. Anus
10. Uropoda
11. Telson
Anatomi dari udang vannamei menurut Gaspersz (2003) yang penting dan dapat
membedakannya dengan jenis udang yang lain adalah, pada rostrum ada 2 gigi disisi ventral,
dan 9 gigi disisi atas (dorsal), pada badan tidak ada rambut-rambut halus (setae), pada udang
jantan bagian tumbuh dari ruas coxae kaki renang 1 yaitu protopodit yang menjulur kearah
depan dan disebut sebagai petasma dengan panjangkira-kira 12 mm dan pada udang betina
thelycum terbuka berupa cekungan yang ditepinya banyak ditumbuhi oleh bulu-bulu halus,
terletak dibagian ventral dada/thorax, antara ruas coxae kaki jalan 3 dan 4 yang juga disebut
Fertilization chamber.Menurut Hempel dan Pauly (2004) klasifikasi udang vaname adalah
sebagai berikut:
Phylum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub-kelas : Malacostraca
Series : Eumalacostraca
Super order : Eucarida
Order : Decapoda
Sub order : Dendrobranchiata
Infra order : Penaeidea
Page 7

Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus
Sub genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
Usaha budidaya tidak terlepas dari biaya baik itu biaya tetap maupun biaya variabel
hingga berujung pada biaya pemasukan atau keuntungan dari hasil penjualan produk.Biaya
sendiri adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk
memperoleh pendapatan(Kusmayadi, 2000). Menurut Gani (1990) Biaya merupakan
pengorbanan sacrifice yang bertujuan untuk memproduksi atau memperoleh suatu komoditi.
Pengorbanan yang tidak bertujuan disebut pemborosan dan bukan termasuk biaya. Sementara
biaya menurut Sukardi dan Saksono (2013) diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk
memperoleh suatu output tertentu, dimana pengorbanan tersebut dapat berupa uang, barang,
tenaga, waktu maupun kesempatan, dalam analisis ekonomi nilai kesempatan (untuk
memperoleh sesuatu) yang hilang karena melakukan sesuatu kegiatan lain juga dihitung
sebagai biaya, yang disebut biaya kesempatan/opportunity cost.
Bidang kegiatan perikanan budidaya menurutIdrus(2009) mengenal dua jenis pembagian
biaya yaitu, Pembagian biaya berdasarkan pengaruhnya pada skala produksi yang meliputi:
Biaya tetap (fixed cost = FC), yaitu biaya yang nilainya secara relatif tidak
dipengaruhi oleh besaranya jumlah produksi (output). Biaya ini harus tetap
dikeluarkan walaupun tidak ada pelayanan.
Biaya variabel (variabel cost = VC), adalah biaya yang nilainya dipengaruhi oleh
banyaknya output.
Total cost adalah jumlah dari fixed cost ditambah variabel cost yang dalam persamaan
sbb:TC = FC + VC
dan Pembagian biaya berdasarkan lama penggunaannya yang meliputi:
Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya yang masa kegunaannya dapat berlangsung untuk waktu yang
relatif lama, biasanya waktu untuk biaya investasi ditetapkan lebih dari satu tahun dan batas
satu tahun ditetapkan atas dasar kebiasaan merencanakan dan merealisasi anggaran untuk
Page 8

jangka waktu satu tahun, biaya investasi sendiri biasanya berhubungan dengan pembangunan
atau pengembangan infrastruktur fisik dan kapasitas produksi (alat produksi) (Sukardi dan
Saksono, 2013). Berikut adalah barang-barang yang menjadi investasi dalam usaha budidaya
perikanan, tanah dan bangunan, kendaraan, peralatan produksi, Peralatan rumah tangga
(dalam proses pengolahan). MenurutGani (1990) nilai barang investasi dalam analisis biaya
harus memperhitungkan (1) harga satuan (nilai awal barang) masing-masing jenis barang
investasi, (2) lama pemakaian barang tersebut, (3) laju inflasi (tingkat bunga bank) dan (4)
umur ekonomis barang tersebut. Selain itu biaya inventasi harus juga memperhatikan biaya
penyusutan (depreciation cost), biaya penyusutan sendiri adalah biaya yang timbul akibat
terjadinya pengurangan nilai barang investasi (asset) sebagai akibat penggunaannya dalam
proses produksi. Setiap barang investasi yang dipakai dalam proses produksi akan mengalami
penyusutan nilai, baik karena makin usang atau karena mengalami kerusakan fisik
(Kusmayadi, 2000).
Biaya operasional
Biaya oprasionl adalah biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dalam suatu
proses produksi dan memiliki sifat habis pakai dalam kurun waktu yang relatif singkat
(kurang dari satu tahun) contoh yang termasuk dalam biaya operasional antara lain biaya
obat-obatan, biaya pakan, gaji pegawai, dan biaya bahan bakar. Selain itu biaya oprasional
juga meliputi biaya pemeliharaan, dimana biaya pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan
untuk mempertahankan nilai suatu barang investasi agar dapat terus berfungsi, misalnya
biaya pemeliharaan gedung dan pemeliharaan kendaraan.








Page 9

BAB III
KEADAAN UMUM

3.1. PT. Indokor Bangun Desa
PT. Indokor Bangun Desa merupakan sebuah perusahaan yang terletak di Dusun
Kuwaru, Desa Poncosari, Kabupaten Bantul-Yogyakarta yang saat ini bergerak di bidang
perikanan budidaya khususnya budidaya udang vanname. PT. Indokor sendiri didirikan pada
tahun 1999 oleh Tony Agus yang bekerjasama dengan Sultan Hamengkubuwono X sebagai
pemilik lahan di Dusun Kuwaru tersebut (Sultan Ground). PT. Indokor didirikan ditanah
seluas 30 ha dengan jumlah kolam budidaya yang dibuat adalah 20 buah dengan luas 3600
m
2
dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 7,2 miliar dan memperkerjakan 50 orang dimana
60% diantaranya merupakan masyarakat Dusun Kuwaru, pada tahun 1999 PT. Indokor
melakukan proses budidaya udang windu dikarenakan pada awal tahun 2000-an permintaan
udang windu masih tergolong tinggi baik didalam maupun diluar negeri selain itu usaha
budidaya udang windu juga belum mengalami masalah yang besar seperti penyakit yang
terjadi sekarang. PT. Indokor sendiri melakukan panen pertama kalinya pada tahun 2000
dengan hasil panenan yang mencapai 4 ton udang basah.
Seiring dengan berjalannya waktu maka pada tahun 2004 PT. Indokor melakukan
pergantian komoditas yang dibudidayakan dimana dari udang windu beralih ke udang
vanname hal ini dilakukan karena permintaan pasar akan udang windu menurun selain itu
baik permintaan maupun harga jual dari udang vanname jauh lebih tinggi dari udang windu
dan juga pergantiaan komoditas ini dilakukan untuk menghindari serangan penyakit yang
dapat menimbulkan kerugian dalam usaha yang dijalani. Pada tahun 2014 PT. Indokor
melakukan perbanyakan kolam budidaya dengan memanfaatkan lahan yang tersisa dan
berhasil mendirikan 4 buah tambak ukuran 1800 m
2
dengan menghabiskan dana sebesar
Rp.860 juta. PT. Indokor sendiri memiliki beberapa kolam tambahan seperti 3 kolam
sedimentasi yang berukuran 1800 m
2
,9 kolam pembenihan dengan ukuran 30 m
2
dan
terdapat satu kolam berukuran sangat besar yang digunakan sebagai kolam treatment air
limbah hasil budidaya sebelum dibuang ke laut. Pada saat ini PT. Indokor melakukan proses
pemanenan setiap 90-100 hari sekali pada 5 tambak hal ini dikarenakan telah dilakukannya
penggiliran penebaran benih yang membuat setiap 3 bulan akan dilakukan pemenenan pada
Page 10

5 tambak saja dan ada pula yang hanya 4 tambak dari total 24 tambak. Selain itu PT. Indokor
saat ini mempekerjakan 68 orang dimana hampir 60% pekerjanya masih berasal dari Dusun
Kuwaru.
PT. Indokor terletak 500 m dari jalan raya utama dimana akses dari jalan raya utama
menuju PT. Indokor hanya berupa jalan berbatu yang sedikit berlubang, PT. Indokor
didirikan di area yang berjarak 300 m dari pasang air laut tertinggi. PT. Indokor memiliki
beberapa gedung yang digunakan sebagai gudang, bengkel, dan tempat untuk bekerja bagi
para manejer, selain itu PT. Indokor juga memiliki sebuah gedung laboratorium yang
digunakan baik untuk menganalisis kualitas air tambak dan air penampungan serta juga
digunakan untuk melakukan pengujian terhadap benur yang baru didatangkan. Suasana di
pusat PT. Indokor tergolong sejuk dikarenakan pada daerah tersebut terdapat cukup banyak
pohon cemara sementara untuk di lokasi tambaknya sendiri tergolong sangat panas hal ini
dikarenakan hanya terdapat semak-semak tanpa adanya pohon yang rindang oleh sebab itu
didirikanlah gubuk-gubuk di sekitar tambak untuk tempat bertedunya para pekerja.
PT. Indokor Bangun Desa secara struktural dikepalai oleh seorang diektur yang
dibantu oleh manajer personalia, manajer umum, manajer produksi, dan manajer keuangan
yang dikepalai oleh seorang general manajer. Setiap manajer akan dibantu oleh staf yang
terbagi sesuai divisi yaitu devisi pembenihan, devisi logistik, devisi irigasi, devisi mekanik,
dan devisi produksi. Adapun jumlah karyawan yang bekerja di PT. Indokor bangun desa
yaitu 68 karyawan.
PT. Indokor Bangun Desa memiliki beberapa sarana dan prasarana yang digunakan
untuk menunjang terlaksanaya proses budidaya yang baik dan antara lain adalah gedung
kantor, gedung logistik, bengkel mekanik dan elektrik, pembenihan dengan 9 petak kolam
beton outdoor ukuran 5x6x1,2 m, pembenihan indoor terdiri atas 2 kolam bulat diameter 6 m
dan dilengkapi dengan 1 buah laboratorium yang juga difungsikan untuk menganalisis
kualitas air di semua tambak, selain itu tambak pembesaran ada 24 petak tambak yang
semuanya dibangun dengan menggunakan konstruksi biocret diaman terbagi menjadi tambak
besar dengan ukuran 3600 m
2
dan 4 petak tambak yang berukuran lebih kecil yaitu 1800 m
2

dan dilengkapi oleh 3 tambak penampungan air yang berukuran 1800 m
2
dan 1 tambak
ukuran sangat besar yang digunakan untuk treatment air sebelum dibuang untuk mencegah
terjadinya kerusakan kualitas air laut maupun pencemaran ke lingkungan perairan lepas.
Sarana lainnya arata lain pos keamanan, mess untuk manajer dan karyawan serta sumber air
Page 11

berupa sumur resapan dan sumur bor, serta beberapa prasarana teknis budidaya lainnya
seperti pompa, genzet, 2 buah mobil bak terbuka yang digunakan untuk pengangkutan pakan
maupun pengangkutan hasil produksi ke tempat tujuan atau ke tempat penyimpanan, dan
yang terakhir kincir. PT. Indokor Bangun Desa juga memiliki gudang beku (refrigerator)
yang berada di jalan ring road selatan DIY yang digunakan untuk menjaga kualitas udang
sebelum diangkut ke tempat tujuan.
3.2. Kelompok Pembudidaya (Asosiasi ATAYO)
Kelompok pembudidaya atau kelompok petambak masyarakat kuwaru yang lebih
dikenal dengan asosiasi ATAYO merupakan sebuah kelompok pembudidaya yang terdapat di
Dusun Kuwaru yang didirikan pada awal tahun 2013 sebagai upaya untuk memajukan usaha
tambak yang dirintis bersama di Dusun tersebut. Usaha tambak masayarakat Kuwaru sendiri
mulai dirintis pada tahun 2012 oleh salah seorang warga yaitu Nur yang dipicu oleh harga
udang yang dinggi serta permintaanya yang sanagt tinggi baik didalam maupun diluar negeri
setelah melihat perkembangan tambak Nur para warga berinisiatif untuk mengikuti jejak Nur
untuk membuka lahan tambak budidaya, tambak yang dibagun warga sendiri merupakan
tambak yang dibangun dengan menggunakan plastik yang diperkuat oleh asbes hal ini tentu
berbeda dengan yang dimiliki oleh PT. Indokor yaitu tambak biocret hal ini dikarenakan
biaya yang sangat besar harus dikeluarkan untuk membuat 1 buah tambak biocret.
Pengguanan tambak plastik dan asbes ini juga didasari pada lahan tempat didirikanya tambak
yaitu padang pasir dimana jika dibangun tambak biocret ditakutkan dapat pecah ketika
adanya tekanan dari air yang tidak didukung oleh lahan yang kuat dan keras.
Tambak milik warga ini tepat berada disamping jalan utama Dusun Kuwaru, hal ini
membuat para pekerja dapat menggunakan motor untuk menuju ke lokasi tambak mereka
namun hal tersebut tidak begitu mudah mengingat tambak berada di daerah padang pasir
yang sangat lunak. Sementara untuk jarak tambak dari pasang laut tertinggi 400 m yang
diantaranya terdapat beberapa rumah warga dan tempat usaha seperti warung ikan dan toko
kelontong. Lokasi tambak milik warga ini tergolong sangat panas hal ini dikarenakan tambak
berada tepat di daerah padang pasir dan tanpa adanya pohon rindang sama sekali namun
hanya terdapat beberapa semak belukar. Pada daerah sekitar tambak warga terdapat beberapa
WC yang dibangun khusus untuk menunjang kebutuhan para pengelolah tambak baik pada
siang maupun malam hari guna meminimalisir terjadinya pencurian di tambak.
Page 12

Secara struktural asosiasi ATAYO ini memiliki susunan organisasi yang terdiri atas
ketua asosiasi, wakil ketua asosiasi, bendahara asosiasi, sekertaris asosiasi, yang semuanya
didukung oleh beberapa warga yang lebih memahami tentang cara budidaya udang, cara
menagani beberapa penyakit udang, cara pemasaran yang menguntungkan, dan pengurus
persediaan pakan bagi para anggota asosiasi. Para petambak yang tergabung dalam asosiasi
ATAYO semuanya memiliki genzet karena sumber listrik dari PLN tidak dapat menunjang
secara penuh proses budidaya yang dilakukan.
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh asosiasi ATAYO antara lain adalah 1 buah
gedung perkumpulan yang dirangkapakan sebagai gudang pakan dan kincir, WC untuk
pekerja, pondok jaga, genzet, kincir, pompa, petak tambak yang berjumlah 225 petak yang
berukuran 500-800 m
2
dan 10 buah yang berukuran 3000 m
2
.















Page 13

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. PT. Indokor Bangun Desa
Lahan yang digunakan oleh PT. indokor untuk usaha tambak udang merupakan lahan
campuran tanah, pasir, dan batuan yang tergolong sultan ground (SG) atau tanah milik sultan
yang sebelumnya dimanfaatkan oleh penduduk setempat (Dusun Kuwaru) sebagai lahan
pertanian khususnya tanaman kering seperti cabe dan kol, kemudian pada awal tahun1999
lahan garapan penduduk dialih fungsikan sebagai tambak yang dipakai oleh PT. Indokor.
Pengalihan fungsi lahan sendiri digantikan dengan cara ganti rugi perusahaan atau disebut
magersari sebesar 10 % dari laba panen setiap tahunnya yang diberikan untuk bendahara desa
serta keluarga yang lahannya dialih fungsikan. PT. Indokor kemudian melakukan rekayasa
konstruksi tambak untuk menyesuaikan kondisi lahan untuk mendirikan petak tambak yang
kuat dan tahan lama serta air yang digunakan untuk proses pembudidayaan tidak mudah
teresap ke dalam tanah yang memiliki pori-pori besar karena terdiri atas pasir dan bebatuan.
Sumber air sendiri pada usaha budidaya udang di PT. Indokor bangun desa berasal
dari 7 buah sumur resapan dan 2 buah sumur bor. Sumur resapan di tepi pantai sebagai
sumber air asin atau air payau yang salinitasnya masih tergolong tinggi (19-33 ppt) sementara
sumur bor berperan sebagai sumber air lebih tawar (salinitas kurang lebih 2 ppt). Air laut
sendiri diambil dengan menggunakan pompaberkekuatan 7,5 HP, sementara Sumur resapan
sebagai sumber air laut untuk memenuhi kebutuhan air asin di PT. Indokor diperoleh dengan
menggunakan pompa yang berkekuanatan lebih rendah. Pompa sentrifugal berada kurang
lebih 10 m kea rah utara dari sumur resapan dan ditempatkan pada rumah pompa dan terdapat
4 pompa yang berada di rumah tersebut dan pompa-pompa tersebut bekerja 24 jam non-stop
untuk memenuhi kebutuhan air ditambak. Setiap pompa memiliki kekuatan untuk menyedot
air dari sumur sekitar 800 L/menit. Sumur resapan memiliki kedalaman sekitar 12 meter
sementara sumur bor memiliki kedalaman 60-70 m dimana kedua air tersebut akan
ditampung pada kolam penampungan dan dicampur sehingga salinitas akan sesuai dengan
kebutuhan baik kolam pembesaran maupun kolam pembenihan yaitu 9-12 ppt dan 25-30 ppt.
Pembuatan konstruksi tambak juga memperhatikan sifat korosif dari air laut, sehingga
teknik konstruksi yang digunakan dalam mebuat petak tambak yaitu konstrkusi biocrete.
Page 14

Konstruksi tersebut merupakan campuran semen yang membentuk beton yang bertulang atau
berkerangka kayu atau bambu. Kayu dan bambu digunakan sebagai kerangka kemudian
diberi semen sehingga menjadi beton dan digunakan sebgai dinding tambak, pemilihan kedua
bahan ini dikarenakan bahan tersebut tidak dapat mengalami korosi oleh air laut selain itu
kedia bahan tersebut juga memiliki kekuatan yang hampir menyamai besi sebagai kerangka
konstruksi. Sementara uantuk bagian dasar dari tambak serta lapisan dinding tambak
menggunakan plastic PE (polyethilen) berukuran 0,15 mm sehingga tidak akan terjadi
peresapan air budidaya oleh lahan yang berpori-pori besar.
Kawasan tambak dibuat sedemikian rupa sehingga usaha dapat berjalan dengan
lancar. Pemuatan green belt di selatan tambak sengaja dilakukan dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya erosi oleh air laut dan angin yang membawa pasir sehingga dapat
mengakibatkan pendangkalan tambak. Pembuatan green belt dilakukan dengan kerjasama
antara PT. Indokor Bangun Desa dan Fakultas Kehutanan UGM. Perusahaan menanam 600
pohon cemara udang sebagai green belt. Selain green belt di sebelah selatan green belt juga
dibuat sepanjang kawasan tambak dengan kedalaman kurang lebih 5 meter yang berjarak 150
meter dari laut yang berfungsi sebagai pelindung dari ombak besar dan angin yang dapat
membawa pasir sehingga akan mengakibatkan pendangkalan di petak tambak. Area
perusahaan juga ditanami tumbuhan pandan dan semak serta dipasang pagar bambu sehingga
kawasan tambak aman dari pencurian maupun hewan pemangsa lainnya. Jalan masuk ke area
tambak berupa jalan pasir berbatu yang dibuat perusahaan sehingga mempermudah dalam
aksesibilitas menuju lokasi PT. Indokor.
Proses budidaya yang diterapkan oleh PT. Indokor dapat dibagi menjadi beberapa
tahapan pelaksanaan yang meliputi :
Persiapan tambak
Tahap persiapan tambak dilakukan beriringan dengan tahap aklimatisasi benur yang
baru didatangkan dari supplier yaitu dari Situbondo, Ayer, dan Gunung Kidul, sehingga
ketika benur telah siap untukditebar maka tambak juga telah siap dengan persyaratan yang
telah disesuaikan. Persiapan tambak pembesaran udang meliputi banyak kegiatan mulai dari
pengeringan dan pencucian dasar tambak untuk membersihkan dari sampah-sampah dan
limbah organik, evaluasi kondisi plastik dasar tambak yang meliputi pemeriksaan dan
perbaikan kebocoran plastik serta pematang yang bocor, penyiangan tumbuhan dan perbaikan
dasar tambak agar plastik tidak tersingkap, pemeriksaan central drain, pemasangan skat balk,
Page 15

persiapan kincir, pengisian air, pemupukan, pengapuran, pemberian fermentasi probiotik dan
enzim serta proses pengoperasian kincir air.
Pengisian air ke tambak pembesaran memerlukan waktu yang cukup lama berkisar 1-
2 hari tergantung debit air yang mengalir dari reservoir. Pemupukan dilakukan dengan
menggukan berbagai macam pupuk kimia yang tersedia dipasar, seperti pupuk urea, KCL,
NPK, TSP-46, nutriflake, EDTA dan enzim. Pupuk-pupuk tersebut diberikan pada tambak
dengan tujuan untuk menumbuhkan pakan alami bagi benur, selain itu pemupukan juga dapat
meningkatkan pH perairan dan dapat mengurangi keasaman perairan karena limbah budidaya
sebelumnya serta dapat juga berguna untuk memepercepat proses molting atau pergantian
cangkang udang. Pemupukan biasa dilakukan 2-3 hari sebelum benur ditebar ke tambak
pembesaran, pengapuran dilakukan dengan menggunakan kapur dolomit untuk meningkatkan
pH air juga untuk membunuh organisme parasite yang terdapat pada perairan.
Setelah tahap persiapan selaesai maka air dicek kualitasnya, dan jika telah sesuai
dengan standar pertumbuhan dan perkembangan udang yang ada maka telah tambak siap
untuk ditebari benur yang telah diaklimatisasi di divisi Pembenihan.
Penyediaan dan Penebaran Benur
Penyediaan benur PT. Indokor Bangun Desa tidak dilakukan secara mandiri oleh
perusahaan melainkan dengan bekerja sama dengan perusahaan penyedia benur udang,
namun pada awal mula berdirinya PT. indokor penyediaan benih dapat dilakukan secara
mandiri oleh perusahaan namun setelah berkembang pesat stok benih tidak dapat lagi
memenuhi kebutuhan sehingga semua benih dibeli dari beberapa balai benih yang telah
terpercaya kualitas benurnya selain itu terjadi pula penurunan kualitas perairan yang hampir
menimbulkan konflik di daerah perusahaan berdiri. Beberapa instansi penyedia benur yang
bekerja sama dengan PT. Indokor Bangun Desa diantaranya dari daerah Situbondo, Anyer
dan Gunung Kidul, dimana ukuran benur yang biasa dipesan adalah benur yang telah
mencapai ukuran PL 9-10 dan benur terebut perlu diaklimatisasi dahulu selama 7-8 hari
dalam bak aklimatisasi. Aklimatisasi sendiri dimaksudkan agar benur tidak mengalami shock
sehingga benur tidak terlalu mengalami stress yang dapt mengakibatkan kematian.
Aklimatisasi bertujuan untuk menyesuaikan suhu dan salinitas media hidup benur dari tempat
pembenihan ke tempat pembesaran. Waktu aklimatisasi dapat bervariasi, aklimatisasi dapat
cukup dilakukan 3 hari jika salinitas bak aklimatisasi telah mencapai kesamaan dengan
salinitas di tambak pembesaran dengan cara menurunkan kadar salinitas air aklimatisasi
Page 16

sebesar 1-2 ppt setiap harinya hingga mencapai angka 9-12 ppt. Benur yang diaklimatisasi
pada bak / petak aklimatisasi ditebar dengan kepadatan 100.000 ekor/ m3. Selama proses
aklimatisasi benur diberi pakan satu kali sehari untuk hari pertama dan 3-5 kali sehari pada
hari berikutnya, selain itu pakan alami yang diberikan berupa plankton Chaestosceros sp.
Kegiatan pemanenan benur berkaitan dengan penebaran benur pada tambak
pembesaran karean benur pasca aklimatisasi akan dipanen dan dikemas langsung akan
diangkut menuju tambak pembesaran untuk segera ditebar. Panen benur dilakukan pada pagi
atau sore hari untuk menghindari resiko kematian benur secara massal akibat perubahan suhu
yang tergolong drastis.Benur yang telah dikemas dalam kantong plastik dan siap tebar
diangkut menuju tambak pembesaran dengan menggunakan alat transportasi. benur tersebut
ditebar dengan padat tebar berbeda tergantung ukuran tambak. Padat tebar yang digunakan
untuk tambak berukuran 3600 m
2
berkisar antara 450.000-500.000 ekor benur, sedangkan
untuk tambak berukuran sedang (1800 m
2
) padat tebarnya berkisar antara 250.000-300.000
ekor benur. Penebaran benur dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat cuaca tidak sedang
hujan karena akan bermasalah pada perubahan kadar salinitas tambak. Mula-mula plastik
diletakkan di tambak dan didiamkan selama 5 menit, kemudian plastik kemasan dibuka
tanpa mengeluarkanbenur dari kemasan dan didiamkan secara perlahan, terakhir plastik
kemasan secara tepat dengan posisi mulut kemasan terletak dibawah sehingga dengan cepat
pula benur dapat keluar dari kemasan.
Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan kepada udang merupakan pakan komersil dari PT. CP Prima
(Central Proteinprima) dengan merk dagang Irawan. Pakan yang biasa digunakan memiliki
beberapa tipe. Berikut tipe pakan yang digunakan oleh PT. Indokor beserta spesifikasinya:
kode Bentukpakan Ukuranpakan Beratudang
(g)
Pemberianpakan
(% biomassa)
Frekuensi
(kali/hari)
681 V Crumble
(remahan)
0,425x0,71
mm
PL 13-1,0 10,0-8,0 3
682 V Crumble
(remahan)
0,71x1,0 mm 1,0-2,0 8,0-7,5 4
683 V Crumble
(remahan)
1,0x2,3 mm 2,0-5,0 7,5-4,5 4
683-SP V Pellet 1,8x2,0 mm 5,0-14,00 4,5-2,5 4
684-S V Pellet 1,8x4,0 mm 14,0-22,0 2,5-1,7 4
6684 V Pellet 2,0-5,0 mm 22,0-panen <1,7 5

Page 17

Pemberian pakan dilakukan dengan berbagai metode dan interval yang beragam sesuai
dengan ukuran dan padat umur udang yang baru ditebar. Pemberian pakan berdasarkan pada
data-data produksi sebelumnya dan data prediksi biomassa pada tambak. Program full
feeding dilakukan pada 1 bulan pertama dan setelah itu dilakukan program yang serupa
dengan BWA (Body Weight Average) atau berdasar pada hasil sampling berat udang
(berdasar pada biomasa udang).
Interval pemberian pakan juga beragam bergantung pada umur udang. Untuk udang
yang baru ditebar biasanya diberi pakan 2 kali/hari dan secara bertahap akan bertambah
menjadi 5-6 kali /hari hingga waktu panen. Jadwal pemberian pakan biasanya dilakukan per 4
jam sekali yaitu pada pukul 05.00, 09.00, 13.00, 17.00, 21.00 dan 01.00 WIB. Periodisasi
pemberian pakan ditetapkan berdasarkan pertumbuhan dan umur udang. Pertumbuhan udang
dapat diketahui berdasarkan sampling yang dilakukan seminggu sekali (atau sesuai
kebutuhan), sehingga sampling sangat menentukan langkah manajemen pemberian pakan
pada tahap pemeliharaan selanjutnya. Sampling pertumbuhan dan prediksi biomassa udang
dilakukan menggunakan anco yang ditempatkan dalam perairan. Anco dapat diamati 1 hingga
2 jam setelah pemberian pakan. Peilaian terhadap hasil pengamatan berkisar 0,1 dan 2. Nilai
0 menunjukkan bahwa pakn yang diberikan telah habis dan dapat ditingkatkan dosis pakan
untuk tahap selanjutnya. Nilai 1 menunjukkan bahwa pakan masih bersisa namun sedikit dan
dapat hilang terbawa arus drainase. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pakan masih
mencukupi kebutuhan udang dan tidak perlu penambahan dosis pakan. Nilai 2 menunjukkan
bahwa pakan masih tersisa banyak dan perlu pengurangan dosis pakan untuk kedepannya.
Dosis pakan yang diberikan ke udang pada berbagai tambak tiap harinya disiapkan
oleh divisi logistik. Divisi logistik tiap harinya akan menyiapkan pakan untuk tiap tambak
berdasarkan data yang diberikan oleh divisi produksi. Jadi tiap tambak tiap hari telah
diberikan dosis yang telah disesuaikan dengan keadaan udang di tambak.
Perawatan Budidaya
Manajemen pembesaran udang dilakukan dengan melakukan pengamatan secara
periodik terhadap pertumbuhan udang dengan cara melakukan sampling menggunakan
bantuan alat berupa anco dan dilakukan setelah udang dipelihara selama 30 hari. Sampling
pertumbuhan udang bertujuan untuk mengetahui jumlah udang yang nantinya digunakan
untuk menduga populasi dan pakan yang akan diberikan pada tahap pemeliharaan
selanjutnya. Selain menggunakan anco, sampling pertumbuhan dapat pula dilakukan dengan
Page 18

menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring tertentu. Sampling dilakukan pada beberapa
titik tambak untuk mendapatkan data yang seakurat mungkin. Adapun langkah yang dapat
dilakukan untuk melakukan sampling adalah dengan menangkap udang pada beberapa titik.
Kemudian menghitung jumlah udang yang tertangkap damn menimbang berat total udang
yang tertangkap. Setelah itu udang dikembalikan ke tambak dan dilakukan perhitungan berat
rerata udang serta menduga populasi keseluruhan dari udang yang ada di tambak. SR yang
diperoleh mencapai 80-90 %.
Manajemen kualitas air meliputi pengamatan semua parameter kualitas air yang
memiliki pengaruh penting terhadap kelangsungan hidup udang. Parameter kualitas air
tersebut adalah suhu, pH, oksigen (DO), salinitas, kecerahan dan plankton. Pengecekan
parameter kualitas air tersebut bervariasi, dalam hal ini periodenya tergantung tingkat
kepentingannya. Untuk parameter suhu, pH, oksigen (DO), salinitas diamati sebanyak 2 kali/
hari pada waktu pagi dan sore, kecerahan diamati setiap hari, sedangkan plankton diamati
seminggu sekali, adapun perlakuan-perlakuan yang diberikan kepada tambak dapat berupa
pemberian tepung zeolite untuk mengendaliakn ammonia, dolomit untuk pengapuran, kaptan,
probio dan molase untuk bioremediasi menggunakan mikrobia, peroksida atau H
2
O
2
, pupuk
kimia untuk pemupukan lanjutan, pergantian air dan penyiponan untuk menjaga kualitas air,
penggunaan kincir hingga fliushing jika dirada perlu.
Penyiponan dilakukan dengan membuka central drain yang memiliki 10 buah pipa
satu per satu untuk menyedot sisa pakan dan limbah budidaya lain seperti feses dan dibuang
melalui drain. Pembukaan pipa tersebut dilakukan 4 jam setelah pemberian pakan. Bagian ini
dibuka jika limbah sudah banyak terkumpul di daerah tengah akibat gerakan air oleh kincir
air. Penggunaan kincir air bertujuan untuk menjaga kandungan ooksigen dalam perairan.
Oksigen merupakan kebutuhan pokok untuk semua organisme tanpa terkecuali udang.
Penggunaan kincir pada awal tahap budidaya kurang begitu dibutuhkan, namun seiring
bertambahnya waktu secara bertahap kincir air dioperasikan bahkan mencapai 10 kincir tiap
tambak. Penambahan kincir yang beroperasi secara bertahap dilakukan. Penambahan jumlah
kincir biasanya didasarkan jika DO air dibawah 3 dalam waktu 2 hari berturut-turut. Jika itu
terjadi , penambahan kincir untuk dioperasikan dilakukan.
Flushing pada dasarnya juga merupakan pergantian air, akan tetapi pergantian air
yang dimaksud adalah dengan cara membuang air tambak diiringi dengan pengisian air ke
dalam tambak sehingga air dalam keadaan mengalir dan tergantikan air baru. Flushing
Page 19

dilakukan pada kasus-kasus tertentu, misalnya jika terjadi kematian udang dan diduga
disebabkan oleh kualitas air yang buruk. Flushing akan mengurangi kemungkinan terjadinya
tekanan secara fisiologis bagi udang.
Hama penyakit yang mewabah pada tambakn budidayaudang PT. Indokor Bangun
Desa belum tercatat selama ini. Namun sempat diduga terjadi serangan virus MIO dan WSSV
(White Spot Syndrome Virus) dengan gejala badan udang yang banyak muncul bercak putih.
Setelah dilakukan analisis laboratorium ternyata itu bukanlah serangan virus namun
merupakan kram yang dialami udang akibat kadar oksigen yang turun atau rendah. Adapun
hama yang dapat dijumpai pada tambak udang antara lain biawak, ular dan ikan nila yang
berada pada reservoir yang lolos penyaringan hngga dapat masuk ke tambak pembesaran.
Panen merupakan tahap akhir dari kegiatan budidaya. Satu bulan sebelum dilakukan
panen pemberian pakan dilakukan 5 kali/hari. Panen udang vannamei dilakukan setelah 90-
100 hari pemeliharaan. Namun di PT. Indokor Bangun Desa panen dilakukan tergantung
permintaan pasar akan size dan permintaan pemilik perusahaan. Satu minggu sebelum
dilakukan panen dilakukan penebaran kapur sebanyak 100 kg per petak tambak untuk
mengantisipasi aktivitas moulting udang.
Kegiatan panen memerlukan waktu hingga 6 jam. Panen dilakuka mulai menjelang
sore hingga malam. Tujuannya adalah menghindari fluktuasi suhu yang cukup tinggi jika
dilakukan di siang hari. Panen diawali dengan mempersiapkan jaring penangkapan dan
membuka central drain. Setelah debit air mulai rendah maka udang digiring menuju jaring
untuk ditangkap. Dalam kegiatan pemanenan kincir harus tetap dinyalakan. Tujuannya agar
suplai oksigen tetap dalam kondisi normal. Setelah tertangkap di jaring maka udang langsung
dimasukkan ke dalam drum yang telah berisi es.Hasil panen yang telah dimasukkan kedalam
drum dan di beri isi es ini langsung dicuci. Setelah dicuci bersih, udang diletakkan kedalam
keranjang dan siap untuk ditimbang beratnya. Udang yang telah ditimbang dilakukan sortasi
untuk memilah udang berdasarkan ukurannya. Kategori udang hasil seleksi terdiri dari
kategori besar dan bagus (BB), kulit moulting (KM), kelompok kecil (KK) dan under size
(US).
Pasca panen merupakan tahap akhir dari kegiatan usaha pembesaran udang vannamei.
Hasil panen dari tambak pembesaran selanjutnya dibawa menuju bagian pasca panen untuk
dicuci, kemudian udang-udang yang telah bersih ditempatkan pada keranjang-keranjang dan
siap ditimbang beratnya. Penimbangan berat udang diawasi langsung oleh petugas dari pihak
Page 20

perusahaan dan dipeelihatkan kepada pembeli yang langsung yang sudah dating ke lokasi.
Udang yang sudah ditimbang kemudian disortasi berdasarkan ukuran tertentu. Setelah semua
telah selesai udang dipacking dalam wadah torig atau sterofoam yang berisi es. Adapun
perbandingan antara es dengan udang yaitu 1:1. Namun jika perjalanan melebihi 3 hari maka
jumlah es diperbanyak.
4.2. Kelompok Pembudidaya (Asosiasi ATAYO)
Lahan yang digunakan oleh Asosiasi ATOYO untuk usaha budidaya tambak udang
merupakan lahan berupa padang pasir yang tergolong sultan ground (SG) atau tanah milik
sultan yang sebelumnya sama sekali tidak dimanfaatkan dan hanya ditumbuhi oleh beberapa
semak belukar kemudian pada awal tahun 2012 lahan tersebut digunakan oleh Nur yang
merupakan salah satu warga Dusun Kuwaru untuk membangun tambak budidaya udang
sistem plastik dan pada awal tahun 2013 para warga melihat keberhasilan tambak tersebut
dan kemudian mulai merintis usaha budidaya udang menyusul Nur. Pendirian usaha tambak
pada lahan pasir ini menurut Asosiasi ATaYO sangat memberi efek positif bagi peningkatan
perekonomian masayarakat Dusun Kuwaru disamping Dusun tersebut juga berfungsi sebagai
sarana wisata pantai.
Pengusaha budidaya udang Dusun Kuwaru mendapatkan sumber air sendiri dengan
menggunakan sumur bor dimana air yang didapatkan telah tergolong payau yang bersalinitas
19-23 ppt hal ini dikarenakan sumur yang dibuat berjarak 400 m dari pasang tertinggi air
laut sehingga air laut yang masuk ke sumur telah berkurang kadar salinitasnya akibat
tersaring oleh basir yang berfungsi juga sebagai filter alami. pada usaha budidaya udang yang
dijalankan oleh Asosiasi ATAYO sumber air yang dimiliki berjumlah 150 buah sumur dan
berada di dekat tambak milik masayarakat masing- masing dengan kedalam sumur antara 12-
19 m dan air yang dimasukan kedalam tambak menggunakan bantuan pompa yang menyedot
air dari sumur ke tambak, dimana setiap pompa mampu untuk menyedot air sekitar 800
L/menit.Air yang telah disedot oleh pompa akan langsung dimasukan ke dalam tambak tanpa
perlu ditampung lagi oleh kolam penampungan atau tandon.
Pembuatan konstruksi tambakyang dilakukan oleh asosiasi ATAYO juga
mempertimbangkan sifat korosif yang ditimbulkan oleh air laut, hal ini membuat sehingga
teknik konstruksi yang digunakan dalam mebuat petak tambak yaitu tambak sistem plastik
dan asbes yang digunakan sebagai penyokong berdirinya tambak. Konstruksi tersebut
menjadi pilihan dikarenakan biaya pembuatannya yang tergolong murah namaun dapat
Page 21

bertahan digunakan untuk proses budidaya dalam jangka waktu yang relatif cukup lama atau
dapat mencapai 2-3 kali siklus budidaya udang. Pengunaan asbes sebagai penyokong
berdirinya tambak atau dapat dikatakan sebagai kerangka sekaligus badan tambak
dikarenakan bahan ini tergolong kuat, tahan terhadap air laut atau tidak bersifat korosif dan
mampu menahan tekanan dari air yang berada didalam tambak namun dapat menjaga bentuk
tambak meski berada dilahan pasir yang mudah mengalami pergeseran. Ukauran asbes yang
digunakan sendiri adalah tinggi 1,5 m dan lebar 1m, sementara untuk bagian dasar dan
pematang dari tambak dilapisi oleh plastic PE (polyethilen) berukuran 0,08-0,15 mm
sehingga tidak akan terjadi peresapan air budidaya oleh lahan yang berpasir tersebut.
Proses budidaya yang diterapkan oleh Asosiasi ATAYO tergolong hampir sama
dengan apa yang diterapkan oleh PT. Indokor yang dapat dibagi menjadi beberapa tahapan
pelaksanaan yang meliputi :
Persiapan tambak
Tahap persiapan tambak dilakukan secara bersamaan dengan tahap aklimatisasi benur
yang baru datangkan dari supplier yaitu dari Situbondo (PT. Suma) dan Gunung Kidul
tergantung pada stok yang disediakan, persiapan tambak pembesaran udang meliputi
beberapa kegiatan yangdimulai dari pengeringan dan pencucian dasar tambak untuk
membersihkan dari sampah-sampah dan limbah organik, evaluasi kondisi plastik dasar
tambak yang meliputi pemeriksaan dan perbaikan kebocoran plastik serta pematang yang
bocor, penyiangan tumbuhan dan perbaikan dasar tambak agar plastik tidak tersingkap,
pemeriksaan central drain, pemasangan skat balk, persiapan kincir, pengisian air, pemupukan,
pengapuran, pemberian probiotik serta proses pengoperasian kincir air sebagai pengasil O
2
.
Pengisian air ke satu petak tambak pembesaran membutuhkan waktu berkisar 6-8 jam
hal ini tergantung daya sedot dari pompa yang tetap konstan ataukah tidak. Sementara untuk
pemupukan dilakukan dengan menggukan berbagai macam pupuk seperti pupuk NPK, TSP,
dan pupuk kandang. Pupuk-pupuk tersebut diberikan pada tambak dengan tujuan untuk
menumbuhkan pakan alami bagi benur, selain itu pemupukan juga dapat meningkatkan pH
perairan dan dapat mengurangi keasaman perairan karena limbah budidaya sebelumnya serta
dapat juga berguna untuk memepercepat proses molting atau pergantian cangkang udang dan
dapat pulah menumbuhkan beberapa mikrobia yang dapat mempercepat proses dekgradasi
limbah organik di dalam perairan tambak. Pemupukan biasa dilakukan 3-4 hari sebelum
benur ditebar ke dalam tambak pembesaran, pengapuran dilakukan dengan menggunakan
Page 22

kapur dolomit untuk meningkatkan pH air juga untuk membunuh organisme parasite yang
terdapat pada perairan. Setelah semua perlakuan dibuat maka udang dapat ditebar dengan
cara perlahan.
Kegiatan penebaran benur dilakukan pada sore atau pagi hari dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya kematian akibat adanya perubahan suhu yang signifikan. Penebaran
benur sendiri diawali dengan proses aklimatisasi dengan cara merendam benur yang berada di
dalam kantong plastik selama 5-10 menit kemudidan air tambak dimasukan secara perlahan
ke dalam kantong palastik dengan tujuan agar benur melakukan adaptasi terhadap salinitas
air yang terdapat didalam tambak budidaya. Penebaran benih sendiri dilakukan dengan padat
tebar yang mencapai 200-230 ekor/m
3
.Penebaran benur sendiri harus menghindari cuaca
buruk seperti hujan hal ini dikarenakan benur belum siap dengan terjadinya kondisi
perubahan salinitas yang drastis serta penurunan pH yang juga tergolong drastis.
Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan kepada udang merupakan pakan komersil dan tidak terpaku
terhadap salah satu jenis merek dagang saja, Asosiasi ATAYO sendiri dalam proses budidaya
menggunakan beberapa jenis pakan dari perusahaan pakan yang berbeda-beda dan mek pakan
udang yang sering digunakan diantaranya adalah samsung, feng ling, suprafeed, dan panda.
Pemilihan jenis pakan sendiri didasari pada harga jual dari pakan tersebut dimana semakain
murah dengan kualitas baik maka pakan tersebut yang akan digunakan. Pemberian pakan
sendiri berdasarkan pada data prediksi biomassa pada tambak yang diperoleh dengan cara
sampling dengan menggunakan anco yang dilakukan 1-2 jam setelah pemberian pakan.
Pemberian pakan dilakukan secara penuh tanpa memperkirakan atau menghitung biomasa
udang pada 1 bulan pertama dan setelah itu dilakukan program pemberian pakan berdasarkan
pada hasil sampling berat udang (berdasar pada biomasa udang).
Interval pemberian pakan juga beragam bergantung pada umur udang. Untuk udang
yang baru ditebar biasanya diberi pakan 2 kali/hari dan secara bertahap akan bertambah
menjadi 5-6 kali /hari hingga waktu panen. Jadwal pemberian pakan biasanya dilakukan per 4
jam sekali yaitu pada pukul 05.00, 09.00, 13.00, 17.00, 21.00 dan 01.00 WIB. Periodisasi
pemberian pakan ditetapkan berdasarkan pertumbuhan dan umur udang. Pemberian pakan
sendiri dilakukan oleh pembudidaya dengan berpatokan pada berat udang yang terdapat di
dalam anco yang diukur setiap 2 minggu sekali.
Page 23

Perawatan Budidaya
Manajemen pembesaran udang dilakukan dengan melakukan pengamatan secara
periodik terhadap pertumbuhan udang dengan cara melakukan sampling menggunakan
bantuan alat berupa anco dan dilakukan setelah udang dipelihara selama 30 hari. Sampling
pertumbuhan udang bertujuan untuk mengetahui jumlah udang yang nantinya digunakan
untuk menduga populasi dan pakan yang akan diberikan pada tahap pemeliharaan
selanjutnya. Selain menggunakan anco, sampling pertumbuhan dapat pula dilakukan dengan
menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring tertentu. Sampling dilakukan pada beberapa
titik tambak untuk mendapatkan data yang seakurat mungkin. Adapun langkah yang dapat
dilakukan untuk melakukan sampling adalah dengan menangkap udang pada beberapa titik.
Kemudian menghitung jumlah udang yang tertangkap damn menimbang berat total udang
yang tertangkap. Setelah itu udang dikembalikan ke tambak dan dilakukan perhitungan berat
rerata udang serta menduga populasi keseluruhan dari udang yang ada di tambak. SR yang
diperoleh mencapai 90-100 %.
Penyiponan dilakukan dengan membuka central drain untuk menyedot sisa pakan dan
limbah budidaya lain seperti feses dan dibuang melalui drain. Pembuanagan air sendiri
dilakukan apabila air tambak telah keruh dan banyak terdapat fragmen busa, selama hal
tersebut belum ditemukan maka pembuangan dan pergantian air tidak akan dilakukan oleh
para petambak. Penggunaan kincir air bertujuan untuk menjaga kandungan ooksigen dalam
perairan, dimana oksigen sendiri merupakan kebutuhan pokok untuk semua organisme tanpa
terkecuali udang. Penggunaan kincir sendiri hanya dilakukan pada siang hari atau dengan
cara bergantian pengoperasiannya jika sebuah tambak memiliki dua buah pasang kincir, hal
ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran biaya bahan bakar mesin penggerak kincir.
Penambahan kincir yang beroperasi secara bertahap dilakukan.
Penyakit yang menyerang usaha tambak udang Asosiasi ATAYO sejauh ini belum
ditemukan namun untuk hama terdapat beberapa jenis hama yang menyerang usaha budidaya
udang milik warga ini antara lain adalah biawak dan ular yang berada pada reservoir yang
lolos penyaringan hingga dapat masuk ke tambak ataupun yang berasal dari lingkungan
budidaya sendiri.
Panen merupakan tahap akhir dari kegiatan budidaya. Satu bulan sebelum dilakukan
panen pemberian pakan dilakukan 5 kali/hari. Panen udang vannamei dilakukan setelah 90-
100 hari pemeliharaan atau tergantung pada permintaan pasar yang mengkehendaki udang
Page 24

dengan ukuran size tertentu seperti 50, 60, 80, atau bahkan 100. Satu minggu sebelum
dilakukan panen maka perlu dilakukan penebaran kapur sebanyak 100 kg per petak tambak
untuk mengantisipasi aktivitas moulting oleh udang didalam tambak.
Kegiatan panen memerlukan waktu hingga 6 jam. Panen dilakukan mulai menjelang
sore hingga malam, tujuannya adalah menghindari fluktuasi suhu yang cukup tinggi jika
dilakukan di siang hari. Panen diawali dengan mempersiapkan jaring penangkapan dan
membuka central drain. Setelah debit air mulai rendah maka udang digiring menuju jaring
untuk ditangkap. Dalam kegiatan pemanenan kincir harus tetap dinyalakan. Tujuannya agar
suplai oksigen tetap dalam kondisi normal. Setelah tertangkap di jaring maka udang langsung
dimasukkan ke dalam drum yang telah berisi es. Hasil panen yang telah dimasukkan kedalam
drum dan di beri isi es ini langsung dicuci. Setelah dicuci bersih, udang diletakkan kedalam
keranjang dan siap untuk ditimbang beratnya. Udang yang telah ditimbang dilakukan sortasi
untuk memilah udang berdasarkan ukurannya. Kategori udang hasil seleksi terdiri dari
kategori besar dan bagus (BB), kulit moulting (KM), kelompok kecil (KK) dan under size
(US). Udang hasil sortir kemudian akan diangkut oleh pembeli yang langsung datang ke
lokasi tambak milik masyarakat.








BAB V
PENUTUP

Page 25

5.1. Kesimpulan
Usaha budidaya udang sangatlah menjanjikan karena harga jualnya yang tinggi serta
permintaan baik didalam maupun luar negeri yang sanagt besar, hal ini membuat masyarakat
Daerah Istimewa Yogyakarta secara individu, kelompok, bahkan perusahaan mendirikan
tambak-tambak udang dilahan yang tidak dimanfaatkan seperti lahan pasir, diantara
masyarakat yang banyak tersebut tedapat kelompok yang bernakamakan Asosiasi ATAYO
dan PT. Indokor yang keduanya berlokasi di Dusun Kuwaru, Kabupaten Bantul. Kedua
kelompok pembudidaya udang ini tergolong hampir sama namun keduanya juga tidak
terlepas dari perbedaan dimana untuk segala pengurusan tambak PT. Indokor diatur dan
diawasi oleh beberapa manejer sementara untuk Asosiasi ATAYO masih diatasi oleh setiap
pemilik tambak, selain itu PT. Indokor memiliki kelebihan di bidang modal sehingga
konstruksi tambak dibuat sistem biocret yang memakan biaya yang cukup besar namaun
dapat bertahan lama selain itu juga dibuat sistem penunjang seperti pengolahan limbah
produksi, kolam penampungan air dan kolam aklimatisasi benur yang sama sekali tidak
dibuat oleh Asosiasi ATAYO. Namaun bila dilihat dari hasil produksi kedua kelompok ini
maka hampir memiliki tingkat produksi yang sama sehingga dapat disimpulkan bahwa
tambak warga dan PT. Indokor memiliki kekurangan dan kelabihan masing-masing namun
secara keseluruhan PT. Indokor masih tergolong lebih baik karena pelaksanaanya terorganisir
dengan baik.
5.2. Saran
Disarankan agar waktu kunjungan di PT. Indokor dibuat lebih lama hal ini karena
dalam pelaksanaan praktikum belum mencapai bagian pengelolaan air limbah yang dimiliki
perusahaan tersebut, sementara untuk di tambak warga lokasi pembuangan limbah belum
ditunjukan ke praktikan seehingga perlu diadakan waktu kunjungan lapanagn yang lebih lama
lagi. Disarankan pula agar pertanyaan sebaiknya disampaikan oleh praktikan sehingga
praktikan tidak memiliki waktu kosong yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiaatan
diluar praktikum lapangan.
Daftar Pustaka

Bardach, J.E., Ryther, J.H., and W.L.Mc. Larney. 1972. Aquaculture. Alabama Agricultural
Experiment Station. Auburn University.Birmingham, Alabama.
Page 26

Gani, A. 1990. Analisis Biaya Rumah Sakit (Pedoman-Pedoman Pokok Dalam AnalisaBiaya
Rumah Sakit. Disajikan Pada Pelatihan Penyusunan Pola Tarif Rumah Sakit Pemerintah
di lingkungan Ditjen Pelayanan Medik Tahun Anggaran 1996/1997. Cisarua: Bogor.
Gaspersz, V. 2003. Budidaya Udang Vannamei . PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta
Ghufron M dan Kardi H. 1997. Budidaya udang dan Ikan Bandeng di Tambak Sistem
Polikultur. Semarang: Dahara Prize.
Hempel G., Pauly D. 2004. Fisheries and Fisheries Science in Their Search for Sustainability.
Dalam Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Idrus .M. 2009.Perkembangan Ekonomi Perikanan Indonesia .Erlangga.Yogyakarta.
Kusmayadi, E. S. 2000. Ekonomi Pertanian dan Perikanan. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Lackey, R. T. 2005. Fisheries : history, science, and management. Dalam Fauzi A. 2010.
Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Rahardja, P. dan Manurung, M. 2002. Uang, Perbankan, dan Ekonomi Moneter (Kajian
Kontekstual Indonesia). Lembaga Penerbit FEUI. Jakarta
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid I dan II. Bandung: Bina Cipta.
Setyobudi, E. 2012. Bahan Ajar Biologi Perikanan (Slide). Jurusan Perikanan Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sukardi dan Saksono, H. 2013. Bahan Ajar Pengantar Ekonomi Perikanan: Pendahuluan
(Slide). Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Sunarto. 2003. Budidaya Udang Vannamei dan Udang Windu di Tambak terkontrol. IPB-
Press. Bogor.
Wheaton, F.W. 1977. Aquacultural Engineering. John Willey& Sons. New York.
Websters New World Dictionary. 1990. College ed. The World Publ. Co. New York.

Page 27



















Lampiran
ANALISIS USAHA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI
Analisis usaha budidaya udang vannamei pada lahan seluas 0,784 Ha dengan lama
pemeliharaan 90 hari:
Uraian Jumlah Harga (Rp) Total (Rp)
Page 28

A.Biaya
Eksplisit
Benih (Kg) 31.192 34 1.067.346
Pakan (Kg) 345 7.886 2.728.930
Saponin (Kg) 58 2.912 169.335
Pupuk TSP (Kg) 197 2.904 571.911
Pupuk Kandang (Kg) 4.687 103 482.952
Dolomit (Kg) 803 454 369.502
Solar (L) 164 4.500 739..038
Tenaga Kerja Luar Keluarga (Orang) 4 259.270
Biaya Penyusutan Alat (Rp) 153.183

Suku Bunga Modal Koperasi 7,5 %/
Periode Produksi 488.164
Sub Total 7.011.630
B.Biaya
Implisit
Sewa Lahan Sendiri 709.615
Tenaga Kerja Dalam Keluarga (Orang) 11 1.223.346
Sub Total 1.932.962
C. Penerimaan Jumlah Udang/Produksi 312 38154 11.901.065
D. Pendapatan 8.910.476
E. Keuntungan 2.956.473
Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa produksi usaha budidaya udang vannamei
uuntuk satu periode adalah 312 kg. Harga jual udang Rp. 38.154,00/kg, sehingga besar
penerimaan Rp. 11.901.065,00 per periode produksi. Pendapatan dapat diperoleh dari
mengurangkan antara penerimaan dengan total biaya eksplisit. Besarnya pendapatan yang
diperoleh petani tambak sebesar Rp. 4.889.435,00. Keuntungan diperoleh dengan cara
mengurangkan antara besarnya pendapatan dengan total biaya implisit. Besarnya keuntungan
yang diperoleh petani tambak adalah sebesar Rp. 2.956.473,00.
Jika dihitung tingkat kelayakan usaha budidaya udang vannamei, maka dapat
diketahui melaluiperbandingan antara besarnya penerimaan dengan biaya (R/C). Besar R/C
usaha budidaya udang vannamei ini adalah sebesar 1,3 dengan perhitungan sebagai berikut:
Page 29

R/C = jumlah total pengeluaran/ jumlah pengeluaran
R/C = Rp. 11.901.065,00/ Rp. 8.910.476,00
R/C = 1,3
hal ini berartibahwa usaha budidaya udang yang dilakukan petani tambak udang vannamei
adalah layak secara ekonomis untuk dikembangkan. Rasio tersebut berarti bahwa setiap
penambahan modal Rp. 1,00 akan memberikan peningkatan penerimaan sebesar 1,3.

Gambar 1. Bak aklimatisasi benur di devisi pembenihan PT. Indokor.
Page 30


Gambar 2. Prooses wawancara di devisi pembenihan PT. Indokor

Gambar 3. Kolam penampungan benur saat panen di PT. Indokor
Page 31


Gambar 4. Sisah bungkusan pakan dan box tampungan benur di devisi logistik PT. Indokor

Gambar 5. Sistem penumpukan pakan di PT. Indokor
Page 32


Grambar 6. Jadwal penyediaan pakan di devisi logistik PT. Indokor

Gambar 7. Pompa penyedot air dari sumur di PT. Indokor
Page 33


Gambar 8. Pipa penyedot air dari sumur resapan PT. Indokor

Gambar 9. Kolam pembesaran di PT. Indokor
Page 34


Gambar 10. Pengoperasian kincir di PT. Indokor

Gambar 11. Kolam pusat pembuanagan dari 4 buah tambak pembesaran di PT. Indokor
Page 35


Gambar 12. Saluran air masuk ke tambak pembesaran PT. Indokor

Gambar 13. Dinamo yang sedang di servis PT. Indokor devisi mekanik
Page 36


Gambar 14. Beberapa peralatan di devisi mekanik PT. Indokor

Gambar 15. Mesin genset PT. Indokor
Page 37


Gambar 16. Tambak milik warga (ATAYO)

Gambar 17. Pengoperasian kincir di tambak warga (ATAYO)
Page 38


Gambar 18. Saluaran penampungan saat panen (ATAYO)

Gambar 20. Tambak warga yang sedang dikeringkan (ATAYO)